Reviews:
Snow: terima kasih atas pujiannya. Emmm... yap, tebakan kamu bener! Tapi kalau soal mawar putih... masih rahasia...
rini desu : Um... saya belum nentuin... kita lihat aja kemana jalan ceritanya...
pandora box : Ah, ya... lain kali sya akan lebih teliti... terima kasih atas kritikannya, senpai...
Guest : terima kasih... saya akan berusaha lebih baik...
Erika Liana19 : terima kasih, saya akan berusaha lebih baik lagi. Umm... jawabannya soal itu ada di chap ini...
Sykisan : ya... terima kasih banyak...
Bleach Cuma punya Om Tite...
Tapi... kalau cerita ini saya yang punyaaaa...! #hidung memanjang
buat review2 kalian, doumo arigatou...
gomen, di chapter ini kayaknya bakal berantakkkan... ToT gomen minna...#bungkuk-bungkuk...
BLEACH Tite Kubo
Chapter kedua : Appear
Rukia menggerakkan kelopak matanya perlahan-lahan saat secercah cahaya memasuki sedikit dari ruang matanya yang masih setengah tertutup. Lalu ia benar-benar membuka matanya saat ia merasa asing dengan ruangan yang temaram itu. Rukia menyipitkan matanya karena matanya tidak mampu beradaptasi dengan cahaya yang remang-remang.
"Eh, ini di mana?" tanya Rukia pada dirinya sendiri.
Rukia berusaha mengingat-ingat hal yang baru saja terjadi, namun ia tidak mampu mengingatnya. Ia melenguh pelan, karena kepalanya terasa sakit setiap kali ia berusaha mengingat hal yang terjadi padanya. Rukia hanya mampu menghela nafas berat karena tidak mampu mengingat apa yang baru saja terjadi.
Kleeek...
Secara reflek, Rukia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seorang pemuda bersurai perak tengah berdiri dengan sebuah cangkir di tangannya dengan wajah yang dingin. Asap tipis mengepul dari dalam cangkir dan aroma teh segera masuk ke dalam indera penciuman Rukia.
"Kau sudah sadar?" tanya pemuda itu dingin sembari membuang muka.
Karena cahaya yang remang-remang, Rukia tidak dapat melihat dengan jelas wajah pemuda itu.
"Ah, iya. Apa kamu yang sudah membawaku kemari?" tanya Rukia.
"Hm," sahut pemuda itu singkat lalu ia berjalan mendekati Rukia.
"Apa ... yang sudah terjadi padaku?" tanya Rukia ragu.
"!" pemuda itu berhenti, lalu menatap Rukia aneh. Menyadari tatapan pemuda itu, Rukia segera menunduk.
"Ti-tidak usah dipikirkan."
"Kamu pingsan di taman."
"Eh."
"Apa kamu tidak mengingat apa pun?"
Rukia menggeleng pelan lalu berkata,"aku... sama sekali tidak ingat apa pun."
"Err... Kamu masih ingat namamu, kan?"
"Oh, tentu saja. Kamu pikir aku amnesia?!"
"Oh, aku pikir kamu juga lupa namamu sendiri."
Rukia menatap pemuda itu sebal sedangkan pemuda itu mengalihkan pandangannya pada jendela yang berseberangan dengannya. Hah... Rukia menghela nafas berat, lalu ikut menatap jendela yang kusam. Pemuda itu tersentak, lalu menatap secangkir teh di tangannya yang sempat terlupakan.
"... aku tidak mengerti. Tapi aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padaku. Setiap kali berusaha mengingatnya, kepalaku terasa sakit." Sementara matanya fokus ke luar jendela, Rukia mulai berbicara.
"Cih," pemuda itu berdecih lalu mengulurkan cangkir itu pada Rukia.
Rukia melirik secangkir teh di tangan pemuda itu, lalu tangannya bergerak untuk menerimanya. Rukia lalu meletakkan cangkir itu di pangkuannya, dan pandangannya beralih ke dalam cangkir berisi teh itu. Rukia menatap bayangannya di dalam cairan itu dengan tatapan redup.
"Siapa namamu?"
Rukia mengangkat wajahnya pada pemuda itu.
"Rukia."
"Namaku Rukia Kuchiki," tambah gadis itu.
Wajah pemuda itu spontan menegang dan hal itu membuat Rukia semakin bertanya.
"Ku-Kuchiki?!" ucap pemuda itu bergetar.
"Apa... ada yang salah?" tanya Rukia.
"Cih, tidak ada. Jika kamu benar-benar sudah sembuh, segera pergi dari sini!" ucap pemuda itu kasar dan dingin.
"Eh?!"
Tanpa memperdulikan ekspresi kaget Rukia, pemuda itu segera berbalik dan melangkah.
"Chotto Matte!" panggil Rukia.
Pemuda itu berhenti tepat di dekat pintu.
"Siapa namamu?" tanya Rukia.
"Toushiro Hitsugaya," jawab pemuda itu lalu membuka pintu.
Sampai sosok pemuda itu menghilang di balik pintu, mata Rukia masih setia menatap pintu berwarna coklat gelap itu.
"Toshiro... Hitsugaya?!" bisik Rukia pelan lalu mengeratkan pegangannya pada cangkir di pangkuannya.
Setelah menghabiskan setengah dari tehnya, Rukia segera merapikan tempat tidur pemuda bernama Toushiro Hitsugaya itu sembari terus memikirkan reaksi aneh dari pemuda itu. Namun sekeras apa pun dia memikirkannya, Rukia sama sekali tidak bisa membaca emosi pemuda itu, dan sebagai gantinya, ia hanya menghela nafas berat.
"Sebenarnya, siapa Hisana Kuchiki itu?" tanya Rukia pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Rukia teringat pada majikannya. Bagaimana jadinya gadis itu tanpa dirinya di sampingnya? Rukia mengetuk kepalanya sedikit keras karena kelalaiannya. Dengan segera, ia segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Saat membuka pintu, ia hampir saja bertabrakan dengan Hitsugaya. Untunglah dia dapat berhenti tepat waktu. Keduanya bertatapan sejenak, namun Rukia segera mengalihkan pandangannya dan segera melangkah.
"Aku pergi dulu. Arigatou Hitsugaya-san," ucap Rukia dengan menunduk.
"Tunggu. Jangan lewat sana. Berbahaya," ucap Hitsugaya.
"Eh?"
"Lewat belakang saja. Di sana lebih aman," ucap Hitsugaya sembari memberikan selembar kertas tua yang sudah berwarna kekuningan.
Rukia menatap kertas di tangan pemuda itu, lalu menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Hitsugaya memberikan jalan pada Rukia, lalu tanpa berpikir panjang, Rukia lalu segera melangkahkan kaki-kakinya. Sementara itu Hitsugaya masih mengawasi gadis yang 11cm lebih tinggi darinya itu dengan tatapan sulit dijelaskan. Barulah setelah gadis itu menghilang di ujung koridor, Hitsugaya lalu memasuki kamarnya dan tatapannya jatuh pada cangkir teh bekas gadis itu yang bertengger manis di meja bundar di pojok ruangan. Hitsugaya tersenyum miris, lalu bergerak mendekat pada meja itu. Hitsugaya menatap cangkir bermotif api itu sejenak, lalu tangannya bergerak mengangkat cangkir itu. Hitsugaya lalu meminum teh sisa yang sudah mendingin itu sementara bayangan Rukia memenuhi otaknya. Setelah isi cangkir itu berpindah ke dalam tenggorokannya, tanpa sadar ia tersenyum memperlihatkan taringnya.
.
.
Rukia sedikit kesusahan berjalan karena pencahayaan yang remang-remang. Diam-diam Rukia menggerutu dalam hati karena menuruti perkataan orang yang baru saja dikenalnya itu. Memangnya kenapa jika lewat ruang depan? Bukankah lebih mudah? Lagipula tempat ini lebih mirip tempat tinggal pribadi daripada asrama. Sepanjang perjalanan, Rukia terus menggerutu karena kesal, hingga tiba-tiba ia merasa ada yang mengikutinya. Rukia berhenti sejenak untuk melihat ke sekelilingnya. Namun tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali dirinya sendiri bersama kesunyian.
"Mungkin hanya perasaanku saja," pikir Rukia santai lalu melanjutkan perjalanannya.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi. Ia seorang guardian, jadi tidak mungkin instingnya salah. Rukia yakin ada yang tengah mengawasinya dalam kegelapan. Rukia meneguk air liurnya dengan susah payah dan peluh dingin menetes dari dahinya menuju pipi pucatnya. Rukia segera berbalik, dan tetap tidak menemukan apa-apa pun atau seorang pun. Tanpa aba-aba, kaki-kakinya melangkah lebih cepat atau tepatnya setengah berlari. Ia melupakan denah ruangan yang diberikan oleh Hitsugaya karena panik. Langkahnya berubah menjadi lari dalam beberapa langkah. Rukia akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di sebuah ruangan tua yang berada di ujung koridor. Rukia menyisakan sedikit celah pada pintu agar dia bisa melihat ke luar ruangan. Sesuai dengan dugaan Rukia, ternyata dia memang sedang dikuntit oleh seseorang. Dan kini penguntit itu sedang membuka jubah hitam yang dikenakannya.
"Ren-Renji!" seru Rukia spontan lalu bangkit dan keluar dari ruangan yang pengap itu.
"Rukia?!"
Pemuda itu tampak terkejut karena kehadiran Rukia yang tiba-tiba. Sejurus kemudian keduanya bertatapan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Rukia dengan mata penuh selidik.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu, kan?!" ucap Renji tanpa menjawab.
"Aku berada di sini bukan karena keinginanku," ucap Rukia akhirnya mengalah.
"Aku juga."
"Tugas?"
"Bisa dibilang begitu."
"Enak sekali jadi penjaga tanpa tuan sepertimu."
"Heh, enak apanya? Aku masih murid. Kamu juga enak karena dapat lulus dari akademi sebelum waktunya!"
"Hah, kalau itu sih, karena aku jenius." Rukia melirik Renji dengan tatapan bangga sekaligus mengejek, dan itu membuat Renji cemberut karena kesal.
"Heh, jenius?! Bukannya nilaimu paling rendah di antara kita semua. Itu karena kamu punya skill yang bagus dalam pertarungan pedang. Oh ya, di mana pedang kebanggaanmu itu?"
"Hehheee... kalau itu..." Rukia menggaruk belakang kepalanya.
"Jangan bilang kamu dengan ceroboh menghilangkannya, ya?!" kini giliran Renji yang menatap Rukia dengan mengejek.
"Bu, bukan! Tentu saja bukan. Aku ini kan jenis langka!"
Rukia berkacak pinggang dengan wajah memerah karena marah.
"Benarkah? Lalu karena apa, ha?!" ucap Renji dengan nada menggoda.
"I-itu karena... si rambut biru menyebalkan itu!"
"Rambut biru menyebalkan? Aku ingin tahu seperti apa orangnya sampai-sampai kamu rela memberikan harta paling berharga milikmu itu."
"Aku tidak memberikannya, bodoh! Dia yang mengambilnya dariku!"
Wajah Rukia sekarang sudah benar-benar memerah seperti tomat, dan asap tebal keluar dari puncak kepalanya.
"Sou ka?!"
"Renji bodoh!" Rukia segera memukul kepala Renji dengan keras.
"Hei, apa-apaan kamu ini?!"
"Ha-habis kamu menyebalkan, sih!" Rukia membuang muka dengan kesal sambil bersedekap dada.
"Pssst..." tiba-tiba saja Renji mengisyaratkan agar diam, lalu menarik tubuh Rukia ke dalam gudang tua itu.
Dengan sangat pelan, Renji menutup pintu dan menyisakan celah untuk melihat ke luar ruangan. Terdengar suara derap kaki yang semakin dekat. Tidak berapa lama kemudian, segerombolan siswa Vampire melewati lorong itu. Mata Rukia terbelalak karena dia hafal dengan sosok-sosok vampire itu, meskipun hanya beberapa kali melihatnya.
"Pedang ini lumayan berat juga," ucap seorang di antara mereka, yang sukses membuat Rukia cemberut karena jengkel.
"Tapi dia manis juga. Aku harap aku bisa berkenalan dengannya."
"Bwaaahahahaa... kamu bilang apa? ingin berkenalan? Oh ya. Aku belum bisa melupakannya. Aku ingin balas dendam karena dia melukaiku." Suara itu membuat Rukia tegang dan sempat membuatnya gemetar.
"Kalian berisik!" sahut seorang di antara mereka, yang belum pernah Rukia dengar suaranya.
"Hei, apa kamu tidak tertarik dengan penjaga itu, Kaien-nii?! Satu-satunya penjaga perempuan dan termuda," pancing vampire berambut oranye, yang tidak lain adalah Ichigo Kurosaki –Kalau Rukia tidak salah ingat dengan namanya.
"Heh." Pemuda berambut hitam itu berhenti tepat di depan pintu gudang, dan membuat Rukia reflek menutup mulut untuk tidak menimbulkan suara apa pun karena tegang.
Semua vampire muda itu ikut berhenti.
"Ada apa, Kaien-nii?!" tanya Ichigo dengan nada sinis dan tatapan yang dingin.
Pemuda berambut hitam itu menatap Ichigo –kalau Rukia tidak salah ingat namanya-, lalu melangkah dengan lebih dekat pada pemuda itu.
"Apa kau tidak bisa diam?!" tanya pemuda itu dingin.
"Heh, apa pun untukmu," jawab Ichigo santai, membuat pemuda berambut hitam itu berdecih.
Pemuda yang dipanggil Kaien oleh Ichigo itu menarik kerah seragam Ichigo. Keduanya bertatapan dengan tatapan yang sama, jijik. Mereka merasa jijik satu sama lain, namun anehnya mereka selalu bersama dan juga wajah yang sama. Teman-teman para vampire itu segera melerai, namun si rambut biru malah bersiul, merasa terhibur dengan pemandangan di hadapannya.
"Fiuh, pertengkaran antara adik dan kakak, ya?!" ucap pemuda itu.
"Grimmjow!" ucap kedua temannya yang lain karena Grimmjow menahan keduanya untuk melerai kakak beradik itu, dengan cara menarik kerah belakang mereka berdua.
"Kita saksikan saja. Sudah lama aku ingin mereka bertarung. Sepertinya menarik," ucap Grimmjow lalu maju dan berdiri di hadapan kedua orang temannya.
"Cih!" pemuda berambut hitam itu kembali berdecih, lalu melemparkan tubuh Ichigo hingga menabrak pintu gudang membuat pintu gudang itu terbuka dan memperlihatkan dua sosok yang telah mencuri dengar pembicaraan mereka.
Semua tampak terpaku melihat dua sosok manusia yang kini tengah mencoba bangkit. Namun sosok mungil itu jauh lebih menarik perhatian mereka daripada sosok pemuda di sampingnya. Perhatian Ichigo pun hanya jatuh pada gadis berambut gelap itu lewat atas kepalanya, karena kepalanya jatuh pada pangkuan gadis itu.
"I-ittai...!" erang Rukia sembari meringis karena punggungnya menabrak lantai cukup keras.
Saat membuka matanya yang tertutup, tatapan Rukia berbenturan dengan sepasang amber yang menatapnya penuh minat.
"Hyyyaaaaaah...!" serta merta Rukia melemparkan kepala pemuda itu dan dengan segera bersembunyi di belakang tubuh Renji.
Ichigo mengerang karena kepalanya menabrak lantai sangat keras. Bahkan rasa sakitnya lebih daripada saat Kaien melemparkannya tadi. Grimmjow bersiul dengan wajah berbinar.
"Kita bertemu lagi, nona," ucap pemuda itu dengan tersenyum lebar.
"Uhhh... kalian?!" ucap Rukia.
"Ada apa? Kenapa bersembunyi di belakang babon itu?!"
Renji menekukkan wajahnya karena di juluki babon oleh pemuda bersurai biru itu. Aura gelap memancar dari tubuh Renji, dan hanya ditanggapi dengan senyum mengejek dari Grimmjow.
"Heh, itu karena aku adalah calon suaminya, jadi sudah menjadi tugasku untuk menjaganya," sahut Renji dengan percaya diri, namun itu malah membuat Rukia menekkukan wajahnya tidak senang.
"Oooiii, apa maksudmu dengan 'calon suami'?" tanya Rukia dengan kesal.
"Hah?! Kamu tidak tahu arti 'Calon suami'? Suatu saat nanti bila kita menikah, aku akan jadi suamimu. Iya kan?!" sahut Renji yang sukses membuat Rukia mendaratkan kakinya pada wajah pemuda itu.
"Siapa bilang aku mau menikah denganmu?!" sahut Rukia ketus dan wajah memerah karena marah bercampur malu.
Apa lagi di hadapannya banyak sekali vampire yang berbahaya, dan Renji malah mengatakan hal yang tidak masuk akal itu. Rukia lalu bangkit membuat Renji harus mendongakkan wajahnya untuk menyesuaikan tatapan mereka. Namun mata Renji malah jatuh pada bagian dalam gadis itu.
"Oh, hari ini kelinci lagi, ya?!" ucap Renji.
"Eh, apanya?" mau tidak mau Rukia harus bertanya karena tidak memahami maksud Renji.
"Gambar c****a d****mmu," jawab Renji tanpa rasa bersalah.
Dan spontan menaikkan tensi gadis itu.
"Renji!" seru Rukia dan tanpa ampun menghajar pemuda itu.
"Ka-kamu memang menjijikkan. Menjijikkan, menjijikkan, menjijikkan!" seru Rukia hampir menangis, sementara tangan dan kakinya tidak pernah diam menghajar wajah Renji.
"Ampun, maafkan aku. Aku minta maaf, aduh!" ucap Renji dengan penuh penyesalan, sementara ia sibuk menghindari serangan-serangan Rukia.
Setelah tenaganya benar-benar terkuras, barulah Rukia menghentikan serangannya lalu kembali mengangkat wajah. Ia membatu saat melihat para Vampire itu masih berdiri di tempatnya dengan wajah memerah.
"E... etto... A-ano..." Rukia benar-benar kehabisan kata-kata.
Sluuuurrrp...
Tiba-tiba saja Grimmjow sudah berdiri di sampingnya dan menjilat pipi Rukia membuat Rukia terlonjak.
"Hm... kamu membuatku tertarik," ucap Grimmjow sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Rukia.
"Heh, apa yang kamu lakukan pada 'Calon Istriku', hah?!" ucap Renji yang serta merta menarik tubuh Rukia pada pelukannya untuk melindunginya meskipun ia sudah babak belur.
"'Calon istri'?!" spontan vampire itu tertawa keras, menertawakan pernyataan Renji yang menurutnya lucu itu.
"Jangan tertawa! Kenapa sih, setiap kali aku bilang kamu 'calon istri'ku, semua orang tertawa?!" protes Renji pada Rukia.
"Oooiii, ini bukan salahku, lho!" sahut Rukia kesal.
Akhirnya Grimmjow berhasil menghentikan tawanya, meski terkadang suara kikikan meluncur dari mulutnya. Ruangan itu perlahan sunyi hingga akhirnya benar-benar tanpa suara. Semua fokus pada pikiran masing-masing. Tiba-tiba, pemuda berambut hitam –Kaien-, bagaikan tersengat listrik, ia membelalakan matanya selebar mungkin saat ia mengamati gadis bersurai hitam di pelukan Renji.
"Kamu... 'Jenis langka'," ucap Kaien spontan, dan itu membuat semua menoleh pada pemuda itu, termasuk Rukia.
"Eh?!" Rukia menarik diri dari pelukan Renji, dengan sedikit mendorong pemuda itu tentunya.
"Kamu... 'jenis langka'?!" pemuda itu lalu melangkah, mendekat pada gadis itu dan secara spontan gadis itu memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga.
"Apa maksudmu dengan 'jenis langka'?!" tanya Rukia waspada.
Namun pemuda itu hanya diam, hanya terus melangkah mendekat pada Rukia. Rukia gemetar sejenak, namun ia segera menguatkan dirinya dan tatapannya menyipit tajam.
"Ooiii, jangan dekat-dekat dengan Rukia-ku!" protes Renji namun tidak digubris.
Pemuda terus mendekat dan mendekat, membuat semua yang ada di tempat itu bertanya-tanya dengan sikap aneh Kaien. Namun justru teman-temannya yang paling terkejut dengan sikap aneh Kaien. Renji dengan segera berdiri di hadapan gadis itu untuk melindungi gadis itu.
"Kaien?!" panggil Ichigo pada kakaknya, namun pemuda itu hanya fokus pada gadis di belakang Renji.
"Aku bilang berhenti!" seru Renji yang sukses menghentikan langkah pemuda itu.
Keduanya berhadapan dalam jarak sekitar enam langkah, lalu saling melemparkan tatapan tidak suka.
"Apa yang kamu inginkan dari gadis ini?" tanya Renji dingin.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Aku hanya ingin tahu apakah dia 'jenis langka'," tanggap Kaien tidak kalah dingin.
"Urusan Rukia adalah urusanku juga," sahut Renji.
"Cih," Kaien berdecih.
Rukia maju ke depan Renji, lalu berdiri dengan lantang. Tatapannya memicing tajam. Dan itu membuat Kaien kagum karena gadis itu memiliki keberanian yang besar. Kaien tersenyum miring.
"Apa urusanmu denganku?" tanya Rukia dengan nada dingin.
Kaien tidak menjawab, namun matanya fokus pada gadis bersurai hitam itu dengan sinar mata yang liar. Rukia mencoba bertahan dari tatapan menginterogasi Kaien, namun ia juga mulai memasang kuda-kuda bertahan dan siap menyerang.
"Hei, kamu takut, hah?" ucap Grimmjow meremehkan Rukia.
"Berisik! Aku tidak ada urusan denganmu, makhluk biru!" sahut Rukia membalikkan keadaan, dan menjadi pukulan telak untuk Grimmjow.
Namun Grimmjow hanya menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya, lalu berbisik,"menarik."
Suasana di ruangan itu entah mengapa menjadi terasa dingin, saat sesosok pemuda berambut perak memasuki tempat itu. Lantai yang dilewati oleh pemuda itu membeku dan partikel-partikel es berterbangan di sekitar mereka.
"Lepaskan gadis itu," ucap pemuda itu dingin.
Semua menoleh ke asal suara.
"Ah... si pemuda es Hitsugaya," ucap Grimmjow, yang dibalas dengan tatapan dingin mematikan dari pemuda itu.
"Hm, aku tidak menyangka kamu membela gadis ini. Aku pikir di dalam dirimu hanya ada Hinamori. Benarkan?" timpal Grimmjow.
"Cih!" pemuda itu, Hitsugaya, berdecih" jangan pernah mengungkit tentang Hinamori. Atau aku akan membunuhmu," ucap Hitsugaya serta merta menarik kerah baju Grimmjow yang lebih tinggi darinya.
"Nani?!" Grimmjow lantas tertawa.
Atsmosfer di tempat itu sekarang berubah menjadi aneh. Perhatian vampire-vampire itu teralih dari Rukia kepada dua vampire muda yang kini saling berseteru. Mereka tidak berniat untuk melerai keduanya, seolah pemandangan itu adalah pemandangan yang menarik. Tanpa mereka duga, perseteruan itu berubah menjadi pertarungan antar vampire saat keduanya memasang kubah pelindung di sekeliling mereka.
"Mereka benar-benar bertarung? Di ruangan ini? Bodoh!" seru Ichigo hendak melangkah, namun terdorong oleh aliran angin yang kacau di sekeliling kubah pelindung itu.
"Si-sial!" seru pemuda bersurai merah di samping Ichigo,"aku tidak bisa melihat ke depan!"
Blaaaarrr!
Suara ledakan dari dalam kubah pelindung itu menghancurkan sebagian atap bangunan itu, menampakan dunia luar yang menakjubkan untuk Rukia dan Renji. Reruntuhan bangunan yang berjatuhan sedikit menyibukan vampire-vampire itu, dan itu merupakan kesempatan Renji dan Rukia untuk melarikan diri.
"Rukia," panggil Renji.
"Em," sahut Rukia dengan anggukan, seolah dapat membaca pikiran Renji.
Keduanya kemudian mengambil posisi untuk melompat, namun suara dentingan pedang membuat Rukia ragu sejenak.
"Cho-chotto matte, Renji!" cegah Rukia.
"Nani?" tanya Renji.
"Pedangku!" jawab Rukia sedikit berseru.
Renji mengerutkan keningnya sedikit kebingungan.
"Gyaaaahhh... si-sial! Orang itu seenaknya saja menggunakan pedangku untuk bertarung!" seru Rukia saat melihat Grimmjow bertarung dengan pedangnya melawan Hitsugaya.
Rukia hendak melangkah, namun pinggangnya di tahan oleh Renji dan dalam hitungan detik tubuhnya melayang. Mata Rukia terbelalak karena Renji memanggul tubuhnya pada pundaknya, membuat Rukia marah sekaligus malu.
"Renji!" seru Rukia.
"Berisik!" sahut Renji tidak kalah keras.
Bagaikan angin, keduanya melesat ke atas meninggalkan cahaya putih berpendar kemerahan bagaikan meteor. Sementara pertarungan itu semakin menjadi, membuat para vampire itu kesulitan.
"Ichigo!" seru pemuda bersurai merah, Ashido Kano, seolah menunggu perintah.
"Kita lakukan!" sahut Ichigo.
Dalam sekejap mereka berpencar, membentuk sebuah pola segiempat di sekeliling kubah pelindung itu. Mereka mengangkat tangan mereka ke depan dan cahaya berwarna-warni meluncur dari tangan mereka. Tidak berapa lama kemudian, cahaya-cahaya itu menyebar dengan cepat ke seluruh kubah itu. Lalu ledakan lembali terjadi.
Rukia dan Renji kini telah berada di tempat yang cukup jauh dari gedung itu. Namun mereka mampu mendengar suara ledakan yang lebih keras itu. Dari ufuk timur, matahari mengintip malu-malu menyapa pepohonan yang dilewati Renji dan Rukia.
"Tadi itu apa?" tanya Rukia pada Renji sementara kakinya sibuk melompat pada satu dahan ke dahan yang lain.
"Sepertinya mereka berniat menghentikan pertarungan itu."
"Eh, ada yang seperti itu juga?!"
"Ada. Yang dapat melakukannya hanya para vampire. Jadi jangan berharap kamu bisa melakukannya," ucap Renji saat menyadari tatapan berbinar pada amethyst Rukia.
"Eh." Rukia terkena pukulan telak kalau maksudnya lebih dulu diketahui oleh Renji.
"Ummm, apa tidak ada yang bisa melakukannya selain vampire?" tanya Rukia dengan tatapan mencurigakan bagi Renji.
"Ada."
"Hah, bukan vampire?" tanya Rukia penuh minat dan mata berkaca-kaca.
"Hm. Dia jenis langka."
"Oh."
"Hah, pandanganmu mengganggu, tahu!" komentar Renji karena dari tadi Rukia menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca dan berbinar-binar.
"Aku juga jenis..."
"Berhenti!"
"Eh?!"
"Cukup mengatakan bahwa kamu jenis langka."
Renji menghentikan langkahnya lalu turun dari pohon membuat Rukia terpaksa menghentikan langkahnya pada sebatang pohon.
"Ada apa, Renji?" tanya Rukia heran lalu menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.
"Tidak ada apa-apa," jawab Renji lalu duduk bersila di tanah berumput.
Rukia melompat turun dari pohon lalu duduk di sebelah Renji dengan tatapan penasaran sekaligus menggoda.
"Apa ada yang kamu ketahui tentang jenis langka?" pancing Rukia.
"Tidak!" sahut Renji dengan nada ketus lalu membuang muka ke arah lain.
"Mencurigakan," ucap Rukia sambil melirik Renji.
"Meskipun aku tahu, aku tidak akan memberitahukan padamu, huh!" sikap judes Renji menjadi-jadi.
"Heeee... jadi kamu tahu sesuatu tentang jenis langka?!" seru Rukia dengan tatapan terkejut.
"Lagipula... kenapa kamu ingin tahu tentang "Jenis langka"?" tanya Renji.
"Ah, kenapa, ya? Aku... merasa penasaran saja..."
"Aku sudah menduganya."
"Jadi..."
Mata besar Rukia bersinar dan berkaca-kaca sembari memandangi Renji, membuat Renji sempat shock sendiri dengan tingkah Rukia. Renji mendesah sembari mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Ujung seragamnya tampak kotor karena terkena debu dan bekas reruntuhan.
"Haaah... kamu menyusahkanku saja, Rukia. Tapi apa boleh buat."
"Baiklah. Bisa kita mulai sekarang?!" ucap Rukia dengan semangat.
"Cih, menyebalkan!"
Renji lalu mengambil nafas panjang sementara otaknya memilih-milih informasi yang tersimpan di memorinya tentang "Jenis langka". Namun bukan hanya itu tujuannya. Ia ingin mengulur-ulur waktu.
"Haaaah..." lagi-lagi Renji mendesah.
Ia sebenarnya tidak siap untuk membocorkan rahasia itu pada Rukia. Ia telah berjanji pada guru-gurunya untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini (saat ia tanpa sengaja mendengar rapat para dewan guru di ruang tertutup –Menara Jam-). Kalau sampai guru-gurunya tahu, ia pasti akan terancam bahaya. Apalagi jika Byakuya Kuchiki –kakak Rukia-, ia pasti benar-benar mati. Untuk sejenak Renji merasa bimbang, membuat Rukia mengerucutkan bibirnya karena kesal menunggu.
"Ah, sebenarnya..."
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini, hah?!"
Sebelum Renji meneruskan kata-katanya, seseorang terlebih dahulu memotong ucapannya. Secara reflek keduanya segera menoleh ke asal suara dalam waktu yang hampir bersamaan. Tatapan mereka jatuh kepada kucing hitam yang tengah duduk di dahan salah satu pohon di dekat mereka. Kucing hitam itu menggoyangkan ekornya lalu melompat turun. Sebelum ia menyentuh tanah, dalam sekejap ia berubah menjadi seorang wanita berkulit gelap dan bersurai ungu. Renji bernafas lega karena kemunculan wanita itu. Dengan begitu, Rukia pasti melupakan apa yang hendak diketahuinya.
"Uuooo... Yo-Yoruichi-sensei!" seru Rukia lalu bangkit dari duduknya lalu membungkuk di hadapan wanita bersurai ungu itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini, hah? Renji, bukankah kamu ada ujian?" tanya wanita itu dengan aura mengintimidasi yang kuat.
"Oh-uh-oh... ano..." seketika, Renji kebingungan berkata-kata.
"Oh, kamu melarikan saat ujian lagi, ya?!" ucap Rukia dengan nada mengejek yang sangat kental setelah ia menegakkan tubuhnya kembali.
"U-urusai!" sewot Renji.
"Fufufu... pantas saja..." Rukia sengaja menggantungkan kata-katanya.
"Apa? apa?" ucap Renji ketus.
"Ah, aku tidak tega melihat wajahmu," ucap Rukia sengaja menyulut emosi Renji yang siap meledak.
"Rukia...!" seru Renji dengan wajah memerah karena marah.
Sepertinya bom kemarahan Renji telah meledak sekarang. Sementara wanita bersurai ungu itu hanya menghela nafas panjang sembari menepuk kepalanya ringan. Seharusnya di sini ia yang memarahi anak-anak kecil itu, namun entah mengapa keberadaannya sekarang bagaikan hanya angin yang lalu.
"Anak-anak ini..." desah Yoruichi dengan tatapan bosan.
Meskipun ia sudah bertahun-tahun bersama kedua anak itu, namun ia masih tidak mengerti dengan sikap kekanakan keduanya. Yoruichi tahu bahwa Renji menyukai Rukia, entah dengan Rukia yang acuh tidak acuh. Namun ia tidak habis pikir dengan sikap Tsun-tsun Renji terhadap Rukia. Apalagi dengan sikap Rukia –yang sebagai seorang perempuan—sama sekali tidak peka. Yoruichi kembali menghela nafas berat saat melihat Renji dan Rukia yang sudah saling berhadapan untuk saling mengadu kekuatan.
"Apa kalian melupakan aku, ha?!" tanya Yoruichi akhirnya.
Suara menggelegar Yoruichi membuat Renji dan Rukia tersadar, sehingga perhatian mereka kembali pada wanita itu.
"Rukia, bukankah sekarang kamu resmi sebagai seorang penjaga? Kenapa berkeliaran di sini?" tanya Yoruichi sembari menatap Rukia dengan tatapan sangar.
"Hyeeee... maaf-maaf!" ucap Rukia dengan tubuh bergetar.
"Bukankah majikanmu seorang Eve?"
"Be-benar! maaf-maafkan aku!" ucap Rukia lalu bersujud di hadapan Yoruichi untuk meminta maaf atas segala kelengahannya.
"Kembali ke Dorm-mu. Gadis Eve itu membutuhkanmu," ucap Yoruichi tegas sementara matanya mennatap Renji.
"Ha-hai!" dengan segera Rukia bangkit.
Setelah mengucapkan sampai jumpa, Rukia segera meninggalkan tempat itu diiringi tatapan Renji dan Yoruichi. Setelah gadis itu menghilang dari pandangan keduanya, barulah mereka mengalihkan tatapan mereka.
"Apa yang kamu lakukan, Renji? Kamu hampir saja membocorkan rahasia itu, bodoh!" ucap Yoruichi dengan tatapan kecewa.
"Go-gomen, Sensei. Aku salah bicara dan tidak sengaja menarik perhatiannya," ucap Renji dengan nada menyesal.
"Haaaah, syukurlah aku tiba tepat waktu," ucap wanita itu sembari menutup wajahnya dengan tangan kanannya.
"Ah, kenapa kita..."
"Itu berbahaya!" potong Yoruichi, sementara tatapannya menerawang jauh.
Dan aku tidak ingin dia menderita, lanjut Yoruichi dalam hati. Sepintas terlintas bayangan seseorang di benaknya. Lalu berganti dengan bayangan Rukia. sssssrr... angin berhembus sepoi-sepoi menggantikan pembicaraan diantara keduanya.
Rukia menarik nafas panjang saat ia sampai di depan asramanya. Dengan segera ia segera memasuki tempat itu. Matahari sudah mulai tinggi, sementara Rukia baru saja kembali. Entah apa yang terjadi malam tadi, saat ia tidak berada di sisi majikannya. Sekarang dia menyesal. Setelah memasuki kamarnya, Rukia segera melepas jas almamaternya. Tiba-tiba saja, rasa panas menjalar pada tubuhnya.
"Uh, hari ini begitu panas," ucap Rukia sembari membuka bagian atas kancing bajunya.
Rukia lalu menurunkan sedikit pakaiannya, sehingga bagian atas pundaknya terekspos. Rukia lalu berjalan dan melihat bayangannya pada cermin. Saat itulah, matanya terbeliak saat melihat sebuah tato hitam pada pundaknya.
"N-nani kore?!" seru Rukia terkejut.
Mata Rukia terbeliak saat merasakan tato itu menyebar ke seluruh tubuhnya, seolah tato hitam itu memakan tubuhnya. Rukia sama sekali tidak bergerak, ia hanya menatap tato itu dengan tubuh gemetar. Tidak berapa lama kemudian, ia menjerit kesakitan. Rukia jatuh terduduk dengan nafas tersengal-sengal sementara tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang terasa terbakar. Rukia meringis kesakitan, membuat beberapa orang temannya menerobos masuk ke kamarnya.
"Ada apa Ru—Ah... Ru-rukia-Chan!"
Segera saja keadaan berubah kacau. Panik segera menyerang teman-teman Rukia.
"Ayo kita bawa ke Klinik sekolah!" perintah seorang gadis bercepol memberi perintah.
"Sebagian bantu aku membawa Rukia ke klinik sekolah. Lalu kamu dan kamu," gadis itu menunjuk dua orang temannya lalu melanjutkan," temui Unohana-sensei!"
"Hai!" sahut dua orang yang dimaksud.
Setelah keduanya bergegas, dua orang memapah Rukia menuju klinik sekolah diikuti oleh teman-teman yang lain. Keadaan asrama kacau sesaat, namun tidak berlangsung lama. Dalam sekejap saja, semua kembali seperti semula seolah-olah tidak ada yag terjadi.
.
.
.
Zerrrrr...
Angin berhembus pelan, menerbangkan dedaunan yang kering. Pemuda berwajah Stoic itu melangkah masuk ke Night Academy dengan mata lurus ke depan. Syal berwarna hijau pupus itu berkibar bersama bagian belakang Coat coklat tuanya yang terayun. Pemuda itu berhenti sejenak saat melihat gedung night Academy yang angkuh.
Mata pemuda itu menyipit lalu berkata,"dia di sini..."
Haaaahhh... ini chapter 2. Gomen minna, alurnya agak kecepetan di bagian akhir + ceritanya berantakkan Soalnya saya ngetiknya malem banget + udah terserang kantuk. Sekali lagi, gomen minna... #bungkuk-bungkuk
Mohon saran dan kritiknya...
