Jam dua belas malam. Nafas malam semakin memburu cepat. Entah kenapa diriku harus meninggalkannya bagaikan Cinderella didongeng membosankan itu. " Cih...menyebalkan!" pintaku yang semakin membenci suasana ini. Mengapa aku seperti dikejar pembunuh ? Padahal aku adalah pembunuh.

Tugas ini serasa membunuhku. Tidak terasa sudah 10 tahun aku menjalani pekerjaan ini.

Sejak saat itu, #Flashback

"Yamanaka Ino...!" suara bass memanggilku.

"Iya,"jawabku sambil berlari menghampirinya.

"Kau terlambat 20 menit,"

"Maaf,"

"Ya sudalah. Sekarang ikuti aku,"suara bass itu yang kita dapat panggil gaara mengajakku.

Aku mengikutinya bagai anjing yang mengikuti tuannya 'cih...' seruku dalam hati. Kami menyusuri lorong lorong gelap hanya untuk menggapai ruang dengan pintu kayu besar di ujung lorong.

KRIIIEEETT,bunyi pintu yang mengganggu telinga.

"Siapa itu ?"

"Aku, Gaara dan,"

"Ino" kataku memotong pembicaraan Gaara.

"Oh... kalian sudah datang. Ini ada tugas untuk kalian berdua,"melempar 2 lembaran kertas ke arah kami.

Kami berdua menerima kertas yang berbeda isinya.

"Akan kami laksanakan Tuan Sai," kata kami sambil membungkuk .

Lucu sekali, kami tidak pernah melihat isi dari gulungan itu sebelum kami pergi dari ruangan Tuan Sai.

Kamipun menghilang bagaikan angin.

Sekarang aku sendirian di tengah hutan yang gelap ini, sudah hampir 10 tahun aku tinggal disini.

Kubuka gulungan kertas pemberian Tuan Sai, dan kubaca isinya,

Tugasmu sekarang adalah mengambil satu jiwa manusia dalam waktu 2 hari

Ini sungguh mudah.

Orang yang harus kau ambil jiwanya adalah seorang pemusik

Biasa saja, aku sudah mengambil jiwa Beethoven dan Mozart. Apa susahnya sekarang?

.

.

.

Chapter 2

If I Know The Truth

Naruto -Masashi Kishimoto

First love - Utada Hikaru

NaruIno

Romance / Crime / GaJe / Sedeng / Typo /dsb..

Rated T

.

.

.

"Kau dapat apa Ino?" tanya Gaara tiba-tiba datang.

"Kalau aku membunuh seorang PSK lagi." kata Gaara.

"Membunuh seorang musikus lagi." kataku dengan dingin dan datar.

"Oh...begitu." kata Gaara.

"Namanya?" tanya Gaara penasaran.

"Uzumaki Naruto." kataku datar.

Besok aku bisa langsung menghabisinya. Untung aku akan datang ke pesta itu, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari si Uzumaki Naruto itu. Walaupun aku datang secara illegal, tapi ada untungnya juga.

.

.

.

You will always be inside my heart

Itsumo anata dake no basho ga aru kara

I hope that I have a place in your heart too

.

.

.

Matahari mulai menampakan senyumnya. Tidak terasa hangat, itu lah yang dapat di katakan untuk pagi ini karena angin musim dingin telah datng untuk membawa selimut putih yang dingin. Hari ini, pertemuan dua insan di depan teater Park House, yang memungkinkan tumbuhnya bunga cinta diantara mereka.

"Maaf... aku...terlambat," kata Naruto tergagap-gagap karena berlari.

"Ah... tidak apa-apa aku baru saja datang" jawab Ino lembut.

"Oh,ya, ini untukmu" menyodorkan sebuah bucket bunga mawar putih.

"Terima kasih, sudah lama aku tidak mencium aroma bunga mawar putih," pitahnya sambil memeluk bucket bunga tersebut.

Ino mengelus elus kelopak bunga mawar tersebut dan mencium aromanya, kegiatan yang dilakukan oleh Ino ini membuat Naruto sedikit blussing.

Naruto P.O.V

'Dia cantik,' pikirku yang melayang-layang entah kemana.

'Ahh... apa yang ku pikirkan ?,apakah aku menyukainya ?,perasaan apa ini ?,suka ?,suka ?,ya ?' pikiran dan akal sehat ku bertanya-tanya.

"Ayo kita masuk," ajak Ino yang menyadarkanku dari lamunan tanda tanya.

"Iiya," jawab ku.

~deg,deg,deg,deg,deg,deg~.'loh, kenapa jantungku derdetak kencang lagi seperti kemarin malam?'

"kita mau nonton apa ?"tanya Ino lembut mengejutkanku.

"Swan Lake," jawabku.

End Naruto P.O.V

.

.

.

Now and forever you are still the one

Ima wa mada kanashii LOVE SONG

Atarashii uta utaeru made

.

.

.

Mereka menonton pertunjukkan dengan sangat antusias, bahkan ada salah satu dari penonton yang menangis. Ya, mereka menonton pertunjukkan "Swan Lake" versi tragisnya, yaitu saat Odette meninggal bersama Pangeran. Menyedihkan memang. Banyak gadis yang menangis tersedu-sedu, tetapi Ino hanya diam tanpa reaksi apapun setelah adegan tersebut lewat.

"Bagaimana? Apakah itu seru?" tanya Naruto.

"Ya, lumayanlah." kata Ino datar.

"Kau kenapa? Apakah kau kesal?" Naruto tampak khawair dengan keadaan Ino.

"Ah... tidak apa-apa." Ino tersenyum. Naruto blushing tak karuan.

"Ah... bagaimana kalau kita makan dulu?" Naruto menggandeng tangan Ino.

"Eh...boleh." Ino terkejut dan blushing.

Ino dan Naruto berjalan menyusuri jalanan Kota Konoha yang ramai pada hari itu. Mereka berjalan menuju rumah makan yang agak tua.

"Ini?" Ino mengerjapkan matanya.

"Jangan lihat dari depannya. Tempat ini menyediakan makanan yang enak." Naruto membuka pintu café itu.

"Oh, Naruto, kau datang rupanya." sapa seorang pria yang seumuran dengan Naruto tapi bedanya dia menggunakan kacamata.

"Hai, Naruto lama tak jumpa." sapa seorang wanita berambut indigo dengan gaun ungu yang indah.

"Hai, Shikamaru. Hinata." Naruto menyunggingkan senyumannya.

"Siapa yang kau bawa ini?" tanya Shikamaru.

"Ini. Dia temanku." jawab Naruto sambil menunjuk Ino.

.

.

.

Ino P.O.V

Dia menganggapku teman?

Sekarang dia, Uzumaki Naruto membuatku gila.

Apa dia tak menyadari siapa aku?

Hati ini semakin sakit saat mendengar pernyataannya itu.

"Ino, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto dengan nada cemas.

"Ah, aku tidak apa-apa." aku menggelengkan kepalaku.

"Baguslah kalau begitu." katanya.

Kami mulai makan apa yang telah Naruto pesan, makanan ini terlihat lezat. Sudah lama aku tidak makan ditemani orang lain. Biasanya aku akan makan sendirian.

"Bagaimana? Enak bukan?" Naruto tersenyum puas.

"Iya. Enak sekali." aku memotong daging dan kusisihkan wortel ke pinggir piringku.

"Kenapa tidak dimakan?" tanyanya kebingungan.

"Aku tidak suka wortel." kataku.

"Wortel itu sehat untuk matamu. Makanlah." Naruto menegahkan wortel yang sudah susah payah kupinggirkan.

"Tapi aku tidak suka." sekarang aku merasa seperti anak kecil yang dipaksa makan wortel oleh ibunya.

"Makanlah." Naruto menusuk wortel itu dan meyuapkan wortel itu ke mulutku. Aku tidak membuka mulutku. Tetapi dia tetap bersikeras.

"Kalau kau tidak makan wortel itu akan kucium kau." ancamnya dan berhasil membuatku wajahku semerah kepiting rebus yang baru masak dan siap disantap.

Akhirnya aku membuka mulutku dan dia memasukkan wortel itu. Aku menguyahnya. Bunyinya sungguh aneh. Itulah yang kubenci saat aku makan sayur, bunyinya yang aneh.

End Ino P.O.V

.

.

.

You are always gonna be my love

Itsuka dareka to mata koi ni ochite mo

I'll remember to love you taught me how

.

.

.

Setelah selesai makan siang mereka berjalan menuju taman.

"Wah, danaunya membeku." Ino memandangi danau yang membeku karena sekarang bulan Desember.

"Mau bermain ice skating?" tawar Naruto.

Setiap musim dingin datang banyak penjual yang menyewakan sepatu untuk ice skating di sekitar danau ini, sehingga banyak sekali pengunjung taman ini yang datang saat musim dingin, untuk bermain ice skate.

"Tapi aku tidak bisa meluncur." Ino ketakuttan.

"Tenang saja, akan kuajari caranya." Naruto memberikan sepatu ice skate berwarna biru muda sesuai dengan gaunnya Ino

Setelah memakainya, mereka meluncur di atas es. Ino berpegangan dengan Naruto.

"Tenang saja. Buka matamu." Naruto memegangi kedua tangan Ino. Ino membuka matanya.

Dan mereka mulai berselucur di atas es hingga tidak terasa sudah waktunya untuk pulang.

"Sampai jumpa." kata Naruto kepada ku. Mungkin ini merupakan kata terakhirnya yang dapat ku dengar.

Ino P.O.V

Aku kembali ke rumahku. Aku duduk di balkon kamarku dan menatap bulan dengan sendu.

Bulir-bulir hangat jatuh dari pelupuk mataku. Menangis. Aku menangis. Sudah lama aku tidak menangis. Menangis karena seseorang.

Aku tidak pernah menangis lagi, sejak 10 tahun lalu.

Hiks. Hiks. Hiks.

Aku mengelap air mataku dengan telapak tanganku. Aku sedih. Kenapa dia harus begitu? Kenapa dia harus terlahir?

Aku menangis terus.

WaLaupun aku mengelapnya terus, tetap saja air mata ini terus mengalir tanpa henti. Uzumaki naruto adalah pria yang kucintai. Tapi kenapa nasib sungguh kejam kepadaku?

Mengapa harus aku yang membunuhnya ? mengapa harus aku yang bertemu dengan dirinya?

End Ino P.O.V

Ino berjalan dengan lesu keluar dari rumahnya. Kakinya tidak dapat menentukan arahnya. Dia sangat sakit kali ini.

"Pasti dia sudah tidur!" gumamnya.

"Pasti!" lanjutnya.

"Apa aku harus menemuinya?" Ino berlari menaiki atap salah satu rumah dan mulai berlari di atasnya. Selang waku beberapa menit, akirnya ia sampai di rumah naruto.

"Ke-kenapa?" Ino memegangi jantungnya.

"Sakit!" Ino meringis kesakitan.

"Eeenggg~" Naruto tertidur lelap.

"Jangan bangun kumohon!" Ino menyentuh pipi Naruto.

Naruto kembali ke posisinya semula. Tetidur lelap.

"Untunglah! Biarkan aku memandangimu, ya?" Ino menatap Naruto sendu.

Lalu Ino mencium kening Naruto dan berbisik "maafkan aku ya, Naruto?" lalu pergi menghilang.

.

.

.

"Yamanaka Ino!" sebuah suara bass memanggil namanya.

"Iya?" Ino terlihat pasrah.

"Kau datang karena cinta, dan sekarang kau tertipu oleh cinta, lebih baik kau mati saja!" Tuan Sai menatap geram Ino, sedangkan Gaara hanya melihat Ino dengan pandangan santai.

Kedua tangan dan kaki ino diborgol oleh Gaara.

"Maaf!" Gaara bergumam.

"Tak apa!" Ino tersenyum seraya berjalan dengan gaara yang menyodorkan pedang kesayangannya.

"Jalan!" Ino berjalan perlahan menuju tempat eksekusi.

Selama di perjalanan ia mengingat potongan-potongan masa lalunya dengan Naruto . Lalu tersenyum sinis.

"Kau mempermainkanku!" Ino tertawa keras membuat semua yang ada sedikit terkejut.

.

.

.

Badannya yang kecil itu dicambuki lebih dari seribu kali. Tubuhnya sudah penuh dengan cambukan dan sabetan pisau. Namun ia masih saja tersenyum. Rambutnya dijambak oleh gaara sehingga beberapa helai rambut Ino terjatuh.

"Apa hanya ini kemampuanmu?" tantang Ino.

"Bukankah seseorang yang kau pilih ini tidak boleh mencintai orang lain? Jika mencintai aka dihukum mati!" Ino berteriak dengan lantang.

"MATI KAU!" Tuan Sai berteriak dengan kencang sehingga burung gagak terbang.

"Ukh!" Ino ambruk. Tuan sai menusuk Ino dengan pedang kesayangannya yang biasa ia gunakan untuk membunuh orang yang ia benci.

Terlihat seulas senyum di bibir Ino. Senyum yang tulus. Matanya sudah tertutup untuk selamanya.

"Bakar dia!" Tuan Sai menghadap ke arah Gaara.

"Baik!" Gaara mengangkat tubuh Ino dan memepersiapkan tempat untuk membakar jasadnya.

.

.

.

You are always gonna be the one

Mada kanashii LOVE SONG

Now and forever..

Ever..

.

.

.

"Lebih baik memang begini. Tidak ada yang akan sakit lebih dari itu ! Semuanya akan berjalan seperti biasa kembali. Selamanya~" ucap Tuan Sai kepada dirinya sendiri.


hahhahaha ending udahh nnieehh

pusing mau mikirin apa lagi ahhahaha
oh... ya, thank you untuk review :D

review ya :D