An adilaarang Fiction Present


.

Chapter 2: Does That Make Sense?

.

.

Ayah Jungkook adalah seorang satpam sebuah bank swasta di desa dengan penghasilan yang biasa juga, sedangkan Ibu Jungkook hanyalah seorang penjaga kios kelontong dengan jam kerja pukul 3 sore hingga pukul 11 malam. Sama-sama mengenyam pendidikan hanya sampai jenjang sekolah pertama membuat mereka sudah harus bersyukur bisa mendapat pekerjaan untuk membiayai Jungkook. Tapi ibu Jungkook mendidik Jungkook dengan baik; secara konstan mencekoki Jungkook setiap saat dengan hukum tidak tertulis bahwa Jungkook harus lebih baik dari kedua orang tuanya.

Dengan bimbingan keras, Jungkook harus terus dan selalu belajar,harus memahami apapun itu tanpa terkecuali. Jungkook pernah mendapati dirinya dihukum tengah malam, bahkan. Ibunya yang saat itu baru pulang dari menjaga kios entah mengapa masih sempat memeriksa mata pelajaran dalam tas Jungkook untuk besok dan mengetahui bahwa Jungkook belum mengerjakan PR. Padahal –astaga, Jungkook bisa mengerjakannya besok sebelum berangkat sekolah karena masuk siang. Hari ini ia sungguh-sungguh lelah,bersyukur otaknya masih bisa diajak berkompromi untuk menjalani hukuman menghafal beberapa bentuk perkalian.

Jungkook yang harusnya bermain dengan gembira diusianya itu berangsur-angsur bisa memahami,bahkan ia terlalu berusia dini untuk menyadari satu hal; semua orang tua inginkan yang terbaik untuk anaknya,itu pasti,bahkan dengan pemaksaan yang sedikit kasar.

Sejak sekolah dasar, Jungkook mulai membiasakan diri untuk tekun belajar,dengan nilai yang hampir tidak ada cacat juga sikapnya yang penurut dan santun, Jungkook adalah gambaran murid teladan yang sesungguhnya. Ia sudah mengenal kerja keras dan ketekunan sejak kecil. Sebutan anak 'emas' untuk semata wayang keluarga Jeon itu sudah tersandang padanya sejak pertama kali ia mengeyam pendidikan taman kanak-kanak. Melihat namanya selalu berada diurutan paling atas saat melihat daftar peringkat bukanlah hal baru lagi.

Maka Jungkook ingin sekali melempar Kim Tae Hyung ke luar angkasa ketika ia menemukan anak pindahan itu bisa menggesernya begitu saja dengan tanpa usaha berarti. Hidup Jungkook serasa dijungkir balikkan begitu saja dengan mudah; seakan lebih mudah ketimbang membalikkan telapak tangan. Dan itu tidak boleh terus terjadi,tidak ditingkat terakhir ini.


FOOLS FALLING
(
with how God's hands clapping for our destiny)

.

Kim Taehyung X Jeon Jungkook
etc; all BTS's Member
and some EXO's Member
Yaoi – Chaptered - School Life – Romance - Mystery
PG-17 (for bad words and contents)
All cast belongs God and their Agency, i just own the plot of this story
OCC; Typo everywhere –watch your eyes carefully T-T

.

.

.

"So people should falling in love with their eyes closed"


Jinnie-Hyung

W/ Yong-ie tday and i'll late. Saranghae^^ -send-
Read

-receive- 6 at home, alright? Nado chagi-ya:*

"Ew"

Jungkook pikir Seokjin harus segera memiliki kekasih,emoji itu sangat sangat mencerminkan bahwa pemuda itu kesepian,hatinya kosong,perasaan yang hampa dan –oke itu berlebihan.

Memasukan ponselnya kedalam tas ransel dan kembali pada kegiatannya; duduk memperhatikan siswa-siswa lain yang sedang melakukan pemanasan sebelum bermain basket. Membalas dengan senyum manis seadanya ketika mendapati Yoongi melambai riang kearahnya diantara gerakan-gerakan yang sedang ia lakukan

Seperti biasa, setiap hari Sabtu, Jungkook akan menemani Yoongi melakukan ekstrakulikulernya.

Anyway, pemuda yang sedikit lebih pendek darinya itu sangat aktif di kegiatan non-akademiknya ketimbang akademik; sama sekali bukan cerminan Jungkook. Jika pada hari Senin, Rabu dan Jumat Jungkook akan tetap berada disekolah karena bimbingan belajar, maka Yoonggi hampir setiap hari akan pulang sore karena 3 ekskul berbeda yang dilakoninya. Jungkook tidak teralu hafal apa saja ekskul yang diambil pemuda bermata sipit itu,tapi Jungkook tau satu yakni ekskul basket yang terjadwal Kamis dan Sabtu.

Yoongi mengangguk maklum saat Jungkook berkata bahwa ia tidak bisa menemaninya ketika hari Kamis karna ia tak bisa pulang telat pada hari itu. Seokjin tidak mungkin menahannya,Yoonggi berkata dalam hati. Yoongi pernah bertemu beberapa kali dengan pria itu dan menilainya sebagai pria yang bukan rules-freak; lantas ber-oh ria dalam hati atas kesimpulannya sendiri bahwa Jungkook mungkin lebih memilih belajar dirumah mengingat pada hari itu ia tak ada jam bimbingan.

Sebenarnya beberapa bulan kemarin Jungkook hampir tak pernah menemani Yoongi berlatih; dengan permintaan maaf yang tulus, Yoongi sudah paham bahwa kala itu Jungkook ingin benar-benar fokus untuk persiapan ujian akhir semester saat itu.

Well, Jungkook juga bukanlah anggota club basket yang harus hadir ketika latihan diadakan; Jungkook hadir untuk menemaninya dan Yoongi sudah sangat bersyukur atas itu.

.

.

Jungkook memainkan ponsel Yoongi yang ia titipkan pada Jungkook tadi; galeri Yoongi mayoritas berisi foto-foto mereka berdua dalam pose normal ataupun yang abnormal. Kemudian Jungkook membuka 1 folder foto dimana thumbnailnya adalah seorang pemuda,kalau tidak salah namanya Hoseok; Yoongi sering memanggilnya Hobie.

Pemuda itu hangat dan sopan,berbanding 180 derajat dengan kepribadian Yoongi yang berisik dan beringas. Jungkook pernah beberapa kali bertemu,tapi tidak pernah lebih dari 20 menit karena jika sedang bersamanya,Yoonggi tidak akan berdua-duaan dengan kekasihnya; kami bisa bertemu lagi Jungkook tapi tidak sekarang. Tidak ketika aku bersamamu,jawaban Yoongi ketika Jungkook menanyainya tentang betapa sebentarnya mereka bertemu

Ah, kadang Jungkook lupa jika Yoongi sudah mempunyai kekasih seorang mahasiswa semester 2 yang kampusnya tak jauh dari sekolah mereka. Mungkin karena instensitas persahabatan mereka yang begitu erat. Mereka resmi bersahabat ketika masih tingkat 1 namun seakan-akan sudah bersahabat sejak mereka orok.

Jungkook tersenyum menyadari hal itu.

.

.

"Hei-yo! Still newbie but you're fucking late?!"

Jungkook berjengit, suara yang sudah keras semakin terdengar bergemuruh di stadion yang cukup luas itu. Jungkook tak mengetahui nama asli pemuda jangkung itu, Jungkook hanya tau ia sering dipanggil Kris-sunbae dan ia adalah ketua club basket. Alumni setahun lalu kalau Jungkook tidak salah –entahlah.

"Sorry, ada sesuatu yang harus kuselesaikan dengan guru, coach "

Kini Jungkook mengikuti arah kemana semua anggota club itu menengok,lalu matanya membola ketika menyadari siapa yang berada di ambang pintu lapangan basket indoor itu. Melihat bagaimana pemuda itu berjalan kasual ke dalam studio dengan celana pendek jersey basketnya itu membuat Jungkook berdecih sinis.

Selain tukang tidur, rupanya ia juga orang yang tidak disiplin, dasar orang kaya manja.

Bocah Kim itu pasti orang kaya,dari setelan necis brandednya juga rupa tampanya yang terawat; terlepas dari dandannya yang mirip preman pasar.

''Nope Mr. Smart. Kami belum memulai apapun" Ketua club itu merangkul pundak Taehyung yang tak lebih tinggi itu darinya dengan cengiran jenaka. Kemudian menghadapkanya pada anggota lain sembari mengucapkan kalimat sejenis perkenalan. Taehyung menyunggingkan senyum kecil -sok keren- dan membungkuk sebentar ketika senior disampingnya memperkenalkan Taehyung. Dari tempat Jungkook duduk, Taehyung terlihat begitu kontras dengan kulit tan-nya diantara siswa-siswa lain. Dan Jungkook bisa melihatnya dengan jelas,terlalu jelas hingga emosinya kembali terpancing.

Oh –lihatlah perangainya itu.

Tangan Jungkook selalu tiba-tiba gatal ketika menatap wajah Taehyung. Otak cerdasnya memutar kembali memori berhari-hari sebelumnya seperti kaset rusak,memutar kenangan buruk juga interaksi menyebalkan mereka ketika kelas bimbingan menari-nari diotak Jungkook,diluar kendalinya. Mendadak ubun-ubun Jungkook mendidih,menciptakan kepulan asap imajiner dipuncaknya. Kekesalannya terhadap pemuda itu seakan sudah mendarah daging dan merasuk hingga saraf-saraf terkecil. Berusaha menahan mati-matian hasratnya untuk tidak menghajar Taehyung saat itu juga; Oh fucking godness, Jungkook benar-benar butuh pelampiasan atau paling tidak peredam atau pengalih perhatian atau –apalah sejenisnya saat ini. Sekarang.

Tetapi sepanjang latihan berlangsung, Jungkook mendapati dirinya melototi pemuda tan itu; menatap setiap gerak-gerik, tingkah juga ucapan dari bocah Kim itu,merekam dengan begitu baik dan tertata diotaknya. Tanpa ia sadari atau tidak.

Setelah pandangan Jungkook tertutupi oleh postur tubuh Yoonggi yang mengambil handphone dipangkuannya,aksi merecordnya harus terhenti secara paksa

.

.

Jungkook tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti

Ia hanya bisa berdoa bahwa alasan ia dipanggil ke ruang kesiswaan adalah bukan karena peringkat,beasiswa atau segala tetek bengek yang berhubungan dengan itu; Jungkook berkeringat dingin sekarang,ia sungguh tak siap atas atapun yang akan dibicarakan jika menyangkut hal itu

Jungkook bisa mencium aroma khas kopi hitam dari arah belakang; maka ia sudah begitu tau bahwa Pria dewasa yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan itu lewat disampingnya hingga kemudian mengambil tempat duduk dihadapanya. Meja yang terbuat dari kayu jati asli itu terlihat begitu elegan dan mahal dengan ukiran bertuliskan Kim Nam Joon Vice Principal of Student Affairs

"So, Jungkook -ugh maaf membuatmu harus menunda kepulanganmu-"

Jungkook menelan ludahnya sekali sebelum mengangguk sopan,kepalanya sedikit menunduk,dan suaranya seakan terpasung di pangkal tenggorokan hingga ketika setelah menelan ludah tetap sama sekali tak membantu. Pria dihadapannya ini adalah salah satu guru yang katanya terkenal dingin dan tegas di sekolah, Jungkook tak benar-benar pernah berurusan secara personal dengan beliau; kecuali ketika ia pertama kali mengajukan beasiswa saat mendaftar 2 tahun lalu,sebelum akhirnya dibawa ke Kepala Sekolah.

"Kenapa kau ini diam saja,huh..?"

"..-saya?"

"Kau murid yang cerdas kan Tuan Jeon,tapi kenapa kau hanya diam saja seperti patung?"

"-y..ya?"

"Kenapa kau tidak bertanya mengapa kau kupanggil kemari..?"

"A..ap-apa saem?"

Bukannya menjawab, pria itu malah terpingkal di tempat duduknya. Apanya yang lucu? Dimananya? Jungkook mendelik heran dengan ekspresi blank

"Tunggu –oh astaga..maafkan saya, sungguh. Ini benar-benar menggelikan"

"Saya rasa saya benar-benar harus punya kepribadian ganda ketika menghadapi kalian berdua-" Siapapun beritahu Jungkook apa yang sedang terjadi pada gurunya ini,tolong-

"-ya, kau dan Taehyung benar-benar memiliki sifat yang jauh bertolak belakang, padahal kalian sama-sama murid emas disini"

-whut de fuck?

Pria yang setau Jungkook berusia hampir 40 tahun itu tersenyum ramah dengan dimple yang menggemaskan,benar-benar pemandangan yang langka apalagi ketika berada di lingkungan sekolah seperti ini; yang selalu memasang wajah ingin makan orang. Berbanding terbalik dengan pemuda dihadapan beliau; ekspresi Jungkook seketika menjadi datar ketika nama itu menyapa gendang telinganya -sialan sekali, Jungkook rasa gendang telinganya iritasi sekarang

Menit selanjutnya, Jungkook menemukan pria itu tengah menata mimik wajahnya yang semenit lalu benar-benar konyol -wibawanya seakan hilang ditelan cengiran jenakanya- menjadi tenang kembali,namun tetap pada senyum ramahnya yang entah mengapa sekarang terlihat begitu menyebalkan dimata Jungkook. Jungkook merotasikan matanya sekilas ketika gurunya itu sedang menyesap kopi hitamnya

"Huuhh.. oke kita langsung saja ya"

"..Jadi..apa kau masih mengikuti kelas bimbingan seusai sekolah, Jungkook?"

Jungkook menghela nafas singkat sebelum mengiyakan ucapan Kepala Kesiswaan itu dengan anggukan sopan dan gumaman iya; mencoba membuang jauh-jauh rasa jengkel yang menghinggapinya beberapa menit lalu. Sempat berkomat - kamit dalam hati sebelum kembali menatap pria dihadapannya ketika suara beliau kembali terdengar

"..Apa kau baik? –maksud saya kau mengikuti kelas itu dengan baik? Kau nyaman berada disana..?" Atensi Jungkook teralih sebentar oleh innernya yang mulai beropini. Alih-alih sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu, Jungkook malah lebih berpikir perihal mengapa gurunya menanyakan hal tersebut. Instingnya meradang juga batinnya berteriak gigih. Apa dia dipanggil kemari hanya untuk meladeni pertanyaan basa-basi itu; ah tidak, pertanyaan ini bermaksud sesuatu,pasti, Jungkook sangat yakin

"Tentu saja Kim-Saem" Jungkook menghadirkan senyum terbaiknya diakhir kalimat. Entah untuk apa –insting yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut. Dan benar saja,pria tinggi itu membalas senyum Jungkook tak kalah baik.

"..Emm..begini Jungkook. Saya ikut senang jika kau menikmati kelas bimbingan itu bahkan lebih dari siswa-siwa lain. Tapi.. kau bisa mendapat kelas bimbingan yang lebih efektif ketimbang kelas bimbingan biasa. Kau ini adalah salah satu murid kebanggaan sekolah dalam bidang akademik, Jungkook, saya yakin kau sudah paham akan hal itu. Maka harusnya kau juga paham dan menerima kelas bimbingan efektif yang telah kami tawarkan sebelumnya-"

Jungkook ingat,ia ingat sekarang

Ia memang pernah ditawarkan kelas bimbingan efektif dibulan-bulan awal tingkat dua semester akhir,namun ia menolaknya. Bukannya ia merasa tak butuh untuk kelas bimbingan,karena kenyataannya pada semester itu Jungkook sedang sekarat bersama tumpukan materi-materi; Jungkook lebih memilih untuk berada di kelas bimbingan biasa. Sungguh pilihan yang tidak masuk akal,bahkan Yoongi mengatainya dengan berbagai macam umpatan karena menurut Yoongi keputusan yang diambil Jungkook itu konyol

Namun Jungkook keluar dengan selamat dengan dalih bahwa ia tak ingin dibedakan dan tak ingin merasa jadi orang yang superior,itu benar,sungguh. Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Jungkook malu luar biasa. Dan Jungkook yakin Yoongi akan menertawainya semalam suntuk jika mengetahui alasan sebenarnya yang lebih konyol ketimbang keputusannya

Sebab-

"Jika kau memasuki kelas yang lebih efektif, kau juga akan mendapatkan bimbingan yang lebih efektif juga. Kami para guru benar-benar tak ada maksud untuk membeda-bedakan kalian seperti yang kau pikirkan,melainkan kami hanya sedang menyelamatkan beberapa murid yg bisa diajak untuk berpikir lebih keras daripada ikut tenggelam diantara yang lain-" Pria itu menjeda untuk menghela nafas berat

"Kau ingin beasiswamu bertahan bukan..?" Jungkook meremang mendengar kata beasiswa disebut,otak cerdasnya berkonfrontasi.

"-disana kau akan bertemu dengan murid-murid lain yang lebih sebanding denganmu, Jungkook. Kau bisa lebih bereksplorasi dan berkembang dengan baik. Kau mungkin juga bisa bekerja sama dengan Taehyung karena kalian adalah perbandingan yang setara..-"

"..Maaf?-"

-Si bocah-sialan-Kim itu berada disana, di kelas bimbingan efektif itu

Jungkook paham bahwa memotong pembicaraan orang adalah hal benar-benar tidak sopan,apalagi kepada guru yang notabenenya harus ia hormati,juga dengan intonasi kurang ajar yang dengan idiotnya tak bisa Jungkook tahan. Ini persis seperti yang dipikirkan Jungkook barusan, karena pasti itu yang ada dipikiran para guru

Jungkook melanjutkan, "-jika tujuan Kim-Saem menyuruh saya untuk bergabung pada bimbingan efektif adalah karena ingin saya bekerja sama dengan Taehyung, dengan berat hati saya tidak akan menginyakannya. Saya yakin pada kemampuan saya sendiri saem, jadi anda tidak perlu meragukan hal itu. Seperti jawaban yang sudah Kim-Saem dapatkan dari saya,bahwa saya baik-baik saja di kelas bimbingan biasa" Jungkook sungguh sudah tak bisa mengerem perkataanya,meluncur begitu licin dengan pelumas ekstra

"..lantas apa yang akan kau lakukan jika kau benar-benar akan kehilangan beasiswamu, Tuan pintar Jungkook?!" Jungkook memang pintar, tapi itu bukan pujian,melainkan cemoohan; pria dewasa ini terlihat seperti akan kehilangan kendalinya juga, Jungkook rupanya lebih keras kepala ketimbang Taehyung pikirnya. "Dengar- " memijat dahinya yang sudah terdapat kerutan halus itu sekilas lalu menatap Jungkook dengan tatapan yang melemah namun tetap tegas,senyumnya sudah hilang dari beberapa menit lalu

"Kami hanya mengusahakan yang terbaik untukmu Jungkook, berupaya membantumu untuk lebih menaikan nilaimu dan semua itu juga demi beasiswamu. Sudah rahasia umum bahwa nilaimu telah dikalahkan oleh Taehyung dan kau masih saja keras kepala?. Kau- beasiswamu tidak akan bisa diselamatkan jika terus seperti itu-" Jungkook merasa aliran darahnya jatuh hingga ketulang ekor; penuturan itu menusuk tepat mengenai sekujur tubuhnya

"-sekarang lebih baik pulanglah. Dan pikirkan baik-baik"

Jungkook terlalu kalut untuk sekedar mengiyakan lewat kata-kata,maka dengan ucapan yang tergugu Jungkook pamit beranjak dan berjalan menuju pintu perlahan,kaki nya mendadak tak bertenaga,pikirannya berkecamuk. Dia telah terlalu kurang ajar lewat perkataanya tadi,tapi yang lebih terngiang dikepalanya adalah penuturan Kim-Saem. Itu benar,semua yang terucapkan Kim-Saem itu benar. Jungkook mendadak pusing memikirkannya.

Ia hanya ingin langsung pulang kerumah setelah ini,untuk menenangkan pikirannya

Awalnya Jungkook pikir hanya tinggal ia sendiri siswa yang belum pulang karena harus memenuhi panggilan guru,namun asumsi itu harus ia depak jauh-jauh tatkala melihat sepasang sepatu putih dihadapannya detik ketika ia keluar dari pintu, Jungkook merasa familiar dengan sepatu ini namun tak benar-benar mengetahui siapa pemiliknya,juga dimana ia pernah melihatnya.

Begitu menyesali keputusannya untuk menengok keatas; tadi telinganya sudah iritasi maka sekarang matanya lebih iritasi

"R u oke, Mr. Jeon..?"

.

.

.

TuBerCulosis

.

.


Im back-

Annyeong Readers-nim sekalian, just call me Rang

Forgive me for chapter 1
Baru sadar ternyata pas aku cek lagi ada yang belum ke ubah, hiks. Mungkin aku kurang konsen dan banyak pikiran –alahalesan- ; Why? Karena cerita ini sebenarnya udah aku post dulu dengan cast bukan idol korea di Wattpad (mampir kalau sempet XD)

So, untuk FFN aku remake ke vkook ver aja. Fast Update karena emank udah stock sebelum publish wkwk. Mohon bantuannya karena baru di dunia per-FFan

Last words, hope u always like it. Follow me for more stories; press fav and follow if u like it, and of course give me your review^^

With Love, Adilarang
Find me on IG [ ]