Title : My Brothers

Cast : Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Park Jungsoo, Lee Donghae

Genre : Brothership, Family, Angst, Hurt, Tragedy

Warning : Typo(s), Bored, Bad plot, OoC. Don't like it, don't read it!

Disclaimer : All cast isn't mine. I own only the plot

2

"Menghubungi Ibumu?"

Kyuhyun yang baru saja meletakan gagang telepon diruang keluarga Changmin mengangguk singkat. Pemuda itu berjalan menuju sofa, kemudian mendudukan dirinya dengan nyaman disana. Changmin yang baru saja datang dengan beberapa makanan ringan ditangannya, mengikuti langkah Kyuhyun, kemudian mendudukan dirinya disamping Kyuhyun.

"Ada apa?" tanyanya kemudian. "Ibumu tak mengijinkanmu menginap?" itu pertanyaan bodoh, Changmin tahu itu, tapi entah mengapa ia tetap menanyakan hal itu pada Kyuhyun yang tengah berpikir.

Kyuhyun melirik Changmin, "Ada yang tidak beres" katanya. "Suara Ibu aneh. Dan—Ibu malah menyuruhku menginap beberapa hari dirumahmu" lanjutnya.

Changmin mengernyitkan dahinya. Nyonya Kim memang tak pernah melarang Kyuhyun menginap dirumahnya karena Ibu sahabatnya itu tahu betul bagaimana kondisi keluarganya. Tapi menyuruh Kyuhyun menginap, rasa-rasanya tebakan Kyuhyun tentang ada yang tidak beres itu benar. Ia mengenal Nyonya Kim, wanita cantik itu bahkan selalu khawatir pada Kyuhyun –bahkan untuk sesuatu yang tidak pantas untuk dikhawatirkan. Kadang itu membuatnya iri.

"Pulanglah"

"E?"

"Kau bilang ada yang tidak beres. Jadi cari tahu sana!"

"Tidak perlu. Ibu pasti akan memberitahukan padaku jika ada sesuatu yang penting. Jika dia belum memberitahu—mungkin dia belum siap memberitahukannya padaku"

Oke, Changmin juga berpikir seperti itu. Ibu Kyuhyun punya pemikiran yang sama seperti Kyuhyun, karenanya mudah bagi Kyuhyun membaca situasi jika berhubungan dengan Ibunya. Dan lagi-lagi Changmin merasa iri pada Kyuhyun –pada keluarga Kyuhyun.

"Aku iri padamu" Changmin mulai mengunyah kentang goreng yang baru saja dibawakan seorang maid. "Kau punya pemikiran yang sama dengan Ibumu. Dan—jangan bilang lagi Ibumu adalah Ibuku. Aku sudah tahu" Changmin mendelik pada Kyuhyun yang sudah membuka mulutnya hendak menyanggah.

Kyuhyun terkekeh, nyatanya Changmin bisa menebak apa yang akan dia ucapkan jika pemuda itu mulai mengeluh iri padanya. Tentu saja. "Aku akan menginap seperti yang Ibu minta. Aku anak baik kan?" katanya dengan nada bangga.

"Tsk—berhenti omong kosong Cho. Kau hanya menghindari hyung menyebalkanmu itu" Changmin berdecak. "Kau marah, tapi tak tahu harus bagaimana, karena itu kau memilih menyingkir untuk sementara"

Kyuhyun mengabaikan ucapan Changmin. Pemuda itu mengambil snack dari atas meja, memakannya tanpa nafsu. Itu benar. Apa yang diucapkan Changmin itu benar. Ia marah. Ia ingin sekali memukul kakaknya itu. Tapi—hubungannya dengan sang kakak tidaklah baik. Bahkan bisa dibilang seperti ada sekat pembatas yang bahkan dia tak bisa lewati. Padahal ini sudah tahun kelimanya menjadi bagian dari keluarga Kim. Tapi itu masih belum cukup ternyata untuk Kibum membuka hati untuknya.

"Ayo main game, sepuasnya"

.

.

Kim Hana meletakan gagang telepon dengan tangan gemetar. Diedarkannya pandangannya mengitari isi ruang keluarga. Satu yang dilihatnya. Berantakan. Wanita setengahbaya itu menghela nafas, Tuan Kim yang melakukannya tadi. Pria itu membanting semua yang ada didepannya ketika mendengar ucapan Nyonya Kim.

"Astaga—Kibumie!"

Nyonya Kim terkejut ketika melihat Kibum sudah berdiri diujung tangga dengan wajah datarnya. Nyonya Kim tersenyum, mencoba memperlihatkan pada Kibum bahwa semuanya baik-baik saja. Ya. Nyonya Kim tahu pasti bahwa Kibum bisa saja mendengar semuanya. Meski wanita itu berharap Kibum mendengarkan musik saja seperti biasanya.

"Kyuhyun akan menginap dirumah Changmin. Aku akan menyuruh Tuan Jung mengirimkan pakaian Kyuhyun dan peralatan sekolahnya"

Kibum tetap memandang datar Nyonya Kim yang berlalu setelah mengucapkan kalimat panjang itu. Kalimat itu mendadak membuatnya merasa takut. Entah mengapa. Yang dia tahu pasti adalah bahwa Nyonya Kim sedang berusaha membuat Kyuhyun menginap dirumah Changmin untuk menutupi masalah ini. Masalah yang sebenarnya berasal dari dirinya.

.

.

Entah bagaimana, Kibum berjalan menuju ruang kerja Ayahnya dilantai dua –berada diantara kamarnya dan kamar Kyuhyun. Kibum ingat, ayahnya bilang bahwa ia ingin membuat semuanya seadil-adilnya antara dirinya dan Kyuhyun. Dan Kibum ingat juga, dia mendengus kesal mendengarnya. Baginya, tidak ada yang boleh dibagi dengan bocah menyebalkan itu. Tidak ruangannya, hatinya apalagi Ayahnya. Huh—sekarang dia mulai berpikir bahwa dia begitu egois kala itu.

"Boleh aku bicara?" tanyanya ketika pintu terbuka. Ia bahkan melupakan tata krama tentang mengetuk pintu tadi. Dan—Kibum benar-benar lupa. sungguh!

Tuan Kim yang tengah menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya, menatap Kibum kemudian tersenyum. Sungguh, Kibum benci senyum itu –senyum yang sama seperti yang diperlihatkan Nyonya Kim Hana. Senyum yang menandakan kepura-puraan, senyum yang—ingin terlihat baik-baik saja.

"Kau sudah pulang, Kibum?" tanya Tuan Kim. Pria paruhbaya itu melonggarkan dasi yang dikenakannya.

"Ada apa?"

"E?"

"Ruangan dibawah"

Tuan Kim tersenyum, meringis sebenarnya. "Tim basket NBA-ku kalah. Padahal aku bertaruh dengan teman-temanku" katanya dengan nada semenyesal mungkin.

Kibum benci ini. Benci ketika dirinya tak bisa jujur dengan mengatakan bahwa dia membenci sikap Ayahnya yang selalu membuat semuanya terlihat baik-baik saja. Kibum benci dirinya yang tak bisa mengeluarkan emosinya dan lebih memilih menyimpannya sendiri. Kibum benci dirinya yang tahu bahwa Ayahnya berbohong tapi ia tetap diam saja. Kibum benci dirinya yang seperti ini.

"Oh—aku ingin bertanya mengenai PSP baru yang kau janjikan"

Tuan Kim menepuk keningnya, "Tertinggal di mobil, Bum. Ambil sana" katanya. Namun sebelum Kibum membalikan badan, pria paruhbaya itu sudah memanggilnya lagi. "Tidak. Tidak. Aku menyimpannya dimeja ruang keluarga tadi. Coba kau lihat" katanya sambil meringis.

Kibum membalikan badan, menghela nafas. Inilah Ayahnya itu, ayahnya yang bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ayahnya yang tak ingin membebani apapun padanya. Padahal ia kan anaknya, seseorang yang pantas berbagi beban dengan Ayahnya.

Ada Nyonya Kim diruang keluarga ketika Kibum sampai disana. Wanita itu sedang membereskan pecahan guci antik. Kibum menatap sekeliling, tak menemukan Bibi Jung –seseorang yang disewa untuk membantu Ibu tirinya membereskan rumah. Sepertinya Bibi Jung sudah pulang, atau—disuruh pulang?

"Kemana Bibi Jung?"

Nyonya Kim tersentak kaget mendengar pertanyaan Kibum. Dia bahkan tak mendengar langkah kaki Kibum. Benarkah?

"Sudah kusuruh pulang sejak sore" Nyonya Kim menjawab. "Mengapa belum tidur? Ini hampir larut, Kibum. Pergi tidur sana"

"Mengapa—kau bersikap seolah kau Ibuku?"

Tubuh Nyonya Kim bergetar. Lagi-lagi karena Kibum, karena ucapan Kibum yang menusuknya. Ucapan Kibum yang menyadarkannya. Dirinya bukan siapa-siapa disini. "Aku tidak berpikir begitu, Bum. Aku hanya khawatir kau kesiangan besok" ucapnya tanpa menoleh. "Maaf jika kau merasa begitu"

"Jangan kesini!" Nyonya Kim setengah berteriak ketika Kibum berjalan santai kearahnya. "Banyak pecahan guci" lanjutnya ketika melihat alis Kibum bertaut.

"Aku hanya mau mengambil oleh-oleh dari Ayah"

"Akan kuambilkan. Diam disana"

Kibum melihat sendiri wanita setengahbaya yang sudah 5 tahun menjadi Ibu tirinya itu berjalan kearahnya dengan kaki berdarah. Ada perasaan muak yang menyelimutinya. Ia muak melihat semua orang memakai topeng baik-baik saja. Tidak bisakah semua orang lebih jujur? Seperti dirinya misalnya. Katakan suka jika suka dan benci jika benci. Apa itu sulit?

"Pergilah kekamar. Aku akan membereskan ini"

Dan ini yang dibenci Kibum selanjutnya dari dirinya. Bahwa dirinya tetap melangkah menjauhi ruang keluarga meski hatinya memaksanya tetap tinggal disana. Meski tak membantu setidaknya menemani Ibu tirinya membereskan semua kekacauan yang ia yakin berasal dari dirinya, pasti tidaklah buruk.

Kibum tahu ada batas kesabaran untuk seseorang. Dan tiba-tiba saja ia berharap bahwa Ibu tirinya itu punya kesabaran yang lebih dalam menghadapinya. Ia takut ada yang hilang lagi dalam hidupnya. Jujur, ia belum siap.

.

.

Pagi itu dikediaman Shim berbeda dengan pagi dihari-hari sebelumnya. Pasalnya pagi ini si Tuan Muda Shim sudah membuat keributan dengan berusaha keras membangunkan sang sahabat dari tidurnya. Sebenarnya itu hal biasa, Kyuhyun selalu bangun siang. Tapi yang membuat Changmin uring-uringan adalah bahwa Kyuhyun tidur disofa kamarnya tanpa selimut. Apa Kyuhyun sedang berusaha bunuh diri?

"YAK!"

Para maid menggelengkan kepalanya ketika akhirnya suara Kyuhyun terdengar lebih keras dibanding suara Changmin. Dan mereka berani bertaruh bahwa sebentar lagi kedua sahabat itu akan saling beradu argumen, dan berakhir dengan kemenangan Kyuhyun. Mereka sudah mengenal mereka lama.

"APA YANG KAU LAKUKAN SHIM?!"

Changmin mundur selangkah. Ia membangunkan iblis tidur rupanya. "SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA SEPERTI ITU PADAMU CHO?! APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU MAU BUNUH DIRI?!"

Alis Kyuhyun bertaut. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara normal.

"Pertama; kau tidur di sofa. Kedua; kau tidak menggunakan selimut. Ketiga; kau tidak menyalakan pemanas ruangan. Kau mau bunuh diri? Ini puncak musim dingin, Kyuhyun" Changmin menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya. "Kau mau Ibumu mencincangku saat kuberitahu kau sakit?"

Kyuhyun mengerjapkan matanya dengan polos. Ah—sepertinya semalam dia ketiduran hingga lupa menghidupkan pemanas ruangan, bahkan lupa berpindah ke ranjang Changmin. Sedangkan Changmin sudah terlelap lebih dulu setelah dikalahkan Kyuhyun pada permainan PS ke-16-nya semalam. Ia frustasi.

"Aku ketiduran" aku Kyuhyun. "Dan—aku tak apa-apa. Jadi jangan khawatir seperti itu" lanjutnya sambil berdiri dari posisi duduknya.

Changmin mendengus. Kyuhyun selalu akan bilang dia baik-baik saja. Ia tahu itu. Bukankah dia sudah lama mengenal Kyuhyun?

"Ya. Kau menang lagi, Cho!"

"Dan kau selalu mengetesku" sindir Kyuhyun. "Apa Paman Jung sudah kemari? Ini ransel dan seragamku kan?"

"Lihatkan? Kau amnesia"

"Aku serius Chwang!" Kyuhyun mendelik.

"Tentu saja itu punyamu, bodoh! Kau tidak lihat aku sudah pakai seragam. Sekarang sudah hampir jam 7"

"APA?!"

Dan selanjutnya Changmin tertawa keras begitu melihat Kyuhyun berlari terburu masuk kedalam kamar mandi. Hari ini pelajaran pertama ada Miss Kwon, guru sejarah yang cerewet dan membosankan. Kalau tidak ingat akan ada ulangan, Changmin pasti membiarkan saja Kyuhyun tidur dan menjadikannya alasan saat Kyuhyun bangun nanti. Jadi dia bisa bolos berdua dengan Kyuhyun, dan jika ada tugas, ia tak harus mengerjakannya sendiri. Ide bagus Shim!

.

.

"Selamat pagi, Kibum-ie"

Kibum tanpa sadar menghela nafas lega ketika masih mendapati Nyonya Kim menyapanya ramah dimeja makan. Ibu tirinya itu duduk sambil menata makanan diatas meja. Tanpa sadar Kibum melirik kaki Nyonya Kim, ia menghela nafas lagi ketika melihat kaki Ibu tirinya itu diperban.

Tidak ada yang berubah ternyata. Yang membedakannya adalah bahwa kini tak ada adik tirinya yang menyebalkan yang menunggunya didepan kamarnya atau ikut menyapanya saat ia sampai dimeja makan. Merasa kehilangan huh?

"Ayah mana?"

"Masih diruang kerjanya. Dia sepertinya sibuk" Nyonya Kim mendengus, atau—pura-pura mendengus?. "Aku akan mengantar makanan padanya nanti"

Kibum tahu Ayahnya seorang workholic, tapi ia juga tahu Ayahnya tak akan mau kehilangan moment sarapan bersama putranya. Ia mengenal Ayahnya dengan baik. Ayahnya pasti akan memanfaatkan waktunya bersama putranya dibanding pekerjaan yang tak ada habisnya itu. Karena—hanya saat sarapanlah biasanya mereka bertemu.

"Bagaimana Tuan Jung?" suara Nyonya Kim menyadarkan Kibum dari lamunannya. Ibu tirinya itu sedang berbicara dengan Paman Jung, suami Bibi Jung, yang keluarganya sewa untuk memotong rumput dihalaman depan.

"Sepertinya Kyuhyun belum bangun. Aku hanya bertemu temannya saja"

"Anak itu benar-benar. Kalau aku tidak ada, siapa yang akan dia takuti lagi? Tsk" Nyonya Kim bergumam kesal. "Terimakasih Tuan Jung. Anda bisa pulang"

"Apa maksud anda?"

"E?"

Kibum meletakan garpu dan sendoknya. "Aku tidak tanya apapun" katanya lalu mengelap sudut bibirnya. "Aku berangkat" katanya lalu berlalu, meninggalkan Nyonya Kim yang masih mengerutkan keningnya bingung melihat kelakuan Kibum.

.

.

Laptop itu menyala. Tuan Kim memandanginya dalam diam. Sesekali ia tersenyum. Itu foto keluarganya. Foto Kibum kecilnya, foto istri tercintanya. Hingga—foto dua orang baru dalam hidupnya. Dua orang yang berhasil membuat hidupnya kembali berwarna.

Tapi—

Ia lupa. Apa hidup Kibum juga berwarna dengan kehadiran dua orang itu? Apa Kibum merasa bahagia seperti dirinya dengan kehadiran dua orang itu? Apa Kibum—

Ya, ia melupakan perasaan Kibum selama 5 tahun ini. Ayah macam apa dia?!

"Boleh aku masuk?"

Suara itu menghentikan lamunannya. "Kau sudah masuk. Kemarilah" katanya tanpa menoleh.

Nyonya Kim masuk dengan nampan berisi sarapan untuk Tuan Kim. Wanita cantik itu meletakan nampan yang ia bawa diatas meja, disamping laptop yang masih menyala. Seulas senyum berkembang diwajahnya ketika melihat apa yang sedang dilihat suaminya itu.

"Dia cantik kan?"

"Tidak secantik diriku"

Tuan Kim terkekeh. "Kau masih sama saja seperti dulu. Membanggakan dirimu sendiri"

"Itu kenyataan, Hyun-ah" bela Nyonya Kim. Ia tertawa ketika menyadari dirinya memanggil nama kecil Tuan Kim. "Maaf membuatmu marah semalam" katanya pelan.

"Terimakasih"

"E?"

"Mengingatkanku tentang perasaan Kibum" Tuan Kim menghela nafas. "Aku tak tahu bagaimana nantinya jika kau tak mengingatkanku. Aku egois kan?" tanyanya tanpa menoleh.

"Kadang manusia ada pada fase egois. Jangan khawatir" Nyonya Kim menepuk pundak Tuan Kim.

"Apa—tidak apa-apa kalau kita berhenti disini?" tanya Tuan Kim setelah keduanya terdiam sambil melihat foto-foto dilayar laptop.

Nyonya Kim tersenyum, mengangguk kemudian. "Jihyun pasti paham. Jungmin juga" katanya sambil menatap layar laptop Tuan Kim.

Tuan Kim menoleh, mendapati Nyonya Kim tengah tersenyum melihat foto keluarganya. Tak ada yang berubah dari wanita yang kini menjadi istrinya itu. Semuanya tampak sempurna. Pantas saja, si ketua OSIS, Cho Jungmin yang terkenal perfeksionis itu, benar-benar jatuh cinta pada sosok ini.

"Mau kutunjukan foto-foto kita?"

Tanpa menunggu jawaban Nyonya Kim, Tuan Kim segera membuka folder yang dia beri tanda khusus dilaptopnya. Dan seketika foto-foto masa SMA mereka terbuka, membuat keduanya tanpa sadar tersenyum lebar. Mungkin benar kata orang, foto adalah alat untuk mengingatkan tentang sebuah memori. Dan hari itu dihabiskan keduanya untuk mengenang masa SMA mereka.

.

.

Kyuhyun menatap datar pemuda berbadan besar didepannya. Ia tak mengenalnya. Salahkan dirinya yang terlalu tertutup hingga bahkan pemuda didepannya saja ia tak tahu padahal pemuda itu popular. Berniat melewati pemuda itu, kaki Kyuhyun dijegal dan—

Bruk

Darah Kyuhyun mendidih mendapat perlakuan seperti itu. Dia rasa dia tak pernah punya masalah dengan pemuda yang baru saja menjegal kakinya. Bahkan berbicara saja dengannya –mungkin, ia tak pernah. Kyuhyun berdiri, menatap sengit pemuda yang sekarang sedang menyimpan kedua tangannya disaku celananya.

"Apa ini pem-bully-an?" tanyanya sarkatis.

"Bukan. Tapi—kau boleh menamainya begitu, anak datar"

Brugh

"Ini untuk kakiku yang kau jegal"

Brugh

"Ini untuk ketidaksopananmu padaku!"

Dan perkelahian khas anak high school tersaji disana, dilorong utama dekat ruang guru. Membuat guru-buru yang bersiap masuk kedalam kelas karena bel istirahat berakhir baru saja berbunyi langsung mendapati kedua murid itu. Jadi—Changmin pun yang sudah bersusah payah mendesak kerumunan untuk menghalangi perkelahian keduanya hanya bisa menghela nafas.

"Cho Kyuhyun. Choi Seunghyun. Ikut keruangan saya"

Changmin sungguh berharap mood kepala sekolah mereka sedang baik. Jadi Kyuhyun maupun Seunghyun tak mendapat skorsing.

.

.

Kyuhyun menunduk, tak berani menatap sosok yang kini tengah mendapat laporan perilakunya dari sang kepala sekolah yang sepertinya dalam mood buruk –menurut Changmin. Seunghyun sudah keluar sejak sejam yang lalu bersama Ibunya, setelah mendapat laporan yang sama pula. Kyuhyun meringis melihat Seunghyun dicubit ibunya tadi.

Setelah menimbang tadi, Kyuhyun akhirnya memberi nomor ponsel Kibum pada Kepala Sekolah. Ia tak mau ambil resiko dijewet Ibunya didepan semua orang. Mau ditaruh dimana muka datarnya jika itu terjadi? Ibunya kan suka tak tahu tempat kalau mau marah padanya.

"Terimakasih untuk kebaikan Anda, kepala sekolah Yoo" suara Kibum menyadarkan Kyuhyun. Pemuda pucat itu berdiri setelah melihat Kibum berdiri sambil menunduk pada kepala sekolah. Ia melakukannya juga.

Sedikit mengeluh, menyesali keputusannya memanggil Kibum sebagai walinya, Kyuhyun mengikuti Kibum keluar ruang kepala sekolah, berjalan terus sampai taman. Kyuhyun tahu Kibum akan memarahinya. Mungkinkah?

"Jadi—apa maksudmu memberi nomor ponselku pada Kepala Sekolahmu?"

"Seharusnya kau bertanya; 'Apa kau baik-baik saja, Kyuhyun?' begitu!" protes Kyuhyun. Ia memasang wajah merajuk andalannya. Namun ketika melihat Kibum menatapnya datar, ia segera menghentikan acara merajuknya. "Ayah pasti sibuk. Dan aku tak mau Ibu menjewerku didepan teman-temanku" akunya.

"Tunggu saja sampai mereka tahu!"

Dan setelahnya Kibum benar-benar berlalu dari hadapan Kyuhyun, membawa sebuah perasaan hangat kedalam hatinya. Untuk pertama kalinya, ia terlibat adu argumen untuk membela seseorang. Dan hebatnya, orang yang dibelanya adalah Kyuhyun.

"Seharusnya kau—mengobati lukaku kan?" lirih Kyuhyun.

"Kemarilah"

Kyuhyun membalikan badan, menemukan Changmin dengan kotak P3K ditangannya. Tanpa sepatah kata, ia mendekati Changmin, mendudukan dirinya disamping Changmin disalah satu kursi ditaman sekolah. Ia biarkan Changmin merawatnya, mengobati lukanya. Sesekali ia meringis menahan perih.

"Kenapa kau berkelahi?" tanya Changmin disela mengobatinya.

"Aku tidak tahu. Dia tiba-tiba saja menghadang jalanku" Kyuhyun meringis, menepis tangan Changmin yang hendak mengoles obat dipelipisnya. "Sakit. Jangan sentuh telalu lama"

"Sudah tahu sakit, tapi kau malah melawannya" keluh Changmin.

"Lalu maksudmu aku harus melarikan diri sebagai pengecut?"

"Ada yang bilang saat kita tidak yakin menang melawan seseorang, maka hal yang harus kita lakukan adalah menghindar"

Kyuhyun berdecih mendengar penuturan Changmin. Ia tahu Changmin juga akan melakukan hal yang sama seperti dirinya. Ia berani bertaruh. "Bagaimana aku harus menutupi ini dari Ibu?" katanya sedikit frustasi.

"Tsk—kau masih amnesia huh? Kau menginap dirumahku. Ingat?"

"AH!" Kyuhyun bertepuk tangan. "Bagaimana aku bisa lupa sih?" tanyanya entah pada siapa, karena Changmin terlalu malas menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Mau kucari tahu mengapa Choi Seunghyun mengganggumu?" tawar Changmin. Pemuda itu sedang membereskan kotak P3K yang diambilnya dari ruang UKS tadi.

"Memang perlu ya?"

"Jangan bodoh. Kau harus tahu duduk permasalahannya untuk menyelesaikan masalah ini" katanya sambil memandang kesal kearah Kyuhyun.

"Berapa hari yang kau perlukan?"

"Paling lama lusa"

"Lama sekali"

"YA! Aku hanya sedang malas menjadi detektif. Kalau bukan karena dirimu, aku pasti tidak mau melakukan ini"

Kyuhyun mengangguk saja. Pemuda itu kemudian berdiri, melangkah menjauhi Changmin yang berteriak memintanya berhenti. Dan dia mengabaikan Changmin dengan terus berjalan berlawanan arah dengan kelasnya. Ia bisa pastikan Changmin bisa mengetahui maksudnya. Ia ingin membolos pelajaran terakhir.

.

.

Los Angeles

Sosoknya yang khas Asia itu membuat ia menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan senyum yang selalu berkembang diwajah polos bak porselinnya. Sosok itu adalah sosok yang wanita manapun akan membalikan badan ketika berpapasan dengannya hanya untuk sekedar menikmati punggungnya yang bergoyang mengikuti langkahnya.

"Aiden Lee!"

Dan para wanita akan mendengus ketika melihat sosok wanita itu mendekati si Aiden Lee. Sosok sempurna dimata mereka. Para wanita itu iri, bagaimana gadis itu bisa begitu mudah mendapat atensi si pemuda tampan itu.

"Ada apa, sayang?"

"Jangan menggodaku!" katanya dengan ketus. "Dan gunakan bahasa korea" lanjutnya. "Sial mereka melihatku seperti mau memakanku saja" keluhnya sambil menarik lengan si Aiden Lee.

Aiden Lee tertawa mendengar gumaman sang sahabat. Ia sudah terbiasa mendengar gumaman yang lebih seperti mengumpat dari sang sahabat. Dan bersyukurlah sahabatnya itu menggunakan bahasa korea untuk mengumpat. Kalau tidak, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada sahabat baiknya ini.

"Ada apa, Tif?"

"Mengapa tidak memberitahuku? Kau mau kembali ke Seoul kan?" katanya setelah melepas tangannya dari lengan si Aiden Lee. Gadis itu melipat tangannya didepan dada.

"Ya. Jungsoo hyung yang menginginkannya"

"Dan kutebak kau juga menginginkannya" kata sang gadis.

"Kau mengenalku, Tiffany Hwang" tepukan dikepala gadis itu –Tiffany, membuat gadis itu menjerit kesal. "Jangan merusak rambutku. Aku ada kencan setelah ini!"

"Teman macam apa kau? Aku akan kembali ke Seoul dan kau masih mau berkencan?!" si Aiden Lee mendelik kesal pada gadis blasteran didepannya.

Tiffany mendecih. "Kau terlalu mendramatisir Donghae!"

Si Aiden Lee –Donghae, mengangkat bahunya tak peduli. Dirinya kemudian duduk. "Ayah ingin kami menemukan mereka" akunya. Tiffany tahu semuanya tentang keluarganya. Ia sudah bertetangga dengan gadis itu lama.

"Lalu—perusahaan kalian yang disini bagaimana?"

"Kan ada Ayahmu" jawab Donghae santai. "Ayahmu lebih tahu apa yang harus dilakukannya untuk perusahaan itu"

"Bicaralah pada Ayahku" katanya lalu berdiri. "Aku pergi dulu. Jangan kembali ke Seoul tanpa berpamitan padaku. Mengerti?" katanya lalu berjalan menjauhi Donghae yang memandang kosong kedepan.

"Aku pulang"

Donghae mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Ia melihat kakaknya sedang sibuk didapur mini diapartemen mereka. Ia tadinya tak tahu mengapa kakaknya lebih memilih menjual rumah mereka setelah ayah mereka meninggal dibanding tinggal dirumah penuh kenangan itu. Tapi—jawaban kakaknya pada hari keempat mereka tinggal di apartemen ini, membuatnya sadar, bahwa—

"Kau benar, Donghae. Rumah itu menyimpan banyak kenangan tentang Ayah. Tapi—dirumah itu juga, kita kehilangan kontak dengan mereka"

Sang kakak menggelengkan kepalanya ketika lagi-lagi mendapati adiknya melamun. Pemuda 25 tahun itu menghentikan kegiatan memotong sayuran dan berjalan mendekati sang adik. Ditepuknya pundak sang adik.

"Melamun?"

"Jungsoo hyung? Kau membuatku jantungan" katanya kesal.

"Jangan melamun, Donghae. Cepat ganti bajumu, 15 menit lagi makan malam selesai"

Mengangguk, Donghae berjalan menjauhi Leeteuk. Dia masuk kedalam kamarnya, menjatuhkan dirinya diatas kasur. Daripada berganti pakaian atau mandi, memejamkan mata lebih membuatnya rileks. Ia lelah.

"Sudah kuduga kau akan bersantai"

Kakaknya masuk kedalam kamarnya. celemek berwarna putih yang tadi dipakai kakaknya sudah ditanggalkan. "Ada apa?" dan kakaknya begitu mengenal dirinya.

"Bagaimana—kalau kita tak bisa menemukan mereka hyung?"

"Maka kita akan mencarinya lagi. Seterusnya, sampai kita bertemu mereka" jawaban mantap sang kakak membuat Donghae tersenyum lebar. Ia mengerti mengapa semua orang begitu menyayangi kakaknya, karena kakaknya bisa membuat semua orang melihat sisi positif dari hal tak mungkin sekalipun. Kakaknya memang yang terhebat.

*TBC*

Akhirnya chapter 2 selese juga ^^

Fanfic ini bener-bener bakal Cuma 10 chapter kayanya. Kasian sama Kyu yang diabaikan terus sama Bum. Buat yang udah komentar dan baca makasih banget ^^ buat para reader baru salam kenal yaa ^^

mind RnR?

maaf ngga bisa bales satu satu review-nya, aku bener-bener seneng dapet sambutan yang hangat dari reader-deul semua... sekali lagi salam kenal dan selamat menikmati fanfic ini ^^