Chapter 2
CWTCH
HOMIN
"Selamat malam, Tuan," sapa security jaga, yang telah cukup lama mengenal Yunho.
"Selamat malam, Pak Yoon." sahut Yunho, ramah. "sendirian malam ini, Pak?"
"Tidak,Tuan. Teman saya masih dibelakang, mengingat malam ini lumayan dingin, maka dia menawarkan diri untuk menyeduh kopi agar dapat kami minum berdua. Adik anda tidak pulang bersama?"
"Oh, Changmin.. ada yang masih harus dikerjakannya diluar. Baiklah, Pak, saya naik dulu. Terimakasih untuk kerja kerasnya, tetap terjaga demi menjaga tidur malam kami, juga penghuni apartemen ini tetap lelap sepanjang malam."
"Keharusan bagi saya," sahut bapak penjaga. "selamat tidur, Tuan. Sampai jumpa kembali."
Lepas memberi anggukan ramah dan teramat sopan, Jung Yunho kembali meniti langkah menuju ruangan mengotak yang ia sebut sebagai rumah. Atau apartemen milik Shim Changmin, lebih tepatnya. Maka tidak salah bila belum lama sebelumnya Changmin menyebut Yunho hanya menumpang dirumah miliknya.
Dibandingkan dengan kediamannya sendiri, apartemen Changmin memang lah sangat lebih nyaman dari pada apartemen milik Yunho sendiri, yang berada ditengah pusat keramaian. Kondisi letak, dan tata ruang milik Changmin bahkan lebih elegan dibandingkan dengan apartemen milik Yunho yang sudah dia tinggalkan. Dia tinggalkan, sebab hampir lima bulan terakhir Yunho tak lagi membuka pintu rumahnya sendiri, melainkan ia memilih menetap dikediaman Changmin, walau tak secara resmi mendapat persetujuan dari sang pemilik sendiri.
Saat pintu rumah telah terbuka, lelampuan juga seketika kembali berpijar terang, Yunho lantas melepas top coat yang ia kenakan, bahkan ia juga melucuti kaus berbahan katun yang membungkus badan. Musim dingin masih menyelimuti Korea, namun entah mengapa bagi Yunho seluruh badannya serasa begitu membara.
Yunho melewatkan makan malamnya, bahkan berjalan kedalam dapur untuk sekedar minum pun, Yunho tidak. Setelah rapat menutup pintu, melepas baju serta membasahi wajahnya dengan air dingin hingga membuat separuh dari ubun-ubun kepalanya basah, Yunho lantas memanjangkan tubuhnya diatas membal ranjang beralaskan seprai kecokelatan.
Teramat lama menunggu Shim Changmin pulang, Yunho berakhir terlelap dibalik balutan selimut malam. Semua kalimat khawatir, penasaran, bahkan kesal yang berjubel di dalam otak Yunho, menginginkan dirinya untuk tetap terjaga menunggu Changmin tiba, namun sayangnya semua itu kalah oleh mata yang tak lagi betah untuk tetap terbuka. Yunho teramat letih, ia penat, semua hal menjadi terasa berat, dan ia pun terpejam rapat.
Semua terasa begitu hening, nyenyat, bahkan nyamuk pun seolah tak niat mengganggu Yunho yang terlelap. Setidaknya seperti itu, sebelum suara gemeletakkan pintu rumah, suara gelas jatuh yang mungkin saja kemudian pecah, suara kursi berderik yang seolah kesakitan sebab tertendang, dan terakhir suara pintu terbuka, yang membuat Yunho menggeliat membuka mata.
Changmin tanpa permisi membuat semua keributan tersebut dan berakhir merangkak naik keatas ranjang dimana Yunho tengah memejamkan mata. Ia tak sedang mabuk, Shim Changmin hanya melakukan apapun yang dia ingin lakukan.
"Kau tak sedang mabuk, kau sadar bahwa kau sendiri yang mempersilahkan dirimu untuk berantakan bersamaku."
"Sssth!" desis Changmin. "aku ingin tidur, jangan berisik!"
"Kau akan memukul wajahku besok pagi."
"Sstth!" Changmin meletakkan ujung jempolnya diatas bibir Yunho. "kubilang jangan berisik!"
.
.
.
"Ne, Oemma. Aku mengerti. Euhm! Sampai bertemu nanti." Yunho perlahan meletakkan ponselnya kembali keatas wireless charger disamping tea kettle bening, saat sang ibu dari seberang telah memutus sambungan telephone yang dia buat.
Selesai mencuci kedua tangannya Yunho kembali meraih adonan telur didalam mangkuk, empat lebar roti tawar, serta dua gelas bening memanjang untuk wadah susu steril, sebagai menu makan sarapan ia dan Changmin.
Yunho tak biasa memasak ataupun membuat sarapan pagi, sebab memang ia tak pandai dalam bagian itu. Namun jika pada suatu masa ia harus memasak untuk sendiri, maka hanya egg sandwich dan segelas susu steril yang hanya bisa Yunho buat. Apa yang dikerjakannya pun juga akan sangat ia perhatikan, Yunho tak akan membuat suara terlalu hingar, terlebih jika Changmin masih lelap dalam balutan selimut sepanjang malam. Sungguh, apa yang dilakukannya hanya karena ia tak ingin mengganggu Changmin yang masih terpejam.
"Hyuuuunggg!"
Namun mungkin, tidak dengan sekarang. Yunho tersentak oleh teriakan Changmin yang bahkan belum menyembul keluar dari dalam kamar. "Wae-oh, Changmin-ah?" sahut Yunho, ranah.
"Hyung, kau kemanakan pakaianku?" Changmin berjalan keluar dari dalam kamar dengan selimut membungkus badan.
"Kau selalu memarahiku saat aku lupa masih mengenakan kaus kaki pada saat akan tidur, kau juga memarahiku saat aku tak membersihkan badan dulu. Tapi semalam kau mengganggu tidurku dengan masih berpakaian lengkap, kau pikir aku juga tidak terganggu?" jawab Yunho santai, sembari meletakkan dua gelas susu diatas nampan plastik berwarna biru.
"Jadi kau menelanjangiku?" masih dengan selimut membungkus dirinya, Changmin merosok duduk diatas dingin lantai rumah.
"Aku tidak! Apa kau tidak sadar kau masih mengenakan kurungan burungmu itu, atau mau aku tunjukkan padamu?"
"Ish! Kau memalukan sekali!" dengus Changmin.
"Jangan duduk dilantai seperti itu, atau kau akan masuk angin. Cepat bereskan badanmu, dan kembali kesini untuk sarapan."
Tak biasanya Changmin akan mendengar, namun pagi ini dia menjadi penurut yang tak menjengkelkan. Changmin berdiri dan kembali memasuki kamar, kali ini kamar dia sendiri, ia berbenah dan membersihkan badan, sebagaimana yang Yunho perintahkan. Sementara Yunho sendiri telah siap diatas meja makan dihadapan menu sarapan yang telah selesai ia masak, namun ia tak akan mulai untuk makan, jika Changmin belum berada dihadapan.
"Eggs sandwich?" Setelah beberapa saat menunggu, Changmin kembali mendekat dengan pakaian lengkap.
"Uhm! Hanya ini yang bisa kubuat, aku kan tidak sepintar dirimu."
"Aku tahu." Changmin menyeringai.
Yunho menikmati olahan tangannya tanpa menimbulkan suara, bahkan cara dia kembali meletakkan gelas diatas meja juga sama sekali tak menimbulkan nada. Jika biasanya Yunho akan banyak bicara, atau ia yang akan memutar lelaguan dari band ternama untuk mengusir hening ruangan, pagi ini Yunho teramat tenang, bahkan ruang makan Changmin pagi ini terasa hampir menyerupai suasana pekuburan.
"Hyung?"
"Huh?"
"Tentang semalam," Changmin mengangkat obrolan. "maaf tentang semalam. Aku hanya merasa aku ingin mendapat ketenangan."
"Dengan mengusikku?"
"Tidak begitu!" Changmin memburu. "aku hanya sedang merasa bingung, lelah, dan aku ingin tertidur dengan lelap, begitu saja. Dan dengan berada disampingmu membuat aku tak merasa takut." Changmin berbicara dengan menundukkan mata.
"Kau sedang memiki masalah?" selidik Yunho.
"Aku tidak!"
"Ada yang salah! Kau baik-baik saja?" cemas Yunho, sandwich tinggal setengah ia abaikan begitu saja.
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku hanya merasa aku ingin tidur dan tidak terbangun dengan mimpi buruk saat malam hari, itu saja." Changmin menegaskan dengan menggerak-gerakkan kedua tangan.
"Baiklah, terserah kau saja." Yunho menyerah, ia kembali pada egg sandwich yang sempat dilupakannya.
Tidak biasa Yunho akan mudah mengabaikan Changmin begitu saja. Ketika Changmin mulai mengangkat kalimat yang dapat mengusik hati dan pikirannya, maka Yunho akan mengulik dan terus mendesak Changmin untuk bercerita padanya, namun kali ini Yunho seolah membiarkan Changmin bergelut dengan pikiran dan dirinya sendiri. Bukan Yunho telah tak peduli, akan tetapi ia hanya memberi Changmin waktu agar Changmin dengan sendirinya dapat berbagi.
"Kurasa telurnya terlalu asin." Yunho menimbang sobekkan kuning telur pada ujung garpu miliknya.
"Hyung?"
"Uhm?"
"Menurutmu, apa yang membuat seseorang menangis saat ia berciuman?"
Yunho tersentak, ia diam, lantas garpu diantara jemari tangan perlahan kembali ia letakkan diatas bulatan pinggan. "Memang siapa yang kau cium?"
"Aku hanya bertanya?" Changmin menaikkan dagunya.
"Siapa yang kau buat menangis?"
"Tidak ada. Aku hanya penasaran saja. Kalau kau tidak mau menjawab, ya sudah." Changmin mengerucutkan bibirnya, ia mengguman namun tak berani memberi tatapan mata.
"Kau mencintainya?" tanya Yunho, mendalam.
"Siapa?" Changmin membulatkan mata.
"Siapapun itu yang telah kau cium, dan menangis setelahnya."
"Aku tidak.. aku hanya… aku.."
"Hanya ada dua kemungkinan," Changmin gagap dengan kalimatnya, sementara Yunho mendadak memecah kaku lidah Changmin dengan ucapanya. "jika itu bukan kebahagiaan, maka itu adalah ketakutan."
"Oh, begitukah?" Changmin menggaruk satu dari dua ujung pelipisnya. "lalu Hyung –"
"Aku harus segera pergi setelah ini, kau taruh saja piring dan gelasmu didalam sink, aku akan mencucinya nanti saat aku kembali." ujar Yunho seraya berdiri, meninggalkan kursi. Seolah ia sengaja memotong suara Changmin yang masih hendak bertanya lebih.
"Kau akan kemana, Hyung?"
"Manager akan menjemputmu nanti pukul sebelas, kau jangan keluar sendiri. Dia bilang kau memiliki acara penting."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak akan pulang terlalu malam, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa menghubungiku jika kau sudah pulang lebih dulu!" Yunho meraih top coat yang telah berlang kali ia kenakan sedari minggu lalu.
"Hyungie, kau belum menjawab pertanyaanku!" sentak Changmin turut berdiri, seketika membuat kursi yang sempat ia duduki berderik keras terdorong kebelakang tubuhnya. "kau akan kemana?" ulang Changmin.
Yunho hanya memberikan tatapan dengan bibir bergetar samar, seperti ia hendak mengeja kata, namun ia tahan di ujung lidah.
"Aku akan pulang malam, jangan tunggu aku. Aku pergi." Hanya ucapan singkat, Yunho lantas berkelebat menuju pintu keluar, bahkan ia melupakan jam tangan yang masih berada di atas meja makan, serta ponsel miliknya yang masih berada diatas wireless charger didekat kettle bening, berisikan air mineral.
"Hyuung? Yunho Hyung, tunggu!" Changmin mengejar. "Hyungie?" ia berteriak, namun sampai ia pada batas pintu rumah, Yunho sudah tak dapat dijangkau oleh matanya. Elevator berjalan turun, telah membawa Yunho menjauh.
Changmin berhenti diambang pintu, tak berniat dia menyusul kepergian Yunho yang tampaknya amat terburu-buru. Setelahnya pukul sebelas tepat. satu jam semenjak kepergian Yunho, manager Changmin benar-bener datang mengetuk pintu rumah. Bahkan dia tidak sendirian, ada dua bodyguard menyertainya.
"Kenapa kau belum siap juga? Apa Yunho tidak mengatakan padamu bahwa aku akan datang?"
Changmin diam, dia bercokol diatas sofa merah memangku satu plastik besar kacang berangan.
"Yah, Changmin-ah? cepat bangun dan kita berangkat sekarang?" sentak Manager.
"Memangnya kita akan kemana?"
"Even Valentine's day, ditengah kota. kenapa kau bisa lupa?"
"Aku tidak lupa, tapi memang tak ada yang mengatakannya padaku!" Changmin memburu, ia berseru sembari beranjak meninggalkan sofa.
"Kenapa kau harus mengeluarkan nada kasar seperti itu?" Sang manager berkacak pinggang. "ayolah, Changmin, ini hari kasih sayang. Dimana perasaan cintamu itu?"
"Hilang!" sungut Changmin, kembali keluar dari dalam kamar dengan pakaian lengkap menghangatkan badan. "dibawa Yunho Hyung kabur, pagi ini."
"Kalian bertengkar?"
"Nope! dia hanya keluar tanpa mangajakku, tanpa mengatakan akan kemana dia pergi."
Sang manager tertawa dibelakang punggung Changmin, mengikuti gerakan kaki panjang 'adiknya' tersebut berjalan menuju elevator, setelah rapat mengunci pintu rumah. "Kenapa dia tidak memberitahu kalau biasanya tentang dia digigit nyamuk atau akan ke kamar kecil saja dia selalu berbicara padamu?"
"Kau mengejek?" Changmin menyungging bibir, menunjukkan taring.
"Easy, dude! dia hanya pergi kerumah orang tuanya."
"Gwangju?"
"Yep!" jawab manager, bersamaan dengan bunyi tertutup pintu mobil. "dia bilang tidak akan lama."
"Ooh,"
"Jadi even hari ini, dari TVXQ hanya kau sendiri yang akan mengisi. Tapi tenang saja, akan ada member SHinee dan beberapa dari SNSD, bersamamu sampai sore nanti."
Penjelasan dari manager hanya ditanggapi oleh Changmin dengan anggukan kecil. Setelahnya dia diam tak lagi mengeluarkan suara hingga mobil yang ia tumpangi telah sampai pada area even Valetine's day yang akan dia hadiri.
Terlepas dari beberapa menit bersabar didalam mobil menunggu kendaraan dari managernya tersebut terparkir dengan rapi, Changmin kini telah berkumpul dengan para member SHInee dan SNSD yang sejatinya merupakan sahabat-sahabat dekat ia sendiri. Changmin tanpa terlihat malu-malu atau canggung, memulai dan mengisi acara hari kasih sayang tersebut dengan senyum menawan yang tak pernah padam. Ia bermain, bercengkrama, dan bernyanyi bersama para penggemarnya, juga para lansia yang sengaja panitia even hari kasih sayang undang untuk duduk dibarisan terdepan. Tema 'Cinta untuk semua orang' menjadikan satu hari special kali ini terasa kian menghangatkan jiwa, sebab Valentine's day bukan teruntuk remaja saja, melainkan semua orang yang memiliki cinta.
Namun sayang sekali, Shim Changmin tak memiliki bagian pelengkap pada dirinya, hari ini.
Letih menyerang saat malam kain menyergap siang dengan kegelapan. Pukul sebelas lewat dua puluh lima menit, Changmin baru kembali memutar kenop pintu rumah, even kasih sayang memakan waktu yang lebih lama dari pada yang ia bayangkan sebelumnya.
Lelampuan masih pejam, tak ada suara bahkan rumah Changmin seolah tak terjamah tangan manusia, sebab dingin udara menjajah ruangan. Menandakan bahwa Yunho sendiri belum pulang. Satu langkah yang kemudian Changmin buat, juga gerakan tangannya yang kilat lantas membuat semua lelampuan didalam rumah kembali berbinar terang. Saat ia hendak menunduk melepas alas kakinya, sebuah ringtone tak asing tetiba mengorek telinga.
Pasang sepatu yang membungkus kakinya ia lepas dengan cepat, kemudian Changmin melompat mencari sumber suara yang masih bernyanyian lantang didalam rumah. Ponsel Yunho yang masih berada diatas wireless charger, tepatnya, namun ketika benda tipis itu telah Changmin pegang, nomor yang menghungi ponsel Yunho telah menghentikan panggilan.
Belasan panggilan berbeda-beda dan berasal dari nomor yang tak sama. Tentu tak sulit bagi Changmin untuk membuka dan mengetahui isi dalam ponsel Yunho, sebab milik Yunho seolah juga merupakan miliknya sendiri. Changmin memandangi keseluruhan nomor yang berulang kali menghubungi Yunho, hingga detik terakhir saat Changmin telah meletakkan benda itu kembali ke atas meja, benda milik Yunho tersebut kembali mengeluarkan suara.
"Yoboseyou? Yunho-ah.. ah syukur sekali kau menjawab panggilan Oemma, kemana saja kau tadi. huh? Apa kau sudah sampai rumah? Oemma cuma mau menyampaikan pesan dari Soo Jin, bahwa jus merah itu harus segera kau habiskan malam ini juga, jangan menunggu besok, atau benda itu akan sudah rusak, kau mengerti?"
Belum sempat Changmin menyerukan suaranya, nada lembah dari seorang tua menyerbu dari sambungan telephone milik Yunho, yang Changmin jawab. Bersamaan dengan itu pula, suara pintu terbuka membuat Changmin menengadahkan kepalanya menatap lurus ke arah depan.
"Yunho-Hyung.." rapal bibir Changmin tanpa membuat suara.
"Yoboseyou.. Yunnie-ah?" suara dari dalam ponsel Yunho yang belum terputus, meminta perhatian. "Yunho-ah, kau bisa mendengarku?"
Changmin kaku tak dapat menjawab panggilan suara dari ponsel Yunho, matanya tak berkedip, menatap Yunho yang berjalan perlahan mendekati letak tubuhnya berada, setelah pelan-pelan Yunho menutup pintu rumah, serta melepas sepatu sebelum masuk lebih kedalam ruangan.
Saat Yunho telah berada tepat dihadapan Changmin, tangan Yunho terjulur halus, nyaris menyerupai dia akan menyentuh sisih rahang kiri Changmin, walau sebenarnya dia hanya mengambil benda miliknya yang tenngah Changmin genggam.
"Ne, Oemma. Mianhe, aku tidak mendengarmu." seru Yunho, saat telah berhasil ia mengambil alih ponsel nya dari tangan Changmin.
Hembusan nafas lelah terdengar dari seberang sambugan, seolah ibu dari Jung Yunho enggan mengulang pesannya, namun ia paham benar akan anaknya, hingga wanita paruh baya tersebut berakhir mengulangi semua ucapanya yang belum lama tadi ia serukan.
"Oh, iya baiklah, aku paham. . Euhm, oemma cepat tidur saja. Ne, saraghae." Yunho bertutur lembut, saat selesai ia berbicara, lantas Yunho kembali meletakkan ponselnya diatas meja. "kau baru pulang?" tanya Yunho selanjutnya pada Changmin yang masih betah menghadapnya.
"Iya."
"Oh."
"Jadi, seharian kau tak membawa benda itu bersamamu?" tanya Changmin, melirik pada ponsel Yunho.
"Aku lupa," jawab Yunho singkat. Ia sedikit menguap. "aku lelah" katanya, seraya berjalan menerobos bahu Changmin, lantas ia menghilang dibalik pintu kamar.
Hening menyelubungi tubuh Changmin setelah tubuh Yunho melewatii badan tingginya. Kepala Changmin turut berputar mengikuti tubuh Yunho yang berjalan pelan, ia tak menutup pintu kamar, namun tubuh Yunho menggelap didalam ruangan.
Lipatan menit setelah Changmin hanya memperhatikan, pada akhirnya Changmin tak dapat mengendalikan kakinya yang menginginkan untuk turut menyusul Yunho kedalam kamar. Changmin memanjangkan lehernya memperhatikan, tampak Yunho masih duduk di sudut ranjang.
"Hyung?" panggil Changmin.
"Huh?" Yunho menoleh pada sumber suara. "ada apa?" tanyanya.
Changmin menggeleng. "Tidak ada. aku hanya ingin bilang, jus merah yang kau bawa rasanya tidak enak. pasti pacarmu yang membuatnya, ya?"
Yunho mendengus, kemudian tersenyum kecil. "kau meminumnya?" -Changmin menggangguk- "tidak ada yang menyuruhmu untuk meminum benda itu."
Changmin meninggalkan ambang pintu, berjalan panjang menuju ranjang Yunho lantas meluruskan tubuhnya diatas ranjang. "Apa kau mau bilang kalau kau tidak akan membagi minuman itu denganku?" rutuk Changmin.
"Tidak ada yang mempersilahkanmu untuk tiduran diatas ranjangku juga." tambah Yunho, ia melepas kaus kaki, memperbaiki cara duduknya, kemudian turut merebahkan badan disamping tubuh Changmin yang telah lebih dulu terlentang. Langit-langit kamar yang menghitam mereka perhatikan, seperti mereka tak niat menyalakan penerang ruangan.
"Kau dingin sekali padaku, hari ini." gumam Changmin. -Yunho berdiam tak memberi tanggapan- "kau pergi entah kemana, membiarkan aku sendirian mengisi kegiatan yang... tak akan menyenangkan bila kau tak ada."
"Kukira, kau akan lebih bebas dan bahagia saat aku tak selalu mengitarimu, diamanapun kau berada."
Changmin menggeleng, namun tentu mata Yunho tak dapat menangkap gerakan kepalanya.
"Jadi bagaimana, seharian tadi?" tanya Yunho.
"Seperti itulah. Harimu sendiri, apa kabar?" jawab Changmin dengan berbalik bertanya.
"Menyenangkan."
"Tentu saja! Kau menghabiskan Valentine's day dengan pacarmu, bukan?" serbu Changmin.
Yunho tersenyum kecil, namun barang tentu Changmin pun tak dapat menangkap gerakan bibir Yunho. "Seperti itulah." sahut Yunho.
Changmin mendengus, mengerucutkan bibirnya. "Kau tahu, Nana?"
"After school?" tanya Yunho.
"Uhm!" sahut Changmin, menggeram. "dia gadis yang berciuman denganku, dan menangis setelahnya."
Yunho mendadak membasahi belah bibirnya. Ingin dia mengeluaran banyak tanya, namun ia paham hal tersebut bukanlah haknya.
"Kurasa aku tidak pernah menyakitinya, lalu kenapa dia harus menangis saat kami berciuman. Menurutmu kenapa Hyung?" lanjut Changmin.
Yunho mengela nafas panjang, nafas lelah yang beradu dengan dingin udara malam. "Bagaimana bisa aku tahu, mungkin kau bisa bertanya kepadanya."
"Hyung?"
"Aku lelah. Selama tidur, Changmin-ah."
Yunho memutus obrolan malam dengan memutar tubuhnya, membelakangi tubuh Changmin. Dia tak benar-benar mengantuk, Yunho hanya tak ingin banyak berbicara.
To Be Continued
Bagi yang belum tahu apa itu CWTCH, jangan bingung. CWTCH itu, dibaca Kutch, asal bahasanya dari suku Welsh, Wales. CWTCH adalah istilah dari perasaan damai yang ada atau hinggap dihati saat atau setelah kita menerima pelukan dari orang tercinta. Seperti yang sudah saya tulis di Summary cerita, " Hug, cuddle or snuggle but more than that. CWTCH merupakan perasaan rahasia yang menciptakan kedamaian, kenyamanan, kebahagiaan di dalam hati dua orang (sepasang kekasih, ibuk/anak, suami/istri, dsb.) CWTCH adalah melindungi, memeluk, mencintai, dan semua hal yang berhubugan dengan cinta tercampur menjadi satu.
Contohnya seperti : Cwtch up to your mam now.
Yah, seperti itu. ehehe
Dan, untuk Wattpad, ternyata ada yang pakai ada yang tidak. Baiklah mungkin saya bisa up FFdi keduanya, tapi sebentar, ya. Wattpad belum saya buka, kemarin masih saja can't log in.
Terima kasih banyak untuk kalian semua.
Love Love Love.
Ino Cassio.
