Outro : I'll Give it To You

.

,

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

.

.

Vkook / Taekook

M

.

.

"Jadi pacarku? Dan tinggalkan kekasihmu. Jeon Jungkook?"

"Jadi pacarku? Dan tinggalkan kekasihmu. Jeon Jungkook?"

Butuh waktu sekitar beberapa detik hingga yang terjadi selanjutnya adalah tamparan pada pipi kanan Taehyung.

Gotcha.

Tepat pada titik lebam.

Di titik yang sama, rasa sakit yang sama dan oleh orang yang sama – jika ini takdir mungkin Taehyung mau mensyukurinya karena yang menamparnya adalah pria secantik Jungkook. "Bangsat !" Wajah Jungkook benar-benar memerah, bukan-bukan karena malu. Dia marah, sangat marah. Tubuh yang begitu ia jaga, yang akan ia berikan pada suaminya kelak – mungkin Gyeomie, sudah di babat habis oleh Kim keparat Taehyung. Di hari kedua mereka saling kenal.

Hari kedua. Tolong di garis merah. Bahkan Jungkook yang sudah berpacaran satu tahun dengan Yugyeom sama sekali belum mau memberikan tubuhnya pada pria itu, hingga Yugyeom meminta penuh air mata padanya, Jungkook akan menolaknya tegas. Amat sangat tegas hingga Jeon Jungkook rasanya ingin menendang selangkangan Yugyeom.

Mereka hanya berciuman, tak lebih, meski Jungkook berada di pangkuan Yugyeom dengan Yugyeom meremas pantatnya, Jungkook tak akan lupa pada kesuciannya yang ia jaga. Ia hanya ingin nantinya, ia memberikan tubuh seutuhnya, pada sosok yang benar-benar terpilih untuknya, sosok yang akan membawanya ke altar dengan janji suci dan ikatan yang suci pula.

Tapi, holy shiiittt dengan Kim Taehyung. Pria brengsek itu merenggut semua harapannya.

Gugur sudah, bagaikan daun kering tersapu angin, terbang melayang jauh, jatuh ke permukaan sungai, hanyut, dan tak akan kembali pada tangkai pohon.

Semua hilang, rasa percaya diri, harga diri dan kebanggan dirinya hancur sudah.

Maka yang dapat ia lakukan hanyalah meneteskan air mata, dengan menatap Taehyung dalam, penuh dengan kebencian dan kebencian. Semua kebencian yang ia miliki akan ia berikan pada Taehyung.

"J-jungkook?" Taehyung gugup, saat air mata itu menetes, dadanya berdegup dengan kencang. Ini berbeda. Berbeda dari air mata yang ia lihat semalam, air mata semalam memang air mata sama hancurnya seperti saat ini, namun semalam adalah air mata penuh gairah, penuh rasa nikmat, bukan, bukan seperti ini, air mata Jungkook penuh penyesalan, penuh rasa sakit dan penuh kebencian. Bukan air mata ini yang Taehyung sukai. Sumpah yang ia sebut semalam, saat melihat air mata Jungkook, saat ia menyukai air mata Jungkook kini berubah. Ia, ia, membenci air mata itu, ia membenci air mata saat mata Jungkook menyiratkan menjilat bibirnya, menunduk, kini tak berani menatap Jungkook.

"Kau memperkosaku Taehyung." Tapi detik selanjutnya Taehyung membeo, mengangkat wajahnya dan menatap Jungkook dengan wajah blanknya.

Memperkosa katanya?

Isakan Jungkook masih terdengar jelas, tapi untuk saat ini persetan dengan tangisan Jungkook. Harga diri Taehyung di lukai ! Memperkosa katanya? Taehyung tersenyum miring – tetapi meringis dalam hati, maaf, tapi begitu banyak wanita dan pria yang ingin ditiduri Taehyung , mungkin jika di kumpulkan akan dapat di jadikan sebuah fandom, memperkosa? Lelaki cantik yang tengah menangis itu benar-benar mabuk.

"Woah Jungkook-ssi." Taehyung mengucapkannya penuh tekanan "Tapi bukan aku yang memulai. Kau yang menciumku penuh nafsu terlebih dahulu." Taehyung mengucapkannya penuh percaya diri, namun tetap berusaha tenang. Tidak, Taehyung tidak akan melukai lelaki secantik Jeon Jungkook yang tengah membolakan matanya saat ini. "Jangan menuduhku Jungkook-ssi. Aku tau kau mabuk berat, aku bahkan menghentikanmu tapi kau duluan yang meremas juniorku!"

Plak !

Jungkook memang ahli dengan tangan kanannya. Jungkook sangat ahli membuat pipi kiri pria yang bernama Kim Taehyung yang sudah lebam tambah kesakitan. Dan Jungkook begitu ahli di ranjang – astaga Taehyung tak bisa melupakan yang satu itu, apalagi saat Jungkook menggoyangkan pantat di depannya – sudah, suasana sedang panas, Taehyung tak boleh bertambah panas, atau Jungkook yang tengah telanjang itu akan kembali di lahapnya.

Telapak tangan Jungkook memerah, tentu, karena ia menampar Taehyung dengan keras – lagi. Namun, tamparan itu memiliki sebuah cahaya untuknya, tiba-tiba sekelebat bayangan kembali hadir dalam ingatannya.

Jungkook, menenggak tequilla dengan rakusnya, dan tiba-tiba tangan Taehyung yang menyentuh dagunya, lalu Jungkook yang menarik Taehyung ke dalam ciuman rakusnya. Taehyung yang menghentikannya, lalu Jungkook yang meremas kejantanan Taehyung. Taehyung yang menggendongnya – sudah, sudah cukup. Sudah cukup.

Jungkook menelan ludahnya gugup saat menatap Taehyung yang hanya diam mengelus pipinya. Jadi semua adalah kesalahannya? Ia yang membangunkan singa dari dalam tubuh Kim Taehyung? Ia yang mengawalinya? Demi Tuhan, ia mabuk, dan ia baru menyadari, bahwa mabuknya Jungkook begitu menyeramkan. Atau Jungkook yang kurang sentuhan? Gila.

"Aku mau pulang !" Ketusnya.

Karena yang tetap bersalah adalah Kim Taehyung. Jika Kim Taehyung tidak menyentuh dagunya, Jungkook tak akan mencium Kim Taehyung. Semua tetap salah Kim Taehyung.

.

.

"Kuantar pulang."

"Tidak perlu!"

"Kuantar."

"Diam keparat!" Taehyung menghela nafas lalu mengusak rambut ungunya ke belakang. Mengikuti Jungkook dari belakang yang berjalan dengan tergesa dan langkah lebar. Jungkook marah besar padanya. Setelah Jungkook mengatakan ingin pulang, lelaki itu segera memungut pakaiannya yang berserakan bahkan kesulitan mencari celana. Karena semalam baik Jungkook dan Taehyung membabi buta saat melepas pakaian mereka. "Kenapa di tutup?" Jungkook bertanya tanpa berbalik.

"Club di tutup di siang hari. Belok kanan. Kita keluar lewat pintu utama hotel." Taehyung mengucapkannya dengan malas, terus mengikuti Jungkook yang tanpa sepatah kata kembali melangkah. "Jangan cepat-cepat Jungkook. Seperti ada gempa saja."

"Berisik!"

"Kuantar. Sebentar lagi mobilku sampai." Jungkook diam tak menggubris apa yang Taehyung katakan. Matanya terus mencari keberadaan taxi. Kembali menoleh ke arah pintu masuk. Ternyata itu adalah hotel yang memiliki club yang hanya buka tengah malam. Daebak. Jungkook baru tahu, hotel dan club malamnya sama-sama mewah. Pantas saja ia tertidur dengan nyenyak.

"Itu-" Taehyung terdiam saat ponsel di saku kanannya bergetar. Setelah melihat layar ponselnya dengan diam, Taehyung menyimpannya kembali pada saku celana. "Kau bisa pulang Jungkook, sendiri." Taehyung melongokkan kepala ke dalam mobil. "Antar dia Ahjussi. Dengan selamat." Lalu Taehyung kembali menegakkan badan, menatap Jungkook sebentar lalu tersenyum miring namun terkesan datar "Sampai jumpa lagi manis. Semoga ada malam selanjutnya." Taehyung mengedipkan sebelah matanya lalu berbalik pergi.

"Bangsat." Erang Jungkook.

"Tuan? Mari pulang." Tiba-tiba ada pria tua di depannya yang sudah membukakan pintu mobil dan dengan senyuman secerah mentari pagi. Dan dalam perjalanan pulang, Jungkook sempat memikirkan bagaimana perubahan raut wajah Taehyung dan tiba-tiba pria itu mengizinkannya pulang sendiri setelah terus meminta mengantarnya.

.

.

.

Jungkook berjalan menuju lantai lobby, setelah mengucapkan terimakasih kepada supir Taehyung. Wajahnya tertekuk lesu, mungkin ia akan kembali menangis nanti di kamar. Ah tak hanya menangis, Jungkook akan menyusun rencana untuk membunuh si sialan Kim Taehyung itu. Sialan saja, Taehyung tak meminta maaf padanya dan membiarkannya pulang diantar- eh tidak, yang kedua itu tiba-tiba saja terlintas di pikiran. Tangannya terpaut, meremas jemari kirinya dengan lemas. Lalu tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang pria, lengkap dengan mantel cokelat, kacamata bingkai berwarna hitam dan segelas cup kopi dalam tangan kirinya.

Sejenak Jungkook termenung dan mematung di tempatnya. Tak jauh beda dengan pria yang berjarak 100 meter di depannya. Namun di detik selanjutnya pria itu berjalan, seolah tak ada sesuatu terjadi, wajahnya berangsur normal, bahkan tak memandang Jungkook lagi.

Jungkook terus terdiam di tempatnya, menunduk dengan bisu dan saat pria itu tepat di sampingnya Jungkook tersenyum masih dengan menunduk. "Pagi Hyung." Lirihnya. Namun terdengar jelas di pria itu, terlihat ia menghentikkan sedetik langkahnya, namun kembali tak acuh. Jungkook tersenyum miris lalu kembali melangkah.

.

.

.

"Kau kenapa?" Seokjin memperhatikan penampilan Jungkook dari atas sampai bawah. Terlihat lumayan berantakan bagi seorang Jeon Jungkook. "Semalam kemana Jungkookie? Kau tak mengabari Hyung." Jungkook entah kenapa hanya diam mengangguk tak acuh. "Kurasa ada yang harus di jawab disini." Dan Jungkook langsung memeluk Seokjin erat.

"Aku menyayangimu Hyung." Kening Seokjin mengkerut bingung, tapi tetap membalas dekapan Jungkook serasa mengelus punggung Jungkook dengan pelan. "Hyung kal-"

"Kau mabuk?" Seokjin segera melepas dekapannya, dengan jelas matanya menyiratkan; butuh penjelasan dari lelaki yang terus dia anggap seperti anak kecil itu. Dan hanya dijawab anggukan oleh Jungkook dengan bibir menekuk.

"Sudah ku-"

"Sekali-kali Hyung. Semalam aku dengan Bambam. Mengerjakan tugas-"

"Bambam mengatakan kau pergi." Jungkook membola, merasa geram dan lelah pada sahabat satunya itu yang tak bisa diajak kerjasama "Bersama Yugyeom Hyung. Hanya sebentar. Aku lupa memberitahumu. Maafkan aku." Lirihnya di akhir kalimat.

"Jangan di ulangi." Seokjin menghela nafas. "Mandilah. Sudah kusiapkan makanan. Aku harus berangkat kerja, hati-hati jika kau mau berangkat kuliah." Seokjin mengecup kening Jungkook, mengusak gemas rambut adik kesayangannya itu lalu berniat melangkah keluar sebelum Jungkook ternyata mencekal pergelangan tangannya.

"Dia datang ya Hyung?" Seokjin terdiam beberapa detik, menatap Jungkook dengan teduh lalu tersenyum mengangguk. "Dia menanyakanmu. Aku masih berusaha, dia akan sepenuhnya kembali padamu." Seokjin mengelus lembut lengan Jungkook, berbicara dengan tenang, seolah meyakinkan Jungkook dengan kalimatnya yang dibalas senyuman lemah oleh Jungkook.

.

.

.

"Gyeomie." Jungkook yang sengaja menghadang Yugyeom di koridor fakultas Yugyeom segera memeluk Yugyeom dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada sosok pria yang amat ia cintai itu. "Aku mencintaimu. Kau mencintaiku juga kan?" Yugyeom terbingung, mengangkat satu alisnya, melirik Bambam yang hanya mengangkat bahu.

"Aku juga mencintaimu." Yugyeom terkekeh, mengelus rambut Jungkook. "Tapi ada apa ini, tak biasanya."

Jungkook melepas pelukannya, namun tetap merangkul leher Yugyeom, tak memikirkan mereka tengah berdiri dimana, karena yang jelas hanya ada Yugyeom di dalam otaknya. Jungkook hanya tersenyum lalu menggeleng manis. "Tak ada apa-apa. Hanya ingin mengatakan aku mencintaimu. Kau akan terus bersamaku kan?" Yugyeom terkekeh lalu mengangguk.

"Aku selalu bersamamu sayang. Duh, ada apa dengan kelinci manisku ini?" Yugyeom mencubit gemas hidung kekasihnya. Merasa begitu senang karena Jungkook tidak selalu seperti ini. "Ah ya ini untukmu." Yugyeom merogoh kantong tasnya. "Aku melihatnya lalu teringat padamu, aku ke kelas dulu sayang. Akan kujemput nanti malam." Yugyeom mengecup singkat sudut bibir Jungkook, tersenyum lalu melanjutkan tujuannya untuk mengikuti kelas siang ini.

Bambam memutar malas bola matanya saat melihat binaran mata Jungkook yang tengah memandangi sekotak jam tangan merk mahal. Selalu seperti itu, mereka mengumbar kemesraan di depannya, menganggap di ruangan ini hanya ada mereka berdua dan Bambam hanya seoonggok tiang tak berguna berdiri di samping mereka. "Sudah? Ayo pulang. Dan tutup mulutmu, gigimu kering." Bambam berjalan meninggalkan Jungkook. Merasa malas dengan sahabatnya itu, tadi saja waktu memasuki kelas, mukanya amat sangat keruh bahkan tak mau berbicara dengannya, mengatakan semua salah Bambam, padahal Bambam tak tahu apa-apa. Bahkan saat Bambam menanyakan bagaiamana kemarin Jungkook dengan Kim Taehyung, Jungkook menjawabnya dengan geplakan manis pada tempurung otaknya dan mengomel bahwa Bambam tak boleh menyebut nama lelaki itu.

Dan sekarang? Lelaki itu justru tersenyum seperti orang gila.

"Ayo pulang Jeon Jungkook. Atau ku banting jam mu?"

"Banting saja, lalu setelah ini kau yang ku banting dari atap gedung fakultas." Jawab Jungkook dengan aura dingin yang sukses membuat Bambam bungkam, dan terdiam terus berjalan di samping Jungkook.

.

.

Lagi – Bambam memutar bola matanya dengan mata yang menyiratkan rasa jengah. Yugyeom dan Jungkook lagi-lagi mengumbar kemesraan di depannya. Yugyeom tiba-tiba menghampiri kelasnya dan kelas Jungkook hanya untuk mengatakan bahwa lelaki itu tak jadi mengantar Jungkook pulang karena harus latihan basket.

Bambam sudah menguap berapa kali?

Karena ia harus menunggu Jungkook mengobrol dengan kekasihnya, sementara Bambam hanya berdiri menyender pada sisi pintu. Ingin mengomel, tapi ia sedang malas mendengar teriakan amukan Jungkook. Jadi ia hanya diam.

"Ayo, Bam, pulang."

"Sudah?" Jungkook mengangguk, dan Bambam melongok kalau Yugyeom memang sudah berjalan menjauh.

"Setelah ini temani beli obat mata."

"Untuk apa?"

"Sepertinya mataku iritasi." Bambam mengucapkannya dengan datar, memainkan ujung kukunya, membiarkan Jungkook mengamati matanya dengan raut bingung. Anak itu hanya memandangnya tanpa mengucapkan apapun. Tapi memang sungguh, rasanya Bambam iritasi melihat Yugyeom dan Jungkook.

Mereka terus berjalan menuju gerbang depan. Bambam sesekali melirik Jungkook. Sedikit penasaran dengan pertanyaan yang belum Jungkook jawab beberapa hari yang lalu. "Kook." Jungkook ikut berhenti saat Bambam tiba-tiba berhenti. Mengangkat sebelah alisnya. "Ayolah katakan padaku apa, bagaimana kesanmu bersama Taehyung?"

Wajah Jungkook berubah sebal. Alisnya menekuk, bibirnya manyun dan hidungnya mengkerut. "Tak ada kesan apapun."

"Masa sih? Tak ada sama sekali?" Bambam meletakkan tangannya didagu. Berpikir sejenak. Mungkin jika Bambam yang di ajak, sesuatu besar akan terjadi. Ia tersenyum ambigu. "Bukankah ia sangat tampan?" Bambam menaik turunkan alisnya menggoda "Kalian bertukar nomor telepon?"

"Tidak." Jawab Jungkook tegas. Bertukar nomor? Selama lima hari sesudah kejadian mengejutkan itu, Taehyung sama sekali tak terlihat. Jungkook jadi merasa, itu yang sering orang bicarakan, one night stand. Keparat memang pria seperti Kim Taehyung. Jungkook benar-benar membenci bajingan itu. Ingin menuntut, tapi yang ada justru Jungkooklah yang akan di tertawakan oleh hakim. Sudah pasti. "Tidak ada. Dia lenyap. Biarkan saja. Jika kau masih menyebut namanya, kau bisa bernasib sama dengannya. Lenyap." Jungkook mendelik, berbicara dengan nada ketus yang di terima baik oleh Bambam; menelan ludah menatap kegarangan sahabatnya.

"Ahahah, ayo pulang." Bambam menggandeng tangan Jungkook dengan canggung. Masih merasa begitu ganjal. Mungkin Taehyung dan Jungkook tak berakhir dengan baik, wajar saja, kemarin itu pertemuan korban dan tersangka. Mungkin Taehyung masih tidak terima dengan perlakuan Jungkook, dan Jungkook yang keras kepala. Mungkin, itu pemikiran Bambam.

Jungkook. Moodnya rusak sudah semenjak Bambam menyebut nama sialan itu. Kilas bayangan malam itu kembali terlintas, sesekali Jungkook akan meremat tangannya. Kepalanya terus menunduk, terasa sedikit pusing kepala bagian kirinya. Kejadian itu layaknya mimpi buruk bagi Jungkook, ia bahkan menjadi tak percaya pada diri sendiri.

"Jungkook."

Suara berat itu menghentikkan langkahnya dan langkah Bambam. Saat kepalanya terangkat, terpampang jelas, di depannya, Kim Taehyung tengah bersandar pada motor besarnya dan tengah mengemut permen.

Tubuh Jungkook terasa kaku, namun kakinya melemas. Hari ini, Kim Taehyung kembali tertangkap oleh matanya. Pria yang ia benci mati-matian itu kini tengah berjalan lurus kearahnya, dengan jaket kulit berwarna hitam dan kaos putihnya, Taehyung berjalan penuh percaya diri.

Sama seperti Jungkook. Bambam pun terdiam pada tempatnya. Menganga takjub pada visual Kim Taehyung yang tak tertandingi itu. Melihat Kim Taehyung berjalan gagah ke arahnya, layaknya melihat seorang model tengah tampil pada catwalk. Kim Taehyung bukan manusia, apalagi saat rambut ungunya tersibak. Sem-pur-na.

"Kita bertemu lagi." Taehyung tersenyum, menarik permen dari mulutnya. "Bagaimana kabarmu Jeon Jungkook?"

Jungkook terdiam, melirik ke arah tangan kiri Taehyung yang terbalut perban. Lalu mencoba berani menatap tepat di mata Taehyung. "Jangan tampakkan wajah brengsekmu di depan mataku sialan." Geram Jungkook.

Taehyung terkekeh, kembali mengemut permennya. Memindahkan tangkai permen ke kiri dan ke kanan seraya mengetukkan ujung sepatu pada aspal jalanan. "Aku tetap menyukai bibirmu."

"Brengsek." Sudah cukup Jungkook menahan amarahnya. Yang terjadi adalah Jungkook meninju perut kiri Taehyung. Dengan keras. Dan sukses membuat Jungkook menganga.

Saat Taehyung meringis, meringis hingga matanya terpejam. Dan Jungkook yang menganga karena setelah yang ia lihat adalah kaos Taehyung terkena darah di letak tonjokkan tangan kanannya.

Bukankah seharusnya hanya lebam bukan justru mengeluarkan darah?

Jungkook tak percaya dengan apa yang ia lihat, juga Bambam. Mereka membola dan Taehyung yang masih meringis.

"J-jangan menganga seperti itu Jungkook." Taehyung berusaha tertawa. Melepas emutan permennya dan memasukkannya pada mulut Jungkook yang masih menganga. Dan berusaha menahan senyumnya saat Jungkook menerimanya dengan baik, menutup mulutnya.

Taehyung berjalan selangkah mendekat ke Jungkook. Tersenyum manis. "Rasa kesukaanku." Taehyung mengambil tangan Jungkook, menuntun tangan lelaki yang masih terdiam itu untuk menarik permen dari mulut Jungkook. Detik selanjutnya adalah Taehyung mengemut permen yang masih Jungkook genggam dan kembali memasukkannya ke dalam mulut Jungkook.

"Permenku bertambah manis." Taehyung tersenyum miring, lalu meringis, menunduk melihat darah masih merembes di perutnya. "Sampai Jumpa lagi, manis." Taehyung memajukkan wajah, mengecup singkat sudut bibir Jungkook lalu berjalan menjauh.

Di tempatnya, Jungkook dan Bambam masih benar-benar ngeblank.

"K-kook, apa yang terjadi?"

Jungkook menggeleng kaku.

"Dia menciummu."

"Dia berdarah."

Dua pemikiran lelaki itu berbeda namun memandang satu objek yang sama.

Taehyung berjalan menjauh menuju motor besarnya yang di sebelahnya juga berdiri pria yang menyender pada motor dengan wajah yang mulai panik namun berusaha diam.

"Dia orangnya?"

Taehyung mengangguk.

"Ayo Jim. Kurasa a-ku harus membeli per-men lagi."

.

.

.

Tubuhnya memang sedang berada di salah satu kedai eskrim yang paling dekat dengan sungai han, namun pikirannya melayang jauh pada kejadian beberapa jam lalu di depan gerbang universitas Jungkook. Seharusnya ia tak memikirkan Taehyung, sungguh membuang waktu. Tapi darah yang merembes pada kaos preman itu benar-benar mengganggu pikirannya.

Apakah tonjokkan perut dapat mengakibatkan pendarahan luar? Kalau iya, hebat sekali bogeman Jungkook.

Setelah kenyang memakan eskrim, Jungkook mengajak kekasihnya untuk berjalan di sekitar sungai han. Tangan mereka saling terpaut, sesekali Yugyeom akan mencubit gemas hidung Jungkook yang memerah karena kedinginan.

"Mau memakai jaketku?" Jungkook menggeleng, menggoyangkan tangan yang Yugyeom genggam. "Kau terlihat kedinginan sayang. Pakai saja, lalu setengah jam lagi kita pulang, bagaimana?" Tanpa menunggu jawaban Jungkook. Yugyeom melepas genggamannya lalu melepas jaketnya, memakaikannya pada tubuh Jungkook, yang terlihat jelas sedikit kebesaran pada tubuh kekasihnya, "Menggemaskan sekalii." Yugyeom memeluk gemas Jungkook yang terbaluk jaket tebalnya dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka yang saling mendekap. Sungguh menggemaskan kekasihnya ini.

"Gyeomie."

"Hm?" Yugyeom melepas pelukannya, menatap kekasihnya yang tengah mendongak agar mata mereka saling menatap.

"Aku ingin menguji sesuatu. Tapi kau mau yah? Tidak sakit kok." Yugyeom mengerutkan alis bingung. "Mau yah? Sebentar saja." Yugyeom hanya diam sementara Jungkook mundur satu langkah.

Tinju yang sama, kekuatan yang sama di layangkan tangan Jungkook pada perut kekasihnya. Ia tak memerhatikan reaksi Yugyeom yang kesakitan, fokusnya adalah apakah perut Yugyeom mengeluarkan darah. Jungkook memajukan langkah, mengelus perut kekasihnya. Tak ada darah. Bersih.

"Kok tidak berdarah?"

"Ugh, kau kenapa sayang- ugh. Perutku."

"Yu-yugyeom, apakah sakit?" Kini Jungkook baru panik, menangkup pipi kekasihnya dengan raut khawatir "Maafkan aku , aku hanya mencoba. Gyeomie…." Jungkook merengek. Yang membuat Yugyeom berhenti meringis lalu terkekeh.

"Aigoo, lucunya. Kalau begitu beri aku bayaran."

"Hah?"

Jangan di tanya apa yang terjadi saat Yugyeom memajukan wajah dan menempelkan bibirnya pada bibir tipis Jungkook. Malam itu, di sungai han, mereka saling berciuman penuh hangat, mengusir hawa dingin, dan menikmati waktu dimana mereka saling bertukar rasa dan saliva.

.

"Kurasa kau tak akan bisa mendapatkannya." Taehyung melengkungkan bibir, mengedikkan bahu. Matanya terus fokus memandang objek yang agak jauh dari tempatnya berdiri. "Mereka terlihat manis."

"Sama seperti kau berusaha mendapatkan si muka es itu." Taehyung terkekeh yang di susul Jimin. Tangan Jimin masuk ke dalam saku mantelnya. Hembusan nafasnya membuat asap keluar dari mulutnya. Pipinya sudah memerah kedinginan.

"Tak kusangka, nasib kita selalu sama."

"Ya, nasib buruk kita selalu sama. Dan sama brengseknya."

Mereka terdiam. Mengamati sepasang kekasih yang tengah berciuman dengan khidmat di pinggir sungai han tanpa memerhatikan sekitar mereka. "Aku harus menciumnya. Ganti rugi membuat lukaku kembali menganga." Jimin menoleh, melihat Kim Taehyung mengeratkan jaketnya.

Jungkook melepas pagutannya, sedikit menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Perpaduan malu dan kedinginan. Membuat Yugyeom sedikit gugup, mengangkat dagu Jungkook untuk sekedar kembali mengecup bibir ranum kesukaannya itu. "Mau melihat sungai sebentar?" Jungkook mengangguk, mengikuti Yugyeom untuk menghampiri besi pembatas dan sebagai sandaran para pengunjung untuk menyaksikan pertunjukan sungai han.

Mereka saling terdiam, menyandarkan siku pada besi dingin dan menikmati pancuran air berwarna sungai han. Jungkook bersyukur menikmati waktunya bersama kekasih. Ia melirik Yugyeom dan tersenyum. Jungkook berbalik, menatap jalanan sekitar – dan seketika membola.

Kim Taehyung tengah berjalan lurus ke arahnya.

Benar-benar di luar pikirannya, Jungkook kembali menoleh ke Yugyeom, pria itu masih asik pada pertunjukkan air mancur, dan Jungkook kesulitan menelan saliva. Kerena adanya Taehyung adalah sebuah bahaya.

Jadi ia memajukan satu langkah, menyenderkan punggung bada punggung Yugyeom "Kook kau-"

"Kau lihat depan saja Gyeomie, aku sedang membersihkan gigi." Yugyeom terkekeh menurut.

Sementara Jungkook tengah amat sangat gugup saat Taehyung sudah berjarak beberapa meter di depannya.

3

2

1

God.

Kim Taehyung benar-benar berada tepat di depan wajahnya, tengah memiringkan wajah dan tersenyum miring. Jungkook mendelik, menyiratkan Taehyung untuk enyah dari hadapannya. Yang mana justru Taehyung memajukan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Jungkook

"Selamat malam Jungkook. Kurasa ada yang harus membayar darah disini."

Jungkook membola, sontak menatap perut Taehyung yang tertutup jaket. "Perutmu?" Bibirnya tak bersuara tapi Taehyung yang wajahnya hanya berjarak beberapa centi depannya jelas menangkap jelas gumaman Jungkook.

Taehyung kembali memajukan bibir untuk berbisik "Sekaligus menghapus jejak bibir pria ini." Taehyung menunjuk punggung Yugyeom dengan dagunya. Pancaran khawatir tercetak jelas di mata Jungkook, ia berusaha mendorong Taehyung agar Taehyung pergi.

Gagal. Karena Taehyung justru bergerak melumat bibir Jungkook, dengan dalam dan dengan tenang. Tangannya bergerak untuk mengangkat dagu Jungkook agar ciuman mereka semakin dalam. Jungkook hanya diam, merasa begitu bodoh saat ini.

Taehyung tersenyum dalam ciumannya. Rasanya begitu nikmat saat melumat bibir tipis Jungkook, dan menggigitnya kecil.

Setelah melepas ciuman yang tak lama itu, jemari Taehyung menghapus lelehan saliva di bibir lelaki manis yang hanya menatapnya. Taehyung jelas-jelas tersenyum menang lalu mengecup singkat bibir dan hidung Jungkook.

"Selamat malam Jungkook, tawaranku masih berlaku. Jadilah pacarku." Taehyung mengecup pipi kanan Jungkook setelah berbisik lalu berlalu pergi meninggalkan Jungkook yang masih menganga tak percaya.

Jungkook, di cium habis oleh Taehyung tepat di belakang kekasihnya.

Gila.

"Sudah Jungkook? Kenapa lama?"

Sementara Jimin yang melihat kejadian itu menggeleng tertawa.

.

.

.

tbc

mengecewakan? :( hua jujur ga pd haha. ini banyakan loh hehe.

ga nyangka si kalian bakal suka sama prolog kmren. bener-bener makasih buat reviewnya. asliii. aaaa thanks bangeet. a ya ini baru awalan, jadi begini dulu, tapi aku mungkin ga bisa bkin konflik yg berat2. semoga kalian tetep enjoyed di book ini. reviewnya jebal, supaya bisa ada yang tek perbaiki.

mau GyeomKook di banyakin tak? wkwk, minggu depan yaa kkk

dan JHOPE Happy B'day. duhhh abang. kutunggu hixtape nyaaaa..

Kyunie - sapa hayo ! , gglorrsp - iya terimakasih lohh , Illyasviel Solace - semoga terus dukung yah :' , Rinarosa - semangat ! , anhilbts - makasihhhh , imaydiianna - yuhuuu , dianaindriani - otte skrg? :( , ParkSungra - boleeh , jeykeyq - syudaah ni , Kookiee92 - wah haha yeoksii gyeomie , keyjyun - bagaiamana dengan sekarang? , JJKookie - mau mpreg ga nih? , syupit - thanksss , LittleOoh - syudah , NamTae1314 - kkk terimakasih , yunitailfa - thankss , - syudaah , SwaggxrBang - yeoksi thanksss , adresteas - sekarang otte? , Xxxxx - yuhuu , LittleJasmine2 - tae muka2 preman wkk , Mawar biru - syudah , EdHoshiki - hehe syudah ya , bokong kukii - sudah ni bokong kuki haha, uculnamanya , sriwni - lanjut donggg , Shaca bae - syudaah , cutiepie-v - syudaah , Hantu Just In - syudaah , kukiya - syyudah.

terimakasih sudah mau bacaaaaaaaaaa saranghaee