Sebelum kita mulai chapter 2 nya, aku mau ngebales review mereka yang ga punya acc Fanfiction yap~ Bagi yang punya, udah aku reply lewat PM, ufufu~

DesyNAP : Makasih atas sarannya! Sudah ditampung dikotak saran ok, hehe XD

Chery : Makasih atas pujiannya hehe xD sarannya udah ditampung yaa~

Syahfira Angel : Wah boleh tuh, tapi ceweknya gaada keturunan Barat kayaknya. Ini aku lagi usahakan agar bisa update kilat kok. Sarannya juga sudah ditampung ya~ (o w o)

Guren kaname : Hai! Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mereview cerita yang garing ini. Daripada hanya sekedar komentar, bukankah lebih baik untuk memberikan saran juga? Hehe, makasih ya~ /o

Mizuki Kanzaki : Dia hanyalah manusia biasa yang... ah nanti kalo dibocorin ga seru (?) Bakalan kejawab kok! Liat aja nanti ya~

Fajrin : Sebenernya dia malu kayak gitu, tapi ada alasan tertentu yang akan dijelaskan nanti hehe~ Makasih atas sarannya!

Tika Putri : Iya hehe, maaf ya kalau chapter yang ini kurang memuaskan~ Ciao!

Louise desuyo : Mungkin ketemu karena jodoh yaa (?) Hime? Hime itu penname ku tapi (u w u) Tapi boleh lah! Story ini memang based dari lagu itu kok, www. Makasih atas sarannya!

Fyuh akhirnya selesai juga, kebanyakan pada nggak punya acc Fanfiction sih ya jadinya gitu deh (?). Okelah gausah basa-basi, kita mulai aja chapter keduanya. Yoosh~! San, ni.. Ichi!


Beat in Angel by tsungumi

Genre : Romance, Humor (gagal), sisanya silahkan temukan/cari sendiri *kali ini dilemparin bunga bangkai*

Rated : T

Length : Chaptered

Disclaimer : Boboiboy belongs to corerAuthorcoret Animonsta. Semua yang ada disini termasuk alur cerita, chara (OC), adalah milik Author. Jika ada kesamaan nama, tempat atau alur semuanya adalah ketidaksengajaan.

Warning : Typo mungkin akan terdeteksi, alur nggak nyambung atau alur maju-mundur, humor gagal atau bahkan lupa ngasih humor. *dikeroyokin*

P.S : This story is inspired from a song with the same title Beat in Angel sung by Maki Nishikino (CV: Pile) and Rin Hoshizora (CV: Iida Riho) from LoveLive! School Idol Project.


[Chapter 2]

Day 20

Yaya

Bip, bip. Bip, bip. Bip, bi-belum sempat suara itu selesai, tanganku sudah keburu menekan tombol off yang tertera dialarmku yang berwarna kemerahan. Jemariku menggenggam jam digital itu dan mengarahkannya kewajahku.

Pukul lima.. huh?

Seperti biasa, aku bangun pada pukul lima. Dengan cepat, aku terbangun dari posisiku dan merapikan tempat tidur. Setelah rapi, aku melesat kekamar mandi dan memakai baju.

Loh? Kaus kakiku mana?

Langsung saja aku mengubek-ubek lemari hanya untuk kaus kaki. Aneh, tak seperti biasanya kaus kakiku bersembunyi dipojok lemari, aku langsung mengambilnya.

KETEMU!

Waktu menunjukkan pukul enam, tak terasa aku sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari kaus kaki. Tanganku meraih tas dan tak lupa merapikan kerudungku yang agak miring lalu melesat menuruni tangga.

Dibawah, keadaan rumah teramat sepi. Tidak ada siapa-siapa. Diruang tengah, kamar orangtuaku, dan dapur juga tidak ada tanda-tanda kehidupan. Yang aku lihat hanyalah secarik kertas yang tertempel dikulkas dua pintu yang terletak didapur. Aku langsung mengambil dan membacanya.

Pergi ada urusan dan akan pulang telat.

Sarapan sudah siap dimeja dan untuk makan malam panaskan sup sisa semalam.

Aku menghela nafas, kualihkan pandanganku ke meja makan. Ada segelas susu putih dan piring berisi roti bakar dengan isi berbagai selai. Ada juga yang isi gula. Terlihat simpel, memang. Tapi aku tak peduli, segera aku meneguk segelas susu hangat tersebut hingga habis dan mengambil beberapa roti dari meja. Kemudian melesat kedepan pintu.

"Yaya berangkat!"

Kebiasaan? Ya. Aku terbiasa mengatakan itu setiap berangkat kemanapun. Meski dirumah tidak ada orang.

Sembari berjalan diatas trotoar, aku mengunyah roti bakarku. Didepan dan dibelakang ku sudah penuh dengan murid-murid yang tujuannya sama, SMA Pulau Rintis. Kelas X, XI, dan XII terlihat memenuhi trotoar. Tidak terlalu penuh sih, tapi yah begitulah.

Tuh kan malah jadi ngomongin trotoar. Author sih. (Author: kok gua!? :'v)

"Pagi, Yaya!" Sapa salah seorang siswi yang berada satu klub denganku.

"Oh, hai!" Aku menyunggingkan senyum yang semanis-manisnya, agar semua orang bisa merasakan kebahagiaan dipagi hari yang cerah ini. (Author: Heleh.)

"Nanti sore latihan seperti biasa kan?"

"Iya! Jangan lupa ya, jam tiga sore!"

Setelah siswi itu pergi lebih dulu, aku menghabiskan roti terakhirku sambil terus berjalan diantara murid-murid yang berlalu-lalang. Menikmati pemandangan serta angin sepoi-sepoi pagi yang sejuk.

"KOOORRAAAA!1" (1)

Teriakan kencang menusuk gendang telingaku—tidak, menusuk semua gendang telinga orang-orang yang tengah melewati jalan ini. Tak lama setelah teriakan itu, seorang pemuda berlari amat kencang melewati trotoar seperti dikejar sesuatu. Ia berlari amat cepat melewatiku dan murid-murid lain, disusul dengan seorang gadis yang ikut berlari mengejarnya.

Kelihatannya.. Gadis itu-lah yang berteriak barusan.

"MAU LARI KEMANA KAMU!? JANGAN KABUR!"

Tepat sesuai dugaanku, gadis itu adalah si ketua OSIS bernama Cylinder (jangan tanya kenapa namanya kayak nama bangun ruang, semua ide ini muncul karena Author abis memandangi kaleng yang bentuknya silinder) atau kerap dikenal dengan panggilan Cyline atau Cyl. Dan pemuda yang dikejarnya tadi adalah Boboiboy, yang ia anggap sebagai kekasihnya.

Murid-murid yang melihat kejadian itu ada yang berbisik-bisik satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan, pastinya mengenai kedua 'sejoli' tersebut.

"Semakin lama mereka semakin serasi saja ya.." Ujar salah satu gadis yang berdiri tak jauh dari posisiku.

"Padahal aku sudah menyukai Boboiboy sejak lama.." Tambah seorang gadis yang berada disebelahnya.

Aku memutar bola mataku. Apanya yang serasi.. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

Kulihat Boboiboy berbelok memasuki gerbang sekolah dalam keadaan masih berlari, begitu pula dengan Cyline. Keduanya menjadi tontonan bagi para murid yang tengah berjalan disana. Aku sendiri sudah merasa agak terbiasa dengan tingkah keduanya yang seperti kucing dan tikus.

Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah bagaikan ritual mereka ketika berangkat sekolah ataupun pulang sekolah. Hampir setiap hari mereka seperti itu. Aku tidak tahu kenapa mereka berdua kejar-kejaran seperti kucing dan anjing. Tak percaya? Lihat saja nanti saat pulang sekolah. Aku berani jamin kalau mereka akan melakukan hal yang sama.


KRIIING TRATAKDUNGCES BUMBUM Entahlah pokoknya itu bunyi bel, terdengar nyaring diseluruh penjuru sekolah. Membuat para murid yang tadinya bosan, putus asa, dan mati gaya langsung terlonjak girang. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang melemparkan buku Fisika (khusus untuk dikelasku), kudengar dikelas sebelah bahkan sampai melemparkan papan tulis. Ada juga yang melempar gurunya keluar kelas. (oke untuk yang ini aku bercanda.)

Mendengar bel, aku berdiri dari posisiku dan membuka mulut. "Berdiri! Beri salam!"

Seisi kelas begitu menyadari komandoku, langsung ikut berdiri dan berteriak. "Terima kasih cikgu!"

Setelah menjawab salam dari kami, guru keluar dari kelas. Murid-murid langsung sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kebanyakan diantara mereka adalah merapikan buku, ada juga yang ngegosip dulu, ada pula yang langsung kabur keluar kelas. Aku? Sama seperti murid pada umumnya, merapikan buku terlebih dahulu.

Aku yang sedang merapikan buku, sesekali melirik ketempat duduk pemuda yang berada dibelakangku. Ia terlihat terburu-buru, seperti biasa. Tak lama, suara resleting ransel miliknya terdengar, menandakan bahwa ia sudah selesai merapikan bukunya.

"Maaf Gopal! Aku pulang duluan ya! Maaf tak bisa pulang bersama lagi hari ini!" Ujar pemuda bertopi dinosaurus bernama Boboiboy itu. Wajahnya terlihat merasa bersalah pada teman yang duduk disebelahnya itu. Ia pun langsung melesat keluar kelas dan berjalan kearah kiri, tempat dimana kelas XI-A berasal.

"Apelah Boboiboy tu. Sejak kejadian itu, ia mendadak melupakan kita." Gopal hanya berdecak kesal.

Aku yang melihat kejadian tersebut hanya bisa menutup mulut. Aku yakin kalau Boboiboy tak bermaksud atau bahkan sebenarnya tak ingin melupakan kita semua. Aku sangat yakin kalau Cyline tidak bertingkah seperti itu, Boboiboy juga tak akan seperti ini.

Tapi aku bingung satu hal. Kalau Boboiboy tak menyukai Cyline, kenapa ia tak pernah terlihat mengelak dari tingkahnya? Kenapa ia diam saja?

Apakah ia juga sudah menganggap Cyline sebagai pacarnya...

secara tidak sadar?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menepis semua pikiran negatif yang menghantui otakku. Terkadang aku sendiri bingung kenapa aku selalu saja memikirkan kehidupan orang lain, padahal kehidupanku saja belum tentu sudah benar.

"Ey, Yaya. Kau mau pulang bersama atau tidak?" Gopal, si pemuda bertubuh besar itu membuyarkan lamunanku. Lagi-lagi kugelengkan kepalaku dengan cepat.

"Tidak perlu. Aku masih ada hal yang mesti diurus."

"Okelah, aku duluan ya, Yaya!" Ia melambaikan tangannya padaku dan melesat keluar kelas. Sebagai jawaban, aku juga melambaikan tanganku padanya. Begitu figurnya sudah menghilang, kuturunkan tanganku dan menghela nafas panjang.

Selesai merapikan buku, aku berjalan keluar kelas dengan langkah santai. Kualihkan pandanganku kearah kanan; tepat dimana kelas XI-A berada. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Itu berarti Boboiboy dan Cyl sudah pulang. Aku kembali melanjutkan langkahku dan menuruni tangga. Tak butuh waktu lama bagiku untuk keluar dari bangunan sekolah.

Ditrotoar yang sudah sepi, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Langit tidak terlalu cerah dan tak mendung pula, suasananya sejuk. Jarang cuaca seperti ini terjadi dimusim yang tak jelas sekarang ini.

Kedamaianku terganggu oleh suara seorang pemuda berteriak dari lapangan sekolah. Aku memang berjalan agak lambat, jadi aku masih berada disekitar sekolah yang cukup luas itu.

Dari belakangku, terlihat seorang gadis melesat begitu cepat daro arah sekolah. Tangan kanannya seperti menggenggam sesuatu. Aku berusaha memperhatikannya baik-baik.

Loh, itu Jam Kuasa kan? Warnanya oranye? Milik Boboiboy!?

"CYLINE! KEMBALIKAN!"

Suara itu terdengar lagi, kali ini seorang pemuda berlari dari arah sekolah melesat melewatiku. Mengejar gadis yang sudah lebih dulu kabur darinya.

Sudah kuduga, itu suara sang pemilik Jam Kuasa yang dibawa kabur oleh Cyline, alias Boboiboy. Ia masih terus saja mengejar Cyline yang tertawa cekikikan.

"Ambil sini kalau berani!"

"Cylinder! Aku minta kau kembalikan Jam itu!"

"Tidak akan, week!" Seraya mengedipkan sebelah matanya, ia menjulurkan lidah sambil terus berlari. Kepalanya menghadap belakang, berusaha untuk terus meledek pemuda itu. Kalau saja ia tertabrak sesuatu, semuanya selesai sudah.

Lihat? Tepat seperti yang kubilang, mereka kejar-kejaran lagi. Bedanya kali ini Boboiboy yang mengejar Cyline. Aku rasa juga baru hari ini mereka bertukar posisi seperti itu.

JDUANG! Sebuah suara tak mengenakkan terdengar dari arah Cyline. Lagi-lagi aku benar, gadis itu terlalu ceroboh tak memperhatikan depannya hingga akhirnya kepalanya terbentur tiang listrik.

"Baru saja kubilang tadi.." Aku yang tengah memperhatikan kejadian itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Cyl! Kau tidak apa-apa?" Kulihat Boboiboy langsung menghampiri Cyline yang sempoyongan. Ia berjongkok didepan gadis tersebut.

Tak mau menonton kejadian setelahnya, aku berbalik dan memutuskan untuk melewati jalan lain untuk pulang kerumah. Entah bagaimana dan kenapa tapi kakiku bergerak sendiri, seakan-akan tak terima dengan kejadian barusan.

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku merasa sedikit kesal melihat Boboiboy dan Cyline dari hari kehari semakin dekat. Boboiboy pun terlihat tidak keberatan dengan tingkah Cylinder yang bisa membuat orang naik darah. Reaksinya biasa saja, hanya menanggapi dengan santai atau bahkan dengan keisengannya itu. Padahal aku mengharapkan adanya perlawanan dari pemuda bertopi dinosaurus tersebut.

Tidak! Aku tidak cemburu!

Hanya merasa kesal saja!

Kurasa..

[To be continued.]


Cat:

(1) Kora: bahasa Jepang, artinya 'Hey', agak kasar memang.

FINALLY! Kali ini kita pakai sudut pandang Yaya, loh ya. Jadi jangan bingung hehe xD

Maaf kalo chapter ini ga sebagus chapter sebelumnya, aku aja ngetiknya ditab dan dalam keadaan ngantuk. Akhirnya semua yang ada dikepala langsung ditulis aja deh.

Hayolo.. Yaya cemburu? Waduh masalahnya nambah dah. /HEH

Chapter berikutnya bakal pake sudut pandang Boboiboy dan Cyline! (Akhirnya pake nama Cylinder buat ngenamain OC nya). Makasih buat kalian yang udah ngasih saran yaa. Makasih banget loh xD

Seperti biasa, ada saran atau kritik untuk chapter ini?