Original character by Masashi Kishimoto
Mereka melanjutkan perjalanan setelah memakan habis seluruh isi kotak yang datang entah dari mana. Ino lebih sering diam sambil memandangi tubuhnya yang setengah transparan dan jauh lebih dewasa, akhirnya ia punya buah dada pikirannya senang. Sedangkan Gaara sibuk memperhatika petanya semakin mereka masuk semakin banyak lorong dan semakin gelap beruntung Gaara sempat nyelamatkan senter dari koper Temari yang ikut jatuh bersamanya. Dalam peta itu hanya tergambar beberpa lorong besar sedangkan di tempat kakinya berjalan ada banyak lorong-lorong kecil bercabang. Gaara sedikit kesal karena petanya benar-benar tidak berfungsi karena jarum kompas terus-terus berputar tak berhenti. Suhu dan tekanan tempat itu tinggi, Gaara mengikatkan jaketnya di pinggang dan mengantongi lampunya di celana. Ino sempat protes saat Gaara menindahkan lampunya ke saku celana, ia tak mau lampu yang sekarang bagian dari kakinya dekat bagian yang menjijikan, Gaara tidak peduli dengan protesnya.
Suhu meningkat drastis dengan sedikit ganjil, Gaara menyorotkan senternya kearah depan dan menyipitkan matanya. Dengan sangat cepat semburan api menerpanya tanpa tanda-tanda apapun lagi. Gelap karena Gaara memejapkan matanya yang aneh adalah tubuhnya tidak terasa seperti terbakar, mungkin karena sangat panas ia langsung mati. Pemuda itu membuka matanya, gelap tetap menyelimuti pandangannya, apakah dia sudah sampai neraka? Pikirnya begitu pesimis.
Tapi suara senandung Ino masih tetap terdengar begitu jelas, jadi ada apa tadi? Pikiran pemuda itu mulai semerawut mengira semua kemungkinan yang terjadi pada dirinya dan jin itu.
"Ah," jerit Ino terdengar senang, "akhirnya aku bisa mengabulkan permintaanku sendiri." Suaranya melengking senang sambil menyalakan sesuatu yang bersinar. Itu bukan senter milik Gaara itu senter yang lain yang pernah ia lihat di toko beberapa waktu sebelumnya. Gaara langsung melihat kulit lengannya yang tidak ada bekas luka bekar sedikitpun.
"Kemana api itu?" tanya Gaara sedikit linglung.
"Aku memindahkanmu," jawab Ino sambil terus bersenandung dan memberikan senter itu pada Gaara, "kau adalah tuanku aku harus menyelamatkanmu dan memberikanmua apapun yang kau inginkan selama kau bisa, karena aku masih mempelajari bagaimana cara mengabulkan permintaan, seperti di dongeng Aladdin." ucapnya panjang lebar.
Gaara sedikit heran dengan jin ini, pada awalnya ia sempat menyangkal bahwa dirinya adalah jin dan mengaku manusia. Ino sempat menceritakan tentang ayahnya yang menjual bunga dan salah satu pelanggan tetapnya yang selalu tertarik dengan wanita. Gaara lebih mempercayai bahwa Ino sebenarnya manusia tapi mengapa tubuhnya malah terikat dengan lampu ini.
"Kau bilang kau manusia Ino?"
"Mungkin sekarang sudah bukan," jawabnya sedih, "aku tiba-tiba menjadi dewasa dan terseret dalam lampu itu, aku sudah menoba mengabulkan keinginanku sendiri untuk kembali tapi tidak bisa saat aku berinisiatif menyelamatkanmu dari semburan api itu aku tahu sekarang aku hanya bisa mengabulkan permintaan segala yang terkait dengamu." Wajah sedihnya sudah berganti menjadi senyum ceria dan mulai berbicara macam-macam lagi tak berhenti. Satu kalimat yang terpikir oleh Gaara bahwa Ino melupakan sesuatu penting yang menjadi alasannya menjadi seorang jin.
Harta Karun Padang Pasir
Gaara meminta termometer pada Ino untuk memastikan suhunya tidak naik drastis kembali seperti tadi. Ia kehilangan petanya saat upaya penyelamatan Ino tadi, sekarang ia hanya mengandalkan instingnya untuk keluar dari istana yang seperti labirin bawah tanah itu. pemuda itu tahu istana itu terkubur dalam gurun pasir yang ia dan kakak-kakaknya berkemah, karena tekanan semakin tinggi dan oksigen semakin terbatas ia banyak mengambil istirahat pada tikungan-tikungan lorong.
"Kau haus?" tanya Ino setia yang dijawab dengan anggukan oleh tuannya.
Sekaleng botol soda dingin langsung hadir di hadapannya, "Bisakan kau keluarkan minuman selain soda, Ino."
Ino terkekeh karena itu adalah minuman favorit ayahnya, sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan soda karena rasanya yang menggigit dan bisa merusak gigi kata seorang dokter gigi yang berkunjung disekolahnya.
"Kau mulai merindukan keluargamu?" tanya Ino duduk melayang-layang di hadapan Gaara.
Pemuda itu tertunduk matanya tertutup bayang hitam dari rambut bagian depan, Ino mendengar ia sedang menghela napas panjang dan keras, "Tentu saja, mungkin kau yang akan sangat merindukan ayahmu." Ujar Gaara.
Mata Ino melebar tidak menyaka Gaara percaya bahwa dia adalah manusia dulunya, baru kali ini ada orang yang percaya dengan kata-katanya saat pertama kali bertemu. Sahabatnya Sakura sekalipun jarang mempercai kata-kata Ino, karena pertama kali mereka berkenalan saat tahun pertama Sekolah Dasar Ino langsung membohongi Sakura bahwa tadi ia melihat rumahnya kebakaran. Kebetulan ia tahu rumah Sakura sejak TK walaupun tidak saling mengenal. Sejak saat itu Sakura selalu memastikan berita apapun yang disampaikan Ino.
"Aku sering membohongi sahabatku, sehingga ia tidak mudah percaya padaku." ujar Ino memunculkan api unggun.
"Jangan nyalakan api unggun, suhu dalam termometer jadi terganggu." Ino langsung menghilangkan api unggunnya sambil menminta maaf.
"Kau tahu, aku pernah membohongi Sakura saat ia sakit," karena terlalu gelap ia membuat senter itu bercahaya sedikit lebih terang, "aku membawakan PR yang soalnya aku buat sendiri, padahal hari itu memang tidak ada PR lalu aku antarkan kerumahnya." Ino terkikik sendiri mengingat kejadian itu tidak peduli Gaara mendengarkannya atau tidak.
"Lalu apa yang temanmu itu lakukan?" tanya Gaara dengan mata yang terus tertuju pada thermometer dan kompas yang putarannya mulai sedikit melambat.
Ino tersenyum walaupun Gaara terlihat dingin tapi dia merespon baik dirinya, "Esok paginya ia kembali sakit karena PR yang kuberikan begitu sulit, padahal aku tak menghitung dan memberikannya angka acak..."
"Pantas saja..." Gaara tertawa kecil mendengarnya.
"Kau jarang tersenyum, kalau tersenyum seperti tadi kau terlihat tampan." puji Ino benar-benar polos tanpa tujuan tertentu.
"Kau jangan memuji lawan jenismu seperti itu, lihatlah tubuhmu sudah dewasa." Ino justru bingung dengan jawaban Gaara barusan, "Ayo kita lanjutkan perjalanan!"
"Kau tidak butuh tidur? Aku menemani hampir dua puluh empat jam perkiraanku tapi aku belum melihatmu tidur sekalipun?"
"Kau mengantuk?" Gaara kembali bertanya.
"Tidak aku tidak merasakan hal semacam itu sekarang ini, mungkin."
"Aku memang tidak pernah tidur." Gaara kembali melanjutkan kegiatannya memberesi semua barang bawaannya yang ia keluarkan dari ransel kecilnya tadi. Hanya peta dan senternya saja yang hilang.
Sekarang Gaara harus menajamkan insting dan ingatannya untuk mencapai pintu keluar paling tidak ia membawa sesosok jin yang dapat mengabulkan segala permintaannya walaupun tidak semuanya. Mereka terus berjalan masuk kedalam lorong yang semakin gelap tetapi tekanannya tidak sekuat lorong sebelumnya, sepertinya Ino telah memindahkan dirinya jauh dari lorong sebelumnya. Gaara heran mengapa dia tidak memindahkan dirinya keluar dari istana yang tidak terlihat berbentuk istana sama sekali.
"Baiklah kita istirahat!" putus Ino memposisikan tubuhnya dalam keadaan duduk dan tetap melayang-layang mengikuti langkah kaki Gaara. Gaara yang tidak peduli terus melanjutkan langkahnya membiarkan Ino kembali menceritakan pengalaman-pengalamannya saat TK dan teman-teman sekolahnya yang terakhir.
"Bagaimana kau bisa menjadi seperti ini?" Gaara bertanya dengan sedikit rasa iba yang tidak ia tunjukan pada teman barunya itu.
"Aku... tidak tahu? Tapi rasanya aku melupakan sesuatu yang penting yangmembuatku seperti ini." kembali mengulang kalimat yang membuat Gaara selalu penasaran dengan proses Ino yang menjadi jin dalam lampu itu.
Perjalanan yang tidak diketahui seberapa panjangnya menghening ketika Ino terdiam untuk mengingat sesuatu yang penting dan ia lupakan. Setelah ia pikirkan ternyata sejak ayahnya mematikan lampu setelah mendongeng Aladdin dan jinnya yang berasal dari lampu yang persis seperti dirinya, ia telah tertidur sepuluh tahun lamanya.
Gaara melompat senang akhirnya mereka menemukan ujung lorong itu. sebuah pintu yang terbuat dari batu kapur dengan ukiran-ukiran gambar yang mengisahkan seorang ratu yang dipenggal kepalanya karena sebuah fitnah. Orang-orang yang mengukir tulisan-tulisan itu baru mengukirnya setelah ratu itu mati dan fitnah itu terungkap.
Gaara menyuruh Ino untuk membukakan pintu itu, tapi seolah ada kekuatan magis tersendiri yang membuat pintu itu tidak dapat dibuka oleh kekuatan Ino. Gaara kembali meneliti ukiran-demi ukiran itu mencari bagaimana cara membuka pintu batu yang pasti sangat berat.
"Fitnah apa yang menyebabkan ratu itu mendapatkan hukuman penggal?" Gaara seolah bertanya pada pintu batu di hadapannya.
Ino terus saja memandangi pintu itu sambil berpikir bahwa sekarang ia adalah jin dari lampu yang ditemukan oleh Gaara, apakah ia dapat menembus pintu batu itu. Ino mencoba mengulurkan tangannya meraba permukaan kasar batu kapur. Matanya membulat sempurna ketika melihat tangannya terbenam dalam batu itu, ia bisa menembus batu. Ino menjulurkan leher dan memejamkan matanya, separuh badannya sedah masuk kedalam ruangannya yang tertutup pintu batu itu. ruangan itu gelap gulita karena Ino masuk hanya setengah badan dan senternya dipegang oleh Gaara. Ino menarik tubuhnya semakin masuk dan manarik tuas yang berada dipinggir pintu. Pintu terbuka sedikit demi sedikit cahayapun masuk, matanya sempat melihat gambar-gambar lebih mengerikan dari gambar diluar pintu yang Ino tidak mengerti apa artinya, sosok Gaara pun terlihat dengan tampang begitu tidak menyangka.
"Terimakasih." ujarnya sambil berdiri dan membersihkan dirinya.
"Silahkan masuk..." sambut Ino senang melupakan sesuatu yang sangat penting menanti didalam sana.
Gaara mengarahkan senternya gemuruh terdengar memenuhi ruangan itu, pintu batu itu kembali tertutup. Mata mereka mendapati kompas Gaara tertinggal diluar pintu. Gaara berlari mengejar pintu yang semakin menyempit dan akhirnya tertutup rapat tepat saat Gaara sampai diambang pintu. Ino tidak mengerti mengapa Gaara membutuhkan kompas itu, ia berusaha membantu dengan menarik kembali tuas yang tadi membuka pintu tapi tidak berhasil, ia kembali meriknya lagi kearah sebaliknya tetap sama pintu tidak bergeming sedikitpun.
"Sudahlah," ucap Gaara sedikit putus asa.
"Aku bisa mengambilkannya atau mau aku gantikan yang baru?" tawar Ino mencoba menghibur.
"Bisa kau ambilkan saja?" ucap Gaara sedikit berharap kompas itu akan kembali ke tangannya.
Ino kembali menembus dinding batu itu dan meraih kompas emas yang berhias ukiran naga pada tutupnya. Sayangnya kompas itu tidak dapat menembus dinding dan kembali tertinggal di luar pintu.
"Biarkan saja." Gaara melanjutkan perjalanannya dengan hati yang begitu gusar, apa mungkin ia kembali kepermukaan dengan meninggalkan semua peninggalan orang tuanya disini.
Ino memperlihatkan kompas baru yang sedikit mirip dengan miliknya, ia tersenyum mencoba menghibur dan memberikan kompas itu pada tuannya lalu kembali bercerita macam-macam yang sedikit menghibur Gaara, ia tidak bisa membayangkan jika ia berjalan sendiri dan kesepian.
tobecontinue
Please wait for the next chapter
Thanks for reading :)
