*note: bacalah dengan perlahan dan hati-hati agar meresapi ceritanya

.

.

Bangunan megah setinggi 6 lantai itu terlihat ramai didatangi oleh berbagai pengunjung. Baner-baner besar terpampang menyebar di beberapa titik. Tak jarang buket-buket bunga doa dan selamat memenuhi sudut dinding marmer itu. Sebuah baner putih besar menampilkan foto seorang bintang tamu yang akan hadir di tempat tersebut.

Boboiboy sudah menghitung untuk ke dua puluh kalinya ia melihat perempuan-perempuan berdiri dan berpose berfoto dengan baner foto artis itu. Astaga, Boboiboy ingin tertawa terbahak. Segitu inginnya-kah mereka berfoto dengan idola mereka sampai dengan banernya juga difoto.

Fang melirik arlojinya melihat waktu untuk kesekian kalinya. Perasaannya masih gelisah. Dia mulai memikirkan banyak hal, dimulai dari apa yang akan ia lakukan ketika bertemu dengan orang itu, apakah pakaiannya layak untuk bertemu dengannya? Apa pria itu masih mengingatnya? Apa sebenarnya mereka adalah orang yang sama?

Lelaki berkacamata itu menghela nafas kasar. Semakin dipikirkan semakin ia tak dapat menemukan jawabannya. Ini sudah jam sepuluh lewat lima belas, jadwal menginformasikan seharusnya acara telah di mulai lima belas menit yang lalu. Namun panggung yang di isi dengan dua bangku putih masih saja kosong dan kru-kru berbaju hitam dari salah satu saluran televisi masih terlihat sibuk meletakan segala properti mereka. Para wartawan juga masih sibuk dengan catatan dan microphone masing-masing.

"Boboioboy, aku ingin membeli minuman sebentar." Fang bangkit dari tempat duduknya, merapikan sweater baby blue kebesarannya.

"Aku antar." Boboiboy hendak berdiri menyusul Fang. Namun lelaki kacamata itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak, kau disini saja. aku tidak ingin tempat dudukku di tempati orang." Fang tersenyum meyakinkan, "Aku hanya sebentar, lagi pula tempatnya tidak jauh."

"Oke, cepatlah. Aku tidak nyaman sendirian di tempat seperti ini." Fang terkekeh kecil membalas perkataan sahabat terbaiknya itu lalu mulai melangkahkan kakinya menjauh dari kerumunan penonton acara.

Fang memilih memasuki sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis kopi dan minuman coklat. Kafe itu sedikit sepi mengingat hampir seluruh pengunjung Mall itu tertuju pada panggung kecil di tengah sana. Fang hanya melihat seorang laki-laki dengan masker dan kacamata hitam yang duduk santai sambil memainkan smarphonenya di pojok ruangan. Fang sedikit mengerutkan dahinya melihat penampilan lelaki di pojok sana.

Macchiato dingin dengan krim karamel di atasnya menjadi pilihan Fang, sekarang ia tengah menimbang-nimbang antara kopi atau coklat dingin untuk di berikan pada lelaki dinosaurus yang tengah menunggunya. Seketika ia ingat bahwa sahabatnya itu tidak menyukai pahitnya kopi. Ia mendengus pada dirinya sendiri karena melupakan tabiat sahabatnya.

Fang yang membawa dua gelas minuman terlihat kesusahan saat membuka pintu kafe itu. Tanpa ia sadari sebuah tangan kokoh berbalut jaz hitam yang tidak dikancingkan membantunya mendorong pintu kaca itu. Fang mendongak untuk melihat siapa pelakunya.

Lelaki dengan kacamata dan masker hitam yang tadi duduk di pojok itu membantunya. Sepertinya ia juga hendak keluar dari cafe.

"Terimakasih, sir." Ucap Fang formal. Ia masih belum melepaskan kebiasaannya memanggil 'sir' pada setiap lelaki lebih tua yang ia tidak kenal.

Lelaki bermasker hitam itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, mengedipkan sebelah matanya lalu berkata "Sama-sama." Dan dia melangkah pergi meninggalkan Fang yang mematung di depan kafe itu.

Fang mengerjapkan matanya berkali-kali namun arah pandangannya masih tetap pada lelaki asing tadi yang kian lama kian menjauh hilang di antara padatnya pengunjung.

"barusan-"

"SELAMAT SIAAAAANG SEMUAANYAAA!" sapa MC perempuan dengan dandanan yang sedikit mencolok.

Riuh jawaban dari para penonton menggema sampai lantai tertinggi gedung itu. Fang buru-buru berlari kembali menghampiri Boboiboy. Renggang-renggang yang sebelumnya kosong kini penuh didesak para penonton.

"Seingatku ini hanya acara pembukaan Mall, bukan konser tunggal." Boboiboy berkata sambil menerima coklat dingin dari lelaki kacamata di sebelahnya.

"Kupikir juga begitu." Tanggap Fang sambil menyeruput minumannya.

"Pihak Mall ini jenius. Mereka mengundang artis papan atas untuk menarik perhatian pengunjung." Boboiboy menyandarkan punggungnya merasa bosan denga segala pembukaan yang di berikan MC maupun sambutan dari pendiri Mall ini.

"Selain jenius, mereka pasti mempunyai banyak uang. Mengundang artis internasional tentu bukan hal yang bisa di bayar murah." Fang ikut mengomentari.

"Aku setuju. Dan aku yakin 100% pengunjung di sini hampir seluruhnya datang bukan karena acara pembukaan Mall, tapi datang karena bintang tamunya." Boboiboy mengangguk-anggukan kepalanya, mengingat ia beratus kali melihat para perempuan yang memakai aksesoris artis intenasional tersebut.

Fang tertawa kecil, menertawakan dirinya karena pada dasarnya ia datang kesini juga demi melihat sang bintang tamu.

Setelah hampir 30 menit di lewati dengan acara yang menurut Fang tidak penting. Kini lantai pertama Mall itu kembali riuh ketika sang MC dengan dandanan mencolok memanggil nama orang yang di tunggu-tunggu oleh semua penonton.

"Kali ini seseorang akan bergabung dengan obrolan kita. Mari kita sambut, Kaizo! Beri tepuk tangan." MC itu membuat gestur selamat datang pada lelaki yang bersiap memasuki panggung kecil itu.

Seorang lelaki berpakaian jaz hitam semi formal tanpa di kancingkan membuat kaos putih polosnya terlihat. Kakinya jenjangnya di balut dengan celana ripped jeans. Sepatu pantofel mahal warna coklat muda menyempurnankan penampilannya melangkah menaiki tangga kecil di samping panggung.

Lelaki itu melepas kacamata hitamnya dan menyimpannya di kantung jaz kiri. Tangannya menyapu rambutnya kebelakang membuat helaian ungu gelap itu sedikit terangkat dan memperlihatkan dahinya.

Fang mematung memperhatikan setiap gerak-gerik lelaki yang baru saja naik kepanggung. Ketika lelaki dengan jaz itu melepas kacamata hitamnya, Fang dapat melihat manik yang sama ketika ia berada di cafe tadi. Fang sadar bahwa lelaki tadi adalah orang yang sama dengan lelaki yang tengah berdiri di tengah penggung tersebut.

Bukan hal itu saja yang membuat Fang membatu. Ia terpaku denga warna indah manik di balik kelopak mata artis internasional di depannya.

Merah muda yang bersinar indah sekaligus menusuk tegas.

Fang tahu benar siapa yang memilik warna manik indah yang hanya pernah ia lihat sekali seumur hidupnya itu.

Teriakan para penonton kala bintang tamu itu masuk tidak mengubris Fang. Ia seolah tuli. Bahkan ia tidak sadar ketika Boboiboy menyenggol lengannya untuk berbicara padanya. Fang hampir saja menjatuhkan minumannya kalu saja Boboiboy tak tangkas menangkap gelas itu.

"Akhirnya, kita bertemu lagi." Ucap Kaizo dengan microphone yang menempel di bibirnya.

Fang tau kalimat tersebut di tunjukan pada semua penonton. Tapi ia merasa bahwa lelaki 24 tahun di atas panggung itu berbicara hanya padanya. Karena ketika ia mulai berbicara dengan microphone, sorot tajam manik merah mudanya itu tidak lepas beradu dengan manik rubi miliknya.

.

.

.

.

- Gibberish -

Romance/Drama/Crime

Rated : T+

(2/?)

Kaizo x Fang

(with another pair)

ALL HUMAN!

This is a work of FanFiction belong to Aziichi, All character belong to Animonsta Studio

DON'T LIKE DON'T READ

SORRY FOR THE TYPOS

ALUR CAMPUR ADUK MAJU MUNDUR

I already warn you

.

.

.

.

.

Flashback

"Aku terlahir menjadi seorang pemimpin."

Kalimat itu bagai kaset rusak yang tertanam pada pemikiran seorang buronan kelas berat pemimpin organisasi gelap terbesar yang memonopoli pasar seluruh Asia dan setengah bagian di Amerika. Pemimpin organisasi Murky Mask, Kaizo.

Usianya yang masih amat muda tidak membuat dirinya dianggap rendah oleh orang lain. Tujuh belas tahun harusnya adalah waktu dimana para remaja mencoba segala hal baru, bersenang-senang dengan orang tercinta mereka, bermain bersama teman sebaya dan segala hal menyenangkan lainnya. Konyol, itu anggapan Kaizo dengan hal berbau seperti itu.

Pertama kali ia membuka mata pada dunia, dirinya disuguhi dengan langit keruh yang menurunkan hujan lebat lengap dengan petir yang menggelegar. Sebuah kardus dengan kain berwarna kuning membungkus tubuhnya yang masih berwarna merah yang amat terlihat rapuh itu. Orang tuanya membuangnya tepat sehari setelah dirinya lahir.

Mungkin tuhan masih berbaik hati padanya. Setelah sekarat berjam-jam diguyur dinginnya hujan di antara semak-semak, seorang perempuan paruh baya menyelamatkannya dan menyerahkan bayi merah itu pada panti asuhan kecil di pinggir kota.

Ia hidup di lingkungan kumuh dan lembab, dimana jika kau memiliki sepotong roti kau harus rela membaginya dengan semua saudaramu yang berjumlah lebih dari 5. Ia terbiasa dengan lingkungan gelap di sekitarnya, telinganya terbiasa dengan teriakan memekik seorang jalang pada tengah malam atau suara pecahan botol minuman alkohol yang dilempar menabrak dinding maupun kepala seseorang.

Pinggiran kota adalah titik remang yang terabaikan, sedangkan tengah kota adalah sebuah titik yang gemerlap dengan kehidupan dipenuhi kebahagiaan. Kaizo masih ingat betul ketika ia berusia 5 tahun ia mengendap keluar dari panti tengah malam dan berjalan tanpa tujuan menyusuri gang kecil dan gelap.

Dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan lelaki tua mabuk dan membuat botol alkohol yang dibawanya terjatuh lalu pecah menumpahkan isinya yang masih setengah. Tubuhnya yang masih kecil membuat ia sangat mudah terangkat ke udara kala lehernya di cekik kuat oleh lelaki mabuk itu. Ia pikir tuhan sudah tidak membutuhkannya lagi, ia juga berpikir dosa apa yang melekat di kehidupannya sebegini buruk.

Lalu ia menyadari kebahagiaan bukanlah hal yang diberikan cuma-cuma oleh orang lain, dirinya harus menciptakan kebahagiaan dengan kekuatannya sendiri. Dirinya juga sadar bahwa harapan tak akan datang pada orang yang lemah. Maka dirinya mencoba menciptakan kebahagiaan dan mendatangkan harapan dengan cara menusuk perut besar lelaki mabuk sialan itu denga pecahan botol alkohol tadi.

Ketika ia berhasil membuat lelaki mabuk itu tumbang dengan tangannya yang berlumuran darah. Ia tersenyum karena mendapatkan kebahagiaan dan harapan untuk hidup dengan kekuatannya sendiri.

Bagai telah di takdirkan, kebahagiaan datang menghampiri dengan sendirinya. Harta, kekuasaan, kehormatan satu persatu mengangat angkuh dagunya naik untuk menghadapi kenyataan tanpa harus menunduk malu. Tanpa pelatihan khusus dirinya bagai telah menyatu dengan segala senjata demi menumbangkan siapapun yang ada di depannya.

Hingga suatu saat seorang lelaki denga jaz mahal menjuntai yang mengaku adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan besar mendatanginya membawanya untuk menjadi seorang kepercayaannya. Kaizo meninggalkan remang pinggir kota menuju gemilangnya kehidupan di tengah kota dengan menjadi tangan kanan seorang miliyoner.

Mungkin dulu ia berandai-andai bagaimana rasanya tinggal di gedung tinggi dengan kasur empuk dan pendingin ruangan. Namun sekarang ia ingin meludah saat mengetahui bagaimana busuknya kehidupan di tengah kota. Mereka semua palsu, semua orang pandai memainkan sandiwara bagaikan dewa. Satu hal yang ia dapat "Jangan pernah percaya dengan mudah pada siapapun."

Tahun-tahun berlalu membawa dirinya pada tampat yang semakin tinggi. Saat Kaizo berada di titik puncak kemuakan dengan atasannya itu, saat itulah dirinya memutuskan untuk pergi. Tak pernah terpikir olehnya ketika ia meninggalkan istana megah sang miliyoner dirinya mendapatkan lebih dari 10 orang yang menunggunya di depan gerbang.

"Kami ikut denganmu. Jika aku tetap disini, aku sudah tidak dapat menahan muntahku karena terus disuguhi oleh dusta." Ucap seorang lelaki bertubuh tegap denga warna rambut hijau pale. Namanya Ejojo, dirinya juga berprofesi sama dengan Kaizo seorang pelindung si tuan miliyoner. Mereka memang cukup sering menjadi rekan ketika menjalankan sebuah misi. Sat-satunya orang yang mendapat sedikit kepercayaan dari Kaizo.

Ia bukan lagi seorang tangan kanan lelaki berjaz mahal yang menjuntai. Ia bukan lagi seorang budak. Bagai sebuah kedipan mata, Kaizo telah menjadi pemimpin sebuah kelompok yang memilih bergerak di bagian gelap yang tersembunyi negara. Dengan kemampuan setiap anggotanya yang di atas rata-rata, permintaan datang seperti guyuran hujan, bertubi-tubi, dari pejabat bahkan sampai rakyat biasa, membuat mereka menjadi membesar dan terkenal di dunia bawah. Mereka memutuskan untuk menyebut diri mereka seorang Murky Mask, itu usulan Ejojo karena setiap mereka menjalankan misi, mereka selalu memakai topeng hitam.

Bagai angin, seperti bayangan mereka datang membunuh para busuk yang tersebar di dunia lalu pergi tanpa pernah meninggalkan setitik jejak. Bertahun-tahun pihak keamanan tingkat elit dari berbagai negarapun tak dapat mengendus keberadaan mereka. Jangankan untuk digapai, mereka terlalu sulit untuk dilihat, terlalu licin untuk dikejar.

Kaizo bahkan hampir lupa bahwa dirinya pernah membunuh mantan atasannya yang berjasa telah membawanya ke tengah kehidupan kota. Tingkat profesionalitas yang tinggi membuat mereka disegani dan dihormati. Uang, emas, ataupun berlian bukanlah sebuah benda yang sukar di dapatkan. Bahkan dengan kedipan mata semua yang ia mau akan datang padanya. Namun perlu di ingat, mereka melakukan semua ini bukan semata-mata hanya untuk balas dendam ataupun kesenangan, mereka bergerak jika ada permintaan.

Mereka menancapkan cakarnya di negara-negara besar dan menguasai pasar gelap mereka. Bahkan sekarang anggota Murky Mask terlah berjumlah puluhan ribu dan tersebar di seluruh dunia. Walau luasnya daerah genggaman mereka, tidak banyak yang bercengkrama langsung dengan pemimpin mereka. Hanya segelintir orang yang dapat bertemu secara langsung dengan Kaizo. Dan seorang selalu bisa berdampingan oleh Kaizo hanyalah bawahan setianya, yaitu Ejojo.

Pada suatu malam di musim penghujan, apartemen mewah Kaizo kedatangan seorang tamu lelaki bertubuh tinggi dan besar berambut merah. Kaizo sedeikit terkejut dengan kedatangan lelaki itu, pasalnya kediamannya adalah rahasia dan hanya di ketahui oleh Ejojo. Lalu sekarang ia di datangi dengan pria asing yang mengatakan bahawa ia ingin memberikannya misi.

"Kaizo, aku mengetahui siapa dirimu." Ucap lelaki berambut merah cepak itu, " Aku memintamu melakukan suatu hal."

Kaizo menatapnya datar, "Lalu kenapa aku harus melakukan apa yang kau inginkan?"

"Jika kau berhasil, maka kau akan mendapatkan apapun yang kau mau, aku menyediakan uang tanpa batasan nominal, kekuasaan, apapun yang kau minta." Lelaki asing itu tersenyum miring.

"Bagaimana caranya aku dapat percaya padamu?" Tanya Kaizo dengan nada bicara yang tak kalah datar dari sebelumnya.

"Kau bahkan bisa meminta nyawaku sebagai imbalannya."

"Aku tidak tertarik." Ucap Kaizo cepat.

"Coba baca ini dulu mungkin kau akan sedikit tertarik." Pria itu melemparkan amplop coklat. Amplop itu berisi data dua orang lelaki dan perempuan seorang suami istri.

"Mr. Wang dia adalah pemilik Wang Corporation yang telah menggusur paksa panti asuhanmu dulu demi membangun sebuah apartemen. Aku tahu walau kau sudah disini sekarang, kau diam-diam secara rutin mengirimkan uang untuk panti asuhan itu. Ah, sungguh baik hati dirimu." Pria itu tertawa mengejek padanya.

Kaizo memejamkan matanya sebentar " Jangan main-main denganku, Borara."

"Oh astaga! Kau bahkan tau namaku tanpa aku memperkenalkan diri. Aku merasa tersanjung." Borara menepuk tangannya pelan, "Biar kutebak, kau juga mengetahui semua latar belakangku kan?"

Kaizo diam tanpa bergerak sedikitpun, tidak punya niat untuk membalas perkataan lelaki di depannya.

"Oke, diam berarti iya. Nah, bukankah ini terlihat adil? Kau dapat menyebarkan kebusukanku pada seluruh dunia lalu aku ditangkap dan dihukum mati, lalu aku dapat membocorkan identitasmu pada media dan membuatmu tertangkap lalu dihukum mati jika kau menolak menjalankan permintaanku, ah aku rasa kau tidak hanya di hukum mati, mengingat betapa tinggi harga buronanmu." Borara tersenyum miring.

"Baiklah, aku terima tawaranmu. Tuan Borara, jadi kapan kau ingin aku melaksanakan permintaanmu ini." Kaizo menyenderkan punggungnya pada senderan sofa mahalnya.

"Ah! Aku menyukai keputusanmu Kaizo. Aku ingin kau membunuh Wang malam ini. Tepat pada tengah malam." Borara tersenyum senang.

"Baiklah." Kaizo masih pada posisi duduknya yang menyender dan menyilang sebelah kakinya.

"Senang dapat bekerja sama denganmu. Aku sudah mengirimkan 100 juta dollar kerekeningmu sebagai uang muka, kau bisa meminta bayaran yang sesungguhnya padaku setelah kau membunuh Wang." Borara berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan kediaman Kaizo.

Kaizo menghela nafas, pandangannya belum lepas dari kedua foto yang ada di atas ampop coklat. Profesi dan jabatannya membuat ia menanggung beban berat tak kasat mata. Dirinya bukan takut dengan ancaman Borara yang akan membocorkan identitasnya pada media, dirinya bisa dengan mudah membunuh lelaki itu sebelum sempat dia membocorkannya. Terkadang Kaizo merasa bosan, umurnya baru tujuh belas tahun tapi kehidupannya bagai dirinya telah berumur setengah abad. Kakinya melangkah meninggalkan apartemen mewahnya menuju markas utama Murky Mask.

Kaizo dengan santai melewati dua daun pintu baja markasnya berjalan dengan tenang dengan balutan coat hitam tebal, ripped jeans, dan pantofel yang mengkilat. Para anggota yang berlalu-lalang di dalam seketika berhenti melakukan segala aktivitas mereka lalu menunduk penuh hormat.

Ada beberapa orang yang langsung mengangkat senjatanya pada Kaizo, namun buru-buru di turunkan paksa oleh anggota lain sambil berbisik "Dia pemimpin kita, bodoh!" Ada banyak yang terkejut melihat kenyataan bahwa ternyata pemimpin mereka sungguh amat belia, Kaizo tertawa dalam hati melihat kelakuan bawahannya, ia memaklumi mengingat betapa tertutup identitas dirinya sampai tidak sedikit anak buahnya yang belum pernah melihat wajahnya.

Kaizo bukannya lepas tangan dengan oraganisasi miliknya lalu berleha-leha di apartemen mewah, Ejojo sendiri yang menyarankan untuk menetap di kediamannya dan menyerahkan seluruh persoalan di markas padanya, Ejojo hanya ingin memberikan sedikit kebebas pada atasannya yang 4 tahun lebih muda darinya.

Dari arah dalam seorang lelaki berambut hijau pale berlari terburu-buru menghampiri Kaizo, "Apa yang kau lakukan disini? Astaga tingkahmu membuatku kaget." Ejojo berkata dengan sekali nafas.

"Memang apa salahnya aku mengunjung markasku sendiri?" Mereka sembari melangkah menuju ruang pribadi Kaizo.

"Bukan seperti itu maksudku, ini hanya terlalu mendadak."Ejojo mendecakan lidahnya.

"Aku butuh kau dan 7 orang dari pasukan utama malam ini." Kaizo menatap Ejojo.

"Untuk?" Ejojo menaikan alisnya bingung.

"Kita mempunyai urusan yang harus diselesaikan tepat tengah malam ini. Dan kali ini aku ingin turun langsung." Kaizo menepuk bahu bawahan terpercayanya seraya tersenyum miring, sedangkan Ejojo menganga dengan kalimat terakhir atasannya.

.

00.10 AM

Kediaman keluarga Wang, Malaysia

"Sudahku katakan Kaizo. Kau, tidak perlu turun tangan, ini adalah pekerjaan biasa, bahkan pasukan biasa milik kita juga bisa mengatasi tanpa cacat sedikirpun." Ejojo melangkahi tubuh yang tergeletak dilantai, "Ayo kita kembali, remaja sepertimu saat ini harusnya sedang berchating ria dengan temannya atau menonton film porno amatir dikamarnya secara diam-diam."

Kaizo mengangkat bahunya tidak peduli. Jika orang berpikir Kaizo tidak memiliki pendidikan karena dirinya tidak pernah sekalipun mengikuti pendidikan wajib pemeritah, mereka salah besar, Kaizo adalah seorang jenius, kejeniusannya menyaingi lulusan terbaik Universitas Harvard. Jika orang berpikir Kaizo adalah remaja yang cupu karena tidak mempunyai teman sebaya, mereka amat sangat salah besar, Kaizo memiliki relasi diseluruh dunia baik muda maupun tua dan dia dihormati bagai seorang dewa.

"Mommy...Daddy..."

Suara cempreng khas anak-anak menggema di ruangan besar itu. Seluruh pandangan anggotanya tertuju pada pintu yang menyambungkan ruang tengah rumah ini pada lorong-lorong kamar.

"Kaizo.." ucap Ejojo.

Seakan tahu apa yang ada di pikiran Ejojo, Kaizo menjawab "Jangan, biar aku yang mengurusnya." Kaizo membuat gesture untuk seluruh anggotanya agar segera meninggalkan ruangan itu.

Ketika pintu itu terbuka, hal pertama yang Kaizo lihat adalah sebuah pasang manik rubi jernih yang besar nan cantik. Tanpa melepas topeng, dirinya mendekati bocah yang memeluk bonek anjing jenis malamut alaska dengan lucu.

Suara cempreng yang menggemaskan selalu membalas perkataannya dengan polos. Ketika tangan mungil bocah di depannya mengusap pipinya yang terbalut topeng hitam dengan canggung, Kaizo merasakan perasaan asing yang tumbuh dalam dadanya. Sebuah ketertarikan akan bocah polos bermata rubi di depannya.

Tanpa sadar dia mengucap janji semu pada bocah yang bahkan tidak melihat seluruh wajahnya. Kaizo tidak sadar telah bertingkah seperti orang bodoh.

"Aku akan menantikan pertemuan kita selanjutnya."

Dan saat ia harus melepas genggaman tangan mungil yang lembut milik bocah itu dirinya menatapkan keinginan untuk bertemu dengan bocah lugu itu sekali lagi, lalu membuat bocah mata rubi itu menjadi hanya miliknya, seutuhnya, selamanya.

Kaizo tumbuh tanpa megenal cinta ataupun kasih sayang. Ia samasekali tidak mengerti maksud dari rasa asing yang menggebu-gebu di dalam dadanya. Seumur hidup dirinya baru merasakan sesuatu seperti ini, ia merasa bahagia, tapi bukan rasa bahagia yang selama ini ia dapatkan.

"Kau membiarkannya?" Ucap Ejojo menghampiri atasannya.

"Ya, karena suatu saat nanti dia akan datang padaku dan aku akan membuatnya menjadi miliku." Kaizo tersenyum. Ejojo mengerjapkan beberapa kali matanya takut ia salah melihat ekspresi wajah atasannya. Yang Ejojo tahu, Kaizo hanya pernah menyeringai bukan tersenyum tulus seperti tadi.

"Astaga apa yang dilakukan bocah kecil itu pada si kepala batu ini?"Batin Ejojo frustrasi.

.

.

MC perempuan itu menanyakan banyak pertanyaan pada bintang tamu yang membuat gempar mall selama lebih dari 30 menit. Boboiboy yakin ada 3 sampai 5 pertanyaan yang MC itu lontarkan yang tidak tertulis di scripnya. Setiap pergerakan dan senyum sang idola membuat penonton memekik keras, sugguh Boboiboy dibuat bingung. Sementara Fang yang masih setia tidak bersuara semenjak lelaki di atas panggung itu mengucapkan kalimat pertama.

"Mari kita saksikan penampilan dari Kaizo!" MC itu berucap semangat lalu berlari menuruni panggung meninggalkan Kaizo sendiri untuk memulai performanya.

Suara teriakan para penonton menjadi lebih menggelegar. Suara intro musik mulai menggema. Penonton merubah posisinya menjadi berdiri membuat Fang dan Boboiboy tidak dapat melihat dengan jelas penggung di depannya.

In the park at midnight,

I wiping off my make-up, showing my true face

So that i won't be noticed, and yet i wanted to be

Fang tanpa sadar melangkahkan kakinya berusaha sedekat mungkin pada panggung. Dirinya tidak memperdulikan orang-orang yang berdecak kesal karen ulahnya ataupun Boboiboy yang tidak sadar telah ia tinggalkan. Ia hanya ingin melihat dengan jelas lelaki di depan sana.

If it was allowed, i would

Want to meet you again, just once more

Di atas panggung sana pikiran Kaizo memutar kilas balik 7 tahun lalu ketika ia memutuskan sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya.

"Kau mau apa !? tunggu—Ap—" Ejojo berteriak dengan tergagap.

"Apa aku perlu mengulanginya lagi?" Kaizo menumpukan wajahnya pada tangannya, "Aku ingin pensiun dari jabatanku."

"Tidak ada kata pensiun dalam pekerjaan seperti ini, Kaizo!" Ejojo memperlihatkan emosinya, ia memang tahu betul atasannya ini masilah remaja. Tapi walaupun Kaizo masih remaja dirinya tidak pernah sekalipun menunjukan sikap kekanak-kanakan dan tidak pasti. Kaizo bahkan bisa menjadi lebih dewasa dari pada Ejojo.

"Sebenarnya bukan pensiun, lebih tepat seperti...em... hiatus?" Punggung tegap itu di senderkan pada kursi mewah berbalut kulit.

"Baiklah aku mengerti. Aku memaklumi di umur segini memang harusnya kau tidak menanggung beban besar seperti sekarang." Ejojo mengusap wajahnya kasar, "Akan kuurus Murky Mask selama kau tidak ada."

"Tidak!" Sergah Kaizo cepat.

"Ha?" Ejojo menengok cepat pada remaja yang kini berjalan menghampirinya.

"Selama aku mutuskan untuk pergi. Kau harus ikut denganku." Kaizo membungkukkan badannya agar meyamakan pandangan dengan Ejojo yang tengah duduk.

"Astaga, Kaizo belum cukupkah kau memberiku lelucon yang menyebabkan serangan jantung?" Ejojo menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

"Aku harus menemaniku, kau akan menjadi asistenku." Pundak tegap lelaki berambut hijau pale itu di tepuk tiga kali.

"Asisten? Kau mau bekerja sebagai direktur,eh?"

"Bukan, aku ingin menjadi artis" Kaizo tersenyum penuh rahasia.

"Astaga, ap-" Ejojo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Keputusan atasannya sungguh di luar pikirannya. Ia tahu mati bagaimana teramat rahasia identitas Kaizo sebagai pemimpin organisasi gelap terbesar Murky Mask, dan sekarang ia berkata ingin pensiun dari jabatannya dan menjadi seorang artis yang pastinya setiap saat di sorot oleh media. Kaizo ingin menantang mau atau bagaiman? Ejojo menatap tajam atasannya yang kini tersenyum miring di hadapannya dengan tangan yang menyilang di dada.

"Kau sinting Kaizo."

If i become the brightest star,

Would you notice me, i wonder?

Am i doing well?

Am i suited to it?

Fang sampai pada baris terdepan penonton. Kini dirinya dapat melihat secara jelas bagaimana rupa lelaki bermata merah muda yang ia cari. Ketika Kaizo menyapu pandangannya, manik merah muda itu terhenti kala bertatapan dengan manik rubi jernih. Dada masing-masing di antara mereka berdegup dengan degupan sama seperti 7 tahun lalu.

Kini Kaizo dapat melihat bocah imut yang dulu tengah malam berjalan sambil memeluk boneka anjing malamut alaskanya sudah tumbuh menjadi remaja rupawan yang manis. Manik rubi itu tidak berubah, tetap bersinar jernih seperti pertama kali dirinya terpesona.

If i could meet you once again

Would it be alright if i hide behind you

Like a child afraid of the dark?

Kaizo memiliki banyak relasi yang dapat membantu mewujudkan keinginannya. Dengan bakat terpendamnya yang sama sekali tidak diketahui oleh siapapun, Kaizo dengan mudah di tarik kedalam agensi besar internasional.

"Oh my god, Man! Kau tak pernah bilang kau dapat menyanyi dengan suara menyaingi penyanyi gereja." Ejojo bertepuk tangan berdecak kagum tidak percaya, "Harusnya sejak dulu kau menjadi penyanyi dan meraih uang dengan jalan yang benar."

Kaizo keluar dari ruangan kedap suara setelah menyanyi uji coba. "Kau berniat memujiku atau mengejeku?" Kaizo meninju perut lelaki berambut hijau itu.

Setelah 2 tahun menjalani pelatihan yang di wajibkan agensi. Kaizo siap memulai debutnya kepada dunia. Walau sekarang ia bukanlah pemimpin Murky Mask yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan jentikan jari, namun jiwa pemimpin memang melekat erat pada dirinya.

Dalam waktu seminggu Kaizo telah di terima masyarakat dengan berbagai tanggapan positif. Tidak sedikit yang telah mengklaimnya sebagai idola favorit. Namanya semakin dikenal tanpa ada skandal yang menurunkan pamornya. Namun Kaizo akan selalu menolak jika sebuah media yang ingin mengorek informasi pribadinya. Bukan bermaksud mengundang kecurigaan, Kaizo hanya merasa tidak ada hal penting yang perlu ia ceritakan.

Empat tahun terlewat dan dirinya telah mempunyai banyak fans internasional yang membuat dirinya memutuskan melakukan World Tour untuk menyapa para fansnya di bagian negara lain.

Kaizo selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan ia belum melupakan keinginannya untuk memiliki seutuhnya bocah mata rubi 7 tahun lalu. Tanpa ada yang mengetahui dirinya rela keluar dari zona nyamannya untuk sebuah tujuan yang gila dan egois.

Singing until my chest feels tight

So i don't betray the dream i saw that night

If you could be by my side

I'd want you to silently hold me

Fang berlari memutari panggung ketika lelaki bermata merah muda itu turun dari panggung. Dirinya tidak mengerti kenapa ia merasa sebegitu ingin bertemu dengan lelaki itu. Ia ingin menatap dengan dekat manik merah muda itu, ia ingin merasakan lagi genggaman lelaki itu, ia ingin berbicara lagi dengan lelaki itu.

Sweater baby blue kebesarannya terlihat berantakan karena berlari. Dirinya sampai pada belakang panggung yang di jaga oleh beberapa orang berbaju hitam. Fang ingin masuk kesana dan memastikan bahwa lelaki yang ia kejar ini adalah seseorang yang selama ini ia cari.

Lelaki dengan Jaket abu-abu dan rambut berwarna pale green keluar sambil celingukan, lelaki berambut hijau itu terdiam beberapa saat ketika melihat Fang tak jauh dari hadapannya.

"Ejojo mari kembali ke kantor agensi ada urusan yang aku harus selesaikan disana." Suara husky berat yang familiar di telinga Fang terdengar.

Fang menahan nafasnya ketika seorang laki-laki berambut ungu gelap keluar sambil menempelkan ponsel ketelinganya. Pandangan mereka terpaku satu sama lain selama beberapa detik. Kaizo tersenyum kecil kepada Fang lalu berjalan melewatinya tanpa sepatah kata.

Tenggorokan Fang terasa tercekat. Suaranya seakan macet untuk di keluarkan. Ia berbalik dan mengejar lelaki tadi.

"Hey!" teriak Fang memanggilnya dengan susah payah, "Tunggu! Apakah kau tidak mengingatku?"

Artis lelaki itu berhenti dan membalikan badannya. Fang tersenyum bahagia ternyata lelaki itu berbalik untuknya. Namun perkataan artis papan atas bernama Kaizo itu membuat kesadaran Fang seolah di tarik paksa.

"Apa aku mengenalmu, adik manis?"

In the crawd, i saw

The cause of my never-ending dreams

I didn't think we'd meet here

What expression should i make?

The hand i grasped

Was shaking just slighty

Don't say it

That this is the end

.

.

.

TBC or END ?

Ok, hai! Pertama terimakasih buat tanggapan kalian untuk chap satu kemarin. Sebenernya chap 2 ini udah selesai dari kemaren-maren tapi karena inget sekarang ultahnya Kaizo, jadi aku memutuskan untuk publish hari ini aja. Chap ini jadi lebih panjang tanpa sadar, semoga kalian tidak terganggu ya :D .

HAPPY BIRTH DAY KAIZO ! you'll be always 20 for me haha

Should i end this or not? Please tell me your opinion on review.

Thankyou

-Aziichi