Chapter 2
.
.
OOC ALERT!
.
.
Mamori menata buku pelajarannya sambil memandangi bunga tulip di hadapannya. Dia tahu bahasa bunga tulip ini. Terlebih tulip putih, yang melambangkan permintaan maaf. Tanpa ada surat yang terikat di pita itu. Dia sudah tahu apa maksud tujuan bunga ini dikirim untuknya tadi pagi.
Dia tidak menyangka akan menerima bunga. Terlebih dari satu-satunya mantan kekasih yang pernah dimilikinya. Menjalin hubungan lima setengah tahun, membuatnya tidak bisa melupakannya, lelaki dan cinta pertamanya. Dalam hal ini, tidak ada yang kedua, semuanya masih sama, yang pertama dan masih tetap satu-satunya.
Tapi tidak. Mamori sudah mengubur semua itu dalam-dalam. Mamori masih ingat perasaan menyakitkan itu. Jika orang bilang, sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang dialami Mamori. Dia ingat seperti apa rasanya, dia harus bangkit sendiri, berani melangkah dan tidak ingin menoleh ke belakang. Mamori sudah hidup dengan kenangan dan rasa sakit itu berbulan-bulan lamanya. Jadi Mamori tidak ingin mengulangnya kembali.
"Anezaki-san," ujar seorang guru yang baru saja masuk kantor. "Ada tamu.'"
Mamori berpikir sambil melihat ke rekan gurunya. "siapa?" tanyanya heran, karena sekarang sudah jam pulang sekolah.
Rekan gurunya mengangkat bahu. "Entahlah. Suijiro-san yang memberitahuku. Mungkin orang tua murid."
"Terima kasih," balasnya sambil meletakan buku di pojok meja dan meninggalkan ruangan kantor.
Mamori berjalan dengan perasaan ragu dan bimbang. Lebih tepatnya, dia tidak yakin apa harus menuju ke ruang tunggu tamu. Karena besar kemungkinan, sudah terbenak di pikiran Mamori siapa yang yang ingin menemuinya..
Belum sampai di ruang tunggu, Mamori melihat Mamiya berjalan menuju ke arahnya. Mamori terhenti dan melambai, mengisyaratkan Mamiya untuk menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Mamiya bingung.
"Aku mau minta tolong," jawabnya. "Coba Mamiya Sensei ke ruang tunggu tamu, dan lihat orang yang ada di dalam," lanjutnya. Dia melihat wajah bingung Mamiya. "Tolong ya. Hanya melongok sebentar."
Mamiya memandangi Mamori sambil menggelengkan kepalanya heran. Dia lalu berbelok ke lorong menuju ruang tunggu. Tidak lama berselang, Mamiya kembali.
"Ada siapa? Apa laki-laki?" tanya Mamori langsung.
"Laki-laki dan perempuan. Mungkin orang tua murid," jawab Mamiya. "Kamu ini kenapa Anezaki Sensei? Apa harus sebegitunya menghindari pacarmu?"
"Aku tidak punya pacar," balasnya cepat. "Terima kasih, Mamiya Sensei," ujarnya tersenyum.
Mamiya kembali berjalan. Sementara Mamori menghela napas lega dan belok melangkah ke lorong ruang tunggu tamu. Dia membuka kenop pintunya.
"Selamat siang," sapa Mamori ramah. Namun senyum di wajah Mamori lambat laun memudar kala dia melihat siapa yang ditemuinya.
"Selamat siang," balas Kaya berdiri dan menganggukkan kepala.
Mamori melihat ke lelaki yang duduk di sofa seberangnya.
Hiruma berdiri dan berjalan melewati Mamori menghadang pintu. "Kau kembali lah ke Tokyo," ujarnya kepada sekretarisnya.
Kaya membungkuk sopan dan berjalan keluar ruangan.
Hiruma lalu menutup pintunya kembali. "Duduklah," ujarnya kepada Mamori.
Mamori melangkah ragu dan duduk di sofa. Karena jelas Hiruma sudah menghadang pintunya. Setelah memastikan Mamori duduk, Hiruma lalu kembali ke tempatnya. Mereka duduk berhadapan. Hiruma hanya memandangi Mamori, sementara Mamori yang bingung, tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Beberapa puluh detik berselang, Mamori tidak tahan dengan keheningan mereka, ditambah Hiruma yang hanya terus memandanginya.
"Ada... Perlu apa?" tanya Mamori, membuka pembicaraan.
"Aku ingin menemuimu," jawab Hiruma santai.
Mamori melihat beberapa saat ke Hiruma, kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Dia menghela napas. "Aku tahu kau ingin menemuiku. Tapi untuk apa?" balasnya kesal sekaligus tidak tahan dengan situasi seperti ini.
"Kau memanjangkan rambutmu," ujar Hiruma, yang memang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Mamori.
"Apa itu penting untukmu?" balas Mamori yang entah kenapa bingung dengan pernyataan Hiruma yang tak masuk akal di situasi seperti ini.
Hiruma tersenyum menyebalkan. Dan Mamori tambah kesal dibuatnya.
"Kalau tidak ada yang ingin kamu katakan lagi, aku permisi." Mamori lalu bangun dari duduknya dan hendak membuka pintu.
"Apa besok aku bisa menemuimu lagi?" tanya Hiruma menghentikan langkah Mamori.
"Terserah," balas Mamori membuka pintu dan menutupnya kembali meninggalkan Hiruma.
.
.
Jam kerja Mamori sudah selesai dan dia sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemennya. Mamori melangkahkan kakinya dengan resah, seakan ada seseorang yang mengikutinya. Tapi dia memang tahu dirinya sedang diikuti, karena Hiruma jelas-jelas berjalan di belakangnya.
Mamori menghentikan langkahnya, mengatur napasnya yang sudah mulai kesal. Dia lalu berbalik dan menatap kesal ke Hiruma, yang juga menghentikan langkahnya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya ketus.
"Ikut denganmu," jawab Hiruma terang-terangan.
"Apa kamu tidak ada tempat tujuan lain? Kenapa ikut denganku."
"Aku tidak terlalu paham daerah sini," jawabnya santai.
"Kau pikir itu masuk akal!? Kamu punya mobil dan kamu bisa sampai ke sekolahku tanpa masalah."
Hiruma terdiam dan hanya mendengarkan Mamori. Dia lalu menyinggungkan senyuman. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar suara marahmu."
Mamori menatap tidak percaya. "Aku tidak peduli," kesalnya. "Di depan ada kantor polisi. Kalau kamu masih mengikutiku, aku akan kesana dan bilang kalau kamu itu penguntit."
"Keh. Aku akan berhenti. Aku akan menemuimu besok," ujar Hiruma dan berbalik arah menuju ke sekolah untuk mengambil mobilnya.
Mamori menarik napas lega dan melihat punggung Hiruma yang pergi menjauh.
.
.
Mamori menutup pintu apartemennya. Dengan lemas dia berjalan melewati lorong dapur menuju sofa santainya. Dia meletakkan tas di atas meja dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Dia menyandarkan kepalanya dengan santai dan memejamkan matanya.
Dirinya merasa lelah. Pertemuan yang tidak lebih dari lima belas menit dengan Hiruma, terasa seperti selamanya. Satu setengah tahun lebih dia membenahi dirinya, sekarang seperti tidak ada gunanya. Mamori memegangi dadanya, menahan rasa sakit yang sedari tadi dia rasakan.
Bagaimana orang itu bisa baik-baik saja. Kenapa hanya dirinya lah yang menderita. Kenapa orang itu kembali lagi ke kehidupannya.
Perlahan air mata jatuh dari ujung matanya. Mamori benci jadi orang lemah. Orang bilang, jangan meminta orang lain menggenggam kebahagiaanmu, karena dia akan dengan mudah melepaskannya. Ya, sekarang Mamori tahu. Sudah hampir lima tahun, Hiruma memegang kebahagiaannya. Dan dia pula yang melepaskannya.
Harusnya dengan alasan itu saja, Mamori bisa membenci Hiruma. Karena dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, diacuhkan, dan tidak diinginkan. Saat itu dia bahkan membenci dirinya sendiri. Mamori menyalahkan diri sendiri atas dirinya yang terlalu mencintai Hiruma. Dia ingat bagaimana dia dulu berusaha keras menemui Hiruma yang menghindarinya dan meminta Hiruma untuk tidak meninggalkannya. Mamori bahkan mengiba kepada lelaki itu.
Sekarang laki-laki itu datang kepadanya. Entah apa yang dia inginkan. Tapi jika dia ingin mengambil hati Mamori lagi. Dia harus membayar apa yang telah dilalui Mamori.
.
.
Hiruma tiba di apartemen yang dia sewa untuk sebulan. Hiruma tidak perlu repot-repot, karena sekretarisnya sudah mengurus semua keperluan dengan mencarikan apartemen yang sudah lengkap dengan perabotannya. Hiruma menarik kopernya ke dekat lemari. Dia lalu merebahkan dirinya ke kasur. Tak lama kemudian, ponsel bergetar dari saku mantel hitamnya.
"Apa apa, heh?" tanya Hiruma langsung tanpa menyapanya.
"Kau kemana? Aku ke kantormu, tapi resepsionis bilang kau pergi bersama sekretarismu," jawab Musashi.
"Aku di Aichi," jawab Hiruma langsung.
"Aichi?" ulang Musashi. "Ke tempat... Anezaki?" lanjutnya ragu.
"Hm"
"Apa dia masih mau menemuimu? Kalau aku jadi dia aku sudah mengusirmu jauh-jauh."
"Tidak perlu memperjelasnya Pak Tua. Dia memang sudah melakukannya," ketus Hiruma.
"Baguslah. Dia memang seharusnya begitu."
"Kau ini sebenarnya mendukung siapa, heh?"
"Memangnya dari awal aku bilang aku mendukungmu?"
"Sialan!" umpatnya. "Sekarang katakan apa maumu?"
"Aku mau meminjam motor lamamu," jawab Musashi. "Dimana kuncinya?"
"Ada di apartemenku. Minta saja kunci cadangannya pada petugas. Aku akan meneleponnya nanti."
"Oke," sahutnya. "Ah sebentar...," tahannya. "Kau serius datang menemui Anezaki?"
"Kau pikir aku bercanda, heh?"
"Bukan begitu...," balas Musashi. "Hanya saja... Apa yang kau lakukan untuk mendapatkannya kembali?"
"Cara apapun akan aku lakukan," jawab Hiruma.
Musashi menghela napas. "Aku harap kau tidak pakai ancaman."
Hiruma terdiam berpikir sesaat. "Menurutmu... apa yang harus aku lakukan?"
"Aku rasa kau harus minta maaf dulu," jawab Musashi. "Apa kau sudah mengatakannya?"
Hiruma tidak menjawab.
"Sudah kuduga kau belum minta maaf padanya," lanjutnya. "Dengar. Dari semua yang pernah kau ceritakan dulu padaku, kau banyak salah padanya. Dan sudah pasti dia tidak akan memaafkanmu. Jadi karena kau sudah tahu telah berbuat salah, Hiruma. Lebih baik minta maaf padanya."
"Sudah," jawab Hiruma singkat.
"Sudah? Bagaimana?" balas Musashi tidak yakin.
"Intinya sudah."
"Oke... Kalau sudah, apa itu dari mulutmu langsung? Tidak kan?" oceh Musashi lagi. "Jadi Hiruma, minta maaflah secara langsung di hadapannya."
"Aku rasa kau lebih cocok menjadi penasehat daripada tukang reparasi," ledek Hiruma.
"Tapi aku tidak seratus persen yakin dia akan menerimamu kembali. Tapi setidaknya, berusahalah. Aku lebih suka kau yang dulu saat bersamanya. Terurus dan bicaramu tidak terlalu kasar. Dibanding sekarang."
"Keh. Apa ada lagi yang ingin kau katakan, heh?"
"Tidak ada," jawab Musashi.
"Ya sudah. Tutup teleponnya. Aku mau istirahat."
.
.
Mamori bangun dengan wajah yang tampak lelah. Rambut acak-acakan dan mata yang kemerahan. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Mamori melihat ke jendela yang masih tertutup gorden. Dia lalu beralih ke jam weker di atas meja. Sudah jam delapan. Sudah waktunya dia bangun dan berbenah kamarnya.
Hari ini dia dapat jatah libur mingguannya. Setiap hari rabu dia menggunakan waktunya untuk mencuci, membereskan kamarnya, dan berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Dua jam terlewati, Mamori telah selesai melakukan pekerjaan rumahnya. Setelah dia membersihkan dirinya, Mamori beranjak untuk ke supermarket terdekat.
Tidak sampai sepuluh menit Mamori tiba di supermarket. Mamori berjalan santai masuk ke dalam supermarket. Dia mengambil troli dan langsung menuju ke area bahan-bahan makanan. Dia melihat-lihat dengan santai barang-barang yang ingin dia beli. Mulai dari bumbu masakan, sosis, daging, ikan, dan sayuran. Mamori dengan teliti memilih bahan makanan mentah dengan melihat tanggal kadaluarsanya. Karena Mamori akan menyimpannya di kulkas untuk persediaan memasak selama seminggu. Tidak lupa juga dia membeli beberapa botol yogurt dan ramen.
"Tidak biasanya kau beli ramen," ujar seseorang.
Mamori langsung menoleh mengenali suara itu. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Menemanimu," jawab Hiruma.
"Aku tidak ingat pernah meminta seseorang menemaniku," balasnya melanjutkan mendorong trolinya.
Hiruma berjalan beriringan dengan Mamori.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Hiruma mengangkat bahu. "Cuma kau satu-satunya yang kukenal disini."
Mamori menghela napas. Dipikirkan bagaimana pun, itu bukanlah jawaban yang tepat. Dan sekarang Mamori tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Kau... Menerima kirimannya kemarin?" tanya Hiruma ragu.
"Kiriman apa?" tanya Mamori, pura-pura tidak tahu.
"Kiriman itu..." ujarnya lagi, lalu melihat Mamori menaikan bahunya. "Yang bunga tulip itu."
"Ooh.. Bunga itu. Memang itu darimu?"
"Tentu saja. Kau pikir dari siapa!?"
"Yah... Karena kupikir dari orang lain."
Hiruma terdiam lagi sambil mengikuti Mamori yang memilih barang.
"Kau membacanya?" tanya Hiruma. Dia tidak mendengar Mamori menjawabnya. "Jadi kau memaafkanku?"
"Jangan kira aku mau bicara denganmu sama artinya dengan aku memaafkanmu," sahut Mamori melengos tidak peduli sambil menaruh barang ke troli dan kembali berjalan.
"Tunggu," sahut Hiruma sambil menarik pergelangan tangan Mamori dan membuat Mamori berdiri menghadapnya. "Aku tahu aku salah dan kau tidak mungkin memaafkanku. Tapi akan aku lakukan apapun agar kau memaafkanku."
Mamori menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hiruma. Terlebih dia mengatakannya disini, di supermarket ini. "Kau pikir semudah itu? Kau tahu, Ini bukan tentang kau yang merasa bersalah atau aku yang tidak mau memaafkanmu," ujar Mamori, berusaha untuk tidak menaikan suaranya sambil mengatur emosinya. "Kau tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Kau tidak tahu apa yang sudah kulalui sejak kejadian itu. Dan sekarang kau minta maaf?" Mamori menggelengkan kepalanya sambil mengibas genggaman tangan Hiruma. "Jangan mengikutiku."
Mamori berjalan dengan tegar. Dia berusaha tidak menangis karena mengeluarkan semua yang dipendamnya.
.
.
Lagi-lagi Mamori harus menghentikan langkahnya saat menyusuri jalan menuju apaertemennya. Tapi Mamori tidak menoleh. Dia hanya berhenti dengan menghentakan langkahnya dan menghela napas kesal. Dia memang paham betul, kalau Hiruma tidak mungkin menuruti perkataannya walau sedikit saja.
Sementara Hiruma, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Karena tujuan dia kesini memang untuk mendapatkan Mamori lagi. Tapi wanita itu tidak mau menerimanya, dan Hiruma bahkan membuatnya tambah kesal.
Mamori hanya berjalan dua langkah di depannya. Dia tahu, diam Mamori sama artinya dengan marahnya. Hiruma menyadari seberapa dalam luka yang dia toreh. Seberapa sakit yang Mamori rasakan akibat perbuatannya. Tapi Hiruma hanya ingin mereka kembali seperti dulu.
"Ada yang ingin aku katakan," sahut Hiruma.
Mamori tetap melanjutkan langkahnya dan mengacuhkannya.
"Kau cukup mendengarkan saja," lanjut Hiruma lagi. Hiruma lalu menarik napasnya. "Aku tidak pernah menganggap kau bukan pacarku lagi. Aku memang meninggalkanmu, dan aku sadar itu perbuatan paling bodoh yang pernah kulakukan." Hiruma terdiam sambil memandang punggung Mamori. "Tapi bagiku, kau tetap milikku. Dulu, sekarang, dan seterusnya. Selamanya. Tidak pernah berubah."
Mamori menghentikan langkahnya, membuat Hiruma juga berhenti melangkah. Dia tidak berbalik dan tetap memandang ke depan. "Tapi kamu sendiri yang bilang kamu tidak bisa bersamaku dan kita tidak akan berhasil," balas Mamori.
"Tapi aku juga pernah bilang, kalau aku juga tidak bisa kalau tidak bersamamu," sambung Hiruma.
Hembusan angin bertiup di jalan yang mereka lewati di pinggir jalan raya.
"Tapi kamu memilih meninggalkanku, Youichi," ucap Mamori, meneteskan air mata dari ujung matanya, mengingat kenangan dulu.
"Karena itu maafkan aku," ujar Hiruma, kembali melangkah dan sekarang dia berhadapan dengan Mamori. "Aku tahu aku salah dan aku tidak akan bisa memperbaikinya."
Hiruma menggenggam tangan Mamori yang bebas. Dengan tangan yang satunya, Hiruma menghapus air mata yang menetes di pipi Mamori. Hiruma kemudian mendekat dan merengkuh Mamori sambil mengusap kepalanya. Hiruma terbiasa. Dia terbiasa memeluk Mamori jika melihatnya menangis seperti ini. Dan pasti dirinya lah penyebab semua dari tangisannya.
"Aku merindukanmu, Mamori. Aku seperti mati setiap hari karena tidak bisa melihatmu," lirihnya di telinga Mamori kemudian mengecup kepalanya.
Mamori melepaskan pelukan Hiruma dan mengusap air matanya lagi sambil mengatur napasnya. Dia lalu melihat ke Hiruma, memandangi matanya dalam-dalam.
"Tapi kau masih hidup," sahut Mamori.
"Aku bilang seperti," balas Hiruma.
"Tapi kau baik-baik saja."
"Aku tidak baik-baik saja," balas Hiruma lagi. "Aku seperti orang gila. Gila karena ingin memelukmu, Gila karena ingin menci-," ucapan Hiruma terhenti dengan tangan Mamori yang menutup mulutnya.
"Sudah cukup kamu mengatakannya," sela Mamori karena malu mendengarnya dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Hiruma menyamakan langkah mereka dan mengambil alih kantung belanjaannya. "Biar aku saja," sahutnya.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan kecil :
Wahh... Ternyata feedback fict ini tidak terlalu bagus. Biasanya setiap saya upload cerita / chapter baru, dalam seminggu sudah ada 100 lebih viewers yang membuka cerita saya. Tapi fict ini, walau sudah dua minggu lewat di upload. Belum mencapai 100.
Okay ga papa... Saya pantang kecewa. Yang penting masih ada pembaca yang terhibur, me-review, favorite dan follow. Terima kasih untuk kalian yang tetap setia~
Ditunggu review-nya lagi yaaa
Salam : De
