"The First Snow"

.

.

HUNHAN

And OCs

Romance, Fluffy

Twoshoot

Rate T

.

.

Happy Reading !

..

Chapter 02

.

.

Suhu udara turun secara drastis hingga hampir menyentuh angka minus 10 derajat celcius. Hembusan angin malam begitu dingin dan menusuk. Dinginnya bahkan bisa menembus kulit hingga membuat seluruh tulang gemetar dan menggigil hebat.

Salju sudah turun sejak pagi. Menutupi sebagian jalan raya juga membekukan pepohonan dan ranting yang gundul tak berdaun.

Luhan tak masalah dengan suhu yang mungkin bisa membuat calon bayinya menangis karena dingin. Luhan akan menjaga perutnya selalu tetap hangat sehingga sang bayi tak perlu bermimpi buruk dan terganggu dalam pertumbuhannya di dalam rahimnya.

Meski begitu, Ia hanya sempat mengenakan mantel kebesaran milik suaminya yang tebal. Melupakan kaus kaki juga sarung tangan yang harusnya terbalut pada tangan dan kakinya saat ini. Orang yang mengamatinya bahkan akan melihat jelas jika Luhan masih sangat kedinginan di suhu yg serendah itu. Buku-buku jarinya memutih, bahkan bibirnya pun terlihat memucat dan mengkerut.

Perasaan Luhan kalut dan takut. Pikiran buruk terus menghantuinya hingga membuat tangisannya tidak bisa Ia bendung lagi. Aroma maskulin dan kehangatan suaminya tercium jelas dari mantel tebal miliknya. Aroma yang membuat Luhan semakin tak tahan untuk menahan rindu dan ingin segera memeluk Sehun seutuhnya.

Namun bagaimana bisa Ia melakukan itu jika sekarang sang suami sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat bantu penompang kehidupan yang Luhan benci menempel pada tubuh suaminya.

Sehun terbaring dengan kritis. Matanya tertutup sempurna tanpa ada niatan untuk terbuka bahkan untuk sekedar melihat Luhan menangisi kemalangannya.

Luhan benci menjadi sosok yang cengeng, sejak kecil Ia selalu di ajarkan untuk tetap tegar dan kuat ketika kanker bahkan dulu hampir merenggut nyawanya.

Namun, tangisan mana lagi yang bisa di bendungnya jika alasan kesedihannya adalah suaminya sendiri? Lelaki seumur hidup yang teramat Ia cintai.

Sehun tolong bangunlah. Tolong lihat aku dan hibur anak kita yang merindukan sentuhan Ayahnya –ungkap Luhan di dalam hatinya yang menangis.

Malam itu. Ketika Ia mendapat kabar dari rumah sakit jika Sehun mengalami kecelakaan beruntun, Luhan sempat tak sadarkan diri selama dua jam di kediamannya karena pingsan. Jaejoong lah yang membantunya untuk kembali mengingat dunia, hingga membawanya menuju rumah sakit dimana Sehun di rawat inap.

Luhan masih disini. Menjaga suaminya dengan sepenuh hati tanpa kenal lelah sekalipun. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dimana seharusnya Luhan sekarang sedang tertidur pulas di dekapan Sehun sepanjang malam, di atas ranjang mereka yang nyaman.

Jaejoong mungkin ingin menemani Luhan untuk menjaga Sehun. Tapi Luhan meminta wanita baya itu untuk pulang ke rumah karena tak mungkin Jaejoong harus meninggalkan rumah yang juga merasa kesepian, juga tak nyaman jika Ibu mertuanya itu harus ikut kedinginan disini.

Luhan tidak setega itu, cukup hanya Ia saja yang merasakan jahatnya suhu musim dingin. Tidak dengan orang lain.

Genggaman mereka tertaut erat. Luhan hanya bisa merasakan sedikit kehangatan Sehun di balik tubuhnya yang kaku. Suhu ruangan VVIP ini mungkin terasa cukup hangat dengan temperaturnya yang sesuai. Hanya saja, di bagian dalam tubuhnya Luhan tetap merasakan dingin.

Dia butuh Sehun untuk memeluknya. Dia butuh Sehun untuk mengelus perutnya. Dia butuh Sehun untuk menghentikan tangisnya.

"Sehunnie... tolong bangun dan lihat aku... " pinta Luhan di sisa suaranya yang serak. Tangis membuat tenggorokkannya terasa sakit. Sehingga terkadang Ia bahkan tak bisa menemukan suaranya sendiri.

"Aku butuh kau, Sehun. Aku butuh kau untuk hidupku. Jangan seperti ini, kumohon tolong aku. " Lagi, bulir air dari mata rusanya pun jatuh. Menggenang di wajahnya dengan menyedihkan dan menghancurkan aura kecantikan yang selama ini Ia miliki.

Semua orang bahkan mengagumi bagaimana cantiknya seorang istri dari Oh Sehun. Tapi bagi Luhan itu semua tidak penting lagi, Ia akan terus membiarkan tangisnya jatuh sampai dimana air matanya habis tak bersisa.

"Hiks.. Sehunnie.. perutku.. perutku sakit.. Tolong sapa anakmu disini. Dia juga merindukan kecupan Ayahnya. " Luhan menjatuhkan kepalanya jauh tertunduk di atas ranjang Sehun yang terbaring. Keram kembali Ia rasakan di dalam rahimnya yang bergejolak. Luhan menggigit bibirnya keras demi menghalau rasa sakit yang tiba-tiba saja membuat Ia semakin tak berdaya. Bayinya berulah, ada sesuatu yang salah terjadi pada dirinya.

Tangan Luhan yang menggenggam Sehun bahkan bergetar hebat. Keringat dingin mulai bermunculan dan membasahi bagian belakang tubuhnya juga wajahnya.

Luhan pucat pasi. Warna dari tubuhnya bahkan hampir menyamai Sehun. Di saat Ia bahkan hampir tak bisa lagi menemukan nafasnya sendiri, di saat itu pula Sehun terbangun dan mulai membuka matanya secara perlahan.

Dan betapa malangnya Sehun, ketika pertama kali Ia kembali melihat dunianya yang Ia dapati adalah istrinya yang terbaring tak berdaya dan melepaskan genggamannya.

"Lu-Luhan ... " Sehun mencoba untuk mengumpulkan penuh kesadarannya dan berusaha untuk menggapai pergelangan tangan istrinya.

"Lu-Luhan! Lu, bangun sayang!, " lirihnya serak di suara pertama yang Ia lontarkan setelah terbangun dari masa komanya.

Sehun mengumpulkan kekuatan penuh hanya untuk sekedar membalikkan punggungnya untuk menggapai wajah istrinya yang memilih menutup mata.

Ketika Sehun berhasil menggapai kedua sisi wajah Luhan. Ia terperangah dan terkejut. Suhu tubuh Luhan benar-benar dingin! Dan wajah pucat pasi serta limpahan keringat yang bermunculan di sekitaran wajah cantiknya itu membuat Ia mendadak panik bukan main.

Sehun mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan rawat Inapnya. Dan tidak ada yang bisa menolongnya untuk Luhan karena tak ada siapa pun lagi disini selain mereka berdua.

Sehun kembali bergerak sebisanya dengan mencari-cari tombol darurat di sekitaran ranjangnya. Lalu ketika Ia berhasil menemukan benda itu, tanpa ragu Sehun langsung menekannya beberapa kali berharap dokter akan cepat datang menuju kamarnya.

"Sayangku. Kumohon bertahanlah. " Bisik Sehun seraya menhunjani wajah pias Luhan dengan ciuman bertubi-tubi yang sarat akan kekhawatiran. Ia hanya bisa berharap agar Luhan menyadari sosoknya disini. Nafas wanita itu terlampau lambat dan lemah, Sehun takut jika Luhan bahkan calon buah hati mereka tak bisa bernafas dengan baik.

Brak !

Pintu terbuka dengan keras dan Sehun langsung mengalihkan atensinya. Dia tahu dokter yang menanganinya selama ini adalah sahabatnya sendiri. Park Chanyeol, bersama istrinya Byun Baekhyun yang menjadi asisten pribadi sahabatnya itu di rumah sakit ini.

"Sehun-ah, kau sudah sadar?! Syukurlah!" Chanyeol tersenyum lega melihat lelaki pucat itu sekarang telah menemukan kembali dunianya. Namun, wajah Sehun terlihat sangat panik. Dan Chanyeol baru menyadari jika Luhan juga berada disini dan dalam keadaan tak sadarkan diri di sisi sebelah ranjang Sehun.

"Chanyeol-ah! Luhan pingsan, dan suhu tubuhnya benar-benar dingin! Denyut nadinya melemah, kita harus segera menolongnya!" Teriak Baekhyun yang kala itu langsung sigap menangani Luhan.

Chanyeol mengangguk dan membantu menggendong Luhan dengan izin persetujuan Sehun untuk membaringkannya tepat di sisi ranjang sebelah milik Sehun. Tanpa menunda waktu, Chanyeol langsung memeriksa kondisi dari istri sahabatnya itu. Dan meminta Baekhyun untuk segera memberinya pertolongan infus dan bantuan tabung selang oksigen.

Semua yang dilakukan Baekhyun dan Chanyeol membuat nafas Sehun sesak. Ia mencoba untuk bergerak dari tempat tidurnya untuk menggapai Istrinya di sebelah sana.

"Tidak, Sehun. Kau masih harus berbaring. Kondisimu belum sepenuhnya pulih. Tenanglah, aku dan Baekhyun akan berusaha menolong Luhan. Jangan khawatir dan percayalah pada kami. " Tutur Chanyeol prihatin dan mencoba menenangkan sahabatnya ini.

"Tapi aku ingin bersama dengan istriku!. " Tukas Sehun dan mencoba untuk kembali memberontak.

"Sehun, kumohon kali ini saja tolong jangan membantahku. Aku adalah seorang dokter . Dan aku adalah sahabatmu. Percayalah padaku, Luhan sedang kami tangani sekarang. Dan kau harus tetap tenang. Kau tidak inginkan melihat Luhan terus-menerus mengkhawatirkan dirimu? Cobalah untuk memahaminya, Sehun-ah. " Tutur Chanyeol lagi dengan lebih tegas. Ia memberi tatapan memohon yang mana itu membuat Sehun menghembuskan nafas pasrah dan memilih mengalah.

Ia kembali berbaring ke tempat tidurnya ketika Baekhyun telah selesai memberi selang infus juga di pergelangan tangan istrinya.

Baekhyun bernafas lega dan memberi isyarat pada suaminya jika semuanya saat ini telah baik-baik saja.

"Luhan terlalu memaksakan diri. Dia memutuskan untuk melawan cuaca serendah ini hanya dengan mantel tebal itu yang bahkan tak cukup membuatnya merasa hangat. Selain itu gula dan tensi darahnya menurun. Sepertinya Luhan belum memberi asupan nutrisi yang cukup untuk tubuhnya sendiri hari ini. " Jelas Baekhyun sembari mendudukkan dirinya di kursi yang terdapat di sisi sebelah ranjang Luhan. Ia menatap Sehun dengan senyuman prihatin.

"Tapi sekarang Luhan sudah tidak apa-apa, Sehun. Ia hanya butuh istirahat total sekarang. Ia juga sudah bernafas secara normal dan kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. " Tambahnya.

"Lalu, bagaimana dengan calon bayi kami? Apa Ia juga baik-baik saja?. "

"Calon bayi kalian juga baik-baik saja. Aku sudah memeriksanya tadi. Mungkin Luhan mengalami masalah keram di perutnya, untuk itulah Ia pingsan. Tapi sekarang sudah baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggunya untuk bangun. " Kali ini Chanyeol yang menimpali.

Sehun bernafas lega dan menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memandang istrinya yang terbaring di ranjang sebelah sana. Cukup ada sedikit jarak yang menghalangi mereka, dan Sehun ingin memeluk Luhan di sampingnya.

"Chanyeol, bisa aku meminta bantuanmu lagi?"

"Tentu saja! Aku kan sahabatmu. Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Cengir Chanyeol dengan gigi cemerlangnya yang putih.

Sehun memandang Luhan dan menyematkan senyum kecil di wajahnya.

"Aku mohon, pindahkan aku dan Luhan di ruangan yang memiliki satu ranjang yang besar . Aku ingin memeluknya di sisiku. Apa itu bisa?. "

Chanyeol dan Baekhyun saling pandang lalu tersenyum maklum. Mereka berdua mengangguk pada Sehun dan itu adalah kebahagiaan pertama Sehun yang Ia dapatkan ketika Ia telah terbangun dari tidurnya yang panjang.

'Sayang. Akhirnya aku bisa kembali memelukmu dalam kehangatanku'

.

.

.

01 April 2018

Luhan dengan sibuk mengamati jejeran tanggal yang terdapat di kalender , yang terletak di atas nakas. Ia melingkari setiap hari yang telah berlalu dengan spidol bertinta merahnya, juga dengan perasaan senang yang membuncah di dalam dirinya.

Wajahnya terlihat seperti seorang gadis kecil yang baru saja mendapatkan hadiah boneka baru. Begitu menggemaskan sekaligus cantik secara bersamaan. Matanya berbinar terang, bagai ada jutaan cahaya kecil yang membuatnya tampak bersinar.

Ia duduk di atas ranjangnya dengan Sehun. Ia mengenakan stelan dress Ibu hamil yang mempesona bermotif flower berwarna baby blue. Rambutnya panjang bergelombang, tergerai begitu indah di belakang punggung sempitnya.

Ada jepit kecil berbentuk pita berwarna baby blue juga yang tersemat di sisi kanan rambutnya. Luhan menggerakkan kakinya yang menggantung di sisi ranjang dengan senang. Ada sepasang sandal berbulu motif hellokitty yang membalut kedua kakinya itu. Di peluknya senang kalender tadi setelah Ia berhasil melingkari satu hari lagi di hari ini.

Matanya terpejam dengan bibir yang tersenyum manis. Kemudian Ia kembali membuka mata dan menatap kalender itu dengan berbinar .

"Sudah lima bulan!. " Teriaknya gemas sembari refleks mengelus perutnya yang sudah membesar .

"Sayaaang. Akhirnya sebentar lagi Mama dan Papa akan tahu jenis kelaminmu! Tapi, Mama tidak masalah 'kok anak Mama dan Papa ini laki-laki atau perempuan. Yang penting kau tumbuh dengan sehat dan jangan terlalu menyusahkan Mama. Arrachi?. " Ungkapnya jenaka dengan nada bicara menggemaskan yang membuat Sehun -yang kala itu baru saja selesai dengan acara mandinya- tertawa dengan pelan.

Sehun mengenakan stelan santai ala rumahan. Kaos putih polos yang membalut tubuh atletisnya juga celana training sebatas lutut yang menggantung di sepanjang kakinya.

Ia baru saja mandi, dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan yang mana itu membuat Ia semakin terlihat seksi dan maskulin. Namun, rambutnya belum sepenuhnya kering. Ada handuk kecil yang menggantung pongah di sepanjang bahunya. Dan Ia ingin bermanja-manja sedikit dengan istri mungilnya pagi ini yang akan membantunya dalam mengeringkan rambut.

"Kau suka sekali mencoreti setiap tanggal di kalender itu. Itu kan kalender hadiah di waktu pernikahan kita, Sayang. " Sehun mendudukkan dirinya di sebelah Luhan, yang langsung tersenyum manis ketika menyambut suami tampannya itu dan Luhan dapat ciuman sayang di puncuk kepalanya pagi ini.

"Sehunnie coba lihat, aku sudah menghitung hari sejak kehamilan di bulan pertamaku. Dan semakin banyak tanggal yang aku coret, artinya semakin dekat pula kelahiran baby kita. " Luhan mengambil tangan Sehun yang mengait di pinggangnya dan meletakkan telapak tangan besar itu di atas perutnya yang membuncit.

Sehun terperangah dan menatap Luhan dengan tatapan teduhnya. "Dia bergerak, Sayang. Dia menyentuh tanganku dengan kaki kecilnya. " Tutur Sehun penuh kekaguman saat merasakan gerakan itu di tangannya sendiri.

"Dan dia menendang perutku untuk menyambut sapaan Papanya. " Ujar Luhan dengan tertawa pelan.

"Apa itu baik-baik saja ketika Ia menendang perutmu, Sayang? Apa sakit?. " Tiba-tiba sorot kekaguman Sehun berganti menjadi sorot penuh khawatir . Ia hanya takut jika Luhan kembali mengalami keram di setiap gerak bayi mereka yang begitu aktif.

Luhan menggeleng pelan dan menyandarkan diri dalam dekapan suaminya. Ia menghirup nafas dalam-dalam hanya untuk mengisi seluruh pasokan oksigennya dengan aroma suaminya yang begitu memabukkan.

Sehun begitu wangi dan segar , apalagi di saat Ia baru selesai mandi. Dan satu hal yang membuatnya lebih nyaman adalah kehangatan yang dimiliki suaminya.

"Aku baik-baik saja, Sehunnie. Sepertinya baby kita tidak terlalu nakal pagi ini. Bagaimana perasaanmu ketika merasakan Ia menyapa dirimu barusan?. " Lirih Luhan, Ia mendongak ke atas dan memberikan Sehun seluruh tatapan cintanya.

Sehun mengambil telapak tangan istrinya dan mengecupnya mesra dengan mata terpejam. Kemudian, Ia juga membalas tatapan Luhan dengan sorot penuh kehangatan.

"Aku sangat bahagia dan begitu kagum. Kau dan baby kita membuatku benar-benar kagum. Aku semakin tidak sabar untuk menantinya lahir . "

Luhan tersenyum haru. Ia seolah baru menyadari jika rambut suaminya belum sepenuhnya kering. Dengan inisiatifnya, Luhan mengambil handuk kecil yang menggantung di leher Sehun, lalu mengiring suaminya itu untuk duduk di pinggiran ranjang, di bawahnya.

Sehun begitu menikmati bagaimana Luhan dengan cekatan mengeringkan rambutnya. Kepalanya secara langsung mendapatkan pijatan lembut yang begitu nyaman hingga membuat kedua pasang mata elang itu tertutup rapat. Senyum menghiasi di wajahnya yang tampan, begitu pula Luhan yang juga tersenyum.

Mereka saling menikmati keheningan masing-masing.

"Hunnie, kita sudah bisa lihat jenis kelaminnya di usianya yang sekarang. " Ucap Luhan kembali membuka topik pembicaraan. Sehun mendongak, Ia membalikkan badannya menghadap sang istri. Ia juga menatap Luhan dengan sebelah alis yang terangkat.

Penasaran sekaligus bingung.

"Sungguh?. "

Luhan menganggguk "He-um. Karena usianya sudah memasuki lima bulan. Jadi kalau kita beruntung di USG ku hari ini, kita bisa melihat jenis kelaminnya. Dokter Yoora eonnie mengatakan hal itu padaku minggu lalu. Dan aku sangat penasaran!" Ujarnya bahagia, sambil mengelus perutnya dengan gerakan memutar yang lucu.

Sehun yang melihat hal itu juga tak bisa menahan rasa gemasnya. Ia pun mencium perut besar Luhan dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Luhan.

"Tapi, sebenarnya aku tidak masalah dia mau laki-laki atau perempuan. Yang terpenting, Ia akan lahir dengan selamat, sehat, dan sempurna nanti. " Ujarnya lagi. Sehun mengangguk menyetujui ungkapan istrinya. Ia juga mengikuti Luhan dengan mengelus lembut perut besar itu.

"Aku juga tidak masalah, Sayang. Yang aku inginkan hanya keselamatan kalian berdua. "

"Kau harus berjanji, Hunnie. Kau harus berjanji padaku. "

Mereka saling menatap satu sama lain. Sehun memberikan Luhan ekspresi kebingungannya.

"Berjanji, untuk apa, Sayang?. " Sehun memilih bangkit. Dan kali ini berpindah posisi dengan duduk di samping Luhan.

"Aku ingin kau menemaniku dalam berjuang. Kau harus menjadi sumber dari kekuatanku ketika aku akan melahirkan baby kita. Kau mau berjanjikan? Aku membutuhkanmu ketika aku melahirkannya nanti. " Luhan memeluk Sehun dengan erat sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, "Berjanjilah. " Lirihnya lagi.

Mendengar Luhan berkata soal masa kelahirannya nanti, membuat Sehun langsung di landa perasaan kalut dan khawatir . Namun Ia tidak menolak untuk berjanji pada istrinya.

Sehun mengangguk dan mengecup puncuk kepala Luhan yang harum. " Aku berjanji, Sayang. Aku berjanji untukmu. " Bisik Sehun yang mana membuat Luhan tersenyum di balik mata terpejamnya.

Hal yang membuat Sehun tak tahu harus bagaimana mengatakan bahwa Ia sesungguhnya begitu khawatir . Tapi, Sehun tidak ingin membuat pikiran buruk itu. Ia harus optimis, dan selalu berharap Sehun jika semuanya pasti akan berjalan dengan lancar .

.

.

.

Hari ini adalah hari Check-Up kehamilan Luhan yang selalu rutin Ia lakukan setiap bulannya. Kadang sebulan satu kali, atau kadang sebulan dua kali. Tergantung Dokter Yoora yang memintanya untuk memeriksakan kondisi Ia dan sang bayi.

Dokter Yoora adalah kakak perempuan dari Chanyeol, Sahabat suaminya. Wanita yang kesehariannya berkerja sebagai dokter kandungan itu juga merupakan salah satu dokter pribadi keluarga Oh, khususnya untuk Luhan.

Sehun benar-benar ingin menjaga kehamilan Luhan dengan protektif. Mulai dari awal kehamilannya, bahkan mungkin sampai bayi mereka mendapatkan imunisasinya nanti, Sehun ingin kakak perempuan Chanyeol lah yang menjadi dokter pribadi istrinya.

Dengan begitu, Ia memiliki orang kepercayaan yang akan menjaga dan merawat kesehatan istri dan bayi mereka dengan baik nanti.

Luhan sedang berbaring nyaman di atas ranjang lembut dan hangat di ruangan pribadi dokter Yoora. Ia sedang melakukan Check-Up rutinnya. Sehun juga bersamanya kali ini, benar-benar menemaninya di sisinya hingga tangan mereka menggenggam erat.

Yoora tersenyum cerah ketika Ia berhasil menangkap gambar hitam-putih sang bayi yang berada di dalam perut Luhan di layar monitor . Terlihat begitu sehat dan bergerak sangat aktif. Kakinya yang kecil seperti ingin menendang keluar hingga ujung jemarinya akan tertangkap mata oleh Sehun ketika memandangi perut besar istrinya.

"Luhan. Lihatlah gerakannya! Bukankah dia adalah bayi yang menggemaskan?! Dia baru lima bulan tapi dia sungguh benar-benar bergerak aktif di dalam perutmu" Yoora berujar penuh ceria dan tersenyum pada Luhan.

Luhan yang menatap haru layar monitor itu juga mengangguk. Ia lebih erat menggenggam jemari Sehun dan membuat lelaki itu menatapnya penuh hangat.

"Sehun-ah! Lihat! Aegy uri aegy-ya!" Bisiknya kegirangan.

"Iya, Sayang. Uri aegy , dia pasti akan menjadi bayi yang lincah ketika Ia lahir nanti. " Sehun mengecup genggaman tangan mereka.

"Yoora eonnie. Bagaimana? Apa kita bisa melihat jenis kelaminnya?! Apa sudah terlihat?!. "

Yoora tersenyum dan mengangguk.

"Kalo menurut analisaku. Bayi kalian berjenis kelamin laki-laki, Lu. Tapi itu belum sepenuhnya benar , karena dia masih terlihat kecil. Mungkin ketika usianya sudah memasuki bulan ke tujuh, kita baru bisa melihatnya dengan jelas. " tutur Yoora dengan senyumnya yang mengembang. Ekspresinya jelas terlihat seperti Chanyeol –adiknya. Ini seperti melihat bayangan nyata dari seorang Park Chanyeol versi perempuan.

Luhan mengangguk antusias dan mengelus perutnya. Ia menatap Sehun dengan kikikan tawa ringan yang manis.

"Sehun, kau dengar itu?! Katanya, bayi kita laki-laki."

Sehun mengangguk dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ia membantu Luhan untuk duduk lalu turun dari ranjangnya.

Mereka duduk di kursi yang tersedia di depan meja kerja dokter Yoora. Seperti biasa, mereka akan melakukan konsultasi mengenai perkembangan dari kondisi bayi yang sedang di kandung Luhan. Dan mengambil kembali vitamin rutin yang harus selalu Luhan konsumsi setiap hari demi menjaga tumbuh kembang bayinya tetap sehat dan kuat.

.

.


The First Snow


.

.

Langit biru cerah membentang begitu luas di atas sana. Beberapa awan putih berarak bebas dan menutupi sinar matahari siang yang begitu menyengat. Angin musim panas berhembus dengan ringan, membuat banyak ilalang dan bunga-bunga yang bermekaran bergerak gemulai ke kiri dan ke kanan.

Hari ini adalah awal dari libur musim panas. Pulau seperti Jeju atau Nami Island akan di padati pengunjung yang berdatangan. Mereka mengenakan pakaian casual yang cerah khas musim panas. Jalanan yang terbentang jauh akan selalu ramai di lalui kendaraan yang melintas.

Setelah sekian lama, akhirnya Sehun bisa mendapatkan masa cutinya. Perkerjaan kantor yang menumpuk telah Ia selesaikan dan saat ini adalah waktunya untuk membayar segala rasa lelahnya itu. Ia dan Luhan sedang dalam perjalanan menuju taman bunga yang terdapat di Pulau Jeju.

Angin musim panas yang berhembus ringan membuat beberapa helai rambut coklat madu Luhan terombang-ambing. Ia sengaja membuka penuh kaca jendela mobil suaminya agar bisa senantiasa puas untuk mengagumi bagaimana cantiknya pulau Jeju ini.

Luhan tiada henti berdecak kagum dan tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari keindahan alam di luar sana. Sehun yang senantiasa berada di sebelahnya tak merasa lelah biar sudah menyetir satu jam lebih. Dengan melihat senyuman dan tawa Luhan yang begitu mempesona seolah membuatnya tak kenal apa itu kata lelah.

Sehun dan Luhan turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sehun benar-benar memanfaatkan waktu berliburnya yang sangat langkah ini dengan membawa sang istri tercinta untuk berjalan-jalan. Usia kandungan Luhan sudah menginjak sembilan bulan. Yang mana di prediksikan akan lahir satu anggota keluarga Oh yang baru itu tepat dua minggu lagi.

Sebenarnya Sehun sedang was-wasnya, takut kalau Luhan bisa saja melahirkan dalam waktu dekat. Tapi wanita kesayangannya ini terus merengek manja dan ingin berjalan-jalan ke pulau Jeju sebelum Ia melahirkan. Katanya ini adalah permintaan ngidamnya yang terakhir di masa kehamilan anak pertama mereka.

Alhasil, setelah bertanya dan meminta pendapat pada dokter Yoora. Luhan di perbolehkan untuk pergi dengan Sehun hanya dalam waktu satu atau dua hari, setelah itu Ia harus segera kembali ke Seoul. Dan, Sehun harus selalu siap siaga menjaga Luhan dengan segala tingkah hiperaktifnya.

"Sehunnie! Sehunnie! Aku mau kesana! Aku mau ke taman bunga itu!." tunjuk Luhan ceria pada hamparan padang bunga liar yang bermekaran cerah.

Bunga-bunga disana hampir di dominasi oleh warna kuning yang cantik. Senada dengan mini dress yang Luhan kenakan, yang juga berwarna kuning cerah. Ada topi bundar yang Ia kenakan di atas kepalanya. Ekspresi bahagia begitu kentara di wajahnya.

Sehun bersumpah, bahwa senyum dan tawa Luhan adalah hal paling indah di dunia yang pernah Ia temui.

"Iya, Sayang. Kita pelan-pelan saja, Ne? Aegy kita bisa terbangun dari tidurnya kalau kau terlalu bergerak lincah. Memang tidak berat membawa perut sebesar ini, heum?." Kata Sehun gemas sekaligus geli. Ia mengelus perut besar Luhan dan menepuknya pelan.

"Omo! Aegy tidak tidur, Hunnie. Buktinya Ia baru saja menendang perutku ketika kau menyentuhnya! Dan ini sama sekali tidak berat, ini ringan, sungguh." Kikik Luhan sambil tangannya yang memeluk pergelangan tangan suaminya dengan mesra.

Sehun semakin merangkul tubuhnya lebih dekat. Mereka masih menyusuri jalan setapak untuk sampai di tengah-tengah padang bunga. Kecupan sayang Ia hadiahkan di dahi Luhan yang tersenyum.

"Jangan terlalu banyak menendang, Jagoan. Mamamu bisa saja kesakitan kalau kau menendangnya terlalu bersemangat. Anak Papa ini harus banyak menurut, Ara?." Tutur Sehun kekanakan dan mengelus perut besar Luhan kembali.

"Ne, Papa~" jawab Luhan imut seolah Ia adalah sang bayi yang baru saja di beri nasihat oleh Sehun barusan.

Sehun membantu Luhan untuk duduk di bangku taman yang terletak di tengah-tengah padang bunga tersebut. Bangku panjang yang memiliki sandaran nyaman juga teduh karena bertepatan di bawah sebuah pohon rindang dengan daun hijaunya yang lebat.

Kaki Luhan menyentuh langsung dengan beberapa helaian bunga yang bergerak lincah akibat di tiup angin. Menggelitik pergelangan kakinya hingga membuat tawa kecilnya mengalun indah di pendengaran Sehun.

Sehun mengusap puncuk kepala Luhan ketika wanita itu melepaskan topi musim panasnya. Kedua tangan Luhan mengalung mesra di perut Sehun dan kepalanya bersandar nyaman di dada bidangnya.

Sehun mengambil satu tangan Luhan lalu mengecupnya penuh sayang. Kemudian, Ia mengambil dagu runcing Luhan untuk mengajak wanitanya itu bertatapan langsung dengannya.

Hening tercipta.

Tatapan dari sepasang mata rusa yang cantik. Begitu hangat dan meneduhkan. Pertama kalinya Sehun jatuh cinta kepada Luhan ketika semasa SMA dulu adalah karena Ia memiliki mata yang indah. Berkilau cerah dan bening. Yang mampu membuatnya bertekuk lutut dan mencairkan hatinya yang dingin.

Waktu itu secara tidak sengaja Sehun menabrak Luhan yang sedang kerepotan membawa buku-buku pelajaran dari perpustakaan. Luhan adalah siswi dari kelas sebelah, dan sepanjang tiga tahun masa sekolahnya Ia sama sekali tak pernah bertemu dengan Luhan. Dan, Insiden kecil itu adalah pertemuan pertama mereka.

Sehun mungkin dulu adalah brandalan yang cukup nakal dan sangat populer. Ia memiliki banyak penggemar gadis-gadis cantik yang selalu mengaguminya ketika semasa sekolah. Tapi, sejauh itu tidak ada yang bisa menarik perhatian Sehun. Laki-laki itu akan selalu menatap datar dengan tampang poker face andalannya. Begitu dingin dan menusuk, sehingga orang-orang kadang berpikir jika Sehun mungkin bukanlah pribadi yang ramah.

Namun, saat bertemu Luhan, hatinya mencair. Gadis itu punya kemurahan hati yang murni, Luhan bahkan yang meminta maaf lebih dulu padahal jelas Sehun yang menabraknya. Memberikan Sehun pandangan mata rusa memohon dengan senyuman yang sangat manis.

Sehun rapuh! Sehun lemah dengan senyum dan tatapan itu! Dan sejak saat itu, Ia terus berusaha untuk mendekati Luhan dan berubah menjadi pribadi yang lebih hangat. Hingga perjuangan Sehun tak sia-sia, Luhan menerima pernyataan cintanya setelah lelaki itu bahkan telah di tolaknya lebih dari lima belas kali.

Sehun tersenyum ketika mengingat kembali kenangan lama mereka yang begitu berarti. Ia mengecup bibir Luhan dengan lembut dan memberinya tatapan sayang.

Oh, Tuhan! Sehun begitu mencintai wanita ini sampai seumur hidupnya!

"Oh Luhan, aku sangat sangat sangaaat mencintaimu. Terimakasih kau telah ada untuk menemani hidupku." Ujarnya penuh ketulusan.

Luhan bersemu merah dan mengerjapkan matanya malu-malu. Ia tetap saja masih merasa berdebar setiap Sehun menatapnya begitu. Belum lagi ungkapan cintanya yang selalu membuat Luhan melayang.

"Oh Sehun, aku jauh lebih mencintaimu. Terimakasih juga kau telah ada di dunia ini untuk melengkapi kebahagiaanku." Balas Luhan.

"Tidak, aku lebih mencintaimu. Setiap hari, setiap jam, setiap detik yang kita lalui bersama adalah hal terindah paling membahagiakan untuk ku. Kau adalah hidupku, Luhan. Kau adalah segalanya. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu sampai Tuhan-lah yang berhak memisahkan kita."

"Benar, jangan pernah tingalkan aku. Jangan pernah membuatku kembali merasa ketakutan untuk kehilanganmu. Jangan pernah lagi, Sehun-ah. Kau harus selalu berada di sisiku." Sorot mata Luhan berubah sendu dengan genangan air mata yang berkaca-kaca. Bibirnya berkedut murung. Ia kembali teringat di mana dulu Sehun hampir meninggalkannya seorang diri. Luhan tidak ingin itu terjadi lagi. Tidak pernah ingin.

Sehun menghapus setitik air mata itu di kedua sudut mata Luhan dengan ibu jarinya. Ia membawa Luhan ke dalam pelukannya dan menenggelamkan wajah sendu istrinya dalam-dalam di dadanya.

Sehun mengusap pelan punggung sempit Luhan dan menghunjani puncuk kepalanya dengan kecupan bertubi-tubi.

Sungguh, bukan Luhan seharusnya yang takut akan kehilangannya. Tapi, Sehun yang sangat takut Luhan akan meninggalkannya. Belum lagi beberapa hari kedepan bayi mereka akan lahir. Dan, itu semakin membuat Sehun khawatir.

"Tidak akan pernah lagi, Sayang. Aku selalu bersamamu, sekarang dan selamanya. Jangan takut." Hanya itu yang bisa Sehun ungkapkan, yang membuat bibir Luhan tersenyum di balik matanya yang terpejam nyaman di dada bidangnya.

Sedangkan, mata Sehun menerawang jauh ke arah padang bunga yang luas. Memikirkan, jika Ia harus selalu siaga menjaga Luhan. Kelahiran bayi mereka yang sangat di nantikan, namun juga membuat hatinya semakin di landa kekhawatiran.

.

.


The First Snow


.

.

"Sehunnie!."

"Sebentar, Sayang."

"Akh, Sehunnie cepatlah! Lulu sudah tidak tahan mau main." Rengek Luhan seperti anak kecil. Bibirnya mengerucut dengan wajah tertekuk masam.

"Oke, oke. Tapi sebentar saja ya."

Luhan menemukan kembali senyumnya ketika Sehun sudah berada di belakangnya. Sehun cukup terengah, Ia dan Luhan sedang melakukan jalan-jalan sore di pinggiran sungai Han. Namun, ketika mata Luhan tak sengaja melihat taman kecil dengan berbagai wahana permainan juga banyaknya anak-anak disana, jiwa masa kecilnya seolah kembali muncul dan Luhan dengan cepat menuju taman itu.

Dengan perut sebesar itu, Sehun jelas di buat khawatir. Takut kalau Luhan bisa saja tersandung kakinya sendiri karena terlalu semangat berlari. Alhasil, Sehun kepalangan mengejar istrinya dan Luhan menemukan keceriaannya dengan duduk manis di bangku ayunan yang kosong.

"Sehunnie, dorong lebih kuat lagi." Pinta Luhan ketika Sehun hanya mendorong ayunannya dengan sangat pelan. Bukan tanpa alasan, Sehun takut jika istrinya itu terjatuh nanti.

Lelaki itu menggeleng ringan dan tetap mendorong Luhan dengan pelan.

"Tidak, Sayang. Cukup seperti ini saja."

"Sehunnie, Apa Lulu berat?"

"Tidak, Sayang." Dengan perut sebesar itu tentu saja berat, aku hanya menjawabnya begitu karena takut jika itu akan menyinggungmu, Luhan –lanjut Sehun geli di dalam hatinya.

"Kalau begitu, dorong lah lebih kuat lagi, Sehunnie!." Ketus Luhan sambil menatap Sehun dengan tajam.

Sehun berhenti, Ia menghembuskan nafas sabarnya dalam menghadapi sifat Luhan yang satu ini. Semenjak hamil, istrinya itu menjadi lebih sensitif dan mudah merajuk. Apapun keinginannya harus di turuti, jika Ia tak ingin melihat istrinya menangis dan merajuk padanya seharian.

Sehun mengusap puncuk kepala Luhan dan tersenyum kecil.

"Kita duduk di bangku taman itu saja, ya?." Tunjuk Sehun pada bangku kosong di bawah pohon dekat mereka.

"Tidak mau! Aku masih ingin main ayunan, Oh Sehun. Sudah lama aku tidak memainkannya." Dia kembali berubah menjadi Luhan yang biasanya. Tidak lagi dengan rengekkan menggemaskan melainkan hanya ucapan ketus yang membuat Sehun harus mengelus dadanya dengan sabar.

"Sayang. Banyak anak kecil yang bahkan ingin naik ayunan ini. Lihat lah mereka di sekitar kita yang terus melihat ke arah kita dengan tatapan murungnya." Bisik Sehun di telinga Luhan.

Luhan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dan benar saja, banyak anak kecil yang melihat ke arahnya dengan tatapan penuh minat ingin menaiki ayunan ini juga.

Ia menghembuskan nafasnya mengalah dan turun dengan enggan dari ayunan. Sehun tersenyum penuh kemenangan melihatnya. Ia langsung merangkul istrinya penuh mesra dan membawa wanita itu untuk duduk di bangku taman yang tadi mereka bicarakan.

Luhan masih mengerucutkan bibirnya walau sudah sepuluh menit mereka duduk di bangku taman itu. Sehun hanya bisa menghela nafas dan mengusap puncuk kepala Luhan.

"Jangan cemberut seperti itu, Lu. Tidak kah kau bahagia melihat wajah ceria anak-anak disana yang menaiki ayunanmu tadi? Hm?." Tutur Sehun penuh perhatian.

Luhan memeluk tubuh suaminya dan melesakkan kepalanya ke dalam dada bidang itu. Ia mengangguk ringan tapi masih dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.

"Tapi, Lulu mau ayunan, Hunnie."

"Arraseo, nanti akan kubelikan kau ayunan. Kalau perlu, kita akan membuat taman khusus di samping rumah nanti. Bukan hanya untukmu, tapi untuk anak-anak kita juga." Sehun tersenyum dan mengambil dagu runcing Luhan agar tatapan mata rusa itu bisa membalas tatapan teduhnya. Ia mengecup sekilas bibir Luhan yang mengerucut, dan terkekeh gemas sembari mencubit ringan hidung bangirnya, "Sudah jangan bersedih, Sayang. Kau tahu? Wajahmu semakin terlihat menggemaskan kalau merajuk. Aku tak tahan melihatnya! Apa kau ingin aku menggigitimu disini? Di depan anak-anak kecil itu?."

Luhan mendelik Sehun dengan tajam. Lalu menepuk dahi kebanggaan Sehun itu cukup keras hingga kepalanya sedikit terlontar ke belakang. Hingga membuat Sehun tertawa puas.

"Dasar mesum!." Ketusnya, walau sebenarnya wajah Luhan sudah merona padam karena perlakuan Sehun yang selalu membuatnya berdebar-debar.

"Tapi kau menyukainya kan, Sayang?."

"Sehuuun!."

"Baiklah, baiklah. Aku berhenti." Sehun tertawa lagi dan memeluk gemas tubuh mungil Luhan yang juga tertawa dalam dekapannya.

Selanjutnya, Sehun sibuk mengamati anak-anak kecil yang bermain riang disana. Bibirnya yang sangat jarang tersenyum itu akhirnya terangkat penuh di wajah tampannya. Melihat tawa riang dan senyuman bahagia anak-anak disana membuat Sehun semakin tidak sabar ingin segera melihat bayi mereka lahir.

Mengajaknya bermain, mengamati pertumbuhan buah hatinya, mengajarinya berjalan dan berbicara. Semua itu sungguh sangat ingin Sehun lakukan.

Sehun pikir Luhan sedang tertidur di dalam dekapannya hingga suara wanita itu bahkan senyap dan yang terdengar hanya deru nafas hangatnya. Sehun terlalu sibuk mengamati anak-anak disana sampai tidak sadar jika Luhan sudah meremas kemeja yang di kenakannya cukup kuat.

"Lu, Luhan!."

Sehun kaget, ketika Ia merunduk, Ia sudah melihat keringat dingin membanjiri wajah pias Luhan. Luhan kesulitan bernafas normal, Ia juga menggigit bibirnya kuat-kuat dengan gemetar.

"Sayang, Ada apa?! Apa yang terjadi?!." Kalut Sehun sembari menangkup wajah Luhan yang merunduk dalam-dalam.

"Aegy…" gumamnya nyaris tak terdengar, "Sehun-ah, Uri aegy. . . . Rumah sakit . . . ." lanjut Luhan dengan susah payah.

Sehun yang seolah sadar langsung menggendong Luhan dengan cepat. Beruntung mobil mereka terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk barusan. Sehun dengan cepat mendudukkan Luhan di kursi belakang dan membaringkannya disana.

"Bertahanlah, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang." Katanya dan mencium puncuk kepala Luhan ringkas. Kemudian, tanpa membuang waktu lagi Ia langsung mengendari mobilnya secepat mungkin untuk menuju rumah sakit yang dulu bahkan pernah di tinggalinya dengan Luhan beberapa bulan lalu.

.

.

"Sekali lagi, Luhan! Kepala bayinya sudah terlihat, dan kau hanya perlu mendorongnya sekali lagi, Sayang." Teriak Yoora penuh semangat walau sebenarnya Ia sangat gugup sekarang. Namun, Yoora mencoba untuk tetap mempertahankan senyumnya.

Luhan membuang nafasnya sekali, Ia sudah berusaha mendorong bayinya selama beberapa kali namun sang bayi belum kunjung keluar. Keringat dan air mata bercampur satu, dan membanjiri wajahnya yang kelelahan.

"Sayang, kau dengar kan? Kau hanya perlu mendorongnya sekali lagi, hm? Biarkanlah dunia mendengar tangis kencang putra tampan kita, ayo sayang kau pasti bisa melakukannya." Bisik Sehun di telinga Luhan dan mengecup puncuk kepalanya. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Luhan yang basah.

Luhan melirik suaminya sekilas kemudian tersenyum kecil. Ia mengangguk dan mencoba untuk kembali menarik nafas penuh. Ia membalas genggaman tangan Sehun sama eratnya. Dan mulai mendorong dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.

"EUNGGGGHH!."

Kepala Luhan terkurai lemas bersamaan dengan mengalunnya suara tangis kencang sang bayi tampan yang baru saja lahir ke dunia. Semua orang tampak menangis haru dan tersenyum lega.

"Omo! Suara tangisnya kencang sekali. Pasti dia sangat senang akhirnya bisa lahir ke dunia kemudian akan tinggal bersama Ayah dan Ibunya." Ucap Yoora kemudian memberikan Bayi tampan yang masih berlendir dan berlumuran darah itu untuk di mandikan oleh perawatnya, "Selamat, Luhan. Kau akhirnya telah resmi menjadi seorang Ibu dari seorang bayi tampan." Tutur Yoora dengan tersenyum kagum pada Luhan.

"Selamat juga untukmu, Sehun-ah. Kau tahu? Adik ku Chanyeol sedang menangis tersedu di luar karena aku tidak memperbolehkannya masuk. Dia pasti mendengar juga tangis bayi kalian tadi. Hah, untung saja Baekhyun ada bersamanya untuk menenangkan perasaan euforianya itu."

Sehun tertawa dan memeluk Luhan dengan kepala yang Ia tenggelamkan di celuk leher Luhan. Luhan tahu, suaminya ini sedang mencurahkan seluruh perasaan bahagianya dengan tangis haru yang Ia sembunyikan di bahu sempitnya.

Luhan mengelus sayang kelapa Sehun hingga ke punggungnya yang bergetar samar. Wanita itu tersenyum kemudian mencium kepala Sehun gemas.

"Chukkae, Sehun Papa." Luhan tertawa ketika balasan yang di dapatkannya adalah Sehun yang semakin memeluknya lebih erat, "Oh, aku bahkan tak pernah melihatmu menangis sebelumnya. Kau bahagia? Benar?."

"Aku bahkan lebih dari sekedar bahagia, Luhan. Kau tahu bahwa saat ini aku bahkan tak berhenti untuk bersyukur pada Tuhan karena kau dan bayi kita sama-sama selamat. Aku mencintaimu, Oh Luhan. Sangat sangat mencintaimu. Terimakasih bahkan tak cukup ku katakan untukmu. Kau hebat!" gumam Sehun dan bangkit dari pelukannya. Luhan menghapus lembut air mata yang berada di ujung kedua mata teduh suaminya, dan Sehun mengambil tangan itu kemudian menciumnya penuh perasaan cinta.

"Saranghae. Jeongmal neomu saranghae, Eomma."

"Nado, Nado saranghae, Appa."

Mereka berdua saling tersenyum dan menatap satu sama lain dengan sorot mata yang sama.

Penuh cinta, kasih sayang, dan kehangatan.

Cukup lama hanya keheningan yang tercipta sampai Sehun dan Luhan terkejut ketika pintu kamar rawat Inapnya di buka secara kasar. Dan keluarlah sosok sang sahabat dengan tangis meluruh dan senyuman konyolnya. Membuat Sehun mendengus antara malas atau geli, dan Baekhyun yang mengekor di belakang Chanyeol hanya bisa tersenyum pasrah.

"SEHUN! LUHAN! CHUKKAE!." Pekik Chanyeol.

Semalas-malasnya Sehun dengan tingkah absurd sang sahabat yang menurutnya konyol, lelaki itu tetap menyambut pelukan Chanyeol dan menepuk punggungnya sebagai ungkapan terimakasih atas ucapan selamatnya barusan.

Baekhyun menghampiri Luhan dan tersenyum simpati pada wanita itu.

"Kau harus istirahat sebentar, tubuhmu pasti sangat lelah, Lu." Ucap Baekhyun lalu beralih ke dua lelaki dewasa yang baru saja selesai melepaskan pelukan salam sahabatnya, "Kalian berdua lebih baik lanjutkan saja selebrasi persahabatan itu di luar. Luhan harus istirahat setidaknya tiga puluh menit sebelum bayinya menangis dan menagih ASI pertamanya." Lanjut Baekhyun lagi dan memandang mereka sengit.

"Oh, Sayang. Jangan terlalu galak begitu. Kau tahu anak kita mungkin bisa terganggu tidurnya jika eommanya terlalu banyak cerewet." Kata Chanyeol kemudian merangkul bahu sempit Baekhyun dengan posesif, "Bersabarlah, kita akan menyusul Sehun dan Luhan empat bulan lagi."

"Oh! Baekhyun, kau juga hamil?!." Luhan berteriak, rasa ngantuknya tiba-tiba menguap begitu saja ketika mendengar berita baik ini.

Baekhyun tersenyum malu kemudian mengangguk.

"Akhirnya kami mendapatkannya setelah satu tahun menikah. Dan, usianya sekarang sudah menginjak bulan ke lima."

Chanyeol mengelus perut Baekhyun yang terlihat sedikit menyembul di balik jas putihnya yang oversize. Dan, jas itu adalah milik Chanyeol.

"Selamat juga kalau begitu untuk kalian! Kita sangat jarang bertemu karena kesibukkan masing-masing. Tapi, aku bahagia pada akhirnya sebentar lagi putra kami akan mempunyai teman."

"Tentu, Lu. Setelah ini kita harus rajin bertemu, ne? Aku pikir, Aku akan berhenti menjadi perawat karena kehamilan ini. Chanyeol benar-benar menyuruhku menjadi Ibu rumah tangga sekarang." Baekhyun berkata dengan raut wajahnya yang tertekuk masam.

"Aku melakukannya karena tidak ingin kau kelelahan, Sayang. Sudah cukup bagimu menjadi perawat pribadiku selama tiga tahun semenjak masa pacaran kita dulu."

"Tapi, Aku pasti akan kesepian di Apartement sendirian, Yeollie."

"Jangan khawatir, kita akan pindah. Kita akan menjadi tetangga baru Sehun dan Luhan. Aku sudah membeli rumah yang bersebrangan langsung dengan rumah mereka."

"JINJJA?!" Pekik Baekhyun dan Luhan secara bersamaan.

Chanyeol tersenyum lebar dan mengangguk mantap. Yang mana itu membuat Luhan dan Baekhyun tiba-tiba juga melakukan selebrasi kecil-kecilan demi merayakan rasa euforia mereka. Membuat Sehun bahkan Chanyeol juga melongo di buatnya.

Meskipun begitu, Chanyeol dan Sehun hanya saling pandang kemudian tersenyum penuh arti. Mereka senang melihat kebahagian kecil itu. Khususnya Sehun, Ia seolah telah benar-benar bisa melepas rasa khawatirnya setelah melihat Luhan berjuang dalam maut ketika melahirkan bayi mereka tadi. Dan Sehun senang, jika Luhannya tidak akan lagi merasa kesepian di rumah jika Ia memiliki seorang teman yang benar-benar bisa Sehun andalkan.

"Permisi, Tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Ada bayi kecil disini yang sedang sangat kelaparan dan ingin menagih ASI Ibunya." Yoora datang kembali dengan membawa bayi Sehun dan Luhan yang telah bangun dari tidurnya.

Tangis bayi itu sangat kencang, tapi itu membuat semua orang yang berada disana tersenyum penuh melihatnya. Yoora memberikan bayi mungil tampan itu kepada Luhan yang langsung menggendongnya penuh kehati-hatian. Tanpa menunda waktu, Ia langsung memberikan ASI pertamanya yang keluar begitu lancar ketika mulut bayinya menyusu dengan penuh semangat.

"Oh, Dia sangat tampan dan menggemaskan! Benar-benar mewarisi wajahmu, Sehun!." Baekhyun menyentuh pelan wajah mungil bayi itu dengan jari telunjuknya, "Lihatlah hidungnya mancung, alisnya tegas, matanya juga memiliki tatapan tajam sepertimu! Tapi aku yakin bibir mungilnya yang rakus itu adalah milik Luhan." kata Baekhyun setelah menyelesaikan analisanya dalam memandangi bayi mungil ini lekat-lekat.

Luhan tersenyum dan mengusap ubun-ubun bayinya sayang. Ia juga ikut mengamati wajah mungil bayinya yang sedang sibuk menyusu dengan mata kecil terpejam nyaman.

"Sepertinya aku menyetujui ucapanmu, Baek."

"Dia bahkan memiliki kulit yang putih bersih seperti Sehun. Benar-benar mirip!" timpal Chanyeol. Sebenarnya Ia sedang memunggungi Luhan karena wanita itu sedang menyusui bayinya. Chanyeol hanya melihat bayi itu ketika Yoora sang kakak membawanya tadi.

Baekhyun bangkit dari tempat duduknya dan datang memeluk Chanyeol.

"Yeollie, Aku juga ingin bayi kita cepat-cepat lahir!."

"Sabar, Sayang. Kita hanya perlu menunggu empat bulan lagi untuk itu, hm."

Kemudian mereka berdua berpamitan untuk keluar ruangan karena Chanyeol masih memiliki beberapa pasien yang harus Ia tangani.

Sehun duduk di tempat yang di duduki Baekhyun barusan dan menatap dalam diam ketika Ia bahkan juga ikut mengamati bagaimana menggemaskannya bayi mereka yang tengah menyusu. Luhan dan Sehun saling bertemu pandang kemudian tersenyum.

Sehun mengambil pergelangan tangan Luhan, lalu menciumnya dengan mata terpejam cukup lama. Begitu banyak makna kasih dan cinta yang Ia salurkan disana. Ia tetap menggenggam tangan istrinya dan meletakkan telapak tangan halus itu di pipinya.

"Luhan, Aku sungguh mencintaimu. Aku tidak akan pernah bosan mengatakannya. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku." Satu tangan mungil mendarat pula di pipi Sehun, rupanya itu adalah tangan bayi mereka yang keluar dari kukungan hangatnya. Matanya terpejam dan bibirnya masih menyusu, tapi Ia mencoba untuk menggapai Sehun dengan sentuhan kecilnya. "Oh, jangan cemburu, Sayang. Papa juga mencintaimu, sangat." Kemudian Ia mencium pipi kemerahan anaknya dan tak lupa mencium kedua pipi Luhan yang tersenyum haru melihat tingkahnya barusan, "Untuk saat ini, kalian berdua adalah harta paling berharga yang pernah ada."

"Kau bermaksud ingin mempunyai anak lagi?." Tanya Luhan spontan.

Sehun tersenyum ambigu, lalu mengangguk.

"Tentu, Sayang. Kau tidak keberatan, bukan?."

"Tidak, hanya jika kau selalu ada bersamaku dan tak akan pernah pergi meninggalkanku. Aku akan menyetujuinya. Mungkin dua lagi?." Gurau Luhan dan tertawa tanpa suara.

"Aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang." Sehun mencium kilat bibir Luhan, dan kembali menggenggam halus pergelangan mungil jemari bayi mereka, "Kau dengar itu, tampan? Mama menyetujui kita untuk menambah dua lagi anggota baru. Kau akan menjadi jagoan kecil Papa dan Mama ketika adik-adikmu ada nanti. Berbahagialah."

Dan, balasan yang Sehun dapatkan adalah senyuman manis dari bayi mereka di tengah kegiatan menyusunya. Bayi itu seolah mengerti apa yang sang Ayah katakan padanya.

"Oh, dia begitu menggemaskan!"

"Apa Hunnie sudah mempersiapkan nama untuknya?"

"Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan satu nama untuk putra kita. Aku ingin menamainya 'Oh Haowen' ."

"Oh Haowen? Bukankah itu nama China?"

"Iya, Sayang. Kau juga memiliki keturunan China, jadi aku hanya ingin berlaku adil dengan nama bayi kita. Marga Oh sudah mewakilinya sebagai putra dari keturunan Korea, dan Haowen jelas mewakilinya sebagai laki-laki yang juga memiliki keturunan China. Bagaimana? Kau menyukainya?."

Luhan tertawa lugas dan tak menyangka jika Sehun memikirkan nama untuk bayi mereka sejauh itu. Luhan tidak masalah sebenarnya jika anak mereka akan memiliki nama khas masyarakat Korea. Tapi untuk ini, Ia sangat di buat kagum dengan pemikiran suaminya yang juga menyematkan hal-hal berbau China di nama putra mereka.

Hal itu membuat Luhan terharu, dan air mata kebahagiannya jatuh dengan suka rela.

"Aku, aku sangat suka dengan nama itu, Sehunnie." Luhan mencium pipi kemerahan Haowen, kemudian kembali menatap ke dalam mata teduh Sehun, "Terimakasih. Kau membuatku semakin merasa berharga."

"Kau lebih dari apapun, Luhan." Sehun menghapus air mata yang terjatuh di kedua pipi tirus Luhan dengan kedua ibu jarinya, "Kau lebih berharga dari apapun." Lanjutnya lagi.

Sehun memajukan wajahnya untuk mengikis jarak yang tercipta di antara Luhan dan dirinya. Ia membelai kedua sisi wajah Luhan kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibirnya yang tersenyum. Haowen hanya perlu memejamkan matanya demi menjaga pandangan kecilnya dari adegan romantis kedua orang tuanya.

Bayi kecil itu adalah saksi nyata betapa besarnya jalinan cinta dan kasih yang terjalin di antara Ayah dan Ibunya lewat ciuman mesra ini.

Kebahagianmu. Kebahagianku. Kebahagian putra kita.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

E N D

..

..


06 Maret 2018


A/N :

Selamat datang ke dunia Baby Haowen. Kesayangannya Mama Lu dan Papa Hun. Dan kesayangannya noona jugakkk \^o^/ . Oh, selamat juga ya buat Mamih Byunnie yang lagi hamil lima bulan /Uhuk.

Seneng ya, akhirnya FF ini jadi Happy Ending. Soalnya banyak juga yang Review takut aku ngasihnya SAD END wkwk. Enggak kok, kan Genrenya bukan Angst. *walau ada rada Angstnya sedikit sih* /Plak!

Suka gak sih sama FF ini? Suka kan? Soalnya aku nulis ini karena moodku yang tiba-tiba datang dan kepikiran buat bikin FF HunHan dengan tema yang ada Salju-saljunya tapi konflik sangat ringan gitu.

Semoga nanti aku bisa balik nulis lagi FF ringan kek begini ya, supaya kalian enggak ngecap aku sebagai Author jaat yang doyannya buat Readers baper terus nangis haha.

Salam cinta dari BaekbeeLu .

.

Big Love, Thanks :*