Disclaimer : I own nothing. Super Junior, DBSK, and all chara in this fic belong to their self. Hanya fic ini yang murni punya saya, Jung Hyun Hyo ^^ Don't copy without permission, please!

Main cast : - Choi Siwon

- Kim Kibum

And other supported cast.

Warning : Genderswitch for uke, OOC, OC, AU, abal, typo(s). So, if you DON'T LIKE, DON'T READ! NO BASHING!

.

.

.

Chapter 1

"..Won.."

"Siwon.."

"Siwon!"

Siwon perlahan membuka matanya. Uah, kepalanya berat dan sakit sekali. Berdenyut seolah dihantam benda keras. Sinar kehijauan yang tadi hinggap di bayangan matanya perlahan pergi. Memudar hingga membentuk siluet yeoja bernama Jaejoong yang menepuk kedua pipinya pelan.

"Ugh.." geram Siwon untuk meyakinkan Jaejoong bahwa ia sudah sadar. Jaejoong menghela nafas lega. Ia lalu turun dari hadapan Siwon dan mengambil segelas air hangat di nakas kecil di samping tempat tidur. "Ini, minumlah."

Siwon perlahan duduk dan memijit kepalanya. Sakit. Bayangan penggalan kejadian kemarin masih berbayang di matanya. Ketika ia dihampiri Kibum. Ketika ia mengobrol bersama Kibum. Ketika Kibum menciumnya dan kelebat aneh itu datang. Ketika ia tidak bisa membuka mata dan tubuhnya mendadak lemas dan ambruk ke tanah.

Perlahan, Siwon meminum air yang disodorkan Jaejoong. Sensasi hangat mengaliri tenggorokannya. Ah, segar.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Siwon? Kenapa kau bisa tergeletak pingsan di halaman depan? Mobil Yunnie hampir saja menggilasmu, tahu!" racau Jaejoong dengan kilatan cemas di matanya.

Siwon menunduk. "Ah, well.. Hanya lupa makan. Aku kan tidak bisa memasak.." bohongnya. Sebersit rasa bersalah melingkupi hati kecilnya. Sejujurnya, Siwon tidak pernah berbohong pada yeoja yang ia anggap sebagai ibu kedua-nya ini. Dan benar seperti dugaan Siwon. Jaejoong berteriak histeris. "Ya ampun, memangnya kau tidak membaca e-mailku? Aku sudah meninggalkan uang lho! Ya ampun Siwoon. Ayo, kau harus makan! Aku sudah siapkan sarapan! Kau tidak usah kuliah hari ini!" sahut Jaejoong seraya menarik tangan Siwon.

Siwon pasrah saja ketika tubuhnya limbung karena dipaksa bangun oleh Jaejoong. Sebenarnya kepalanya masih pusing. Kalau bisa, ia masih ingin tidur. Tapi.. Ya sudahlah..

. . .

"Ahjumma, aku berangkat ke café ya?" tanya Siwon seraya duduk di samping Jaejoong yang sedang membaca majalah di sofa. Kedua tangannya mengikat tali sepatu Jaejoong melotot horror. "Hah? Tidak! Kamu itu masih sakit, tahu!" omel Jaejoong.

"Oh, ayolah ahjumma, aku bosan dirumah.." bujuk Siwon.

"Tapi –"

"Aku janji aku akan langsung pulang kalau aku capek, oke?" sahut Siwon meminta persetujuan.

Jaejoong menghela nafas panjang. Sebetulnya ia tidak mau. Tapi mau bagaimana.. Toh Siwon laki-laki. Rasanya tidak pantas kalau Jaejoong mengkhawatirkannya sedemikian rupa. "Oke. Hati-hati ya." Jawaban Jaejoong membuat Siwon mengangguk senang dan mencium pipi Jaejoong sebagai tanda terimakasih. Jaejoong merona.

.

.

.

Jemari besar Siwon menyusuri deretan buku di rak khusus arsitek. Yah, Siwon berbohong. Alih-alih pergi ke café, ia justru mengendarai motornya melaju ke UChicago. Sudah satu jam ia berkutat di perpustakaan kampusnya ini, mencari-cari bahan kuliah. Sungguh mahasiswa teladan.

"Ah, ini dia."

Setelah mendapatkan buku yang ia cari, Siwon menarik keluar buku itu dari himpitan buku lain, lalu beranjak ke meja tempat ia meninggalkan tas dan i-Podnya. Merasa rileks, Siwon memakai headphonenya dan menyetel satu lagu instrumental. Tak lama, Siwon sudah tenggelam dalam dunia buku yang dibacanya.

Cukup lama Siwon membaca. Suasana perpustakaan yang tenang dan AC yang menghembuskan semilir dingin membuat Siwon betah berlama-lama diruangan ini. Nyaman. Sampai-sampai, ia tidak menyadari bahwa suasana dan tempat di sekelilingnya berubah total.

Merasa buku bacaannya tidak terlalu menarik lagi, Siwon menutupnya dan siap beranjak untuk mencari buku lain.

Namun apa yang terjadi?

Siwon menoleh ke kiri untuk meregangkan lehernya, dan ia menemukan Kibum disitu. Ya, Kim Kibum. Yeoja dengan rambut panjang bergelombang dan berkulit putih juga berbibir semerah mawar yang seharian ini tidak berhenti berseliweran di hati kecil Siwon.

Kibum ada di depan Siwon. Sama seperti kemarin, ia tersenyum sedih. Bibir pucatnya sedikit merekah melihat Siwon menatapnya intens. Sorot matanya seolah mengatakan 'lihat-ke-sekelilingmu'. Namun Siwon seolah tersihir. Mata setajam elangnya melihat Kibum dari atas hingga ke bawah. Mengamati setiap detil kecantikan Kibum. Meresapi aura keemasaan yang seolah terpancar dari malaikat itu. Malaikat? Oh, ya. Kibum sudah mati kan? Maka itu Siwon lebih suka menyebut Kibum sebagai malaikat kematian.

Merasa pundaknya ditepuk, Siwon menoleh. Jantungnya seolah mau copot ketika sekelilingnya berwarna coklat pudar –sephia. Perpustakaan besar yang tadinya putih, sepi dan berhawa segar karena AC, sekarang berwarna gelap, ramai –atau lebih tepatnya disebut gaduh, dan pengap.

Degup kehidupan Siwon hampir saja berhenti. Ia luar biasa terkejut. Bingung, Siwon mengedarkan pandangan dan kembali terlonjak menemukan perpustakaan UChicago menyempit. Ruangan ini tidak seluas tadi, dan hawanya sangat pengap karena dua buah jendela besar tidak dibuka. Siwon bisa melihat ribuan tetes air hujan menghujam bumi di luar. Aneh! Bukankah tadi cuaca sedang cerah?

Suasana perpustakaan pun riuh. Penuh sesak oleh orang-orang yang berseliweran. Siwon mengeluh pelan dan menoleh ketika seseorang menabrak punggungnya cukup keras –membuat badannya sedikit terdorong ke depan.

"Hei –"

Baru saja Siwon akan menegur, mulutnya terhenti ketika menemukan sesosok namja dan yeoja –yang menabraknya mengenakan pakaian model lama. Aneh. Jins jenis cutbray itu jelas sudah tidak ada yang pakai kan? Mana ada yeoja yang masih mau pakai jenis boot sepaha seperti itu sekarang ini? Belum lagi jaket yang ketinggalan zaman –lebar dan berwarna kuning cerah.

Siwon menoleh ketika mendengar suara kikikan perempuan. Dan ia lagi-lagi terperanjat menemukan Kim Kibum diantara sekumpulan yeoja di hadapannya.

Kibum tampak tenang, tersenyum ketika teman-temannya melontarkan candaan, sesekali menyapa temannya yang lewat disampingnya. Gadis itu.. Tidak berubah sama sekali..

"Hhh.. 11 tahun yang lalu.. Aku rindu masa-masa disini.. Dimana mahasiswa dan mahasiswi biasanya pergi dan berkumpul disini kalau hujan.. Sungguh menyenangkan.." ujar Kibum. Siwon tidak menggubrisnya. Ia sibuk terperangah melihat bayangan masa lalu Kim Kibum yang sedang tersenyum lebar mendengar lelucon temannya. Senyum itu begitu lebar, begitu halus, begitu tanpa beban, dan begitu maut. Siwon tidak bisa melepaskan pandangannya sama sekali. Kibum memang yeoja yang luar biasa..

Siwon terlonjak saat ia merasa ada sebongkah es menyentuh bahunya. Namja tinggi itu menoleh dan mendapati mata Kibum tengah menatapnya lembut. Siwon terperangah melihat ada ekspresi lain di kelereng itu. Kibum seperti sedang ingin menangis.

"Kumohon.. Bantu aku.." sahut Kibum –malaikat kematiannya lirih.

Dan tanpa benar-benar sadar akan apa yang dilakukannya, Siwon mengangguk.

"Terima kasih.. Believe me, I always there when you need me.."

.

.

.

"Ahjussi kan berlangganan koran. Ahjussi ada menyimpan koran lama, tidak?" tanya Siwon saat ia dan Yunho sedang menonton baseball pada malam hari. Pandangan dan pikiran Yunho terbelah dua antara TV dan koran yang sedang dibacanya.

"Hm.. Kurasa ada. Coba cari di loteng." sahut Yunho cuek.

"Oke.. Ada koran dari tahun.. 1990-an?"

Yunho mengernyitkan alisnya, lalu ia melipat korannya dan menatap lekat-lekat 'anak' laki-lakinya. "Untuk apa?"

Siwon gelagapan. Ia tahu betul, pasti akan ditanya seperti itu. Beralasan sebenarnya. Untuk apa, seorang calon sarjana Arsitektur ingin membongkar koran-koran lama, yang notabene sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah?

"Emm.. Yah.. Aku hanya ingin memecahkan sesuatu." jawab Siwon singkat seraya mengganti-ganti channel TV dengan remote TV.

"Yah! Tadi itu Chicago Bulls! Ganti, ganti!" seru Yunho jengkel. Siwon cepat-cepat mengganti channel.

"Kau tadi tanya koran dari tahun 1990-an? Ah, kurasa ada." sahut Yunho seraya mengaduk kopi di sebelahnya sementara menunggu iklan.

"Siapa yang mengumpulkan? Kok bisa ada selama itu?" tanya Siwon bingung.

"Aku yang mengumpulkannya. Beberapa artikel ada yang kugunting dan aku klip." jawab Jaejoong yang muncul dari dapur dengan membawa satu mangkuk besar popcorn di tangannya. Rupanya ia mendengar percakapan Yunho-Siwon sedari awal.

"Ah, ahjumma.. Ya sudah, kalau begitu aku cari sekarang ya?" tanya Siwon seraya berdiri.

"Untuk apa? Kenapa tidak besok saja? Gelap loh, lampu di loteng sudah tidak bisa dinyalakan lagi."

Siwon menggeleng. Rasa penasarannya akan Kibum sudah tidak terbendung lagi. Siwon bisa mati penasaran kalau menunggu sampai besok.

. . .

Siwon menutup hidungnya dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain sibuk memegang tangga dan senter. Astaga, baunya sungguh apik dan menyengat. Gelap dan pengap. Debu setebal dua senti melekat di setiap permukaan benda di loteng ini. Sarang laba-laba dimana-mana.

"Uhuk uhuk!" Siwon terbatuk saat kakinya mulai menapaki permukaan loteng dari kayu tersebut. Debu dan asap bercampur dan melayang di udara, masuk ke paru-paru Siwon melalui hidungnya. Uh, harusnya ia memakai masker sebelum naik.

Karena gelap dan lampu yang tidak bisa dinyalakan, Siwon menyalakan senter kecilnya dan menyinari sekeliling. Uh, ampun. Coba saja ada ventilasi kecil. Seingat Siwon, bulan bersinar cukup terang di luar.

Oke, langsung saja. Dimana tadi ahjumma Jaejoong bilang ia menumpuk koran dan klipnya? Siwon mengingat-ingat. Ah, di dekat lemari besar tua. Siwon berdiri sejenak dan menyinari sekitarnya. Hah, itu dia! Siwon cepat-cepat menutup hidungnya dan berjalan cepat-cepat ke pojok loteng. Ia tidak mau terkontaminasi udara yang kotornya luar biasa.

Siwon menggigit senternya dan menarik beberapa lembar koran dari tahun 1999. Ia duduk di sebuah kursi kecil berdebu dan menaruh koran-koran itu diatas sebuah koper sebagai alas dan mulai membacanya.

'..Sebuah keluarga menghilang secara misterius..'

'..Anak perempuan yang tidak diketahui identitasnya tidak ditemukan, sementara ayahnya bunuh diri dengan istrinya yang diduga tewas karena serangan jantung..'

'..PEMBANTAIAN!'

'..Imigran asal Korea, Kim Youngwoon dan Park Jung Su, sepasang suami istri ditemukan tewas di rumah mereka di.. Sementara anak perempuan mereka, Kim Kibum..'

Hah?

Berita-berita ini tidak detail sama sekali. Seolah kabar yang diberitahu hanya kabar simpang siur. Bagaimana sih? Hoax kah?

Belum lama Siwon membaca, angin dingin menyapa tengkuknya –membuatnya merinding. Ia arahkan senter dimulutnya untuk melihat darimana angin dingin itu berasal.

"WHOA!"

Siwon terlonjak dan terjengkang ketika ia menemukan sosok Kibum yang sedang menatapnya lekat. Ia duduk berlutut tepat di samping koper yang dipakai Siwon sebagai meja. Tidak ada yang berubah dari dirinya. Masih dress yang sama, masih rambut dan aksesori yang sama, dan.. Raut wajah yang sama –datar, sedih, tidak ada ekspresi dan tidak bisa ditebak.

Kini Siwon tahu kenapa selalu ada angin dingin disekitarnya. Ternyata Kibum selalu ada di sisinya. Pertanda kalau gadis itu akan memunculkan diri di hadapannya.

"Ya Tuhan.. Kenapa kau selalu mengagetkanku, Kibummie?" tanya Siwon kaget. Ia mengelus dadanya dengan satu tangan dan memegang senternya erat di tangan yang lain. Untung saja senter bulat itu tidak lepas dari tangannya. Kalau lepas, benda itu pasti akan menggelinding entah kemana dan meninggalkan Siwon dalam kegelapan loteng ini.

"Aku? Kau tidak percaya kalau aku bilang aku selalu ada disampingmu?" jawab Kibum dengan nada datar. Matanya berkedip pelan menatap Siwon. 'Bulu matanya lentik..' batin Siwon.

Siwon menghembuskan nafas, lalu menggeleng. "Paling tidak kau memanggilku dulu atau.. Apalah, pokoknya jangan tiba-tiba muncul. Kurasa aku tahu harus menyalahkan siapa kalau jantungku berhenti mendadak."

Namja itu mengerjap ketika melihat seulas senyum samar di bibir Kibum. Bukan senyum sedih yang biasa ia tampilkan. Ya ampun, mungkinkah..? Tapi.. Ah, tidak. Siwon rasa ia hanya bermimpi karena detik selanjutnya Kibum mengerjap dan menatap lekat-lekat koran yang sedang Siwon baca.

Kibum tersenyum sedih. "Ini semua tidak ada gunanya."

"M-maksudmu?"

Kibum hanya tersenyum miris sebagai jawaban. Ia bangun dan menarik tangan Siwon. "Ayo. Kita harus mulai dari sekarang, atau aku tidak akan pernah selamat."

Deg!

.

.

.

"Di.. Sini? Kau yakin?" bisik Siwon pada Kibum disebelahnya. Ia tidak mau berbicara keras-keras, berhubung Kibum hanya roh yang bisa memperlihatkan diri hanya kalau ia mau. Siwon tidak mau dianggap gila.

Kibum mengangguk, membuat beberapa helai rambutnya jatuh di pipi bulatnya. Mereka berdua sekarang tengah berada di depan sebuah rumah bergaya Amerika kuno yang terletak di perumahan, tidak begitu jauh dari UChicago. Kibum bilang ini salah satu penunjuk'nya'. Entah apa yang ia maksud.

Siwon menghela nafas, lalu mengetuk pintu kayu jati putih itu. Tidak ada jawaban atau respon dari dalam, maka Siwon kembali mengetuk. Tak lama, terdengar suara orang tergopoh-gopoh berlari ke arah pintu dari dalam rumah.

Ketika pintu terayun dan terbuka lebar, Siwon mendapati sesosok namja berambut spike pirang, berkulit putih dengan hiasan tato naga di kedua lengannya, bermata biru dengan belasan tindikan di alis, hidung, dan kupingnya, lalu memakai baju dan celana ala rapper. Siwon memprediksikan umurnya sekitar 30 tahun.

"Yo?" tanyanya dengan aksen Amerika kental.

"Uhm.. Is this Frederick Shawn house?" tanya Siwon.

"Yeah. That's me." jawabnya –bingung mendengar dialek Korea yang asing di telinganya.

"Ah, I'm Siwon." sahut Siwon ramah seraya menjulurkan tangannya. Frederick menjabat tangannya ragu. "Fred. What's the matter?"

"Do you know.. Alex Winchester?" tanya Siwon saat Kibum membisikkan nama itu ditelinganya.

Fred melotot dan menggeleng panik. Ia buru-buru masuk dan mengunci pintu rumahnya tanpa menjawab –meninggalkan Siwon di teras dengan wajah melongo bingung. Kibum menyipitkan matanya.

Siwon tidak menyerah. Ia mengetuk lagi pintu putih tersebut. "Do you –"

"NO! I DON'T KNOW HIM! YOU BETTER LEAVE, OR I'LL KILL YOU!" teriak Fred dari dalam. Siwon bingung mendengar nada panik dan suara bergetar dari namja yang seperti gangster tadi. Memangnya kenapa?

Siwon melonjak dan mendelik horror ketika daun pintu di depan wajahnya menjeblak terbuka dengan kasar. Fred yang ternyata masih ada di belakang pintu tergagap dan mencoba berlari ke dalam rumah, namun kakinya tersandung sebuah sepatu. Siwon menelan ludah gugup. Sensasi dingin itu datang lagi. Setiap detik semakin dingin. Oh, tidak.. Namja Choi itu mundur perlahan –selangkah demi selangkah.

Benar dugaannya. Kibum yang sebelumnya masih berupa roh halus dan invincible alias tidak kelihatan, perlahan berjalan mendekati Fred. Tiap langkah yang ditapaki Kibum membuat tubuhnya yang semula seperti kain tipis tembus pandang menjadi nyata. Kulitnya yang putih semakin terlihat. Rambutnya yang hitam melambai-lambai. Matanya menyipit dan menatap Fred tajam. Aura kebenciaan terpancar kuat dari sekeliling Kibum.

"WHOAAA! GO! GO! GO AWAY! WHAT THE HELL ARE YOU DOING IN HERE?" teriak Fred takut. Tubuhnya merangkak mundur dengan raut takut yang kental di wajahnya. Keringat dingin mulai menetes dari pelipis dan membanjiri kaos hitamnya.

"Do you still remember me, Freddie?" tanya Kibum lembut, sementara tubuh di hadapannya tiba-tiba berdiri, seolah ada kekuatan tidak terlihat yang mengangkatnya. Fred berteriak pilu, membuat sekujur tubuh Siwon merinding karena dua hal. Satu, karena lengkingan Fred yang tajam, dua, karena suara Kibum yang mempunyai kekuatan magis. Suaranya lembut, tenang, datar tanpa emosi, membuat siapapun yang mendengarnya seolah mendengar nyanyian surga.

Di mata Fred, sosok Kibum bersinar dari atas hingga bawah. Terlihat sangat cantik. Namun, tidak dengan kelereng yang menatapnya tajam, seolah menyeretnya masuk ke palung neraka paling dalam.

"GET ME OUT, KIM KIBUM!" teriak Fred. Dan ia menjerit ketika sesuatu mencekik lehernya kuat-kuat. "AAAAAAH! Urgh!"

Kibum masih berdiri tenang di hadapannya. Tawanya yang tenang dan membius membuat tubuh Fred dan Siwon tidak bisa bergerak satu inci pun. Siwon menelan ludah takut. Kakinya sudah ingin kabur dan berlari sejauh mungkin dari tempat ini, namun otaknya lumpuh. Saraf-sarafnya meleleh.

"Glad you still know me, since 11 years had passed. Now.. Where is Alex, Freddie?" tanya Kibum lembut. Mendayu. Tangan kirinya membelai lembut pundak Fred. Dan tangan kanannya menghujam dan menembus tepat di dada Fred, membuat tubuh laki-laki paruh baya tersebut bergetar hebat.

Siwon bergidik ketika wajah Fred memerah hebat. Ia terlihat megap-megap karena kekurangan oksigen. 'Lari, lari, LARI!' batin Siwon kencang ketika tangan Kibum menembus badan Fred. Entah apa yang tangan itu lakukan.

Mungkin meremas jantung Fred. Atau menonjok paru-parunya. Atau mencakar ginjalnya. Atau menusuk ususnya. Atau menghujam lambungnya. Siwon tidak tahu. Yang ia tahu, sekarang wajah Fred sudah mulai membiru. Darah hitam segar dalam jumlah banyak keluar dari tiap sudut mulutnya. Siwon bergidik. Otaknya membeku dan mengirim sensasi es ke sekujur tubuhnya. Blank. Jantungnya berdebar riuh.

DEG!

Mata Fred berputar seram untuk terakhir kalinya sebelum tubuhnya ambruk ke lantai dengan mata tertutup. Kedua tangan namja Amerika itu memegang bagian dadanya erat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Malaikat kematian Siwon tertawa kecil, lalu ia membalikkan badannya.

"Ayo pergi, Siwon. Dia sungguh tidak berguna."

Tubuh Siwon gemetar hebat sekarang. Ia berada di puncak ketakutannya. Dan ia hampir pingsan saat Kibum yang tadinya ada persis di ambang pintu, mendadak muncul di hadapannya dengan mata menyala merah dan raut marah yang luar biasa.

"Ayo! Kau mau ditangkap polisi?" tanya Kibum lembut.

Astaga.

Kenapa yeoja ini begitu menakutkan –sekaligus cantik dan menawan disaat bersamaan?

. . .

Siwon menelan ludah saat wajah Kibum dekat sekali dengannya. Cantik. Kibum sejuta kali lebih cantik dari yeoja manapun yang pernah ia kenal. Kulit putih mulus tanpa noda. Alis tebal dan panjang. Bola mata polos dan bersinar redup. Bulu mata panjang dan lentik. Hidung mancung. Bibir ranum semerah cherry.

Sayang sekali Kibum adalah hantu.

"Kibummie.."

"Hm?"

"Aku tidak tahan lagi. Kumohon, ceritakan semua tentangmu!"

.

.

.

A/N : Annyeong ~ ^^

Mianhae Hyo gak bisa bales review-nya satu-satu ^^' Tapi chap depan ada deh..

Review ya, kalau mau tahu cerita masa lalunya Kibum ^^

*Hyo*