Until this day, Naruto isn't mine. They are on Kishimoto's Side.

.

There's no lemon, believe me.

Second chapter : Is it ... ?


.

.

-to seek joy in the saddest places-

.

.

"Mama, apa yang Mama minum?" Sasuke kecil masuk lewat pintu coklat besar. Kedua tangan mungilnya masih memegang kenop pintu. Ia melihat ibunya duduk di sofa merah yang menghadap ke jendela. Meja bundar yang dipakai Mikoto penuh dengan gelas dan botol-botol sampanye. Dia mengenakan gaun merah muda lembut yang memperlihatkan punggungnya. Sinar matahari membuat Mikoto semakin cerah. Wajahnya yang cantik dan awet muda seolah bercahaya dan benar-benar menyiratkan kelembutan.

Waah.. Sasuke kecil terkagum-kagum dengan kecantikan ibunya.

Mikoto menoleh, ia tersenyum lembut. Ia senang melihat putra kecilnya yang polos dan penuh keingintahuan ini bertanya padanya. "Ini darah, Sayang," jawabnya.

Sasuke memandangnya bingung. Meskipun masih kecil, ia tidaklah bodoh. Ia yakin kalau orang dewasa sering menakut-nakuti anak kecil—sama seperti ibunya yang mengatakan kalau minuman itu adalah darah.

Saat umur dua belas tahun, saat sudah mulai dewasa dan tahu tentang reproduksi, organ-organnya dan cara melakukannya. Dari beberapa buku, internet dan pelajaran di sekolahnya. Dan dari pembicaraan dokter pribadi keluarganya, yang seharusnya tidak boleh ia tahu—ibunya benar-benar meminum darah. Darah haid milik Mikoto sendiri.

Satu hari setelah ia lulus sekolah menengah atas, ibunya memanggilnya untuk bicara dengannya. Hubungan Sasuke dengan Mikoto sebagai ibu dan anak cukup dekat. Mereka sering bertukar cerita. Dan Sasuke beberapa kali mengenalkan pacarnya ke Mikoto. Saat pacarnya sudah pulang, Sasuke akan meminta pendapat Mikoto tentang pacarnya tadi. Tapi sebelum itu, dia—Sasuke terlebih dahulu menggerutu mengenai kelakuan perempuan-perempuan yang dikenalkannya. Lalu Mikoto akan tertawa, dan menambahkan jika ia setuju atau menolak pendapat Sasuke saat Mikoto punya opini yang berlainan. Kemudian mereka akan tertawa bersama, menertawai satu sama lain dan membuat lelucon aneh mengenai seharian ini yang mereka lewati.

Kali ini, ibunya yang sedang membaca buku, dengan kaki jenjang yang disilangkan dan menjadi tumpuan buku yang dipegangnya. Sweeter hangat dan rok split selutut dengan sikap seperti bangsawan Inggris pada umunya. Mikoto melihat Sasuke duduk di sofa di depannya. Ia mendongakkan kepala dan memandangnya, lalu tersenyum lembut kepada putranya.

"Kau terlihat bingung, Key." Sebuah pernyataan, yang ketika ia katakan, tanpa melihat Sasuke.

"Ada apa?"

"Kau tidak ingin bertemu ayahmu?"

Sasuke mengernyit. Bingung, kemana arah pembicaraan ini. Setelah lama diam memikirkan, dia akhirnya menjawab, "Kalau aku bertemu dengannya, mungkin akan kupanggil Father*."

Kemudian Mikoto mendongak lagi dan tersenyum. Lalu segera beralih meneruskan membaca buku yang ia pangku.

"Dulu aku akan menggugurkanmu." Hening. Sangat lama, sampai Sasuke sadar bahwa napasnya melambat. Matanya tidak berkedip. Dia berharap pendengarannya salah.

"Tapi kakekmu menentangnya." Nadanya santai. "Dia bilang kalau aku melakukan hal itu, maka semua hidup mewahku akan berakhir. "

Sasuke merasa sulit menelan ludah.

"Jadi aku membiarkanmu hidup." Oh Tuhan!

"Dan merawatmu. Seperti seorang ibu yang benar-benar mencintai anaknya." Dia berhenti sejenak. Mengamati ekspresi Sasuke, lalu melanjutkan. "Tapi seminggu setelah kau lahir, aku mencekikmu dan berniat membunuhmu."

Sasuke memejamkan matanya. Menenangkan diri dari perkataan ibunya—yang belum ia ketahui benar atau tidak, telah berusaha membunuhnya.

"Sayangnya, saat itu seseorang melihatnya dan menyelamatkanmu. "Ah, kalau suatu hari kau bertemu dengannya, kau harus berterima kasih padanya." Tersenyum ke Sasuke—yang mulai pucat.

"Tapi aku mulai menyayat tangan kecilmu. Tanganmu yang halus, mungil dan selalu berusaha menggapai apa yang kamu lihat." Mikoto tetap tersenyum. Lalu Mikoto menoleh ke jendela, di tembok bagian kanan, tersenyum ke arah itu. Sasuke mengikuti pandangan Mikoto dan ia terkejut!

Tidak ada apapun! Tapi saat melihat wajah Mikoto yang masih tersenyum, ia lebih terkejut lagi. Saat itu, ia melihat sinar kegilaan di wajah Mikoto—ibu kandungnya.

.

.

Sakura Haruno tersenyum melihat pantulan dirinya. Di situ, ia mengenakan short dress biru tua dengan celana jeans pendek. Rambutnya ia ombre warna putih. Ia mengambil tas dari kursi di sampingnya lalu tersenyum sekilas memandangi cermin. Saat keluar ia dikejutkan oleh kakaknya yang membuatnya berjengit kesal. Kakaknya hanya tersenyum jahil dan ia berusaha mengatakan apa kau sudah siap? Sakura tersenyum lagi, dan ia mengangguk.

.

Ada yang tidak beres. Otaknya mungkin hampir lumpuh karena memikirkan hal ini. Sudah dua jam ia merelakan diri untuk menunggu. Lebih parahnya ini kali ketiga ia melakukannya. Ia menggeram, menahan emosi batinnya dan ketidakmampuannya menahan perasaan.

Sudah cukup!

Dan akhirnya ia pergi, meninggalkan bangku taman yang kini digantikan oleh burung merpati.

Sasuke melihat kakaknya meninggalkan bangku taman itu. Ia tahu sudah hampir dua jam ini kakaknya memerhatikannya. Namun ia tidak mengerti, kenapa seorang Itachi Uchiha mau merelakan diri hanya untuk melihatnya pacaran. Ia mengangkat sebelah alis, berpikir dan mengira ia kembali menjadi seorang remaja puber di mata kakaknya.

Haaah.. ia menggeleng. Ia ingat, kakaknya itukan memang mengidap brother complex. Dan kalau dipikir-pikir, Itachi memang punya tingkat penasaran di atas orang normal. Jadi kakaknya itu tidak normal!

Sakura memandangnya heran. Raut wajahnya seolah bertaya ada apa? Sasuke hanya tersenyum tipis. Ia selalu menyukai semua ekspresi Sakura. Sasuke hanya menggeleng, lalu tersenyum lebih lebar dan menggenggam tangan Sakura. Itu membuat wajah Sakura memerah dan panas. Ia menyeringai.

Mereka duduk berdua di bangku taman, saling berhadapan. Mereka seringkali tersenyum saat ketahuan memandang satu sama lain. Sakura akan segera menoleh, ke arah bangku taman—yang ia rasa tadi ada orang yang memerhatikan Sakura dan Sasuke, sekarang digantikan dengan seekor merpati. Sakura mendengus.

Langkah kaki itu berhenti. Orang itu diam, tetep memandang Sasuke yang terus berjalan. Ia terus memerhatikan Sasuke. Sampai akhirnya ia memejamkan matanya, menunduk dan bertanya-tanya apakah ia bisa berbicara dengan Sasuke. Yang menjawab pertanyaannya hanyalah tiupan angin. Mereka bergerak menerpa wajahnya, ke arah berlainan dari tujuannya. Mungkin ini pertanda untuk kembali. Dan berhenti untuk memikirkannya, tambahnya di dalam hati. Ia memandang Sasuke lagi, kali ini lebih lama. Karena ia tahu, ini terakhir kalinya ia bisa melihat orang itu. Orang yang ia cintai.

Tbc.

.

Still dark, the early morning breathes a soft sound above the fire.

-William Stafford-


Father; kata Father mengacu pada orang yang meskipun punya hubungan darah dengan anak, ia hanya memberikan kebutuhan secara material. Mereka mungkin saja memberi uang, membelikan makanan, dll. Sayangnya mereka tidak tahu bagaimana pertumbuhan anak mereka.