Langit diatas terlihat sangat indah. Awan tipis bergelung di beberapa tempat, berwarna putih bersih. Setiap kali ia melihat awan ia selalu merasa penasaran. Apakah awan itu selembut warnanya? Apakah ia bisa berbaring di permukaan gumpalan putih itu sambil melihat ke bawah? Mungkin saja awan itu lebih nyaman untuk ditiduri dibandingkan ranjang yang ada dirumahnya.
Tapi ia tidak sebodoh itu. Usianya sudah dua belas tahun, dan guru di sekolahnya sudah menjelaskan bahwa benda itu adalah sekumpulan molekul-molekul air yang akan jatuh ke bumi karena gaya gravitasi.
Meskipun begitu hari ini langit cukup cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Tapi kenapa? Kenapa ia merasa bahwa dihatinya sedang terjadi hujan badai saat ini? Dadanya terasa begitu dingin dan beku, dan pikiran anak-anaknya belum bisa memahami makna dari perasaan berkecamuk yang dialaminya sekarang.
Iris safirnya beralih memandang kursi penumpang di sampingnya. Gadis kecil berambut merah yang sedang duduk di sebelahnya menangis dalam diam. Bahunya bergetar menahan isakan yang ingin keluar. Tangannya yang terkepal di atas pahanya basah oleh butiran bening yang berjatuhan dari wajahnya, dan saat itu juga ia menemukan jawaban dari rasa dingin dan beku yang sejak tadi menghimpit hatinya.
.
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca dan me-review cerita saya. Maaf karena updatenya chapter duanya agak lama. sekali lagi terima kasih.
Love you *kiss*
.
Goodbye, Tears
.
Iris safirnya menatap ragu pintu kayu dihadapannya. Ia sudah berdiri disana sejak tujuh belas menit yang lalu. Tangan kanannya kembali terulur ke depan-untuk yang kesekian kalinya-namun kembali diturunkan beberapa detik kemudian.
Ha-ah…
Ia menarik nafas panjang sejenak.
Tok. Tok.
Tidak ada sahutan dari dalam. Maka dengan segenap hati ia memutar kenop pintu menjulurkan kepalanya. Gadis itu duduk di lantai sambil bersandar ke pinggir ranjang yang menghadap ke jendela besar. Seperti di mobil tadi, kepalanya tertunduk dengan tangan terkepal yang diletakkan di atas pahanya.
Naruto berjalan menghampiri anak itu dan ikut duduk bersandar disampingnya. Gadis itu tidak mengangkat kepalanya meskipun Naruto yakin si pemilik kamar bisa mendengar suara pintu terbuka dan derap langkah kakinya.
Beberapa saat berlalu namun keheningan masih tetap menguasai ruangan itu. Naruto bingung harus mengatakan apa. Hari ini mereka baru saja menghadiri pemakaman orang tua mereka. Seluruh keluarga Uzumaki-Namikaze hadir di pemakaman tersebut meskipun Naruto tidak mengenal mereka semua.
Sampai sekarang Naruto belum bisa percaya bahwa orang tuanya sudah tidak ada di dunia ini meskipun ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri orang tuanya dimasukkan ke dalam peti mati dan dikubur di dalam tanah. Sulit meyakini semuanya ketika hal itu terjadi begitu cepat. Padahal kemarin ia masih sarapan bersama ayah dan ibunya di rumah ini. Bahkan ibunya masih saja memukul belakang kepalanya pagi itu ketika ia menyisakan potongan wortel di piringnya.
Dan tiba-tiba saja hari ini ia sudah menghadiri pemakaman mereka.
Rasanya dunia memperlakukan dirinya dengan tidak adil.
"Kak Naru…"
Suara itu membawa fokusnya kembali. Terlalu sibuk merenung membuatnya lupa akan eksistensi gadis kecil disampingnya. Iapun menoleh.
Gadis itu tidak menunduk lagi. Wajahnya sedikit mendongak menatap gorden yang bergerak-gerak kecil terbawa angin.
"Kenapa mereka pergi? Kenapa mereka meninggalkan kita?"
Gadis itu menatap Naruto tepat ke dalam bola matanya.
Ruby dan safir bertemu.
"Karena Tuhan sangat menyayangi mereka makanya Tuhan memanggil mereka lebih cepat."
Iris ruby itu berkaca-kaca.
"Lalu, apakah Tuhan tidak sayang pada kita? Buktinya Tuhan tidak memanggil kita juga."
Naruto menggeleng.
"Tuhan juga sayang pada kita, tapi Ia belum memanggil kita karena masih ada hal yang harus kita lakukan disini."
Alis merahnya mengerut mendengar jawaban Naruto.
"Apa itu?" tanyanya.
"Kita masih memiliki tugas, yaitu menjalani hidup dengan bahagia."
"Tapi bagaimana bisa Karin bahagia jika orang tua Karin tidak ada, Kak Naru? Siapa yang akan membuat Karin bahagia? Karin sendirian." Air matanya jatuh di kedua pipinya.
"Kan ada Kakak." Naruto bisa melihat iris ruby itu melebar kaget. "Karin tidak akan sendirian, karena ada Kakak yang akan selalu bersama Karin. Menemani dan menjaga Karin. Bagaimana?"
"Kenapa Kak?"
"Karena Kakak sayang Karin. Kakak tidak suka melihat Karin menangis. Karin sangat cantik kalau tersenyum." Naruto tersenyum kecil melihat rona merah tipis menghiasi pipi tembem gadis itu.
"Be-benarkah?" Karin bertanya malu-malu.
"Tentu saja." Jawab Naruto tegas.
"Janji?" Karin bertanya lagi, kali ini disertai dengan tangan kanan yang terulur dengan jari kelingking yang berdiri sedangkan jari-jari yang lain terkepal.
Naruto juga mengulurkan tangan kanannya dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari milik Karin.
"Kakak janji."
Dan setelah itu Karin merasa beban yang menghimpit hatinya tidak seberat sebelumnya.
Ode to a Nightingale
Pagi ini kelasnya menjadi lebih ramai dari biasanya. Teman-temannya berkumpul disatu meja seperti lalat yang sedang mengerubungi makanan. Karin melangkah menuju bangkunya yang dekat dengan jendela kelas─memilih untuk bersikap tidak peduli dengan kegaduhan yang timbul sepagi ini di kelasnya.
"Benarkah? Kudengar dia sangat tampan!"
Sayup-sayup telinga Karin menangkap suara salah satu teman kelasnya.
"Iya! Katanya dia seumuran dengan kita, tapi sudah kelas tiga!" suara yang lain menimpali.
"Ehh? Benarkah? Lalu kenapa dia pindah ke Konoha?" suara yang pertama kembali bertanya.
Karin tidak melihat siapa yang sedang asik bergosip di dekatnya-suara mereka begitu dekat-karena Karin masih betah memandang langit di luar sana. Setiap kali ia memandang langit hanya ada satu hal─lebih tepatnya satu orang─ yang ada di kepalanya. Sosok pirang beriris safir, karena warna langit terlihat agak mirip─meskipun tidak lebih indah─dengan matanya.
Entah kenapa akhir-akhir ini Karin sering teringat kenangan masa lalu. Sejak kapan Karin tidak tahu pasti, mungkin sejak ia mengalami mimpi buruk malam itu.
Mimpi…
Ingatannya segera beralih ketika ia berjalan sambil melamun meninggalkan halaman sekolah dan bertemu dengan seorang nenek tua tempo hari.
Nenek tua yang aneh. Tambah Karin dalam hati.
Tapi ucapan nenek itu cukup mengganggu Karin.
"Mimpi itu adalah suatu kenyataan. Kenyataan dikehidupanmu yang sebelumnya."
Apa maksud nenek itu? Mimpi apa yang dia bicarakan? Apakah mimpi itu?
Setiap kali Karin mengingat mimpi itu, entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa sakit dan sesak disaat yang bersamaan. Seolah-olah ada pisau imajiner yang mengiris dadanya berkali-kali.
Rasa cinta yang begitu besar.
Keinginan untuk melakukan segalanya.
Semua perasaan baru yang tidak asing itu, dari mana datangnya?
"Karin." Seseorang menyebut namanya. Ia menoleh.
"Ya?"
"Ibu Kurenai menyuruhmu ke ruangannya."
"Baiklah." Jawabnya disertai anggukan.
Segera setelah itu Karin segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kelas. Sambil melintasi koridor yang menghubungkan gedunng kelas satu dengan ruang kantor ia memeriksa jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.
Masih ada sisa lima belas menit sebelum bel tanda masuk berbunyi.
Karin mempercepat langkahnya.
"Permisi, Bu." Pintu yang tadi dibukanya ditutup kembali. "Apa benar Ibu memanggil saya?"
Seorang wanita berambut ikal mengangkat kepalanya yang tadi menunduk menekuri tumpukan tugas siswa didepannya. Ia tersenyum ke gadis dihadapannya.
"Ya, duduklah Karin."
Karin mengangguk kecil kemudian melangkah mendekati kursi yang berhadapan dengan guru cantik tersebut.
"Ada apa Ibu memanggil saya?"
"Sekolah kita kedatangan siswa pindahan dari New York, dia adalah anak bungsu keluarga Uchiha, pemilik sekolah kita."
"Lalu apa yang bisa saya bantu Bu?" tanyanya. Ia jadi teringat dengan kehebohan di kelasnya tadi.
Jadi siswa baru yang mereka gosipkan tadi adalah seorang Uchiha?
"Ibu ingin kau menjadi pemandunya. Temani dia berkeliling sekolah dan tunjukkan seluruh letak area gedung di tempat ini."
Karin terdiam mendengar penuturan wanita di depannya.
"Ada apa, Karin?" Kurenai memperbaiki posisi duduknya. "Apa kau keberatan?"
Karin menggeleng pelan. "Bukan begitu Bu, hanya saja saya tidak mengerti kenapa saya yang ditunjuk untuk hal sepenting itu. Bagaimana jika Uchiha tidak menyukai penjelasan saya? Ibu tahu sendiri saya tidak pandai bergaul."
"Tidak. Ibu percaya kau bisa melakukannya. Kau memiliki intelegensi tinggi jadi Ibu yakin kau bisa." Wanita itu tersenyum lembut melihat siswa berambut merahitu tersipu karena ucapannya.
"Ketika Ibu diminta untuk mencari siswa yang bisa melakukannya, Ibu tidak bisa memikirkan siswa lain selain kamu."
Beberapa saat Kurenai terdiam, menunggu jawaban Karin.
"Bagaimana?" Tanya Kurenai.
Kurenai tidak bercanda dengan apa yang dikatakannya barusan. Karin adalah gadis yang cerdas. Kemampuannya dalam meresap setiap pelajaran lebih besar dari siswa-siswa yang lain. Hanya saja ia tidak pandai dalam bergaul. Anak ini sampai sekarang bahkan belum memiliki satu temanpun, padahal sudah tiga bulan lebih Karin menjadi siswa kelas satu sejak upacara penerimaan siswa baru di Sekolah Swasta ini. Terbukti dengan ia masih duduk di pojok kelas dtemani bangku kosong disebelahnya.
"Baiklah, Bu. Saya bersedia." Karin mengangguk.
Sudut-sudut bibir wanita beriris merah darah itu terangkat mendapat respon yang sesuai dengan keinginannya.
"Bagus, kau tenang saja, sebenarnya kalian seumuran, hanya saja ia ditempatkan di kelas tiga karena disesuaikan dengan tingkat pelajaran yang diterimanya di New York. Tidak usah sungkan, oke?"
Karin lagi-lagi menjawab sambil mengangguk.
"Hu'um!" gumamnya.
"Sebentar lagi dia akan segera datang kesi─"
KLEK…
"─ahh, itu dia. Silakan masuk, Uchiha."
Karin menoleh mengikuti arah pandang Kurenai, ingin melihat seperti apa sosok Uchiha itu.
Dan saat itu pula iris ruby miliknya membulat. Waktu disekitar Karin berhenti berputar, nafas terhenti sejenak, dan jantung yang harusnya terus memompa darah keseluruh tubuhnya
Sosok itu…
Kulit pucat─
Rambut sehitam bulu gagak─
Dan iris segelap malam yang menyorot tajam.
Untuk beberapa detik kedua iris mereka bertemu, dan rasa sesak itu kembali menghimpit dadanya. Perasaan aneh yang muncul karena mimpi buruknya, yang sepertinya kini menjadi kenyataan.
Laki-laki itu buktinya.
Ode to a Nightingale
Semuanya terjadi begitu cepat. Ia bahkan tidak ingat dengan jelas bagaimana ia bisa berada di kamarnya sekarang ini, yang Karin ingat hanyalah ia pamit dari ruangan Kurenai dengan suara bergetar dan terbata-bata. Setengah berlari ke kelasnya untuk mengambil tasnya, yang ternyata sudah terisi oleh guru yang mengajar dijam pertama. Memberi alasan bahwa kakaknya menelepon karena ada urusan mendadak dan harus segera meninggalkan gedung sekolah.
Tempat itu berada di urutan pertama dalam daftar tempat yang tidak ingin diinjaknya saat ini.
Dan penyebabnya adalah karena orang itu.
Brengsek!
Karin memaki dalam hati.
Ia bahkan tidak sadar kalau air mata terus jatuh dari pelupuk matanya sejak ia pergi dari sana sampai ia melihat wajahnya sendiri dari pantulan kaca toko yang dilaluinya. Penampilannya terlihat sangat berantakan. Baju seragam yang basah karena keringat─ia berlari terus dari koridor sampai depan toko tersebut, rambut merahnya yang kusut─beberapa helai menempel di wajah dan tengkuknya, serta mata yang sembap karena menangis.
Keadaan kamarnya terlihat berbeda dari biasanya yang selalu rapi, tapi Karin membiarkannya. Sesampainya di rumah yang ia lakukan hanyalah duduk bersandar ke pinggiran tempat tidur yang mengahadap ke jendela besar di kamarnya.
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Sebuah kepala berwarna kuning cerah menyembul di balik pintu. Iris safirnya mendapati sosok yang sejak tadi dicarinya. Biasanya Karin akan menunggunya pulang dari kampus di ruang tengah sambil menonton film kartun dengan setoples cemilan di pangkaunnya. Harusnya itu yang Naruto jumpai sore ini di ruang tengah apartemen mereka, tapi tidak ada siapa-siapa disana.
Dan disinilah Naruto sekarang, berdiri di pintu kamar Karin. Menemukan gadis yang sedang duduk bersila di pinggir ranjang dengan kepala menunduk. Sesaat Naruto merasa ia seperti kembali ke masa lalu. Saat ia menemukan gadis kecil dengan posisi yang sama ketika dirinya berusia dua belas tahun. Saat dimana Naruto berjanji pada gadis kecil yang saat itu terlihat begitu rapuh dimatanya.
"Hey, kau baik-baik saja?" Naruto mengambil posisi duduk dihadapan Karin.
Karin hanya mengangguk pelan.
Sama seperti waktu itu. Kedua tangan gadis itu terkepal dan diletakkan di atas pahanya. Naruto meraih kedua tangan terkepal tersebut dan meluruskannya.
"Apa kau ada masalah?" Naruto bertanya lagi, dan jawaban yang didapatnya hanyalah sebuah gelengan.
Ini sedikit berbeda dengan waktu itu.
Kali ini gadis itu menolak menunjukkan sisi lemahnya, meskipun upaya itu tidak terlalu berhasil.
Naruto menghela nafas pelan kemudian bangkit.
"Baiklah kalau kau belum mau cerita." Naruto menarik Karin untuk berdiri bersamanya. Gadis itu menurut. "Tapi aku tidak suka melihatmu murung seperti ini."
Karin mengangkat kepalanya, memutuskan untuk mempertemukan iris ruby-nya dengan safir milik Naruto.
"Maaf…" ucapnya pelan, sadar bahwa dirinya telah membuat laki-laki didepannya khawatir.
"Baiklah." Naruto tersenyum."Tapi sebagai gantinya kau harus ikut denganku."
"Kemana?"
"Ke suatu tempat." Jawab Naruto misterius.
Ode to a Nightingale
Naruto menghentikan motor sport miliknya disebuah taman yang tak jauh dari kawasan apartemen mereka. Taman itu dikunjungi cukup banyak orang jika sudah sore seperti ini.
Mereka semua sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada sepasang kekasih yang sedang asik berkencan, ada juga yang sedang berjalan-jalan bersama anjingnya, ada pula yang hanya duduk di bangku panjang seorang diri dengan sebuah buku yang terbuka di tangannya.
Karin mengedarkan pandangannya. "Apa yang kita lakukan di taman ini?"
Naruto menyimpan helm yang dipakai Karin di jok motor dan melangkah maju. Merasa jika Karin masih bergeming di tempatnya, Naruto berhenti dan menoleh sedikit ke belakang.
"Kau ikut?" dan pertanyaan Naruto membuat Karin melangkahkan kakinya mengikuti laki-laki di depannya.
Mereka menuju ke sisi timur taman. Disana terdapat sebuah monumen yang menjadi lambang kota. Sekumpulan pemuda duduk di anak tangga monumen tersebut sambil bernyanyi. Dua diantara mereka memegang gitar dan memainkannya dengan lincah dan satu orang bermain perkusi, sisanya menjadi penyanyi atau hanya penonton.
Dahi Karin mengerut mengetahui bahwa tujuan Naruto adalah sekumpulan pemuda tersebut.
"Oi, Naruto!" laki-laki yang memegang gitar memanggil Naruto sambil melambaikan sebelah tangan.
"Hai, Kiba!" Naruto membalas lambaian pemuda yang bernama Kiba tersebut.
"Sudah lama kau tidak main bersama kami. Sok sibuk, heh?" mereka berjabat tangan dengan erat.
Naruto terkekeh sebentar. "Sorry, guys. Aku sangat sibuk, yeah, kau tahulah…"
Mereka tertawa bersama. Naruto menyapa yang lain.
"Then, apa yang membawamu kesini?" seorang pria dengan rambut yang dikuncir tinggi bertanya. Sebelah tangannya ditumpukan ke perkusi di depannya.
Karin hanya mengikuti percakapan itu dalam diam. Sama sekali belum mendapat ide mengenai alasan Naruto membawanya ke tempat ini.
"Well, I need your help, guys. Tapi sebelum itu, perkenalkan, ini adik sepupuku, namanya Karin."
Karin sedikt membungkuk sambil tersenyum simpul.
"Bantuan apa yang kau butuhkan, Naruto?" setelah berkenalan sebentar dengan Karin, fokus Kiba kembali pada Naruto.
Naruto menaiki anak tangga monumen tersebut agar bisa lebih dekat dengan Kiba, kemudian membisikkan sesuatu di telinga pemuda tersebut. Beberapa detik kemudian Kiba mengangguk pelan, matanya melirik sekilas ke arah Karin yang masih setia berdiri tak jauh dari mereka.
Hal yang terjadi selanjutnya mebuat Karin keheranan. Dia melihat Naruto berdiri di anak tangga teratas sedang mengalungkan sarung gitar ke tubuhnya. Kiba yang berdiri di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Laki-laki berkuncir yang Karin ketahui bernama Shikamaru memegang stik perkusi sambil mengambil posisi duduk di sebelah Naruto yang lain.
Karin semakin bingung ketika seseorang datang membawa mikrofon beserta stangnya dan menaruhnya dihadapan Naruto. Yang lain sibuk mengatur speaker yang diletakkan di anak tangga pertama disisi kiri dan kanan mereka bertaga.
Apakah Naruto berniat menyanyi disini?
Naruto mahir bermain gitar Karin sudah tahu sejak lama, tapi menyanyi?
Ini merupakan sesuatu yang baru bagi Karin tentang Naruto.
"Hey, gadis kecil." Sebuah panggilan yang sangat familiar berasal dari dua speaker didekatnya berhasil menarik perhatian Karin yang sejak tadi memperhatikan sekelilingnya.
Naruto menatap tepat kedalam matanya, memandang teduh dan sarat akan makna yang tak mampu Karin pahami.
Sudah lama Naruto tidak memanggilnya dengan sebutan Gadis Kecil, Karin mengira kakak sepupunya itu sudah lupa dengan panggilan itu, ternyata ia salah.
"Aku tidak suka jika ada mendung yang menghiasi matamu." Naruto berbicara ke dalam mikrofon, sehingga ucapannya terdengar dengan jelas di telinga Karin dan juga orang-orang di sekitar mereka.
Sepertinya Naruto menarik perhatian orang-orang di taman tersebut, membuat mereka menjadi tontonan para pengunjung taman yang lain.
"Aku tidak suka jika matamu basah, air mata itu menghalangiku untuk melihat cahaya disana."
Mereka saling bertatapan, dan entah kenapa jantung Karin tiba-tiba berulah tanpa ada alasan yang jelas.
"Meskipun aku tidak tahu hal apa yang membuat air matamu jatuh, tapi aku akan selalu ada disini untuk membuatnya berhenti."
DEG
Karin terhenyak. Ucapan Naruto membuat dada Karin terasa hangat, dan senyuman laki-laki itu menyebabkan Karin terpana. Sosok Naruto sekarang terlihat begitu berbeda, dan Karin tidak bisa menghentikan afeksi yang baru kali ini dirasakannya.
Suara petikan dua gitar mulai beradu. Bertempo sedang namun terdengar menyatu. Disusul dengan suara denting perkusi yang ikut memperindah musik tersebut.
There's no way to say this song's about someone else
Every time you're not in my arms
I start to lose myself
Someone please pass me my shades
Don't let 'em see me down
You have taken over my days
So tonight I'm going out
Karin tertegun, dia tidak menyangka suara Naruto ternyata sangat merdu.
Yet I'm feeling like
There is no better place than right by your side
I had a little taste
And I'll hold this for you at the party anyway
'Cause all the girls are looking fine
But you're the only one on my mind
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
There's only me
There's only you
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
When you were gone I think of you
Sebuah kerumunan terbentuk didekat Karin, tapi gadis itu tidak peduli sama sekali. Saat ini dipikirannya dipenuhi oleh sosok yang memukau di sana. Tangannya bergerak memainkan gitar dengan lincah sambil terus bernyanyi dengan mata yang tak pernah lepas dari Karin. Tatapannya seolah menyiratkan bahwa lagu itu ditujukan untuknya─
All these places packed with people
But your face is all I see
And the music's way too loud
But your voice won't let me be
So many pretty girls around
They're just dressing to impress
But the thought of you alone has got me sweating
And I don't know what to say next
─ dan Karin tidak pernah merasa seistimewa ini selama hidupnya.
Yet I'm feeling like
There is no better place than right by your side
I had a little taste
And I'll hold this for you at the party anyway
'Cause all the girls are looking fine
But you're the only one on my mind
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
There's only me
There's only you
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
When you were gone I think of you
Para penonton menikmati lagu bertempo cepat tersebut, tanpa sadar salah satu anggota tubuh mereka bergerak mengikuti lagu, entah itu kepala, tangan, atau salah satu kaki mereka. Suara si penyanyi membuat mereka tidak bisa melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, tidak jika suara indah itu masih memenuhi ruang kosong di sekitar mereka. Sosok yang berdiri di monumen tersebut terlihat sangat memukau.
I'll pretend the night is so beautiful
Take a photo with the bros
La da dee
La da dee doo
They won't see through my disguise
Right here behind my eyes
Replaying in my mind
La dee da yeah
Yet I'm feeling like
There is no better place than right by your side
I had a little taste
And I'll hold this for you at the party anyway
'Cause all the girls are looking fine
But you're the only one on my mind
Naruto tersenyum ke arah Karin sambil mengedipkan sebelah matanya. Dan hal itu membuat kedua pipi Karin dijalari oleh rona merah yang kontras dengan kulit putihnya.
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
There's only me
There's only you
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La dee dee
La da dee doo
When you were gone I think of you.
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
There's only me
There's only you
La da dee
La da dee doo
La da dee me
La da dee you
La da dee
La da dee doo
When you were gone I think of you.
Para penonton bersorak sambil bertepuk tangan. Beberapa diantaranya besiul-siul gembira. Mereka tersenyum menatap si penyanyi yang sedang membungkuk-bungkuk kecil beberapa kali sambil menggumamkan terima kasih.
"Wow, that was a great performance!" Kiba menjabat tangan Naruto sambil mengucapkan kata 'keren' beberapa kali.
"Haha, thanks bro."
Para penonton sudah membubarkan diri beberapa menit yang lalu. Hanya tinggal Karin disana.
Ode to a Nightingale
"Wow, aku tidak tahu kalau kakak ternyata bisa menyanyi."
Mereka baru saja sampai di apartemen mereka. Karin mengikuti Naruto dan ikut mendudukkan dirinya di sofa.
"Yah, apakah penampilan kakak tadi bagus?"
"Seperti itulah." Jawab Karin sekenanya. Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa penampilan Naruto tadi lebih dari sekedar kata 'bagus'.
Naruto terdiam sejenak. "Lagu itu untukmu."
"Aku tahu. Terima kasih, Kak." Karin menoleh ke samping dan tersenyum pada Naruto.
"Tidak masalah, anggap saja itu semacam hadiah perayaan."
"Perayaan? Perayaan untuk apa?"
Karin mengubah posisi duduknya, kedua kakinya ia angkat dan disilangkan sambil menghadap ke Naruto.
"Tadi Kakak sudah melakukan persetujuan skripsi." Naruto tersenyum melihat mata Karin melebar tidak percaya. "Kakak sudah siap untuk ujian meja."
"Benarkah? Yeayyyy!" Karin memekik senang dan setengah melompat memeluk leher Naruto dengan erat. "Selamat kak! Akhirnya skrpsi kakak diterima, sebentar lagi kakak sudah bisa diwisuda."
"Iya, terima kasih." Naruto membalas pelukan Karin. Bibirnya melengkung membentuk senyum.
Naruto senang gadisnya sudah kembali seperti biasa, tidak lagi murung dan suram.
Mereka masih terus berpelukan.
"Apakah kau masih sedih?" Tubuh dalam dekapannya sedikit menegang ketika Naruto bertanya.
Pelukan mereka terlepas. Naruto menatap Karin serius, berusaha meneliti perasaan gadis itu.
"Aku baik-baik saja, Kak." Jawab Karin.
Naruto tidak menanggapi ucapan Karin, tidak sepenuhnya percaya.
"Baiklah," ujar Karin "tadinya memang tidak baik-baik saja, bisa dikatakan sangat buruk."
"Apa yang terjadi?" Naruto mulai menginterogasi ketika melihat Karin sudah bersedia untuk bercerita.
"Well, seseorang berhasil menghancurkan moodku di sekolah dan membuatku kesal setengah mati." Karin sadar dirinya sedang berbohong pada Naruto, hal yang tidak pernah dilakukan olehnya sebelum ini. "Dia…, mengataiku kutu buku dan berkata bahwa aku terlihat seperti perpustakaan berjalan."
Alis Naruto bertaut, "Siapa yang mengatakan hal seperti itu? Kakak akan bicara pada─."
"Tidak." Karin menyela cepat. "Ini bukan masalah besar, lagi pula hal ini sudah sering terjadi, hanya saja mungkin emosiku sedikit labil hari ini sampai aku menangis karena ejekan seperti itu."
Naruto kembali diam. "Tapi sungguh, Kak. Sekarang aku sudah tidak sedih lagi. Nyanyian Kakak tadi membuat seluruh perasaan burukku menguap. Aku senang sekarang…"
Melihat gadis didepannya bersungguh-sungguh, Naruto menghela napas. Lega mengetahui bahwa ia berhasil.
Sepasang tangan yang terulur menangkup wajahnya membuatnya menatap ke depan. Iris ruby milik Karin memakunya.
"Terima kasih." Suara Karin terdengar lirih. "Karena sudah menjadi malaikatku selama ini. Aku tidak tahu bagaimana jadinya hidupku jika saja tidak ada Kakak disisiku sampai sekarang."
Naruto tertegun mendengar perkataan Karin. Entah kenapa kedua tangan yang memegangi sisi wajahnya membuatnya merasa nyaman dan berdebar sekaligus. Seolah-olah kedua tangan itu memang tercipta untuk hal ini.
"Kenapa kau berterima kasih? Memang sudah seharusnya tempatku adalah berada disisimu. Menjaga dan menemanimu. Bagaimana mungkin Kakak bisa menolak jika pada dasarnya memang untuk itulah Kakak lahir di dunia ini?"
Tidak ada lagi yang bersuara. Keduanya hanya saling menatap dan menyelami perasaan masing-masing. Perasaan yang hanya mereka rasakan ketika mereka bersama.
Entah siapa yang memulai, karena kini Naruto sedang menggerakkan kepalanya mendekat ke wajah Karin secara lambat, sedangkan Karin perlahan-lahan menutup matanya. Kedua tangannya yang masih berada di wajah Naruto seolah-olah ikut menarik Naruto untuk mendekat.
Kedua nafas mereka menyatu ketika wajah mereka hanya berjarak satu senti meter. Hidung mereka hampir bersentuhan.
Dan ketika kedua bibir mereka bertemu, suatu kehangatan yang berbeda menyentuh dasar hati mereka. Tidak ada hal lain yang bisa dipikirkan Naruto selain rasa lembut dan nyaman yang dikecapnya dari benda lembut itu.
Instingnya bergerak untuk terus mereguk rasa yang sangat baru baginya. Begitu memabukkan sehingga membuatnya enggan untuk berhenti. Kedua tangan Karin yang sejak tadi memegang wajah Naruto bergerak untuk mengalungkannya di belakang leher Naruto. Yang bisa dilakukannya hanyalah menyelipkan jari-jarinya ke helaian rambut pirang tersebut, seolah-olah berpegangan disana agar tak terjatuh, karena sesuatu yang sedang melumat bibirnya saat ini terasa mampu melumpuhkan seluruh kinerja tubuhnya.
Paru-paru yang membutuhkan pasokan udara menjadi penyebab terlepasnya pagutan itu. Iris rubynya perlahan terbuka, dengan nafas terengah ia menatap sosok dihadapannya.
Mereka kembali bertatapan, dan saat itu mereka sadar bahwa setelah ini hidup mereka berdua telah berubah untuk selamanya.
TBC
