"Aku….aku sudah jatuh…dalam sebuah kebohongan."
"Jimin…."
"Tolong, pergilah."
Bohong
[AU!]
Slight!MinYoon
"Aku pernah mengambil mainan anak lain, kau tau?" ujar seorang anak bertubuh gemuk. Ia terlihat berpakaian dekil, sehabis bermain lumpur.
"Kau hebat! Luar biasa, Hyun-hyung." kagum anak lain yang memiliki usia yang sama dengan anak bertubuh gemuk.
"Bagaimana dengan kau, Jimin?" tanya seorang anak yang terlihat tampan dengan mata yang seperti rubah.
"Jimin kan anak mama. Dia mana pernah melakukan hal hebat!"
Lima anak lain, termasuk Hyun-hyung tertawa.
"P…pernah! Aku pernah mencuri uang ibuku untuk membeli mainan."
"Seriusan?" tatap Hyun tidak percaya.
"Wah, bahkan Hyun-hyung saja tidak berani melakukan hal tersebut pada ibunya. Kau luar biasa, Jimin."
Jimin tertawa kikuk. Dan tiba-tiba, semua orang yang ada disana berubah menjadi bayangan hitam.
"Pembohong." teriak bayangan-bayangan itu.
Kesadarannya pun memudar.
"Mimpi itu…lagi?"
Aku pun terbangun dari tidurku. Berkeringat. Nafasku juga demikian, seolah sesak.
"Jimin….segeralah sekolah, kau tidak ingin terlambat kan?"
"Iya." balasku pada ibuku.
Aku langsung mandi dan segera memakai seragam sekolah menengahku setelah mengeringkan tubuhku. Tak lupa, aku memasukkan buku-buku pelajaran dan bersiap untuk sarapan.
Begitu sampai di ruang makan, aku langsung mencomot roti tawar dan meminum susu. Setelah itu, aku pun bergegas menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku pun langsung menuju kelas dan duduk di bangku.
"Jimin, PR kami. Kau pasti sudah mengerjakannya kan?" tanya temanku, Myungsoo.
"T..tentu." Aku pun memberikan PR mereka.
"Kau memang yang terbaik, Jimin."
Aku memandang Myungsoo dan teman-temannya tertawa, berjalan menuju bangkunya. Seperti biasa, beginilah kehidupanku. Aku adalah seseorang yang mencoba mengulangi kehidupanku untuk menjauh dari kebohongan.
Namun, sepertinya aku tidak akan bisa lepas dari kebohongan.
Waktu sekolah dasar, aku berbohong untuk mendapatkan teman, agar aku diakui oleh Hyun-hyung. Begitu pula ketika aku sekolah menengah pertama. Aku mengaku kalau aku adalah anak orang kaya meski aku tau, orang tuaku bukan orang yang tenggelam pada sesuatu yang disebut dengan kemewahan. Dan sekarang, di saat aku ingin mencoba berubah saat sekolah menengah atas, ternyata aku tak bisa.
Aku tak bisa keluar dari sesuatu yang disebut kebohongan.
Aku berpura-pura pada ibuku kalau aku baik-baik saja, padahal kenyataannya aku dibohongi seseorang yang mengaku temanku, Myungsoo.
Cih, orang itu hanya membutuhkan aku untuk mengerjakan tugasnya.
Dan sekarang haruskah aku berbohong untuk mendapatkan teman kembali?
Apa aku takkan pernah bisa menjadi orang yang jujur?
"Jadi, Park Jimin, bisa kau ceritakan apa yang kau lakukan ketika musim panas?"
Aku segera berdiri dari bangku, membuka buku tulis dan mulai membacanya.
"Yang kulakukan disaat musim panas adalah aku membantu orang-orang dalam kesulitan. Semacam bakti sosial. Kejadian disana menyenangkan. Aku memiliki banyak teman yang ternyata peduli dengan hal tersebut. Banyak juga orang-orang berkebutuhan khusus yang hadir."
Sekelas memandangiku dengan tatapan kagum. Begitu juga dengan guruku.
"Wah, kau benar-benar murid teladan, Jimin. Nah, tirulah kegiatan seperti Jimin ya."
"Jimin, kau hebat. Punya teman dari luar. Padahal kau disini suram sekali." Komentar Taehyung yang duduk di depanku.
Aku duduk kembali seraya tersenyum dengan tatapan kosong.
Tanpa sadar, aku berbohong lagi.
Aku berbohong.
Pada kenyataanya, aku sama sekali tidak ikut yang begituan. Aku hanya membantu ibuku untuk berkerja mengantar susu karena ayah waktu itu dipecat kembali.
Kenapa, kenapa aku tidak bisa jujur?
Sudah tiga bulan semenjak kebohongan pertama yang aku buat. Aku tak bisa berhenti berbohong. Semakin hari, semakin banyak kebohongan yang kubuat. Dan itu semakin tidak terkendali. Aku tidak bisa seperti ini terus.
Tetapi, bagaimana caranya aku lepas dari situasi ini?
Berbohong kalau aku adalah anak orang kaya, berbohong tentang gaya hidup, berbohong tentang uang jajan.
Dan ujung-ujungnya aku mendapatkan teman palsu kembali.
Perhatian palsu.
Dan tentu saja, aku pun tersenyum palsu.
Sekarang, aku sedang merenung di atap sekolah. Aku bahkan mengabaikan panggilan suara bel yang nyaring.
Tidak kah kalian pikir aku akan khawatir pada situasi ini?
Jawabannya tidak.
Aku kan bisa berbohong dan predikatku sebagai anak teladan akan membuat orang percaya dengan kata-kataku.
Aku pun memandangi langit, mendinginkan kepalaku. Namun suara langkah seseorang membuat mataku pun menutup. Matilah aku jika itu guru. Aku akan berpura-pura tertidur dengan alasan tidak sehat.
Langkah itu semakin mendekat.
"Kerutan dari dahi, terlihat dipaksakan. Aliran pernapasanmu juga berbeda dengan orang yang tidur. Kau mencoba menipuku?"
Suara seorang gadis?
Aku pun membuka kedua mataku. Tampaklah seorang gadis bersurai hitam dengan mata sipit dan terlihat galak. Ia menatapku dari atas.
"Ho…hoah!" Aku yang kaget langsung mendorongnya begitu saja dari posisi baringku. "Si..siapa kau?"
Gadis itu pun tak sengaja terjatuh. Dengan ekspresi marah, ia malah menamparku.
"Apa begitu caramu memperlakukan seorang gadis? Dasar."
Aku mengelus pipi kananku yang ditampar olehnya, "Ma…maaf. Tapi, tak usah menamparku juga."
"Kau adik tingkat harusnya sopan sedikit." ujarnya memerintah.
Aku melihat pita yang ia kenakan. Berwarna biru.
"Eh, iya. Ma..maafkan aku, Sunbae. Aku tidak tau." ujarku seraya berdiri dan membungkuk. Kemudian, aku bangkit dari posisi bungkukku. Mengulurkan tangan padanya.
"Tak usah sok baik. Aku bisa berdiri sendiri." Gadis itu kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Sunbae, maafkan aku. Aku tak sengaja. Aku benar-benar kaget dan tidak tau kalau itu, Sunbae. Ada gadis yang mengejar-ngejarku. Makanya aku kabur dan kukira itu dia. Aku benar-benar tak tau, Sunbae."
Dan aku berbohong kembali.
Gadis itu menatapku kembali. Dia seolah membaca apa yang ada di dalam diriku.
"Kau bohong."
Aku pun kaget.
"Kau sudah ketauan dua kali berbohong padaku. Pertama, pura-pura tidur. Kau mengira aku guru kan? Kedua, kau bohong kalau ada gadis yang mengejar-ngejarmu. Karna kau tau? Aku dari tadi dipojok dekat tembok dan kau mencuri spotku untuk tidur siang dan gayamu dari tadi tidak menunjukkan tanda kalau kau habis belarian. Dan sekarang aku ingat siapa kau. Kau Park Jimin kan? Si murid teladan yang dibicarakan guru-guru itu?"
Aku mengangguk. "Y…ya, Sunbae."
Mati aku.
"Ku kira, kau benar-benar keren seperti kata orang-orang. Ternyata, kau Cuma bocah yang berlagak saja. Sekarang minggir, itu spotku. Kalau tidur, cari tempat lain."
"Sunbae…."
"Ngomong-ngomong, aku takkan memberitau ke guru kalau kau cabut. Tenang saja."
Aku menatap Sunbaeku dengan ekspresi lega.
"Terimakasih, Sunbae."
"Panggil aku Yoongi."
Sejak kejadian bertemu dengan Yoongi, aku pun mulai sering datang ke atap sekolah untuk berbincang-bincang dengan Sunbaeku itu.
Yoongi –sunbae adalah seorang gadis pemalas. Kerjanya hanya tidur saja. Sedikit-sedikit, tidur. Dia juga galak dan menyeramkan. Bahkan, hampir semua orang tidak mau berurusan dengannya.
Tapi, aku tau kalau Yoongi-sunbae yang sebenarnya adalah seseorang yang hangat. Dia memang terlihat seperti itu diluar, namun dia memiliki kemampuan observasi yang bagus dan akan memperhatikanmu di dalam kegalakannya. Contohnya saja, seperti sekarang, dia membuatkanku bekal mesti aku tidak memintanya. Katanya, dia jarang melihatku makan.
"Kau berbohong lagi kan, kalau kau sudah makan? Perutmu saja berbunyi begitu. Seharusnya jujur saja kalau kau belum makan atau tidak sempat makan."
"Ma..maafkan aku, Sunbae."
Yoongi menghela nafas, "Kau ini kerjanya minta maaf saja, Jimin."
"Ah..hahahahaha." aku tertawa canggung.
"Kau ini orang kaya kan? Kenapa tidak mau membawa bekal? Gengsi? Kalau gengsi ya jajan saja."
"Kaya? Itu salah satu kebohongan, Sunbae. Bawa bekal? Aku mau saja, tapi aku tidak bisa. Rotinya tidak bisa untuk siang nanti dan jika aku menggunakan uangku, aku tidak bisa naik bus." ujarku dalam hati.
Ingin sekali aku meneriakkan hal tersebut. Namun, pada kenyataannya, aku hanya diam.
"Jimin?"
Aku menatap Yoongi, "Ya, Sunbae?"
"Sebenarnya ada yang mengangguku belakangan ini. Kau tak terganggu kan berbicara denganku seperti ini?"
"Ada apa memangnya, Sunbae?"
Dia menghela nafas, "Rumor. Orang-orang curiga kalau kau selalu menghilang ketika jam istirahat. Biasanya kan kau dengan Myungsoo dan belakangan ini kau tidak mau main dengannya. Belum lagi, ku dengar dari gadis lainnya, kalau aku merebutmu dari mereka."
"Aku…aku tidak masalah sih, Sunbae."
Aku pun tersenyum, membuat mataku seperti segaris.
"Karna, hanya dengan Sunbae, aku tidak bisa membuat kebohongan baru. Kau selalu tau kalau aku ingin bohong. Dan setiap aku mencoba untuk berbohong, aku tak bisa dan berakhir dalam diam." lanjutku dalam hati.
"Yah…sebenarnya sih, aku sama." ujarnya dengan pipi yang bersemburat merah. "Kau bahkan tak masalah dengan aku yang selalu galak seperti ini."
"Tentu saja, aku kan menyayangi, Sunbae."
"Dasar gombal. Kau mau aku tampar?"
"Boleh juga."
Dia mendengus, "Dasar massochist."
"Jadi, ini kah kau yang sebenarnya, Jimin?"
Sepandai-pandainya melompat, pasti kau akan terjatuh juga.
"Tak kusangka, kau cuma orang yang miskin, ya." ujar Myungsoo.
Jae, salah satu teman Myungsoo berkata, "Cih, apanya yang perusahaan. Kegiatan sosial? Mungut sampah sih iya."
"Dan sekarang kau mencoba berbohong pada Yoongi-sunbae? Kau taukan Myungsoo menyukai dia? Kau tau?" tanya Seunghoon.
Seluruh teman kelasku menatapku jijik.
"Tak kusangka anak teladan itu hanya seorang pembohong."
"Jangan-jangan dia suka menyontek, makanya nilai dia bagus."
"Jadi mobil yang dia foto waktu itu, karna dia adalah seorang petugas pencuci mobil?"
Jimin menutup kedua telinganya.
"Hentikan…."
"Jimin itu….."
"Anak teladan itu….."
"Hahahaha, pantas saja dia…"
"KUBILANG HENTIKAN!"
Teriakkanku membuat semua anak-anak yang ada di kelasku terdiam. Aku yang tidak tau harus melakukan apa langsung beranjak keluar dari kelas. Diiringi tawa mengerikan dari mereka.
Yoongi yang hendak mengembalikan buku tak sengaja melihatku keluar, "Jimin…aku mau membalikkan buku…"
Kuabaikan.
"Tak seharusnya aku hidup."
Aku memandang ke bawah gedung.
"Aku..aku tak bisa. Aku sadar aku berbohong tetapi…aku…"
Suara langkah kaki terdengar.
"Jimin!"
Yoongi. Gadis itu..
Aku pun menoleh. "Sunbae…"
Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku….aku sudah jatuh…dalam sebuah kebohongan….Sunbae…"
"Jimin…."
"Tolong, pergilah. Kau harusnya menghindariku. Kebohongan itu terus mengalir. Aku tidak bisa…aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Bahkan di tempat yang aman sekalipun, rumahku, aku berbohong…aku berbohong kalau aku baik-baik saja."
"Tetapi…"
"Aku bahkan sadar kalau aku berbohong, Sunbae. Jadi, tolong. Jauhi aku. Aku bahkan berbohong disaat kita pertama kali bertemu."
"Tetapi…hubunganku denganmu bukanlah sebuah kebohongan. Kau nyata, kau ada. Tidakkah kau mengerti?"
"Aku membencimu, Sunbae. Pada kenyataannya aku…"
"Kau mencoba berbohong padaku ya, Jimin? Kau tidak benci padaku. Buktinya kau berbicara denganku, menerima kekuranganku, dan menyemangatiku. Semua nyata. Bukan sebuah kebohongan. Bahkan dalam sebuah kebohongan, ada setitik kecil kejujuran. Maka dari itu, turunlah. Genggam tanganku, aku akan mengeluarkanmu dari kebohongan itu."
Dia mengulurkan tangannya padaku, "Aku tau, hanya aku..hanya aku yang bisa mengetahui kebohonganmu. Dan…pasti berat bagimu untuk menjadi seorang Mythomania, bukan? Kau ingin teman, kau ingin diakui, kau tidak ingin gagal."
"Ayo, sama-sama. Kita atasi itu semua ya, Jimin? Seperti kau yang mengatasi semua tamparan dan kata-kata kasarku."
Aku, Park Jimin akan mengatakan selamat datang pada kejujuran.
