Happy Anniversary

.

Wasurenaide

.

.

.

Jung Yunho and Kim Jaejoong

.

.

.

Aniss Kim

Present

.

All Jaejoong P.O.V

Aku tersenyum bahagia memperhatikan penampilanku di cermin. Ahh sempurna. Ku lirik arlojiku, sudah setengah 11. Berarti masih ada setengah jam lagi untuk ku harus sampai Airport. Cepat-cepat ku rapihkan isi tas ku, mengambil kunci mobil dan berjalan meninggalkan apartment yang sudah ku tempati selama enam bulan terakhir.

Setelah sampai di basement ku kendarai mobilku menuju jalanan padat Seoul. Ya. Sejak enam bulan lalu, aku memang menetap di Seoul karena kekasih ku. Memulai semuanya dari awal sebagai designer Moldir. Tidak mudah memang tapi yang namanya untuk mimpi, apa yang salah.

Hari ini rencananya aku ingin menjemput kekasihku yang baru pulang dari tournya bersama TVXQ.

Aku tersenyum sendiri mengingat awal pertemuan kami. Waktu itu hari sedang hujan saat aku berteduh di salah halte bus depan agensi miliknya.


Flashback

"Aish, baju dan bekal makanannya basah semua."

"Hujannya juga tidak mau berhenti. Bagaimana aku bisa cepat sampai rumah sakit?"

"Mereka pasti menungguku."

"Mana besok aku dan Okasan harus kembali ke Paris."

"Ya, Tuhan."

Aku tidak berhenti berbicara sendiri hingga aku menyadari seperti ada seseorang yang memperhatikanku. Ku tolehkan kepalaku, ternyata memang ada yang memperhatikanku.

Great, Jae!

Pasti dia mengiramu gila karena berbicara sendiri. Aish memalukan sekali. Ku bungkukan badan ku, meminta maaf mungkin saja dia terganggu.

Aku buru – buru akan pergi jika dia tidak menahanku.

"Chogiyo!"

"Ne, tuan?"

"Apa kau mau pergi? Bukankah sedang hujan?"

"Engg, itu…" Aku bingung harus menjawab apa.

"Tinggalah dulu di sini. Kau bisa sakit jika hujan – hujanan begitu." Wahh, dia perhatian sekali.

"Ne. Gomawo tuan Jung Yunho ssi."

"Cheonman. Ehh? Kau tau nama ku? Kau tau dari mana? Apa kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau kau salah satu dari penggemarku?"

Engg, aku bingung harus menjawab yang mana dulu. Namja ini terlihat narsis dan banyak bicara juga.

"Tidak bisa dibilang begitu sih. Aku dan kau hanya pernah bertemu sekali itu juga…"

"Kapan? Dimana? Aku tidak ingat. Bisa kau ceritakan?" Benarkan, namja ini banyak bicara, belum juga aku menyelesaikan kalimatku tadi tapi dia sudah bertanya lagi. Sok akrab sekali.

"Tahun lalu saat Paris Fashion Week – Haute Couture. Waktu itu kebetulan kau dan teman – teman mu menggunakan hasil rancanganku yang berada di bawah label Christian Dior."

"Kau perancang? Wah hebat sekali. Sangat beruntung bisa memakai rancangan darimu."

"Hn, ne." Jawabku kikuk.

"Ohh ya siapa namamu?"

"Watashi wa Jaejoong desu. Yoroshiku."

"Kau orang Jepang? Choneun Jung Yunho imnida."

"Percampuran Jepang dan Korea tepatnya. Tetapi karena aku besar di Jepang, secara tidak sadar aku menggunakan logat jepang."

"Ohh, geuraeyo? Sepertinya ini akan lama. Bagaimana jika kau ikut aku ke café yang berada di agensi ku. Mungkin kita bisa mengenal lebih dekat dengan secangkir coklat panas." Tawarnya dengan senyum yang mempesona.

Aku bisa merasakan wajahku merona. Aku mengangguk, dan dia tersenyum serta mengembangkan payung birunya. Mengajakku berbagi payung dan menyeberang jalan menuju kantor agensinya.

Tunggu dulu, Payung? Jika dia memiliki payung dan kantor agensinya hanya di depan mata kenapa dia berteduh di halte?

Flashback End


Dasar, namja bodoh. Rupanya Yunho sudah memperhatikan ku sejak Paris Fashion Week – Haute Couture itu di adakan. Dia terus menerus mencari informasi ku. Hingga kebetulan hari itu setelah dia selesai latihan, dia melihatku sedang berteduh di halte. Dia lalu merampas payung milik Changmin dan berlari ke arahku. Benar – benar cari kesempatan.

Hari demi hari mengenal dekat dirinya, aku jadi lebih tau Jung Yunho itu ternyata banyak bicara dan sangat manja hanya jika di hadapanku. Selebihnya dia tipikal orang yang dingin.

Aku masih ingat saat dia merengek ingin kabur ke Paris karena tidak mau pergi Wamil, alasannya adalah dia tidak akan bebas bertemu denganku. Kekanakan.

Akhirnya kami membuat perjanjian bahwa dia setuju Wamil asalkan aku harus menjenguknya empat kali dalam sebulan. Dia juga bersikeras bahwa seluruh kebutuhanku dia yang menanggung, aku hanya boleh bergantung padanya. Padahal aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin mandiri dan sukses, hingga dia bangga memiliki kekasih sepertiku.

Ahh tidak terasa sudah sampai. Ku parkirkan mobilku di basement Airport. Kemudian melangkahkan kaki ke terminal tiga, tempat terminal kedatangan.

Setelah menunggu lima belas menit, kekasihku yang berwajah tampan terlihat berjalan ke arahku. Ku sunggingkan senyum manis, dia pun membalasnya.

Dia mengecup keningku, sesaat setelah berdiri di hadapanku. Wajahku merona. Berdekatan dan berinteraksi denganya membuat jantungku berdebar-debar tidak jelas.

"Lama menunggu, dear?"

"Tidak juga. Bagaimana perjalanannya?" Aku ambil salah satu kopernya yang berukuran sedang. Sedang satu lagi tetap dalam genggamannya.

"Cukup melelahkan. Tapi menyenangkan saat aku bisa melihatmu." Dia melingkarkan sebelah tanganya ke pinggangku.

"Dasar perayu!" Ku cubit pinggangnya dan dia tertawa. Kami pun berjalan meninggalkan airport menuju mobilku.

"Umm. Kau lapar, Yun?" tanyaku saat sudah duduk di kursi kemudi. Dia menoleh dan memasang wajah manja.

"Lumayan, Boo. Aku tadi kesiangan dan harus buru-buru mandi lalu ke Airport."

"Pasti setelah bangun, kau langsung tidur lagi."

"Hehehe. Aku kan kelelahan setelah berburu oleh – oleh untuk calon istriku." Dia tersenyum salah tingkah.

"Ya sudah, setelah ini kita ke apartment ku dulu saja. Aku akan membuatkan menu lunch favoritmu."

"Yes, baby. Itu yang ku harapkan. Kau memang kekasih ku yang terbaik." Dia mengamit tangan kiriku dan menciumnya.

"Memang kau memiliki berapa kekasih?"

"Only you, chagy."

Kami pun mulai berbicara panjang lebar untuk menghabiskan waktu perjalanan ini. Pun terus berlanjut saat kami masuk ke dalam gedung apartment. Sikapnya yang supel dan ramah juga terkadang manja selalu membuatku nyaman.

Setelah keluar lift dia berjalan lebih dulu di depanku. Di tekannya kode apartment ku, aku hanya tersenyum. Dia memang mengetahui kode apartment ini.

"Hahh, aku selalu suka suasana apartment ini. Rapih, nyaman, dan membuatku tenang." Ujarnya dan langsung merebahkan diri di sofa tamu.

"Kau mau mandi atau ku buatkan sesuatu sambil menonton Tv?"

"Aku mengantuk, Boo." Rengeknya manja dan menarik tubuhku untuk duduk di sisi tubuhnya. Ku usap rambut coklat gelapnya.

"Tidurlah, selagi aku memasak. Nanti kalau sudah siap akan aku bangunkan."

"Ya. BooJaejoongie kembali! Kiss me first!" Tak ku hiraukan jeritan labilnya itu, aku hanya segera ke dapur dan membuat Bulgogi dan Kimchi Jiggae.

Satu jam kemudian saat aku tengah menata makanan di meja, aku di kagetkan dengan sebuah tangan yang melingkari pinggangku dan tumpuan berat di pundakku.

"Manja sekali, eoh. Aku baru saja mau membangunkan mu."

"Aku terbangun karena wangi masakanmu yang membuat ku semakin lapar."

"Nah, kajja duduk dan mari makan." Aku mendudukannya di kursi lalu mengitari meja dan duduk di hadapannya. Mengisi piringnya dengan nasi dan beberapa lauk dan sayur.

Dia mulai memakannya dengan khidmat. "As always baby. Masakanmu selalu nikmat dan pas di lidahku."

Aku tersenyum senang, "Ne! Kau harus habiskan."

"Siap tuan putri."

.

.

.

Hari – hari yang kami lalui bertambah manis. Namja ku itu semakin romantis, sering kali dia memberiku beberapa hadiah manis di depan pintu apartment ku atau mengirimnya ke kantorku. Walaupun kami sama – sama sibuk, tetapi dia selalu menegaskan kami untuk tidak mengabaikan intensitas pertemuan kami. Setiap malam dia akan selalu menyempatkan waktu menelponku. Berbagi cerita lucu dan perhatian kecil. Setiap akhir pekan kami juga selalu menghabiskan waktu bersama. Terkadang dia menyiapkan special dinner, atau mengajakku menonton. Jalan – jalan di Mall, taman hiburan atau hanya sekedar bermain ayunan di taman. Aku suka sekali menghabiskan waktu bersamanya. Dia juga tidak lupa mengatakan kata cinta saat kami membuka mata atau ingin beristirahat. Ahh priaku yang luar biasa.

Seperti saat ini, saat aku sudah hampir menangis menerima telepon dokter dari sebuah rumah sakit. Dokter itu mengatakan bahwa kekasihku baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sekarang sedang kritis. Aku sampai harus menggebrak meja receptionist hanya untuk menanyakan dimana ruangan kekasihku berada.

"Anda hanya harus berjalan ke lantai tiga dan berhenti di kamar V.I.V bernomor 303.'

"Nde, kamsahamnida." Aku bahkan melupakan jika rumah sakit sebesar ini pasti memiliki lift dan malah berlari menaiki undakan demi undakan tangga yang berjumlah ratusan.

Aku mengatur nafasku. Ohh, tidak! Mataku berkabut lagi saat membayangkan bahwa di dalam sana kekasihku sedang berjuang untuk hidup.

Ya, Tuhan.

Selamatkan lah dia.

Dengan bergetar tanganku meraih knop pintu. Memutarnya dan melangkahkan kakiku masuk.

"Surprise!" Teriak seluruh anak-anak yang berada di ruangan itu. Aku hanya mematung mendapati ini semua.

"Bagaimana bisa?" lirihku. Bukankah seharusnya ini ruangan kekasihku. Tetapi mengapa jadi kamar anak-anak. Ruangan ini bahkan di design secantik mungkin. Banyak balon-balon yang di gantung di pojok ruangan dan jendela. Lalu ada berpot – pot bunga mawar dan lili di sekitar ruangan itu. Kamar ini bahkan tidak memiliki ranjang, hanya sebuah hambal berbulu yang luas dan di biarkan membentang di tengah-tengah ruangan. Ada meja memanjang yang tidak terlalu tinggi seperti meja makan khas lesehan(?). Tertata berbagai makanan dan minuman di atasnya.

Aku kebingungan. Apa kah aku salah masuk kamar? Atau perawat tadi salah memberikan kode kamar?

Anak-anak manis yang memakai seragam rumah sakit itu berjalan ke arahku. Satu persatu dari mereka memberikanku sebuah setangkai bunga lily. Mereka mengucapkan saranghae dan tersenyum manis. Aigoo menggemaskan sekali.

Tetapi aku tersentak bukan saatnya untukku terkesima. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan. Menemui kekasihku. Aku sudah akan berbalik jika saja seorang anak yang memakai topi rajut menarik tanganku. Di menuntunku ke sebuah badut berkostum beruang besar di pujok ruangan. Aku tidak tega menolaknya hingga aku mengikutinya.

"Waeyo, hmm?" Saat dia meremas tanganku.

"Ayo noona cantik, ambil hadiah yang sedang di pegang oleh paman beruang itu."

Dengan ragu – ragu ku ambil hadiah itu. Ku tolehkan wajah ku pada namja kecil tadi.

"Untukku?"

"Ne! Noona, buka saja!" Aku menurutinya, ku buka perlahan – lahan. Terdapat sebuah album berwarna merah marun.

Aku tercengang. Bagaimana tidak jika lembar demi lembar album itu adalah seluruh potret diriku sejak masa kanak – kanak hingga saat ini. Berbagai pose kesal, polos, marah, imut, tenang, tertawa, sedih, bahagia juga merona ada di sana. Lembar – lembar selanjutnya berisi foto – foto ku bersama kekasihku. Saat pertama kami bertemu dan berkenalan. Saat aku mencuri pandang ke arahnya. Saat kekasihku menyatakan perasaannya di tengah jalanan. Saat kami berkencan. Bergandengan tangan dan tertawa bersama. Saat dia melamarku pada waktu konsernya waktu itu. Saat kami berkebun, picnic, bermain hujan. Dan seluruh kegiatan yang ku habiskan bersamanya. Di akhir lembar aku menemukan sebuah surat berwarna merah muda. Ku buka perlahan.

Dear, My Other Half..

Aku sangat menyukai kebersamaan kita selama ini…

Juga hari – hari yang telah pergi..

Banyak cerita yang terjadi tentang kau, aku dan tentang kita.

Aku menyukai semuanya..

Dan berharap hari – hari yang akan datang juga seperti itu..

Mengukir cerita – cerita indah, dimana ada aku dan kau di dalamnya.

Happy Aniversary, Boo…

Tergesa – gesa ku lipat lagi surat kecil itu dan menarik paksa kepala badut yang berbentuk beruang itu. Aku benar bukan! Ternyata dia memang kekasih ku yang nakal!

"Kenapa lama sekali Boo? Aku bahkan sudah sangat kepanasan dan susah bernapas."

Ku pandang nyalang wajah kecil bak alien miliknya. Dia memandang ku takut – takut saat tanganku ku mengarah ke wajahnya. Dia sudah memejamkan matanya erat – erat. Mungkin dia mengira aku sudah akan menamparnya, tapi aku justru melewati wajah kecilnya.

Sreerrtt

"YA! Appo!" teriaknya kesakitan. Aku memang melewati wajahnya, tapi tanganku berhenti di rambutnya. Menjambaknya!

"Sakit, huh?"

"Appo, Boo! Tolong lepaskan! Mianhae!"

"Apa aku tidak dengar!"

"Appo, baby~" rengeknya manja, yang sayangnya kali ini tidak mempan.

"Kau bahkan hampir membuat jantungku berhenti berdetak, Tuan Jung Yunho yang terhormat!" aku menekankan suara ku saat menyebut namanya. Sial! Mataku berkabut.

Namja bodoh itu menatapku lembut, dan mengecup ke dua mataku yang sudah berkaca – kaca. Menarikku ke dalam pelukan hangat. Dia mulai bernyanyi…

Modu arayo geudeyeotjyo
Na himdeurgo werom soge jichil dde
Useojugo dderon ureojumyeo
Neul ne gyeote isseojun saram

(Everyone knows it was you
When I was worn out and tried from loneliness
You, the person who laughed and sometimes cried
And was always there next to me)

Thanks for everything & Thanks you here
Neom yeorigo ajig jageun geudega
Nal wihae gidohaneun mam neom keun sarang
Nege bune neomchineun geudega itjyo gomawun saram

(Thanks for everything & Thanks you here
You who are very tender and still small
Having a heart to pray for me is a very big love
You who are always full is there next to me
Thankful person)

Geureyo (geudel dugoseo) nan amudedo mot gajyo
Meil jabajun ne soneul, geureon gomaumeul arayo
Cheoeum geuddecheoreom (hangsang gyeoteman)
Meomurreojun geudega
Neom sojoonghago yebbeoseo
Heurrin naui nunmurjochado
Kamsa deuryeoyo

(Yes without you I can't go anywhere
The hand which you held everyday,
Knows that kind of thankfulness
Like that first time you "always stayed" next to me
Because you're so precious and beautiful
Even the tears that fell from me thank you)

Thanks for everything & Thanks you here
Apeuji ange, hangsang geon ganghage
Bbargejin geode bbyam wi eh ib machumyeo
Neomu gwiyeowoon geudel wihae gidohae
Gomawun saram

(Thanks for everything and Thanks you here
So that you don't get ill, Always healthy
While kissing your blushing cheeks
I pray for you who are oh so cute
Thankful person)

Geureyo (geudel dugoseo)
Nan amudedo mot gajyo
Meil jabajun ne soneul,
Geureon gomaumeul arayo
Cheoeum geuddecheoreom (hangsang gyeoteman)
Meomurreojun geudega
Neom areumdabgo hengboghe
Heurrin naui nunmurjochado
Kamsa deuryeoyo

(Yes without you" I can't go anywhere
The hand which you held everyday,
Knows that kind of thankfulness
Like that first time you "always stayed" next to me
Because you're so precious and beautiful
Even the tears that fell from me, thank you)

(Anayo) Ne mamsoghen (neuggijyo)
Geudebbuniran geol…
Geureseo hengboghanjyo
Na geudel hyanghae useurggeyo

(Do you know in my heart feels
It's only you..
That's why I'm happy
I'll smile towards you)

Deurryeoyo geude eui ddaseuhan sumgyeol
Ireoghe gaggai geude eoggel kamssa jurggeyo
I'll be there, I'll be there
I'll be there for you everyday
Neom eteuthago sojoonghan
Sarang gareuchyeo jun geudel wihae
I'll be there for you

(I can hear your warm breath
I'll closely wrap your shoulders like this
I'll be there, I'll be there
I'll be there for you everyday
For you who taught me cute and precious love
I'll be there for you)

Seluruh anak – anak, para perawat dan dokter bahkan orang tua pasien yang mengintip di pintu, bertepuk tangan setelah Yunho menyelesaikan lagunya. Tapi sayangnya itu belum menenangkanku.

"Saranghae! Saranghae! Saranghae!"

Dia terus mengucapkan kata itu sampai tubuhku berhenti bergetar. Aku memang tidak menangis, karena aku laki – laki. Tapi tubuhku bergetar hebat, karena aku merasa ketakutan terjadi apa – apa dengan kekasih ku ini. Saat aku merasa jantungku hampir berhenti berdetak karena berita kecelakaannya, dia malah menjadikan itu sebagai kejutan hari jadi kami.

Dia menarik wajahku, tanpa melepaskan pelukannya. Mengecup sekilas bibirku dan tersenyum hangat.

"Kau jahat sekali."

"Mianhae.."

"Aku sangat khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kau malah menjadikan ini kejutan."

"Mianhae, sayang. Aku memang sengaja mengatur ini semua untuk mu baby. Menyuap dokter dan para perawat. Menghabiskan waktu sehari mendekorasi ruangan ini. Memborong sepuluh toko bunga. Serta menyiapkan dinner bersama anak-anak penderita kanker dan kelainan jantung. Itu semua aku lakukan untuk memperingati hari jadi kita. Aku tau, kau sangat menyukai anak – anak. Kau juga selalu bersedih setiap habis melakukan kunjungan ke rumah sakit. Kau tau Boo? Kata orang tua, doa anak – anak yang masih polos itu berkhasiat. Lihatlah di setiap gulungan kertas yang tergantung pada bunga yang mereka berikan padamu. Di sana ada pengharapan mereka untuk mu, dan kita. Mereka semua mendoakan kita berbahagia selalu seperti cerita pangeran dan putri di negeri dongeng."

"…"

"Kau tau alasan lain memilih rumah sakit untuk memberi mu kejutan? Itu karena aku ingin kau percaya dan mengerti, jalan yang kita lalui nanti pasti tidak selalu mudah. Bisa saja masalah itu datang seperti kanker, perlahan – lahan dan langsung menggerogoti hubugan kita. Bisa saja masalah kita itu seperti penyakit jantung, rasa sakitnya bisa langsung menghujam dan menghentikan detak jantung kita. Atau seperti efek setelah operasi otak dan kau mengalami amnesia. Bisa saja maslah itu membuat kita berhenti berharap dan melupakan kenangan kita. Tetapi aku ingin kita memainkan peran kita sebagai dokter, bekerja sama menghadapi segala penyakit yang hinggap di hubungan dan hidup kita. Saling percaya bahwa selalu ada cara untuk menyembuhkan penyakit tanpa harus ada kata perpisahan. Selalu menggenggam dan menghadapinya bersama – sama."

"…"

"Aku mencintaimu sayang. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk merawat hidupku kelak selain Kim Jaejoong. Aku tidak membutuhkan obat termahal di dunia selain cinta dan kesetianmu untuk terus di sampingku. Aku juga tidak membutuhkan rumah sakit bertaraf internasional atau kamar VVIP untukku di rawat. Aku hanya membutuhkan mu sebagai tempatku pulang dan menghabiskan hari tua kita bersama dengan tingkah lucu anak cucu kita. Boo, my other half saranghae."

"Yunho~ah, hold my hand if you feel lonely. I'm with you. Lean on my shoulder if you're tired. I'll be there. I'll be standing here, waiting for you and never give up my faith in you. No matter how far you are, no matter how long it takes you. Through distance and time I'll be waiting. There would be no me if it is not for you. My other half Yunho, I love you."

Yunho tersenyum, " I love you too, BooJaejoongie."

Mereka saling berbagi senyuman lembut dan hampir saling memeluk lagi jika saja…

"Hyungdeul, kapan acara makannya? Aku sudah lapar." Ujar salah satu anak yang memakai seragam rumah sakit itu. Mereka berdua tertawa dan beranjak duduk di antara anak – anak itu. Memulai makan malam bersama puluhan anak – anak yang menderita penyakit di rumah sakit itu.

Berbagi tawa, berbagi cerita, dan cinta yang mereka punya.

Cinta itu sederhana, hanya perlu kontribusi kau dan pasanganmu untuk membuat cinta kalian menjadi lebih indah. Tidak perlu saling mendominasi, hanya saling berusaha sepakat untuk meraih kebahagian bersama – sama.

.

.

.

See You Next Oneshoot

Hello…

How are you, Yunjae shipper

Aku bawa satu lagi oneshoot. Bisa di bilang ini adalah lanjutan Wasurenaide yang pertama tapi bisa juga ngga sih (lhaaa?). Maksud ku, ini akan berupa kumpulan oneshoot hubungan Yunjae hingga mereka menikah nanti. Dengan konflik yang berbeda tentunya. Mungkin puncaknya adalah ulang tahun MY/dihajar (oke maksud ku) OUR JAEJOONGIE.

Sungguh berharap kalian bisa suka, dan mau menantikan kelanjutan oneshoot selanjutnya.

Tidak memaksa kalian untuk review, hanya berharap kalian sudi mengetik rangkaian tulisan di kotak review. (Sama aja ya? Hehehe)

Soal Typos dan kerusakan EYD, sungguh aku masih butuh banyak belajar.

Always keep the faith guys.

With Love

AnissCassie

Fb: Aniss Kim

Tw: PratiwiiAniss

Thanks to:

whirlwind27, kimmy ranaomi, Yikyung, shipper89, Selena Jung, meirah.1111, dienha, nabratz, little Dark Wolf 99, wiendzbica732, ShinJiWoo920202, Purple, yeyewookim97, dheaniyuu, YunJae, kimsLovey dan para Guest beserta Silent readers.