Malam ini aku mimpi indah-sekaligus mesum. Mimpinya begitu nyata sampai rasa sakitnya pun terasa di selangkanganku. Bahkan punggungku terasa kaku dan badanku serasa nyaris hancur berkeping-keping. Aku tidak tahu apa yang aku tonton sebelum aku tertidur seperti ini. Seingatku, aku sedang menonton sebuah game show membosankan kemudian seseorang menelponku agar aku menjemput pria tampanku di bar Luna.

Menjemput pria tampanku.

Seketika aku membuka mataku dan mendapati aku sedang tidak berada di kamarku atau di ruang televisiku. Aku merasakan dingin menyergap tubuhku. Aku terkesiap karena aku tidak memakai baju apapun sekarang. Dan lagi, aku bisa mendengar dengkuran halus di belakangku.

Saat aku menoleh, aku mendapatinya sedang tertidur pulas.

Jadi ini bukan mimpi? Astaga, bagaimana ini? Bagaimana kalau dia tahu aku sudah berbuat yang tidak-tidak padanya? Dia tidak boleh tahu! Kalau ia tahu ia akan menghindariku dan perjuanganku selama dua bulan ini akan sia-sia. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seolah tadi malam tidak pernah terjadi.

Aku mengambil dan langsung memakai pakaianku yang tercecer di kamarnya dengan cepat dan setenang mungkin agar dia tidak terbangun. Aku berputar-putar untuk mencari kaosku. Aku tidak bisa menemukannya di lantai. Aku nyaris saja pingsan saat aku menemukan kaosku ada di bawah punggungnya. Aku menggigit bibirku. Bagaimana caranya aku mengambilnya?

Aku mengacak rambutku frustrasi. Dengan tangan yang bergetar berlebihan, aku menarik ujung kausku. Aku tahu jika aku melakukannya secara perlahan justru aku yang tidak akan bisa menadapatkan kaosku. Tapi jika aku melakukannya dalam sekali hentakan, aku takut dia bangun.

Jadi setelah merasakan bibirku terasa asin karena darah, aku memutuskan untuk menarik kaosku. Aku mendapatkannya. Tapi dia menggeliat! Aku seketika membeku. Kumohon jangan bangun!

Ia memang tidak terbangun. Aku mendesah lega. Namun kemudian ia menggumamkan nama wanita itu lagi. Seketika tenggorokanku tercekat. Membuatku kembali membeku. Kali ini bukan hanya tubuhku, tapi jantungku juga. Hingga rasanya, aku bisa mati saat ini juga.

-Serenade In Blue-

"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang rekanku ketika kami sedang makan siang bersama. "Kulihat dia tidak datang hari ini."

Walaupun ia tidak menyebut namanya, aku tahu siapa yang dibicarakannya. Lagi pula, satu-satunya yang tidak berangkat hari ini hanya dia. "Kurasa dia baik-baik saja." jawabku tanpa memberikan perhatian yang lebih. Aku sedang berusaha untuk tidak mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam. Terlalu buruk. Begitu buruk sampai-sampai nafasku tidak teratur.

"Kau yang menjemputnya, kan?" tanyanya lagi. Nadanya bisa kuartikan kalau ia sedang menanyakan kepastian.

"Ya begitulah." Aku menjawab dengan enggan.

Rekanku kemudian menyandarkan punggungnya di punggung kursi yang tengah didudukinya. Ia mengehela nafasnya panjang. Kemudian ia mengambil gelas berisi jus jeruk miliknya, menyeruputnya sedikit kemudian meletakkannya kembali.

"Aku mengkhawatirkan keadaannya. Ia benar-benar—bagaimana aku mengatakannya—berantakan malam itu," ujarnya mengawali ceritanya. Aku hanya mendengarkan sambil melanjutkan makan siangku. "Dia hampir saja membunuh temannya di sana saat itu juga kalau aku dan beberapa orang lainnya tidak segera melerainya. Kau tahu apa yang terjadi? Awalnya ia ikut bahagia dan ikut berpesta dengan kami. Namun, ketika teman kami yang akan menikah itu menunjukkan foto calon istrinya, ia langsung kalap. Aku yang belum melihat fotonya langsung mengambil ponsel itu dari tangannya dan ternyata calon istri teman kami itu adalah mantan kekasihnya."

Sendokku sempat mengambang di udara saat aku mendengarnya. Jadi, ini yang membuatnya mabuk seperti ini dan.. melakukannya padaku?

"Aku sudah menawarinya untuk mengantarkannya pulang. Namun ia bilang ia akan pulang sendiri setelah minum beberapa gelas. Aku membiarkannya masuk ke dalam bar itu dan menemaninya sebentar sampai ia mengusirku. Ia berjanji ia tidak akan mabuk dan akan pulang setelah beberapa gelas. Jadi aku tinggalkan dia dan menghubunginya untuk memastikan dia sudah sampai di rumah. Tapi setelah aku mencobanya beberapa kali, ia masih tidak mengangkatnya hingga saat aku datang ke bar itu, mereka bilang dia sudah pulang bersamamu."

Saat ini rasanya dadaku berlubang besar sekali. Ternyata dia masih mencintainya. Benar-benar mencintainya hingga ia kehilangan akal sehatnya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya, ia sedang menatapku dengan raut khawatir. "Kau tampak pucat. Apa kau baik-baik saja? Di mana yang sakit?"

"Aku tidak apa-apa. Aku tidak sakit di manapun." jawabku sekenanya. Tapi sebenarnya aku memang sakit. Bukan di tubuhku, tapi di hatiku. "Ayo masuk. Jam makan siang sudah habis."

Aku berdiri dengan cepat namun itu justru membuat selangkanganku berdenyut sakit. Aku mendesis dan menggigit bibirku ketika rasa perih itu datang. Aku yang tadinya akan berjalan kini harus berdiri diam seperti ini dulu.

"Kau kenapa?" tanya rekanku lagi. "Kau kelihatan benar-benar sakit."

Aku menggeleng dengan cepat. "Aku hanya sakit perut. Hari ini aku menstruasi hari pertama."

"Kau butuh bantuan untuk bejalan?"

"Kalau kau tidak keberatan." Dia mengulurkan tangannya dan aku meraihnya dengan penuh semangat. Ia membantuku untuk berjalan walaupun aku harus berjalan tertatih.

Tentu saja aku berbohong tentang "menstruasi hari pertama." Ini semua karena tadi malam. Bagaimana indahnya malam itu sampai aku baru merasakan sakitnya tadi pagi. Tidak hanya sakit di selangkanganku, tapi juga di hatiku.

Dan saat itu aku merasa bahwa aku memang tidak perlu ada di sebelahnya lagi. Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini. Akal sehatku menyuruhku untuk meninggalkannya.

Aku menyerah. Penantianku yang begitu lama aku hentikan. Karena aku merasa ini akan sia-sia. Bukan karena aku lelah, bukan kerena aku bosan. Tapi aku mencoba memahami keadaan bahwa dia tak lagi dapat kujangkau karena aku tak mampu lagi mengharapkannya. Karena dia masih saja mencintai wanita itu.

-Serenade In Blue-

Sore harinya setelah pulang, salah seorang rekanku datang membantuku untuk membereskan barang-barangku. Aku sudah memutuskan untuk menyerah. Aku sudah memutuskan untuk mencari cintaku yang lainnya. Yang mungkin akan menjadi cinta terakhirku.

Semenjak aku mengatakan hal ini padanya tadi siang, rekanku terus-terusan berusaha merubah keputusanku. Ia memang senang, akhirnya impianku akan segera tercapai juga. Tapi ia juga terus-terusan mengomel tentang keputusanku ini. Ia bingung pada siapa lagi dia akan makan siang jika tidak ada aku bersamanya. Karena selama ini, selain pria tampanku, ada aku yang menjadi teman baiknya.

Sebenarnya, tawaran ini sudah datang dua bulan yang lalu. Saat itu aku benar-benar bingung untuk memilih impian atau mimpi. Dia baru saja akan menata lagi hatinya. Juga saat itu hubunganku dengannya memang sedang baik-baiknya. Kami menjadi sangat dekat hingga aku merasa ganjil saat aku harus pergi di tengah-tengah usahaku. Tapi sekarang, semuanya menjadi mudah. Hari ini adalah hari terakhir untuk verifikasi dan besok aku akan segera pergi.

"Kalau sudah ada di sana, kabari aku. Beritahu aku nomor barumu. Aku memang mungkin tidak akan pernah menelponmu, kau tahu biaya telpon ke luar negeri itu mahal. Tapi beritahu saja, oke? Siapa tahu aku benar-benar membutuhkanmu hingga aku mau saja menghabiskan uangku untuk berbicara denganmu." ujarnya panjang lebar. Aku tersenyum. Menyenangkan sekali memang mempunyai teman dekat laki-laki seperti ini. Aku bisa merasa bahwa dia memperhatikan aku. Aku merasa dilindungi. Seperti seorang adik dilindungi kakaknya dan seorang kakak yang disayangi adiknya.

"Aku berjanji." jawabku singkat sambil tersenyum.

"Oh, ya. Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke bandara besok. Pekerjaanku masih banyak. Kau panggil saja taksi."

"Tidak, tidak masalah. Aku akan pergi ke rumah pamanku. Ia akan mengantarkanku ke bandara besok. Jadi kurasa ini pertemuan terakhir kita untuk... beberapa tahun ke depan?"

Ia mengangkat sebelah alisnya. Kurasa dia terkejut. Namun kemudian, dia berjalan mendekatiku dan menarikku dalam pelukannya. Aku tidak menolak. Karena ia sudah kuanggap seperti saudaraku.

"Kau baik-baik di sana, oke?"

Aku mengangguk di dalam pelukannya. "Oke."

Ia melepaskan pelukannya kemudian menepuk kepalaku pelan dan mengacak rambutku. Dan kemudian, ia mulai berjalan menjauhi kamar apartemenku setelah mengucapkan salam perpisahan tanpa meninggalkan sentuhan humor. Saat pintu lift tertutup, aku berbalik kembali ke apartemenku.

Aku kembali ke kamarku, menyelesaikan kegiatan bersih-bersih yang memang tinggal sedikit. Masih ada beberapa menit sebelum pamanku datang untuk menjemputku. Setelah bersih-bersih selesai, aku memutuskan untuk berdiam diri di sofa sebentar agar aku bisa mengucapkan salam perpisahan untuk apartemenku dengan tenang.

Aku menutup mataku. Merasakan kembali apa yang telah aku lewati di ruangan ini. Bagaimana pertama kalinya aku pindah di sini, kemudian kebahagiaanku yang meletup-letup saat mengetahui bahwa kami bertetangga, ulang tahun pertamaku di sini yang dirayakan kecil-kecilan oleh rekan-rekanku, hingga saat ini. Saat aku akan meninggalkannya.

Aku mendengar ketukan di pintuku. Apa aku ketiduran?

Aku membuka mataku, berjalan cepat untuk membukakan pintu untuk pamanku.

Sayangnya, aku sama sekali tidak melihat pamanku. Dibelakang pintu itu adalah dia. Pria tampanku.

Dia datang ke apartemenku dengan rambut kusutnya. Wajahnya seperti menahan emosi namun bagiku ia tetap tampan, membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia berjalan mendekat padaku, mengabaikan sopan santun. Lalu seketika, ia menarik tanganku dengan kuat.

Mau tidak mau, dengan posisi seperti ini aku menatap matanya. Matanya berkilat merah. Sedikit menakutkan memang, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menelan ludahku dengan susah payah-berkedip saja aku nyaris saja tidak bisa.

"Katakan padaku," katanya dengan suara serak dan sedikit bergetar. "Katakan padaku, apa aku melakukan sesuatu tadi malam?"

Jantungku seketika berdetak lebih kencang lagi. Sampai detakannya bisa kurasakan di leherku. Dadaku tiba-tiba sesak seakan oksigen di antara kami lenyap begitu saja. Dia sudah tahu. Aku rasa dia sudah tahu.

"Ya, tadi malam kau minum banyak sampai kau mabuk. Aku melihatmu dibawa oleh seseorang ke kamar apartemenmu. "

"Bohong!" bentaknya. Ia melepaskan genggaman eratnya pada tanganku kemudian mengangkat tangan satunya di hadapanku. Aku terpekik pelan saat mengenali mantelku ada di tangannya. Saat itu juga aku mengutuk kebodohanku. "Ini milikmu, kan? Kau yang membawaku, kan? Apa yang telah aku lakukan padamu?"

Sekilas aku melihat matanya berkilat lagi. Tidak hanya kilat, aku juga melihat ada badai, tornado bahkan gunung meletus di matanya saat ia menatapku. Aku tidak bisa bergerak lagi. Aku takut. Aku bahkan tidak bisa melepaskan pandangan mataku karena aku takut kalau aku mengalihkan pandanganku darinya ia akan membunuhku saat itu juga. Dia mengingatkanku pada tokoh-tokoh jahat yang akan membunuh lawannya dalam drama sejarah yang terkadang aku lihat. Jadi seketika itu juga aku merasa inilah akhir dari semuanya. Sudah saatnya ia membenciku. Dan dalam beberapa detik lagi aku akan mati di tempat.

"Kau masih tidak menjawabku?" tanyanya. Nadanya masih tidak berubah. Masih dingin walaupun sekarang tidak ada bentakan.

Aku menelan ludahku. Sedikit sakit seperti aku sudah berminggu-minggu tidak minum-kering. Atau seperti aku baru saja menelan duri ikan. Aku menunduk sebelum aku memandang wajahnya lagi dengan senyuman tersungging di wajahku. "Hei, bagaimana mantel ini bisa ada di tanganmu. Terima kasih."

"Jawab aku dulu!" bentaknya sambil menjauhkan mantelku dari tanganku yang berada di udara untuk mengambilnya. "Apa yang sudah aku lakukan padamu? Kenapa mantel ini bisa di apartemenku? Kenapa saat aku bangun aku merasa bersalah? Kenapa aku bisa mencium bau yang tidak semestinya di kamarku? Kenapa ada bercak darah di kasurku sedangkan aku tahu aku tidak terluka? Kenapa? Katakan padaku!"

Skak mat. Aku sudah mati. Harusnya aku sudah mati. Harusnya ia sudah membunuhku. Harusnya sekarang tubuhku ambruk di atas lantai dengan darah yang mengalir dari dadaku dan pisaunya masih tertancap di sana. Harusnya seperti itu.

Tapi nyatanya aku masih hidup. Aku masih berdiri walaupun aku merasakan duniaku sedang berputar-putar dengan kecepatan yang tidak wajar. Aku masih bisa bernafas. Dan tidak ada darah yang mengalir ataupun pisau yang menancap di dadaku. Tidak ada. Harusnya aku bersyukur, tapi kali ini aku lebih memilih aku mati dari pada harus dihadapkan dengan situasi seperti ini.

"Aku-"

"Noona!"

Kami berdua terkesiap. Suasana tegang ini tiba-tiba agak sedikit lengang setelah suara ini terdengar. Aku melirik ke arah pintu dan aku menemukan sepupuku sedang menatapku aneh. Aku buru-buru mengambil jarak darinya untuk menghindari sepupuku berpikiran yang macam-macam.

"Oh, kau sudah datang. Ayo masuk! Mana paman?" Aku menyuruhnya masuk sambil tersenyum dan mengabaikan keberadaan pria tampan itu yang memandang sepupuku kaku seperti dia adalah seorang penganggu.

"Ayah ada di bawah. Ia memintaku untuk membantu membawa barang-barangmu. Di mana?" Aku bisa melihat ia melirik ke arah pria itu. Kemudian ia memandangku dengan pandangan siapa dia? Aku menggelengkan kepalaku kecil sebagai jawabannya.

"Oh, begitukah? Semuanya ada di kamarku. Bawa saja setengahnya, sisanya biar aku saja yang bawa."

Sepupuku tersenyum kecil kemudian berjalan menuju kamarku dan aku mengekorinya. Saat ia akan melewati pria itu, ia menunduk kecil memberi salam. Dalam hati aku bersyukur sepupuku tidak berkomentar apa-apa. Aku bersyukur bahwa dia bukan tipe orang yang suka ikut campur. Dia memang tidak lebih tua dariku. Kami memang dibesarkan dalam lingkungan yang bijaksana sehingga kami bisa lebih mengatur urusan kami sendiri.

"Aku turun dulu. Selesaikanlah masalahmu dengannya. Aku tidak yakin kau akan tenang setelah ini jika masih terbayang wajahnya. Bahkan aku merinding ketika aku melewatinya." ujar sepupuku. Ia membawa sebagian besar bawaanku dan menyisakan sebuah travel bag sedang untukku.

"Aku hanya akan mengucapkan selamat tinggal." timpalku.

"Noona, aku tahu kalian sedang dalam masalah. Aku memang tidak tahu siapa pria itu, tapi kami sama-sama lelaki. Aku bisa merasakan kebingungannya. Dan kurasa dia sedikit tertekan. Dan juga ucapkan sampai bertemu, jangan selamat tinggal. Orang yang pergi akan selalu datang kembali."

"Jangan sok tahu."

"Terserah kau sajalah. Pokoknya selesaikanlah masalahmu-apapun itu kalau kau masih menyangkalnya-dengannya. Aku turun dulu."

Ia tersenyum padaku kemudian keluar dari kamarku. Ia membungkukkan badannya lagi ketika ia bertemu dengan pria itu dan kemudian ia sudah menghilang di balik pintu.

Setelah sepupuku turun, suasananya kembali menegang. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum aku mendekatinya lagi.

"Kau akan pindah?" tanyanya sebelum aku sempat memikirkan bagaimana caranya memulai pembicaraan ini. Aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. "Ke mana?"

"Aku mendapatkan kesempatan untuk meneruskan pendidikanku ke London."

"London? Kenapa kau tidak memberitahuku dulu?"

"Tadi siang rencananya aku akan memberitahumu. Tapi kau tidak berangkat."

"Kenapa mendadak? Kenapa aku baru tahu kalau kau akan pergi ke London?"

"Sebenarnya tawaran ini sudah lama. Hanya saja aku memutuskannya baru-baru ini." Mendadak hidungku terasa panas dan otot-otot di sekitar mataku berkontraksi. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh menangis.

Ia mengerang. Entah untuk apa. Matanya tertutup namun kepalanya mengarah ke langit-langit ruangan ini. Ini kebiasaannya jika ia sedang menahan emosinya. Setelah itu tidak ada lagi suara yang terdengar. Bahkan suara dari tetangga sebelah pun tidak ada. Yang ada hanya keheningan yang tidak nyaman.

"Kalau begitu, aku pergi dulu." kataku setelah beberapa saat keheningan melingkupi kami. "Jaga dirimu baik-baik, oke? Jangan lupa makan."

Ia meraih pergelangan tanganku, menghambatku untuk bergerak. "Kau tidak boleh pergi sebelum kau menjelaskan semua padaku."

"Penjelasan apa?"

"Malam itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Aku benar melakukan sesuatu padamu, kan?"

Ia menanyakan hal itu lagi. Seandainya saat ini aku adalah seorang Hermione Granger aku pasti sudah menghapus sebagian ingatannya.

"Maaf, tapi pamanku menunggu di bawah. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Selamat tinggal."

"Aku mohon, jawab pertanyaanku dulu."

Aku mengusap air mata yang belum jatuh. Dan kemudian aku melangkahkan kakiku keluar dari apartemen ini. Namun saat aku ada di ambang pintu, aku berhenti sejenak. Aku berbalik ke arahnya. "Terima kasih, untuk semuanya. Malam itu malam yang paling indah. Sampai Jumpa."

Kemudian aku berlari setelah dengan gerakan cepat aku mengambil mantelku dari tangannya. Berlari secepat mungkin agar jarak yang memisahkan kami tidak akan pernah lagi menghilang. Samar-samar aku mendengar dia memanggil namaku. Tapi aku tidak peduli-berusaha untuk tidak peduli. Ini semua sudah berakhir. Dia membenciku.

-Serenade In Blue-

to be continued...


Author's note:

Hai semua. Terima kasih ya yang sudah membaca dan sudah menyempatkan waktu untuk menulis review di bab lalu. Karena pertanyaan, tanggapan, dari kalian hampir sama jadi aku jawab secara garis besar ya.

1. Author, aku bingung ini POVnya nggak ada?

Maaf banget ya, aku memang nggak biasa untuk menulis misalnya, "Cho Kyuhyun's POV". Alasannya karena aku sedang belajar konsisten. Dan aku terlalu banyak baca buku, yang biasanya kalau baca buku tidak ada penjelasan POV siapa. Jadi maaf ya :)

2. Aku bingung ini cast-nya siapa aja?

Seperti yang sudah aku tulis di summary, ini adalah Kyumin's Story. Jadi tokoh utamanya memang Kyuhyun dan Sungmin. Cast lain bisa dilihat nanti di bab selanjutnya.

3. Kenapa nggak ada nama tokoh di dalam ceritanya?

Ada alasan tersendiri kenapa nggak ada nama tokoh di bab awal cerita ini. Salah satunya aku belum menemukan momen yang tepat untuk memperkenalkan nama dari karakter di dalam cerita ini. Dan yang kedua, ketika aku sedang menulis cerita ini aku belum tahu siapa saja yang cocok untuk mengisi karakter di dalamnya. Jadi dari pada aku bingung menentukannya, aku tulis apa adanya dulu.

4. Author, mana bagian Sungmin dan mana bagian Kyuhyun?

Aku jelasin lagi, ya. Aku berusaha agar setiap karyaku mempunyai sudut pandang yang sama. Dari cerita awal hingga akhir. Kalau memang ada bab spesial, bisa jadi aku membuatnya dengan sudut pandang karakter lainnya. Yang jelas aku tidak pernah mengganti sudut pandang di dalam satu bab yang sama.

5. Siapa pria tampan sebenarnya?

Pasti sudah bisa ditebak dong siapa pria tampan kalau baca di Summary dan cerita sampai bab ini. Jadi kenapa aku tetap memanggilnya dengan pria tampan? Coba kalian jawab. siapa tahu ada yang benar.

Sekali lagi terima kasih ya yang sudah mau menyempatkan untuk review.