==PART SEBELUMNYA==

"Tidak, nii-san aku bisa. Aku bisa!"

Hinata terus berusaha. PYAAAARRR! botol banana milk itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Hinata menatap nanar kearah pecahan botol. Nafasnya tak teratur. Tangan kirinya mengenggam erat lengannya yang begitu terasa sangaaattt sakit sekali. Neji dan Naruto shock melihat adiknya. Kemarin-kemarin adiknya masih bisa membuka tutup botol banana milki tapi kenapa sekarang tidak bisa? padahal membuka itu mudah sekali anak kecilpun bisa. Ini pasti ada yang tidak beres.

"Hinata" gumam Naruto penuh rasa khawatir.

"Hinata, kau kenapa?" ujar Neji.

YOUR LIFE / CHAPTER 2

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : NaruNejihina

Rating : T

WARNING

INI ADALAH KELUARGA YANG IMMPOSIBLE BANGET. MAKSUD DARI KELUARGA IMPOSIBLE ADALAH SAMPAI KAPANPUN HYUGA TAK BISA JADI NAMIKAZE KALAU MELIHAT MANGA ASLINYA. BERHUBUNG INI UNTUK KEPENTINGAN CERITA JADI AKU JADIKAN HYUGA MENJADI KELUARGA NAMIKAZE hehehe.

.

.

.

"Aku tidak apa-apa nii-san," ucap Hinata.

"Jangan bohong, katakan padaku Hinata. Apa yang sebenarnya kau rasakan?" paksa Naruto

"Sudah aku katakan aku baik-baik saja nii-sahn!" ujar Hinata dengan suara meninggi.

"Jangan berbohong Hinata. Katakan apa yang terjadi denganmu sebenarnya?" tanya Neji.

"Tidak apa-apa nii-san," kata Hinata dengan wajah gelisah.

"KATAKAN PADAKU SEBENARNYA!" teriak Neji, kesabarannya sudah habis karena melihat Hinata yang selalu berpura-pura tegar dan sehat didepannya.

Neji sudah tak bisa lagi membendung emosinya. Dia benci kalau Hinata terus menerus berbohong tentang kesehatannya. Ya mungkin Hinata berpikir, ini untuk kebaikannya tapi itu justru itu sebaliknya. Neji dan Hinata saling pandang penuh arti. Dari tatapan mata kakaknya, Hinata mengerti kalau Neji tidak suka dia berbohong tentang penyakit yang ia rasakan sekarang. Hinata tak sanggup menanggung beban berat ini selama hidupnya, ia tak ingin melihat kedua kakaknya menderita karenanya. Ia merasa lebih baik dia mati daripada hidup tapi hanya menjadi beban orang lain.

"Bebebrapa hari terkahir ini aku tidak bisa mengambil sesuatu yang berat. Bahkan terkadang tanganku sama sekali tidak berfungsi. Selain itu, pahaku juga tidak bisa digerakkan dan terasa begitu sakit. Aku merasa kalau aku akan lumpuh," Hinata mengatakan itu sambil menangis.

"Apa?" tanya Naruto. "Kenapa kau tidak bilang Hinata?"

"Aku tidak mau menjadi beban untuk kalian berdua nii-san. Aku sudah begitu banyak menyusahkan kalian. Masa muda kalian berdua tidak bahagia karena diriku. Gomen, nii-san. Mulai sekarang jangan cari uang untukku lagi. Berhenti bekerja." Hinata silih berganti menatap kedua kakaknya dengan berlinang airmata.

"Kau adalah adik kami. Jadi ini kewajiban kami sebagai yang lebih tua untuk melindungi adiknya. Kami bahagia Hinata dengan semua ini. Kami mencari uang demi dirimu dengan ikhlas, bahagia, karena hanya satu harapan aku dan Neji nii-san, yaitu ingin kau segera sembuh. Kita bisa bersepedah bersama dan semuanya bersama-sama lagi seperti dulu. Kau lebih berharga daripada apapun Hinata," ucap Naruto.

Mendengar ucapan Naruto, membuat tangisan Hinata semakin menjadi-jadi. Dia sudah tidak bisa menahan suara tangisannya. Neji hanya bisa menghe nafas panjang melihat kondisi adiknya yang semakin lama semakin buruk. Sejujurnya, Neji pun bingung apa yang bisa ia lakukan untuk Hinata. Pandangan Neji kabur karena genangan cairan bening yang membasahi matanya. Naruto memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang. Neji hanya menatap mereka berdua dengan berlinang air mata. Dia tidak ingin adiknya terus seperti ini. Neji merasa tak berdaya menghadapi semuanya. Dunia ini seperti neraka buatnya. Neji memutuskan untuk pergi dari rumah sakit, melepaskan beban pikirannya sejenak, meninggalkan Hinata dan Naruto sendirian.

Neji berjalan melamun menuju rumahnya, lebih tepatnya rumah ini adalah rumah kontrakan orang tuanya dulu. Rumah kecil yang begitu sederhana. Dia merogoh kunci di jaketnya kemudian membukanya. Sudah hampir dua hari rumah ini ia tinggalkan karena dia harus dirumah sakit untuk menjaga Hinata. Neji melihat lembaran-lembran kertas berserakan di kakinya. Ia pun memungut kertas-kertas itu. Semuanya adalah lembaran-lembaran tagihan mulai dari listrik sampai air. Neji hanya menghela nafas melihat tagihan yang menumpuk. Dia melepas jaket lalu kemudian mulai membersihkan semuanya.

"Hei, anak muda?" seru suara bass seorang paman secara tiba-tiba. Neji pun menoleh ke arahnya. "Akhirnya kau pulang juga. Hei, kapan kau akan membayar kontrakan rumah ini? Sudah tiga bulan kau tidak membayarnya," tanya paman itu yang terkesan marah.

"Maaf paman. Saat ini aku aku masih belum bisa membayar kontrakan, karena aku harus membiayai pengobatan dan perawatan Hinata dirumah sakit," ucap Neji lemas.

"Hasshh, aku tidak peduli dengan semua itu. Yang terpenting adalah bayar uang kontrakannya. Aku kasih waktu kau selama dua minggu. Jika kau masih belum bisa membayarnya, terpaksa kau harus mencari kontrakan lain. apa kau mengerti?" ujar paman.

"Iya, paman terima kasih," jawab Neji singkat.

"Baik aku pergi."

Neji memandang paman itu hambar disaat meninggalkan Rumahnya. PYAAAR! Neji membanting vas bunga yang ia bersihkan. Pikirannya benar-benar kalut. Dia bingung dan tak bisa melakukan apa-apa lagi. Gaji sebagai pegawai kasar itu sama sekali tidak cukup untuk membiayai semuanya. Walaupun Naruto juga memberikan gajinya padanya namun itu masih belum cukup. Neji beringsut duduk, dengan memeluk kedua kakinya yang ia tekuk. Neji menangis, menangis sekencang-kencangnya. Penderitaan yang ia rasakan membuat dirinya rindu pada kedua orang tuanya.

"Ayah…ibu..!"

ooOOoo

Di rumah sakit, Naruto melihat adiknya Hinata dari kejauhan melakukan ronsen untuk mengetahui kondisi tubuh bagian dalamnya. Terlebih lagi tentang perkembangan Kanker tulang yang dialami Hinata. Beberapa menit kemudian proses ronsen selesai. Hinata dibawa kembali kekamarnya oleh suster, sedangkan Naruto diajak oleh dokter keruangannya untuk membicarakan perihal penyakit Hinata. Di dalam ruang dokter, Naruto sudah dihadapkan dengan dua lembar kertas hitam yang melihatkan tulang-tulang Hinata hasil dari Ronsen.

"Seperti yang sudah kita lihat sekarang. Bahwa gejala kanker ini sudah menyebar ke seluruh tulang Hinata. Pada fase ini pasien akan mengalami kekuarangan sensifitas sentuhan secara drastis, bahkan menyentuh buku pun pasien tidak bisa. Penyakit kanker tulang ini paling sulit diatasi. Kebanyakan para penderita kelumpuhan memilih untuk mengamputasi di tempat induk kanker pertama menyebar. Kalau itu tidak dilakukan maka akan menyebabkan Kelumpuhan. Banyak orang memilih mengamputasi karena biayanya lebih murah." Naruto shock mendengar penjelasan dokter. Dia tidak ingin adiknya lumpuh total. Dia tidak ingin Hinata di amputasi dan membiarkan dia cacat seumur hidup.

"Apa tidak ada cara lain untuk mengobati penyakit adiku dokter?"

"Ada Tiga tahapan yang harus pasien lakukan untuk pengobatan penyakitnya. Pertama kita melakukan pembedahan, lalu kemudian kemoterapi dan yang terakhir peradiasian Sinar X, sejauh ini itu adalah cara pengobatan yang memiliki hasil yang bagus tapi tentu saja biayanya sangatlah mahal."

"Berapa biaya pengobatan seperti itu dokter?"

"Sekitar dua puluh juta Yen," jawab dokter

ooOOoo

Naruto berdiri di balik pintu kamar Hinata. Naruto melihat Hinata yang asik menggambar. Naruto menangis, dia tidak menyangka kenapa harus Hinata yang mengalami semua ini. Kenapa tidak dia saja, Hinata terlalu muda untuk menerima cobaan ini. Naruto akan berusaha menyembuhkan Hinata tanpa harus mengamputasi kaki atau lengannya. Sampai matipun ia akan melakukan semuanya demi Hinata, walaupun itu akan membahayakan nyawanya sendiri. Naruto menghela nafas untuk memantapkan hatinya dan berusaha agar dia tidak menangis didepan adiknya. Perlahan dia membuka pintu dan mendekati adiknya.

"Hinata-chan," ucap Naruto dengan senyum manisnya.

"Nii-san, bagaimana lukisanku bagus tidak?" tanya Hinata Girang.

"Tentu saja bagus, adiku kan pintar melukis hehehe."

"Naruto Nii-san, apa kau tahu dimana Neji-san berada?"

"Tidak, mungkin dia ada dirumah. Seharian ini dia sudah bekerja keras, dia pasti lelah dan ingin tidur sepuasnya. Tidak apa-apa aku yang akan menemanimu."

"Tidak nii-san, kau lebih baik menemani Neji –san dirumah. Dia pasti kesepian dan kelaparan. Apa lagi dia selalu cepat lapar, pasti dia lebih membutuhkan kau daripada aku malam ini hehe".

"Benarkah kau tidak apa-apa kalau aku tinggal sendiri?" tanya Naruto khawatir. Hinata mengangguk cepat dan tersenyum manis pada kakaknya.

"Baik. Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik Hinata." Naruto pun pergi. Hinata memastikan kalau Naruto sudah keluar. Dia meringis kesakitan sembari memegangi lengan dan kakinya.

ooOOoo

Naruto menyusuri gang rumahnya dengan santai sambil memikirkan cara untuk mendapatkan uang sebanyak itu dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan seperti ini. Saat ia memasuki ruang tamu ia mendapati kakaknya tergelatak dilantai. Selain itu banyak sekali botol-botol Sake kosong berserakan dimeja. Naruto menghampiri Neji, matanya tertarik pada kertas-kertas tagihan listrik dan air bertumpuk dimeja. Neji mengerti kalau kakaknya ini akan mabuk kalau dia lagi stress. Tak banyak berpikir, ia langsung membopong Neji menuju kamarnya.

"Hah, nii-san tubuhmu berat sekali."

Naruto tak bisa mebopong kakaknya. Memang dia bukan tipe orang yang bisa mengerjakan pekerjaan berat seperti kakaknya. Entah kenapa semua terasa ringan. Naruto terkejut ketika sahabatnya sejak kecil muncul secara tiba-tiba. "Darimana kau tahu aku dirumah?" tanya Naruto.

"Tanpa sengaja aku melihatmu saat kau melewati depan rumahku. Dimana kamar Neji-san?" tanya Eri.

"Itu disana, benar-benar berat." Sambil terseok-seok mereka mebopong Neji ke kamarnya. Neji mabuk berat, omongan ngelantur keluar dari mulut kakaknya.

"Laki-laki gendut itu tidak punya hati nurani, dia tega menyuruhku segera melunasi biaya kontrakan rumah dengan himpitan ekonomi seperti ini. Apa dia tidak tahu kalau Hinata di rumah sakit dan membutuhkan biaya banyak Hah! Darimana aku mendapat uang untuk rumah ini dan tagihan lain selama dua minggu, aku ingin sekali aku memukulnya," ucap Neji ngelantur.

Eri dan Naruto hanya terdiam mendengar ocehan Neji. Gadis berambut sebahu ini merasa bersalah pada Naruto. Eri segera menggelandang Naruto dan mengajaknya bersantai didepan rumah. Eri memberikan snack dan soft drink kepada Naruto, merekapun makan bersama. Naruto membuka perlahan minuman soft drink kalengnya, matanya terus memandang lurus kedepan. Eri memandang sedih ke arah Naruto. Dia tidak tega melihat sahabatnya menderita seperti ini. Eri sudah berusaha membantu keluarga Namikaze namun sepertinya rayuan yang ia tujukan pada ayahnya tak berhasil.

"Aku sudah membujuk ayahku untuk tidak meminta biaya kontrakan rumahmu. Tapi sepertinya ayah tidak menghiraukanku. Maafkan aku Naruto."

"Itu semua bukanlah salahmu, jadi kau tidak perlu meminta maaf. Wajar kalau sang pemilik rumah akan meminta bayaran pada orang yang mengontrak. Aku sudah tidak tahu bagaimana lagi cara untuk mendapatkan uang. Apa lagi penyakit Hinata yang mengharuskan dia operasi, kemoterapi dan radiasi untuk menghancurkan sel-sl kanker ditubuhnya. Itu semua membutuhkan biaya yang mahal."

"Berapa biaya yang dibutuhkan?" tanya Eri.

"Sekitar dua puluh juta won. Darimana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu. Apa lagi dokter mengatakan kalau proses ini harus dilakukan secepatnya, kalau tidak, itu akan mengakibatkan kelumpuhan. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi," keluh Naruto.

"Be-benarkah. Apa Neji-san tahu tentang hal ini?"

"Tidak, dia sama sekali tidak tahu. Aku baru berbicara dengan dokter malam ini. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada Neji-san sampai kapan pun. Aku tak mau membuat pikirannya semakin kacau, biar aku sendiri yang mengetahui hal ini dan berusaha sendiri untuk mendapatkan uang itu." jelas Naruto pada sahabatnya.

"Aku akan membantumu Naruto itu pasti, aku punya tabungan, memang jumlahnya tidak mencapai jutaan yen. Tapi aku pikir uangku akan cukup untuk membayar tagihan dan sewaan rumah ini."

"Itu tidak perlu kau lakukan Eri."

"Tapi Naruto aku …"

"SUDAH AKU BILANG TIDAK PERLU!"

Bentak Naruto. Eri pun terdiam dan itu shock karena selama dia menjadi sahabat Naruto, pria berkulit tan itu tak pernah semarah ini padanya. Naruto sadar kalau yang dilakukannya terhadap Eri sedikit keterlaluan. "Maafkan aku Eri, aku tiak bermaksud untuk melukai perasaanmu."

"Aku tahu kondisimu sekarang. Hari sudah malam, lebih baik aku pulang dulu." Eri beranjak dari duduknya dan melangkah menjauhi Naruto.

"Eri aku benar-benar minta maaf."

"Iya aku mengerti dan aku tidak marah padamu. Aku pergi dulu," pamit Eri sambil tersenyum.

"Hati-hati di jalan."

"Iya," teriak Eri. Naruto memasuki rumah dan mulai membereskan ruang tamu yang penuh dengan botol sake.

ooOOoo

Pagi hari pun datang, sinar matahari tembus dari kaca jendela kamar Neji. Saat bangun dari tidurnya, Neji menghirup bau masakan yang sedap. Dia kemudian bediri, namun saat bersamaan kepalanya terasa pusing, mungkin efek dari banyaknya ia minum semalam. Hidung Neji tanpa sengaja mencium bau bajunya yang tidak enak,ia pun mandi dan berganti baju. Disisi lain yaitu tepatnya di dapur, terlihat Naruto yang sibuk memasak sarapan untuknya dan kakaknya. Pesona dan ketampanan Naruto tak pernah pudar saat ia mengerjakan pekerjaan wanita ini. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekati dapur. Siapa lagi kalau bukan Neji.

"Ah, Neji-san kau sudah bangun?"

"Eoh, apa aku tadi malam mabuk Naruto?" tanya Neji sambil memijat-mijat tengkuk lehernya.

"Iya kak, kau mabuk berat." Sekarang Naruto membawa sarapan yang sudah matang ke meja makan.

"Kemarin ayah Eri datang lagi kemari untuk menagih uang sewa rumah ini," cerita Neji.

"Iya aku tahu kak, saat kau mabuk, kau menceritakan semuanya. Jangan begitu dipikirkan aku pasti akan membantumu mencari uang untuk biaya Hinata dan rumah ini. Hari ini aku sudah tidak ke kampus, jadi aku akan menemani Hinata," ucap Naruto.

"Jadi begitu. Ya sudah tidak apa-apa," ujar Neji menikmati makannya.

"Neji-san…..?" panggil Naruto pelan.

"Iya, ada apa?" Spontan Neji melihat ke arah adiknya. Melihat wjah Neji yang pucat, kantung matanya yang hitam, membuat Naruto tak tega untuk membicarakan tentang pengobatan Hinata yang akan di mulai hari ini.

"Tidak ada apa-apa, makan yang banyak kak."

ooOOoo

Seperti biasa, Neji bekerja diproyek mulai jam tujuh pagi sampai jam enam malam. Pekerjaan ini memang berat untuknya tapi hanya proyek inilah yang mau menerima dia bekerja dengan gaji yang lumayan, daripada menjadi pelayan Toko. Neji mengaduk-ngaduk Semen, pasir dan abuk bersama temannya. Panas matahari yang membakar kulitnya, itu sama sekali bukan masalah bagi Neji, karena ini demi kedua adiknya Naruto dan Hinata. Teman disebelahnya melihat ke segerombolan pekerja lain, disana ada seorang gadis cantik menanyakan sesuatu pada mereka.

"Ya tuhan, sepertinya kau akan mendapat masalah hari ini Neji-kun," ujar temannya sambil mengelap peluh di dahinya. Neji menoleh ke arah teman kerjanya sejenak, kemudian dia melihat kearah yang temannya Lihat. Disana terlihat seorang gadis cantik yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.

"Neji-kuuuun…." teriak gadis yang bernama Hotaru.

"Ya Tuhan, kenapa dia datang lagi kesini?" gumam Neji.

"Tentu saja dia sering datang kemari, karena dia anak dari presdir proyek ini dan tentunya dia tergila-gila padamu," celetuk teman Neji.

"Tamatlah riwayatku," gumam Neji pelan.

==TO BE CONTINUE==