Tidak ada seorangpun yang tahu akan rencana Tuhan. Hari ini kita memang bahagia, tapi tidak akan ada yang tahu jika besok kita berduka. Kemarin mungkin matahari masih menampakan sinar teriknya, tapi takkan ada yang tahu lusa terjadi hujan badai besar-besaran.
Semua tidak akan tahu…
Begitupun dengan Naruto.
Hari itu, tepat satu tahun yang lalu, kehidupannya masih tampak sempurna. Ia memiliki seorang pendamping yang tak kalah sempurna. Sasuke, namanya. Dia adalah sosok pria tangguh berhati malaikat, meski terlihat begitu angkuh dan introvert tapi Sasuke merupakan orang yang memiliki rasa kasih sayang tinggi terhadap orang-orang di dekatnya, termasuk keluarga kecilnya sendiri. Selain itu kebahagiaan Naruto diperlengkap dengan kehadiran seorang buah hati mungil bernama, Menma. Bocah nakal yang sering kali membuatnya iri dengan bermanja-manja pada Sasuke, namun meski begitu, tak jarang pula keduanya terlibat bekerja sama untuk menamengi diri dari omelan Sasuke seputar pola makan dan kebiasaan buruk lainnya.
Pagi itu, ia tak pernah memiliki firasat buruk mengenai keluarga kecilnya yang selalu bahagia. Sasuke melakukan peranannya sebagai seorang istri atau submissive pada umumnya; menyiapkan sarapan, mengurus rumah, membersihkan dapur, membangunkan Naruto, lalu mengantar Menma ke sekolahnya. Tiga tugas yang pertama sudah dilakukan Sasuke, tinggal membangunkan si Dobe pemalas yang selalu saja sulit untuk dibangunkan dari alam mimpi.
"Wake up, Dumbass! Kau akan terlambat pergi ke kantor jika terus memeluk guling seperti itu!"
Cara yang digunakan Sasuke untuk membangunkan Naruto juga selalu unik setiap harinya. Entah itu memukul perut berotot suaminya, menendangnya sampai jatuh dari kasur, menjitak kepala blondenya, atau yang paling parah mengguyur wajah Naruto dengan air kamar mandi.
"Ngghh, berisik, Suke…."
Oke. Cara halus takkan mempan seperti biasanya, karena itulah Sasuke bersiap-siap menaiki kasur, berniat menginjak-injak tubuh Naruto seperti gajah ganas.
"Kuhitung sampai tiga, kalau kau tidak mau bangun juga, maka jangan salahkan aku jika seluruh tulang-tulangmu akan patah," ancamnya, namun Naruto tidak juga bangun dan malah semakin mengeratkan pegangannya terhadap selimut. Dengan kesal, Sasuke lekas menyibak selimut tebal milik mereka, menendang jatuh guling yang hendak dipererat oleh sang suami, lalu menjejakkan seluruh bobot tubuhnya untuk menginjak-injak perut Naruto.
"UAGHH!" Tubuh berkulit tan itu melengkuk ke bawah, membentuk sebuah huruf 'U'. Injakan Sasuke benar-benar mematikan, sampai-sampai Naruto nyaris muntah di atas kasur.
"Sudah kubilang bangun, Idiot! Aku sampai bosan membangunkanmu dengan cara kasar setiap harinya, apa tidak bisa kau menyenangkan hatiku setiap pagi, huh?" dengusnya makin jengkel.
"Teme!" Naruto menyalak. Sudah bangun terpaksa, tertimpa gajah seksi pula. Alamak, melihat Sasuke dari bawah ternyata cukup menyegarkan mata juga.
"Apa?!" Sang raven mendelik galak.
Naruto terkekeh. Meski ia akui perutnya benar-benar mual dan mau muntah. Pria raven kesayangannya ini malah semakin sadis menginjak-injak perut dan dadanya, tapi Naruto tidak jadi marah, ia justru menikmati selangkangan Sasuke yang terlihat begitu menggiurkan dari bawah sini.
"Kenapa kau tertawa, Dobe? Cepat bangun! Aku harus mengantar Menma ke sekolah, kau tahu?"
"Suke~ bagaimana aku bisa bangun kalau kau masih berada di atasku, hm?"
Bibir sewarna cherry itu mendecih. Ia baru sadar kalau dirinya masih menginjak dada Naruto yang begitu bidang, dan rasanya cukup menyenangkan juga merasakan otot-otot tubuh itu dengan kakinya.
"Hn, cepatlah mandi lalu bersiap-siap. Sarapan sudah kusediakan di atas meja makan."
"Aye, aye, captain!"
Sasuke membuang pandangannya saat menuruni dada Naruto, membiarkan pria pirang itu bangkit sembari mengaduh, dan ia berniat meninggalkannya untuk segera mengantarkan Menma ke sekolah.
"Hei," Tiba-tiba Naruto menariknya kembali ke atas kasur, membuat tubuh langsing Sasuke berputar cepat lalu menubruk permukaan yang empuk.
Posisi dibalik dalam waktu singkat. Narutolah yang sekarang berada di atas tubuh Sasuke, namun bukan menginjaknya seperti yang dilakukan Sasuke tadi terhadapnya, melainkan mengunci tubuh ramping itu diantara permukaan kasur dan tubuh atletisnya yang bertelanjang dada.
"D-Dobe! Lepaskan aku!"
"Ckckck, mana ciuman selamat pagiku, Love?"
"Idiot!" Sasuke hanya mampu mengumpat, merutuki kemesuman pria pirang yang telah menjadi suaminya selama sepuluh tahun.
"Si 'idiot' ini yang telah berhasil membuatmu hamil, Bodoh."
Perkataan itu menyebarkan rona merah di wajah putih Sasuke, dan Naruto hanya terkekeh tanpa dosa melihatnya.
"Kau sudah membangunkanku dengan cara kejam, Suke. Tapi, yang tadi itu hot juga ttebayou!"
"A-Apa maksud—Ouch! Aw! Apa yang kau lakukan, Dumbass—AH!"
Desahan-desahan Sasuke mengalun di kamar itu. Kaos biru polos yang ia kenakan kusut karena remasan-remasan Naruto terhadap sepasang dadanya. Belum lagi daerah selangkangan yang ikut terkena remasan tak beradap suami pirangnya.
"Aku bisa melihat selangkanganmu yang seksi itu dari bawah tadi loh, Suke~" Naruto menggodanya, ia terkikik amat jenaka.
"Dobe —AH! Mmh!" Mau tak mau Sasuke kelimpungan juga dengan keusilan suaminya. Ia hanya mampu mendesah dan mengerang ketika tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap, tengah diremas dan dicubit secara membabi buta. Naruto juga menciumnya sangat dalam. Begitu panas. Dan begitu menggairahkan.
"Hm? Apa yang Tousan dan Kaasan lakukan?" Menma memiringkan kepalanya di depan pintu kamar yang terbuka. Tak habis pikir dengan kedua orangtuanya yang terlihat saling menindih di atas kasur. Dan juga kenapa ayahnya memakan bibir ibunya?
"Mmh!" Sasuke memukul-mukul bahu Naruto, tapi pria itu seolah tak peduli dengan suara menggemaskan Menma, beserta kepanikan yang melanda diri istrinya. Yang Naruto inginkan sekarang hanyalah memakan habis bibir merah manis Sasuke, lalu melakukan ritual pembuatan jagoan kedua secepatnya.
BUAGH!
Tak ada cara lain untuknya meloloskan diri dari terkaman Naruto, selain mengacaukan konsentrasi mesum ala suami pirangnya itu. Dengan bermodal pukulan maut yang tak seberapa kuatnya, akhirnya ciuman ganas Naruto terlepas dari bibirnya yang kini membengkak kian merah.
"Ada, Menma, Idiot!" sembur Sasuke, terengah lelah. Dua tangannya lekas meremas kuat bahu kokoh sang suami, berharap pria pirang itu akan melepaskan kuncian di tubuhnya, tetapi bukannya menjauh, Naruto malah semakin gencar menghimpit Sasuke, lalu menjulurkan lidahnya di leher jenjang sang raven.
"Biarkan saja."
"Lepaskan aku, Baka!"
"Apa yang Tousan lakukan kepada Kaasan?" Menma yang polos kembali bertanya. Rupanya sang anak mulai penasaran dengan tingkah sang ayah. Menma berpikir, apakah tubuh Kaasannya terbuat dari gula sampai-sampai Tousannya itu menjilatnya dengan rakus.
"Menurut Menma sedang apa?"
"Hmm, menjilat leher Kaasan?"
"Anak pintar," puji Naruto sambil terbahak.
"Apa Kaasan sangat manis, Tousan?"
"Hm! Sangat-sangat manis, sampai Tousan ingin memberi Menma adik secepatnya."
"DOBE! Berhenti mendoktrinnya dengan kata-kata kotor!"
"Apa? Aku hanya mengatakan apa yang ada di kepalaku saja."
"Kau… kau dan otak kotormu itu! Menjauh dariku sekarang juga, Idiot!"
"Tidak mau~"
Menma yang masih memperhatikan kedua orangtuanya, hanya mengerjapkan mata tak mengerti.
"Usuratonkachi!"
"Jadi kau meragukan 'keperkasaanku' Sasuke?" katanya berbahaya, menekankan kalimat 'keperkasaanku' dengan intonasi berat yang tidak biasa.
"Hentai! Naruto no Baka!"
DUAK!
Sasuke lekas menendang selangkangan Naruto yang berada di atas pahanya.
"Huaghh! Sialan kau, Teme!" Pria pirang itu menggelepar di atas kasur seperti cacing kepanasan, sementara Sasuke sudah berhasil melarikan diri dari terkaman rubah mesum berambut pirang dengan membawa Menma ikut serta bersamanya. "Lihat saja nanti malam, kugempur pantatmu itu habis-habisan, Sasuke," katanya penuh akan kemesuman.
Sasuke yang pada saat itu sudah berada di depan pintu utama lekas merinding, suara Naruto sempat terdengar walau agak samar, tetapi ancaman itu tetap hinggap di gendang telinganya dengan jelas sejelas-jelasnya.
"Ada apa, Kaasan?" Bola mata Menma yang berwarna biru kembali mengedip lucu. Menatap tepat ke dalam bongkahan intan kelam milik ibunya.
Sasuke memaksakan dirinya tertawa. Ia hanya mampu menggeleng, dan menggiring Menma menuju mobilnya di halaman depan. Namun, sebelum Sasuke sempat membukakan pintu mobil untuk Menma, bahunya tiba-tiba saja tertarik ke belakang, mulutnya juga dibekap menggunakan kain berbau obat-obatan yang sangat menyengat.
"Mmph!" Rasanya percuma ia meronta. Cengkraman dua lengan yang menyergap tubuhnya begitu kuat dan kekar, ditambah lagi Sasuke sempat menghirup aroma memabukan itu hingga membuat tenaganya melemah.
"Kaasan!" Suara si kecil yang berteriak, tak terlalu di dengar oleh Sasuke yang sudah kehilangan kesadaran. "Lepaskan Kaasan Menma!"
"Minggir, Bocah!" sentak lelaki satunya sembari mendorong kasar tubuh mungil Menma, membuat bocah bersurai hitam itu terpelanting di halaman depan rumahnya sendiri.
"Jangan bawa Kaasan Menma! Kembalikan!" Ia tak juga menyerah. Menma bangkit dari jatuhnya lalu memukul salah satu kaki pria penculik Sasuke. Tapi karena tenaganya kalah jauh, tentu saja pria itu kembali menyentaknya dengan mudah. "Kaasan!"
Teriakan keras Menma beriringan dengan bunyi deru mesin mobil yang membawa pergi sosok ibunya. Bocah itu langsung panik dan berniat mengejar laju mobil itu, tapi otak cerdas turunan dari sang ibu menyadarkan Menma bahwa hal itu akan percuma. Jadilah ia berlari masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil sang ayah yang pada saat itu baru keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Sayang? Kenapa belum berangkat sekolah?"
"Kaasan, Tousan…."
Naruto mengerutkan kening melihat wajah pucat sang putra. Firasatnya langsung berkata buruk, apalagi ia tak melihat adanya Sasuke di belakang tubuh Menma.
"Dimana Kaasan, Menma?" tanyanya dengan nada berat.
Bocah itu tak langsung menjawabnya, dan malah menangis semakin keras.
"Menma?"
"Kaasan…."
"Katakan, Sayang. Ada apa dengan Kaasanmu? Dimana dia?"
"Kaasan dibawa pergi orang, Tousan," Menma tergugu, dan Naruto lekas menarik lengan sang anak untuk mendekat ke arahnya.
"Apa maksudmu?" desak Naruto tak sabaran, sampai-sampai ia tidak sadar kalau tindakannya itu telah menyakiti lengan Menma yang mulai memerah sakit.
"Tadi ada dua orang bertubuh besar yang membekap mulut Kaasan, dan mereka langsung membawa Kaasan setelah pingsan."
"Sial!" Mulut si blonde mengumpat panik. Dengan terburu-buru ia menyambar pakaian apapun yang pertama kali ia lihat di dalam lemari, lalu segera melesat keluar rumah untuk mengejar penculik yang tadi dikatakan Menma menggunakan mobilnya.
"Tousan!"
"Tetaplah di dalam rumah sampai Paman Kiba datang. Tutup dan kunci pintunya!" seru Naruto dari dalam mobil. Setelahnya ia lekas menghilang dari pandangan Menma, dan meninggalkan bocah itu menangis seorang diri di depan halaman rumah.
Sayangnya, berjam-jam Naruto mencari dan melacak keberadaan Sasuke melalui GPS ponselnya, ia tetap tidak menemukan istri ravennya itu. Para penculik itu pasti sudah melakukan sesuatu pada ponsel milik Sasuke, dan sekarang ia tak tahu bagaimana keadaan istrinya yang sedang disandera diluar sana. Namun, kecurigaan mengenai dalang penculikan tersebut pastilah ada, karena Naruto akhir-akhir ini memang sedang menyelidiki kasus yang cukup rumit.
Bulan lalu ia berhasil menangkap salah satu anggota teroris paling berbahaya di Jepang. Tapi karena rasa kesetiaan terhadap kelompoknya, penjahat itu memutuskan mengakhiri hidupnya di dalam sel tahanan, padahal Naruto belum mengorek banyak informasi darinya, dan mungkin hal itu yang menjadi alasan si penjahat bunuh diri.
Tapi karena kematian anggota teroris yang tertangkap itulah, kantor kepolisian pusat berkali-kali terkena teror dari seseorang. Mulai dari bom kecil yang meledakkan gudang penyimpanan arsip, surat-surat ancaman yang ditulis dengan darah hewan, dan terakhir ancaman itu datang langsung diperuntukkan kepada Naruto, sebagai ketua team yang berhasil membekuk anggota teroris itu sendiri.
Dan disinilah ia berada sekarang. Di depan meja kerja kantornya. Merutuki kebodohan serta kelalaiannya dalam menjaga Sasuke. Dan Naruto tak habis pikir, kenapa ia tak memperkirakan kejadian seperti ini akan benar-benar terjadi menimpa keluarga kecilnya.
"Apa maumu brengsek?! Kembalikan istriku!" bentak Naruto di depan line telepon bersama seseorang.
"Tidak semudah itu, Tuan Namikaze."
"Jangan bertele-tele, dan cepat katakan apa maumu?!"
Penjahat itu tertawa. Naruto tak mengerti, kenapa mereka bisa mendapatkan nomor telepon ruangan pribadinya semudah ini.
"Aku ingin jasad rekanku dikembalikan."
"Fine! Kau menginginkan mayat busuk itu? Aku akan mengembalikannya secepat yang kau mau!"
Lelaki di seberang line telepon sana menggeram. "Jaga ucapanmu, Namikaze! Aku bisa membunuh istri tercintamu jika kau tidak bisa menjaga sikap."
Skak! Naruto mati langkah dengan adanya ancaman itu. "O-Oke! Dimana kau menginginkan adanya pertukaran?"
"Apakah aman jika aku mengatakannya sekarang?"
"Cepat katakan saja, Brengsek!"
Lagi-lagi pria itu tertawa. "Kau siapkan saja apa yang kami inginkan, dan setelah itu barulah akan kukatakan dimana tempatnya."
"Berikan ponselmu pada Sasuke. Aku ingin memastikan kalau kalian tidak melukainya."
"Baiklah… Suamimu yang pemarah ini ingin bicara Nona Manis," Kalimat mengejek itu tidak ditujukan kepada Naruto, tetapi pada Sasuke yang duduk terikat di sebelahnya.
"Naruto?"
"Sasuke? Kau tidak apa-apa, Sayang? Apa mereka menyakitimu? Apa kau terluka?" tanya Naruto bertubi-tubi.
Terdengar helaan napas lemah di sebrang telepon sana. "Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Menma?"
"Dia baik-baik saja. Kiba menjaganya di rumah saat aku pergi bekerja."
"Begitu? Syukurlah…," Sudut bibir Sasuke melengkung amat lega. Setidaknya ia tenang, kalau putra kecilnya baik-baik saja dan tidak terluka.
"Sasuke… bersabarlah, Sayang. Aku akan segera membebaskanmu dari sana. Aku akan segera menjemputmu, dan setelah itu kita akan pulang menemui Menma. Dia tak berhenti menangis karena mencemaskanmu. Putra kita tidak bisa tidur tanpa dongeng darimu."
Sasuke terkikik tanpa sadar, membuat jengah pria yang sedang menyanderanya saat ini. "Aku akan menunggumu, dan kita pasti akan berkumpul bersama lagi, kan?"
"Ya, tentu saja."
Ponsel di telinga Sasuke ditarik kembali, memutus kontak dua insan yang sedang melampiaskan rasa rindunya karena dipisahkan paksa.
"Segera siapkan jasad rekan kami, dan juga…," Ia melirik anggota kelompoknya yang lain tengah mengikatkan sebuah kain di mulut pria raven itu. "Siapkan uang sebanyak tiga milyar sebagai bunganya dalam bentuk tunai, atau kau tidak akan pernah melihat istri cantikmu ini lagi."
Naruto tak sempat menyela, ia sudah lebih dulu shock dengan permintaan yang kedua. Dan ironisnya perkataan yang terakhir juga turut memukul telak jiwanya.
"A…pa?"
Untuk yang ketiga kalinya pria itu tertawa, kali ini disertai suara gebrakan samar seperti benturan tangan dengan permukaan kayu meja. "Waktumu hanya satu hari. Semoga berhasil."
"Hei —tu-tunggu!" layar ponsel telah menggelap. Umpatan dan cacian kasar Naruto mengudara. "Sial!" kakinya menendang ganas kursi dan meja, membuat dua benda padar itu bergeser beberapa hasta sebelum menabrak tembok.
Ketakutan dan dilema yang besar memporak-porandakan perasaan kalut Naruto saat ini. Ia tak mungkin menyiapkan nominal uang sebesar itu dalam waktu satu hari. Bukannya ia tak memiliki uang sebanyak itu, tapi mencairkan uang tunai dalam jumlah banyak pasti akan memakan waktu berhari-hari lamanya. Pihak bank tidak mungkin menyediakan jumlah uang tunai melebihi kapasitas normal. Jadi akan sangat mustahil bagi Naruto menyiapkan uang tebusan sebanyak itu dalam waktu tak lebih dari 24 jam.
Apa yang harus ia lakukan?
Pria itu merosot lemah di atas lantai. Kedua tangannya menjambak surai pirang miliknya sambil mendesiskan kalimat umpatan yang tersisa.
Keesokan harinya, rencana pertukaran sandera akhirnya dilaksanakan. Ketua teroris itu menginginkan Naruto datang ke tempat itu sendirian, karena jika ia melihat satu orang saja di belakang Naruto, maka orang itu tak akan segan-segan membunuh Sasuke di detik itu juga.
Naruto memang menyanggupi permintaan itu, bahkan ia sampai rela berdebat dan berkelahi dengan atasannya sendiri. Ia tak ingin Sasuke celaka, ia ingin Sasuke kembali padanya dalam keadaan sehat, tanpa luka, maupun cacat.
Dengan menggotong seonggok jasad yang sudah membusuk, Naruto berjalan pelan-pelan. Jalanan yang dipijakinya penuh batu, karena ini di sekitar daerah pegunungan terpencil. Jasad yang ia gotong dilapisi oleh plastik dan kain putih, menghindari aroma busuk serta belatung yang mungkin bersemayam dalam jasad busuk itu, karena Naruto baru saja menggalinya dari makam dekat markas kepolisian pusat. Sementara kedua tangannya yang berotot tengah membawa dua tas besar berisi uang tebusan.
Naruto menatap lurus ke depan. Ia khawatir mengenai keadaan istrinya. Sasuke bukan tipikal orang yang akan mudah mengadu jika dirinya merasa sakit, Naruto harus memastikan hal itu dengan mata kepalanya sendiri.
Tak terasa, langkah kakinya yang begitu pasti memanjat permukaan tanah tinggi itu telah sampai di tempat tujuan. Pandangan Naruto mengedar, lalu berhenti tepat di sebuah titik dimana adanya simbol bintang segienam terpahat pada dahan pepohonan. Ketua teroris itu mengatakan kalau tempat pertukaran akan diadakan di kaki gunung Myoboku, dekat tebing batu, dengan simbol segienam yang sengaja mereka pahat sebagai titik pasti lokasi pertukaran itu terjadi.
"Aku sudah membawa apa yang kau minta. Sekarang keluarlah! Tunjukan dirimu, Bajingan!" teriaknya disertai gaung di sekitar tempat sunyi itu.
Tak berapa lama, munculah sekolompok pria berpakaian hitam, dengan seorang lelaki berambut putih panjang sebagai ketuanya. Lelaki itu menjentikan jari, mengisyaratkan salah seorang bawahan untuk membawa Sasuke ke hadapannya. Tubuh lelaki raven itu terlihat begitu lemah, wajahnya kusut, pakaiannya lusuh, dan ada sedikit darah di sekitar kening bagian kanan. Melihat hal itu tentu saja mata Naruto langsung terpicing tajam.
"Kau melukainya," desisnya rendah.
Lelaki berambut putih itu hanya tertawa, membiarkan angin memainkan helaian rambutnya yang diikat tinggi. "Serahkan dulu jasad rekan kami, setelah itu baru uangnya."
Naruto menuruti perintah itu tanpa bantahan. Ia melirik lengan si pria rambut putih, seakan-akan ingin memotong-motongnya karena telah berani mengapit leher Sasuke dan juga menyentuh bebas kulit wajahnya. Naruto tidak suka. Sasuke adalah istrinya dan tidak boleh ada yang menyentuhnya selain Naruto. Tetapi situasi saat ini memang berat sebelah, tidak menguntungkan sama sekali bagi Naruto.
Setelah jasad dan dua tas berisi uang itu ia letakkan di atas permukaan tanah berbatu, empat orang teroris segera turun dari atas tebing untuk mengambilnya.
"Sekarang berikan Sasuke padaku," titahnya setengah cemas. Matanya tak berhenti untuk melirik kegiatan empat pria yang sudah kembali ke posisinya masing-masing.
"Tidak, sebelum aku memastikan kalau kau sudah mengikuti perintahku dengan benar."
"Apa maksudmu?"
Dagu si pria mengedik, seperti memanggil salah satu bawahan yang diperintahkan untuk menghitung jumlah uang tebusan, dan ketika suara bisikan yang membuatnya marah terdengar, segera saja ia mengambil sebuah pisau dari kantung celana, lalu mengarahkan ujung tajam itu di leher Sasuke. "Kau menipuku!"
"Tidak!" bantah Naruto tegas. "Aku sudah mengatakan padamu tadi malam, kalau mencairkan uang dalam nominal sangat besar akan membutuhkan waktu berhari-hari."
"Tapi aku tidak mau peduli! Kau harus membawakan jumlah uang sesuai perintahku, Namikaze!"
Kepalan tangan Naruto bergetar. Degupan jantungnya begitu keras menggedor pertahanan dadanya. "Kau tidak mengerti! Hal itu sangat mustahil!"
"Kau!"
Melihat pergerakan terhadap pisau itu, kepanikan Naruto semakin kuat melanda jiwanya. "Tunggu! Serahkan dulu Sasuke padaku, setelahnya aku akan memberikan sisa uang yang kau minta."
"Transaksi ini kuanggap batal!"
"Jangan!" teriaknya begitu keras. "Tolong jangan melukainya. Aku berjanji akan memberikan uang itu padamu, atau… atau kuberikan kau cek sebagai gantinya. Kau boleh menulis jumlah angka yang kau mau, berapapun. Jika kau anggap masih kurang, kau boleh ambil semua uangku."
Ketua teroris itu tertawa terbahak-bahak. Melihat seorang Namikaze Naruto yang terkenal tegas, tengah memohon-mohon di bawah kakinya dengan suara parau dan gemetar. "Kalau aku tidak mau?"
"Kau… kau boleh minta apapun asalkan kau melepaskan istriku."
"Aku boleh meminta apapun? Hm…," lelaki itu berpikir sejenak, sengaja mengulur waktu dan mempermainkan ketakutan Naruto. Ia menggerakan ujung pisau itu pada dua kancing kemeja Sasuke, menariknya sampai lepas, lalu menyusupkan tangannya untuk membelai daerah tertutup itu.
Sasuke tidak suka pria lain menyentuhnya. Itu termasuk pelecehan, tapi ia tak bisa memukul jatuh pria putih itu karena kedua tangannya masih terikat. Ketika tangan menjijikan si pria naik ke daerah leher, lalu menangkup rahangnya, Sasuke lekas memberikan tatapan mematikan yang disambut kekehan mengejek dari pria itu.
"Menurutmu apa yang akan kuminta?" tanya si pria, mata lavendernya menghujami iris kelam Sasuke. Perhatiannya lalu bergulir pada Naruto. Pria pirang itu tampak seperti siap menelannya hidup-hidup. Naruto memandangnya penuh benci dan dendam karena telah berani menyentuh Sasukenya. "Kuakui istrimu ini menarik, Namikaze-san."
"Apa maksudmu?" Nada suara Naruto berubah berat dan kelam. Ia terus memperhatikan, bagaimana tangan-tangan menjijikan itu memeta kulit halus Sasuke, memainkan bibir ranum yang terbekap oleh selembar kain putih, kemudian mendorong masuk jarinya ke dalam mulut itu.
"Tidak seperti yang kau bayangkan."
Ketua teroris itu memahat sebuah seringai licik dibibirnya, seketika itu pula Naruto merasa napasnya tercekik di tenggorokan.
"Istrimu sangat menarik… untuk dibunuh!"
CRAATT!
Darah bermuncratan dari seonggok daging yang ditikam paksa. Gerakan tangan pria itu begitu cepat, sampai-sampai Naruto tak bisa mengimbangi gerakan tangan itu, dan hanya mampu melihat cahaya mengkilat dari benda logam tipis yang tertimpa cahaya matahari.
"Sasu–"
CRAATT!
Tusukan kedua. Gerakan tangan yang mencabut dan menikam pisau itu begitu cepat seperti kedipan mata. Tubuh yang mendapat serangan itu hanya mampu menggigit kuat kain yang ada di mulutnya. Daerah sekitar perut yang mengucurkan darah segar terasa panas terbakar. Luka tusukan yang diterima Sasuke sangat dalam, dan pria itu menikamnya dua kali di tempat yang sama.
Tawa puas nan jahat mengudara bagai polusi. Menyesakkan. Memuakkan. Dan Naruto begitu terpukul melihat tubuh Sasuke yang bermandikan darah terhempas begitu saja di atas tebing.
"SASUKEEEEEE!" Saat sadar Naruto langsung berteriak sekeras-kerasnya, tak peduli pita suaranya akan rusak, pemandangan yang tersaji di hadapannya begitu menakutkan. "Sasuke…," dan ia berlari dengan kaki setengah gemetar, mendaki tebing seperti balita yang baru belajar berjalan, mengabaikan tawa menggema yang perlahan menjauh, tak menyadari bahwa sesosok Shikamaru juga turut melihat hal itu dari balik pepohonan dengan tubuh mematung dan mata terbelalak lebar. Fokus perhatian Naruto hanya tertuju pada sosok lemah istrinya yang mulai kehabisan darah.
Disisa-sisa kesadarannya, Sasuke merasakan dekapan hangat yang menyelimuti tubuhnya. Mulutnya yang tersumbat kembali bebas, ia meraup udara begitu rakus, namun kenapa sekarang terasa sulit bernapas dengan normal. Apakah ini rasanya jika berada diambang kematian?
"Sasuke? Bangun, Sayang. Buka matamu lebar-lebar."
Suara itu begitu dekat, hembusan napasnya juga terasa di wajah pucat Sasuke. "Na…ru…to…."
Kenapa sulit?
Kenapa dadanya sesak?
Mata Sasuke perlahan membuka walau susah payah. Wajah suami pirangnya terlihat kalut dan penuh airmata, tapi bukan itu yang menjadi fokus perhatiannya, melainkan pandangannya yang semakin memburam gelap. Bibirnya mencoba merapal lagi, tapi hanya mampu bergerak terpatah tanpa suara.
'Naruto….'
Kata itu tak sampai di telinga Naruto. Ia akhirnya pasrah pada keadaan. Ia tahu mungkin waktunya tak akan lama lagi.
'Naruto… aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Sayang…'
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit. Jangan menutup matamu, Suke… bertahanlah untuk Menma, untuk anak kita."
Kenapa ia tak bisa mendengar suara Narutonya. Telinga Sasuke berdenging memperdengarkan detak jantungnya yang begitu lemah, dan Sasuke merasakan kalau tubuhnya yang kurus dibopong oleh dua lengan kekar yang begitu hangat.
'Sayang, aku…,' Belah bibir yang memuntahkan darah kembali bergerak, tapi tetap tak ada suara yang terdengar.
"Jangan memaksakan diri untuk berbicara. Ya Tuhan… lukamu, Suke," Naruto terisak getir. Ia dekap tubuh rapuh itu semakin merapat pada dadanya. "Tetaplah bertahan. Bertahanlah, Sayang."
Pandangan Sasuke mulai berkunang-kunang. Jarinya bergerak menyentuh dada suaminya yang terbungkus pakaian dinas. Ia seperti menulis sesuatu disana, tapi Naruto tak dapat menangkapnya karena terlalu panik.
'Jaga anak kita, dan maafkan aku… Maaf….'
"Suke? Suke! Dengarkan suaraku, Suke!" Pria pirang itu meraung amat keras. Kesadaran Sasuke telah hilang, dan denyut nadinya begitu lemah. Dengan segera Naruto memasukkan tubuh ringkih itu ke dalam mobil, dan ia memacu kendaraan beroda empat itu dengan tangis yang masih mengucur di wajahnya.
Berulang kali Naruto melirik kaca spion mobil hanya untuk melihat keadaan Sasukenya. Ia takut. Takut kedua mata hitam indah itu tidak terbuka lagi seperti biasanya.
Ditengah-tengah kekalutan yang Naruto rasakan, ia mulai tersadar akan sesuatu. Kendali mobilnya bergerak sendiri. Berkali-kali ia menginjak pedal rem, benda itu seakan tak lagi berfungsi. Naruto berubah panik, namun ekor matanya begitu cepat menangkap ketidak laziman terhadap dashboard mobilnya. Ada simbol diagram bintang segienam yang tergores disana, beserta sebuah tulisan 'Nyawa dibayar dengan nyawa' yang membuat matanya melotot amat lebar.
Sebelum Naruto sempat menyelamatkan dirinya dan Sasuke, mobil yang dikendarainya terpelanting masuk jurang. Mobil itu berguling-guling, menabrak bebatuan, hingga Naruto terlempar dari kursi kemudi, namun tidak dengan Sasuke yang berada di kursi belakang. Pria raven itu terbawa arus mobil sampai ke bagian bawah jurang hingga akhirnya mobil itu meledak.
…
"Suke!"
Naruto terbangun dengan napas ngos-ngosan. Peluh membanjiri keningnya, dan ia tersadar kalau dirinya sudah tertidur selama berjam-jam di atas meja kerjanya.
Sudah berapa lama ia tak pulang ke rumah?
Dua hari? Tiga hari? Atau lebih dari itu kah?
Sejak kejadian ia memeluk Menma yang menangis di kamarnya, Naruto tak lagi menemui putra kecilnya itu. Tekadnya yang bulat untuk kembali mengejar penjahat yang telah membunuh Sasuke semakin membara setiap detiknya. Tapi, jujur saja ia jadi merindukan bocah mungilnya yang pasti merasa kesepian sepanjang waktu.
"Menma?" Tanpa sadar ia berbisik lirih. Rindu yang besar membuncah di sebagian hatinya yang penuh akan sosok Sasuke. "Sedang apa kau sekarang, nak?"
Pria berusia kepala tiga itu tercenung sesaat. Mulutnya membuang napas kasar yang sarat akan penyesalan. "Aku ayah yang buruk. Ne, benarkan Sasuke? Aku ayah yang buruk untuk anak kita."
Sosok transparan di sampingnya lekas menggeleng kuat. "Tidak, kau masih ayah yang terbaik untuk Menma, Sayang."
"Kalau kau masih disini, kau pasti sudah memukul kepalaku," Ia terkekeh pilu, namun tidak dengan Sasuke yang memandangnya sendu.
"Aku akan memukulmu, kalau kau tidak pulang sekarang juga dan menemani anak kita, Idiot!"
Naruto memijit pertemuan keningnya. Pusing. Bahunya pegal, dan perutnya juga lapar. "Kurasa aku harus pulang sekarang. Menma sedang apa ya? Apa dia sudah makan?"
"Kenapa kau baru memikirkan itu sekarang, Bodoh!" decak Sasuke sebal, tapi sebentuk senyum tipis mampir di wajah tampannya.
"Ya, aku harus pulang sekarang," Pupil Naruto melirik bingkai foto yang terpajang di atas meja kerja. Ia tersenyum samar. "Meskipun aku tahu, tidak akan ada lagi yang menyambut kepulanganku nanti."
Walau merasa hatinya tersayat dengan kejamnya, Sasuke tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia yakin, suatu saat nanti akan ada rencana indah dari Tuhan untuk keluarga kecilnya yang malang ini.
…
Menma mengusap dua kelopak matanya yang berat. Seseorang seperti sedang mengawasi pergerakan tidurnya sejak tadi. Lampu kamarnya masih redup, ia memang tak bisa tidur dengan kondisi lampu yang menyala karena itu adalah kebiasaannya.
"Nghh, Tousan?" tanyanya serak, khas orang yang baru bangun tidur. Menma melirik jam dinding kamarnya. Remang. Ia tak bisa melihat jelas kalau tidak menyalakan lampu. Sepertinya sinar rembulan tidak menampakkan dirinya dengan baik. "Tousan, sudah pulang?"
Sebuah belaian lembut diterima puncak kepala Menma. Belaian itu sedikit berbeda. Tidak senyaman belaian kedua orangtuanya yang biasa.
"Menma tidak mendengar suara mesin mobil Tousan. Apa tidurku begitu lelap?"
Sosok dalam kegelapan itu menyudahi belaiannya. Menma dapat melihat siluet lengan kekar itu bergerak menuju lampu nakas, dan ketika cahaya benderang menyapa pengelihatannya, sontak saja mata Menma membelalak terkejut.
Bukan sosok ayahnya yang ia lihat, melainkan sosok pria asing dengan rambut putih panjang yang diikat tinggi.
"Siapa k–hmmph!"
Mulutnya dibekap. Rasanya seperti dejavu. Dulu ia melihat Kaasannya yang dibekap lalu pingsan, sekarang giliran dirinya yang merasakan semua ini. Menma masih berusaha memberontak dan mempertahankan sisa-sisa kesadarannya untuk melihat seringai mengerikan pria pucat itu.
'Kaasan….'
Bisikan hati Menma hanya dapat terdengar oleh ruh Sasuke. Pria keturunan Uchiha itu baru saja datang dengan menembus pintu. Dan alangkah terkejutnya Sasuke ketika melihat pria yang sudah menculik dan menusuknya, tengah melakukan hal serupa pada putra kecilnya.
"Menma!" teriaknya panik. Sasuke berusaha merebut tubuh mungil putranya, tapi tertembus begitu saja. Ia lupa, kalau sekarang sosoknya tak akan terlihat oleh siapapun selain Menma, dan ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya. "Naruto! Anak kita!"
Tapi tak ada Naruto dimanapun. Suami pirangnya masih berada di jalanan ketika ia memutuskan untuk pulang lebih dulu. Perasaannya memang gelisah sejak tadi, berkali-kali Sasuke menyentuh dadanya dan merasakan degupan yang begitu kuat dari dalam sana.
"Menma!"
Pria itu membopong tubuh Menma yang sudah terkulai lemas dan pingsan. Sasuke melayang mengikutinya, bahkan sampai pria berambut putih itu menidurkan Menma di kursi belakang mobil jeepnya, ia juga turut masuk ke dalam.
"Jangan lagi, Tuhan… Tolong jangan lagi, cukup aku saja," rapal Sasuke ketakutan.
Mobil melesat meninggalkan pekarangan rumah kediaman Namikaze, dan pada saat di tikungan menuju luar perumahan elite itu, mobil di penculik berpapasan dengan mobil milik Naruto.
"Sayang, anak kita diculik! Naruto! Naruto lihatlah kesini!"
Namun mobil sang suami tetap melaju ke arah yang berbeda. Sasuke berteriak frustasi, ia ingin menghampiri Naruto, tapi tak tahu apa yang harus ia lakukan nanti, yang bisa melihat sosoknya hanyalah Menma, hanya anak-anak yang masih suci dan memiliki ikatan dengannya, atau seseorang yang pernah mendekati kematian. Lagipula jika ia pergi dari mobil si penculik, Sasuke akan kehilangan jejak anaknya.
"Ya, Tuhan… Kenapa semua ini harus terjadi pada keluarga kecil kami?" ucapnya pilu.
…
"Tousan, pulang!" seru Naruto agak lelah. "Menma? Apa dia sudah tidur ya?" gumamnya pelan.
Naruto melangkah menuju kamar Menma. Ia berhenti di depan papan kayu itu. Tertutup. Sangat rapat. Dari celah bawah pintu kamar terlihat sangat gelap. Naruto berasumsi kalau anaknya itu telah tidur.
"Sebaiknya besok saja aku menemuinya," Ia berencana meninggalkan tempat itu, namun kakinya terasa begitu berat, dan Naruto tak tahu mengapa bisa demikian. Hatinya juga tak tenang sebelum ia memastikan Menma baik-baik saja dan tidur dengan lelap.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang banyak hal, Naruto membatalkan niat pergi ke kamarnya dan mulai membuka pintu kamar putranya. Suasana gelap adalah hal yang dilihat Naruto pertama kali sebelum tempat tidur. Tapi, begitu pintu kamar terbuka lebar, dan Naruto masuk ke dalam, ia mendapati kasur Menma kosong, selimutnya berantakan, dan ada sepucuk surat dekat bantalnya dengan menggunakan tulisan ketik.
"Menma," ujarnya bergetar. Naruto meremas surat itu setelah membacanya dengan cepat. Ketidak percayaan membuatnya berlari ke arah kamar mandi, berharap semua yang ia baca di dalam surat itu adalah bohong. Ia berharap Menma ada di dalam sana lalu memanggilnya seperti biasa. Karena ia rindu suara putranya beberapa hari ini.
"Menma! Jawab panggilan Tousan, Sayang!"
Pintu kamar mandi di buka kasar. Mata Naruto mencari-cari keberbagai sudut, namun tak ada sosok putranya dimanapun. "Ini tidak mungkin… tidak… tidak… Menma!"
Seonggok surat yang tadi diremasnya jatuh ke lantai, beriringan dengan terkulainya tubuh tegap pria itu yang tiba-tiba terasa lemah.
'Putramu ada bersamaku. Apakah kau masih ingat dengan kematian istrimu? Ya, benar… hal itu mengerikan, bukan? Jika kau masih bersikeras mengejar kelompok kami, maka hal itu akan kupastikan kembali terjadi.'
…
"Hiks, Kaasan… Menma takut, Kaasan," Bocah Namikaze muda itu menangis lagi, selama dua hari dirinya disekap yang bisa dilakukan Menma hanyalah menangis.
Meski arwah sang ibu selalu mendampinginya sejak ia tersadar dari pengaruh obat bius malam itu, tapi melihat sosok Sasuke yang semakin lama semakin memudar, tentu saja membuat Menma ketakutan.
"Tenang, Sayang… Tousan pasti akan menjemput Menma sebentar lagi," kata Sasuke lembut, terlihat tenang, meskipun jantung di dadanya selalu menghentak keras gelisah.
"Tapi kapan, Kaasan?"
"Sebentar lagi. Kaasan janji. Menma, pasti akan keluar dari sini. Percayalah pada kemampuan Tousan."
"Tapi, Kaasan… Menma takut Tousan akan pergi seperti Kaasan. Menma tidak mau sendirian lagi."
Napas Sasuke tercekat. Sejujurnya ia tak hanya mencemaskan keselamatan Menma, tetapi juga Naruto. "Tidak, itu tidak akan terjadi Sayang. Kalian tidak akan pergi menyusul Kaasan secepat ini. Tidak akan."
Pintu ruang penyekapan Menma terbuka setelah Sasuke menyelesaikan kalimatnya. Seorang pria yang sudah dikenali oleh Sasuke masuk ke dalam. Sikapnya sangat angkuh, dan juga Menma tidak pernah menyukai jenis senyuman yang ada di wajah orang itu.
"Halo, Namikaze kecil. Ayahmu bilang, dia akan menjemputmu sebentar lagi. Tapi kuharap, kali ini uang tebusan yang ia berikan tidak kurang seperti dulu lagi, hahaha!"
"Bedebah!" hujat Sasuke murka. Pria itu pasti sengaja meminta uang tebusan yang jumlahnya sangat mustahil dicairkan dalam waktu singkat. Sepertinya orang itu memang berniat mencelakai Menma sama seperti yang dia lakukan dulu terhadap Sasuke.
"Tapi kau tenang saja bocah kecil, karena kau tidak akan menyusul Kaasanmu sendirian, Tousanmu yang bodoh itu juga akan ikut setelah dirimu kuantar ke nereka lebih dulu."
Mendengar perkataan orang itu, Menma tentu saja gemetar di tempatnya. Bocah itu ketakutan, sampai suara tangisannya saja tidak keluar dari mulutnya.
"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, Bajingan!"
Drrttt… Blezt!
Lampu ruangan pengap itu padam dengan sendirinya. Serpihan beling bertebaran di sekitar lantai saat bohlam bertegangan lima watt itu pecah dari atas langit-langit ruangan. Pria itu mengernyit heran, pasalnya tidak pernah ada masalah dengan markas bobroknya ini, dan lagi pencahayaan di luar mendadak mati-hidup dengan sendirinya.
"Hei, coba periksa panel pusatnya. Apakah ada masalah disana?"
"Baik, Momoshiki-sama."
Dua bawahan teroris itu segera menuju lantai bawah tanah. Gedung kosong yang dijadikan markas ini memang memiliki tiga lantai, dan Menma disekap di lantai dua gedung ini, tepatnya ruangan paling ujung yang dulunya menjadi tempat kurungan Sasuke ketika dirinya juga diculik.
"Kaasan…," rapal Menma serak. Matanya yang sembab melirik sosok Sasuke yang sedang dikelilingi aura warna biru pudar.
Sama seperti Menma, Sasuke juga kaget melihat keadaan tubuhnya sendiri. Ia memang sangat marah pada ketua teroris itu, tapi ia tak menyangka kalau kemarahannya akan berdampak negatif pada lingkungan sekitar.
"Ckck, kau sangat ingin bertemu dengan Kaasanmu ya, anak manis?" tanya si pria yang bernama Momoshiki. Dia menjulurkan tangannya hendak menyentuh wajah basah Menma, tapi anak itu lekas menyeret tubuhnya semakin ke sudut dengan tangan dan kaki yang terikat kuat. Pria itu menghela napas dramatis. "Anak kecil memang sulit dikendalikan. Ibumu yang seksi itu bahkan lebih penurut dari pada kau."
Kali ini Menma yang terlihat marah. Mulut anak itu menggeram dan gigi-giginya saling menggesek satu sama lain. "Tousan akan membunuh Paman karena berkata seperti itu. Tidak ada yang boleh melecehkan Kaasan!"
"Aku bahkan pernah menyentuh kulit tubuhnya yang mulus itu," katanya memanasi.
"Paman brengsek!"
"Dari mana kau belajar kata-kata itu, hm?"
Menma menarik dagunya yang disentuh oleh Momoshiki. "Tousan pasti akan membunuh Paman!" desisnya.
Pria itu lantas berdiri. Menyeringai. "Kita lihat saja. Aku atau ayahmu yang akan lebih dulu terbunuh," ucapnya, seraya berbalik badan dan meninggalkan ruang kurungan Menma.
Di sisi kiri Menma, Sasuke hanya diam memicingkan matanya yang setajam elang.
Tbc
Notes : Ternyata fic satu ini memang ga mungkin dibuat twoshoot kaya yang satunya. Jadi lebih baik chapter 2nya dibagi lagi jadi 2 hehehe...
Saya tau saya masih punya banyak utang sama kalian. Tapi mau gimana lagi, akhir2 ini saya sibuk sampe ga ada waktu buat istirahat (kecuali tidur malem), jadi mohon pengertiannya ya minna *bow*
