Maaf updatenya kelamaan, lagi agak sibuk soalnya xD
Oiya, aku lupa nanya di chapter kemarin, nama-nama di sini terlalu membingungkan nggak sih?
Sebenarnya aku sendiri juga kadang-kadang bingung pas nulisnya, tapi karena malas mikirin nama lain, makanya aku pakai nama-nama Boboiboy elemental aja buat nama anak-anaknya #dibakarreaders
Tapi kalau dibaca dengan perlahan (?) dan penuh ketelitian (?) mungkin nggak akan terlalu bingung kok.
Jadi selamat membaca ^^
Disclaimer : Semua nama tokoh di sini milik Monsta, aku cuma minjem bentar aja.
Warning : Mengandung sedikit OOC ness (?), absurd, gaje, humor gagal, dll
Aku nggak sempat ngecek ulang, jadi maaf kalau banyak typo u.u
Boboiboy mendorong trolinya melewati lorong yang berisi rak-rak penuh dengan berbagai jenis sereal. Ia berhenti di depan salah satu rak dan mengamati berbagai macam merek sereal yang dipajang di sana.
"Anak-anak, kalian mau sereal yang mana?" tanya Boboiboy sambil menunduk ke arah tiga putra kembarnya. Namun yang ada di sebelahnya hanyalah sang kembaran tertua. "Halilintar, mana adik-adikmu?" tanya Boboiboy panik melihat dua putra kembarnya menghilang.
"Nggak tau," jawab Halilintar cuek. Ia tengah berjongkok di depan rak dan terlihat sibuk memilih sereal yang ingin dibelinya.
Boboiboy memandang sekelilingnya dengan kalut. Kemana dua putranya yang lain? Padahal ia yakin sekali mereka masih berjalan di sebelahnya beberapa waktu lalu. Kenapa sekarang mereka tiba-tiba menghilang?
"Papa, Halilintar mau yang ini," kata Halilintar kecil sambil menyerahkan sekotak sereal pada papanya. Boboiboy segera memasukkan kotak itu ke tumpukan belanjaannya, kemudian ia menggendong Halilintar dan mendudukkannya di dalam troli. Sudah cukup dua anak kembarnya yang menghilang, ia tak ingin mengambil resiko kehilangan Halilintar juga.
"Ayo kita cari Taufan dan Gempa," kata Boboiboy sambil mendorong troli belanjaannya. Kedua ayah dan anak itu kemudian berkeliling ke setiap lorong untuk mencari dua kembaran yang lain, namun kedua anak itu tak terlihat batang hidungnya di mana pun.
Boboiboy mendesah frustasi dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kemana lagi aku harus mencari mereka? Kenapa anak-anak itu tidak ada di mana-mana sih? Apa jangan-jangan mereka diculik?
Ekspresi ayah dari tiga anak itu berubah-ubah mulai dari panik, kesal, hingga ekspresi ketakutan saat ia berpikir bahwa anak-anaknya telah diculik.
"Baiklah, tak ada cara lain. Aku harus berpecah tiga agar bisa lebih mudah menemukan mereka," gumam Boboiboy. Ia memang masih mengenakan jam kuasanya di pergelangan tangan kanannya sebelum berangkat tadi. Maka tanpa berpikir panjang lagi, Boboiboy pun mengaktifkan kekuatannya dan berpecah menjadi tiga. Untunglah tak ada siapa pun di sekitar mereka, sehingga perpecahan Boboiboy tidak menimbulkan kehebohan tak berarti.
"Oke, sekarang kita berpencar mencari Taufan dan Gempa kecil. Kalau sudah menemukan mereka, segera hubungi melalui jam kuasa. Mengerti?" jelas Gempa pada dua pecahannya yang lain.
Kedua elemental Boboiboy itu mengangguk. Taufan menawarkan diri untuk menjaga troli belanjaan dan juga si kembaran pertama. Setelah itu ketiganya pun berpencar ke tiga arah yang berbeda untuk mencari kembaran kedua dan ketiga.
.
.
.
Gempa menelusuri setiap lorong sambil menajamkan matanya mencari dua kembaran yang hilang. Tapi walaupun pengunjung hari itu tidak terlalu ramai, ternyata untuk menemukan Taufan dan Gempa kecil sangatlah sulit. Entah apa yang dipikirkan Yaya saat mengandung mereka, sehingga membuat tiga anak kembar itu jadi sangat hiperaktif dan susah diatur.
Bola mata kuning keemasan Gempa bergerak sedikit kalut berusaha menemukan para kembaran yang menghilang. Ia melangkah menyusuri bagian supermarket yang menyediakan berbagai jenis makanan laut. Hembusan nafas lega langsung terdengar dari pemilik kekuatan tanah itu saat melihat salah satu anak kembar Boboiboy dan Yaya yang mengenakan kaus berwarna biru, tengah berdiri tak jauh darinya.
"Taufan!" seru Gempa sambil berlari ke arah si kembaran kedua. Bocah kecil itu menoleh dan terlihat gembira saat melihat ayahnya.
"Papa!" seru Taufan kecil sambil melambai-lambai riang.
Gempa langsung memeluk Taufan begitu ia telah berdiri di samping anak keduanya itu. "Kamu kemana aja, sih? Papa mencarimu ke mana-mana," katanya sambil mengacak-acak rambut Taufan dengan gemas.
"Taufan cuma pengen jalan-jalan sebentar, kok," jawab anak kecil itu polos.
"Lain kali kalau mau pergi, bilang dulu sama Papa, ya? Kan Papa juga bisa ikut jalan-jalan sama Taufan. Jangan pergi ke mana pun sendirian, oke?" ujar Gempa lembut.
"Oke, Papa," sahut Taufan riang. Anak itu memandang Gempa dengan sedikit bingung. "Kenapa baju Papa beda sama yang tadi?" tanyanya.
"Oh, ini?" ucap Gempa sambil menunduk memandang kaus dan jaketnya yang memang berbeda warna dari Boboiboy yang biasanya. "Sebenarnya tadi Papa berpecah tiga lagi untuk mencarimu dan Gempa," jelas pemilik elemen tanah itu.
"Oh, jadi ini Papa Gempa?" tanya Taufan.
"Kok kamu tau?" tanya Gempa, terkejut karena Taufan kecil bisa menebak dengan tepat.
"Papa Gempa matanya kuning," kata Taufan sambil menunjuk manik keemasan milik Gempa.
Gempa tersenyum dan mengelus kepala Taufan. "Anak Papa memang pintar," ucapnya. Taufan kecil tersenyum bangga karena dipuji oleh papanya. "Nah, sekarang ayo kita pergi mencari adikmu," lanjut Gempa. Ia menggandeng tangan Taufan kecil dan membawanya untuk mencari si kembaran ketiga.
"Tunngu dulu, Papa," kata Taufan. Ia menarik kembali tangan Gempa dan membawanya ke depan tangki berisi lobster. "Taufan mau itu," katanya sambil menunjuk sepasang lobster yang tengah saling beradu capit.
"Taufan mau makan lobster?" tanya Gempa.
Anak kecil itu menggeleng. "Bukan. Taufan mau pelihara di rumah," katanya polos.
"Pelihara? Tapi lobster bukan untuk dipelihara, Taufan," kata Gempa.
"Pokoknya Taufan mau pelihara itu!" rengek si kembaran kedua.
Gempa terlihat kebingungan, tak tau bagaimana caranya mengubah pemikiran Taufan kecil. Ia kemudian mendapatkan ide. "Taufan liat capit-capit itu?" tanyanya menunjuk lobster-lobster di dalam tangki. Taufan kecil mengangguk. "Nah, capit-capit itu gunanya untuk melindungi diri mereka dari musuh. Tapi nanti kalau Taufan pelihara lobster ini, bisa-bisa malah Taufan yang kena capit. Taufan mau dicapit lobster?"
Taufan menggeleng takut. "Nggak mau. Pasti sakit kan kalau kena capit?" tanyanya.
"Sakit sekali. Malah bisa sampai berdarah dan dibawa ke rumah sakit," kata Gempa lagi, menakut-nakuti Taufan agar mengurungkan niatnya untuk memelihara lobster.
"Taufan nggak mau ke rumah sakit," kata Taufan takut. Ia memeluk kaki Gempa dan menyembunyikan wajahnya di sana.
"Kalau gitu, pelihara lobsternya nggak usah jadi aja, ya?" tanya Gempa lagi. Taufan kecil mengangguk, membuat penguasa elemen tanah itu tersenyum puas. Ia kemudian menggendong Taufan dan menaikkan anak itu ke bahunya. "Ayo sekarang kita cari Gempa kecil."
Gempa menekan sebuah tombol di jam kuasanya dan menghubungi Halilintar dan Taufan. "Aku sudah menemukan Taufan kecil. Apa Gempa sudah ketemu?" tanyanya pada dua elemental yang lain.
"Belum. Aku masih mencarinya," balas Halilintar.
"Aku juga berusaha mencarinya. Tapi Halilintar kecil rewel sekali, ia terus-terusan minta dibelikan mainan," keluh Taufan.
"Berjuanglah mengurusnya kalau begitu. Aku dan Halilintar akan melanjutkan mencari Gempa kecil," kata pemilik bola mata kuning keemasan itu.
"Oke," sahut pemilik elemen angin dan petir.
Gempa memutuskan komunikasi di jam tangannya dan kembali meneruskan pencarian. Taufan kecil melonjak-lonjak di atas bahunya, membuat Gempa sedikit kewalahan.
"Ada apa Taufan?" tanya Gempa.
"Papa, Taufan juga mau jam tangan kayak punya Papa," kata Taufan.
"Nanti kalau Taufan sudah besar, pasti Papa kasih jam tangan ini ke Taufan, kok," kata Gempa sambil tersenyum tipis.
"Sungguh?" tanya Taufan kecil bersemangat.
"Iya, Papa janji," ucap Gempa.
"Yeeeii!" Taufan bersorak girang dan memeluk kepala Gempa dengan gembira. "Taufan saaaayang sama Papa," ucapnya.
"Papa juga sayang sama Taufan," balas Gempa sambil membelai kepala Taufan penuh sayang.
.
.
.
Halilintar berdecak kesal saat ia tak sengaja menabrak seseorang yang juga tengah berbelanja. Walaupun ialah yang seharusnya merasa bersalah, namun karena hawa membunuh yang dikeluarkannya, justru orang yang ditabraknya yang berulang kali meminta maaf padanya.
Pemilik elemen petir itu tengah uring-uringan karena belum berhasil menemukan Gempa kecil. Sudah hampir setengah jam ia dan kedua elementalnya yang lain berputar-putar di supermarket itu untuk mencari Gempa, namun si kembaran termuda tak ditemukan di mana pun. Halilintar mulai berpikir bahwa Gempa benar-benar diculik.
"Kalau Gempa diculik, aku akan memastikan orang yang menculiknya akan merasakan penderitaan yang tak pernah dialami siapa pun," geram Halilintar penuh ancaman. Ia menyeret kaki-kakinya menyusuri area yang menyediakan berbagai macam buah-buahan, hingga manik ruby-nya akhirnya menangkap sesosok anak kecil yang memakai kaos berwarna kuning keemasan dan juga topi dengan warna senada.
Halilintar buru-buru menghampiri sosok yang ia yakini adalah Gempa kecil, namun seorang pemuda muncul entah dari mana dan mengajak Gempa pergi. Pedang halilintar berwarna merah darah muncul begitu saja di tangan penguasa elemen petir itu, dan ia segera berlari mengejar Gempa dan pemuda itu.
"Lepaskan anakku!" ucap Halilintar dengan nada mengancam sambil mengacungkan pedangnya ke leher pemuda yang memegang tangan Gempa. Pemuda itu segera melepaskan Gempa dan mengangkat kedua tangannya dengan gemetar.
"Papa!" seru Gempa kecil riang dan langsung berlari memeluk kaki Halilintar.
"Gempa kau tidak apa-apa?" tanya Halilintar cemas. Ia menunduk memandang Gempa, berusaha mencari apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan si kembaran ketiga.
"Un!" Gempa mengangguk dengan senyum innocent-nya.
"Berani-beraninya kau menculik Gempa, hah?! Apa maumu? Uang tebusan? Kau ingin memerasku dan memintaku menyerahkan jam kuasaku?" geram Hlilintar sambil terus menodongkan pedangnya. Pemuda malang itu mengkerut ketakutan dan berusaha menghindar dari kilatan listrik yang terpancar dari pedang halilintar yang diarahkan padanya.
"Maaf! Saya tidak bermaksud menculik anak anda!" serunya dengan suara bergetar ketakutan.
"Jadi kenapa Gempa ada bersamamu? Cepat jelaskan!" perintah Halilintar. Saat itu ia melihat dua elemental Boboiboy yang lain berlari ke arahnya, sambil masing-masing membawa dua kembaran yang lain.
"Halilintar, apa yang terjadi?" tanya Gempa cemas.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Halilintar heran, seingatnya ia berlum menghubungi mereka.
"Aku bertemu dengan bibi tetangga sebelah. Ia bilang kau sedang mengamuk di sini," jelas Taufan.
Halilintar memandang ke sekelilingnya dan baru menyadari bahwa orang-orang kini sedang berdiri menontonnya. Apa mungkin ia bersikap terlalu berlebihan?
"Orang ini mau menculik Gempa," kata Halilintar penuh emosi menunjuk ke arah pemuda yang semakin terlihat ketakutan. Pemilik elemen petir itu memutuskan untuk tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya.
"APA?! Beraninya kau menculik Gempa! Sini biar kuhajar kau dengan cakram anginku!" seru Taufan marah. Ia benar-benar membentuk sebuah cakram dari angin di tangannya, namun segera dihentikan oleh Gempa.
"Tenang dulu, jangan main hakim sendiri. Lebih baik kita dengarkan penjelasannya lebih dulu," ujar Gempa tenang. Setelah meyakinkan pemuda itu bahwa Halilintar dan Taufan tidak akan menyerangnya, akhirnya Gempa berhasil membujuknya untuk menjelaskan situasinya pada mereka.
Ternyata pemuda itu tak sengaja melihat Gempa kecil tengah berkeliaran seorang diri tanpa ada orang dewasa yang menjaganya. Karena itu ia menawarkan diri untuk membantu Gempa mencari orangtuanya. Ia sempat meninggalkan Gempa sendirian karena harus ke toilet, tapi saat ia kembali dan mengajak Gempa kecil untuk kembali mencari orangtuanya, Halilintar muncul dan langsung menodongnya dengan pedang halilintar miliknya.
"Oh, begitu," ucap Gempa sambil mengangguk paham. "Kalau begitu kami minta maaf karena telah menuduh anda menculik anak kami. Dan juga saya mengucapkan terima kasih karena anda telah menjaga Gempa," ucapnya lagi sambil membungkuk sopan.
"Ya, tidak apa. Saya juga minta maaf karena telah membuat anda salah paham," ujar pemuda itu masih dengan suara sedikit bergetar.
"Kalian berdua juga, cepat minta maaf," kata Gempa pada kedua pecahannya yang lain.
Taufan langsung menjabat tangan pemuda itu dan mengucapkan permintaan maafnya dengan nada ceria, namun Halilintar hanya mendengus dan membuang muka.
"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Gempa. Ia menggendong Taufan kecil yang sedari tadi bergelayut di kakinya. Halilintar menggandeng tangan Gempa kecil yang sedari tadi menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Sedangkan Taufan kembali mendorong troli belanjaan dengan Halilintar kecil yang melompat-lompat girang di dalamnya.
"Anu, maaf. Apa anda bertiga semuanya ayah dari anak-anak ini?" tanya pemuda itu penasaran, tepat sebelum ketiga elemental Boboiboy pergi meninggalkannya.
Halilintar melancarkan jurus tatapan mautnya. "Kalau iya memangnya kenapa?" tanyanya dingin.
"Ah, ti-tidak. Saya cuma ingin tau …" ucapnya ketakutan di bawah pandangan dingin dari Halilintar.
Pemilik kekuatan petir itu mendengus dan mengajak dua elemental yang lain pergi bersama dengan si kembar. Mereka kembali melanjutkan acara belanja yang tertunda, namun kali ini ketiga elemental itu sepakat untuk tetap berpecah tiga agar bisa menjaga ketiga anak kembar yang hiperaktif itu.
"Papa, papa, papa! Hali juga mau punya pedang kayak punya Papa tadi!" seru Halilintar kecil sambil melonjak-lonjak di dalam trolinya. Iris cokelatnya berbinar-binar saat ia menatap 'Papa Halilintar'nya.
"Taufan juga mau, Papa!" seru Taufan kecil tak mau kalah.
"Gempa juga boleh minta?" ucap Gempa kecil polos. Ia memandang Halilintar yang menggandeng tangannya dengan wajah memohon.
"Nggak boleh, anak-anak. Pedang itu bukan untuk mainan," ujar Gempa.
"Tapi Hali tetap mau pedang itu …" rengek Halilintar. Ia memanyunkan bibirnya dan memasang tampang ingin menangis.
"Hali nggak mau bola angin punya Papa Taufan?" tanya Taufan sambil membentuk sebuah pusaran angin berbentuk bola di telapak tangannya.
Tiga pasang mata mungil itu membulat senang saat melihat bola angin di tangan Taufan. Taufan kecil bahkan sampai melonjak-lonjak dalam gendongan Gempa, berusaha menggapai bola angin itu.
"Taufan, jangan tunjukkan kekuatanmu pada mereka. Belum saatnya," protes Gempa sambil berusaha menjaga Taufan kecil agar tidak terjatuh dari gendongannya.
"Iya, deh. Maaf, maaf," ucap Taufan sambil cengengesan. Dalam sekejap, pusaran angin di tangannya pun menghilang, membuat ketiga anak kembar itu mendesah kecewa.
"Yah, Papa Gempa nggak asik," ucap Halilintar kecil dengan wajah cemberut.
"Apa Papa Gempa juga punya kekuatan kayak Papa Halilintar dan Papa Taufan?" tanya Gempa kecil ingin tahu. Kedua kembarannya yang lain juga memandang pemilik elemen tanah itu dengan penasaran.
Gempa mengangguk, membuat ketiga anak kecil itu kembali bersemangat.
"Coba tunjukin dong, Papa Gempa. Taufan pengen lihat!" seru Taufan kecil bersemangat.
"Hali juga mau lihat!" seru Halilintar kecil ikut-ikutan.
"Gempa juga!" Si kembaran ketiga juga tak mau kalah. Ketiga anak kembar ini memang kompak dalam beberapa hal, tapi sayangnya kekompakan itu termasuk kompak dalam menyusahkan orang-orang di sekitar mereka.
Gempa, sang penguasa elemen tanah, hanya tersenyum menatap tiga anak kembar itu. Ia mengacak-acak rambut Taufan kecil di balik topi biru yang dikenakan si kembaran kedua itu.
"Nanti lain kali Papa tunjukin ya," ujarnya.
"Yah, nggak bisa sekarang?" tanya Gempa kecil kecewa.
"Nggak bisa. Lagian kekuatan Papa Gempa juga berbahaya kalau digunakan di dalam gedung seperti ini," jelas pemilik elemen tanah itu.
"Memang kekuatan Papa Gempa kayak apa?" tanya Halilintar kecil penasaran.
"Ummm," Gempa terlihat bingung harus menjelaskan kekuatan yang dimilikinya seperti apa.
"Papa Gempa itu bisa munculin raksasa dari batu, lho!" ucap Taufan bersemangat.
"Sungguh?" tanya ketiga anak kembar itu berbarengan.
"Ya … begitulah," ucap Gempa akhirnya.
Tiga anak kembar itu langsung berebut ingin bertanya lebih jauh tentang kekuatan Gempa, namun Halilintar yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suara.
"Bisakah kalian berhenti membicarakan tentang kekuatan kita? Bukannya tadi kau sendiri yang bilang Gempa, belum saatnya anak-nak ini mengetahui tentang kekuatan kita," kata pemilik elemen petir itu sambil menatap tajam kedua pecahannya.
"Kau benar," ucap Gempa, menyetujui perkataan Halilintar. "Nah, anak-anak, lain kali aja kita bicarain tentang kekuatan papa, ya?" ujarnya pada ketiga anak kecil itu.
Halilintar, Taufan, dan Gempa kecil terlihat kecewa, namun mereka tidak bertanya lebih jauh lagi karena takut dengan Papa Halilintar.
"Lebih baik kita segera menyelesaikan acara belanja ini dan cepat-cepat pulang. Aku sudah capek," kata Halilintar dengan nada datar.
Ketiga ayah dan juga tiga anak kembar itu pun kembali menyusuri berbagai rak di supermarket itu untuk membeli keperluan mereka. Akhirnya setelah semuanya selesai dibeli, mereka pun kembali ke mobil dan langsung pulang ke rumah.
.
.
.
Boboiboy, yang telah menyatu kembali tepat sebelum pulang, menurunkan barang-barang belanjaannya begitu selesai memarkirkan mobilnya di garasi. Ia tersenyum tipis saat melihat ketiga jagoan kecilnya telah tertidur di jok belakang. Ayah dari tiga anak itu kemudian menggendong Gempa dan Taufan kecil dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan mereka, dan membawa keduanya ke dalam rumah. Setelah menidurkan mereka di kamar, Boboiboy kembali ke mobil untuk membawa Halilintar ke kamar juga.
Akhirnya Boboiboy bisa menikmati waktu tenang karena ketiga putra kembarnya telah tertidur. Ia pun membawa semua belanjaannya ke dapur dan bersiap membuat makan siang. Sebagai seorang chef di restoran yang cukup ternama di kotanya, Boboiboy sudah tidak asing lagi dengan dunia masak-memasak. Tak butuh waktu lama, hidangan makan siang untuk empat orang telah tersaji di meja makan. Puas dengan hasil masakannya, pria yang telah menjadi suami Yaya selama empat tahun itu kemudian pergi ke kamar ketiga putranya untuk membangunkan mereka.
Wajah polos ketiga jagoan kecilnya yang sedang tertidur mau tak mau membuat pria yang pernah menyandang gelar superhero itu tersenyum. Ia jadi tidak tega membangunkan mereka, dan akhirnya hanya mengelus kepala ketiga putranya dengan lembut.
"Padahal kalau sedang tidur mereka terlihat tenang sekali. Siapa sangka ternyata mengurus mereka lebih sulit daripada mengurus sekawanan hewan liar," gumam Boboiboy sambil menghela nafas pelan.
Halilintar kecil menggeliat pelan sebelum akhrinya membuka kelopak matanya. Ia mengerjap-ngerjap bingung dan memandang sang ayah yang tengah duduk di pinggir tempat tidur.
"Oh, anak papa sudah bangun," kata Boboiboy sambil tersenyum. Si kembaran tertua bangkit duduk dengan wajah masih mengantuk. "Halilintar mau makan siang sekarang?" tanya Boboiboy.
Putra pertamanya itu mengangguk. "Iya, Hali lapar," gumamnya pelan sambil mengucek-ngucek mata.
"Kalau gitu ayo kita turun ke bawah," kata Boboiboy lagi. Ia mengguncang bahu kedua putra kembarnya yang lain dengan lembut. Taufan dan Gempa kecil pun membuka mata mereka dan menatap sang ayah dengan mengantuk. "Ayo kita makan siang dulu. Nanti baru tidur lagi," ucap Boboiboy lembut. Kedua putranya itu mengangguk pelan.
Ayah dan tiga anak kembar itu pun kemudian turun ke dapur untuk menyantap makan siang mereka.
.
.
.
"Nggak enak."
Kata-kata yang terucap dari mulut putra keduanya itu membuat Boboiboy berhenti menyantap makanannya. "Taufan nggak suka?" tanya Boboiboy sedikit kecewa. Baru kali ini ada seseorang yang mengomentari makanannya tidak enak, apalagi ini putranya sendiri. Ia memang hanya membuat spageti untuk makan siang mereka, namun Boboiboy yakin tak ada yang salah dengan rasa masaknanya.
Taufan kecil memutar-mutar spageti di piringnya dengan sendok dan menggeleng pelan. "Nggak. Rasanya aneh," ucap kembaran kedua itu.
Boboiboy mencicipi kembali spageti buatannya. Rasanya nggak aneh, kok, pikirnya. Mungkin Taufan belum terbiasa dengan rasa masakannya.
"Hali juga nggak suka," si kembaran tertua ikut mengomentari masakan Boboiboy, membuat sang ayah merasa tertohok.
"Kalau Gempa gimana? Gempa juga nggak suka sama masakan papa?" tanya Boboiboy pada kembaran ketiga.
"Gempa suka, kok. Masakan papa enak sama kayak mama," ucap putra ketiganya, membuat Boboiboy mendesah lega. Ia kemudian kembali menoleh pada kembaran pertama dan kedua, yang telah berhenti menyantap makan siang mereka.
"Jadi Taufan sama Halilintar maunya makan apa?" tanya Boboiboy. Ia kemudian mengambil segelas air dan meminumnya.
"Mau biskuit buatan mama," jawab keduanya serempak. Boboiboy langsung tersedak air yang sedang diminumnya saat mendengar jawaban kedua putranya. Ia kemudian menepuk-nepuk dadanya dan memandang dua putra kembarnya dengan tatapan horror.
"Ka-kalian mau makan biskuit mama?" tanya Boboiboy tak percaya.
Halilintar kecil mengangguk bersemangat. "Iya, mama biasanya buatin biskuit untuk Hali, Taufan, sama Gempa. Iya, kan?" tanya si kembaran tertua pada kedua adiknya. Taufan dan Gempa kecil —yang masih sibuk mengahbiskan makan siangnya— hanya mengangguk kecil.
Boboiboy kembali memandang ketiga putranya secara bergantian dengan tatapan penuh horror. Jadi Yaya sering membuatkan biskuit untuk mereka? Jangan-jangan kenakalan tiga putranya ini merupakan efek samping karena memakan biskuit legendaris buatan ibu mereka?
Boboiboy berdeham pelan sebelum bertanya kembali pada ketiga putranya. "Kalian suka biskuit buatan mama?"
"Suka!" seru ketiganya kompak, membuat mata sang ayah kembali dipenuhi horror.
"Biskuit buatan mama lebih enak daripada yang dijual di toko," kata Gempa polos. Si kembaran ketiga itu akhirnya selesai menghabiskan makan siangnya.
Seumur hidupnya, baru kali ini ada yang memuji biskuit buatan istrinya tercinta itu. Bahkan seingatnya, biskuit buatan Yaya bisa membuat kucing sekali pun pingsan, dan hanya Probe —robot alien yang dulu sering mengganggunya— yang menganggap biskuit buatan Yaya enak. Bahkan menurut robot itu, rasa biscuit buatan Yaya seperti rasa ampelas.
Apa jangan-jangan indra perasa mereka sudah rusak karena Yaya selalu memberi mereka makan biskuitnya? Pikir Boboiboy. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan system pencernaan mereka? Haruskah aku membawa mereka ke dokter?
Ketiga anak kembar itu menatap ayah mereka yang terlihat panik dengan bingung. "Papa kenapa?" tanya Taufan kecil.
Boboiboy tersadar dari lamunannya tentang berbagai kemungkinan buruk yang mungkin telah disebabkan oleh biskuit Yaya pada tiga putranya. Ia menatap ketiga anaknya, berusaha mencari tanda-tanda ada sesuatu yang tidak beres pada mereka.
"Ah, nggak. Papa nggak apa-apa, kok," ayah dari tiga anak kembar itu menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir berbagai pikiran buruk. Yaya tidak mungkin tega meracuni anak-anaknya sendiri. Dan karena ketiga anaknya terlihat baik-baik saja, maka Boboiboy akhirnya menyimpulkan bahwa rasa biskuit buatan Yaya sudah tidak seburuk yang ada di ingatannya.
"Halilintar, Taufan, mama kan lagi ke luar kota, jadi kalian nggak bisa makan biskuit buatan mama dulu. Gimana kalau sekarang kalian makan masakan papa aja?" ucap Boboiboy sambil mendorong kembali dua piring yang tadi disingkirkan oleh dua putranya itu ke arah mereka.
"Tapi Hali nggak suka masakan papa," oceh si kembaran tertua, diikuti oleh kembaran kedua. Boboiboy hanya bisa tersenyum pahit karena masakannya yang disukai oleh semua orang, justru tidak disukai oleh putra-putranya sendiri.
"Coba dimakan aja dulu. Nanti lama-lama enak sendiri kok. Kalau Halilintar sama Taufan nggak mau makan, nanti papa sedih, lho," ujar Boboiboy.
"Taufan nggak mau papa sedih," ucap si kembaran kedua.
"Hali juga," sahut Halilintar kecil.
Boboiboy tersenyum. "Nah, kalau gitu kalian makan ya," ucapnya. Kedua kembaran tertua itu akhirnya mengangguk.
Pemilik kuasa elemen itu akhirnya bisa menghembuskan nafas lega. Sementara si kembaran terkecil menonton mereka makan, Boboiboy dan kedua putra kembarnya kemudian kembali menyantap makan siang mereka tanpa ada protes apa pun lagi.
.
.
.
Sedan putih milik Yaya meluncur mulus memasuki perkarangan rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, wanita yang kini bekerja sebagai seorang guru SMP itu mengambil barang-barangnya dan melangkah ke dalam rumah berlantai dua yang ditempatinya sejak menikah dengan Boboiboy.
"Assalamualaikum," ucap Yaya begitu masuk ke dalam rumah. Tak ada yang menjawab salamnya.
Wanita yang mengenakan kerudung merah muda itu melangkah perlahan menyusuri rumahnya untuk mencari suami dan ketiga putranya. Suara-suara dari ruang keluarga membuat ibu dari tiga anak kembar itu melongok ke dalam.
Yaya melihat suaminya tengah tertidur di sofa dalam posisi duduk, dengan tiga putra kembar mereka tertidur di pangkuannya. Sang ibu tersenyum melihat pemadangan di hadapannya. Ia kemudian melangkah perlahan dan mematikan TV yang menyala tanpa ada yang menonton.
Boboiboy terbangun tepat setelah Yaya mematikan TV. Ia terkejut menatap istrinya yang seharusnya baru pulang besok pagi. "Yaya? Kapan kau pulang?" tanyanya dengan suara mengantuk.
"Baru saja. Aku memutuskan untuk pulang lebih cepat karena khawatir dengan anak-anak," ujar Yaya pelan. Ia duduk di sofa dan membelai rambut ketiga putranya pelan. "Tidak ada masalah, kan?" tanya ibu dari tiga anak itu.
"Tidak. Semuanya baik-baik saja," kata Boboiboy sambil tersenyum. "Tapi setelah menghabiskan waktu seharian dengan mereka, aku jadi ingin memberikan penghargaan untukmu," lanjutnya lagi.
"Penghargaan untuk apa?" tanya Yaya bingung.
"Penghargaan karena sanggup mengurusi mereka setiap hari. Bagaimana bisa kita punya anak-anak hiperaktif seperti mereka? Atau jangan-jangan anak kita tertukar waktu di rumah sakit?" ujar Boboiboy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sang istri tertawa kecil. "Jangan bilang begitu. Mereka jelas-jelas anak kita. Kau tidak melihat kemiripan mereka denganmu?" tanya Yaya, mengusap pipi Gempa kecil lembut.
"Kalau wajahnya sih, iya. Tapi kalau sifat nakal mereka sepertinya bukan menurun dariku. Kurasa mereka mendapatkannya darimu," kata Boboiboy sambil tertawa pelan.
"Jangan bercanda. Aku selalu menjadi murid teladan di sekolah. Kau yang dulu jadi murid nakal, jadi sudah jelas kaulah yang mewariskannya pada anak-anak kita," kata Yaya.
"Aku nggak nakal, cuma sedikit bandel," kata Boboiboy membela diri.
"Sama aja," ucap Yaya sambil memutar bola matanya. Sang suami hanya nyengir.
Yaya kembali menatap tiga putra kecilnya. "Bagaimana rasanya menghabiskan waktu dengan mereka?" tanyanya pada Boboiboy.
"Melelahkan, tapi rasanya juga sangat menyenangkan. Sudah lama sekali sejak aku bisa menghabiskan waktu seharian dengan jagoan-jagoan kecilku," ucap Boboiboy, dengan senyum sedikit sedih.
"Yah, kau terlalu sibuk bekerja di restoran. Sekali-kali luangkanlah waktu untuk anak-anakmu," saran Yaya.
"Kau benar," gumam Boboiboy. Ia mengacak rambut Halilintar kecil, membuat anak itu mengeluh pelan dalam tidurnya.
"Ayo kita bawa mereka ke kamar," kata Yaya. Boboiboy mengangguk. Ia mengangkat Halilintar dan Taufan sepelan mungkin, dan menggendong mereka ke kamar, sementara Gempa digendong oleh Yaya.
Pasangan suami istri itu melangkah sepelan mungkin agar tidak membangunkan anak-anak mereka. Ketiga anak kembar itu juga sepertinya sangat kelelahan, mereka tidur dengan sangat pulas dalam gendongan kedua orang tua mereka.
"Ngomong-ngomong Boboiboy," bisik Yaya saat mereka menaiki tangga dengan perlahan.
"Hmm?" ucap Boboiboy, menoleh ke arah istrinya.
"Aku ingin punya anak lagi."
.
.
.
END
Yap, berakhir dengan gajenya.
Akhirnya bisa selesai juga yang satu ini.
Entah kenapa aku suka kalau ngebayangin Boboiboy yang lagi ngurus anak, apalagi anak kembar, rasanya jadi unyu-unyu (?) gimana gitu
Yah, pokoknya aku berterima kasih sekali buat yang udah menyempatkan mebaca fanfic aneh ini, dan untuk yang udah nge-review, nge-fav, dan nge-follow fanfic ini juga aku mengucapkan terima kasih banyak ^^
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya ;)
