ahh, males ngeditnya -_-" mohon maaf ya untuk chapter ini aku share apa adanya, tanpa editan dan masih asli sejak pertama di buat wkwkkkwk karena dulu setiap chapternya di share di fb dan menggunakan ponsel, secara teknis/? ini gabungan dari dua chapter yang super pendek. Jadi saya mohon, sebelum kalian mual dengan ff ini... Sebaiknya jangan dibaca hahahahahah :D

di sini Aku ganti Eunhyuk jadi Hyukjae...

Happy Reading~

.

.

.

.

Eunhyuk pov

.

Tidak terasa 3 hari telah berlalu semejak kejadian itu..

3 hari ini juga aku berusaha sebisa mungkin agar tidak bertemu dengan Songsaenim, meski pada akhirnya aku berada disini..

Berdiri dari kejauhan, menatap dirinya yang sedang membaca sebuah buku di bawah pohon besar..

Kau tahu Songsaenim? Kau sangat mempesona..

Dimataku kau adalah namja yang paling mengagumkan..

Aku mencintaimu…

Sungguh, aku sangat mencintaimu… Meski kau telah melukai perasaanku, tapi ketahuilah… Aku tidak akan pernah menyalahkanmu, aku tidak bisa membenci dirimu..

Karena pada nyatanya akulah yang salah.. Ya, sebuah kesalahan yang sangat fatal untuk diriku sendiri…

Tak seharusnya aku mencintaimu, tak seharusnya seorang siswa seperti diriku mencintai songsaenimnya sendiri! Maka sangat pantas jika aku membenci diriku sendiri.

Aku benci pada diriku sendiri, karena telah lancang mengharapkanmu untuk menjadi kekasihku..

Mianhae songsaenim..

Jeongmal mianhae…

Ah, kenapa aku malah menangis? Namja pabo! Berhenti menangis! Dan cepatlah pergi dari tempat ini, sebelum ia memergokimu karena telah menatapnya diam-diam!

Segera ku balikkan tubuhku, dan mulai mengambil langkah untuk meninggalkan tempat ini–taman belakang sekolah.

"Ah, akhirnya aku menemukanmu juga… Hyukjae!" tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah menyebutkan namaku. Segera ku hapus airmata yang menggenang dipelupuk mataku.

Perlahan ku dongakan wajahku yang sejak tadi menunduk. Kini seorang namja dengan wajah ramahnya, sedang berdiri dihadapanku dan tersenyum lembut kearahku..

Sosok yang ku sebut dengan seorang pelindung dalam hidupku..

Namja yang sangat ku kenal…

"Uisanim?" tanyaku sedikit terkejut. Kenapa dia bisa datang ke sekolahku?

Ia hanya menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Tiba-tiba dia memberenggutkan wajahnya.

"Jangan panggil aku seperti itu! Panggillah namaku! Sudah brapa puluh kali aku katakan itu padamu eoh?!" ucapnya kesal, seraya mengarahkan tangannya keatas pinggang. Tanpa sadar aku tersenyum mendengar penuturan namja di hadapanku ini.

"Lalu, aku harus memanggilmu apa?– Ajeossi?" tanyaku menggodanya. Dapat ku lihat ekspresi wajahnya yang semakin kesal ketika aku menyebutkan kata-kata yang tabu baginya.

"KYUHYUN HYUNG! Panggil aku Kyuhyun hyung! Arraseo?!" jawabnya tegas. Aku hanya terkikik geli melihat tingkahnya yang seperti anak-anak itu, padahal ia jauh lebih tua 10tahun dariku.

"Baiklah Kyuhyun hyung~ kenapa kau bisa ada di sekolahku? Bukankah seharusnya kau ada pekerjaan di rumah sakit yang jauh dari Seoul?" kataku seraya meraih lengan kekarnya. Ia pun segera merubah ekspresi wajahnya lagi, lalu menyentuh pipiku dengan tangan hangatnya.

"Kau, sudah brapa lama kau tidak menghabiskan makananmu?" pertanyaan yang keluar dari mulutnya, sontak membuatku terdiam. Aish, aku pasti akan dimarahinya habis-habisan! Yah, wajar saja seorang dokter pribadi menanyakan hal seperti ini pada pasiennya.

"Ku dengar dari pelayanmu, kau tidak pernah mau memakan makanan yang sudah mereka buat untukmu? Kau tahukan kalau kau memiliki penyakit apa? Kau mau penyakitmu tambah parah?! Kalau saja kau menurut padaku dan pelayanmu, kau pasti bisa lepas dari penyakitmu itu!" tuh kan, dia marah-marah lagi. Jangan heran jika aku menjulukinya si pelindung, karena dia memang pantas memiliki julukan itu.

Akupun semakin memeluk lengannya erat, dan perlahan menyenderkan kepalaku dibahu besarnya.

Ah, aku rindu dengan kehangatan ini..

"Aku tidak bisa lagi memakan makanan itu lagi, aku bisa tambah sakit kalau aku memakannya.. Maka dari itu aku tidak mau memakan…" jawabku sekenanya.

"Jangan bohong! Aku sudah menuliskan daftar menu yang tidak akan membuatmu sakit pada pelayanmu! Jadi tidak mungkin akan membuatmu sakit! Sekarang katakan padaku, apa ada yang telah terjadi semejak aku pergi?! Apa kau ada masalah?!" ucapnya kesal, tapi masih dapat ku rasakan kecemas dalam nada suaranya. Masalah? Ya, masalah ku yang harus aku hapus dari pikiranku… Masalah perasaan yang mulai saat ini harus aku hapus dari dalam hatiku…

Donghae songsaenim… Sudah aku putuskan…

Aku akan melupakan perasaan cintaku padamu, dan mulai menjalani hidupku yang baru–tanpa mengenal lagi perasaan ini terhadapmu…

Dan menghapus sentuhan lembut bibirmu, dari bibirku…

"Tidak ada… Tidak ada masalah apa-apa, aku hanya kurang suka rasa makananya… Ayo, hyung! Sebaiknya kita pulang.!" segera ku tarik dia agar meninggalkan tempat ini. Ia pun hanya menghela nafas berat, lalu dengan pasrah mengikutiku yang menarik lengannya menuju gerbang sekolah.

Sebentar saja..

Bolehkah aku melihatnya untuk yang terakhir kalinya?

Kutolehkan kepalaku ke arah pohon besar tempat dimana ia terduduk seraya membaca buku tadi. Aku sedikit terkejut ketika ku lihat dirinya sedang berdiri, menatapku dengan sorot mata yang sulit ku artikan.

Apa? Kenapa menatapku seperti itu? Berhenti!

Aku mohon berhentilah memandang diriku dengan tatapan yang tidak ku mengerti sama sekali!

.

.

.

.

.

Donghae pov

.

Siapa namja itu?

Kenapa kau tampak begitu bahagia saat bersama namja itu?

Hatiku terasa sangat sakit, ketika melihatmu dengan namja itu…

Aku tidak suka! Sungguh aku tidak suka melihatmu dengan namja yang bahkan belum pernah aku lihat sebelumnya!

Kenapa bukan aku yang kau rengkuh lengannya?

Kenapa bukan aku yang kau berikan senyuman kebahagiaan dari bibirmu? Kenapa? Kenapa?

Kenapa aku sangat bodoh?!

Aku akan menikah! Jadi tidak mungkin aku mengharapkan dirimu untuk menjadi milikku! Tidak akan pernah bisa…

Tidak akan pernah bisa…

Ya, tidak bisa memiliku… Terasa begitu menyakitkan..

Hyukjae… Kau hebat…

Bocah manis kecilku…. Kau hebat chagi…

Kau hebat, karena telah membuat aku jatuh hati kepada dirimu yang notabenenya adalah muridku..

Dan lebih hebatnya lagi adalah…

Kau membuat hatiku berpindah kepada sosok lembut dirimu, dan telah memudarkan cintaku terhadap calon 'istriku'…

Tapi aku tidak bisa menyakitinya… Karena dia…

Sangat rapuh…

Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Hyukie…

Pada akhirnya, aku harus menyakitimu…

"Hyung! Kau dengar tidak sih?!" aku tersadar dari lamunanku, ketika seseorang menepuk pundakku dengan sedikit keras. Aku menoleh memastikan siapa orang yang berani-beraninya telah mengejutkanku dengan menyakiti pundakku.

"Wookie?"

"Aish! Aku dari tadi memanggilmu pabo! Kau ini, berhentilah menatapnya seperti itu! Kau kan akan menikah sebentar lagi!" ujarnya dengan nada kesal.

Eh? Apa katanya?

"Kau… Sudah brapa lama disini?" tanyaku was-was. Apa dia memergokiku yang sedang menatap Hyukjae. Ia menghela nafas berat, kemudian menatapku tajam.

"Sejak kau menjatuhkan bukumu saat melihat itu merangkul lengan namja bersurai ikal itu.!" hah? Jinjja? Aku menjatuhkan buku ku?

Aku bahkan tidak menyadarinya. Setelah sekian lama bergulat pada pemikiranku sendiri, akhirnya aku memberikan senyuman hangat kepada dongsaengku yang satu ini.

"Kau.. Ada apa lagi kemari?" tanyaku–sedikit mengalihkan pembicaraan. Ia hanya berdecak, lalu kembali membuka suaranya.

"Sungmin hyung… Hari ini ia ingin menemuimu disekolah untuk membicarakan pernikahanmu dengannya" aku menyengritkan keningku ketika mendengar penuturan Wookie.

"Mwo? Bukankah dia tidak boleh keluar dari rumah sakit? Bagaimana bisa dia di ijinkan datang kemari?!" ucapku berusaha tenang.

"Sudahlah, jangan banyak bertanya! Kajja, dia menunggumu di ruanganmu!" setelah ia mengatakan itu. Ia berbalik, lalu berjalan meninggalkanku sendirian.

Masih tetap menatap punggung adik kesayanganku, fikiranku kembali mengarah kepada sosok manis siswa yang sangat aku cintai.

Angin berhembus menerpa tubuh lemahku..

Apa bisa kau mengerti posisiku Hyukjae?

Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja..

Dia rapuh…

Dia rapuh, dan aku tahu kau adalah namja yang kuat..

Tapi dia tidak, dia lemah…

Sungmin sangat lemah…

Sampai ia harus menjalani separuh hidupnya dirumah sakit…

Aku tidak bisa meninggalkannya..

Karena aku yang telah menyatakan perasaan ku dan memberikan sebuah harapan kecil kepada dirinya saat aku pertama kali bertemu dengannya…

Beginilah diriku, Hyukie..

Pria yang tidak bisa mencintaimu sepenuhnya.

Pria yang tak bisa memilih kebahagiaanya..

Pria yang tidak bisa menjaga perasaanya, dan malah jatuh hati pada muridku sendiri..

Lebih baik bukan diriku yang kau cintai.. Lebih baik namja lain yang mendapatkan cinta tulus darimu…

Jangan aku.. Lupakanlah aku… Jangan siksa dirimu seperti itu Hyukjae…

00o00

Eunhyuk pov

.

"Apa kau rutin meminum obatmu?!" ku tolehkan kepalaku kepada sosok namja tampan yang sedang fokus pada setirnya. Aku tersenyum simpul kepadanya.

"Obat sebanyak itu? Kau menyuruhku rutin untuk meminumnya? Kau membuatku jadi tidak bisa merasakan makanan lezat hyung!" ucapku–dengan setia memberikan senyuman kepada dokter pribadiku.

"YA! Jadi kau tidak meminumnya?! Aish, kau harus rajin meminum obat Hyukie! Apa kau mau mati muda hah?!" pekiknya keras. Aku sedikit terlonjak mendengar penuturanya. Perlahan senyumku memudar, kini aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan sendu..

"Biarkan… Biarkan aku mati hyung…." sontak ia menghentikan laju mobilnya dengan tiba-tiba. Ia pun menoleh menatapku dengan tatapan tajam.

"Ulangi! Ulangi kata-katamu!" geramnya. Aku terdiam, dan kembali tersenyum miris.

"Biarkan aku ma–" belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba ia menarik kerah kemejaku..

Lalu tanpa ku duga, ia melumat bibirku dengan bibirnya. Mataku membulat tatkala perlakuannya kepadaku yang begitu tiba-tiba, ia melumat bibirku dengan sangat lembut..

Entah kenapa aku tidak bisa menolak perlakuanya kepadaku…

Perlahan ia menjauhkan wajahnya dari wajahku, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan..

"Jangan katakan itu Hyukie.. Sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkanmu mati, sebelum aku… Aku tidak mau melihatmu terbaring tak bernyawa diatas ranjangmu, aku tak mau melihat batu nisanmu. Aku tidak mau kau pergi!"

.

.

.

.

.

Author pov

.

"Hyukjae… Apa dia baik-baik saja?" tanya seorang namja manis yang sedang membersihkan lantai di toilet sekolah–kepada seorang namja tampan bertubuh atletis yang sedang membersihkan wastafel di toilet itu juga. Mereka bukanlah seorang OB disekolah itu ataupun sedang menjalankan hukuman dari guru, akan tetapi mereka adalah salah satu bagian dari siswa di Senior High School Seoul dan juga sahabat dari Lee Hyukjae.

Namja yang bernama Siwon itu hanya menghela nafas berat, ketika ditanya mengenai masalah sahabatnya..

"Kurasa ini semakin buruk… Lihat saja hasil perbuatanya…" perlahan namja itu melirik dan blazer yang ia letakan di samping wastafel toilet. Dan kemudian menatap nanar keseluruh penjuru toilet.

"Bahkan ia mengotori seragam dan juga toilet sekolah dengan…. Darahnya…." ucapnya lirih.

Namja manis yang bernama Kibum itu terdiam seketika mendengar penuturan Siwon, yang menurutnya sangat menyesakan itu.

"Dia… Kesakitan… " ucapnya lirih. Seraya meraih seragam yang penuh dengan noda darah milik Hyukjae, dan kemudian memeluknya.

"… Ya… Aku tahu…." dengan berbagai pikiran yang terus berkecambuk diotak namja bertubuh atletis itu, akhirnya dia kembali membersihkan wastafel yang masih dipenuhi dengan bercak darah dari sahabatnya.

"Dia… Sangat kesakitan…"

1jam yang lalu..

.

"Hyukjae, kau sudah selesai mencuci tanganmu kan? Ayo kita kembali kekelas!" ucap Kibum, setelah ia keluar dari salah satu bilik pintu di dalam toilet sekolah.

"Ah? Ne, ne… Kalian berdua duluan saja.! Aku masih ada urusan di sini.." sahut namja manis pemilik gummy smile itu dengan senyuman hangatnya. Siwon yang sejak tadi sudah menunggu didepan pintu keluar toilet, akhirnya kembali ke dalam setelah mendengar jawaban dari Hyukjae–sahabatnya.

"Mwo? Urusan apa? Apa kau mual lagi?" tanya Siwon cemas. Kemudian ia menghampiri Hyukjae yang sedang berdiri didepan wastafel dan dinding kaca. Ia tersenyum..

"Sudahlah.. Aku tidak–UHUK!" belum sempat Hyukjae melanjutkan kata-katanya, cairan kental berwarna merah pekat tiba-tiba keluar dari mulut Hyukjae. Sontak Siwon dan Kibum kaget melihat Hyukjae yang mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Uhuk, uhuk.. Sudah… Ka.. Uhuk… Kalian kembali saja… Ke kelas… Uhuk, uhuk… Aahh.." Hyukjae jatuh tersungkur, dengan posisi berlutut dan tangan kanannya yang masih memegangi bibir wastafel. Sedangkan tangan kirinya, ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terus mengeluarkan darah.

"HYUKJAE!"pekik Kibum panik, segera ia menghampiri Hyukjae lalu mengelus punggung Hyukjae lembut. Sebenarnya ia bingung harus melakukan apa kepada Hyukjae, ia terlalu panik dan akal sehatnya sudah tidak bisa bekerja lagi.

"Aku akan panggilkan Donghae songsaenim! Kau jaga Hyukjae, Bummie!" ucap Siwon yang segera mengambil langkah untuk memanggil Donghae songsaenim yang notabenenya adalah guru kesehatan disekolah mereka.

"Ja.. Jangan.! Jangan Wonnie.. Ja, jangan panggil dia… Jangan panggil orang itu… AAARGGGHh!" hanya kata-kata terakhir itulah yang Hyukjae katakan. Setelah itu, ia tergeletak diatas lantai dengan darah yang semakin deras keluar dari mulutnya. Dia tampak gelisah, dan terus mencengkram seragam sekolahnya yang sudah bersimbah darah.

Ia menggerak-gerakan tubuhnya kesana-kemari, dan menekuk–luruskan lututnya bergantian. Ia terus mengelurkan darah yang begitu banyak, Sehingga mengotori lantai toilet dan seragam milik Kibum.

Siwon yang berada tak jauh dari Hyukjae, hanya mampu berdiri tanpa menghampiri sosok mengerikan sahabatnya. Ia terlalu shock.

"AAH, sakit… Kibum… Sakit sekali… Ahak! Sakit… Umma… Umma… Hiks… Uhuk uhuk.." Hyukjae menitihkan airmata. Ia menangis, berusaha untuk menghilangkan rasa sakit disekujur tubuhnya.

"Do… Donghae… Sakit….."

00o00

Donghae pov

.

Tubuhku tak bisa ku gerakan, rasanya semua jadi tak bisa ku kontrol dengan otak ku.

Tanpa pikir panjang, aku segera memasuki toilet yang selalu aku lalui ketika mau menuju ruanganku.

Ku pandang dua orang siswa itu dengan tatapan kosong..

"So.. Songsaenim?" ucap seorang siswa manis dengan airmata yang mengalir membasahi pipinya.

Perlahan aku memandang seluruh bagian toilet, masih tersisa bercak-bercak darah di atas wastafer dan juga lantai toilet.

Aku tak mampu berkata-kata, mulutku tak dan hanya terus menganga lebar.. Aku tidak bisa berfikir lagi, pikiranku terlalu kacau.

"So, songsaenim… Se, sebenarnya…" ku tolehkan wajahku ke arah namja manis itu yang sejak tadi memeluk sesuatu didadanya. Segera ku hampiri dia dan meraih paksa benda yang ia peluk.

Ini seragam, dapat ku lihat nametag diblazernya yang sudah dipenuhi noda darah.

Lee Hyukjae.

"A, aku sudah berniat untuk memanggil songsaenim untuk menolongnya.. Tapi, dia menolaknya…" aku kembali mendengar salah satu siswa pemilik tubuh atletis berbicara disampingku. Aku terus menatap seragam yang berada ditanganku dengan tatapan kosong..

Jangan bercanda!

Aku tidak percaya!

"Hyukjae..?"gumamku lirih.

.

.

.

.

Tbc

Reposting. bhakakakak