Siapakah gerangan orang-orang dengan wajah baru yang ada di rumah kita, Tou-san? Mengenakan pakaian hitam yang kontras dengan kulit putih pucat. Dan mata mereka yang selalu mengawasi diriku. Mereka membuatku takut, Tou-san. Selamatkan aku sebelum semuanya terlambat./ SHO-AI

.

.

.

Touken Ranbu (c) DMM & NITRO+

DEVILS BESIDE ME

Story line (a) yukimarui

EVERYONE X Yamanbagiri Kunihiro

Warning: AU, modern setting, Sho-ai, YAOI, typo, MANBAHAREM /kinda/, toudan as wooden peg doll, akan lebih legit kalau dibaca tengah malem /hoho/

Kunihiro Yamanbagiri: 5 tahun

Kunihiro-sama/ Tou-san: 35 tahun

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

.

.

.

Yamanbagiri selalu mengetahui setiap orang yang tinggal di rumah besar mereka. Orang-orang yang umumnya mengenakan pakaian semi-formal dengan warna dominan berwarna hitam. Suara ketukan sepatu mereka akan terdengar di setiap sudut rumah. Ujung tail-coat berwarna hitam milik mereka terkadang akan mengintip dari lorong-lorong panjang yang berkelok.

Yamanbagiri akan dengan mudah mengenali mereka di antara pelayan lainnya. Postur tubuh yang tinggi dan tegap. Lengan dan tungkai yang terlihat panjang dalam balutan pakaian hitam. Kulit mereka yang putih pucat. Senyum yang selalu tersungging di bibir merah muda pucat. Dan sepasang kelereng mata yang tak hentinya memperhatikan dirinya.

Ketika Yamanbagiri melakukan aktivitas di dalam maupun di luar rumah, dia akan diam-diam mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Mencari sosok tinggi berpakaian hitam yang dia sadari akan selalu menemaninya. Kadang dua orang, kadang juga hanya satu orang.

Namun ketika mata Yamanbagiri tepat memandang ke arah mereka yang melihatnya dari kejauhan, sebuah senyum akan diarahkan kepadanya, sebelum langkah kaki mereka berbalik meninggalkannya sendirian. Seperti tidak pernah terjadi apapun.

Mereka ada dimana-mana.

Hanya itu yang diketahui Yamanbagiri kecil.

.

.

.

.

.

.

.

Suara kecipak air terdengar dari arah kamar mandi yang pintunya setengah terbuka. Cahaya berwarna kuning lembut menerangi ruangan itu. Lalu tawa kecil akan menyambut setelahnya. Jika kita melihat ke dalam, sosok anak berusia lima tahun kini sedang berendam di dalam bath-up yang terisi air hanya sampai separuhnya saja. Busa-busa putih bergumpal di atas air. Lalu tangan kecil itu akan mendarat di atasnya, menepuk-nepuk busa itu untuk membentuk sebuah kapal laut.

Suara tawa yang menggemaskan kembali terdengar. Yamanbagiri kecil begitu menikmati mandi busa yang hanya bisa dia lakukan di sore hari, atas permintaan manisnya kepada sang Tou-san. Dia tidak mau melewatkan saat-saat mandi busanya yang menyenangkan.

Klak...

Sebuah suara benda jatuh terdengar dari arah kamar tidurnya. Yamanbagiri menatap ke arah pintu kamar mandi yang terbuka separuh itu. Mata hijau besarnya mengerejap pelan. Dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamarnya yang mulai dilingkupi kegelapan sore itu.

Sebuah ketakutan menyergap si kecil.

"S-siapa?" tanyanya dengan suara kecil.

Mata Yamanbagiri masih mengawasi situasi di dalam kamarnya yang semakin gelap. Tangannya yang masih basah lalu bergerak mencari salah satu boneka kayu yang dia letakkan di pinggiran bath-up.

Tangan si kecil bergetar pelan ketika hendak menggapai salah satu boneka kayunya. Menyebabkan boneka kecil yang hanya seukuran genggaman tangan orang dewasa itu jatuh ke lantai marmer berwarna putih dengan suara pelan.

Tuk...wrrr...

Suara boneka kayu yang menggulir bisa terdengar di kamar mandi yang lumayan luas itu. Setelahnya boneka kayu itu membentur pintu kamar mandi. Berhenti tepat di tengah-tengah pintu masuk.

"KASHUU!"

Yamanbagiri menatap kaget pada boneka kayunya yang terjatuh dan bergulir cukup jauh darinya. Sosok kecil anak berusia lima tahun itu lalu mencoba untuk keluar dari pinggiran bath-upnya yang lumayan tinggi. Kedua tangan kecilnya menahan di pinggiran bath-up dengan kaki kirinya yang hendak memanjat turun.

Namun akibat pinggiran bath-up yang lumayan licin, tangan kecil Yamanbagiri tergelincir. Tubuh kecilnya bersiap untuk terjungkal ke depan, dengan kepalanya yang mengarah ke bawah terlebih dahulu.

"Whoops!"

Sepasang lengan langsung menangkap tubuh Yamanbagiri. Lalu membawa tubuh kecil yang masih basah itu ke dalam dekapannya. Tubuh kecil yang masih penuh dengan sisa air dan busa itu membasahi pakaian hitam yang dikenakan sosok itu.

"Hampir saja~," orang itu mengeluarkan desah nafas lega. Sementara Yamanbagiri kecil, yang jantungnya masih berdegup kencang itu, hanya bisa melingkarkan tangannya di leher seseorang dengan surai hitam legam berkuncir yang diarahkan ke bahu kanannya.

Sebuah kain lembut lalu disampirkan ke punggung kecilnya. Suara ketukan sepatu lalu mengarah keluar dari kamar mandi, dengan sebelumnya membungkuk di depan pintu kamar mandi. Yamanbagiri lalu merasakan cahaya yang lebih terang memasuki retina matanya. Entah sejak kapan lampu di kamarnya sudah dihidupkan.

Sosok bersurai hitam legam itu lalu mendudukkan Yamanbagiri di atas tempat tidur yang empuk. Sepasang mata hijau Yamanbagiri hanya bisa menatap dengan polos dan penuh rasa penasaran. Sosok itu lalu mengulas senyum lebar, membuat sepasang mata merah itu menyipit.

"Anda harus lebih berhati-hati lagi," kata sosok itu, kedua tangannya lalu bergerak mengeringkan tubuh kecil Yamanbagiri yang hanya bisa mengayunkan kedua kakinya dari pinggiran tempat tidur.

"Ah, anda tadi menjatuhkan ini, kan," suara sosok itu kembali terdengar. Salah satu tangannya lalu menyodorkan sebuah boneka kayu yang Yamanbagiri kenali. Yamanbagiri menerimanya dengan kedua tangannya.

Pandangan matanya kembali mengarah pada sosok berpakaian hitam dan berkulit pucat di depannya.

Klik...

Suara slot pintu yang terkait pada tempatnya memenuhi keheningan kamar tidur Yamanbagiri. Si kecil lalu menelengkan kepalanya ke arah pintu yang tepat berada di balik sosok berpakaian hitam tersebut. Menatap dengan penasaran, sebelum sepasang telapak tangan mengalihkan pandangan matanya pada sepasang merah yang tepat berada di depannya.

"Itu hanya perasaan anda saja," lalu sebuah senyum disunggingkan.

Kepala Yamanbagiri hanya bisa mengangguk mengerti.

.

.

.

.

.

.

.

Sosok bersurai hitam yang barusan menutup pintu kini membalik tubuhnya. Langkah kakinya berjalan dengan konstan menjauhi ruangan yang baru saja dia bersihkan. Pakaian hitamnya membuatnya seakan menyatu dengan lorong rumah yang gelap.

Sepasang biru tua menatap dengan pandangan dingin ke depan. Di tangan sebelah kanannya terjinjing sebuah tas besar berwarna hitam. Tas yang benar-benar besar.

Sangat mengherankan ketika tubuh yang lumayan kecil itu bisa mengangkat tas yang mungkin dua kali lebih besar dari tubuhnya. Sementara di tangan kirinya, terggenggam sebuah katana lengkap dengan sarungnya.

Sosok berpakaian hitam itu lalu menghilang di balik belokan lorong.

.

.

.

.

.

.

.

Yamanbagiri tiduran dengan posisi menelungkup di atas karpet berludru berwarna abu-abu di ruang santai rumah mereka. Di depannya sebuah buku gambar besar terbuka dengan berbagai crayon warna-warni berserakan di sekitar tubuh si kecil.

Cahaya dari tiga jendela besar di belakangnya menerangi ruangan tempat dimana dia biasanya bermain dengan Tou-san, terlihat dari rak-rak penuh buku cerita bergambar dan kotak-kotak besar berisi mainannya. Namun kali ini, si kecil bersurai pirang memilih menggambar sebagai aktivitasnya siang ini.

Tangan kecilnya melepas crayon berwarna biru tua yang ada di tangan kanannya, yang baru saja dia gunakan untuk menggambar pakaian yang dikenakan sosok figur anak-anak di dalam gambarannya. Tangannya bergerak secara acak, meraba-raba bagian kanan tubuhnya untuk menemukan warna crayon yang cocok.

Tangan kecilnya lalu menyentuh sesuatu. Dengan cekatan, lalu dibawanya benda itu ke depan wajahnya. Salah satu boneka kayu miliknya.

Eh.

Dia sama sekali tidak ingat telah membawa boneka kayu yang ini ke lantai bawah.

"Tsurumaru,"

"Odoroitaka?"

Sebuah tangan pucat yang menggenggam sebuah crayon berwarna kuning terulur di depan wajahnya. Yamanbagiri mengangkat pandangannya ke arah sosok yang duduk bersila di depannya. Mata hijaunya langsung bersirobok dengan sepasang citrine yang bergitu terang ketika cahaya matahari menimpa iris matanya. Membuat kuning itu terasa seperti mengeluarkan sinarnya sendiri.

"Ohh...apakah anda menggambar yang lainnya juga?" sosok itu lalu merendahkan tubuhnya. Membuat posisi tubuhnya menyamai Yamanbagiri saat ini, tiduran dengan posisi tertelungkup di atas karpet beludru.

Sosok dengan surai putih yang helaiannya jatuh menyentuh hingga ke bahu itu menopang dagu dengan salah satu tangannya. Sepasang matanya menatap Yamanbagiri penuh ekspektasi. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh si kecil yang masih berusia lima tahun. Sementara tangannya yang lain memainkan crayon berwarna kuning dengan jemari pucatnya.

Yamanbagiri mengerejap. Kedua tangan mungilnya lalu menyorongkan buku gambarnya ke depan si sosok bersurai putih. Sementara sosok yang tadinya diam menunggu itu kini menampakkan raut terkejut yang mungkin hanya bertahan sepersekian detik saja, sebelum digantikan oleh kerlingan jahil di kedua matanya.

"Ah, saya tidak terlalu mahir menggambar,..." raut yang semula menampakkan senyum itu memasang wajah sedih. Kedua matanya yang semula bersinar kini meredup dan beralih dari pandangan Yamanbagiri. Malu untuk menatap si kecil.

Yamanbagiri menatap raut sedih yang terpancar dari sosok dengan pakaian hitamnya tersebut. Hatinya yang polos dan suci itu tergugah. Dia tidak suka jika harus melihat orang-orang yang ada di rumahnya bersedih. Walaupun itu adalah sosok dengan pakaian hitam semi-formal yang sudah terbiasa berlalu-lalang di rumahnya tersebut.

Raut sedih sangat tidak cocok dengan wajah tampannya—dan aura bersahabatnya, tentu.

Si mungil yang masih berusia lima tahun itu lalu bangkit untuk berdiri. Dengan tertatih akibat terlalu lama tiduran di lantai, Yamanbagiri lalu menghampiri sosok yang masih tidak mau menatapnya itu. Kedua lututnya menekuk di samping tubuh atas sosok yang jauh lebih tinggi darinya. Kedua lengannya lalu terangkat dan melingkari leher yang kini sejajar dengan pangkuannya.

"J-jangan bersedih...aku akan mengajarimu menggambar," diucapkan dengan suara tegas, namun tutur kata si kecil masih tersendat—khas lidah mudanya.

Sepasang citrine melebar ketika merasakan lengan kecil dan rapuh itu melingkari lehernya. Sebelum mengusap surai putih di puncak kepalanya dengan lembut. Anak kecil yang masih polos dan suci. Dengan kebaikan hatinya. Dan tubuhnya yang masih memiliki suhu hangat.

Sebuah tawa kecil meluncur keluar dari bibir merah muda yang sudah lama pucat. Bahunya bergetar akibat tawa yang sebenarnya tertahan, sebelah tangannya lalu berbalik melingkari tubuh kecil yang masih memeluk lehernya. Membawanya ke dalam dekapannya. Membuat mereka berdua sama-sama tiduran di lantai berkarpet dengan posisi saling berhadapan.

"Ini baru yang namanya kejutan," bisiknya kemudian.

Sedangkan Yamanbagiri hanya mampu mengerejapkan matanya tak mengerti.

Kejutan?

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

.

.

Uwooohhh...kutukan /?/ macam apa ini? Kayanya satu chap gak bakalan bisa menampung 4 chara lagi, kkk...melihat panjangnya narasi dan suasana horor yang kepengen lebih saya tunjukkan.

Btw, saya bingung ini antara manbaharem atau bukan, karena well...manba masih underage, masih balita lagi! Saya kan gak tega!

Tapi saya suka chibi! Manba! WHY? KARENA POLOS SEKALI!/dicyduk pak RT/

Ehem, oke, kali ini serius—kenapa saya pilih manba masih polos unyu unyu umur lima tahun? Reader-san pasti paham banget kan kalau anak kecil itu kadang percaya sama siapa aja, apalagi sama orang yang sudah melekat dengan lingkungan mereka, pasti mereka gak bakal bisa gak sosialisasi sama mereka, kan.

Kalau saya milih manba usia di atas 18 tahun, yakin deh ini fic bakal jadi horor-slight-mesum/PLAKK/ muehehehe...dan saya jujur gak berani ngepost R-18 di sini...entah kenapa...mungkin karena imej/DORR/

Saya ingin berterimakasih pada sosok/plak/ maksud saya para reader-san yang sudah bersedia review, fave, follow di FF yang sebenernya kepengen saya post dari kapan jaman...tentunya dengan banyak perubahan karakter dan plot sih...tapi overall sebenernya sama aja, hehe

Review masih saya tunggu, reader-san~...terimakasih atas kunjungannya~

Salam,

ym