Untuk hidup dan mati dalam kesendirian.

Ia yang memutuskan mengambil jalan ini, menjalani hari untuk menggambarkan apa yang ia percayai. Bahwa ia adalah seekor serigala yang meninggalkan kawanannya; serigala yang ada di mana pun, tapi tidak memiliki tempat di mana pun. Ia sendiri.

Selalu.

Selalu.

Dan Selalu.

Akan terus melangkah menelusuri jalan setapak yang ia temukan, sesekali berbelok, di antara rerumputan atau pohon-pohon besar yang menjulang. Ia akan terus berkelana.

Seorang diri.

Untuk selamanya.


Harvest Moon © Natsume

Goodbye © Kuu Ikuya

Briyua Viss her Daedu Akata


Ia menemukan Carter si Pendeta dan Tim kanak-kanak saat musim semi.

Tertawa dengan intensitas rendah, kedua anak kecil itu berlari melewatinya. Membuat kegaduhan-kegaduhan khas mereka yang masih abai pada dunia—mereka yang masih menikmati apa-apa saja yang ditawarkan oleh kehidupan dan menelannya tanpa berpikir dua kali, beracun atau pun tidak.

Hidup dalam dunia yang mereka miliki. Dunia yang sudah lama ditinggalkan oleh Nami.

"Pastur!" kekenakkan dan manja. Anak laki-kali yang pertama berkata, menyapa pria yang baru saja keluar dari Gereja—terlihat seperti itu dari desain bangunan serta bagaimana pria itu dipanggil.

"Selamat siang, Tim, May" lembut dan halus pastur itu berkata. Wajahnya tersenyum, senyuman yang dengan sekilas pandang membuat Nami merasakan sesuatu dalam dirinya kembali digerus. Luka dari pisau berkarat yang masih menggerogoti bagian terdalam relung hatinya.

"Selamat siang, Pastur," anak perempuan—yang Nami simpulkan bernama Mai—menunduk. Menunjukkan rasa hormatnya pada sosok yang lebih tua darinya. Sebelum tertawa menikmati elusan lembut di kepalanya.

"Kalian masih seperti bola-bola energi," tertawa dengan melodi yang indah. "Kalian past—

Nami tidak mendengarkan lebih jauh apa pun yang pria itu ingin katakan. Ia berjalan cepat, meninggalkan sang pastur dengan sosok-sosok menggemaskan. Namu berani bersumpah ia mampu menemukan kasih sayang yang tulus—sebagaimana kasih sayang orang tua dan anak—dari ketiganya. Emosi yang sempat membuai Nami dalam damai kini menggerus bagian-bagian lain dalam dirinya.

Sakit.

Ruby dan Tim selalu memanjakannya sebagaimana orang tua memanjakan anak mereka.


Saat musim panas, ia menemukan rasa yang sama dengan masakan Ruby.

"Makanlah dengan lahap, ini menu istimewa hari ini," dalam nada lemah lembut, Howard mengatupkan kedua tangannya. Memperhatikan Nami dengan pandangan—yang sedikit banyak—membuat seluruh tubuh Nami meremang.

Nasi kare tersaji di hadapan Nami, memanggil-manggil dengan aroma yang terasa familier dalam indra penciuman. Hanya perasaan, sungguh, ini hanya perasaan Nami—suara lain dalam diri Nami berharap rasa yang akan dikecapnya nanti adalah rasa yang juga tidak asing.

"Ayo, makanlah," Howard kembali berujar—yang boleh dibilang—dengan nada kemayu.

"Ayah… bagaimana dia bisa makan kalau kau menatapnya seperti itu?" Laney, dengan tawanya yang khas, menepuk pundak sang ayah. "Selamat menikmati dan mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda."

Nami mengangguk perlahan, memperhatikan Laney yang mulai berbicara entah apa dengan sosok yang ia sebut ayah itu. Akrab saling bertukar kata di balik meja dan sibuk menyiapkan pesanan makan siang para pengunjung.

Sedikit Nami sadari, ada satu tetes bulir airmata yang jatuh ke dalam nasi kare miliknya pada suapan pertama. Wajah dan senyum Rubi kembali bermain dalam benaknya.

Griffin dan Muffy selalu tahu bagaimana cara membuat Nami belama-lama di bar.


Nami mulai mengerti dengan bagaimana Muffy selalu merengek dengan berat badannya saat musim gugur tiba.

"Nenek, lihat-lihat, ini bunga yang cantik kan?" riang anak perempuan itu berkata. Menunjukkan bunga chamomile di tangannya pada sang nenek.

Tawa kecil melantun, ringkik sebagaimana tawa mereka yang sudah berusia lanjut. "Kau akan mengirimkannya pada orang tuamu Ying?" Anggukan cepat sebagai balasan.

Nami mengalihkan pandang, memilih untuk kembali memperhatikan dedunan hijau yang kini menguning. Bermain bersama lembut angin musim gugur.

Tah hijau miliknya sudah dingin sejak beberapa jam yang lalu, namun dango pesanannya masih terus berdatangan setiap setengah jam sekali. Herbal yang khas, rasa yang sesekali ia kecap saat ie manikmati hadiah dari orang itu.

Rasa buatan rumah yang seringkali membuatnya lupa akan masakan Ruby.

"Maukah kau tinggal di sini selamanya bersamaku?"

Nami kembali memesan dango untuk yang keenam kalinya.

Pria itu melamar dan Nami menolaknya saat salju pertama turun.


Nami menyesali keputusannya dalam mengambil jalan saat musim dingin.

Ingin pulang.

Ingin kembali.

Ingin bertemu.

Pada desa kecil itu.

Pada kasih sayang memabukkan itu.

Pada pria yang sempat mencintainya itu.


Ia mempercayai dirinya sebagai serigala.

Ia mempercayai dirinya untuk bisa mentolerir kesendirian.

Ia mempercayai dirinya tidak memiliki tempat untuk pulang.

Ia mempercayainya.

Percaya.

Dan luka yang tak terlihat itu semakin menganga dan menolak untuk sembuh.

Serigala berbulu merah, kehilangan segala keping dunia yang ia buat.

Runtuh dalam kepakkan lembut bulu-bulu biru yang tidak diterimanya.


Owari


Maaf untuk ketidaknyamanan Anda membaca fanfic ini.

Saya masih belum sepenuhnya 'klik' setelah hibernasi panjang... (mati suri kali -_-)

Haha...

Seandainya penggambaran saya kurang jelas (memang sangat nggak jelas sih)

Musim Semi - Mineral Town

Musim Panas - Bluebell Village

Musim Gugur - Konohana Village

Basically... ini cuma cuplikan-cuplikan ketidaknyamanan Nami dengan bagaimana hal-hal yang selalu mengingatkannya pada Forget-me-not Valley seperti mengikutinya tanpa henti.

Soal masakan Howard yang mengingatkan pada Ruby, anggap saja mereka teman pena (kabur)


Review or Flame will gladly taken? \^_^/