Believed You

Haruno Sakura adalah gadis yang amat sempurna, namun, kini kesempurnaan itu telah sirna. Sampai kelas 3 SMA Sakura menjalani hari-harinya yang monoton. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang pemuda di bawah pohon sakura. Sejak saat itu, takdirnya mulai bergerak. Sakura ditunangkan dengan pemuda bersurai blonde. Namikaze Naruto namanya. Tentu saja pertunagan mereka akan bertemu dengan yang namanya pernikahan. Banyak sekali rahasia Sakura yang mesti dikuak. Kini langkah apa yang dapat Naruto lakukan?

XOXOXOXOXOXO

Kedua iris Virdian milik Sakura terbuka lebar. Menatap takjub pantai yang ada di hadapannya. Gadis berusia 7 tahun itu pun segera berlari tanpa memedulikan kedua orang tuanya yang masih di belakang.

Angin membelai lembut surai gadis tersebut. Suara deburan ombak mengalun bagaikan musik pengantar tidur yang ibunya nyanyikan saat ia akan tidur. Pasir hangat dan lembut yang dipijaknya.

Sakura kembali menatap takjub pantai yang ada di hadapannya. Haruno Mebuki, ibu Sakura tersenyum simpul melihat tingkah laku anak semata wayangnya. Dengan langkah pelan, wanita paruh baya itu mulai mendekati Sakura.

"Ayo, kita masuk ke dalam rumah, Sakura-chan." Ajak sang ibu. "Nanti Tou-chan akan buatkan barbeque, bagaimana?" tambahnya cepat-cepat. Mendengar kalimat tersebut Sakura langsung mengangguk cepat dan mengikuti ibunya.

Haruno Kizashi, ayah Sakura kini sedang sibuk mengeluarkan beberapa bahan makanan yang akan mereka santap. Mendengar langkah kaki kecil Sakura Kizashi menghentikan kegiatannya sebentar dan berjongkok untuk menggendong putri semata wayangnya.

"Tou-chan." Panggil Sakura. Kizashi terkekeh pelan lalu mencubit pelan ujung hidung Sakura yang membuat empunya merengut pelan.

"Ayo, bantu Tou-chan mengeluarkan bahan-bahan." Ujak Kizashi setelah menurunkan Sakura. Gadis musim semi itu tersenyum lalu memintaayahnya untuk memberikannya bahan makanan untuk di bawanya.

Karena Sakura masih kecil Kizashi memberikan sayur-sayuran sedangkan sisanya ia yang bawa. Mebuki yang baru datang tersenyum melihat suaminya yang agak kesusahan membawa barang. Mebuki lalu membawa beberapa barang agar suaminya tak kesusahan.

Mendapat bantuan dari istri tercintanya Kizashi terenyum dan mulai melangkah menyusul Sakura yang sudah beberapa langkah di depannya.

Baru saja Sakura melewati pintu ia segera berbalik untuk memanggil kedua orang tuanya. Namun sebuah angin kecang membuat Sakura harus memejamkan matanya.

Setelah di rasa angin sudah cukup reda Sakura membuka kedua matanya. Kedua iris Virdian itu mengecil. Rumah yang mereka gunakan kini hampir rata dengan tanah. Api masih saja menyala dimana-mana.

Tubuh mungil itu langsung jatuh terduduk di atas pasir. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Segalanya kini mulai menghitam. Sakura menangis tersedu sambil memeluk kedua lututnya.

Semuanya terasa berputar sangat cepat. Saat Sakura membuka kembali kedua matanya, kini, di hadapannya terdapat sesosok pemuda yang menampilkan cengirannya. Sakura kini bukanlah bocah berusia 7 tahun lagi. Namun, ia adalah seorang gadis remaja berumur 18 tahun yang sedang menggunakan seragam sekolah.

Menatap kembali ke sesosok pemuda yang berdiri di hadapannya Sakura dengan langkah pelan mulai mendekatinya. Kelopak-kelopak bunga sakura mulai berjatuhan. Semuanya terasa melambat.

Pemuda itu lalu mengulurkan salah satu tangannya ke arah Sakura. Sakura merasa bimbang antara menerima uluran tersebut atau tidak.

"Percayalah padaku."

Kalimat simpel itu serasa menyihir Sakura. Tubuh gadis itu tergerak untuk lebih dekat dengan pemuda di depannya. Salah satu tangannya ia ulurkan untuk membalas uluran pemuda tersebut.

Dengan senyum terpatri di wajahnya Sakura langsung berlari menuju sosok itu dan memeluknya erat. Aroma dan hangat tubuh yang amat ia kenal menjadi obat penenang tersendiri bagi Sakura.

Tanpa disadari Sakura sebuah air mata jatuh dari matanya saat sang pemuda mengecup pelan pucuk kepala Sakura.

Gadis berambut soft pink itu lalu menutup kedua netranya. Menikmati pelukan hangat dari pemuda di hadapannya itu.

XOXOXOXOXOXO

Kedua mata Sakura terbuka, menampilkan kedua irisnya yang sayu. Tubuh gadis itu sedikit basah karena keringat. Jantungnya berdetak tak karuan, napasnya pun juga. Sakura mengacak rambutnya pelan. Gadis itu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, dia berhenti di depa sebuah cermin besar dengan ukiran-ukiran indah di pinggirnya.

Dipandangnya refleksi dirinya. Tangan kanannya kini mulai memainkan sebuah gelang dengan cincin sebagai bandulnya. Ya, ini adalah cincin pertunangan. Sudah seminggu lamanya, dan neneknya kini sudah berada di luar negeri untuk menjalani pengobatan rutinnya.

Di mansion kini hanya tinggal Sakura dan para pelayannya. Sebenanrnya neneknya sudah memintanya untuk pindah ke mansion utama atau bisa dibilang induk milik Haruno, namun akura menolak.

Mengingat waktu yang terus berjalan Sakura segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.

Membersihkan diri. Sudah.

Seragam. Sudah

Tas. Sudah

Sarapan. Sudah

Bekal. Sudah

Kini Sakura segera melangkahkan kakinya menuju gerbang. Tak lupa ia pamit kepada para pelayannya. Sesampainya di luar ia dapat melihat sesosok pemuda yang kini tengah berdiri bersandar pada mobil berwarna golden.

Sakura tersenyum kecil dan mendekatinya. Dari dekat kini pemuda itu terlihat sedang memainkan sebuah bandul kalung yang sedang ia pakai. Wajah Sakura langsung merona.

Dengan langkah kikuk Sakura mendekati Naruto yang masih sibuk memperhatikan bandul cincin tersebut. Ya. Cincin pertunangan mereka. Sakura tak menyangka bahwa Naruto akan memakainya tiap hari.

"Ohayou." Sapa Sakura pelan.

"Ohayou, Sakura-chan." Sapa balik Naruto dengan cengiran khas miliknya.

Naruto langsung membukakan pintu untuk Sakura. Gadis itu berterima kasih sambil menyembunyikan rona merah yang ada di wajahnya.

Naruto mulai menyalakan mesin dan menyetir menuju sekolah mereka. Sakura duduk diam sambil menatap pemandangan yang ada di luar.

"Hei, Sakura-chan, apa kau ada waktu nanti saat istirahat siang?" tanya Naruto memecah keheningan yang ada. Sakura yang sebelumnya menatap jendela kini beralih menatap Naruto.

"Kenapa?" tanya Sakura penasaran.
"Aku ingin makan siang denganmu. Berdua saja di atap." Jawabnya sambil menoleh cepat ke arah Sakura.

Sakura berpikir sebentar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah." Timpalnya kemudian.

"Apa tak apa?" tanya Naruto memastikan, pasalnya ini kali pertama ia mengajak tunangannya itu makan bersama.

"Lagipula ini kali pertama kita makan bersama sejak acara pertunangan, bukan?"

"Ya. Lalu?"

"Aku tak keberatan."

"Ehm... kalau aku ingin, makan siang... bersama Sakura-chan terus, bagaimana?"

"Kalau begitu aku harus menyiapkan bento lebih banyak." Ucap Sakura sambil memandang Naruto.

"Agar kau tak makan ramen cup lagi, Naruto." Tambahnya lagi sambil memasang senyum manis di wajahnya. Wajah Naruto kini terlihata masam karena biasanya saat istirahat siang ia akan makan ramen cup.

"Ha'i, Ha'i." Jawab Naruto sekenanya. Sakura tertawa pelan melihat jawaban tunangannya. Tanpa sadar tangan kanannya terjulur untuk mengelus rambut Naruto.

Setelah beberapa detik Sakura baru sadar apa yang sudah ia lakukan. Dengan cepat ia tarik kembali tangannya dan segera menghadap ke arah jendela lagi. Wajahnya memanas mengingat apa yang baru saja ia lakukan.

Sakura memandang raut wajah Naruto dari ekor matanya. Pemuda itu terenyum dengan sedikit rona merah yang menghiasi kedua pipinya.

Tangan kanannya ia arahkan ke dadanya. Berharap dengan sangat agar tunangannya tak mendengar suara detak jantungnya yang amat berisik itu. Sakura menghela napas sambil mengutuki detak jantungnya dalam hati.

XOXOXOXOXOXO

Sesampainya di sekolah Naruto langsung memarkir mobilnya dan membukakan pintu untuk Sakura. Gadis itu berterima kasih sebelum akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju kelas.

Sakura berada di kelas 9-A sedangkan Naruto di kelas 9-C. Karena jarak kelas yang dekat Sakura mulai berpikir untuk membuatkan Naruto bekal, sekalian menjaga pola makan tunangannya itu.

Naruto mengantar Sakura sampai di depan kelasnya, sebelum Sakura masuk kelas ia menyempatkan diri untuk berpamitan sekaligus berterima kasih pada Naruto. Entah kenapa walau gadis musim semi itu merasa tak perlu mengatakannya, namun, melihat wajah tunangannya hatinya menjadi tergerak untuk melakukannya.

"Ohayou, Sakura." Sapa Ino.

"Ohayou"

"Romantis seperti biasa." Goda Ino sambil menyeringai tipis ke arah Sakura.

"Hah?"

"Tapi kupikir tak seromantis milik Hinata." Ucapnya kemudian sambil memegang kedua pipinya yang sedikit merona.

"Apa maksudmu?" tanya gadis bersurai musim semi itu.

"Kau tahu, Hinata ternyata juga ditunangkan. Malahan, lebih lama daripada kamu... kalau tak salah saat... mereka di... kandungan?!"

"Well, Ino, aku tak menyangka kau tahu sampai segitunya. Ratu Gosip memang beda." Timpal Sakura sambil melatakkan tas sekolahnya.

"Ah, itu Hinata. Ohayou, Hinata."

"O-Ohayou." Terlihat Gadis bersurai indigo berjalan melewati pintu kelas dengan anggun.

"Sini, sini sebentar Hinata." Ucap Ino sambil memberi kode ke Sakura agar gadis itu tak kabur.

"Memangnya ada apa?" tanya gadis bersurai indigo sembari mendekati kedua temannya.

"Kau tahu, sekitar seminggu... yang lalu forehead ditunangkan, lho..." kata Ino membuat Sakura melotot tak percaya ke arah temannya itu.

"Benarkah? Kalau begitu selamat untuk pertunangan kalian..." ucap Hinata tulus sambil tersenyum ke arah Sakura, yang di beri ucapa selamat itu pun tersenyum pelan.

"Terima... kasih." Sakura tersenyum canggung lalu tanpa ia sadari wajahnya mulai memanas.

"Jadi ada urusan apa Ino-san sampai memanggilku ke sini?" tanya Hinata.

"Sakura tak percaya cerita tentangmu yang ditunangkan oleh kedua orang tuamu dengan... Siapa namanya?"

"Sabaku Gaara."

"Yap, itu dia."

"Jadi kau benar-benar ditunangkan saat masih di rahim?" tanya Sakura terus terang tanpa berbasa-basi sedikit pun.
Hinata tersenyum pelan sambil mengangguk pelan. "Begitulah."

"Hm... aku jadi penasaran. Tak masalah kalau menceritakan sedikit padaku, bukan?"

"Baiklah." Hinata mulai mengambil duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Sakura dan Ino pun juga mulai mendudukkan diri untuk medengarkan cerit Hinata dengan seksama.

"Memang benar kami ditunangkan sejak kami masih di rahim. Kami pertama kali bertemu saat aku berumur 5 tahun." Ucap Hinata membenarkan.

"5 tahun?!" pekik pelan Ino dan Sakura bersamaan. Gadis Hyuuga itu hanya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Begitulah, kami dikenalkan oleh keluarga masing-masing. Sejak saat itu tiap kali ada libur sekolah salah satu dari kami akan saling mengunjungi. Tapi, lebih seringnya aku ke kediaman Gaara-kun yang ada di Suna. Ah, ya, dia memang orang Sunagakure asli sih."

"Hubungan kami bisa dikatakan di bawahnya teman. Gaara-kun selalu melakukan semuanya sendiri. Ia memiliki tekanan dari Otou-sama-nya, karena itu Gaara-kun mengidap insomnia akut. Dia mungkin bisa tidak tidur beberapa hari atau minggu. Kalau pun ia tidur biasanya ia akan tidur di bawah 5 jam."

"Yang benar saja." Ucap Ino tak percaya. Sakura hanya diam walau dalam hati ia setuju dengan Ino.

"Yaah, aku tahu kalau sebagai orang luar aku tak berhak ikut campur, tapi, bagaimana pun juga Gaara-kun adalah tunanganku sekaligus suamiku di masa depan. Mau tak mau aku harus memperhatikannya."

Sakura merasa sesuatu di dalam hatinya mengerti akan perkataan Hinata yang barusan. Rasanya ia jadi ingat dengan Naruto.

"Awalnya, Gaara-kun hanya diam dan mengikuti perkataanku saja tapi lama-kelamaan setelah aku mengetahui masalahnya... rasanya aku makin ingin ikut campur dalam kehidupannya."

"Lalu... apa Gaara memperbolehkanmu memasuki kehidupannya?" tanya Ino antusias yang diikuti oleh anggukkan pelan dari Sakura.
"Awalnya tidak, ia ingin aku tak memasuki kehidupannya. Awalnya aku pikir... ia membenciku namun, ternyata ia sangat mengkhawatirkanku."

"Karena ia... tak ingin aku terluka..." kedua pipi Hinata mulai merona. Hal ini membuat debaran aneh di hati Sakura. Entah kenapa ia menjadi teringat pembicaraannya dengan Naruto di acara makan malam waktu itu.

"Romantis sekali..." gumam Ino takjub dengan kedua pipinya yang sudah merona.

"Bahkan... ia selalu menolongku, padahal aku yang sejak awal ingin menolongnya. Sejak saat itu... aku merasa kalau Gaara-kun memang perhatian padaku... dari awal."

"Begitu... ya?" bisik Sakura lirih. Merasa setuju dengan kalimat Hinata barusan.

"Memangnya... Sakura-san sendiri bagaimana?" tanya Hinata membuat Sakura gelagapan. Ino mulai tersenyum jahil ke arah Sakura yang membuat gadis musim semi itu makin gelagapan dibuatnya.
"Kalau aku... mungkin kebalikannya dari dirimu." Jawabnya kemudian sambil menggaruk pipinya yang sebenarnya sama sekali tak gatal.

"Maksudmu forehead?" tanya Ino bingung sambil mengetukkan jari telunjuknya di permukaan meja.
"Yaah, malah aku rasa Narutolah matahariku sekarang..." kata Sakura dengan kedua irisnya yang mulai menerawang.

Melihat tingkah Sakura membuat Hinata terkekeh pelan. Ternyata Sakura benar-benar gadis tsundere.

"Romantis sekali bukan, tunangan Sakura-san itu? Ia benar-benar memikirkanmu." Kata Hinata kemudian.

Jantung Sakura langsung mencelos mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Hinata. Jantungnya kembali berdetak dengan kecepatan di luar kendali.

"Aku-Aku sih, tak yakin kalau soal itu..." kilah Sakura sambil menatap ke arah lain.

"Jangan membohongi perasaanmu sendiri Sakura-san."

"Eh?!"

"Aku yakin kau sudah menyadarinya dari memandang sorot matanya saja..."

Tangan Sakura mulai mengepal. Benar. Dari awal Sakura sudah mengetahuinya sari sorot matanya saja. Nauto bersungguh-sungguh terhadapnya.

"Mungkin, kau benar... Hinata." Tanpa Sakura sadari ujung bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman manis. Jauh di lubuk hatinya gadis bersurai soft pink itu merasa kalau Naruto, tunangannya, benar-benar memikirkannya.

"Tapi, kenapa... kenapa Naruto mau menolongku? Maksudku aku baik-baik saja dengan kehidupanku saat ini." Ucap Sakura ragu dan pelan. Bahakan mungkin nyaris berbisik.

"Mungkin bagi Sakura-san kehidupan Sakura-san yang sekarang baik-baik saja. Namun, mungkin bagi Naruto-san, ia menginginkan kehidupan yang jauh lebih baik dari ini." Jawab Hinata setelah gadis itu berpikir sambil mengingat-ingat bagaimana Hinata mulai memutuskan masuk ke dalam hidup Gaara.

"Yah, begitulah yang aku rasakan dari sorot matanya." Timpal Sakura membenarkan.

"Bukankah tak apa-apa kalau Sakura-san mulai membuka diri untuknya. Aku masih ingat dengan jelas pertunangan awalku dengan Gaara-kun. Sangat canggung dan tak enak."

"Haha, sulit sekali tapi..." Sakura menggantungkan kalimatnya lalu menautkan jari-jari tangannya dengan gelisah. "Kurasa, kalau pun aku tak membuka diri... Naruto tetap saja bisa memasuki kehidupanku dengan mudah."

Kali ini Ino menganga tak percaya dengan perkataan Sakura. Pasalnya selama mereka berteman sampai sekarang Ino tak pernah tahu kalau Sakura bisa...-erm, mengeluarkan kalimat, semendramatisir ini? Pokoknya benar-benar di luar dugaan sang Ratu Gosip.

Keheningan mulai melanda. Hinata yang kini tak bisa menahan senyum saat mengingat-ingat pertunangannya dengan pemuda Suna tersebut, Sakura yang kini sibuk menetralkan jantungnya yang berdetak dengan cepat, dan Ino yang sibuk memikirkan kalimat Sakura yang amat mendramatisir itu.

XOXOXOXOXOXO

Sesuai dengan janjinya kini Sakura sudah berada di atap sekolah. Iris Virdiannya mulai menjelajahi tiap inchi tempat tersebut. Sampai akhirnya tatapannya terhenti saat melihat surai blonde milik Naruto.

Dengan langkah pelan Sakura mulai mendekati Naruto yang kini sedang sibuk tidur. Kedua tangannya dilipat untuk dijadikan bantalan untuk kepalanya. Kedua kakinya ditekuk yang membuat Sakura kini sedang berjongkok tepat beberapa senti di depan kepala Naruto.

Dengan iseng hari telunjuk dan ibu jari Sakura ingin menarik ujung hidung milik Naruto, namun sayangnya, sepertinya pemuda blonde tersebut sudah mengetahui hawa kehadiran tunangannya. Maka dengan iseng juga Naruto menggigit jari telunjuk Sakura.

Melihat Naruto yang ternyata masih bangun Sakura langsung kaget dan terjerembab ke belakang. Namun, sebelum ia benar-benar jatuh dengan sigap Naruto menahan tubuh Sakura dengan kedua lengannya.

Sepertinya karena Naruto masih ingin menjahili Sakura tangan kiri Naruto kini berpindah ke pinggang Sakura untuk menggelitik pinggang Sakura. Seketika Sakura langsung tertawa sambil memohon kepada Naruto.

Karena Naruto sama sekali tak menggubris permintaannya Sakura lalu memukul ringan dada bidang Naruto.

"Hen-Hentikan, geli tahu... ahaha..." ucap Sakura ditengah-tengah gelitikan Naruto.

"Tidak akan."

"Kau menyebalkan." Sakura langsung merengut tak suka ditengah-tengah gelitikkan Naruto.

"Terima kasih atas pujiannya tunanganku." Timpal Naruto sambil menyeringai.

"Itu bu-bukan pujian tahu..." pipi Sakura mulai memerah. Entah kenapa kata "tunangan" masih terdengar asing di telinganya.

Kedua tangan Sakura memukul dada bidang Naruto dengan sedikit keras dari yang sebelumnya. Namun, pemuda itu sama sekali tak menghentikan aksinya sama sekali."Sudah! Hentikan..."

"Memohonlah padaku, Sakura"

Sakura langsung melotot ke arah Naruto. Namun gelitikkan di pinggang Sakura takkan berhenti karena Sakura melotot pada tunangannya.

Sakura menghela napas. Sepertinya kali ini ia harus mengalah. "Ugh, aku mohon... hentikan gelitikanmu..."

"Gadis pintar." Puji Naruto setelah menghentikkan gelitikannya. Sakura kemudian bangkit dan duduk tepat di depan Naruto.

"Dasar baka." Gumamnya tak jelas.

"Kau tak bawa bekal?" tanya Sakura setelah ia merapikan seragam dan rambutnya yang agak berantakan gara-gara ulah Naruto.

"Aku sudah makan roti melon tadi." Jawab Naruto.

"Benarkah? Bukan ramen cup?" taya lagi Sakura tak percaya, pasalnya Sakura tahu kalau saat istirahat siang Naruto pasti akan memesan ramen cup di sekolah.
"Bukan, percayalah padaku Sakura-chan."

Setelah mengendus bau Naruto sebentar, kedua iris Sakura mengecil karena ia tak mencium bau ramen. Malahan, bau maskulin dari pemuda blonde tersebut yang membuat pipinya sedikit merona.

"Baiklah, kalau begitu. Aku akan membagi bekalku denganmu." Kata Sakura sambil memaerkan bekalnya tepat di hadapan Naruto.

"Eh?! Apa tak apa?"

"Tak apa, lagipula aku membawa bekalanya juga tingkat 2 kok." Sakura mengangguk lalu mulai mengambil sumpit yang diletakkan di atas kotak bekalnya.

"Tapi bukankah sumpitnya cuma 1?" tanya Naruto saat Sakura mulai mengeluarkan bekalnya.

"Hm... kalau kau makan langsung tak akan higienis, lagipula aku juga lupa untuk membawa tisu basah... kalau begitu..."

"Suapi aku." Kata Naruto memotong perkataan Sakura yang belum selesai. Sakura menoleh ke arah Naruto yang sedang nyengir ke arahnya. Menghela napas. Ya, lagi-lagi Sakura harus menghela napas bila berhadapan dengan Naruto.

"Dasar, baiklah kalau begitu..."

Sakura kemudian mulai menyuapi Naruto... dan juga dirinya sendiri. Wajahnya sedikit memanas mengingat kalau ia sedang melakukan indirect kiss dengan Naruto. Dalam hati Sakura memaki dirinya kenapa membawa bekal yang amat banyak.

Karena biasanya Sakura makan bersama teman-teman perempuannya di kelas tak ayal bila Sakura membawa banyak bekal. Biasa... anak perempuan... incip-incip bekal temannya.

"Kenyang..." ujar Naruto, kemudian ia menempatkan kepalanya di paha Naruto.

"Kenapa tidur di pangkuanku?" tanya Sakura dengan sedikit gerutuan di dalam kalimatnya.
"Kenapa? Bukannya hal ini wajar bagi kita? Kita sudah bertunangan bukan?" tanya balik Naruto yang membuat wajah Sakura memanas seketika.

"Yah... tak salah juga sih." Timpalnya pelan membuat Naruto terkekeh pelan.

Keheningan mulai melingkup keduanya. Naruto yang sibuk tidur di pangkuan Sakura dan Sakuranya sendiri sibuk memandang langit.

"Hei, Sakura-chan..." panggil Naruto membuat Sakura menundukkan kepalanya untuk menatap Naruto.

"Apa?" tanyanya kemudian.

"Bagaimana kalau kau pindah ke mansionku?"

Kali ini Sakura sama sekali tak mempercayai pendengarannya. Tubuhnya sedikit menegang dan jantungnya bertalu-talu dengan cepat.

Sakura bingung. Matanya mengerjap beberapa kali. "Eh? Kenapa? Tanyanya kemudian dengan raut wajah bingung yang tak dapat disembunyikan

"Aku tak bisa membiarkan tunanganku sendirian di dalam sebuah mansion besar yang hanya diisi oleh pelayan. Kau tahu, hal itu membuatku khawatir tahu. Apalagi Obaa-chan tak ada untuk menemanimu." Jelas Naruto sambil memejamkan matanya. Tapi, Sakura tahu dari kalimatnya tersirat kekhawatiran. Membuat Sakura ingat pembicaraannya dengan Hinata di kelas tadi.

"Kalau kau tak mau tinggal di mansionku kau bisa tinggal di mansion induk milik keluargamu." Lanjutnya kemudian.

Sakura berpikir sebentar. Namun, hanya dengan melihat wajah Naruto Sakura langsung mengetahui jawabannya. "Baiklah." Bisiknya lirih. Mungkin bisa saja tertelah oleh suara angin yang ada

"Hm?" gumam Naruto. Spertinya malah balik Naruto yang tak mempercayai pendengarannya.
"Aku akan tinggal bersamamu. Di mansionmu." Jawab Sakura sambil menekankan tiap katanya pada Naruto.

"Eh? A-Aku tak memaksamu kok, Sakura-chan." Naruto langsung bagkit untuk menatap wajah Sakura. Beruntung keduanya tak bertabrakan karena gerakan tiba-tiba Naruto tadi.

Dapat Sakura lihat Naruto kini sedang bingung dengan pikirannya sendiri. Rona merah kembali menjalari kedua pipi Sakura.

"Memang, tapi ini keputusanku sendiri." Ucap Sakura sambil memasang wajah bingung dengan sikap Naruto.

"Baiklah... kalau begitu." Naruto lalu menggaruk pelan tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tak gatal. Iris Sapphire-nya kini mengalihkan pandangan dari Sakura. Mencoba tak menatap langsung iris Virdian milik gadis musim semi tersebut.

"Kau kan yang mengusulkan hal ini padaku kenapa sekarang kau sendiri yang malu, Naruto." Kata Sakura sambil mengulum senyum jahil. Jarang-jarang ia bisa menggoda Naruto seperti ini.

"Tidak kok! Sama sekali tidak!" elak Naruto yang membuat Sakura terkekeh pelan. Tanpa disadari Sakura tangan kanan Sakura yang menganggur berpindah tempat ke surai blonde milik Naruto. Mengelusnya dengan lembut membuat tunangannya itu berjengit pelan.

"Kau benar-benar mengkhawatirkan diriku ya..." goda Sakura kemudian.

"Terima kasih." Tambahnya cepat-cepat. Membuat rona kemerahan di menjalar di kedua pipi Naruto.

"Sama-sama." Timpalnya pelan nyaris berbisik.

"Tak kusangka, baru seminggu kita bertunangan kau berani mengajakku ke mansionmu. Jangan-jangan kau akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku." Sakura kembali menggoda Naruto. Sepertinya gadis itu ingin mengerjai sedikit lagi mengingat gelitakkan maut dari Naruto.

"Eh?! Yang benar saja Sakura-chan. Aku ini bukan pria mesum seperti itu. Percayalah padaku."

"Ha'i, Ha'i." Timpal Sakura seadanya.

Naruto kembali menempatkan kepalanya di paha Sakura. Sakura sendiri tidak keberatan sama sekali. Jari-jari ramping milik Sakura kini mulai memainkan surai blonde milik tunangannya. Naruto sendiri menikmati elusan ringan di rambut jabrik miliknya.

"Baka." Bisik Sakura. Berharap lelaki yang sedang tidur di pangkuannya tak mendengarnya.

XOXOXOXOXOXO

TBC...

XOXOXOXOXOXO

Terima kasih bagi yang mau membaca fanfic gaje ini... Terima kasih juga yang sudah mau menyempatkan diri untuk nge-review, follow, dan favorite fanfic ini...

Kalau masih ada typo saya mohon maaf, karena bagaimana pun manusia tak luput dari kesalahan, bukan...

Hyuuhi Ga Ara : saya tak tahu masalahnya bakalan rumit atau tidak bagi anda, tapi, terima kasih sudah mau membacanya...

Ae Hatake : yep, bener tuh. Konfliknya yaitu perebutan harta... yah, tunggu kelanjutannya ya...

Lutfisyahrizal : ini sudah next kok...

AndrianiJoanne : maaf banget ya, kalo masih ada tuh typo bertebaran di mana-mana

Mikaze9930 : tenang aja nih fanfic kayaknya end-nya bakalan lama. Ditunggu ya...

SR not AUTHOR : arigatou ya sudah mau review...

Mrs. N : akan saya usahakan update-nya gak lama-lama...

Guest : pas Sakura berumur 7 tahun tuh banyak banget masalahnya, hehehe...

Guest : terima kasih mau review...

Oke, mohon maaf kalau ada salah tulis, jaa minna...