Peri Hujan
Disclaimer : Bleach belong to Tite Kubo-sensei
Story by Day Han
Caution! Cliche, OOC, AU, Mainstream Pairing, Typos, OC cameo.
Chapter 2 : Raindrop
Ichigo Kurosaki benci tanggal 15 Juli. Ia benci dekorasi-dekorasi kekanak-kanakan yang dipersiapkan ayahnya untuknya serta kue tar yang menjulang bak menara Tokyo. Persiapan ulang tahun apanya? Memangnya ia anak umur tujuh tahun yang perlu mengundang teman sekolahnya untuk meniup lilin-lilin bodoh itu. Tidak sadarkah paman tua itu ia (mulai hari ini) berumur dua puluh tiga tahun. Usia dewasa, dua hari yang lalu ia sudah belajar memenangkan tender walau bisa dipastikan tendernya jatuh ke perusahaan lain.
"Ichigo anakku. Kau pulanglah tepat waktu nanti. Aku sudah mempersiapkan pesta ulang tahun yang meriah bahkan poster ibumu sudah kupindahkan ke ruang tengah agar ia bisa melihat pertambahan umurmu." Isshin Kurosaki -ayahnya- berceloteh riang dan menari-nari bodoh dengan topi pestanya.
Ichigo mendesah. Ayahnya adalah salah satu hal yang tidak ingin ia pusingkan hari ini. Dasi bergaris yang telah ia kenakan dilonggarkan lagi. Ikatannya salah. Belum pernah sekalipun ia sempurna dalam mengikatkan sebuah dasi. Rasanya pemuda berambut orange ini harus mengikuti kelas memakai dasi. "Tidak bisa. Aku ada kegiatan sosial hari ini. Kau sendiri yang membuatku harus melakukannya."
Isshin terus saja merengek seperti anak kecil. Orang bilang semakin tua seorang pria, semakin kekanak-kanakan tingkahnya. Ia tidak menyangka itu terjadi oleh CEO sekaligus komisaris seperti ayahnya. Menyedihkan. "Itu kan hanya sebentar. Kau harus pulang setelahnya. Aku bahkan sudah menelpon teman-teman wanitamu dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, kelas bimbingan belajarmu, dan…."
"Tetap tidak bisa. Setelahnya temanku ingin bertemu," potong Ichigo.
Poster Misaki yang ukurannya sebesar baliho di jalan jadi tumpuan tangisan Isshin. Pria separuh baya itu terus saja menempel seperti bunglon. Pelayan di rumah serentak menahan tawa akibat kelakuan konyol majikannya. "Lihatlah Misaki, anak laki-laki kita satu-satunya tidak perduli dengan ayahnya sendiri padahal pestanya sudah kupersiakan super spesial dengan dua ribu balon."
Kerutan di dahi Ichigo terasa menebal, ia yang berulang tahun kenapa ayahnya yang harus repot. Akhirnya, Ichigo melepas juga dasi di kerah kemeja putihnya beserta jas hitam yang membalut tubuhnya akibat tidak tahan dengan dasinya yang terus saja berbentuk aneh. "Jangan lupa menjemput Karin dan Yuzu di asrama. Kau sudah berjanji kemarin."
Brrrrrrrrrrrmmmmm. Suara deru mobil nyaring di telinga Ichigo. Anak sulung keluarga Kurosaki itu memacu mobil sedannya ke Karakura Hospital untuk kegiatan sosial Kurosaki Railway Company. Pria berjenggot itu (ayahnya) membuatnya harus datang menjenguk pasien kecelakaan kereta. Karena ayahnya mempersiapkan pesta ulang tahun konyolnya, ia harus menggantikan pria itu.
Sebelum memasuki rumah sakit. Ia meraih hoodie ungu di kursi belakang mobilnya. Memakainya begitu saja di atas kemeja putihnya. Baju itu selalu ada di sana, setiap kali ia malas pulang ke rumah, ia akan memakainya sebagai baju ganti.
"Selamat sore." Ichigo membungkuk sembilan puluh derajat, menunjukan hasil bimbingan etika dari keluarganya. Tidak ia pungkiri etika yang ia tampilkan setiap detiknya akan berpengaruh pada keluarga Kurosaki maupun perusahaan ayahnya.
Si wanita setengah baya dengan balutan perban di pergelangan kakinya ikut menunduk tanpa meninggalkan kursi rodanya. "Ah Kurosaki-san selamat sore."
"Aku berkunjung untuk melihat keadaan Anda. Apa anda sudah baikan?" Ichigo memperhatikan sekeliling. Tidak ada sanak saudara yang menemani pasien saat ini. Mungkin mereka sedang mencari snack atau minuman dingin?
"Kakiku memang belum bisa berjalan sekarang tapi sudah tidak sakit , terima kasih telah mengkhawatirkanku."
Wanita yang tegar. Ichigo dapat merasakan senyuman tulus yang ditunjukkannya. "Saya meminta maaf atas kejadian yang menimpa Anda. Kami berjanji untuk lebih memperhatikan keselamatan penumpang."
"Tidak apa-apa Kurosaki-san. Kompensasi yang Anda berikan lebih dari cukup. Bahkan aku bisa membayar sewa apartemenku selama setahun." Wanita bernama Makoto Kawaguchi itu mulai membenahi posisi duduknya. Duduk di kursi roda merupakan hal yang asing untuknya sehingga membuatnya kurang nyaman.
Lega rasanya mendengar wanita itu telah berangsur membaik. Saat kejadian kecelakaan kecil pintu kereta yang menjepit kaki penumpang, ia seperti terbentur barbell yang berukuran sepuluh kali lipat darinya. Tidak bisa dipercaya ada penumpang yang hampir saja kehilangan anggota badannya. "Syukurlah kalau begitu. Jika Anda memerlukan hal lain mohon hubungi saja kami. Aku harus mengunjungi tempat lainnya. Beristirahatlah dengan baik Kawaguchi-san!" Sekali lagi Ichigo membungkuk lebih dalam sebelum melemparkan senyum dan melangkah keluar dari kamar pasien.
"Anda pria yang baik Kurosaki-san. Berhati-hatilah di jalan." Makoto Kawaguchi melambaikan tangannya ketika Ichigo mulai melangkah ke pintu keluar ruang perawatan.
Sekarang masalah korban kecelakan sudah selesai, hanya tinggal satu tempat yang belum ia kunjungi.
"Apa pesta ulang tahunmu meriah? Boleh aku datang ke rumahmu?" Seorang pria berkacamata dan masih dalam seragam putih keluar dari ruang praktek dokternya.
"Kau menjengkelkan Ishida." Ichigo yang tadinya akan terburu-buru meninggalkan rumah sakit malah terhenti dengan guyonan seorang teman lama.
Uryuu Ishida bekerja sebagai dokter di Karakura Hospital. Pria berambut raven dengan selera humor yang buruk itu adalah putra ketua yayasan Karakura Hospital. Ia berambisi untuk mewarisi rumah sakit ini. Ichigo bukan sekedar kenal dengan pria bertampang serius itu, ia teman SMA-nya selama tiga tahun. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk mengenali sifat seorang teman.
"Kau tidak akan pulang dan memakan kue tar malam ini kan?"
Itu bukan pertanyaan. Itu ejekan!
"Bukan urusanmu," sahut Ichigo ketus.
"Sayang sekali. Ayahmu menyuruhku datang dan aku juga telah membelikan kado untukmu." Ishida melemparkan sebuah bingkisan dengan kertas kado bermotif bunga matahari.
Seleranya buruk sekali. Ia berniat mengembalikan hadiah feminimnya. Siapa tahu isinya wig wanita, mini dress, buku mengenai kerajinan tangan atau semacamnya. Ishida punya hobi aneh dengan barang-barang wanita. "Cih, simpan saja sendiri."
"Itu hanya payung. Taruh saja di mobilmu, aku yakin kau butuh hari ini." Seakan bisa membaca jalan pikiran Ichigo yang terlanjur buruk, Ishida hanya menepuk-nepuk bahu kawannya.
Tuh kan, benar perkiraannya, isinya tidak jauh dengan barang perabotan rumah tangga. "Terserah kau sajalah."
Karakura bukan tempat yang dipenuhi keramaian seperti Tokyo. Tidak ada jalan dengan manusia yang tumpah ruah seperti di Shibuya. Yang ada hanya ketenangan layaknya tempat yang ia -Ichigo- berdiri saat ini. Pemakaman Karakura.
Udara menerbangkan rambutnya yang berwarna senada dengan matahari senja. Ichigo merasakan udara yang lembab, akan hujan rupanya. Hadiah pemberian Ishida akhirnya berguna juga tapi ia tidak akan mengembangkan benda itu. Ia akan membiarkan hujan mencemooh dirinya. Rasanya hanya dengan itu ia dapat bertahan sampai saat ini.
Ichigo membungkuk di hadapan batu nisan bertuliskan Masaki Kurosaki. Ibunya yang meninggal tepat saat ia berulang tahun enam belas tahun yang lalu. Di tengah guyuran hujan.
Shhhhhhaa. Hujan dan angin berhembus bersamaan. Bahkan langit pun masih menyalahkannya tentang hari itu. Hari dimana ibunya meninggal.
Enam belas tahun yang lalu.
Ichigo kecil dengan wajah kesal menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi bersama Karin dan Yuzu. Di senja hari ia baru pulang menghadiri kelas kendo tak terkecuali pada hari ulang tahunnya. Ayahnya sudah mempersiapkan pesta ulang tahun untuknya seperti pada tahun-tahun yang lalu. Namun, Ichigo menolak untuk merayakannya tahun ini. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan keluarganya daripada memenuhi kamarnya dengan hadiah. "Ibu, cokelat pemberian ibu tadi pagi tertinggal di dojo. Aku akan kembali untuk mengambilnya."
"Besok saja Ichigo. Sekarang masih hujan, matahari juga hampir terbenam." Masaki Kurosaki menghentikan anak sulungnya sebelum ia berhasil meraih kenop pintu.
Dengan cepat Ichigo menggeleng. Baginya cokelat pemberian ibunya itu sangat berharga. "Tidak mau. Itu pemberian ibu, aku belum memakannya sama sekali. Nanti kalau dimakan tikus bagaimana?"
Ibunya tersenyum. Dunia tidak akan seindah ini jika tidak ada anak laki-laki seperti Ichigo. Masaki beruntung mempunyai anak yang penuh semangat dan menggemaskan. "Ibu akan belikan lagi besok."
"Tapi aku mau memakannya sekarang. Aku akan ke sana sebentar ibu," rengek Ichigo. Cokelat itu seperti hadiah ulang tahun bagi Ichigo. Ia tidak akan membiarkan seekor tikus pun menyentuh hadiahnya.
Ichigo berlari ke dojo tanpa memperdulikan panggilan ibunya. Ia hanya ingin secepatnya sampai di sana tanpa repot-repot memikirkan hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Bocah berusia tujuh tahun itu tidak mengetahui ibunya berlari mengejarnya. Dan apa yang tidak pernah ia bayangkan terjadi. Ibunya tergelincir di sungai kemudian tenggelam. Ichigo menoleh sesaat sebelum ibunya terbawa arus sungai, ia mendengar namanya disebut sangat kencang.
Orang-orang mulai berkerumun untuk menolong wanita yang tenggelam di sungai tapi terlambat. Ibunya telah mengeluarkan panggilan terakhirnya kepada Ichigo. Seorang anak berumur tujuh tahun yang kehilangan ibunya, tidak dapat bergerak sedikitpun. Tangisannya pecah saat itu juga. Bercampur dengan hujan.
Di hari pemakaman ibunya, tidak ada yang mengatakan apa yang harus dilakukan bocah berumur tujuh hari di depan nisan ibunya. Apa ia harus menangis, merasa bersedih, bersalah, atau memberikan serangkai bunga. Tapi ia tahu pasti, langit saja menyalahkannya maka keluarganya pasti menyalahkannya juga. Ia akan menerimanya, sampai langit menghentikan guyuran hujannya.
"Ibu. Apa kau marah padaku? Menyalahkanku?" Ichigo kembali dari memori sedihnya. Ia bisa merasakan derasnya hujan mengguyur tubuhnya. Menghujamnya seperti ratusan jarum. Tidak. Ia tidak akan lari karena ini memang hal yang harus ia terima.
Seorang wanita berambut hitam gelap dan berpotongan bendek, berlutut di hadapan nisan ibunya tanpa ia sadari. Ia seperti memanjatkan doa pada ibunya. Ichigo mengira-ngira siapa wanita yang basah kuyup di tengah hujan seperti dirinya. Dan juga kapan wanita berpakaian mini dress itu datang? Sebelum dirinya atau setelah dirinya. Seperti hantu saja.
"Lain kali bawalah serangkai bunga untuk ibumu, Kurosaki-san."
Ah, ia familiar dengan wajah itu. Bukan karena ia pernah berkenalan dengannya, tapi lebih karena faktor bisnis ayahnya. Ia hampir familiar dengan rekan-rekan bisnis perusahaan. Salah satunya adik ipar dari CEO Kuchiki Corporation yang juga pelukis handal, Rukia Kuchiki.
"Kurasa Rukia Kuchiki bukan seseorang yang akan mendoakan pemakaman orang lain." Ichigo berbicara dengan meninggikan suara normalnya, derasnya hujan telah meredam volume seseorang.
Rukia kembali berdiri. Kebetulan bahwa ia bertemu pewaris Kurosaki Corporation di tempat yang menyedihkan seperti ini akan mengubah hidupnya mulai detik ini. "Entahlah, mungkin karena suasana hujan seseorang seperti kau dan aku dapat berubah sentimentil.
Ichigo mengernyit. Ia tidak begitu menangkap hal yang dikatakan lawan bicaranya. Hujannya terlalu bising.
"Kau mau minum teh bersama?"
"Kau yang traktir."
"Kurosaki-san bantu aku menyelesaikan masalah cabang di Fukuoka." Rukia memulai topik tanpa basa-basi. Begitulah dia jika sudah menyangkut hal yang krusial, ia akan melakukan semuanya dengan serius.
Rukia menatap intens sosok pemuda berambut orange di depannya. Dilihat dari pandangan matanya, Ichigo Kurosaki merupakan tipe orang yang tidak akan mengambil pusing masalah. Tak sia-sia ia mendalami bidang seni lukis, ia dapat menggambarkan karakter seseorang dengan sekali lihat.
"Aku tidak akan melakukan hal merepotkan."
Gadis bermata violet itu menyesap penuh cangkir teh hijaunya. Ia akan menghadapi pilihan yang lebih sulit mulai sekarang. "Sudah kuduga, Anda akan merespon seperti itu. Tentu saya tidak akan meminta bantuan Anda secara gratis. Bayarannya adalah tiga tiket permohonan."
"Apa kau ini masih pelajar sekolah dasar? Apa aku harus meminta sebungkus cokelat dan sejensinya? Resiko yang akan aku lakukan lebih besar dari yang kau bayangkan. Jabatanku tidak cukup untuk membantu perusahaan kakakmu."
Ia punya alibi. Tidak mungkin seseorang membantu orang asing sepertinya. Terlebih, mereka baru memulai percakapan tiga menit terakhir. Apa yang harus ia lakukan?
"Kau membuatnya jadi lebih sulit Kurosaki-san. Bagaimana jika aku bisa membuat komisaris berada di pihakku? Kau mau mengambil tawaranku?"
Ichigo mengernyit. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan wanita mungil di depannya. Pakaian yang basah kelihatannya membuat wanita itu berpikir tidak beres. Misalnya, ia kenal dengannya lebih dari tiga menit ataupun satu tiga bulan, ia tak akan mengambil cara bodoh yang ditawarkannya. Biar sajalah.
"…."
"Kuanggap itu jawaban 'ya'."
Apa itu pernyataan perang atau pernyataan bersekutu? Dingin di tubuhnya telah mengambil alih pikirannya saat ini. Satu lagi hal konyol yang terjadi hari ini.
"Café ini tidak punya pemanas ya? Ini kau bawa saja." Ichigo melempar payung pemberian Ishida sebelum meninggalkan tempat duduknya. Toh, ia tak akan membutuhkannya, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup. Yang dibutuhkannya sekarang adalah baju ganti dan mandi air hangat di rumah.
Rukia memandangi pria aneh yang baru ia temui di pemakaman. Suka tidak suka ia akan menjalani rencana membuat kakak iparnya mau berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir kakak kandungnya.
"Motif bunga matahari? Imut sekali." Rukia tersenyum simpul sembari memutar-mutar payung yang menurutnya imut itu di permukaan meja.
-tbc-
Hai, minna-san….. untuk yang sudah menyempatkan membaca, melirik, meriview, mem-follow Arigatou Gozaimasu #bow. Actually, I want to publish this story yesterday but I don't have the mood to publish it khekhekhe. Bagi yang bingung tentang isi dari chapter 2, saya ceritakan kejadian Ichigo sebelum datang ke pemakaman dan sebelum Rukia menyadari ada seseorang selain ia di sana. Kayaknya fic ini penuh dengan alur maju mundur deh (-_-).
Saya gak akan kasih spoiler. Soalnya, saya juga ga tahu kelanjutan fic ini bakal kaya gimana #kidding. Reviewers ada yang bilang fic ini minim typo tapi setelah saya baca sekali lagi, penuh dengan typo (-_-) (akibat malas baca ulang). Walaupun fic ini dimulai dengan kemampuan saya yang ga begitu baik (buruk!) tapi saya ga akan membiarkan tetap begitu. Pastinya seseorang harus berkembang. Terima kasih atas apresiasinya .
