A/N : Chapter 2 is up! Ada yang menunggu-nunggu? #geer. Bytheway, sepertinya chapter 1 ada banyak typo ya? #barusadar. Yaudahlah, saya usahain chapter ini gak ada typo.
Baiklahh! Dengan ini, saya persembahkan~
Buku yang Mengubahku dan Temari #2
Naruto © Masashi Kishimoto
Story and Plot © Sapphire Namikaze
Pair : ShikamaruxTemari
.
.
Don't like? Hush! Hush! Don't read!
Sebelumnya...
Ketika mereka sampai di rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing dan lagi-lagi tidak bicara satu kata pun. Tiba-tiba, Shikamaru teringat dengan buku pemberian ayahnya. Segera ia ambil dari sakunya, dan membaca halaman pertama.
'Mungkin, besok adalah hari untuk memperbaiki hubunganku dengan Temari. Baiklah, sesuai isi dari halaman pertama, besok aku harus…..'
.
'… Membuatkannya minuman pagi.'
Shikamaru tercengang. Membuatkan Temari minuman? Seperti teh atau susu? Apakah Temari akan menerimanya? pikir Shikamaru. Ia tak yain kalau Temari akan menerimanya dengan senang hati. Tapi, segera ia tepis prasangka buruknya, dan mencoba untuk melakukannya besok, "Baik! Tema-chan, ku yakin, kau pasti akan memaafkanku," ucapnya. Lalu, Shikamaru menutup buku itu dan tidur.
.
Keesokan harinya, Shikamaru bangun lebih pagi. Ia segera membuka piyamanya, lalu mandi. "Brrr… Airnya dingin," keluhnya. Tapi ia tetap mandi. Setelah selesai, Shikamaru mengeringkan tubuhnya, lalu memakai pakaian kerjanya. Ia tak lupa mengikat rambutnya. Setelah itu, Shikamaru keluar kamarnya dan menutup pintu perlahan, 'Sepertinya, Temari belum bangun,' pikirnya.
Shikamaru segera menuju dapur, dan ia pun mengambil gelas, teh celup, dan gula. Ia memasukan dua sendok gula ke dalam gelas, lalu menuangkan air panas ke dalam gelas. Setelah itu, Shikamaru mencelupkan teh itu ke dalam gelas, dan mengaduknya bersamaan dengan gula menggunakan sendok. Setelah ia rasakan manis, ia lalu meletakannya di atas meja makan. Lalu, Shikamaru mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu.
Shikamaru meletakan kertas itu di bawah gelas berisi teh manis tadi. Lalu, ia berangkat ke kantornya.
.
Pukul 06.30 pagi, alarm Temari berdering. Ia segera mematikan alarm itu, lalu ia menyipitkan matanya, untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi. Setelah ia sadar bahwa ia sekarang berada di dunia yang penuh penderitaan, ia berjalan malas untuk mandi dan bersiap-siap. Setelah ia mandi, ia memakai pakaian berwarna cokelat, yang biasa ia gunakan untuk mengajar. Ia berdandan sebentar, lalu berkaca. Ia melihat penampilannya yang sudah rapi dan siap untuk bekerja.
"Baik! Ini hariku! Semangat!" serunya sambil mengepalkan tangannya, dan meninjunya ke udara. Setelah Temari merasa siap, ia keluar kamarnya dan mengunci kamarnya. Ia akan menuju garasi tempat mobilnya diparkirkan. Tapi, saat melewati ruang makan, ia melihat segelas teh manis dan secarik kertas dibawahnya. Temari lalu menghampirinya. Ia menarik kertas itu lalu membacanya,
"Temari, ini teh-mu. Diminum, ya…
—Shikamaru—"
Raut muka Temari berubah. Ia terlihat kesal sekarang, "Apa sih maunya Pemalas itu? Sok membuatkan minuman segala," ucap Temari, lalu ia meremas kertas itu, dan membuangnya di tempat sampah. Lalu, Temari kembali, dan ia mengambil gelas tersebut. Setelah itu, ia menuju dapur, lebih tepatnya tempat mencuci piring, lalu menumpahkan isi gelas tersebut ke tempat mencuci piring. Kemudian, Temari dengan kasar meletakan gelas itu di sana.
"Jangan harap aku mau meminum minuman yang kau buat, Pemalas!" ujarnya lalu berangkat ke sekolah, tempat ia bekerja.
.
Di kantor, Shikamaru sedang duduk di depan meja kerjanya. Ia terlihat sedang berpikir. Tiba-tiba, Naruto datang dengan cengirannya, "Hai, Shika! Apa kabar?" sapanya.
"Buruk," jawab Shikamaru malas. Naruto memasang tampang bertanya-tanya.
"Kenapa? Temari lagi?" tebak Naruto asal. Shikamaru mengangguk, "Yah, masalahku hanya dia 'kan?"
"Sudah coba menyapanya seperti yang kubilang?" tanya Naruto lagi.
"Sudah, hasilnya, ia malah membentakku," ujar Shikamaru. Lalu ia menghela nafas sejenak, dan melanjutkan, "Aku juga sudah membuatkannya teh tadi pagi. Tapi aku tidak tahu, ia akan meminumnya, atau malah membuangnya," ujar Shikamaru.
"Yah, Shika. Kerja bagus!" Naruto mengacungkan ibu jarinya, "Walau dibuang juga, jangan putus asa ya! Terus lakukan itu!" saran Naruto.
"Yeah, yeah. Ku cob— Huaachiimm!" Shikamaru bersin. Naruto yang terkena semburannya marah-marah, "Heii! Jangan menular virus! Ditutup dong, jorok!" ujarnya sambil mengelap mukanya.
"Haha, sorry, sorry," kata Shikamaru.
"Hnn, sebaiknya aku memberikan laporan dulu pada Pak Bos. Nanti aku akan segera kembali," ujar Naruto dan meninggalkan Shikamaru sendirian. Shikamaru lagi-lagi tercengang, dan bengong sebentar. Tapi, tiba-tiba, hidungnya terasa gatal dan, "Huaaachiimm!"
.
Sementara di kantor guru, Temari baru sampai, dan ia melihat Tenten yang sedang mengoreksi kertas ulangan muridnya. Lalu, Temari menyapanya, "Tenten-san,"
Tenten menoleh, "Wha! Temari-san! Apa kabar?" tanyanya. Temari hanya mendudukan diri di kursinya, lalu ia terlihat kesal, "Kau tahu? Pemalas itu tiba-tiba membuatkanku teh manis tadi pagi. Apa coba maksudnya!" kata Temari.
"Hm," Tenten mencoba berpikir, lalu matanya membulat, "Jangan bilang ia mau meracunimu!" serunya agak keras. Temari terkejut, "Apa?"
"Hm, ya! Aku pernah lihat di sinetron, kalau seorang suami yang pernah selingkuh itu biasanya bersikap baik pada isteri karena ada niat jahat. Tapi, Temari-san, kau tidak meminumnya, 'kan?" tanya Tenten.
"Untungnya saja tidak. Tapi, apakah Pemalas itu sejahat itu?" tanya Temari. Tenten mengangguk, "Mungkin saja," ujarnya, "lebih baik, besok, kau bangun lebih pagi, siapa tahu ia akan membuatkanmu minuman lagi. Jadi, kau bisa melihat apa yang di masukannya ke dalam minumanmu," ujar Tenten.
"Ya, bagus juga idemu. Terimakasih ya, Tenten-san. Kau sudah sangat membantuku," ujar Temari. Tenten tersenyum, "Itu gunanya teman, kan?"
"Ya, tentu. Baiklah, ini sudah bel. Aku masuk kelas dulu, ya, Tenten-san," ujar Temari.
"Ya, aku juga ada kelas, bagaimana kalau kita bareng?" tawar Tenten. "Baik, ayo," ujar Temari, dan mereka keluar kantor guru bersama-sama.
.
Saat jam pulang, Shikamaru hanya duduk di mejanya. Ia terlihat sangat malas untuk pulang. Ditambah lagi, badannya kurang fit untuk menyetir sendiri. Ia seing batuk dan bersin. Tiba-tiba, Naruto menghampirinya, "Shika! Belum pulang?" tanyanya.
"Bel— Huaachim!" Shikamaru bersin lagi, tapi, sekarang ia tak lupa untuk menutup mulutnya dengan tissue.
"Hei, kau kenapa? Dari tadi bersin terus," ujar Naruto.
"Tidak, mungkin aku hanya kelelahan. Kemarin sampai malam aku di rumah Ayah dan merayakan ulangtahun ibu. Dan jatah tidurku dikurangi karena aku mau membuatkan Temari segelas teh. Mungkin juga faktor aku yang mandi dengan air super dingin tadi pagi,"
"Wah, kau mengalami kemajuan, Shika. Kau mau mengorbankan diri dan kesehatanmu demi Temari. Aku senang," ujar Naruto, "Baiklah, hari ini, bolehkah aku mengantarmu ke rumah? Aku yakin kau tidak sanggup menyetir," ujar Naruto.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Shikamaru.
"Tidak, tenang saja. Karena kau sudah berhasil mengalahkan egoism terhadap Temari, anggap saja ini adalah bentuk ucapan selamat dari temanmu!" ujar Naruto.
"Hm, baiklah, trimakasih, Naruto. Kau teman yang baik," Shikamaru tersenyum. Lalu, ia memberikan kunci mobilnya ke tangan Naruto, dan beranjak bangun dari kursinya. Ia berjalan bersama Naruto menuju parkiran dan pulang bersama.
.
Sesampainya di rumah, Shikamaru mengucapkan terimakasih pada Naruto. Shikamaru juga mengajak Naruto ke dalam sebentar, tapi, Naruto menolak dengan alasan ia ditunggu oleh Hinata. Shikamaru mengerti. Lalu, melambaikan tangannya pada Naruto. Setelah sosok Naruto tak terlihat lagi, Shikamaru masuk ke rumahnya dengan malas, lalu melihat Temari yang sedang menonton televisi. Shikamaru pun memutuskan untuk menyapa Temari lagi, "Temari, belum tidur?"
"…" hening, ternyata Temari tidak membalas sapaan Shikamaru. Shikamaru hanya menghela napasnya, lalu ke kamarnya tanpa memperdulikan Temari lagi.
Di kamar, Shikamaru segera masuk kamar mandi untuk mandi dan membersihkan lupa ia juga melepas ikatan yang mengikat rambutnya. Lalu, setelah ia selesai mandi, ia mengambil piyama tidurnya, dan memakainya. Sesekali ia bersin, itu menunjukan bahwa ia sedang sakit. Shikamaru membaringkan dirinya di tempat tidurnya yang empuk, lalu, ia memejamkan matanya. Tiba-tiba, ia teringat, kalau ia harus membaca buku pemberian Ayahnya. Karena itu sangat membantunya untuk memperbaiki hubungannya dengan Temari.
Shikamaru pun membuka lembar kedua, 'Jagalah amarahmu,'
Shikamaru berpikir, "Hm, bukan hal yang sulit. Semoga aku bisa melakukannya besok," katanya, lalu menutup buku itu, dan menyimpannya kembali ke dalam laci mejanya. Karena matanya sudah tak mampu untuk di ajak kompromi lagi, maka ia segera memejamkan matanya, dan terlelap.
.
Keesokan harinya, Shikamaru bangun lebih pagi lagi. Ia memaksakan diri untuk mandi, padahal ia tahu bahwa ia sedang flu. Pantaslah, kalau setelah mandi, ia malah terlihat semakin sakit. Lalu, secara perlahan Shikamaru membuka pintu kamarnya, lalu keluar dan membuatkan minuman lagi untuk Temari.
Saat itu juga, Temari juga telah bangun dan diam-diam mengikuti Shikamaru. Temari melihat Shikamaru yang sedang mengambil gula di dapur. Lalu, Temaru juga melihat Shikamaru yang sedang mengaduk teh dengan sendok. 'Sepertinya, Shika benar-benar tulus,' pikir Temari.
"Huachhiim!" Shikamaru bersin lagi. Temari yang sedang mengawasi Shikamaru, tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan membuat Shikamaru kaget, "HEI! KAU BERUSAHA MEMBUATKU SAKIT YA! APA JANGAN-JANGAN KAU MEMBUATKANKU MINUMAN HANYA UNTUK MENULARKAN PENYAKITMU! HAH?" seru Temari.
Shikamaru hampir melompat, ia berusaha menjelaskan, "Tidak! Temari, aku tak sengaja. Baiklah, aku ganti lagi tehnya," ujar Shikamaru. Buru-buru ia membuatkan Temari teh yang baru. Setelah selesai, Shikamaru menyodorkan gelasnya pada Temari. Tapi, Temari menepis tangan Shikamaru, dan menyebabkan gelas tersebut jatuh dan pecah, "Aku tidak mau meminum minuman berpenyakit darimu, tukang selingkuh!" seru Temari. Shikamaru menatap nanar gelas yang jatuh dan pecah tersebut. Matanya menyiratkan bahwa ia marah, "Kau apa-apaan! Semua usahaku, semua yang kulakukan untuk memperbaiki hubungan kita, kau hancurkan!" seru Shikamaru.
"Kau yang apa-apaan! Yang membuat hidup kita kacau itu kau sendiri! Kau yang selingkuh!"
"Aku tidak berselingkuh! Kau bilang kalau aku berniat menularkan penyakitku? Oh, itu salah besar! Aku tulus memberikannya padamu, Temari!" ujar Shikamaru.
"Omong kosong!" seru Temari. Shikamaru mengangkat tangannya ke udara dan hendak menampar Temari…
—Jagalah Amarahmu.
Deg. Ia teringat akan kata-kata yang ada dibuku pemberian Ayahnya. Shikamaru menurunkan tangannya, dan segera Shikamaru pergi mengambil sapu, dan menyapu pecahan gelas itu. Temari tercengang. Ia tak menyangka akan melihat perubahan pada diri Shikamaru. Tapi, kembali ia tekankan pada batinnya, kalau Shikamaru itu tak lebih dari pecundang. Temari pun meninggalkan Shikamaru, dan kembali masuk ke kamarnya.
Sedangkan Shikamaru, terlihat frustasi. Ia membuang pecahan gelas itu, lalu membanting pintu rumahnya keras. Setelah itu, ia menuju garasi dan membawa mobilnya pergi.
.
Pagi hari, saat Shikamaru sampai di kantornya, ia segera mengambil ponselnya dan menelpon Ayahnya. Ia menekan tombol yang ada di ponselnya, lalu ia menunggu sampai Ayahnya mengangkat.
"Halo, Shikamaru?" ujar Shikaku.
"Ayah! Sudah dua hari aku mencoba mengikuti apa yang ditulis dibuku itu, tapi tetap saja, Temari tak bisa memaafkanku!" seru Shikamaru to the point.
"Hm, Apa kau sudah melakukannya dengan benar?" ujar Shikaku santai.
"Yang pertama, sudah, Yah. Tapi yang kedua, aku sempat lupa, dan marah padanya," ujar Shikamaru lirih.
"Nah, mungkin itulah yang menyebabkan kau tidak berhasil,"
"Ya harus bagaimana lagi? Ayah, itu juga aku marah karena dia yang tidak menghargaiku," ujar Shikamaru.
Di sebrang sana, Shikaku tersenyum dan mengangguk, "Haha, Shika, kau belum masuk setengahnya saja sudah menyerah. Ingat! Kau masih harus melewati 28 hari lagi. Kau harus bersabar," ujar Shikaku.
"Ayah, kalau begini terus, kapan dia bisa baik padaku?" ujar Shikamaru.
"Hm, tunggu saja. Kalau sampai di hari ke tigapuluh dia belum juga menganggapmu sebagai suami, kau bisa minta pertanggung jawaban Ayah,"
"Baiklah, aku akan terus coba, Yah," ujar Shikamaru.
"Ya, semangat, ya, Shika!"
"Terimakasih Yah. Sudah dulu, aku ada pekerjaan," ujar Shikamaru, lalu menutup sambungan teleponnya. Ia pun mulai bekerja seperti biasa.
.
Di parkiran sekolah, Temari sedang memarkirkan mobilnya. Lalu, ia turun dari mobil dan melihat Tenten juga baru datang diantar oleh Neji. Setelah Neji menjauh, Tenten masuk ke sekolah dan bertemu dengan Temari. Temari melambaikan tangannya pada Tenten. Tenten tersenyum, dan mempercepat langkahnya untuk mendekati Temari, "Hai, Temari-san,"
"Hai juga, Tenten-san. Ayo kita masuk," ujar Temari.
Setelah mereka duduk di ruang guru, mereka mengobrol sebentar, seperti biasa, "Temari-san, bagaimana Shikamaru? Apa dia membuatkanmu minuman lagi?" tanya Tenten.
Temari mengangguk kesal, "Huh, ya. Dan kau tahu, dia bersin di depan minumanku! Bayangkan kalau aku yang meminum minuman yang terkontaminasi itu. Yang ada aku mengalami penyakit seperti dia!"
"Astaga! Anak pemalas itu benar-benar mau berniat jahat padamu rupanya!" seru Tenten
"Memang. Dia memang jahat."
"Ya, aku mengerti perasaanmu, Temari-san. Menurutku, apapun yang dia lakukan padamu, jangan kau terima, ya. Aku takut kalau kau ada apa-apa," ujar Tenten.
"Ya, itu pasti, tenten. Aku juga tak berniat menerimanya,"
"Hm, oke, kita ke kelas?" ajak Tenten. Temari mengangguk, dan mengikuti Tenten.
.
Shikamaru akhirnya sampai ke rumah, ia segera mengganti bajunya dan berbaring. Ia merenungkan kejadian hari ini. Ia kesal akan Temari yang bersikap jahat padanya. Padahal, Shikamaru sudah berusaha keras untuk memperbaiki hubungan mereka. Tiba-tiba ia ingat untuk membaca buku itu lagi.
Ia buka lembar ke tiga, "Teleponlah ia empat jam sekali selama bekerja."
Shikamaru mengernyit, "Telepon empat jam sekali? Menghabiskan pulsa! Merepotkan," ujarnya. Ia lalu menutup bukunya, dan mencoba untuk tidur.
#####
Keesokan harinya, Shikamaru tetap membuatkan Temari teh. Bahkan, ia sempat membeli bubur ayam untuk Temari sarapan. Ia juga menuliskan notes di kertas, lalu berangkat.
Saat Temari bangun, ia melihat teh dan bubur itu. Lalu, ia membaca notes yang dibuat Shikamaru, "Temari, selamat pagi, dimakan dan diminum ya, -Shikamaru-"
"Cih," ucap Temari. Lagi-lagi ia remas kertas itu, dan ia tidak menyentuh sedikitpun bubur itu. Ia membuang semua yang diberikan Shikamaru, dan setelah itu dia berangkat.
.
Di parkiran, Temari mengunci mobilnya. Ia berjalan menuju gedung sekolah. Tiba-tiba, ia tersandung oleh sebuah ranting dan terjatuh. Tapi, ia tak merasakan rasa sakit. Ia juga merasa ada sebuah tangan yang menahannya. Temari pun membuka matanya, ia melihat sesosok laki-laki yang memiliki rambut merah, dan terlihat manis yang menyunggingkan senyum kepadanya, "Kau baik-baik saja, Nona?" ujarnya.
Temari tercengang, ia menatap pemuda itu, 'Astaga, dia keren sekali…' pikirnya.
~TO BE CONTINUE~
A/N : Makin jelek lagi nih fic.. Ada yang berpendapat begitu? Hehe..
Lebih pendek dari yang sebelumnya ya..? hm..
By the way, ada yang bisa tebak siapa yang menangkap Temari~~?
Hm, hm.. baiklah, sekarang balasan review aja dulu dari author paling keren #ditimpuk
Sabaku Yuri : Makasih reviewnya, ini udah update. Udah baca kan? Kalo boleh minta reviewnya lagi, ya..!
Anon : anda salah ngasih review atau apa? ShikaTema kan jenis kelaminnya gak sama-_-
Hello Kitty Cute : Yah,yah, begitulah.. Temari salah paham. Udah update nih. Baca ya.. Abis itu kalo bisa review lagi..
Putri Suna : Haha, saya ketawa ngeliat review mu… Bener juga sih, Shika bisa tahan napsunya terhadap Tema yang hot~ hehe.. Ini dah update.. kalo boleh minta review lagi ya..?
o0 Gui-gui 0o : hmm, Shikaku jadi pendeta memang tak bisa dibayangkan ya..? haha.. makasih ya reviewnya, ini dah update. Kalo boleh minta review lagi dong…?
EMmA ShiKaTeMa : Yap, author sengaja bikin teman Shika n teman Temari karena biasanya cewe suka luluh terhadap perhatian cowo yang manis #halah. Tapi, biasanya cewe itu lebih memperhatikan saran orang. Kalau temennya ngomporin, otomatis si Temari gak akan luluh oleh kebaikan yang dilakukan Shika dong..? ini udh apdet ya.. Boleh minta RnR lagi?
Naoki : ini udah update. Termasuk kilat kah? Review lagi ya kalau udah baca..
Kagome Sabaku : Makasih udah baca dan ngereview.. Makasih juga udah terima aku di ShikaTema Lovers. Whaha.. Ini udh apdet. Review lagi ya..?
Tanaka Nara : Hmm, ya, Tema salah paham doang.. Ha? Request Itachi atau Hidan..? hmm, di pertimbangkan.. haha.. Ini udah update! Mau review lagi?
midnight : Gapapa, lebih baik telat review dr pada ga review sama sekali ^^. Menarik? Makasih~! Ini udah update.. Review lagi, boleh?
Rokka Nishimura : Mungkin Shikaku pernah temenan sama Hidan, jadi dia ketularan gitu deh.. hahah.. Ini udah update.. review lagi boleh?
Min Cha 'ShikaTema : Makasih reviewnya.. ini udah update. Minta reviewnya lagi boleh?
Hime-chan : Lucu? Hahaha, makasih.. Author dapet ide dari sebuah film. Tapi, lupa judulnya apa.. Sequel rate M? kalau begitu, Hime-chan mau bantu? #plak! Ini udah update! Review lagi, boleh?
CharLene Choi : Salam kenal juga.. Ya, aku akan bantu meramaikan fic ST. ya, saya coba ada pria lain yang ngerebut Temari. Memang itu rencana awal, hehe. Ini udah update! Boleh minta review lagi?
mayraa : Keren? Makasih.. Mau fave? Makasih! Btw, NejiTen dan NaruHina kayaknya Cuma numpang nama. Doakan saja saya berubah pikiran dan mau memunculkan mereka. Btw, ini udah update~ boleh minta review lagi?
Yap, apabila kesalahan penulisan nama, aku minta maaf. Makasih yang udah fave.
RnR ?
Cheerio,
Sapphire Namikaze.
6/4/2011
01.50 p.m.
