Buat yang kasih Review makasih banyak ^^

saya jadi ada motivasi untuk meneruskan meski dengan mood yang agak labil...

buat Eza~ makasih cantik koreksinya semoga yang chapter ini cara menulis saya lebih baik lagi dari sebelumnya ^^

buat zeroduck sama-sama~~ aku suka Kyumin juga soalnya hehehe. sisa pertanyaannya dijawab di chapter ini ya kkk ^^

buat .1 terimakasih~ semoga chapter ini memuaskan ^^

buat Lan214EunhaElf yang ini dipanjangin kkkk ^^ semoga suka.

enjoy ^^


DREAM

Your Dream, My Dream, His Dream and OUR Dream

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae, Choi Siwon, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun

Genre: Sad, Romance, Friendship

WARNING!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

THANKYOU ^^


Sungmin tersenyum cerah ketika melihat sang pujaan hati menghampirinya, sudah lama sekali Sungmin tidak melihat wajah tampan Kyuhyun. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti terakhir kali Kyuhyun berpamitan untuk ikut Olimpiade Matematika di Busan. Masih sama seperti saat pertama kali bertemu. Tetap tampan.

"menunggu lama? Donghae dimana?" tanya Kyuhyun lembut.

"dia masih di ruang klub, entahlah sepertinya dia sedang membersihkan isi lokernya"

Kyuhyun mengangguk paham, tiba-tiba saja ia tersenyum mengacak rambut pirang Sungmin. Sama seperti Sungmin, Kyuhyun pun merindukan wajah manis Sungmin. Pria kecil kesayangannya.

"apa kondisinya masih sama? Sudah lama sekali sejak ia pertama kali cedera, seharusnya sudah ada kemajuan" Kyuhyun kembali membuka pembicaraan sementara kedua kakinya melangkah menjauhi gedung sekolah dan jemarinya menggegam erat jemari mungil Sungmin.

"entahlah, dia bilang masih merasa sedikit sakit dan mengenai kemajuan setidaknya dia sudah bisa berjalan normal tanpa tongkat. Aku sudah menanyakan kondisinya pada dokter tim kami, ia bilang kondisinya semakin membaik mungkin musim depan ia akan ikut pertandingan lagi"

Kyuhyun menghela napas panjang. "seharusnya kita semua tidak seperti ini kalau saja Siwon mau mendengarkan kita"

"sudahlah jangan dibahas lagi, semua sudah berlalu"

"semua memang sudah berlalu, tapi Donghae tetap menyalahkan dirinya sendiri seolah dirinyalah yang membunuh Siwon"

"hentikan Cho Kyuhyun!" bentak Sungmin tiba-tiba, ia menarik jemarinya yang sedari tadi di genggam Kyuhyun.

"kita berpisah disini saja, aku akan naik taksi. Kau pulanglah, kau juga pasti lelah. Kita bertemu besok di sekolah"

Setelah berkata begitu Sungmin pergi begitu saja meninggalkan Kyuhyun yang masih terpaku. Seharusnya Kyuhyun tahu, obrolan tentang Siwon sangatlah sensitif diantara mereka. Terlebih Sungmin yang jelas-jelas ada disana menyaksikan bagaimana kejadian buruk itu menimpa Siwon.

Kyuhyun terpejam, ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"baru bertemu sudah bertengkar"

.

.

"Donghae, boleh kupinjam motormu? Aku harus menjemput Eunhyuk. Ini darurat, jika aku menggunakan mobil, aku akan terjebak macet. Kau bawa saja mobilku tapi hati-hati! Jangan sampai kau menyakiti 'Gabriel'ku"

"dan jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri"

Donghae terbangun dari tidur lelapnya. Keringat bercucuran membasahi hampir seluruh wajahnya. Mimpi itu muncul lagi, mimpi yang selama setahun ini menghantuinya. Tenggorokannya begitu kering dan napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton. Dengan langkah gontai Donghae berjalan menuju dapur, ia butuh minum untuk membasahi tenggorokannya.

Kata-kata Siwon terus terngiang di telinga Donghae. Bagaimana bisa Siwon mengingatkannya untuk hati-hati tapi pada akhirnya dirinyalah yang mengalami kecelakaan hingga membuat nyawanya melayang. Donghae menggeram kesal, ia melemparkan botol air mineralnya ke sembarang arah. Napasnya kembali memburu karena menahan amarah.

Kalau saja waktu itu Donghae menolak permintaan Siwon yang ingin meminjam motornya. Mungkin kejadian buruk itu tidak akan menimpa Siwon dan Eunhyuk tidak perlu semenderita sekarang. Sejenak Donghae terdiam. Ia tiba-tiba ingat perkataan Kim Woobin tempo hari dipemakaman Siwon.

Seharusnya bukan Siwon yang berada disana. Tapi kau!

Saat itu Donghae terlalu larut dalam kesedihan sehingga tidak bisa mencerna kata-kata Woobin dengan baik. Ia bahkan cenderung tidak peduli karena Woobin memang di kenal sebagai pembuat onar dan suka sekali memperkeruh suasana, jadi ia tidak ambil pusing. Namun sekarang, ia mulai merasa kata-kata Woobin mungkin ada benarnya juga. Mungkin saja orang yang menabrak Siwon itu salah mengenali orang. Orang yang menabrak Siwon sebenarnya ingin mencelakakan Donghae. Tapi kenapa? Donghae merasa tidak pernah punya musuh, ia selalu berbuat baik pada semua orang. Lalu, apa motifnya?

Apa Kim Woobin juga mengatakan sesuatu pada Eunhyuk?

Donghae kembali masuk ke kamarnya, ia mencari ponselnya dan menekan nomor ponsel Eunhyuk yang sudah sangat ia hapal. Napasnya semakin memburu, ketika nada sambung mulai menyapa gendang telinganya.

"Donghae? ada apa?"

Suara Eunhyuk terdengar serak, mungkin karena dia baru saja bangun. Donghae menelan ludah lalu menghembuskan napas, "Eunhyuk" panggilnya.

"ya?"

"apa saat pemakaman Siwon kau bertemu dengan Woobin?" suara Donghae sedikit bergetar, namun ia tetap berusaha agar suaranya terdengar tenang.

"Kim Woobin? Ya, aku bertemu dengannya. Kenapa tiba-tiba bertanya soal Woobin malam-malam begini? Apa terjadi sesuatu?"

"apa dia mengatakan sesuatu padamu?"

"aku rasa tidak. Saat itu dia hanya memandangku dengan tatapan yang seolah meremehkan. Entahlah lalu ia pergi begitu saja. Kenapa? Apa terjadi sesuatu antara kau dan Woobin?"

Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Eunhyuk kembali mengulangi pertanyaannya. Namun, ia tetap tidak mendapat jawaban. Ia hanya mendengar deru napas Donghae yang tidak teratur sedetik kemudian sambungan terputus.

Apa terjadi sesuatu padanya? Pikirnya.

.

.

Eunhyuk menatap Donghae dengan tatapan bingung, ia juga tidak mengerti kenapa Donghae terlihat gelisah pagi ini. Biasanya, Donghae selalu terlihat riang. Donghae selalu menceritakan hal-hal lucu pada Eunhyuk, meskipun Eunhyuk hanya menanggapinya dengan senyuman tipis Donghae tetap tertawa sesekali ia mengacak rambut coklat Eunhyuk dengan gemas.

Namun pagi ini berbeda, Donghae tidak mengatakan apapun. Sepanjang perjalanan menuju sekolah Donghae hanya menunduk lesu. Bahkan ia hampir saja ketinggalan bus karena melamun. Kalau saja Eunhyuk tidak menengok ke belakang, mungkin Eunhyuk tidak akan menyadari Donghae tidak lagi berjalan di belakangnya. Donghae hanya berdiri menatap jalanan dengan tatapan kosong.

"semalam kau meneleponku menanyakan soal Woobin dan hari ini kau terlihat lesu. Sebenarnya ada apa?"

Akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk bertanya. Karena jujur saja, sikap Donghae yang seperti ini sangat mengganggunya. Ia lebih suka Donghae mengoceh lalu tertawa lepas sambil mengacak rambutnya.

Donghae tersenyum, menatap Eunhyuk dengan lembut sambil mengelus lembut rambut dan pipinya.

"tidak ada apa-apa. Aku hanya mimpi buruk semalam, maaf sudah mengganggu tidurmu semalam"

Eunhyuk menggeleng, tanpa melepaskan tatapannya dari Donghae.

"tapi kau menyebut soal Woobin semalam. Sebenarnya ada apa? Katakan padaku sejujurnya. Aku mengenalmu sejak usia kita lima tahun. Jadi, jangan coba berbohong padaku karena kau bukan pembohong yang baik dan di samping itu, kau tidak bisa membohongiku"

Tatapan lembut Donghae berubah menjadi tatapan bingung dan terkejut. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Eunhyuk ucapkan padanya sejak setahun lalu.

Entah kenapa, Eunhyuk merasa terganggu dengan tatapan Donghae yang seperti itu. Ia memalingkan kepalanya menghindari tatapan Donghae.

"baiklah, akan aku katakan" Donghae mendesah pelan. Ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Eunhyuk.

Eunhyuk kembali memalingkan kepalanya ke arah Donghae. Menanti jawaban Donghae.

"sebenarnya, aku bertemu dengan Woobin di pemakaman Siwon. Dia mengatakan sesuatu yang membuatku bingung, awalnya aku tidak ambil pusing namun lama-lama aku merasa terganggu. Aku takut, apa yang dikatakannya adalah benar"

"apa? Apa yang berandal itu katakan?" Eunhyuk mulai penasaran karena Donghae terus bertele-tele sejak tadi.

Lagi-lagi Donghae hanya tersenyum sambil menatap Eunhyuk dengan lembut. Sementara Eunhyuk mulai merasa sebal dengan sikap Donghae yang sok misterius seperti ini. Sebelum Eunhyuk sempat bertanya dan sebelum Eunhyuk menyadari situasi, bibir Donghae sudah menyentuh dahinya. Eunhyuk berusaha mendorong bahu Donghae. ini gila! berani-beraninya Donghae mencium keningnya di tempat umum seperti ini. Namun tangan besar Donghae memerangkap kedua pergelangan tangannya.

"jangan bertanya lagi atau aku akan melakukan lebih dari ini" ujar Donghae sambil tersenyum.

.

.


TBC

SEE YA NEXT CHAPTER ^^

GIMME YOUR REVIEW PLEASE...THANKS BEFORE ^^