Ya ampun. Saya udah lama banget gak apdet-apdet. Huhu. Udah deh, langsung aja.


Miidori Proudly Presents:

"Social Media Addict."

Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp. Facebook belongs to Mark Zuckerberg.

Warning: AU, typo(s), misstypo(s), OOC, failfailfail to the max, dll.

Summary: Aturan pertama dalam PDKT, jangan pernah gunakan sosial media. Belum sampai tiga detik, Rin langsung mengacaukan itu semua. Oh, terima kasih banyak 'teman-teman'.

Dont Like? Injek tombol 'back' atau 'x'.


Saat istirahat di kafetaria adalah jelmaan neraka. Di sini berlaku hukum rimba, 'siapa cepat dia dapat. Angkat pantat ilang tempat'.

Kafetaria selalu penuh sama anak-anak pemalas yang gak mau bangun pagi-pagi buat bento. Jadi pas bel bunyi, kalian harus lari, beli makanan, nyari tempat duduk secepat mungkin. Kalo nggak, siap2 aja gak makan. Di kafetaria, gak boleh ada yang egois. Gak kenal kata-kata "you can't sit with us"-nya Mean Girls. Kalo ada yang berani kayak gitu, siap-siap diributin sama satu sekolah. Semuanya harus berbagi. Tapi ya namanya cobaan, kalo gak dapet tempat duduk, ya udah derita lo.

Dari seluruh siswa-siswi Crypton Academy, yang tercepat adalah si trio pengacau. Satu menit sebelum bel istirahat berbunyi, mereka udah lari duluan. Gimana? Kan masih pelajaran? Gampang—apa yang gak bisa dibuat sama mereka? Tinggal izin ke toilet, abis itu langsung cabut ke kafetaria.

Emang sih gak baik. Tapi kalo perut udah keroncongan? Nothing impossible. Apalagi bagi Miku, Gumi, dan Rin.

Soal tempat duduk, jelas mereka dapetin duluan. Tapi nanti kalo yang dateng lebih banyak? Mereka masih kedapetan space banyak. Kenapa? Bukannya gak ada peraturan Mean Girls? Emang sih, tapi mau gak kalian lagi makan, abis itu kehujanan sama ludah(ew) Miku yang nyerocos panjang? Mending makan di tempat lain deh.

Contohnya kali ini.

Kafetaria penuh, tapi tempat Gumi, Rin, dan Miku mempunyai privasi lebih. Roti melon sama susu di dalam botol kaca selalu jadi rutinitas pasokan energi mereka di sekolah. Roti udah setengah di makan, susu udah setengah diminum.

"Tau gak sih lo, urutan cowok cakep di sekolah kita baru aja diganti," Miku menelan roti dalam mulutnya, "diubah abis-abisan."

"Nomor satu siapa?" Rin menanggapi dengan santai. Ia yakin, bahwa lelaki pirang itu tidak akan berubah posisi.

Miku memutar matanya, "Len."

"Selera gue emang nggak rendahan."

"Nomor dua?" Gumi mengambil minumannya. "Siapa?"

"Umm, gak liat. Pokoknya gue liat nomor satu aja," Miku cengengesan. Merasa gak bersalah. Muka Gumi langsung berubah. Dia siap memotong Miku kapan saja dalam jangkauan waktu secepat mungkin. "Oke gue boong," Miku takut duluan, "Gumiya sama Kaito punya suara yang sama."

Gumi pamer senyum, "Iyalah, paling ganteng itu emang Kaito. Apaan tuh Gumiya? Nyampahin urutan aja," tangannya yang bebas mengibaskan sebagian rambut belakangnya, "Coba aja kalo dia mau maen ama 'anak biasa' udah gue demprat, dah." Ia mencoba mengingat senior tampan yang jarang bermain dengan anak-anak sepertinya.

"Enak aja lo demprat-demprat!" Miku menggebrak meja, "Gue sama Kaito-senpai. Ngerti?"

Gumi membagi tatapan sadisnya dengan Miku. Menyebarkan aura persaingan yang tinggi. "Ngerti banget, boss. Gue sama Kaito-senpai."

"Awas lo—"

"Apa awas-awas? Awas kau mencuri hatiku?" cowok tinggi dengan mata sewarna jeruk datang menaruh roti isi melon dan air mineral di sebelah makanan Miku. "Woi, tungguin gue napa kalo mau cabut."

"Eh ada si Lu-eh."

"Nama gue Lui," Lui menyipitkan mata ke Rin, "Lu lulus TK gak sih?"

Hibiki Lui. Cowok tinggi dengan muka yang agak imut ini sekelas sama si trio penghancur. Duduk di sebelah Miku setiap hari ngebuat kupingnya setebal baja. Anak yang udah terkenal sama kata-kata 'nyolot' ini, udah dianggep gay-friend bagi Miku, Gumi, dan Rin. Sering ngatain, cuman dikatain balik gak mau.

"Hey, anak homo. Siapa suruh lo duduk di sini?" Rin pamer gigi, dagu diangkat keatas, mata ngejek level kecamatan, "Lo pikir ini meja bapak lo?"

Lui mengacungkan jari tengah buat teman 'tersanyang'nya itu. "Lo pikir ini meja bapak lo juga?"

"Ya enggak lah! Lo lulus TK gak sih?" Rin tertawa keras, menggebrak meja, membuat makanan sedikit bergetar akibat kegiatannya itu. Mampus lo. Dia balik memberi jari tengah kepada Lui yang mukanya gak disetrika. "Jangan ngambek, muka lo kayak Tempat Pembuangan Akhir."

"Berisik lo," Lui tambah emosi. Matanya yang sewarna jeruk merefleksikan jari tengah Rin yang tenggelam, "Our Pangeran dan Puteri lagi nikmatin istirahatnya—"

"Ya elah, namanya juga waktu istirahat. Emang lo gak istirahat?"

"—suap-suapan."

Rin mati kutu. Bukan, ini bukan denotasi di mana kutu mati. Tapi ini konotasi, di mana Rin sebagai kutu uhukkupretuhuk yang kaget bukan main.

Gebetan sama saingannya suap-suapan? Apa-apaan itu? Ini harus dihentikan! Tapi melihat kembali riwayat hidup Rin, jelas dia bukan siapa-siapanya bagi Len. Gak ada hubungan langsung maupun tidak langsung dengan si pirang matahari (bukan anak yang sering ngelayap siang-siang!) menimbulkan alasan yang mutlak untuk diam di tempatnya dan menelan kembali rencananya untuk menghentikan hal itu.

Apakah hatinya pantas untuk hancur? Tidak, ini bukan bicara tentang pantas atau tidak pantas dengan menyangkutpautkan organ yang berguna untuk degradasi zat toksin—tetapi banyak orang yang mengalihfungsikan sebagai organ paling galau. Tidak, itu jawabannya jika hati menjadi fungsi opsi kedua. Tentu saja tidak. Hatinya tidak pantas hancur. Ditinjau dari riwayat hidup Len, ia tidak mempunyai hubungan apapun dengan Rin. Tetapi mengapa ia mampu membuat seluruh harapannya hancur? Bersamaan dengan hatinya?

Oh Tuhan, mengapa kau buat hal yang disebut cinta?

Cinta bukan partikel, molekul senyawa, ataupun molekul unsur—tapi mengapa penting? Oh Tuhan, Kau sudah tau bahwa jatuh cinta itu sakit, tetapi kenapa Engkau masih membuatnya dan melanjutkan hal yang Kau sebut anugerah itu?

Jawabannya simpel. Kenapa kau makan donat, jika kau tau donat itu akan habis?

"Lo kenapa masih suka sama dia? Lo tau sendiri itu bakal nyakitin diri lo sendiri."

"Karena itu anugerah."

Karena donat itu enak.

Karena cinta itu anugerah. Akan ada saat di mana hatimu melambung tinggi walau akhirnya jatuh. Akan ada saat di mana hatimu selembut kembang gula walau lemah. Akan ada saat hatimu secantik kaca walau akan retak. Semua itu adalah anugerah tersendiri.

Lui mengunyah roti melon dalam mulutnya, "Teori donat, Rin?"

Rin menegak susu putih miliknya, "Yo'i," lalu pandangannya teruju pada dua remaja yang saling tertawa di ujung kursi lain. "Yo'i."

Ini dia. Kelas matematika. Rin adalah salah satu diantara seribu orang yang malas akan pelajaran ini. Tidak, otaknya tidak bisa dikategorikan sebagai dibawah rata-rata, malah kebalikannya. Tetapi jika diberi 10 soal penggabungan dari angka dan huruf? Ya, mabok.

"Lalu Tuhan murka dan memberi huruf pada matematika," begitulah penjelasan sejarah variabel dari Rin. "Kenapa harus ada tugas sih?!" dia masih males karena kebawa mood pas istirahat, "Apa salah gue?!"

"Ya elah, Rin. Lebay amat lo," adalah sebuah ironi jika yang mengatakannya adalah Miku. "Gue aja kagak." Itu Hatsune Miku, saudara-saudara.

"Mik, lo ulang tahun kapan sih?"

Otak Miku mulai berpikir. Apa Rin pengen beliin hadiah? Apa dia pengen buat kejutan? Ih, kayaknya seru deh. Tahun kemarin, gak ada yang inget sama ulang tahunnya. Si Rin inget juga karena diingetin sama Gumi. Jadinya ia cuman dapet hadiah dadakan dari Gumi, Rin, sama Lui—es krim small cup.

Miku mulai cengegesan, "Emang kenapa? 31 Agustus," Miku senyum-senyum sendiri, "Mau kasih hadiah, yaa?"

"Yo'i," Rin menampilkan deretan giginya, "Kaca."

Sumpah saudara-saudara, Miku berharap ia cukup kuat untuk melemparkan gedung sekolah ke muka Rin.

Rin cengengesan. Dia memperhatikan punggung guru berambut coklat itu. Mengoceh bagaimana mendapat persamaan kuadrat dan hal-hal membosankan itu. Ia melirik Miku, keringat membasahi seperempat wajahnya. Ini dia tanda-tanda jadi bang toyib, saudara-saudara sebangsa dan setanah air—

"Rin, ajarin gue ya."

Ini pertama kalinya dalam seumur hidup seorang Kagamine Len, dia dipanggil ke ruang guru. Kepalanya berat, bibirnya terus ditarik gravitasi—seperti nilainya belakangan ini. Matematika SMP yang ia pelajari beberapa tahun lalu menjadi alasannya di sini. Otaknya yang jenius lengah beberapa saat. Dengan kata lain, lupa.

"Len-san saya menyadari bahwa kamu itu sibuk. Bahkan bukan hanya saya, satu sekolah ini sadar," kepulan asap dari rokok itu mengambang tipis di udara, "Kamu membanggakan dengan slam dunk atau apalah itu. Kamu juga pintar, Len-san," udara dingin meperparah bibirnya yang kering, "Sangat disayangkan kamu lupa materi semudah ini. Ini materi SMP, Len-san. Gradien dan hal-hal semacam itulah."

"Iya, Sensei."

Kiyoteru menyesap rokoknya kembali, lalu menghembuskan asap-asap dari mulutnya, "Saya agak sibuk belakangan ini, saya harap kamu belajar sendiri tentang gradien." Lalu ia berdiri, memunggungi Len dan suara pintu tertutup mengakhiri percakapannya dengan Len.

Dalam sunyi Len memandang kertas dengan tinta merah di atasnya, "Brengsek."

Suzune Ring

Len, lo dapet ulangan matematika berapa? Kagamine Len

Like. Comment. Share.

Kagamine Len jelek, 60. Nanti gue ngulang.

"Ya Tuhan, Miku!" suara Rin mengambang di udara, "Ini cuman gradien!" cahaya matahari terbenam masuk melalui kaca.

"Yaa, gue bukan math-freak macam lo," Miku menjawab santai. "Duh, ulang dong yang persamaan garis dua titik!"

Rin menghela napas. Karbondioksida tanda hasil pembakaran dalam tubuhnya. Ia sudah berkali-kali menjelaskan tentang hal itu pada Miku—menjelaskan konsep dari rumus sederhana.

"Miku rumusnya gampang," Rin mulai mengambil kapur dan menulis dengan cepat di papan tulis, bibirnya mengoceh tentang garis sumbu X dan Y. Tangannya yang lincah, menarik garis pada kordinat yang telah ditentukan. Matanya yang jeli memeriksa apakah ada yang salah pada konsep. Saat kapur tinggal setengah, ia berbalik menatap Miku.

"Oh! I see! Gue baru ngerti sekarang." Miku berseru senang. Ini adalah materi kelemahannya saat SMP dulu. Ia sempat berharap tidak bertemu materi ini ketika SMA, tetapi jahatnya matematika membuatnya harus ngais aspal.

Rin tersenyum. Selama beberapa jam ia menjadi guru spontan, ia merasa bangga. Apalagi ketika Miku berseru senang dan ibu jari yang ditujukan untuknya dari Gumi dan Lui di belakang. Rin makin memperlebar senyumnya.

Dia berjalan ke Gumi di kursi belakang. Mengambil soda kalengan yang Gumi dapat dari mesin minuman di pojok koridor sekolah. Soda warna merah masuk ke kerongkongan. Rin dapat merasakan sejuknya di dalam sana setelah ngoceh sana-sini selama beberapa jam.

"Keren," Lui menyahut di bagian pojok sana. Soda kalengan kembali diteguknya. "Lo kayak anak Kiyoteru-sensei."

Miku sibuk mencatat. Konsentrasinya terganggu ketika da bola basket masuk. Ketiga orang yang lain juga ikut penasaran. Rin terutama, apalagi setelah kejadian bola basket milik pujaan hatinya kemarin. Bola dengan gambar smiley khas band Nirvana yang menggelinding berhenti tepat di bawah papan tulis. Kagamine Len masuk dengan senyum sumringah, ia menunduk mengambil bola basket miliknya. Ia kembali menegapkan punggungnya, untuk tersenyum pada manusia-manusia di dalam kelas tersebut.

Len mengangkat bahunya, "Maaf." Lalu ia keluar.

Semua mata tertuju ke pintu. Beberapa detik kemudian berpindah kepada Rin.

Di sana, anak remaja udah mabok cengengesan sendiri, "Ganteng abis..."

Rin biasa ngerjain PR sampe malem. Kadang matanya sengaja dipaksa buat kerja lebih dengan kopi. Kafein sudah menjadi teman sehari-harinya. Entah mau jadi apa PR nya kalo gak ada kopi.

Malem ini dia lagi sial. Kopi di rumahnya udah abis, dan matanya ngantuk berat. PR fisika sisa delapan nomor lagi. Ia bisa saja mengerjakan di sekolah, hanya saja akan terburu-buru. Matanya hanya bisa diajak kompromi sekitar lima atau enam lagi. Tidak, malah kurang.

Saatnya ambil keputusan.

Ia berdiri, mengenakan jaket abu-abu miliknya. Langkah kakinya yang tidak bersuara akan menuntunnya ke sepeda hitam miliknya di depan rumah. Saat langkah kaki terakhir depan pintu, ia segera membuka pintu dengan perlahan. Berharap tidak ada yang mendengar. Dan—Cklek—berhasil.

Ia segera menaiki sepda hitamnya. Kopi kalengan tidak buruk juga.

Len tidak ada beban semacam PR. Dia sudah menyelesaikan semua tugasnya di sekolah. Di rumah? Ia tinggal menonton film-film barat kesukaannya atau mendengarkan lagu dari band rock terkendal jaman 90-an.

Nirvana adalah band yang dimaksud. Band legendaris yang perlu dihormati. Ia biasa minum kopi untuk mendengarnya dari iPod miliknya yang disambungkan ke speaker. Beruntung hari ini sang ayah membawakannya CD dari masa lampau. MTV Unplugged in New York: Nirvana. Ia akan mendengarnya malam.

Dan saat malam tiba, kopi yang dimaksud tidak ada. Habis tidak tersisa. Salahkan sifat asli manusia yaitu lupa dalam dirinya. Jadi di sini ia berada, 5 langkah di depan konbini 24 jam.

Ia menghela napasnya, membiarkan asap-asap tipis dari mulutnya membaur dengan udara malam hari. Ia melirik sepeda hitam yang diparkir di depan konbini. Ia segera masuk dan membiarkan ucapan selamat datang otomatis dari speaker. Ia tidak akan berlama-lama di sini. Cukup ambil kopi kalengan dan ia akan menikmati malamnya dengan CD kesayangannya.

Tapi ada suatu kebetulan menarik di sini. Ada guru spontan berambut pirang.

Ia terlihat kaget dengan keberadaannya.

Ini akan menjadi malam yang panjang.

"Jadi, nama lo siapa tadi?" Len menegak kopi kalengan yang baru dibelinya tadi. Ia bisa melihat gadis pirang itu menaruh kopi yang sama dengan dirinya di trotoar.

"Rin Kagami," sekarang mereka berdua sendirian di trotoar depan konbini. Menikmati udara malam yang menerpa wajah mereka masing-masing. Rin sedikit beruntung ia memakai jaket. Sekaligus bisa menutupi baju tidurnya yang tipis, jaket juga bisa menghalau dinginnya udara.

"Gue Kagamine Len," Len menaruh kopinya di trotoar.

"Udah tau," Rin menjawab dengan nada santai. Ia bisa merasakan kepala Len yang bergerak ke arahnya, "Semua cewek tergila-gila sama lo," termasuk gue.

Len tertawa renyah. "Hari ini gue lagi sial, sekaligus seneng."

"Berita baik dan berita buruk," Rin memandang ke arah tali sepatunya yang tidak terpasang dengan benar.

"Berita buruk dulu," Len mengambil napas dalam, "Gue barusan dapet nilai 60 di matematika—gradien."

Rin langsung menengok ke arah Len. Dia membulatkan matanya—tidak percaya akan kata yang didengarnya. "Apa? Lo? Dapet nilai segitu? Gak mungkin!" matanya mengikuti kepala Len yang mengangguk-angguk. Dia menggeleng pelan, kecil sekali kemungkinannya bahwa Len akan dapat nilai sekecil itu.

"Berita bagusnya, gue dibeliin CD Nirvana sama bokap gue," Len melihat ke langit malam, "Lo gak tau Nirvana ya—?"

"Siapa bilang?" Rin langsung memotong, "Gue salah satu fans mereka. Kurt Cobain, Dave Grohl, Krist Novoselic. They are legend," mulutnya langsung tanggap berkicau tentang band 90 tersebut, "Heart Shaped Box, Polly, In Bloom, About A Girl, dan yang paling keren—Smells Like Teen Spirit."

Len langsung tersneyum. Matanya agak menyipit di bagian ujungnya, "Wow!" Len menemukan satu anak yang juga suka the 90's. "Oke lanjut," sambungnya, "Gue baru bisa gradien."

Jelas, dengan otak yang tidak bisa diremehkan, Len bisa mengerti gradien dalam waktu singkat. Nilai 60 bisa terganti dengan mudah menjadi 100. "Belajar sendiri?" ya iyalah. Dia pinter

"Nggak."

hah?

"Gue belajar dari guru dadakan."

Rin langsung membeku di tempat.

Mata biru Rin yang sukses membulat melihat Len yang berdiri, berjalan ke depan wajahnya, "Makasih ya, Sensei." Suaranya yang berat masuk ke telinganya. Tubuhnya yang tegap pergi menjauh dari dirinya yang masih kaget.

"Sama—"

"Jaa."

"—sama."

Malam itu, di udara yang dingin, hati Rin menghangat seperti wajahnya.


-TO BE CONTINUED-


huhuhu maaf banget gak bisa apdet cepet. tugas numpuk banget.;w;

ada yang tau Nirvana? saya seneng banget loh sama mereka!:3

yaudah deh, akhir kata review!:3