BACKSTREET

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Pair: AkaKuro, KiKuro, AkaFuri

Warning: Mengandung unsur BL/Yaoi, Typo, Eyd berantakan dan ranjau bertebaran

Backstreet©Daisy Uchiha

Beta Reader© AuRi416

Cover©

Don't Like Don't Read

Happy Reading ^_^

Backstreet Chapter 2

Kuroko menutup pintu apartemen dan tidak lupa menguncinya, berbalik badan kemudian berjalan ke lift yang akan membawanya ke lobby utama. Namun sebelum sepasang kaki melangkah, teriakan seseorang yang sangat dia kenal menyapa gendang telinga, disusul oleh sepasang lengan putih yang langsung memeluk tubuhnya erat. Kuroko sangat mengenal siapa pemilik lengan tersebut, karena hampir sepanjang dua tahun bersekolah di SMA Seirin, lengan inilah yang selalu memberinya kehangatan.

"Ohayou, Tetsuyacchi," Suara khas menyapa pagi Kuroko yang semula tenang, menjadi ribut seperti biasa saat Kise Ryouta sudah datang.

"L-lepas, Kise-kun," Kuroko menjawab datar.

"He...nande?" Kise merengut kecewa karena lagi-lagi Kuroko terlihat tidak menginginkannya. Mereka sudah pacaran, 'kan? Lalu apa masalahnya sekarang? Kalau dulu Kuroko masih belum menerimanya, mungkin Kise akan mengerti. Tetapi sekarang mereka sudah berstatus resmi sebagai sepasang kekasih, lalu apa salahnya Kise memeluk mahluk manis yang kini berada dalam rengkuhannya?

Kise Ryouta sangat mengerti kalau sebenarnya hanya dia yang dengan antusias menganggap mereka pacaran. Karena sedari awal Kuroko memang tidak mencintainya, Kise paham akan fakta tersebut. Namun dia ingin menutup mata dan telinga akan hal menyakitkan itu, biarlah kini Kuroko tidak menganggapnya kekasih, biarlah hanya dia yang mencintai. Namun dalam sudut hati, dia ingin Kuroko menerimanya, walau hanya sedikit saja. Pemuda energik ini tahu bahwa hubungan yang rapuh tidak akan bertahan lama dan hanya akan menyakitinya saja. Tetapi, meski untuk sementara Kuroko sudah jadi miliknya, jadi biarkanlah dia merasakan sedikit saja kebahagian memiliki sang Pujaan di sisi. Meskipun dia tahu ini hanyalah ilusi semata.

Kise menundukkan wajah dan mengecup sudut bibir Kuroko, lembut. Kedua lengannya masih memeluk tubuh yang lebih kecil, erat dan hangat. Tidak berapa lama kemudian dia menjauhkan wajahnya dari Kuroko sambil mengurai pelukan sepihaknya, karena seperti biasa, Kuroko tidak menolak atau pun membalasnya.

Sang Model memandang sepasang netra biru yang juga ikut memandangnya, dia mengangkat tangannya untuk mengusap pipi putih Kuroko dengan ibu jari. Kuroko hanya diam, tidak menepis.

"Ini masih di depan pintu apartemenku, Kise-kun, bisa saja ada orang yang akan melihat kita," Dalam hening yang menyelimuti akhirnya Kuroko Tetsuya bersuara.

Kise terkekeh ringan, sebelum kemudian kembali menundukkan kepalanya dan berbisik lirih, "Baiklah, aku akan melakukannya di apartemen Tetsuyacchi nanti."

Pemuda jelmaan malaikat itu hanya bisa menghembuskan napas lelah, karena pada akhirnya Kise salah mengerti akan apa yang dia ucapkan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Kuroko berjalan lebih dulu meninggalkan Kise seorang diri, dibalas pekikan tidak rela oleh si Pemuda bersurai kuning yang kemudian masih saja menggerutu karena ditinggalkan.

.

.

.

.

Kuroko Tetsuya meletakkan tas di atas meja dengan serampangan, tidak perduli pada anggapan teman-teman sekelas. Bibirnya mencebik dengan pipi yang digembungkan, dia sedang kesal. Wajah boleh saja datar, tapi dari mata jernihnya jelas terlihat jika malaikat biru itu sedang jengkel setengah mati. Siapa lagi penyebabnya jika bukan pemuda tampan yang masih setia mengekori hingga masuk ke kelasnya, padahal jelas-jelas Kise itu kakak kelas bukan teman sebangkunya.

"Tetusyacchi, apa salahnya sih aku menciumu tadi-ssu?"

Kuroko masih merengut, namun kepalanya ditolehkan ke samping, memandang Kise jengkel. "Tapi itu di kereta, Kise-kun. Tentu saja salah." Dengan suaranya yang datar, dia menumpahkan segala kekesalan.

Tidak tahan dengan pemandangan indah, dua bibir ranum yang mengerucut, membuat Kise Ryouta kembali memberikan ciuman singkat di bibir Kuroko. "Aku ingin semua orang di dunia ini tahu kalau malaikat biru di depanku sudah ada yang punya-ssu."

Kuroko melotot galak saat kekasihnya kembali menciumnya di tempat umum. Meski malah terlihat seperti tatapan merajuk di mata Kise Ryouta. Ingat! Sekarang mereka ada di kelas Kuroko, memang belum banyak yang datang tapi tetap saja ada beberapa temannya yang melihat aksi Kise barusan.

Kagami yang melihat hal tersebut hanya bisa menghadiahkan jitakan manis di kepala pirang, pemuda kekar itu hanya berusaha mewakili Kuroko untuk memberi pelajaran pada si pemuda berkelebihan tenaga itu.

"Kagamicchi, hidoi-ssu!" Kise mengusap kepala pirangnya yang kini berdenyut nyeri.

"Jangan berbuat mesum pagi-pagi begini, Kise," Kagami melotot dan berjalan ke mejanya sendiri yang terletak di belakang meja sang Bayangan.

Pemuda pirang itu hanya mencibir pada sikap Kagami, sebelum langsung memeluk kekasihnya sambil merengek meminta pembelaan. "Tetsuyacchi—"

Kuroko mendorong tubuh Kise, tidak ingin dijadikan boneka beruang sang Kekasih. Sebelum akhirnya menghadap ke meja Kagami dan mengobrol tentang pertandingan basket yang akan mereka lakukan bulan depan. Mengabaikan Kise yang kini mulai merengek karena lagi-lagi tidak diacuhkan oleh Tetsuyacchi-nya.

Bel yang berdentang nyaring membuat Kise berhenti merengek, dia harus segera kembali ke kelasnya sebelum wali kelas bertampang seram datang terlebih dahulu, dia tidak ingin mendapat hukuman karena terlambat.

"Aku ke kelasku dulu ya, Tetsuyacchi. Aku akan menjemputmu nanti-ssu, jadi jangan ke mana-mana sebelum aku datang," Kise berkata panjang lebar, kemudian memberikan ciuman manis di pipi sang kekasih.

Kuroko yang lagi-lagi di cium tanpa ijin hanya bisa diam dan membolakkan kedua netra biru jernihnya. Sedangkan Kise, tanpa melihat reaksi kekasihnya, meninggalkan kelas Kuroko dan berlari menuju kelasnya sendiri di lantai satu dengan senyum lebar terpasang di muka.

.

.

.

.

"Jadi, kenapa Seijuurou-kun dipanggil ke ruangan manager?" Furihata bertanya penasaran. Netra coklatnya memang memandang ke jajaran snack yang sedang dia susun, namun semua perhatiannya tertuju pada satu entitas yang kini hanya berdiam diri di balik meja kasir menggantikan Momoi yang shift kerjanya berakhir 30 menit lalu.

"Bukan hal yang terlalu penting," Akashi menjawab datar.

Furihata mengepalkan telapak tangannya, bibir digigit demi mengurangi sakit hati yang dia rasakan, "Apa kepindahanmu dari konbini ini bukan hal yang penting, Seijuurou-kun?"

Akashi memusatkan perhatiannya pada pemuda bersurai coklat yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya, "Jangan kekanak-kanakan, Kouki! Kau bukan ibuku. Aku tidak harus mengatakan semua hal padamu, 'kan?"

Furihata membolakan kedua netranya saat mendengar jawaban sang Kekasih, pemuda ini cukup terkejut mendengar kalimat yang meluncur mulus dari bibir seorang Akashi Seijuurou.

"T-tapi Seijuurou-kun, aku—" Dia tidak bisa mengatakan hal mengganjal yang bersarang di kepala, mulutnya seakan terkunci.

"Cukup, Kouki! Kita sedang bekerja saat ini," Putus pemuda berambut merah tersebut, dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang menurutnya tidak penting dan hanya membuang waktu.

Furihata hanya bisa diam sambil menundukkan kepala saat mendengar kalimat bernada final yang diucapkan kekasihnya. Dia tahu Akashi adalah tipe orang yang perfeksionis dalam segala hal. Tipe orang yang tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan, dan dia setuju akan hal itu. Namun, dia masih tidak mengerti kenapa tidak diberitahu sama sekali tetang kepindahan Akashi dari konbini tempat mereka bekerja sekarang. Furihata adalah kekasih Akashi Seijuurou, 'kan? Apakah salah bila dia ingin tahu apa yang terjadi pada kekasihnya? Apakah benar Akashi menganggapnya sebagai kekasih?

.

.

.

.

Mulai hari ini Akashi Seijuurou telah resmi dipindahkan ke konbini yang terletak di distrik 45 dekat stasiun kereta. Kini dia sudah tidak berada dalam satu tempat kerja dengan Furihata Kouki sang Kekasih, hal tersebut diam-diam membuatnya merasa lega, entah karena apa.

Pintu otomatis terbuka menandakan ada pengunjung masuk, pada jam malam seperti sekarang yang datang biasanya adalah pegawai yang baru saja pulang dari kantor dan mampir untuk membeli makan malam kemasan. Namun, entah mengapa kali ini yang datang justru malaikat bersurai biru penebar aroma manis vanilla. Akashi bukanlah penyuka sesuatu yang berbau manis, tapi entah mengapa wangi vanilla yang satu ini sanggup membuatnya langsung merasa kecanduan. Akashi mengedipkan iris delimanya, mencoba meyakinkan diri bahwa yang dia lihat memang manusia, bukan malaikat jatuh dari langit seperti di iklan yang pernah dia lihat. Kesimpulan yang didapat adalah, mahluk yang berada dalam jarak pandangnya merupakan manusia asli jelmaan malaikat. Silahkan kalian berpikir bahwa seorang Akashi Seijuurou berlebihan, tetapi memang begitulah adanya.

Akashi memusatkan seluruh perhatiannya pada mahluk mungil yang terlihat sibuk memilah snack yang akan dibeli. Sang Pemuda tampan bersurai merah menurunkan pandangannya pada bibir tipis yang sepertinya terlihat menggoda untuk dilumat. Akashi terdiam saat sadar hal apa yang baru saja melintas di pikirkannya, terlebih lagi karena pemikiran itu ditujukan pada pemuda yang jelas-jelas baru dilihatnya pertama kali.

Bahkan saat bersama Furihata Kouki yang merupakan kekasih resmi, Akashi tidak pernah berpikiran ingin mencium bibirnya. Tapi kenapa saat melihat mahluk biru muda itu, dia sangat ingin melakukannya? Bahkan merasa sangat penasaran selembut apa kulit putih pucat si Mungil saat berada dalam sentuhannya. Apalagi surai biru muda itu yang terlihat sangat lembut, ingin sekali menyentuhnya dalam tiap sela jari. Oke! Sepertinya otak sehat Akashi Seijuurou bergeser cukup jauh saat melihat pemandangan indah yang tersaji di hadapannya, hingga tidak bisa mengontrol apa yang berseliweran dalam benaknya.

Kuroko sudah membeli beberapa snack dan minuman isotonik untuk mengisi lemari pendingin di apartemen, sambil mengingat-ingat apa saja kebutuhan yang mungkin terlupakan. Tidak berselang lama, dia ingat persediaan susu vanilla kesukaannya habis, namun kedua tangan sudah penuh memegang belanjaan yang cukup banyak. Netra biru jernih memandang sekeliling konbini mencoba mencari bantuan, dan sosok bersurai hijau yang sedang berjongkok di depan salah satu rak terlihat sangat dia kenal.

Kuroko berjalan mendekati pemuda tampan berkacamata yang sedang menghitung bersediaan barang dengan secarik kertas di tangan.

"Midorima-kun," Suara bernada datar mengalun indah dari sepasang bibir tipis.

Merasa ada yang memanggil, Midorima Shintarou menghentikan kegiatannya sejenak untuk menolah ke belakang. Namun tidak didapati siapa pun di sana, dia kembali menghitung dan entah mengapa hal tersebut membuat bulu kuduknya meremang.

Kuroko yang mengerti jika Midorima tidak menyadari keberadaanya, kembali memanggil dengan suara lebih keras, "Midorima-kun!"

Midorima kembali memalingkan kepalanya ke sumber suara, dan betapa terkejutnya saat mendapati Kuroko Tetsuya sudah berada tepat di belakangnya dengan wajah datar.

"T-tidak bisakah kau muncul dengan cara biasa, Kuroko!?" Midorima berdiri dari posisi jongkoknya, sebelum kemudian menaikan kacamata yang bertengger di wajah.

Kalimat yang dilontarkan pemuda maniak Oha-Asa itu hanya dibalas Kuroko Tetsuya dengan tatapan datar juga wajah innocent. Namun, pemuda penyuka segala hal yang berbau vanilla ini tidak sadar jika tingkahnya itu membuat seorang Midorima yang tsundere meronakan kedua pipinya.

"Ada apa kau mencariku, nanodayo? Kau butuh bantuan?" Ujar Midoriman sembari melihat barang belanjaan yang di bawa si Malaikat biru, "B-bukan berarti aku peduli, nanodayo," lanjut si Megane lagi.

Kuroko tersenyum tipis, sangat tipis. Namun tidak luput dari pandangan jeli seorang Akashi yang sedang berdiam diri di meja kasir sambil memperhatikan interaksi keduanya.

"Bisa tolong ambilkan kotak susu vanilla yang biasa aku beli, Midorima-kun?" Kuroko mengedikkan dagunya ke arah jejeran susu bubuk dengan berbagai rasa yang terpajang di rak, "Tanganku penuh," ujarnya lagi.

Midorima menaikkan bingkai kacamata yang bahkan tidak bergerak semili pun dari tempat semula, sebelum berjalan ke rak susu yang ditunjuk oleh Kuroko dan mengambilkan pesanan si Surai biru muda.

"Aku akan membawakannya ke kasir. Ayo!"

"Ha'i. Arigatou, Midorima-kun."

Keduanya berjalan ke meja kasir dalam hening, tidak ada yang mencoba membuka percakapan. Karena memang keduanya bukan tipe orang yang mudah membuka obrolan, meski sebenarnya mereka berdua sudah cukup lama saling mengenal.

Kuroko meletakkan semua barang belanjaanya di meja kasir, iris biru jernih memandang sepasang delima yang rupanya juga tengah memberikan pandangan intens pada dirinya. Iris Kagami juga berwarna merah, namun tidak seindah dan semempesona iris pemuda di depannya. Kuroko bahkan tidak sadar sudah berapa lama waktu yang dia lewati untuk memandangi keindahan yang tersaji.

"Selamat malam manis, apa ada yang lain lagi?" Ini bukan Akashi Seijuuro yang biasanya. Seorang Akashi tidak akan pernah menggoda orang lain, tidak akan pernah berbicara selembut ini pada orang yang bahkan belum dia kenal dengan baik. Pemuda tampan ini bahkan tak pernah melakukan hal itu pada kekasihnya sendiri.

Wajah datar yang dimiliki Kuroko menutupi rasa jengkel yang kini bersarang di dada, mana ada pemuda yang mau disebut manis, sekali pun semua orang menggap dia semanis madu. Tapi, hei! Bahkan Kuroko tidak mengenal siapa pemuda bersurai merah itu, yang dengan seenak jidatnya memanggilnya manis. Sepertinya Kuroko harus memberikan salam perkenalan berupa ignite pass pada pemuda yang sudah membuatnya jengkel sekaligus terpesona sejak awal pertemuan.

"Tidak ada," Kepala ditolehkan ke samping, ke mana pun asal jangan iris delima yang menghipnotisnya.

Akashi terkekeh mendapati respon tidak biasa dari pemuda manis yang sudah ditetapkan sebagai incarannya. Biasanya semua orang selalu memujanya, dan kini saat ada pemuda yang jelas-jelas sudah sukses merebut atensinya pada pandangan pertama, malah mengabaikannya. Apa Kuroko belum tahu jika Akashi Seijuuro sudah menginginkan sesuatu, maka dia akan mendapatkannya? Bagaimana pun cara yang harus ditempuh.

Setelah menyebutkan total harga belanjaan yang harus dibayar, Akashi kembali melancarkan aksi menggodanya. Selagi menunggu sang Pemuda incaran mengambil uang di dompet.

"Mau gratis?" Ujar Akashi tanpa mengalihkan perhatiannya pada sosok yang sejak pertama kali sudah membuatnya jatuh cinta.

Kuroko mendongakkan kepala memandang petugas kasir yang sejak tadi tidak berhenti menggoda.

"Cukup beritahu namamu dan semua lunas. Bahkan kau boleh mengambil semua yang ada di toko ini," Akashi tersenyum tampan. Senyum yang bahkan sanggup membuat semua wanita menjerit histeris dan bertekuk lutut di bawah kendalinya.

Kuroko merengut mendengar penuturan orang yang ada di hadapannya. Apa-apaan itu, memang dia kira Kuroko Tetsuya itu gampangan?

Akashi menjilat bibirnya seduktif, manusia jelmaan malaikat di depannya memang benar-benar menarik dan membuatnya ingin menghujaninya dengan ciuman. Dicondongkan tubuh atletisnya, untuk membisikan kalimat yang sanggup membuat dada Kuroko Tetsuya bergetar.

"Kau memang menarik, Manis," Dengan gerakkan cepat, dijilatnya cuping telinga pemuda yang sudah sejak awal menggodanya.

Tubuh Kuroko bergetar mendapati sentuhan Akashi di telinganya. Dengan terburu-buru di letakkannya uang untuk membayar belanjaan, sebelum kemudian pergi meninggalkan meja kasir dengan kemampuan misdirection yang dimiliki.

"Shit! Dia benar-benar manis," Untuk pertama kalinya Akashi mengumpat, saat mendapati dirinya sudah terjerat dalam perangkap yang bernama cinta.

"Kau kenapa, nanodayo?" Tanya Midorima yang entah muncul dari mana.

Kalau saja moodnya sedang tidak bagus, mungkin pemuda bersurai merah itu sudah memberikan tatapan mematikan, namun kali ini si Hijau sedang beruntung.

"Siapa dia?" Akashi bertanya tanpa melihat ke arah si Megane.

"Maksudmu Kuroko Tetsuya?" Jawab Midorima seakan tahu apa yang menjadi topik pembicaraan.

"Jadi namanya Tetsuya?" Ujar Akashi memastikan. Bibir yang biasanya terkatup rapat itu akhirnya melengkungkan senyum indah namun menyimpan sejuta makna.

Midorima bergidik ngeri, dia tahu persis apa yang ada dalam benak pewaris tunggal Akashi. Karena biar bagaimana pun, dia dan Akashi sudah berteman sejak kecil. Midorima tahu, jika Akashi sudah menetapkan target, maka jangan harap bisa lolos dari jerat pesona yang dimilikinya.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu, nanodayo?" Midorima berujar, "B-bukan berarti aku ingin tahu, nanodayo," ucap si Tsundere lagi.

Akashi berhenti tersenyum dan memandang sahabatnya, irisnya menyipit, "Bukan urusanmu, Shintarou."

Midorima menaikkan bingkai kacamatanya yang bahkan tidak bergerak sedikit pun, "Bukankah kau sudah punya kekasih, Akashi?"

Akashi Seijuurou memang tidak pernah menceritakan masalah pribadinya pada Aomine Daiki atau pada Mibuchi Reo, bukan karena dia tidak percaya pada mereka. Hanya saja, dia sudah berteman sedari kecil dengan Midorima Shintarou, dan mereka cukup dekat. Hingga bukan hal yang aneh bila Midorima tahu apa yang tidak diketahui oleh Aomine maupun Mibuchi, lagipula mereka sama-sama bekerja sambilan di toko.

Akashi tersentak, bibirnya terbuka hendak mengumandangkan jawab, namun kembali di katupkan. Kaget karena sudah melupakan fakta bahwa sekarang dia sudah memiliki kekasih bernama Furihata Kouki. Akashi masih terdiam cukup lama, namun otak cerdasnya menyusun bermacam rencana yang harus dilakukan untuk mendekati si Surai biru muda, meski dengan status yang kini mengikatnya.

.

.

.

.

Kuroko Tetsuya cemberut, bibirnya mencebik, iris birunya melotot galak, dia sedang kesal. Bagaimana tidak kesal? Kalau mahluk kuning yang kini berstatus sebagai kekasihnya menghujaninya dengan kecupan di pipi? Oke, memang Kise Ryouta berhak melakukan hal itu padanya, tapi tidak bisakah Kise melakukannya di apartement saja? Bukan di atap sekolah dan disaksikan oleh teman-teman keduanya?

"Yamette kudasai, Kise-kun," Kepala dimiringkan menghadap pemuda kuning di sampingnya. Namun, hal tersebut justru dimanfaatkan Kise untuk memberikan kecupan tepat di bibir, hingga membuat Kuroko semakin berang dibuatnya.

"Mou!" Kise merajuk seperti biasanya. "Sudah ku bilang untuk memanggil nama kecilku 'kan-ssu?!"

"Aku belum terbiasa, Kise—" Dan kembali Kuroko dihadiahi kecupan dibibir ranumnya, bahkan sebelum menyelesaikan ucapannya.

Kise terkekeh senang, "Biasakanlah, Tetsuyacchi." Pelukan di perut si Biru dieratkan, mengabaikan dengusan tak suka yang dikumandangkan Kagami, "Atau Tetsuyacchi mau aku hukum lagi-ssu?"

Tubuh Kuroko menegang mendengar ucapan kekasihnya, dia tidak ingin dihukum lagi dengan menjadi boneka beruang Kise semalaman, seperti minggu lalu. Pemuda manis itu menggelengkan kepalanya panik.

"H-ha'i, Ryouta-kun," Pasrah Kuroko menjawab.

"Tetsuyacchi kawaii-ssu," Kise berteriak heboh. "Aku jadi ingin menciummu-ssu."

Kuroko merotasikan bola matanya, sebelum akhirnya membalikkan badan dan meng-ignite pass kekasih berisiknya.

Kise memegangi perutnya yang terasa kram akibat ignite pass yang dihadiahkan sang Kekasih mungil. "Tetsuyacchi, hidoi-ssu."

Kuroko hanya memandang datar, sebelum kemudian meninggalkan pemuda tampan itu tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara Kagami dan Koganei terbawa terbahak-bahak saat melihat si Mungil mengeluarkan jurus andalan. Mereka berdua sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya diignite pass dan mereka masih sayang nyawa, memilih untuk tidak menolong Kise.

.

.

.

.

Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan, sebab Akashi mendapat giliran untuk berjaga di meja kasir, saat Kuroko kembali menyambangi konbini untuk membeli roti tawar dan beberapa selai. Bibir merah Kuroko langsung cemberut saat mendapati sepasang iris delima terus mengikuti pergerakannya, dia merasa ditelanjangi. Bagaimana tidak? Sejak memasuki konbini hingga sekarang akan membayar, iris delima mempesona itu terus intens memandanginya dari rambut hingga ujung kaki.

Kuroko melihat name tag terpasang di seragam karyawan yang terlihat sangat pas dan rapih, sebelum kemudian mengumandangkan protes. "Jangan memandangiku seperti itu, Akashi-kun."

Akashi menyeringai tampan, "Memangnya tidak boleh?"

Iris biru jernih Kuroko melotot, meski rautnya masih datar, jelas terlihat di matanya kalau dia sedang kesal, "Tidak boleh. Nanti kau suka padaku," jawab Kuroko enteng tidak serius.

"He... Tetsuya sudah tahu kalau aku suka padamu?" Akashi mengedipkan sebelah matanya, menggoda.

"Jangan memanggil dengan nama kecilku, Akashi-kun!" Protes Kuroko dengan wajah yang masih datar seperti sebelumnya. "Kau bukan teman dekat, apalagi pacarku."

"Tetsuya mau aku jadi pacarmu?"

Kuroko diam, malas menjawab lagi. Dia akan membuat catatan dalam kepalanya, supaya tidak masuk ke konbini ini saat ada Akashi yang sedang berjaga.

"Jadi berapa semuanya?" Ujar Kuroko seraya membuka dompetnya, tidak mengindahkan iris delima yang terus memandangi wajahnya.

"Gratis untuk Tetsuya—" Jawab Akashi ringan, "—tapi sebagai gantinya berikan nomor ponselmu padaku," menebar senyum menggoda.

Kuroko diam, sebelum akhirnya kabur menggunakan misdirection tanpa mengambil barang belanjaanya.

Akashi sangat terkejut saat Kuroko tiba-tiba menghilang, tetapi hanya bisa menyeringai. Sungguh dia benar-benar penasaran, karena selama ini dia yang selalu dikejar oleh para gadis atau pun lelaki berorientasi belok. Sekarang baru ada sesosok mahluk manis, yang secara terangang-terangan tampak tidak berminat padanya.

.

.

.

.

"Seijuurou-kun."

Akashi mengangkat wajah, memandang ke depan saat mendengar panggilan yang terdengar familiar di telinganya. "Apa yang kau lakukan di sini, Kouki?"

Furihata mendorong sebuah kursi ke belakang, sebelum kemudian mendudukan diri di bangku perpustakaan—tepat di depan meja tempat Akashi duduk. Pemuda itu tersenyum manis seraya menyodorkan kotak kue pada kekasihnya, "Aku mau mengantarkan kue ini, Seijuurou-kun."

Interaksi keduanya menarik perhatian semua orang yang saat itu juga berada di perpustakaan, mereka penasaran pada identitas pemuda manis berseragam SMA yang kini duduk berhadapan dengan sang Idola semua wanita di Universitas Tokyo ini. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala masing-masing. Namun, tidak ada satu pun yang berani bersuara, yang bisa mereka lakukan hanya diam dan mengamati interaksi keduanya.

Akashi mengangkat sebelah alis, sedangkan jemari kokohnya menutup buku yang sedang dia baca. Iris delima memandang pada kotak kue itu tanpa minat, sebab dia tidak suka makanan manis, apalagi kue yang menurutnya berkelebihan gula. Namun, kalau Kuroko Tetsuya yang manis sih Akashi dengan senang hati 'memakan'nya. Memikirkan hal tersebut saja sudah membuat bibir Akashi menerbitkan seringai, apalagi kalau benar-benar melakukannya?

Furihata memandang bingung pada kekasihnya, dia tidak tahu apa yang sedang Akashi pikirkan sampai membuat lelaki tampan tersebut menyeringai. Dia mengangkat tangan dan melambaikannya tepat di depan wajah tampan sang Kekasih.

"Kau baik-baik saja, Seijuurou-kun?"

Akashi berderham sebentar, membenarkan posisi duduknya, kemudian menatap sepasang netra coklat yang memandangnya penuh tanda tanya. Dia benar-benar merasa kacau sekarang, hanya dengan sekali bertemu sosok manis Kuroko Tetsuya saja sudah membuatnya begini, apalagi jika dia bisa memiliki malaikat bersurai biru tersebut? Dia bahkan sampai mengabaikan eksistensi kekasih resminya.

Beberapa detik berlalu dan Akashi menjawab, "Ya," perlahan dia berusaha menjernihkan pikirannya, "Kau membuatnya sendiri?" tanyanya lagi untuk basa-basi.

"Hu'um" Yang dibalas senyum manis oleh pemuda bersurai coklat itu.

Akashi memang tidak suka makanan manis, tapi dia cukup menghargai jerih payah orang lain. Maka dia akan menerima pemberian Furihata, meski tidak janji akan memakannya.

"Nanti ku makan. Terimakasih," Akashi mengambil kotak tersebut dan menyimpannya di sebelah tasnya. "Kau sudah makan? Sebentar lagi waktunya makan malam" Ujar Akashi saat melihat jam tangan yang menunjukan pukul 5 sore.

Furihata menggelengkan kepalanya malu-malu.

"Baiklah. Ayo makan di cafe seberang kampus. Burger tidak masalah bukan?" Ajak Akashi sembari membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja.

Furihata meremas jemarinya, gugup, dengan terbata dia mengatakan apa yang ada dalam benaknya, "Bagaimana kalau makan malam di apartementku?"

"Kau bisa memasak?" Tanya Akashi cukup terkejut.

Furihata menganggukkan kepalanya lagi. Sebelum kemudian bertanya pelan, "Seijuurou-kun ingin makan apa?"

"Sup tofu," Akashi menjawab spontan.

.

.

.

.

Perjalanan dari Universitas Tokyo menuju apartement Furihata tidak berlangsung lama, hanya sekitar 30 menit menggunakan mobil sport Akashi.

Apartement Furihata termasuk sederhana, menurut ukuran tuan muda macam Akashi yang sudah terbiasa hidup mewah. Walau demikian, apartement ini terlihat cukup nyaman dan bersih untuk di tinggali.

Furihata sudah mulai berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Sedangkan Seijuurou tengah sibuk memperhatikan sekeliling tempat tinggal kekasihnya, entah apa yang dia cari. Pemuda tampan itu hanya berusaha membunuh waktu, sebab dia belum terbiasa berduaan saja dengan Furihata, meskipun mereka telah resmi menjalin kasih selama satu bulan terakhir, rasanya masih tidak nyaman.

Tidak sengaja iris merahnya melihat beberapa bingkai foto yang terpajang di samping TV. Bukan foto acara bunkasai, bukan juga foto wajah tersenyum Furihata Kouki yang membuat Akashi tertarik. Namun sebuah foto dengan sosok malaikat biru muda tengah menggunakan pakaian maid yang menjadi daya tarik paling besar baginya.

Kuroko Tetsuya tetap berekspresi datar saat menggunakan baju maid dan juga bandana telinga kucing, menambah kadar manisnya menjadi berkali-kali lipat. Sekali pun Kuroko berpenampilan sangat berbeda, namun dia bisa langsung mengenalinya. Akashi tersenyum sangat tipis saat menyadari bahwa ternyata dunia memang sempit, dia tidak menyesal sudah datang ke apartement Furihata, kalau hal penting ini menjadi hadiahnya.

"Seijuurou-kun, makan malam sudah siap," Teriak Furihata dari arah dapur.

Akashi memutuskan pandangnnya pada foto yang sangat menarik mintanya, sebelum kemudian berjalan santai menuju dapur dengan senyuman yang masih terpatri di bibirnya.

Acara makan malam telah usai, dilalui dalam diam karena seorang Akashi tidak terbiasa makan sambil berbicara. Kini sepasang kekasih itu tengah duduk di atas sofa, menonton Televisi dan sesekali mengobrol singkat. Sebab Akashi tampak sangat serius memperhatikan layar kaca, Furihata jadi enggan mengganggu. Padahal sepasang iris delima sebenarnya hanya berpura-pura menonton, dia sibuk memandangi foto indah sang malaikat biru yang terpampang tepat di sebelah TV, sungguh membuatnya tidak bisa konsentrasi pada acara yang ditayangkan.

Entah karena apa, entah siapa yang memulai. Kini Furihata sudah berada dalam rengkuhan hangat Akashi yang tampak memejamkan mata. Wajah keduanya sudah sangat dekat, jarak tidak sampai sejengkal membentang. Akashi memiringkan kepalanya hendak mencium orang sudah pasrah di pelukan, aroma manis vanilla dan sepasang netra jernih biru muda terbayang. Namun saat Akashi membuka matanya, tiba-tiba warna biru muda memudar, berganti menjadi warna cokelat hangat. Akashi terkejut dan melepaskan rengkuhan lengannya di pinggang Furihata dengan tergesa.

Furihata yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dengan mata terbelalak kaget, tidak mengerti apa yang membuat kekasihnya tiba-tiba bersikap aneh seperti itu.

"Maaf, aku harus pulang."

Akashi mengambil tas miliknya, meninggalkan Furihata begitu saja tanpa memberikan penjelasan atas sikapnya. Berjalan cepat menuju pintu keluar tanpa menengok atau berkata sepatah kata pun lagi. Bahkan Akashi tidak melihat raut kecewa dan terluka yang terpeta jelas di wajah kekasihnya.

TBC

A/N:

Hai, selamat malam. Akhirnya bisa update juga. Semoga tidak mengecewakan ya.

Buat AuRi, makasih lho udah bikin tulisanku lebih enak di baca, dan melengkapi missing scene yang gak bisa aku genapi. Thanks a lot.

Buat yang udah log in: seidocamui, Nakamoto Yuu Na, dan Akiko Daisy. Udah di bales lewat PM ya.

Akafuri: wah sayang sekali. Tapi terimakasih ya buat supportnya, aku sangat menghargai. Dan kalau gak sanggup, gak terusin juga gpp kok, jangan di paksakan. Aku paham kalo masing-masing orang punya selera masing-masing.

See you next chap, ya..

Warm regards,

Daisy Uchiha