LOST IT ALL


HYAAAA! Update! 2nd! first chapter though :/


CHAPTER 1

Brieylin menggeleng heran sebelum berkata, "Siapa dia?"

"Yah, aku tak berhak berkata. Ms Perryne akan memberitahumu,"

"Oh, terimakasih banyak," Bri mencibir Dave, memberikan pandangan sinis.

"Hey! Ayolah! Tak seburuk itu kok!"

Lalu ia menarik nafas dalam. Ia tahu itu pasti akan buruk. Ingat? Terakhir kali dia diambil dia hanya bertahan 2 bulan. Pada akhirnya pasti ia akan pulang juga karena sifat-tidak-mau-bersosialisasi-dengan-orang-barunya.

Setelah selesai memakan serealnya, Ia berjalan sendirian ke kantor Ms Perryne, sibuk dalam pikirannya sendiri. Siapa orang ini? Ia punya banyak lagu yang sering didengar... tapi paling sering hanyalah...

Shit, katanya dalam hati. No dude, no.

Avenged Sevenfold berdiri di kantor Ms Perryne.

0-0-0

-Brieylin's POV-

Aku mengerjapkan mataku ketika melihat siapa yang berada di dalam kantor Ms Perryne. Lima pria, bertato. Satu yang terlihat paling pendek duduk di pojok kanan, lalu pria berlengan besar dengan kacamata hitam, lalu yang memakai kemeja putih dengan mata emerald yang sedetik lalu kutatap, lalu yang memakai kaos hitam tanpa lengan, dan terakhir.. pria yang paling tinggi di antara yang lainnya yang tersenyum lembut ke arahku. Jimmy Sullivan.

"Hai," Mereka semua menyambutku sementara Ms Perryne tersenyum ke arahku.

Aku hanya membalas 'hai' dengan suara rendah dan pipiku memanas. Aku hampir menelan lidahku sendiri sebelum akhirnya Ms Perryne menyuruhku untuk duduk di sampingnya, di depan kelima pria ini.

"Well, Mister, ini Brieylin. Brieylin, ini.."

"Avenged Sevenfold," Aku memotong Ms Perryne sebelum ia bisa berkata lebih jauh. Mereka tertawa kecil dan pipiku memanas lagi.

"Kau sudah tahu?"

"Tentu saja," Aku tersenyum malu-malu. Lalu membisikkan sesuatu dengan nada yang kuharap tidak bisa dimengerti oleh mereka pada diriku sendiri. "Aku mendengarkan mereka sepanjang waktu,"

"Baiklah, jadi... ini Jimmy Sullivan," Ms Perryne memberikan pandangan kepada pria kelima, yang paling tinggi, dan yang tadi tersenyum kepadaku di awal.

"Yeah?" Aku menaikkan alisku.

"Well, Jimmy ingin mengadopsimu," Lalu terjadi keheningan di antara kami. Aku menelan ludah. Jimmy? JIMMY SULLIVAN ingin mengadopsiku?

-Normal POV-

Brieylin sedang mengepak kopernya sekarang, memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper hitamnya ketika Dave datang.

"Woaaaah!" Dave masuk dengan suara hebohnya itu dan Bri menolehkan kepalanya. Ia berhenti mengepak dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

".Bodoh." Brieylin mengumpat dan Dave mengangkat alisnya, tetapi setelah itu, seakan ada orang yang mengomandoi mereka, Dave dan Brieylin tertawa kencang sekali, Bri memeluk Dave, masih berteriak-teriak heboh.

"Oh Shit B! Kau sangaat sangaaaat beruntung!" Dave balas berteriak.

"Yeah, aku tahu," Bri melepaskan pelukannya dan mendesah. "Tapi.."

"Sudahlah, B, tidak usah berpikir yang.." Dave tidak menyelesaikan kata-katanya. Tak ingin menyelesaikannya, tak ingin.. mungkin melukai perasaan Brieylin?

"Yah, aku tak bisa menghilangkan perasaan itu," Bri membalas dengan suram sambil membalikan badannya, dan mulai merapikan barang-barangnya lagi.

"Oh. Kau hanya membawa sedikit?" Tanya Dave.

Dan walaupun ia senang, toh Brieylin tetap menyimpan perasaan takut bila ini akan seperti pengalamannya yang lalu, jadi ia memutuskan untuk membawa sedikit barang saja. Dan berhubung ia tidak memliki handphone, jadi benda wajibnya adalah I-Pod dan headset.

Brieylin tidak pernah memiliki handphone kecuali satu kali ketika ia pernah diambil oleh keluarga Torresa, dan pada akhirnyapun ia mengembalikkan handphone tersebut kepada keluarga itu ketika ia dikembalikan ke panti. Lagipula ia memang tidak memerlukannya. Toh siapa yang ingin menghubunginya? Paling-paling ketika ia harus menanyakan urusan sekolah pada temannya, ia akan meminjam telephone panti.

"Ya," Jawab Brieylin. "Omong-omong, kau sudah bertemu dengan mereka?"

Dave menggeleng dan memasang wajah pura-pura bersedihnya.

"Oh MY GOD! Kau harus bertemu nanti?"

"Yeah okay. Tapi, B, kau harus menelponku jika sudah sampai nanti. Jangan lupakan aku, oke?"

Brieylin tertawa. "Konyol kau ini, mana mungkin aku akan melupakanmuuuu. Ya, oke, aku akan menelponmu,"

"Janji?"

"Oke,"

0-0-0

Koper Brieylin sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil mereka, dan kini, kelima pria itu hanya tinggal menunggu Brieylin yang sedang mengucapkan selamat tinggal kepada Ms Perryne, Dave, dan beberapa anak panti lainnya.

Jimmy tersenyum. Untunglah, katanya dalam hati. Awalnya ia khawatir dan sempat pesimis Brieylin tidak akan mau ketika ia menyampaikan kemauannya mengambil bocah itu, mengingat kedatangannya yang tiba-tiba sekali. Walaupun sebenarnya ia sudah datang beberapa kali ke panti ini dan memantau Brieylin dengan bantuan Ms Perryne, tanpa sepengetahuan Brieylin sendiri.

10 menit kemudian, Brieylin mendekati kelima pria itu sambil memegang erat ranselnya. Ia telah memakai headsetnya, dan menyiapkan I-Pod dibalik jaket hitamnya itu. Jimmy tersenyum lagi dan merangkulkan tangannya di leher Brieylin. Bocah perempuan itu termasuk tinggi untuk anak seumurannya, sama layaknya Jimmy. Dan Jimmy yang bisa merasakan ketidaknyamanan Brieylin karena rangkulannya, akhirnya melepaskan tangannya dari Brieylin. Sementara itu, Brieylin tersenyum meminta maaf.

Mereka naik ke mobil hitam yang untungnya, dapat menampung mereka semua. Matt, pria yang berlengan besar dan memakai kacamata tadi menyupir, dan Brian, atau yang lebih sering dikenal dengan nama stagenya, Synyster, duduk di sebelahnya. Zacky Vengeance duduk di kursi penumpang di belakang Brian, Jimmy yang tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi duduk di sebelah Zack. Sementara itu, di bagian belakang, tersisa si pria paling pendek, Johnny, dan Brieylin.

Brieylin melambaikan tangannya kepada Ms Perryne dan yang lainnya ketika mobil mulai berjalan. Lalu ia melihat ke arah Dave, Dave memberi isyarat yang diartikannya sebagai 'Telpon aku' dan mengangguk. Setelah itu, kaca ditutup kembali, dan Brieylin mulai menyandarkan dirinya di jok mobil.

"Yah, sejujurnya aku tak terlalu yakin kau benar-benar tahu aku?" Tiba-tiba saja Johnny berkata ketika Brieylin sedang menyalakan I-Podnya, ia mendongak dan tertawa kecil.

"Yeah.. Se- sebetulnya aku mendengarkan lagu kalian," Brieylin tersenyum malu-malu.

"Benarkah?"

"Yeah.. Aku suka sekali," Kali ini Johnny tertawa renyah. Tidak menyangka jika anak perempuan yang terlihat sedikit pemalu ini menyukai musik beraliran rock.

"Kau suka permainan bassku? Oh tentu saja, aku tahu permainanku sempurna," Johnny mengedipkan sebelah matanya dan Brieylin tertawa lagi sambil mengangguk.

"Well, sebetulnya aku tidak mengerti apapun tentang bass. Jadi yeah, mungkin iya," Kata Bri, Johnny memberinya tinju ringan dan berpura-pura memasang tampang marahnya. Dan mereka berdua tertawa lagi.

Brieylin memang tidak tahu sama sekali tentang bass. Hell, gitar saja ia tidak terlalu pintar, apalagi bass? Brieylin tidak terlalu suka musik. Yeah, kecuali drum, ibunya pernah mengajarinya sedikit dahulu, dan ia juga pernah mengikuti kursus drum. Itu sedikit mengganggunya sebenarnya, fakta bahwa ia sama sekali tidak tersentuh musik, mengingat bahwa yang mengambilnya adalah drummer dari Avenged Sevenfold. Sekali lagi, Avenged Sevenfold. Mungkin salah satu dari beberapa band favoritnya sepanjang masa. Dan ia tidak henti-hentinya bertanya, apakah ini asli? karena ya, ini memang seperti mimpi baginya.

"Oh, sial kau bocah,"

"Hei- Bukankah aku dan kau, Mr Seward, hampir sama tinggi?"

"Tidaaak!"

Mereka mulai mengobrol dan terkadang disertai gurauan seru. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan tertidur dengan sendirinya, yeah, atau, lebih tepatnya, Johnny lah yang memulai acara tertidur itu.

Sementara itu, keempat pria lainnya diam saja, hanya terkadang diisi pembicaraan singkat yang langsung pudar. Jimmy menjadi sedikit bosan, apalagi mendengar pembicaraan seru diantara 'anak' adopsinya dan Johnny. Hell, ia saja belum banyak bicara dengan Brieylin. Bagaimana bisa, si short shit mendahuluinya? Tetapi akhirnya ia tersenyum sedikit ketika melihat pada akhirnya mereka kelelahan dan tidur.

Jimmy berharap semuanya akan baik-baik saja ketika mereka sudah sampai nanti. Berharap semua akan berjalan seperti semestinya.

0-0-0

Chapter pertama :D

special thanks for the first commenter :D thankyou:3

sorry for typo(s) xoxoxo