SM own Twilight


Chapter 1

Introduction

Panas matahari serasa membakar kulitku, oh tunggu, tidak ada matahari di Forks, Washington—kota di US yang selalu ditutupi awan—bahkan kau bisa mendapatkan sinar matahari redup saja itu sudah beruntung.

Selama hampir tujuh belas tahun aku hidup disini bersama kedua orang tuaku, Charlie dan Renée Swan. Well, tidak juga, kedua orang tuaku sempat berpisah karena Renée ingin sesuatu yang baru—ingin melebarkan sayapnya dia bilang—tapi tidak sampai satu tahun Renée kembali dan akhirnya merekapun rujuk.

Charlie adalah Chief polisi di Forks. Pekerjaannya tidak terlalu menantang kau tahu, kota kecil. Kasus terparah adalah kasus transaksi narkoba disebuah rumah kosong hampir di tengah hutan. Tapi pelakunya bukanlah warga kota ini, kota ini hanya dijadikan tempat transaksi. Terakhir aku dengar, rumah itu sedang direnovasi karena akan ada keluarga yang pindah kemari. Itu hampir enam bulan yang lalu.

Renée, well sebelum dia memutuskan untuk pergi, dia adalah seorang guru taman kanak – kanak. Sekarang dia memilih untuk membuka sendiri tempat penitipan anak-Swan's Childrens-dan dia terlihat cukup senang dengan hal itu. Kadang aku ikut membantunya—bermain dengan anak – anak, membaca dongeng—meski anak kecil kadang membuatku merasa terintimidasi, tapi semua itu menyenangkan.

Sekolahku…bisa dibilang tidak ada yang terlalu menarik. Kami sudah saling mengenal sejak taman kanak – kanak. Jadi kami tahu bagaimana dulu saat kami tidak bisa membuang ingus sendiri sampai perubahan fisik kami. Mungkin karena itulah tidak ada yang melirikku. Sebenarnya ada, tapi saat itu aku masih tidak tertarik.

"Bella!"

Aku menengok dari dalam truck pick up ku. Angela—satu – satunya sahabatku dari kecil—melambaikan tangannya dengan antusias ke arahku. Aku tersenyum padanya sebelum keluar dari truck ku dan berjalan menghampirinya.

"Whats up, Ang?" Tanyaku saat kulihat ekspresinya yang begitu bersemangat.

Angela adalah anak dari satu – satunya pastur disini. Rambut cokelatnya sama sepertiku, hanya saja rambutnya lurus dan dia juga mengenakan kaca mata. Oh dan dia lebih tinggi dariku yang hanya 5,4 kaki, tentu saja.

Meraih lenganku ia berkata, "Apa kau tahu kalau akan ada anak – anak baru yang pindah kemari?"

"Huh?" Jawabku cerdas.

"Bella! Ini berita besar." Angela mengendus.

"Sejak kapan kau jadi Jessica dua, Ang?" Tanyaku.

"Huft." Ang menekuk wajahnya. "Aku hanya ingin berbagi kabar denganmu." Jawabnya sambil berjalan menuju ruang kelas pertama kami.

Berjalan disampingnya aku tersenyum. "Tentu, Ang."

"Bagaimana tugas Biologi mu?" Tanya Angela saat kami tiba di ruang kelas kami untuk dua jam pertama.

"Progressing. Bagaimana denganmu?"

"Ugh, aku mencoba untuk selalu menolerir Jessica tapi kesabaranku semakan menipis."

Aku tertawa mendengar keluhannya. Angela adalah orang yang jarang mengeluh, jadi kalau sampai dia mengeluh itu artinya Jessica sudah membuatnya kesal.

"Bukannya lebih mudah karena kau punya partner? Bisa dua kali lebih cepat dibanding aku yang hanya sendirian."

"Benar, kalau partnerku adalah kau. Kau kan cerdas." Angela menganggukkan kepalanya ke arah Jessica. "Kalau kau satu grup dengan dia pun kau akan keteteran."

Aku berusaha menahan tawaku saat Jessica melirik ke arah kami. Untung Mr. Varner langsung memulai pelajarannya sebelum Jessica bisa bercerita tentang gosip terbaru hari ini.

~oLHo~

"Mom, i'm home!"

"Didapur, sayang." Jawab Renée.

"Hey, mom, aromanya lezat sekali." Kukecup pipi Ibuku sebelum aku mengambil Jus di dalam lemari es.

"Spaghetti kesukaan ayahmu." Renée menunjukkan spaghetti yang sudah tersedia dipiring, menanti saus pelengkapnya.

"Ada hal spesial apa?" Tanyaku, karena kau tahu, jika Ibuku membuat makanan spesial pasti ada alasan dibaliknya.

"Memangnya tidak boleh membuat makanan kesukaan Ayahmu tanpa harus ada sesuatu yang spesial?" Alasan yang bagus, Mom.

Kunaikkan alisku. "Alright, Mom, whatever you say."

Ibuku tersenyum. "Sudah sana mandi dulu, selesai mandi pasti makan malam sudah siap. Tepat saat Ayahmu pulang."

"Mom yakin tidak ada yang bisa ku bantu?" Aku bertanya memastikan.

"Everythings under control, honey."

"Okay then."

Satu hal yang sangat menjengkelkan, aku tidak punya kamar mandi sendiri.

Charlie pulang tidak lama setelah aku turun. Dan rutinitas makan malam kamipun dimulai. Seperti biasa, kebanyakan yang bercerita adalah Ibuku. Selalu ada hal yang baru di Swan's Childrens. Dunia anak - anak memang selalu terlihat baru.

Saat tidak ada kegiatan yang berurusan dengan sekolah, aku sering pergi kesana. Membantu Ibuku mengurus anak - anak. Hal yang paling aku sukai adalah saat aku membacakan cerita untuk mereka. Ekspresi yang terlihat di raut wajah mereka benar - benar mengagumkan.

"Kau tahu rumah yang ada di tengah hutan itu?" Charlie berbicara setelah Renée selesai bercerita tentang pengalamannya hari ini.

"Maksudnya rumah yang beberapa bulan lalu jadi sarang perdagangan narkoba?" Tanyaku memastikan.

"Ya."

"Ada apa dengan rumah itu?" Kali ini Renée yang bertanya. "Terakhir ku dengar rumah itu sedang di renovasi, apa sudah jadi?"

"Ya, rumah itu sudah selesai di renovasi beberapa minggu yang lalu."

"Jadi akan ada warga baru disini?" Renée bertanya dengan penuh semangat. Kau tahu? Warga baru adalah sesuatu yang jarang terjadi disini.

"Aku baru saja membantu mengurusi kepindahan mereka."

"Benarkah? Aku baru dengar tadi di sekolah kalau akan ada anak - anak baru."

"Kota kecil, ingat?" Charlie berkedip padaku.

"Yeah."

"Jadi, siapa keluarga ini?" Tanya Renée. Kedua tangannya berada di atas meja dan dagunya diletakkan diatas punggung tangannya.

Charlie menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Keluarga Cullen." Sejenak, kedua mata orang tuaku bertemu, ada sesuatu yang aneh disana.

"Oh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Ibuku.

Kupandang mereka, bertanya dengan tatapan mataku. Berharap salah satu dari mereka menjelaskan. Tapi tanpa hasil. Jadi kuputuskan untuk menyuarakan pertanyaanku.

"Ada apa dengan keluarga Cullen?" Kedua pasang mata langsung tertuju kearahku.

"A..apa maksudmu, Bella?" Renée bertanya padaku setelah keterkejutannya berlalu.

"Well, kalian terlihat aneh saat nama keluarga Cullen disebut." Aku menyendok spaghettiku lagi, mengunyahnya sebelum melanjutkan perkataanku. "Mereka bukan keluarga yang aneh - aneh, kan?"

"Apa maksudmu, 'aneh - aneh', Bells?" Uh oh, suara polisi ayahku keluar.

"Maksudku, tidak yang..." aku bingung bagaimana harus menjelaskannya. "Kau tahu apa maksudku, Dad."

"Tidak, aku tidak tahu."

Aku berpaling ke arah Renée. "Mom..."

"Aku juga tidak tahu apa maksudmu, Bella. Coba jelaskan pada kami."

Huft. "Baiklah, maksudku itu, secara kasar, mereka tidak akan berbuat macam - macam kan? Seperti...entahlah, mengganggu ketenangan warga sini?" aku menarik nafas panjang, rasanya seperti baru lari seratus kilo meter saja.

"Bells, aku pastikan bahwa keluarga Cullen adalah keluarga yang baik. Mereka orang terpandang, meski tidak ada hubungan darah, mereka..."

"Wait, wait, wait." Aku memotong omongan ayahku. "Apa maksudnya tidak ada hubungan darah?" Aku mendengar ayahku mengucapkan kalimat kutukan tapi terlalu pelan jadi aku tidak terlalu yakin. "Well?"

Kedua bahu Charlie turun, salah satu ciri dia menyerah. "Keluarga Cullen hanya memiliki satu anak. Sedang keempat anak lainnya adalah hasil adopsi."

"Jadi Mr. Cullen.."

"Dokter." Ayahku menyela.

Oh-kay. "Jadi Dr. Cullen ini hanya memiliki satu anak kandung dan anak adopsi?"

"Ada yang di adopsi, ada yang hanya dirawat."

"Berapa anak tepatnya yang mereka adopsi?" Tanyaku semakin penasaran.

"Empat."

Kupandang kedua orang tuaku bergantian. "Dan ke empat, tidak kelima anak ini..."

"Seumuran denganmu. Dan ada yang lebih tua satu atau dua tahun."

Aku melongo mendengar jawab dari Charlie. Lima anak remaja dalam satu rumah. Wow, itu pasti sangat...menantang. Dengan kata lain, menggilakan. Mungkin karena aku terbiasa sendiri, kau tahu, anak tunggal dan sebagainya itu.

"Oh, wow." Ini memang berita besar. Pantas Jessica terlihat begitu bersemangat. "Pasti sangat...ramai dirumah mereka."

"Bells.." Ayahku memulai tapi aku memotongnya.

"I know, Dad, aku tidak akan memberitahu siapapun. Jangan khawatir."

Bisa kurasakan Charlie menghela nafas lega sementara Renée masih terdiam.

"Dan satu lagi." Aku melihat ke arah Ayahku, menunggu. "Satu teman baru untuk mereka tidak akan merugikan saat mereka berada di tempat baru. Aku yakin mereka akan menghargainya."

"We'll see, Dad."

Hening beberapa detik yang terasa begitu lama.

"Alright, ada yang mau pie apel?" Tanya Renée, dia berdiri dan mengambil pie apelnya sebelum kami sempat menjawab.

~oLHo~

"Morning, Ang." Sapaku saat aku duduk disebelah Angela di bangku taman sekolah. Cuaca hari ini cukup bagus. Mendung, tapi paling tidak hujan belum turun.

"Hei, Bella." Angela yang sedari tadi sedang mengamati Ben-cowok yang dia suka tapi tidak berani untuk mengatakannya-berpaling ke arahku, tersenyum. Dan tiba - tiba matanya memandang jauh ke belakangku. "Uh oh."

"Bella! Angela! Ohmygod, apa kalian sudah dengar?" Tanya Jessica dengan nada antusiasnya. Dia berhenti, mengambil nafas dan berdiri tepat di depan kami.

"What?" Tanyaku.

"Mygod, Bella, apa yang kau tahu." Ejek Jessica, memutar bola matanya dia berpaling ke arah Angela, seolah berharap Angela bisa menjawabnya. "You guys suck." Jessica mengeluh sebelum semangatnya kembali lagi. "Alright, nampaknya aku harus menjelaskannya pada kalian dari awal."

"Oh-kay?" Jawabanku terlontar seperti pertanyaan.

"So, kalian dengar, kan tentang gosip kalau akan ada anak baru?" jessica melihat kami secara bergantian saat kami mengangguk. "Well, it's true. Mereka hari ini akan masuk sekolah!" Jessica berteriak saking semangatnya.

Aku tahu soal itu semua, bahkan lebih dari yang kau tahu, Jess. Tapi untuk kapan mereka akan memulai sekolah aku memang baru tahu.

"That's great." Kata Angela. "Paling tidak akan ada wajah - wajah baru disini."

"Um hm." Aku menimpali.

Sekali lagi Jessica memutar bola matanya. "Mereka itu ada lima orang, tiga laki - laki dan dua perempuan." Ia berhenti sebentar untuk mengambil nafas. "Yang ku tahu mereka tidak mempunyai hubungan darah. Hanya satu anak yang merupakan anak kandung dari Dr. Cullen."

Huh?

"Oh," Jessica menepuk jidatnya. " aku belum memberitahu nama mereka pada kalian?" Sebelum kami sempat menjawab Jessica masih meneruskan omongannya. "Mereka adalah keluarga Cullen. Mr. Cullen adalah seorang dokter, kudengar dia akan memulai prakter di Forks Hospital. Mrs. Cullen seorang desain interior. Bisa kau bayangkan? Saat anaknya menikah nanti tidak perlu repot - repot mencarii desainer untuk tempat pernikahan mereka. Lalu..."

Jessica masih terus berbicara tapi aku sudah kehilangan konsentrasi. Bagaimana bisa dia tahu semua itu? Oh, well, kau tidak bisa disebut ratu gosip kalau kau tidak tahu segalanya. Apa dia juga tahu siapa nama anak - anak itu? Mungkin bahkan dia sudah melihat wajah mereka.

Kenapa perasaanku jadi tidak enak saat memikirkan kalau Jessica sudah pernah melihat wajah mereka?

"Och." Aku kembali lagi ke bumi saat siku Angela mengenai rusukku.

"Kau melayang." Angela menggoda. "Apa yang kau pikirkan?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak ada." Lalu aku menghadap ke depan untuk mencari Jessica tapi dia sudah tidak ada. "Dimana Jessica?"

"Tidak memikirkan apa - apa, tentu saja." Aku hanya tersenyum, lalu Angela melanjutkan. "Jessica sudah masuk duluan, Lauren tadi memanggilnya."

"Oh."

"Ayo kita juga masuk, sebelum bel berbunyi." Tepat saat itu bel masuk berbunyi.

"Tepat sekali." Aku mulai bangkit dari bangku, menyusul Angela yang sudah berdiri lebih dulu. "Kau sekarang sudah menjadi paranormal atau apa?" Ledekku.

"Yang benar saja."

Kami berjalan perlahan menuju gedung biologi-gedungnya tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk tadi jadi tidak perlu terburu - buru-pelajaran pertama kami. Untung aku sekelas dengan Angela, meski kami tidak satu meja. Dia duduk dengan Jessica, makanya dia menjadi partner Angela. Sedang aku, aku duduk sendiri.

Aku jadi berpikir apakah salah satu anak baru itu akan ada di kelasku. Mungkin lebih dari satu? Paling tidak aku bisa melihat salah satu dari mereka. Tapi jessica juga ada di kelas ini jadi..stop! Apa yang kau pikirkan, Bella? Sejak kapan kau peduli pada hal macam itu?

Ingin rasanya aku menendang diriku sendiri. Bukan karena aku tidak tertarik pada lawan jenis, jangan salah. Tapi memang selama ini aku tidak tertarik dengan para "pria" yang ada disini. Terlebih lagi anak dari teman ayahku. Ya Tuhan...dia lebih muda dariku tapi pikirannya sudah melebihi anak seusianya.

Kau tahu apa yang dia minta dariku saat Charlie mengajakku untuk menemaninya memancing dengan temannya-Billy Black-itu? Ciuman, jacob Black, anak dari Mr. Billy Black yang baru berusia empat belas tahun-empat belas tahunpun masih belum genap-memintaku untuk menciumnya dibibir agar dia bisa melatih kissing skillku.

What the hell?!

Tentu saja aku menolaknya mentah - mentah. Well, tidak hanya itu sebenarnya, karena saking kaget dan marahnya, aku mendorognya dari perahu sambil mengatakan 'bahkan jika laki - laki di dunia ini tinggal kau saja, aku tiak akan pernah menciummu'.

Charlie tidak tahu akan hal itu, dia hanya bertanya apa yang terjadi saat dia dan Billy melihat Jacob masuk ke sungai. Aku bilang saja kalau jacob tidak jadi memasang cacing yang ada di kailnya untuk memancing karena dia sayang pada cacing itu.

Aneh dan memalukan memang, tapi paling tidak bukan aku yang malu. Lagipula kalau aku memberitahu Charlie kejadian sesungguhnya kenapa Jacob bisa masuk ke dalam sungai pasti dia tidak akan menolong Jacob. Aku tidak setega itu. Bahkan pada orang yang amat sangat menjengkelkan sekalipun.

Saat kami masuk ke ruangan sedang mempersiapkan LCD. Great, hari ini saatnya menonton film. Saat lampu sudah dimatikan dan kami bersiap untuk memulai filmnya, aku tidak tahu kalau ada seseorang yang baru masuk, tidak tahu ada seseorang yang sedang berjalan kearahku dan tidak tahu saat seseorang itu duduk di sebelahku.

Yang aku tahu saat pensilku terjatuh dan aku membungkuk untuk mengambilnya, aku terkejut saat mukaku berada di pangkuan seseorang. Well, tepatnya hampir berada tepat diatas pangkuan seseorang. Dan seseorang itu langsung bicara dengan lantang dan jelas.

"Thanks, but i don't need nor want a BJ from you."

What the... "Och!" Saking terkejutnya aku berusaha untuk langsung duduk tegak dan akibatnya kepalaku terbentur meja. Kuusap kepalaku tapi rasa sakitnya tidak begitu terasa dibandingkan dengan kemarahanku. "What did you just say?!"

Tiba - tiba lampu diruangan menyala dan semua mata tertuju pada kami. Bahkan Mr. Vanner melongo melihat kami. Did they...? Oh crap!

"Mr. Cullen! Miss. Swan!" Suara teguran Mr. Vanner membuatku sedikit terlonjak dari kursiku. "Ada yang ingin kalian bagi dengan kelas?"

Lalu mulai terdengar suara dengungan anak - anak, tidak diragukan lagi sedang membahas apa yang barusan terjadi. Muka ku memerah, bahkan mungkin sudah terlihat seperti tomat busuk. Aku bisa merasakan panasnya sampai ke ujung kaki.

Dan apakah Mr. Vanner baru saja memanggil namaku dan nama Cullen? Oh, hebat, hari pertama anak baru masuk dan aku sudah dibuat malu. Dan tentu saja, ternyata tidak semua anak baru menyenangkan.

"No, Mr. Vanner." Jawabku.

Mr. Vanner masih terus memandang kearah kami. Seoalah tidak percaya dengan jawabanku. Tapi memang benar tidak ada apa - apa, dan tidak akan pernah ada apa - apa antara aku dan Mr. Cullen ini. Tidak peduli siapa dia, hal itu tidak akan pernah terjadi di dunia ini.

Mr. Vanner kembali mematikan lampu dan memulai film nya. Dan selama hampir dua jam aku duduk diam di kursiku, memandang lurus ke depan, sama sekali tidak mempedulikan orang yang duduk disampingku. Bahkan aku belum sempat melihat wajahnya. Tapi itu tidak penting. Anak menyebalkan ini tidak penting.

Saat kelas berakhir, aku bergegas membereskan buku ku. Berharap segera menyingkir dari tempat ini. Tapi aku adalah aku, dan aku tidak seberuntung itu. Tepat saat aku berdiri dia ikut berdiri dan berbisik padaku.

"Kalau kau ingin meneruskan yang tadi-setelah kupikir - pikir-tidak masalah. Kau tidak begitu buruk." Suaranya yang lembut membuatku terdiam sejenak sebelum aku menyadari apa yang dia katakan.

Ku tegakkan bahuku dan tanpa melihat kearahny, aku menjawab.

"Get lost, Dude. Thats never gonna happen." Kutinggalkan dia tanpa sedikitpun melihat kearahnya.

How dare he!


Thanks for the review.

Like or not? Let me know.

Regards,

Irabella