Title : Yakusoku yo
Author : DaisyDaisuki
Chapter : 1/?
Pairing : Rui x Yuuto (Main), Kazuki x Yuuto (slight)
Fandom: ScReW

Enjoy :3

.

.

.

Pagi yang dingin di awal bulan Desember. Seperti biasa, keluarga 'kecil' itu sarapan bersama di ruang makan yang bergaya Eropa itu. Sudah dua sebelas tahun berlalu sejak kematian orangtua Yuuto yang bertepatan dengan hari dimana mereka diangkat sebagai anak oleh Suzuki Yukio, pemilik perusahaan penyuplai alat kimia terbesar di Jepang.

"Mira-san, tolong bangunkan Yuuto-kun ya? Kurasa ia tertidur lagi." Perintah Yukio pada maid yang baru saja selesai menuangkan teh ke cangkir.

"Biar aku saja, Kek. Biasanya juga aku yang membangunkannya." Potong Rui sembari berdiri dari kursi.

"E, eh Tuan muda~ tidak apa-apa! Ini sudah tugas saya kok…" balas maid muda itu tidak enak.

"Daijobu, Mira-san! Sudah tugas saya untuk membangunkan Yuuto." Ucap Rui tersenyum meninggalkan ruang makan.

.

.

.

'CKLEK'

Pintu terbuka menimbulkan celah sehingga Rui bisa melongok ke dalam kamar. Seperti biasanya, kamar Yuuto selalu berantakan, berbeda dengan kamarnya yang selalu rapih. Rui duduk di pinggiran tempat tidur dan menyibakkan selimut. Di sana tertidur seorang pemuda berwajah cantik dengan bibir merah merkah. Rui tersenyum dan memainkan rambut Yuuto. Mengacak-acak, memelintir, sampai akhirnya mencubit hidung mancungnya.

"Bangun, Yuuchan~" bisiknya tepat di telinga.

Mulut Yuuto yang siap mengeluarkan erangan protes buru-buru dibungkam bibir mungil Rui. Yuuto tidak perlu kaget, seperti inilah dua orang saudara mengungkapkan rasa sayang mereka. Yuuto suka memeluk, menggandeng, bahkan mencium Rui dimana pun. Begitu juga dengan Rui yang tidak segan untuk mengajak mandi bersama.

"Ah… Jangan menciumku tiba-tiba dong.." protes Yuuto berusaha bangkit.

"Kau sih nggak bangun-bangun. Coba kalau kamu bangun daritadi, aku tidak perlu repot membangunkanmu!" ujar Rui tersenyum, mengacak rambut oklat Yuuto.

"Kenapa harus repot? Kan ada Mira-san, si maid baru."

Rui melirik Yuuto tajam. Giginya bergemeletuk kesal. Ditariknya bantal yang menjadi tumpuan Yuuto, membuat pria berpiyama putih itu kehilangan keseimbangan.

"Baka! Aku tidak ingin wajah tidurmu terlihat orang lain selain aku!" pekiknya posesif.

Yuuto tersenyum geli dan memeluk pinggang Rui, membenamkan kepalanya di punggung pemuda berambut silver itu.

"K, kalau begini.. Orang akan mengira aku ukenya. Padahal yang paling manja diantara kita 'kan kau.." Gumam Rui kesal.

Yuuto terkekeh dan bangkit dari kasur. Ia mengisyaratkan pada Rui untuk menunggunya mandi sebentar. Akhirnya pemuda itu menurut. Ia duduk di atas kasur. Menggoyangkan kedua kakinya, mengayunkannya kedepan dan kebelakang sementara matanya menyapu setiap sudut kamar yang selama ini Yuuto tinggali. Rui tersenyum sendiri saat menyadari bahwa kamar yang selalu ia datangi tiap pagi selalu berbau melon. Bau Yuuto, alias.. Bau kesayangannya. Kamar Yuuto 'cukup' besar. Tempat tidur ukuran Queen size (karena Yuuto tidak suka kasur terlalu lebar), meja belajar antik, rak buku, PC, bahkan ada kamar mandi yang lengkap dengan wastafel dan bathub.

Selang beberapa waktu, Yuuto keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Uap air menguar dari sekitar tubuhnya menunjukkan kalau ia mandi menggunakan air hangat.

"Hebat sekali kau. Pagi di bulan Desember berani mandi begitu. Tidak dingin?" Tanya Rui merinding.

Yuuto tidak menjawab hanya tersenyum simpul. Diraihnya seragam yang ada di samping Rui dan memakainya. Rui segera meraih leher Yuuto sebelum pemuda enam belas tahun itu bisa membenarkan dasi birunya.

"Ayo, kita berangkat.. Sudah jam setengah delapan." Ajak Rui menarik tangan Yuuto.

Keduanya keluar kamar lalu turun ke ruang makan. Seperti biasa, Yuuto hanya memakan roti telur dan susunya saja. Berbeda dengan Rui yang butuh lebih banyak energi karena ia ikut beberapa kegiatan sekolah.

"Ittekimasu!" pamit keduanya.

"Hati-hati." Balas sang Kakek yang masih membaca Koran.

Yuuto melompati beberapa anak tangga di teras, sementara Rui berjalan lebih lambat. Tampak sedan hitam sudah menunggu di pekarangan mansion Suzuki yang akan membawa mereka keluar 'rumah' menuju sekolah mereka.

.

.

.

~(=w=~)(~=w=)~

.

.

.

Ketika Yuuto dan Rui melangkah masuk ke dalam kawasan SMA mereka, pekikan dan bisikan para gadis tak teralakan. Yuuto yang manis, Rui yang cool, sebuah pasangan kakak beradik yang cocok. Tidak ada yang tidak tahu bahwa keduanya adalah cucu 'orang hebat'. Apalagi saat ini Yuuto menggunakan scarf red rose yang senada dengan mantelnya, sementara Rui menggunakan mantel dan scarf dark brown.

"Kyaa~ Ohayo Yuuto-kun!" (/A/)

"Ohayo, Rui-senpai!" (/v/a)

Rui tersenyum tipis menanggapi sapaan dari siswi Xanadu gakuen. Sementara Yuuto yang ada di sebelahnya gantian menggembungkan pipi. Teriakan siswi makin menjadi karena Rui membalas sapaan mereka. Yuuto yang sudah panas menarik lengan Rui kasar. Yah . . . Kalau soal begini Rui memang tidak peka. Ia bisa tanpa sadar membuat Yuuto panas.

"Y, Yuuto? Pelan-pelan dong!" serunya. Yuuto hanya diam dan mempercepat langkahnya menuju kelas.

'BRUK'

.

.

"Ittai!" rintih Yuuto.

Pemuda manis itu sudah jatuh terduduk dengan posisi tangannya masih mencengkram lengan kiri Rui. Yuuto mengaduh kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit.

"M, maaf! A, apa kau baik-baik saja?" tanya si penabrak panik.

"Umh.. Kurasa.. "

Tanpa menunggu aba-aba lagi, pemuda dengan rambut ungu gelap itu menggendong Yuuto ala bride. Rui cengo. Tetapi setelah ia sadar bahwa Yuuto-NYA baru saja dibawa pergi orang. Rui mengejar sepasang siswa yang menjadi tontonan siswa se-koridor itu.

.

.

.

==UKS==

.

.

.

"Yak, sepertinya Yuuto-kun harus istirahat selama beberapa hari. Perkiraan, absen sehari atau dua hari cukup." Ucap Uruha sambil membenarkan kemeja Yuuto.

"Arigatou gozaimasu!" ucap Rui dan pemuda itu.

"Aku benar-benar minta maaf, Yuuto-san… Aku tidak sengaja menabrakmu."

"Daijobu! Terima kasih sudah menolongku!" balas Yuuto dengan pipi memerah.

Rui mendecih kesal menyadari reaksi berlebihan Yuuto. Ia mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja Uruha, sementara tangan satunya menopang dagu.

"Aku Kazuki, Kazuki Sakamoto."

"Yuuto Suzuki. Senang berkenalan denganmu."

Keduanya saling tatap dan melempar senyum. Aura lopek lopek yang menguar semakin membuat Rui kesal. Tangannya mengepal, tidak terima kalau Yuuto kesayangannya suatu saat akan jatuh cinta dan meninggalkannya.

"well, karena jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, kurasa kalian harus cepat-cepat masuk kelas." Ujar Uruha memutus keheningan.

"Sensei, aku menolak. Aku mau pulang dengan Yuuto." Usul Rui mengangkat tangan.

"Ehh! Aku bisa pulang sendiri kok!" sergah Yuuto.

"TIDAK! Aku akan menggendongmu sampai gerbang."

"K, kalau begitu aku juga—"

"Kau cukup di sini saja. Jangan merasa bertanggung jawab, biar aku saja yang mengurus Yuuto." Potong Rui tajam sambil menatap Kazuki.

Kazuki tersenyum miring dan mengangkat bahu. Uruha yang duduk bersila dikursinya mati-matian berusaha menahan tawa setelah melihat pertengkaran cinta ala drama itu. Kazuki menyerah dan akhirnya pamit kembali ke kelas. Sementara itu, Rui sudah menghubungi mansion untuk menjemput mereka kembali. Rui tetap duduk di atas kasur di samping Yuuto. Bahkan menggendong pemuda itu di punggungnya ketika supir sudah menjemput di luar gerbang sekolah.

"Ruicchi…" panggil Yuuto pelan.

"Sudah lama kau tak memanggilku begitu.. Ada apa, Yuuto?" balasnya lembut. Beberapa meter lagi mereka akan sampai ke sedan yang sudah menunggu mereka.

"….."

"Aku sayang Ruicchi…" bisik Yuuto mengeratkan pelukannya.

Rui tersenyum simpul. Sesampainya di mobil, Rui menurunkan Yuuto di jok belakang. Menyelimutinya dengan mantel, sementara ia duduk di sisi satunya. Selama di perjalanan Yuuto terus saja manja pada Rui. Entah itu tidur dipahanya, minta dicium, atau dipeluk. Keduanya rindu saat-saat seperti ini.

==w==

"Dasar.. Kau membuat Kakek jantungan tadi." ucap Takahashi mengelus puncak kepala Yuuto.

"Yuuchan, suhumu 39°.. Selamat. Selain harus istirahat karena cidera pinggang, kau harus bed rest total karena demam." Celutuk Rui mengamati thermometer yang dipegangnya.

'Lagi-lagi… Aku merepotkan Ruicchi lagi..' dengus Yuuto kesal.

"Gomenasai.. Ruicchi tidak perlu merawatku kok.. Masih ada maid lain yang bisa menggantikan Ruicchi.." bisik Yuuto lemah.

"Apa yang kau katakan? Baka.." balas Rui tersenyum .

Jadilah seharian itu Rui tidak keluar kamar Yuuto, bahkan untuk makan siang sekali pun. Rui memang tidak pernah membiarkan orang lain merawat Yuuto kalau ia sedang sakit. Sesekali para maid keluar masuk kamar Yuuto untuk mengantarkan keperluan Rui. Tidak lebih, hanya sekedar makanan atau pakaian ganti.

.

.

.

.

.

.

Yuuto's Room, 07:30 pm

'CKREK'

Pintu kamar perlahan terbuka, membuat kamar gelap itu diterangi sedikit cahaya dari koridor. Tampak seorang pemuda berambut pirang, bertubuh jangkung dan tidak lupa memakai noseband masuk ke dalam diikuti bisik-bisik mencegah para maid. Reita –pemuda itu- berjalan perlahan. Suara yang 'agak' berisik dari bisikan dan derap langkah Reita membuat Rui kembali ke alam sadarnya. Pemuda silver itu menguap lebar sambil mengucek mata, memperhatikan siapa yang datang.

"Yo." Sapa Reita mengangkat tangan.

"Hmm… Sedang apa di sini, pesek?" tanya Rui membenarkan duduknya.

Reita mendengus kesal dan meletakkan kantung plastik yang tadi dibawanya ke kasur Yuuto. Rui memandangi sepupunya itu lekat-lekat. Pandanganya kemudian berpindah ke plastik putih yang berisi jajanan kesukaanya dan Yuuto, berserta obat-obatan. Rui tersenyum miring.

"Arigatou." Ucapnya.

"Domo. Bagaimana keadaanya? Aku kaget waktu cowok cantik penjaga UKS itu bilang kalau Yuuto harus bed rest."

"Dia baik-baik saja. Pinggangnya keseleo, dan… Sedikit demam."

Reita tampak berpikir. Namun kemudian ia menangguk. Pemuda itu menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di samping kasur, bersebrangan dengan Rui.

"Kapan dia bisa sekolah lagi?" tanya Reita.

"Entahlah. Kata Uruha-sensei, minimal lusa keadannya sudah membaik." Jawab Rui singkat.

Keduanya tenggelam dalam keheningan. Sampai tangan Yuuto bergerak, menandakan bahwa ia akan segera sadar. Yuuto melenguh kecil merasakan pening dikepalanya. Rasa panas yang menjalar disekujur tubuhnya membuatnya sadar bahwa ia sedang demam.

"Rei-nii?" panggil Yuuto serak.

Rui buru-buru mengambilkan Yuuto segelas air. Mengerti bahwa sepupunya membutuhkan air itu. Yuuto lantas menegaknya hingga habis lalu mendesah lega. Ia memandangi dua saudara yang selama ini menjadi partner-in-crime'nya.

"Lama tidak kesini.. Sejak Rei-nii pergi, ke sini juga sekali dua kali." Dengus Yuuto memalingkan wajah.

"Ahahaha, maaf! Aku banyak tugas kuliah.. Lagi pula aku tidak terlalu betah tinggal di sini. Jadi kuputuskan untuk tinggal di apartement biasa." Balas Reita mengacak rambut Yuuto, membuatnya semakin berantakan.

"Bilang saja deh kalau ingin tinggal satu atap sama Ruki-san!" ejek Yuuto menjulurkan lidah.

"Walah, kalau begini sepertinya kau sudah sehat eh?"

"Memang! Siapa juga yang bilang aku sakit?"

Dua pasang mata itu menatap Rui seolah meminta jawaban. Rui mengangkat bahu cuek dan meraih sebungkus pocky dari dalam tas plastik yang tadi dibawa oleh Reita.

"Sebaiknya kalian segera makan." Saran Rui beranjak pergi.

'GREP!'

Tiba-tiba saja Yuuto dengan manjanya menarik leher Rui hingga pemuda itu jatuh kepelukannya. Yuuto menghirup aroma mint Rui dalam-dalam. Aroma dewasa yang kontras dengan aromanya.

"Yuuto?"

"Ehehe.. Aku kangen Ruicchi.. Cepatlah kembali! Jangan lama-lama.."

Rui tersenyum lembut dan mengecup pipi Yuuto hangat. Reita menghela nafas melihat kelakuan kakak beradik itu. Memang tidak jarang Reita selalu melihat kedua sepupunya saling mesra. Bahkan Yuuto juga bisa lebih merajuk lagi jika Rui membawa pacarnya ke rumah. Sepeninggal Rui, Yuuto dengan semangat berceloteh soal sekolahnya pada Reita yang sudah menginjak tahun keduanya sebagai mahasiswa.

"Apa Rui sudah punya pacar lagi?" Tanya Reita disela mengunyah kit kat yang tadi dibelinya.

"Sepengetahuanku sih belum… Tapi seperti biasa, banyak anak perempuan yang mendekat padanya." Jawab Yuuto kesal.

"Kalau cemburu bilang saja, aku yakin Rui akan menjauhi mereka." Yuuto menggeleng

"Aku tidak ingin jadi beban Rui. Selama ini aku yang sering sakit saja sudah merepotkan Ruicchi, apalagi mencampuri kehidupan pribadinya." Tolak Yuuto halus. Reita menghela nafas.

"Seharusnya kalian lebih jujur pada diri masing-masing."

Lama mereka diam, Rui masuk kembali dengan beberapa maid yang membawa nampan berisi makan malam untuk mereka bertiga. Rui dengan telaten menyuapi Yuuto yang kalau sakit pasti sifat manjanya kumat. Setelah menghabiskan semangkuk bubur dan meminum obatnya, Yuuto akhirnya terlelap kembali. Ruki yang datang menjenguk Yuuto sekalian menjemput Reita hanya geleng-geleng kepala melihat ke'mesraan' Rui dan Yuuto.

"Ayo Rei~ Sepertinya kita mengganggu.." ajak Ruki jahil.

"R, Ruki-san.. Hubungan kami hanya sebatas kakak adik!" sanggah Rui.

"Tapi saling mencintai ='" timpal pemuda mungil itu jahil.

Reita dan Ruki tertawa cekikan dan mereka pun keluar kamar membiarkan Yuuto beristirahat sekalian kabur sebelum Rui mengamuk ganas. Ia menghela nafas berat sepeninggal sepasang kekasih hiperaktif itu. Dibelainya puncak kepala Yuuto dengan lembut sampai akhirnya ia pun ikut tertidur pulas.

'Aku juga menyayangimu, Yuuchan'

.

.

.

.

TBC