Yooo~! I'm back xD Maaf ya lama baru bisa ngupdate, abis masih banyak tugas kuliah yang numpuk T_T (padahal udah dikasi libur sebulan gara2 gedung kampus dipake sertifikasi guru -_-), terus beberapa hari yang lalu ninikku di Jawa meninggal x'( Jadinya gak ada waktu buat ngetik fanfic. Makanya sekarang baru bisa diupdate. Seharusnya juga ni fanfic jadinya 2 chap doang sih. Tapi karena kepanjangan, akhirnya aku jadiin threeshot aja. Hehe..

Buat yang mau baca ni chap, aku saranin sih baca ulang lagi chap 1-nya ;p Soalnya ada yang aku edit2 (makasi jg sebelumnya buat nona fergie, udah ngingetin aku xD) Gak banyak sih emang. Cuman, ada yg (cukup) penting & berhubunganlah sama 2 chap sisanya. Kalo kalian teliti sih. Hehe… Terus nama Naruto juga aku ubah jadi Namikaze Naruto. Aku lupa harusnya make nama klan ayahnya. Abis kebiasaan manggil namanya Naruto-kun sesuai yang ada di animanga-nya xD Hoho…

Terus buat recommended backsounds-nya aku pilih bukan sepenuhnya karena arti judul atau liriknya ya, tapi karena irama musiknya aja menurutku yg pas. Hihi ;p Kalo kalian mau ikutin saranku itu sih silahkan aja. Kalo gak mau, gak apa2 jg sih sebenernya xD *plaaaak*

Nah, buat balasan review-nya aku ketik di bagian chap terakhir ya. Makasi banyak yg udah review ^o^

.

.

.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto and this fanfic belongs to my self ofc ^^

Warning: AU, OOC, Miss Typo, Unclear Story, Bad Diction & Plot, Too Much Description, etc ;p

Tittle: Black Confession

Inspiration: My another fanfiction about Justin (The Rhythm of Farewell) and also the song tittle of Infinite (White Confession)

Pairing: Hyuuchiga a.k.a SasuHina, slight NejiTen ^o^

Chapter: 2

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Family, Friendship

Rated: T

Recommended Backsongs:

# Ai no Uta – Fukui Mai

# Coagulation – Super Junior KRY

# Late Autumn – Yoon Yongshin ft. Kyuhyun Super Junior

# On Rainy Days – B2ST

# Akatsuki no Kuruma – Fiction Junction ft. Yuuka

# No – Yoseob B2ST

Happy reading, y'all! ^^

OoOoO

Sunday, 12th September 2000

04:26 PM

Bukit kecil itu menjulang angkuh di salah satu sudut kota Konoha. Tampak kehijauan dengan pohon-pohonnya yang masih berdaun lebat. Di kaki bukit tersebut, terdapat sebuah taman yang tidak terlalu luas. Semak-semak pendek terlihat menghiasi sekelilingnya. Di taman itu hanya ada sedikit bangku besi panjang yang diletakkan di bawah naungan beberapa pohon momiji. Saat sore yang cukup dingin menjelang, salah satu bangku itu sudah dihuni oleh seorang gadis kecil yang berumur sekitar 5 tahun. Memiliki rambut indigo pendek serta poninya yang tebal tampak menutupi kening. Di samping gadis mungil itu ada sebuah scarf kecil yang tadinya sempat melingkar di lehernya, namun segera ia lepaskan dan meletakkan benda tersebut di samping tempatnya duduk.

Dengan menggunakan kedua tangannya yang mungil, gadis kecil itu mengusap matanya sembari menangis tersedu-sedu. Ia begitu merindukan ibunya yang kini masih terbaring di rumah sakit. Padahal adik barunya sudah dilahirkan, tapi ayah dan kakak laki-lakinya masih tidak memberinya ijin untuk melihat ke tempat yang cenderung bernuansa putih itu. Beberapa menit yang lalu, ia diam-diam kabur dari rumah ketika pengasuhnya terlelap tidur. Dan berharap baru bangun setelah dirinya kembali ke rumah nanti.

Karena terlalu larut dalam kesedihannya, gadis kecil itu sampai tidak menyadari ada seseorang yang melangkah mendekatinya. Ketika mendengar suara alunan musik yang merdu, ia pun langsung mendongakkan kepala. Iris lavender indahnya kini menangkap sosok seorang anak laki-laki yang tengah tersenyum. Kaku, tapi tampak manis di matanya.

"Jangan menangis lagi. Ini untukmu," ucap anak laki-laki tersebut sambil mencoba untuk mempertahankan senyumannya.

Tangis gadis kecil itu langsung terhenti seketika. Ia mengarahkan pandangannya ke benda yang diulurkan anak laki-laki tersebut. Sebuah kotak musik yang didominasi oleh warna putih. Tangan mungilnya segera bergerak menerima benda yang sudah berhenti mengeluarkan suara merdu itu. Kedua sudut bibirnya pun kini melengkung ke atas. Membentuk senyum kekanakan yang sangat menawan. Hingga mampu membuat anak laki-laki bermata onyx tersebut diam terpana.

"I-ini benar-benar untukku?" tanya gadis kecil itu malu-malu sambil menyeka sisa-sisa air matanya. Rona merah kemudian tampak muncul di permukaan kulit pipinya.

Anak laki-laki tersebut mengangguk tanpa sadar. Masih belum mampu menghilangkan keterpanaannya pada sosok mungil yang kini ada di hadapannya itu.

"Kau… siapa namamu?"

"Hyuuga Hinata," jawab sang gadis kecil lembut. "Ka-kau sendiri?"

Mata anak laki-laki tersebut beberapa kali berkedip, sebelum akhirnya menjawab, "Panggil saja aku Itachi-kun."

Gadis kecil itu mengangguk. "Ba-baiklah. Terima kasih untuk kotak musiknya, Itachi-kun."

"Sebagai balasannya, bagaimana kalau aku memanggilmu… Hime? Dan hanya aku yang kau perbolehkan menggunakan panggilan itu untukmu."

Hening sesaat. Namun Hinata kecil kembali menampakkan senyumnya. Entah kenapa, ia merasa senang dengan panggilan itu. Bukan karena artinya, melainkan bagaimana cara anak laki-laki tersebut mengucapkan panggilan itu untuknya. Hanya untuknya.

"Ten-tentu. Kalau begitu, kita berteman?" tanya sang gadis kecil sambil menjulurkan kelingkingnya.

Anak laki-laki tersebut terdiam sejenak kemudian langsung mengaitkan kelingkingnya di kelingking mungil milik Hinata kecil.

"Baik. Kita berteman."

Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan seseorang yang cukup kencang dari arah gerbang taman.

"NONAA HINATAA!"

Mereka berdua kontan menoleh ke sumber suara tersebut berasal. Hinata kecil langsung bangkit dari duduknya dengan wajah cemas.

"A-ano… I-itu pengasuhku. Sepertinya aku harus pulang."

Anak laki-laki berkulit putih pucat tersebut segera mengalihkan pandangannya. Menatap lekat-lekat sosok gadis mungil yang mampu menarik perhatiannya itu. Bibirnya kemudian menyimpulkan senyum tipis.

"Rumahku memang mungkin cukup jauh dari sini, tapi maukah kau bertemu denganku lagi besok sore? Kau bisa bercerita tentang kesedihanmu padaku. Bukankah kita sudah berteman, Hime?"

Hinata kecil membalas senyum itu dan menggenggam kotak musik yang sudah jadi miliknya dengan erat. Ia merasa heran dan bingung kenapa jantungnya mendadak berdetak cepat setiap kali mendengar panggilan itu. Dengan gugup, akhirnya ia pun menganggukkan kepala.

" Ten-tentu saja. Ka-kalau begitu, aku pulang dulu."

Mata onyx anak laki-laki tersebut terus terfokus pada sosok gadis kecil yang kini tengah melangkah mendekati pengasuhnya itu. Sebelum menghilang dari pandangannya, ia pun berseru, "Mata ashita, Hime!"

Hinata kecil langsung menoleh dan tersenyum gugup nan manis. Semburat merah kembali menjalar di pipinya. Sebelum melenggang pergi dengan sang pengasuh, ia membalas dengan berteriak halus, "Mata ashita mo, Itachi-kun!"

OoOoO

Monday, 13th September 2000

05:04 PM

Badai itu datang secara tiba-tiba. Tak bisa ditebak. Tak bisa disangka. Menghancurkan yang lainnya. Meluluhlantakkan sekitarnya. Menyeret hawa kepedihan. Memutar deru kesengsaraan. Laksana anak panah yang terlepas dengan cepat dari busurnya. Mengenai tepat di titik sasaran yang diburu dengan sempurna. Buas dan… menyakitkan.

Gadis kecil itu duduk bersimpuh. Pandangan manik lavendernya kosong. Alih-alih menghapus air mata yang mengalir di pipi, tangannya yang gemetaran bertautan di atas pangkuan. Tidak memperdulikan para pelayat berpakaian serba hitam yang memandanginya dengan iba.

Sang ayah, Hyuuga Hiashi, menatap putrinya itu dengan pandangan sendu. Ekpresinya datar, tapi tetap mampu menyiratkan kesedihan mendalam. Seperti halnya juga yang terjadi pada anak sulungnya. Hyuuga Neji. Anak laki-laki berumur 12 tahun itu tidak melepaskan pandangannya dari Hinata kecil sedikit pun. Merasa bersalah karena tidak bisa membuat air mata itu berhenti mengalir dari lavender indah milik adik kesayangannya.

Keluarga Hyuuga tadi siang baru saja kehilangan sosok yang begitu berarti bagi kehidupan mereka. Sosok lembut dan hangat yang sangat mereka cintai. Sosok seorang istri sekaligus ibu yang penyayang serta pengasih. Hyuuga Hikaru. Wanita itu meninggal sehari setelah melahirkan seorang penghuni baru di keluarga tersebut. Seorang bayi yang sangat manis dan cantik. Seorang bayi yang menjadi peninggalan terakhir dari wanita itu. Seorang bayi yang akan dilimpahkan banyak kasih sayang oleh keluarganya.

Perlahan Hinata kecil memutar kepalanya dan menengadah ke arah salah satu jendela ruang tengah yang terbuka. Memandang hampa kemegahan senja yang terlukis indah di kanvas langit kota Konoha. Beberapa saat kemudian, ia beranjak dari duduknya dan berlari menuju keluar rumah.

Sang pengasuh yang ingin menyusulnya tiba-tiba langsung dicegah oleh Neji.

"Biar aku saja, Baa-san. Aku tahu dia ingin pergi ke mana."

Sebelum Neji melangkah, Hiashi segera menahan lengan putranya.

"Kau cukup mengawasinya dari jauh, Neji. Biarkan Hinata sendiri dulu."

Neji terdiam sesaat, kemudian mengangguk patuh.

"Baiklah, Tou-san."

OoOoO

05:13 PM

Gadis mungil itu kini sudah berada di sebuah taman yang terlihat sepi. Sebuah taman yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sebuah taman yang menjadi tempat ia pertama kali bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sudah dianggap penting oleh sang gadis kecil tersebut.

Ia kini memposisikan dirinya dengan duduk menyamping di atas salah satu bangku besi panjang. Dipeluknya kedua kaki yang ia lipat di dekat dada, lalu menenggelamkan wajahnya di atas lutut. Menangis dalam diam. Membiarkan cairan bening menganak sungai dari pelupuk matanya. Merutuki dirinya yang tidak ingat untuk membawa salah satu benda yang sangat berharga baginya. Sebuah kotak musik.

Kali ini ia biarkan dirinya hanya menunggu. Menunggu seorang anak laki-laki. Menunggu teman kecilnya yang akan bersedia mendengarkan kesedihannya.

'Itachi-kun.'

Hinata kecil terus menangis, tanpa menyadari waktu yang sudah berlalu begitu cepat. Sang surya kini terlihat telah hampir dengan utuh kembali ke singgasananya di ufuk barat. Langit dan gumpalan-gumpalan awan tampak sudah terpoles warna jingga kemerahan yang artistik. Hasil karya megah Sang Agung yang dilukis dengan tangan-Nya yang sangat sempurna. Tanpa cela.

"Hinata."

Saat mendengar namanya dipanggil, gadis kecil itu langsung mengangkat kepalanya dan menoleh. Wajahnya terlihat sendu dengan mata sembab akibat terlalu lama menangis.

"Ni-nii-san," lirih Hinata kecil dengan bibir bergetar.

Sang kakak langsung tersenyum getir sambil mengusap lembut jejak-jejak air mata di wajah adiknya.

"Ayo pulang! Sekarang sudah hampir malam."

Gadis mungil itu langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata memang benar. Langit sudah mulai menggelap. Ditundukkannya kepala sembari menggigit bibir bawahnya. Air matanya kembali menetes.

"Naiklah ke punggung nii-san. Kita harus pulang sekarang."

Hinata kecil menatap kakaknya yang kini duduk membelakanginya tepat di samping tempatnya duduk. Perlahan akhirnya ia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher sang kakak. Bisa ia rasakan dirinya kini terangkat dengan kedua telapak kaki yang tak berpijak pada apapun. Kakaknya kemudian mulai melangkah sambil menggendongnya menuju gerbang taman.

Sebelum benar-benar pergi dari tempat tersebut, gadis kecil itu segera menoleh ke belakang. Menatap hampa ke satu fokus. Ke arah salah satu bangku besi panjang yang dinaungi pohon momiji. Tempat duduknya tadi.

'Kau ada di mana, Itachi-kun? Apa kau sudah lupa denganku?'

OoOoO

Sunday, 7th October 2012

06:15 AM

Hinata segera terduduk di atas ranjang dengan peluh yang membanjiri keningnya. Deru nafasnya tampak tidak teratur. Sisa-sisa air mata terlihat membasahi pipinya. Ia baru saja bermimpi tentang masa kecilnya dulu. Ketika pertama dan terakhir kalinya ia bertemu dengan teman masa kecilnya. Sekaligus saat di mana wanita yang sangat ia cintai pergi meninggalkan dirinya. Menyisakan jejak-jejak pilu yang masih membekas di hati Hinata.

Gadis itu kini berusaha menormalkan ritme oksigen yang masuk ke paru-parunya, kemudian menyapukan pandangannya ke sekeliling. Merasa asing dengan tempatnya berada sekarang. Seberkas sinar matahari pagi di hari Minggu masuk dari jendela yang terbuka. Menerpa diri Hinata. Ia pun melirik tubuhnya dan langsung kaget karena mendapati dirinya kini sudah berganti pakaian. Bukan pakaian yang sebelumnya ia kenakan lagi.

Suara decitan pintu terbuka tiba-tiba terdengar. Hinata menoleh dan mendapati sosok Uchiha Sasuke berdiri dengan sorot tajam mengintimidasi yang tertuju ke arahnya.

"Kau sudah bangun."

Hinata tahu itu pernyataan, bukan pertanyaan. Jadi, ia hanya diam sambil menunduk. Menyembunyikan kristal-kristal bening yang kini sudah menetes dari kedua sudut matanya. Perasaan sesak langsung menyelimuti dirinya saat melihat pemuda itu. Sesak yang begitu menyakitkan hingga membuatnya kesulitan bernafas dengan benar.

"Kemarin malam kau demam karena hujan-hujanan. Aku membawamu ke apartement-ku dan menyuruh salah seorang pelayan wanita yang bekerja di sini untuk mengganti pakaianmu dengan pakaianku. Sepertinya kau sudah sembuh setelah kemarin kuberi obat," jelas Sasuke to the point dengan nada datar. Tanpa menunggu Hinata bertanya padanya.

Pemuda itu kemudian mendengus kecil.

"Semenakutkan itukah diriku menurutmu, hmm?" tanyanya tajam. Amarahnya mendadak langsung meledak ketika melihat Hinata masih bergeming. "Tegakkan kepalamu, Hyuuga! Sudah kukatakan aku tidak suka jika tidak melihat wajahmu!"

Hinata segera mendongak dan menatap hampa ke arah Sasuke yang kini ekspresinya berubah dari marah menjadi terkejut. Air mata gadis itu masih mengalir membasahi pipinya.

"Kau… mengenal Itachi-kun?"

Pertanyaan Hinata itu sukses membuat Sasuke seperti dihantam godam. Kedua tangan di sisi tubuhnya mengepal kuat.

"Ya, dia kakakku satu-satunya. Dan…"

"Dia sudah meninggal," sambung Hinata setelah mengalihkan pandangan ke dinding di hadapannya yang hanya berjarak beberapa meter.

Mata onyx sang bungsu Uchiha itu melebar. Namun sesaat kemudian berusaha mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi datar.

"Bagaimana kau bisa tahu semuanya?"

"Aku kemarin malam tak sengaja melihatmu di pemakaman. Ketika kau sudah pergi, aku menemukan scarf-ku yang hilang dulu, di nisan kakakmu. Aku sudah menyimpan benda itu di apartement-ku sendiri. Tidak ingin kau tahu bahwa aku yang menemukannya sebelum aku yakin bahwa memang benar kakak laki-lakimu, Uchiha Itachi, adalah teman masa kecilku dulu," jawab Hinata dingin. Tak terlihat gugup dan terbata-bata seperti biasanya.

Hening menyergap beberapa detik. Hingga akhirnya Sasuke mengeluarkan suaranya dengan nada rendah. Terlihat berusaha keras mengendalikan emosinya.

"Ya, kakakku memang teman masa kecilmu. Sebelum meninggal, dia menyuruhku…"

"CUKUUUP!" seru Hinata lantang dan langsung memotong perkataan Sasuke.

Deretan gigi pemuda itu bergemeletuk menahan amarah. Sepintas terlihat seolah sepasang mata onyx-nya memerah.

"Tidak! Kau harus mendengar dan mengetahui semuanya."

Hinata menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Menggelengkan kepalanya berulang kali sambil memejamkan mata.

"Aku tidak mau!"

"Kau…."

OoOoO

Sunday, 7th October 2012

06:15 AM

"TIDAAAK!" teriak Hinata saat ia terbangun dari tidurnya.

Wajah gadis itu berkeringat dan masih ada sisa-sisa kabut bening di kedua manik lavender-nya. Terengah-engah ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Kemarin malam ia menunggu Sasuke di depan gedung apartement, lalu setelah itu semuanya gelap. Kemudian ia mengalami mimpi yang berlapis-lapis. Bermimpi tentang masa kecilnya, lalu terbangun dan ternyata masih berlanjut ke mimpi yang lainnya. Mimpi yang bagi Hinata terasa sangat nyata. Mimpi yang tidak mau ia ingat dan ingin ia buang jauh-jauh dari pikirannya.

Hinata berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, mengisi rongga paru-parunya yang terasa mengempis. Kemudian mengembuskannya secara perlahan sembari berusaha memfokuskan matanya dengan keadaan sekitar. Ia mendapati dirinya kini berada di tempat yang persis seperti di mimpinya. Dengan sinar matahari pagi di hari Minggu yang menyelusup dari jendela yang terbuka. Dan juga… pakaian Sasuke yang kini melekat di tubuhnya. Menggantikan dress hitam selutut yang kemarin malam sempat ia kenakan. Tubuh Hinata pun seketika menggigil kecil.

Beberapa saat kemudian, suara decitan pintu yang terbuka sampai ke gendang telinganya. Hinata lantas menoleh dan mendapati sosok Uchiha Sasuke sudah berdiri tegap dengan sorot mata tajam yang mengintimidasi.

"Kau sudah bangun."

Bagai roll film, mimpi Hinata sebelumnya berputar-putar di benak gadis itu. Seraya menahan rasa sesak yang menjalar di dadanya, ia kemudian segera turun dari ranjang milik Sasuke. Melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu di mana pemuda itu berdiri.

"A-aku ingin pu-pulang," ucapnya lemah dengan bibir bergetar.

Kedua alis Sasuke sedikit terangkat melihat reaksi Hinata. Merasa heran karena gadis itu tidak menanyakan alasan kenapa dirinya berada di sini. Sebelum berhasil melewatinya, Sasuke langsung mencengkram lengan Hinata. Suara dinginnya mendesis keluar.

"Ada apa sebenarnya? Kau kemarin terlihat sedang menungguku. Apa ada yang ingin kau bicarakan?"

Hinata menunduk kemudian menggeleng pelan.

"E-eto... Se-sebenarnya a-aku tidak menunggumu. Ha-hanya ingin hu-hujan-hujanan. A-aku memang suka hu-hujan," kilah gadis itu dengan ide yang sedetik sebelumnya terlintas di otaknya.

"Benarkah?" tanya Sasuke tak yakin. Matanya menyipit semakin tajam.

Gadis itu mengangguk dan langsung berusaha melepas cekalan tangan Sasuke di lengannya. Namun tidak berhasil.

"Bi-biarkan aku pu-pulang, Uchiha-san."

Sasuke terdiam sejenak. Tetap memandang Hinata dengan tajam. Hingga akhirnya ia melepas genggaman tangannya dan membiarkan gadis itu pergi menjauh. Keluar dari ruang apartement-nya.

Begitu Hinata menghilang dari pandangan, Sasuke mulai melangkah menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi. Matanya sejenak menatap makanan yang baru saja tadi dibelinya di restauran yang memang disediakan oleh apartement tempatnya tinggal. Sarapan untuk dirinya dan juga untuk… Hinata.

"Kau berbohong," gumam Sasuke dengan suara rendah. Dingin. Kedua mata onyx-nya berkilat tajam. Memandang datar ke arah langit pagi yang terlihat di balik jendela kaca apartement-nya. "Aku tahu kau berbohong."

OoOoO

03:45 PM

Gadis bersurai indigo itu berdiri di ambang pintu sembari memandang sang ayah yang bersandar di kepala ranjang. Ia baru saja sampai di kota Ame dengan ditemani Neji dan Tenten ketika langit sudah berubah senja. Hinata hanya ingin bersama keluarganya sembari berusaha melupakan kesedihan yang kini sedang melandanya. Kesedihan karena sekali lagi merasakan kehilangan seseorang yang begitu berharga baginya. Seseorang yang selama 12 tahun belakangan ini selalu memenuhi ruang pikiran dan hatinya. Teman masa kecil sekaligus… cinta pertamanya.

Hinata kemudian melangkah pelan mendekati ayahnya dan duduk di sisi ranjang. Menatap dengan sorot rindu serta sebuah senyuman lembut yang terpatri di bibirnya.

"Padahal Tou-san tidak sakit parah, Hinata. Hanya pingsan karena kelelahan biasa, tapi kau justru langsung datang ke sini," kata Hyuuga Hiashi dengan wajah tanpa ekspresi.

Dengan malu-malu, gadis itu pun memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada sang ayah.

"A-aku hanya merindukan Tou-san dan Hanabi."

Hiashi terpaku sesaat lalu dengan kaku membalas pelukan putrinya itu. Membelai lembut surai indigo panjang Hinata yang persis seperti dimiliki mendiang istri yang sangat dicintainya. Tanpa mendengar balasan sang ayah, gadis itu sudah tahu bahwa ayahnya juga merindukan dirinya. Ia pun hanya bisa tersenyum haru dalam diam.

"Tou-san, Hinata-nee ingin menginap di sini beberapa hari," ujar Hanabi tiba-tiba sambil menyeruak masuk diikuti oleh Neji dan Tenten di belakangnya. Hinata sontak melepas pelukannya dan langsung menundukkan kepala.

"Bukankah itu artinya Hinata-nee akan membolos?" tanya gadis yang baru berumur 12 tahun itu sambil diam-diam menyeringai.

Kesepuluh jemari Hinata yang mengepal ringan di pangkuannya kini sedikit bergetar. Bersiap-siap keinginannya akan ditolak mentah-mentah oleh sang ayah dan langsung dipulangkan kembali ke Konoha.

"Baiklah, Tou-san akan mengijinkannya," sahut Hiashi kemudian, tanpa menunjukkan guratan amarah di wajahnya sedikit pun. Membuat Hinata kaget dan langsung menoleh ke arah ayahnya tersebut.

"Tapi hanya untuk kali ini saja, Hinata. Lain kali Tou-san tidak akan memberimu toleransi karena mengabaikan pelajaranmu di sekolah."

Hinata mengangguk pelan dengan senyum gugup yang menghiasi wajah manisnya. Sementara Hanabi kini sedikit mengerucutkan bibirnya, namun dalam hati tersenyum senang karena kakak kesayangannya akan bersamanya untuk beberapa hari.

"Tenten juga akan menginap di sini, Tou-san. Kebetulan dia juga sedang diberi cuti karena perpustakaan sekolah Hinata sedang dalam masa renovasi. Sedangkan aku harus pergi keluar negeri mulai besok untuk mengurusi salah satu perusahaan kita." Neji melirik sesaat istrinya kemudian memandang sang ayah yang kini menganggukkan kepala.

"Tentu. Hanabi akan senang jika ada yang menemaninya di sini."

OoOoO

Monday, 8th October 2012

07:47 AM

Hari Senin kembali datang menyapa bumi. Pagi itu terlihat gumpalan-gumpalan awan seputih kapas menyelimuti angkasa. Hanya memberi beberapa celah sempit bagi sang langit untuk menampakkan warna birunya yang indah. Sebuah lingkaran bercahaya pun dengan anggun sudah terbit di horizon timur. Memancarkan sinar hangatnya di musim gugur bagi para makhluk dunia.

Di seberang sebuah gedung apartement, terparkir sebuah mobil Audi R8 berwarna hitam pekat. Di dalam mobil itu, seorang pemuda berambut raven tengah mengetukkan buku-buku jemarinya di atas kemudi, tampak fokus memandang ke arah gedung. Uchiha Sasuke, pemuda tersebut kini sedang menunggu. Menunggu siluet seorang gadis keluar dari lobi apartement dan berjalan menuju sebuah terminal kecil yang berjarak beberapa meter dari gedung megah itu.

Sudah beberapa hari ini, Sasuke diam-diam mengikuti Hinata yang sering berangkat ke sekolah dengan bus. Berpura-pura acuh tak acuh dengan keberadaan gadis itu saat di sekolah, tepat sehari setelah ia menjadi siswa baru di Konoha Gakuen. Secara diam-diam pula, mengawasi Hinata dari atas atap sekolah bila sedang menikmati bekal makanannya ketika jam istirahat berlangsung. Lalu dari jarak jauh mengikuti pergerakan Hinata menuju tempatnya melakukan kerja paruh waktu sepulang sekolah. Kemudian di luar CnC Café, Sasuke akan menunggu gadis tersebut selesai bekerja hingga akhirnya pulang kembali ke apartement-nya. Memastikan bahwa gadis dengan sepasang iris lavender indah itu dalam keadaan baik-baik saja.

Namun kini, belum ada sedikit pun tanda-tanda Hinata menampakkan dirinya. Padahal Sasuke sudah menunggu selama setengah jam lebih sejak pukul 07.15 pagi tadi. Mengabaikan kegelisahan yang tiba-tiba menyelubung, pemuda itu pun lebih memilih untuk tetap menunggu.

Sembari menanti, pikiran Sasuke juga berkelana menuju tempat-tempat yang kemarin ia datangi, sebelum kehilangan sehelai kain tipis berwarna putih dengan motif indah berbentuk kelopak-kelopak bunga teratai ungu. Sebuah scarf kecil. Pemuda itu merasa sangat gelisah sekaligus kesal bila mengingat fakta tersebut. Seharusnya ia bisa menjaga benda itu sebaik mungkin. Tidak menghilangkannya dan membuat hidupnya menjadi tambah tidak tenang.

Tiga puluh menit kemudian, kesabaran Sasuke untuk menunggu Hinata keluar, akhirnya sudah menipis terlampau jauh. Dengan gerakan cepat, ia keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung apartement. Sebuah lift kemudian membawanya menuju lantai 10. Setelah sampai, pemuda itu langsung melangkahkan kakinya ke arah di mana sebuah pintu dengan ukiran kecil berbentuk angka 29 berada. Diketuknya kayu putih berornamen itu beberapa kali, tetapi tak kunjung juga ada sahutan dari sang empunya apartement maupun gerakan pintu terbuka.

Sasuke terdiam sesaat. Kemudian terdengar dengusan kecil dari bibir pemuda itu. Bodoh, pikirnya, ada kemungkinan Hinata sudah berada di sekolah dan berangkat lebih pagi dari biasanya. Tanpa pikir panjang, Sasuke pun memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan langsung berangkat menuju ke sekolah.

OoOoO

08:46 AM

Ruang kelas XI A kini sudah tampak hampir dipenuhi oleh hiruk pikuk dari sebagian besar penghuninya yang sedang mendiskusikan liburan akhir pekan mereka kemarin. Di depan pintu kelas itu, sudah berdiri Sasuke yang akan melangkahkan kakinya ke dalam. Namun sedetik kemudian, pemuda itu justru menghentikan niatnya.

Menyadari kedatangan Sasuke, seketika suasana langsung berubah hening. Keributan yang tadi terdengar langsung menguap dalam sekejap. Para siswa yang berada di ruang kelas itu serentak menoleh ke arah Sasuke. Pemandangan yang sudah biasa terjadi jika pemuda dingin itu memasuki kelasnya. Seolah-olah aura iblis yang dimiliki Sasuke mampu meredam segala bentuk suara yang ada di ruang kelas itu. Namun, kali ini aura tersebut terasa berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Lebih dingin dan… mengerikan. Membuat tubuh teman-teman sekelas Sasuke menegang hebat dengan sekujur bulu roma mereka yang berdiri tegak.

Pemuda tersebut masih menjejakkan kedua kakinya di ambang pintu. Kedua bola mata onyx miliknya kini mengarah tajam ke satu titik fokus tepat di mana salah satu bangku di dekat jendela berada. Bangku yang seharusnya dihuni oleh sang gadis Hyuuga, tapi justru kini tampak kosong. Tak memperlihatkan sosok Hinata yang biasanya suka membaca novel sebelum pelajaran dimulai. Bahkan sahabat gadis itu, Haruno Sakura pun juga tidak ada karena sedang mendapatkan dispensasi untuk pelatihan pertandingan karatenya.

"Di mana Hinata?" tanya Sasuke kemudian dengan nada rendah tapi mematikan. Membuat teman-teman sekelasnya menelan ludah mereka dengan susah payah. Lidah mereka terasa kelu untuk mengeluarkan suara bahkan hanya untuk sebuah bisikan.

"DI MANA DIA SEKARANG?" Sasuke berteriak dengan tidak sabar sambil menatap mereka dengan pandangan membunuh. Tersentak kaget, sebagian besar penghuni kelas XI A itu pun langsung berusaha menghindar dari tatapan kedua manik jelaga pekat milik sang pemuda Uchiha tersebut.

"KENAPA TIDAK ADA YANG MENJAWAB, HAH?"

Sedetik kemudian sebuah suara dari seorang gadis berambut merah marun terdengar pelan dan terbata-bata. Tampak ketakutan dengan tubuh yang sedikit bergetar. Sang ketua kelas.

"A-ano, Hi-Hinata ijin ti-tidak sekolah ka-karena ayahnya ya-yang tinggal di lu-luar kota sedang sa-sakit. Kemarin di-dia datang ke ru-rumahku membawa su-surat ijinnya."

Sasuke langsung terdiam setelah mendengar perkataan tersebut. Wajahnya kembali tidak menampakkan ekspresi sedikit pun. Mengganti raut emosi yang sempat menghampiri dirinya beberapa saat yang lalu.

"Ck! Baka," decak pemuda itu pelan lalu memutar tubuhnya dan langsung pergi meninggalkan ruangan kelas.

OoOoO

08:55 PM

Malam hari di kota Ame kini sedang diiringi oleh gerimis yang berjatuhan dari bentangan langit hitam. Membasahi sudut-sudut kota yang terkenal sebagai kota hujan itu. Di sebuah kamar dengan pencahayaan yang hanya bersumber dari sebuah lampu hias di atas nakas kecil, tampak seorang gadis tengah duduk menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan kedua kaki yang ia tekuk. Di atas lututnya terdapat sebuah kotak musik yang sedang melantunkan nada-nada indah dan lembut. Di dalamnya, sebuah patung mini berwujud seorang malaikat dengan sepasang sayap putihnya terlihat menari berputar-putar dengan anggun mengikuti irama musik. Gadis itu menatap benda tersebut dengan pandangan nanar. Kristal-kristal bening meluruh jatuh dari kedua sudut mata dan membasahi pipinya.

Karena terlalu fokus dengan lamunannya, gadis tersebut sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Melangkah masuk mendekati dirinya dan duduk di sisi ranjang. Memandangi gadis berambut indigo itu dengan sendu seraya membelai lembut puncak rambut sang gadis Hyuuga.

"Hinata."

Gadis itu lantas menoleh ketika kedua gendang telinganya mendengar namanya dipanggil. Sebuah senyuman pahit kemudian tersungging di bibirnya. Sambil menyeka air matanya, Hinata langsung menutup kotak musik dan meletakkan benda itu di atas nakas.

"Kau… masih memikirkannya, hmm?" tanya Tenten dengan hati-hati.

Perlahan Hinata menutup kedua kelopak matanya sembari memeluk lipatan kakinya dengan erat. Ditundukkannya kepala, kemudian mengangguk lemah.

"A-aku masih sulit me-menerima ke-kenyataan itu, Tenten-nee."

Wanita berambut coklat tersebut menghela nafasnya pelan sembari mengusap-usap punggung Hinata. Mencoba menenangkan isak tangis yang kembali diperdengarkan oleh adik ipar kesayangannya itu. Dengan nada rendah, Tenten mengeluarkan suaranya lagi.

"Sebaiknya kau mendengar penjelasan Sasuke terlebih dahulu, Hinata. Setidaknya kau bisa mengetahui alasan teman masa kecilmu itu tidak datang ketika kau menunggunya dulu dan juga tentang penyebab kematiannya."

Hinata menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. Perasaan sesak yang ia rasakan semakin membuatnya tersiksa serta mampu menjatuhkannya hingga ke titik terendah. Dengan kurang ajar mengoyak jiwanya dan menyebabkan ia seolah-olah merasa tidak bisa bernafas lagi. Seolah-olah energi kehidupannya terkuras habis. Tak bersisa. Gadis itu akhirnya menggelengkan kepala pelan. Suaranya yang semakin parau kemudian terdengar.

"Ti-tidak. Sudah cu-cukup aku hanya mengetahui fakta bahwa Itachi-kun sudah per-pergi meninggalkanku. Bahwa di-dia sudah tidak ada di dunia lagi. Bahwa a-aku tidak bisa kembali me-melihatnya. A-aku tidak mau mendengar hal-hal yang lainnya lagi. Su-sudah cukup, Tenten-nee. Sudah cukup."

OoOoO

Thursday, 11th October 2012

12:51 PM

Sasuke menatap bangku kosong di hadapannya dengan pandangan hampa. Punggungnya bersandar di bangkunya sendiri sambil mendekap kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya tampak tenang, tapi sesungguhnya ada gejolak keresahan yang melingkupi pemuda itu. Sudah 4 hari Hinata tidak bersekolah dan selama itu pula Sasuke tidak bisa hidup dengan tenang. Terlebih ia masih memikirkan keberadaan "scarf-nya" yang hilang entah ke mana. Membuat ia harus menahan amarah terhadap dirinya sendiri akibat kecerobohannya yang sangat jarang terjadi itu.

Sinar matahari siang di musim gugur menerobos masuk melalui jendela-jendela kelas XI A. Beberapa menit lagi bel tanda istirahat berakhir akan berbunyi. Kelas itu tampak hening dengan hanya dihuni oleh Sasuke. Pemuda itu kini mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kedua onyx-nya langsung menangkap sebuah bukit kecil yang cukup jauh dari jangkauan matanya. Tiba-tiba sekelebat kejadian ketika Hinata hujan-hujanan beberapa hari yang lalu terlintas di benak pemuda berambut raven tersebut. Membuat Sasuke kembali mengingat tentang keanehan yang terjadi pada diri gadis itu. Sekaligus saat ia mendapati sorot mata penuh luka yang terpancar di sepasang lavender Hinata yang basah oleh rinai hujan atau juga… air mata?

Sasuke kini nyaris bisa merasakan kedua tangannya bergetar kecil. Jantungnya mendadak merasakan sakit yang amat sangat hebat. Seolah dihujani ribuan jarum tajam yang membuat pertahanan pemuda itu akhirnya runtuh.

"Sial! Baiklah, aku menyerah!" geram Sasuke sembari memukul tembok di sampingnya dengan salah satu tangannya yang sudah terkepal kuat.

Kini pemuda itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju keluar kelas. Langkah kakinya kemudian membawa Sasuke menuju suatu tempat yang letaknya memang jauh dari kelasnya. Sebuah dojo yang sedang digunakan sebagai tempat berlatih oleh para siswa yang akan mengikuti pertandingan karate.

Sesampainya di sana, mata onyx pemuda itu langsung menyapu ke seluruh sudut ruangan. Kedatangan Sasuke tentu membuat penghuni dojo terkejut, terutama siswi-siswi yang juga mengagumi pesona pemuda itu. Tapi tidak untuk Haruno Sakura. Gadis bersurai merah muda itu memang kaget, tapi hanya sesaat dan langsung mendengus kecil. Dirinya memang pernah terpukau dengan pesona yang dimiliki Sasuke. Namun, itu hanya dapat bertahan sementara. Di kepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama saja. Dan itu sudah lebih dari cukup baginya.

Sakura pun kemudian menghentikan latihannya dan segera menghampiri Sasuke. Merasa yakin bahwa dirinya-lah yang dicari pemuda itu.

"Ada yang ingin kau ketahui tentang Hinata, eh?" tanya Sakura langsung dengan nada sinis.

Sasuke mengangkat kedua alisnya. Ekspresi wajahnya tetap datar, meskipun merasa heran dengan sikap Sakura tersebut. Namun ia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Sasuke pun kemudian memutar tubuhnya dan mulai melangkah.

"Ikut aku."

OoOoO

01:08 PM

Kini Sasuke dan Sakura sudah berada di salah satu halaman yang berada di Konoha Gakuen. Tempat itu tampak sepi karena bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.

Sejenak Sakura ragu, namun tanpa menunggu Sasuke mengutarakan maksudnya, gadis itu akhirnya terlebih dahulu bertanya, "Apa benar Itachi adalah kakakmu?"

Tubuh Sasuke sontak menegang. Kedua bola matanya melebar sesaat, sebelum akhirnya berusaha mengembalikan ekspresinya seperti semula.

"Dari mana kau tahu?" tanyanya dengan nada dingin.

Sakura menunduk sambil menghela nafas pelan. Teringat dengan ekspresi kesedihan yang amat dalam yang terpatri di wajah Hinata, ketika ia mengunjungi apartement sahabatnya itu di hari Minggu pagi kemarin. Sakura memang sempat merasa sedikit kesal karena Hinata baru menceritakan tentang masa lalunya itu, padahal mereka sudah lama menjadi sahabat. Tetapi ia tidak memperdulikan hal itu lagi. Ia terlalu menyayangi Hinata dan tidak mau kembali melihat sahabatnya tersakiti.

"Sebenarnya aku sudah diminta agar tidak menceritakannya padamu bila kau bertanya, tapi," Sakura menegakkan kembali kepalanya dan menatap Sasuke dengan ekspresi datar. "Hinata sudah tahu semuanya."

Sasuke mengernyitkan dahinya bingung. Namun sesaat kemudian dirinya terdiam membeku. Ia langsung merasa seakan dadanya tertohok keras oleh sesuatu yang tak terlihat. Wajah putihnya yang pucat tampak semakin memucat. Tenggorokannya seketika tercekat.

"Maksudmu…"

Sakura mengangguk pelan. Kedua mata emerald-nya beralih untuk menatap langit pagi yang tampak mulai tertutupi beberapa awan mendung.

"Ya. Hinata sudah mengetahui kalau kakakmu… sekaligus teman masa kecilnya sudah meninggal. Pergi ke tempat yang tidak bisa dia jangkau."

OoOoO

06:51 PM

Pintu utama sebuah mansion megah dengan gaya tradisional khas Jepang itu terbuka. Menampakkan sesosok gadis dengan surai indigonya yang tergerai indah dan membingkai seraut wajahnya yang berparas manis. Hinata merapatkan syal biru tua yang melilit lehernya ketika angin malam musim gugur menyentuh permukaan kulitnya. Di belakang gadis itu terlihat Tenten dan Hanabi masih sibuk memakai sepatu mereka.

"Ayo kita berangkat!" seru Hanabi setelah siap, lalu melangkah menuju pintu, diikuti pula oleh Tenten yang hanya tersenyum sambil menggeleng kepala heran. Seperti halnya yang dilakukan Hinata kini ketika melihat tingkah adiknya tersebut.

Mereka bertiga hendak pergi ke supermarket yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Berniat membeli bahan-bahan untuk makan malam. Sebenarnya hal itu sudah menjadi tugas beberapa pembantu di mansion Hyuuga, akan tetapi semenjak Hinata dan Tenten menginap, tugas tersebut langsung diambil alih oleh mereka berdua sekaligus Hanabi.

Mereka kemudian melangkah beriringan menuju gerbang rumah sambil mengobrol. Sesekali ada gelak tawa ringan yang didominasi oleh Hanabi. Gadis itu memang merasa sangat senang jika bisa berkumpul dengan saudara-saudaranya itu.

"Bagaimana kalau nanti kita juga membeli es krim?"

Mendengar saran yang dilontarkan adiknya itu, Hinata langsung mengangguk setuju.

"Aku ingin makan es krim rasa vanilla."

Sementara Tenten sendiri berjengit, "Di malam yang dingin seperti ini kalian ingin makan es krim?"

Hinata hanya tersenyum tipis sambil membuka pintu gerbang rumahnya dengan perlahan. Saat itulah senyumnya seketika lenyap. Mata lavendernya terpaku pada seseorang yang kini berjarak beberapa meter di hadapannya. Berdiri bersandar pada badan mobil Audi R8 berwarna hitam pekat. Uchiha Sasuke.

Pemuda itu memang baru beberapa menit yang lalu sampai di rumah Hinata yang berada di kota Ame tersebut. Berkat alamat yang diberikan Sakura serta GPS yang ada di mobilnya, Sasuke dengan cukup mudah menemukan mansion Hyuuga yang ada di depannya sekarang. Jarak antara kota Konoha dan kota Ame memang bisa dikatakan jauh. Oleh karena itulah, pemuda tersebut baru bisa sampai ketika malam menjelang.

Hinata masih terdiam membeku memandangi Sasuke. Tatapan pemuda tersebut padanya sulit diartikan oleh Hinata. Melihat sosok Sasuke, membuat gadis itu kembali teringat dengan kenyataan yang ingin sekali ia hapus dari otaknya. Kenyataan yang bila ia ingat, akan membuatnya merasa seperti melupakan bagaimana caranya tersenyum dengan baik dan benar.

Tenten yang melihat hal itu, langsung mendekati Hinata dan berbisik pelan di telinga adik iparnya,

"Lebih baik kau berbicara dengan Sasuke, Hinata. Biar aku dan Hanabi saja yang berbelanja."

Hinata lantas menoleh dengan tubuh yang tanpa ia sadari sudah menggigil kecil.

"Ta-tapi Tenten-nee…"

Tenten tersenyum menenangkan sambil mengusap lembut lengan Hinata. Kemudian ia mengajak Hanabi menjauh dan pergi ke tujuan mereka. Adik Hinata itu menoleh ke belakang. Bergantian memandangi sang kakak serta pemuda misterius dan asing yang pertama kali dilihatnya itu.

Sementara Sasuke kini masih terdiam menatap Hinata yang memilih untuk menundukkan kepala itu. Sang gadis Hyuuga yang sudah absen selama 3 hari dari indra penglihatannya. Tidak, pikirnya kemudian, tidak hanya selama itu.

Sasuke akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Hinata yang masih bergeming. Digenggamnya tangan kanan gadis itu lalu menggiringnya untuk masuk ke dalam mobil. Hinata sendiri hanya bisa menurut dan diam seribu bahasa.

OoOoO

07:05 PM

Taman itu tidak terlalu luas. Beberapa pohon tertanam menghiasi di beberapa titik. Sebuah kolam dengan air mancur kecil terletak tepat di tengah taman itu. Memancar indah bagaikan kristal dengan sinar lampu yang menyorot ke arahnya. Taman tersebut sebelumnya tampak sepi, hingga akhirnya terdengar langkah kaki dari sepasang manusia yang memasuki tempat itu.

Sasuke menggenggam tangan Hinata yang terasa dingin. Di bawanya gadis itu menuju salah satu titik yang berdekatan dengan kolam air mancur. Perlahan pemuda itu pun menghentikan langkahnya seraya memutar tubuh dan sejenak menatap sendu Hinata yang masih menundukkan kepala.

Sasuke menghela nafas pelan. Lalu… di bawah bentangan langit hitam, rembulan serta gemintang yang kini tengah bersembunyi di balik awan jelaga pekat, dengan suara serak nan datar, pemuda itu akhirnya mengungkapkan sebuah pengakuan.

"Aku adalah Itachi-kun yang dulu kau kenal, Hime. Teman masa kecilmu. Sama sekali bukan kakakku. Tapi aku... Uchiha Sasuke."

*TBC*