Hujan mengguyur Konoha. Derasnya air yang turun dari atas langit, mencegahnya untuk meninggalkan halte. Berdiam diri, pemuda itu menengadahkan wajah—menatap langit yang tampak kelam.

Hhh, pemuda itu mendesah tidak pelan. Merapatkan jas almamater sekolahnya, dia kemudian melirik jam tangan sport hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Lagi, suara desahan terdengar lolos dari bibirnya ketika angka menunjukkan pukul 17.30 tepat. Dia terlambat pulang, dan itu berarti dirinya dalam masalah. Ingin menerobos air hujan, pemuda itu mengurungkan niatannya. Terlalu sayang baginya untuk membuat seragamnya basah kuyup. Tidak, terima kasih, dia tak ingin menambah perkara untuk ke depannya. Pemuda itu bukan masokis, selain berisiko untuk kesehatannya, dia juga tak ingin mendapatkan hukuman dari sekolahnya; hanya karena tak mengenakan seragam yang tak seharusnya.

"Hujannya deras, ya."

Mengernyitkan kening ketika tiba-tiba mendengar suara dari sampingnya, pemuda itu menolehkan pandangannya ke samping kanan. Entah sejak kapan, dirinya sama sekali tak menyadari keberadaan sosok lain di halte tersebut. Setahunya, semenjak setengah jam lalu hanya ada dirinya, seorang diri.

Merasa tak ada gunanya memikirkan hal yang dirasa tidak penting, pemuda itu pun kembali memokuskan dirinya pada dunia nyata. Memilih tak menanggapi lontaran kalimat yang diucapkan sosok gadis berambut pirang panjang—asing— di sebelahnya, dia lebih memilih meraih handset yang selalu disimpannya pada saku jas sekolahnya. Memasangkannya pada handphone, tak lama benda berwarna putih itu pun disumpalkannya pada kedua lubang telinganya.

Tak perlu untuknya menolehkan pandangan, pemuda itu sangat tahu dengan jelas bila gadis yang berdiri di sebelahnya itu tengah memerhatikan dirinya. Mendengus dalam hati, dirinya sangat berharap akan redanya hujan dengan segera. Terus terang saja, dia merasa risih. Sosok gadis pirang tersebut entah kenapa te—

"Sekarang aku mengerti ..."

Walau tidak keras, dirinya masih dapat mendengar dengan jelas ucapan dari sosok di sampingnya,

"... kau memang benar-benar dingin seperti es batu. Ternyata gosip yang beredar di sekolah itu benar." Suara kikikan tawa bernada sedang terdengar. "Aku jadi semakin tertarik padamu."

Mengerling bosan saat mendapati senyuman yang sedari tadi terarah padanya, Itachi pun menggelengkan kepalanya pelan. Sesuai dengan dugaannya, gadis tersebut ternyata memang salah satu dari fans-nya. Tipikal sekali. Harapannya akan hujan yang segera berhenti pun semakin besar. Dia benar-benar merasa jengah. Baginya, berdekatan dengan salah satu fans-nya hanya akan membuatnya repot saja.

Dulu, Sekarang, Dan Nanti

Naruto © Masashi Kishimoto Sensei.

.

.

.

Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Suara alarm yang terdengar begitu nyaring—yang disinyalir berasal dari smartphone putihnya—menjadi penyebabnya. Dengan segala keengganan yang dimilikinya, perempuan itu pun mengubah posisi tidurnya menjadi terduduk. Meraih benda putih yang tergeletak begitu manis di atas permukaan meja kecil yang ada di samping tempat tidur berseprai polkadot miliknya, dia pun menyentuh permukaan layar berukuran tujuh inchi tersebut. Tersenyum masam, putri dari Namikaze Minato itu pun akhirnya bangkit dari tempat tidurnya.

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, pekerjaan telah menanti dirinya.

.

Mengunyah dan menelan, adalah kegiatan yang semenjak sepuluh menit lalu dilakukannya secara berulang. Melayangkan tatapan malas ke arah dua sosok pemilik kepala berbeda warna, perempuan itu pun akhirnya meletakkan pisau dan garpu dalam genggamannya. Meraih sebet makan yang telah tersedia di atas permukaan meja makan, bibirnya pun dilapnya kemudian.

"Apa aku harus benar-benar selalu melihat wajah kalian setiap hari?" tanyanya dengan nada jengah.

Mendapati senyuman penuh arti yang terarah kepada dirinya, dia pun mengerti. Harapannya tidak terkabul, pernyataan yang diucapkan oleh kakaknya ternyata serius adanya. Kedua saudara—menyebalkan—nya itu ternyata tidak main-main, mereka berdua benar-benar akan tinggal dalam satu atap yang sama dengan dirinya.

'Hhh, adakah yang lebih buruk dari ini semua?'

Membatin, Naruto merasa benar-benar miris sendiri.

.

.

.

Suasana sekolah tampaklah sangat begitu ramai dalam pandangan matanya. Menatap satu per satu siswa dan siswi yang ikut menatapnya secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi, sebuah lengkungan senyum tipis pun Naruto tampakkan. Wajah-wajah tidak familier itu semua akan menjadi tanggung jawabnya mulai saat ini.

Mempercepat langkahnya, perempuan itu membawa kedua kaki jenjangnya untuk mengikuti seorang lelaki paruh baya—yang saat ini menjadi penunjuk jalannya—ke arah sebuah ruangan bernuansa putih gading, di mana di ruangan tersebut telah berdiri banyak orang—yang disinyalir sebagai staf pengajar di sekolahnya.

.

.

.

Itachi jujur saja merasa gugup sendiri. Walaupun ekspresi wajah dan gerak tubuhnya tampak begitu tenang di permukaan, namun kegelisahan terasa begitu dominan dalam dirinya.

Sosok itu masih tampak sama seperti beberapa tahun lalu. Memang tampak beberapa perbedaan mencolok; seperti panjang rambut yang tak lagi seperti dulu, penampilan yang terkesan semakin dewasa dan juga anggun, serta tatapan mata yang kini tampak menyorot dingin.

Terkekeh kering di dalam hati. Satu kenyataan pahit menampar dirinya. Dia sangat tahu dengan jelas. Tak bisa membohongi dan membodohi diri sendiri, perasaan bersalah menyeruak, dan mengganggu fokusnya akan dunia nyata.

'Sedalam itukah, Namikaze-sama?' batinnya, pahit.

.

.

.

"Jangan katakan bila hal ini adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan selama ini?" Menghujamkan tatapan tajam, Naruto sama sekali tidak peduli pada usia pria tersebut yang hampir setengah kali lipat lebih tua dari usianya. Saat ini, yang perempuan itu inginkan hanyalah kepastian.

Hhh, menghela napas tidak pelan ketika mendapati kediaman dari pria—yang dulunya merupakan Kepala Sekolah—tersebut, Naruto benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran orang itu. Hasil laporan menyeluruh tentang sekolah yang diterimanya benar-benar sangat mengecewakannya.

"Rasengan adalah sekolah bertaraf internasional. Tapi, kenapa bisa sekolah ini tak ubahnya dengan sekolah biasa pada umumnya?" Naruto menggelengkan kepalanya pelan, kecewa. "Anda yang memiliki pengalaman yang lebih mumpuni dari saya, bagaimana bisa melakukan hal sefatal ini? Benar-benar mengecewakan."

"Namikaze-sama—"

"Uzumaki Naruto," sela perempuan itu, tajam. "Saya tidak ingin siapa pun memanggil saya dengan embel-embel nama besar keluarga Namikaze."

"Maafkan saya, Nami—Uzumaki-sama." Sedikit kikuk, pria itu membungkukkan setengah badannya.

"Pokoknya saya tidak mau tahu …." Naruto menatap lurus pria tersebut, "Mulai saat ini, kita akan bekerja lebih giat lagi. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, saya ingin melihat perubahan nyata dari sekolah ini. Rasengan harus menjadi sekolah yang sudah seperti seharusnya, dan bahkan melebihi sekolah-sekolah lainnya."

"Uzu—"

"Saya tidak membutuhkan jawaban apa pun, selain 'Ya'." Bibirnya membentuk garis lurus. "Jadi, mohon kerja samanya, Orochimaru-sama," ucapnya, penuh penekanan.

.

.

.

Lagi. Suara-suara seperti dengungan lebah itu kembali terdengar ke permukaan. Mengerling bosan, lelaki berpenampilan jauh dari kata modis itu pun menghela napas, lelah.

Usut punya usut, kabarnya—mantan—Kepala Sekolah mereka yang terkenal killer tersebut telah dibuat tak berdaya oleh Kepala Sekolah mereka yang baru. Entah dapat kabar dari mana, Ratu gosip berambut pirang pucat di hadapannya membagi informasinya kepada para langganan setianya yang tampak begitu antusias mendengarnya.

Tak ingin merepotkan diri dengan suatu hal yang dirasa tak perlu—karena sudah dia tahu penjelasannya, Itachi pun meraih buku-buku dan bahan ajarnya hari ini. Bangkit dari tempat duduknya, dia berlalu begitu saja dari ruangan. Sudah saatnya bagi Izanami Itachi untuk mengajar.

.

Murid-muridnya tampak menguap, bosan. Hanya terhitung jari, jumlah siswa dan siswi yang fokus dan mendengarkan penjelasan. Risiko mengajar matematika, banyak sekali yang merasa kurang bersahabat dengan pelajaran berbasis angka tersebut. Maka, tidak heran bila hasilnya selalu begini.

"Nah, anak-anak, ada yang ingin kalian tanyakan?"

Menyudahi penjelasannya tentang 'Peluang', seperti biasa Itachi memberikan kesempatan pada murid didiknya untuk mengungkapkan kesulitan yang mereka temui. Namun, hasilnya selalu sama, tak nampak satu pun yang mengangkat tangannya untuk bertanya.

'Apa sebegitu membosankannya?'

Mendesah pelan, dia pun membenarkan letak kacamatanya yang terasa sedikit bergeser dari tempatnya. Mengulas senyum seadanya, lelaki itu pun berjalan ke mejanya.

"Baiklah, kalau begitu." Itachi menatap satu per satu siswa-siswi yang tadinya lesu, dan kini tampak telah kembali bersemangat. Menggelengkan kepalanya, dia tak tahu harus merasa lucu atas miris dengan tingkah murid-muridnya.

'Tipikal.'

"Hari Kamis nanti, kita adakan ulangan mingguan." Sahutan bernada kecewa terdengar jelas ke dalam indera pendengarannya. "Sensei harap kalian kembali mengolah materi. Ingat, jangan sampai mendapat nilai yang mengecewakan."

"Izanami-Sensei—"

"Tidak ada protes, Inari-kun," selanya, cepat.

Bibir yang mengerucut menjadi jawaban dari sang Siswa yang tampak kecewa. "Sensei tidak asyik."

Tak terlalu mengacuhkan respon dari murid didiknya, Itachi mulai merapikan perlengkapan mengajarnya. "Pelajaran kita tutup sampai di sini. Silakan manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk beristirahat. Sampai jumpa beberapa hari ke depan."

.

.

.

Perempuan itu sama sekali tidak pernah menduga sebelumnya. Penemuannya kali ini sukses membuatnya tercengang. Seolah menemukan suatu spesies langka yang terancam punah, dia sama sekali tak mampu mengabaikan hal yang ada di depan matanya. Membuka dan menutup mulutnya, seorang Namikaze-Uzumaki Naruto kehabisan kata-kata. Seandainya semua tidak terasa begitu nyata, dirinya bersumpah akan menganggap ini semua hanyalah sebatas mimpi atau hanya omong kosong belaka.

Menggelengkan kepalanya pelan, Naruto tertawa kering di dalam hati. Dia benar-benar tak menyangka. Rasanya, perempuan itu ingin sekali membenturkan kepalanya pada permukaan dinding terdekat. Sungguh, sesuatu yang ada kurang dari sepuluh meter darinya itu sukses membuat matanya iritasi.

"Itachi …," panggilnya begitu lirih. Senyum miris disunggingkannya. Sementara itu, sosok lelaki yang sekitar lima menit belakangan ini telah menjadi objek pandangannya hanya menatapnya dalam diam. "Kenapa wujudmu begitu mengerikan sekali? Astaga ... kau mengotori kedua mata indahku!"

.

.

.

Rambut merahnya tampak berkibar, tertiup angin. Kedua iris hazel-nya menatap serius. Hembusan napas yang begitu konstan terdengar lepas dari kedua belah bibir merah delimanya. Menarik kedua sudut bibirnya, senyum tidak penuh arti tampak tersungging.

"Apa kau akan membiarkannya begitu saja, Aniki?"

Melayangkan tatapan datar pada sang Adik yang saat kini tengah menunggu tanggapan dari pertanyaannya, Sasori pun menyenderkan punggungnya pada bangku taman yang tengah mereka berdua duduki.

"Aniki—"

"Dia bukanlah Naruto yang dulu," selanya. Hanya melirik sosok berambut hitam jabrik di sampingnya melalui ekor mata, Sasori meletakkan kedua lengannya di depan dada. "Kau tak perlu terlalu mengkhawatirkannya."

"Entahlah, aku tidak yakin." Lelaki muda yang terkenal dengan senyum kalemnya itu tampak menerawang untuk sejenak. "Bukan tidak mungkin bila hal yang sama akan kembali terjadi menimpa dirinya."

"Kau terlalu berlebihan, Menma. Kakak kembarmu tidak senaif dan sebodoh itu."

"Hal itu akan berbeda bila berhubungan dengan Uchiha," desis lelaki itu sinis. "Dan aku hanya tidak menginginkan hal buruk terjadi pada Naruto. Karena biar bagaimanapun, dia adalah kakakku. Tak akan kubiarkan seorang pun membuatnya ter—"

"Karena itulah kita berada di sini, Menma." Sasori menatap adiknya lekat, "Kita ada untuk mengawasinya."

"Hanya sekedar mengawasi, huh?" tanyanya sarkastis.

"Hm …."

.

.

.

Sebuah meja berbentuk lingkaran menjadi penghalang di antara mereka berdua. Duduk saling berhadapan, keduanya saling menatap antara satu sama lain.

Tak ada senyum. Tak ada kata. Hanyalah tatapan datar yang sama-sama mereka layangkan semenjak setengah jam lalu.

Menjadi orang pertama yang memutuskan kontak mata di antara mereka, Itachi meraih cairan berwarna cokelat kehitaman yang tampak berada di dalam cangkir. Menyesapnya penuh khidmat, tak diacuhkannya sosok pirang yang terus menatapnya dengan begitu intens.

Teringat akan pertemuannya dengan perempuan bermarga Namikaze-Uzumaki tersebut, Itachi ingin sekali meratapi kesialannya, namun harga diri sama sekali tak mengizinkannya untuk melakukan hal memalukan tersebut. Toh, Itachi tahu, cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi.

"Aku tahu kalau kau memang miskin, tapi aku tidak tahu kalau kau semiskin ini, Itachi." Perempuan itu akhirnya membuka suara. Senyum mencemooh tampak begitu jelas dalam pandangan sang Guru Matematika. "Lihat penampilanmu ... benar-benar menyedihkan."

"..."

"Apa semua uangmu habis untuk membeli kacamata kuda yang kau kenakan, Itachi?" Perempuan itu menatapnya rendah. "Sampai-sampai kau tidak bisa membeli pakaian yang layak. Aku benar-benar sangat kasihan padamu."

"..." Hanya diam, lelaki itu tak berminat untuk menanggapi hinaan yang dilontarkan oleh perempuan—yang sudah beberapa tahun lamanya tak dijumpai oleh dirinya—tersebut. Itachi mafhum. Seorang Namikaze Naruto memang sudah dari sananya menyebalkan. Rupanya, kebiasaan perempuan itu dalam menghinanya benar-benar tidak berubah.

"Kenapa tidak pernah menghubungi dan menemuiku?" Naruto menatap penuh selidik. "Kau malu memperlihatkan wujudmu padaku, hm?"

Menatap datar, Itachi kemudian menghela napasnya pelan. "Kau bukan orang penting yang harus kutemui."

"Ka—"

"Bagiku semua sama sekali tidak berguna," selanya, cepat. "Aku hanya akan membuang-buang tenaga dan waktuku secara percuma."

Membuka dan menutup mulutnya untuk sesaat, perempuan itu kemudian melayangkan tatapan tajam ke arah Itachi. "Kau benar-benar menyebalkan. Apakah sebegitu tidak berartinya aku untukmu, hah?"

"Kau tahu dengan jelas, Naruto." Itachi menatap malas, "Kau adalah masa laluku yang sangat tidak penting untukku."

"Uchiha—"

"Izanami. Aku bukan lagi anggota Uchiha."

Mengatupkan mulutnya rapat, Naruto pun memalingkan pandangannya.

"Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, sebaiknya aku pergi. Per—"

"Aku membencimu."

Ucapan bernada lirih tersebut sukses menghentikan perkataan dan pergerakan Itachi yang hendak bangkit dari posisi duduknya.

"Aku benar-benar membencimu. Kau sialan." Kedua iris biru langit itu menghujam lelaki itu tajam. "Dasar lelaki miskin tidak tahu diuntung."

.

.

.

Kazusha corner : Semoga yang membaca dan menunggu fict ini update tidak sampai lumutan. Mulai saat ini, aku usahakan untuk update minimal seminggu sekali, itu juga kalau ada yang mau.

Makasih lho, udah mau baca, review, fav, foll fict ini.

.

Balasan review yang gak log. in :

Guest : Syukurlah klo suka. Yaoi, ya? Aduh, jujur aku takut ketagihan klo terjun ngetik Yaoi. Tapi, entahlah ke depannya. Untuk request-annya, boleh Gender bender gak? Sedikitnya di chap ini udah ada sedikit disinggung tentang Itachi.

Alfiona. Airen : Syukurlah. Maaf lama.

Maria : wah, aku senang klo begitu. Iya, nerd. Saking miskinnya Itachi gak bisa beli baju yang modis. Duitnya habis buat beli kacamata yang tebelnya kayak tapal kuda.

Guest : Chap depan akan lebih jelas. Aku belum bisa bikin yang panjang.

Shuu Akina : Iya, langka. Yuk, kita ramaikan.

.

Yang log. in akan dibalas nanti ya.