Chapter 4 : Fever
Roy mengantar Lisa, Reina, dan Ray sampai ke apartemen mereka. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Lisa berharap, Roy akan cepat pulang sesudah mengantar mereka. Namun, hal itu dipatahkan ketika Reina mengajak Roy untuk makan bersama.
"Paman Roy, ayo masuk. Sebagai balasan telah mengantar kami, ayo cicipin masakan mama, deh…" pintanya sambil tersenyum.
"Reina ! Jangan begitu ! Paman Roy kan adalah fuhrer negara ini. Urusannya pasti banyak sekali…" potong Lisa menasehatinya. Walau memang, ia ingin Roy cepat pulang, dan tidak melihat wajahnya lagi untuk selamanya…
"Ah..tidak..tidak…SEmua urusanku telah ku serahkan pada assistenku, Jean Havoc. Jadi, pekerjaanku sekarang menjadi lebih ringan."
Lisa menghela nafasnya, lalu mengajaknya masuk.
Apartment mereka tidak begitu besar. Kecil, dan sederhana. Namun semuanya diatur rapih, sehingga terlihat nyaman dan hangat.
Dinner malam itu, berlangsung cukup hangat, namun hanya terjadi pembicaraan antara Roy dengan Ray dan Reina, sedangkan Lisa, tetap terdiam saja.
SEtelah Selesai, Lisa membersihkan piring-piring kotor, dan Roy menawarkan membantunya.
"Oh, ya… boleh kutahu… siapakah ayah dari anak-anak ini ?" tanyanya membuka percakapan, seraya mengambil lap dan membantu mengeringkan piring.
Lisa terdiam, lalu menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
"Ah..tidak..maksudku, mungkin ia bisa ku rekrut untuk menjadi salah seorang national alchemist.." katanya buru-buru membenarkan pernyataannya.
"Jangan berharap, sir. Ia sudah pergi…" sahutnya pelan sambil membuka keran dan membilas piring kotor. "mungkin tepatnya…..kita meninggalkan mereka.."
Roy terdiam. Jadi, pernyataan Reina itu bukan main-main, melainkan sungguhan.
YA..aku pernah kehilangan orang yang paling kusayangi
Bukan hanya satu kali..
Namun dua kali..
Dan yang terakhir kali itu membuatku jatuh
Sedih..
Sakit..
Sengsara..
Sebab dialah satu-satunya orang
Yang menopangku saat pertama kali aku kehilangan orang yang kusayangi…
Tanpa tersadar, Sebuah tetes air jatuh dari mata Roy. "ya… memang sakit…amat sakit…"
"Maafkan saya, sir. Pembicaraannya menjadi tidak mengenakan seperti ini…" kata Lisa berusaha membanting stir dari topic mereka.
"Tidak…itu bukan salahmu."
Lisa tersenyum.
PRANG ! sesaat kemudian, terdengar sebuah piring pecah, dan Lisa pun terjatuh.
"LISA ! Kau tidak apa-apa ?" tanyanya segera, lalu kemudian segera menghampirinya.
"Mama ! Mama !" kedua anak itu segera mencari tahu apa yang terjadi. Ketika mereka melihat ibu mereka telah terkapar, mereka berdua segera menghampiri roy, menanyakan hal yang sebenarnya terjadi. "Paman.. Mama kenapa ?" tanya mereka berdua cemas.
Astaga…ia panas sekali.. pikir Roy ketika memegang dahinya. "Mamamu sakit. Ia tiba-tiba terjatuh, lalu pingsan." Jelasnya sesingkat mungkin. "Ray, tolong tunjukan di mana kamar mamamu. Sedangkan, Reina, coba kau ambil kain bekas yang tidak terpakai dan air dingin untuk mengkompresnya." Ia memerintahkan segera.
Roy mengangkat Lisa, dan meletakkannya perlahan di atas tempat tidurnya.
Aneh… pikir Roy. Ranjang Lisa bukanlah double bed yang biasa dipakai untuk keluarga. Sudahlah, Roy…jangan memikirkan itu dulu..
Roy mengambil kompres yang diberikan oleh Reina, sedangkan kedua bocah itu hanya bisa memandang dengan cemas pada ibu mereka.
"Paman…mama tidak apa-apa, kan ?" tanya Ray cemas. "Mama tidak akan meninggalkan kami, seperti yang papa lakukan, kan ? Kami pasti akan terus bersama mama, kan ?"
Roy menggeleng. "Tidak… ia pasti akan terus bersama kalian.." lalu ia memeluk kedua anak yang penuh cemas itu.
"Janji, ya…"
Roy mengangguk. "shh… jangan menangis. Ayo, sudah malam. Kalian tidur saja, biar aku yang menjaga mama kalian."
Mereka berdua sedikit ragu sebelum pergi ke kamar mereka. Akhirnya, mereka tidur di sofa yang ada di dalam kamar Lisa.
-- Keesokan paginya --
Lisa terbangun. Perlahan ia membuka matanya. Ia merasa tadi malam, tidurnya nyenyak sekali. Ia juga sudah merasa lebih fit dari kemarin. Ketika lisa berbalik, ia melihat, Roy duduk tertidur sambil memegang kompresan di lantai. Lisa baru ingat kejadian semalam. Ya ! ia terjatuh, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Dasar…kau tidak berubah… Lisa beranjak bangun dari tempat tidurnya, lalu ia menyelimuti Roy yang tertidur lelap itu. Ia mengambil handuk, lalu berjalan ke arah kamar mandi. SEtelah merasa segar di pagi itu, ia pergi ke dapur, dan mulai membuat makanan untuk sarapan paginya.
Roy terbangun, ketika hidungnya merasakan suatu bau wangi yang enak. Ia melihat sekelilingnya, ternyata Lisa sudah tidak ada. Menyadari, ada sesuatu yang berat yang menutupi punggungnya, roy menoleh ke pundaknya dan melihat selimut Lisa tergeletak, menyelimutinya. Ia tersenyum dan berdiri.
Di lihatnya, di sudut ruangan, kedua anak itu masih tertidur lelap di atas sofa. Raut wajah mereka terlihat polos, namun kecemasan tetap saja tergambar di dalamnya. Ia mengambil selimut Lisa dan menyelimuti mereka berdua. Roy tidak menyadari, bahwa ia menyayangi mereka berdua, seperti anaknya sendiri. Kemudian, ia bergegas pergi ke dapur, di mana dari bau wangi itu berasal.
"Pagi, Lisa. Sudah lebih sehat ?" tegurnya pada Lisa yang sedang asyik membuat sarapan.
"Iya. Terima kasih, sir." Sahutnya dengan hormat.
"Tidak.tidak apa-apa…" jawabnya singkat.
Chapter 5 : An old snow memory– a flash back
"Fuhrer ?" teriak Havoc ketiga kalinya, membangunkannya dari mimpinya.
"Eh..ya ? Kenapa ?"
Havoc menarik nafas panjangnya. "Anda tertidur lagi, untuk kesekian kalinya, sir. Apa tadi malam anda tidak tidur ?"
"Eeh…tidak..aku cukup tidur kok.." katanya sedikit berbohong.
"Terserah, deh… Untung yang jadi sekretarismu aku, bukan Lieutenant Riza.. Kalau tidak, habis sudah kepalamu, sir…"
Raut wajah Roy berubah total. Ups ! aku salah bicara… pikir Havoc. Sejak kematian Lieutenant Riza, ia selalu bersedih mendengar namanya..
"Maafkan saya, sir. Telah membuat anda mengingat kenangan lama…" ia meminta maaf sedalam-dalamnya.
"Sudah..sudah..tidak apa-apa, kok…" ya…memang sudah tidak apa-apa kok.. kemarin aku bertemu dengan 'Riza' yang sudah cukup membuatku terhibur..walau itu bukan dirinya..
"anda tidak apa-apa, sir ?"
"Eh ! AKu melamun lagi, ya ?"
"Ya..gitu deh.."
Roy menghela nafasnya. "Oh iya, Havoc, tolong kau carikan aku data tentang seseorang…aku sedikit penasaran.. kalau bisa, carikan juga seorang alchemist yang kira-kira meninggal atau keluar dari amestris 4-5 tahun lalu.."
"Yes, sir !" hormatnya, lalu meninggalkan ruangan itu.
Kesunyian kembali mengisi kantor Roy. Ia memandang keluar, dari jendela ruangannya. Sepertinya salju sudah mulai turun. Perlahan-lahan salju turun, seiring dengan terbawanya ingatan Roy, pada saat pertama kali Riza memanggilnya sebagai Roy.
(Flash Back..)
" Hatchi !" seru Riza, sambil menutup hidungnya. Saat itu, mereka semua sedang berada dalam pelatihan, sesudah perang Ishbar. Mereka berada di dalam hutan di gunung, yang saat itu sedang turun salju lebat. Mereka semua terperangkap di sana—dan parahnya lagi, Roy dan Riza terpisah dari group mereka.
"Apakah kau kedinginan, Lieutenant ?" tanya Roy sambil menyodorkan Jaketnya.
"Ti..tidak..tidak apa-apa sir." Ia menolak.
"Sepertinya kau sudah lelah. Mari kita istirahat dulu." Katanya lalu mengajak Riza duduk dibawah sebuah pohon, diatas salju tebal yang membuat mereka merasa membeku.
Tak sepatah kata pun terucap antara mereka. Mereka hanya terdiam dalam kesunyian dan kebekuan.
"Sini…" panggil Roy memecah kesunyian, mengajak Riza ke dalam dekapannya. "Mungkin akan lebih hangat."
"engak..enggak.. apa-apa kok…" katanya sedikit memerah. Namun, Roy lalu menariknya dan mendekapnya.
"AKu tidak mau kehilangan penembak terbaikku." Katanya menutup wajahnya yang memerah.
Riza hanya bisa mengangguk. Dalam dekapan Roy, ia merasa ada sebuah kehangatan yang selama ini ia dambakan. Dalam angin yang bertiup begitu dingin…rasanya ia tetap merasa hangat dan nyaman.
"Hey…tanganmu dingin sekali, Riza.."
"Bukan apa-apa, sir."
'Tidak..tidak… Ini.." katanya lalu mengeluarkan sebuah sarung tangan seperti miliknya, walau hanya sebelah kanan saja.
"Pakai ini.. memang sih..udah lama.."
"Loh, sir ! Bukannya ini sarung tangan alchemist mu ?" tanyanya sedikit bingung.
"Ya.. itu punya ku ketika pertama kali aku belajar mengeluarkan api. AKu ingin kamu menyimpannya untukku." Lalu perlahan, ia memakaikan sarung tangan itu di tangan Riza.
"Lebih hangat ?"
Riza mengangguk. Rambutnya yang panjang itu sesekali menyentuh wajah Roy yang membuatnya blushing, ketika mencium wanginya. Clip rambut Riza terjatuh saat ia terpisah. Jadi, rambut kuningnya itu terurai panjang.
"Thank you Roy…" bisiknya perlahan.
Hey..Dia memanggilku Roy? Apa aku tidak salah dengar? Benarkah?
"….Riza !" panggilnya menyentak Riza yang hampir tertidur.
"Ya !"
"um… apakah kau selalu mau mematuhi peraturan di Military ?"
"Apa maksudmu, Roy ?"
"Um… begini..kalau.."
"Ya ?"
"Kalau misalnya…" Kelihatannya Roy kesulitan menyambung kata-katanya. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. "Ya..begitu, deh…aduh…bagaimana ngomongnya, ya…?" ia jadi salah tingkah.
"hihihi…." Riza tertawa kecil. "Jantungmu berdebar cepat sekali…" katanya sambil menaruh tangannya di kiri atas dada Roy, tempat jantung berada, dan itu membuat jantungnya yang malang berdebar lebih cepat lagi. "sini…" panggilnya, lalu menarik kepala Roy perlahan,hingga sejajar dengan miliknya. Ia mengelus-elus rambut hitam eboninya itu dengan lembut. "Setiap kali aku deg-deg an, orang tuaku dulu suka mengelus rambutku seperti ini… SEkarang, kau jadi lebih enak, kan ?" ia tersenyum.
Roy merasakan ketenangan yang luar biasa ketika Riza mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Rasanya nyaman.. dan membangkitkan lagi kepercayaan dirinya.
"…begini…kubalik pertanyaanku. Riza, apa kau setuju dengan peraturan tidak ada hubungan persahabatan antar anggota military ?"
"… Boleh. Mengapa ?"
"Kalau misalkan seseorang dalam military menyukai seseorang juga dalam military, haruskah salah satu dari mereka berkorban keluar dari military ?"
"tidak.."
"Lalu, untuk apa ada peraturan itu, kalau memang untuk dilanggar ?"
"Begini.. " katanya sambil mengadah ke langit bersalju yang dingin itu. "Jika cinta itu memang benar, mereka pasti tidak akan takut menghadapi percobaan apa pun. Justru peraturan itu dibuat, sebagai percobaan, apa benar mereka saling mencintai atau tidak." Lalu ia berbalik menghadap Roy. "… dan walau mungkin akhirnya bisa juga tragis…Jika karena peraturan itu, seseorang tidak berani mengungkapkan perasaannya pada orang lain…"
"ya…tragis ..ya !" ia terdiam sebentar. "Riza.. AKu..juga tidak ingin akhir hidupku tragis…"
"Hm ! Apa maksudmu ?"
"Ya…tragis..tidak dapat mengungkapkan perasaan karena peraturan itu.."
Riza terdiam sebentar. Kemudian ia menoleh pada Roy dan tersenyum. "Kalau begitu, tinggal kau ungkapkan saja, Roy… Tidak ada yang perlu kau takuti…"
Ungkapkan..ya !
Roy terdiam. Ia memainkan jarinya di rambut Riza itu. "Riza..?"
"Ya ?"
Roy tersenyum padanya. "Aku akan mencoba mengungkapkannya…"
Riza juga membalas tersenyum. "Bagus…itu baru flame alchemist yang sesungguhnya, yang…" Belum Selesai perkataannya, namun telah dipotong dengan sebuah kecupan hangat tepat dibibirnya.
"…Riza..aku ingin kau selalu mendukungku…selalu disisiku…" bisiknya perlahan.
"..Roy !" kali ini justru Riza yang berdebar-debar.
Beberapa saat kemudian, Roy melepaskan Riza. Ia tersenyum nakal. "Bagaimana ? Ini saranmu, loh…"
Muka Riza memerah. Kesal dipermainkan Roy, kontan ia langsung menarik kedua pipi Roy. "Nakal !" teriaknya.
"Hwua..Ampun…ampun…" Ia meringgis kesakitan. "kan kau juga yang menyuruhku demikian.."
Riza melepaskannya, dan tersenyum. Kemudian, ia mengelus perlahan pipi Roy yang ia tarik tadi. "Iya… tapi aku hanya bilang, untuk mengungkapkannya saja, kan…"
"Lalu apalah arti ungkapan tanpa perbuatan?" katanya membela diri dengan lagaknya sebagai filsuf.
"Artinya…ini…" Riza secepat mungkin memberi quick kiss di dahi Roy, lalu menariknya juga dengan cepat.
"Diterima ?"
Riza hanya mengangguk, lalu kembali lagi ke dalam dekapan Roy.
"Yah..ada baiknya juga tersesat di tengah salju…" bisik Roy.
"Ya sudah…tunggu saja hingga bala bantuan datang…" jawabnya perlahan, lalu kemudian mereka berdua jatuh tertidur bersama dalam kehangatan, ditengah dinginnya salju malam itu.
(end of Flashback)
"Sir…Sir.. !" penggil Havoc kembali.
"Hm !"
"Melamun ?"
"Tidak..hanya mengingat kenangan lama…" ia terdiam sebentar, lalu tersenyum. "Mana berkas-berkas yang kuminta ?"
"Ini sir..namun sama sekali tidak ada yang memenuhi syarat yang anda minta, fuhrer, sir."
"Enggak apa-apa…sini !"
Havoc menyerahkan setumpuk kertas yang isinya merupakan data penduduk yang dicari Roy.
"Oh..iya, sir, sebelum saya lupa, tadi saya menemukan sesuatu yang aneh…"
"Hm ! Menarik !"
Chapter 6 : The truth…
Kring…Kring…
"Reina ! Angkat teleponnya !" perintah Lisa pada anak gadisnya itu.
"Iya… !"
"Halo ?"
"Halo, bisa bicara dengan Lisa ?"
"Ini dari mana, ya.. ?"
"Ini, Reina ? Ini dari paman Roy."
"Yup. Ya sudah,tunggu sebentar, ya…"
"MAMA ! ADA TELEPON !"
"Halo ?"
"Ya, sir.."
"Ini Lisa, ya ?"
"Ya, saya sendiri.."
"Lisa, nanti malam kamu ada acara ?"
"Tidak, sir."
"Kalau begitu..bisa temui aku di café dekat North HQ ?"
"Hmm…bi..bisa, sir."
"YA sudah…kalau begitu, kutunggu kau di sana, jam 7 malam, ya !"
Clik ! Telepon ditutup.
APAa? Bagaimana ini ? roy mengundangku dinner ? Ba..Bagaimana ini.. pikir Riza gundah. Ia benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan. YA…tidak ada jalan lain, selain datang dan mencari tahu, apa maksudnya mengajaknya dinner.
"Mama ? Kenapa ?" tanya Ray penasaran.
"Enggak…Nanti malam mama mau pergi. Kalian bisa jaga rumah ?"
Kedua anak kembar itu mengangguk sambil tersenyum.
-- 0700 p.m. –
"Jaga rumah yang baik, ya…jangan buka pintu kalau ada orang yang tidak dikenal. Ray, jaga adikmu.."
"Iya..iya.."
"Kalau begitu, mama pergi dulu, ya…" katanya sambil mencium kedua kembar itu.
Lisa berpakaian cukup formal, dengan dress berwarna merah dipadu dengan chocker bunga yang membelit lehernya. Rambutnya, seperti biasa, dibiarkan terurai menggerai di bahunya.
"Lisa !" Panggil roy dari sebuah meja.
"Maaf, sir..saya terlambat." Katanya seraya menghampirinya dan duduk dihadapan Roy.
"Ah..jangan panggil sir. Roy saja…"
"Ta..tapi.."
Roy menggeleng. "Tidak apa-apa… Oh,ya…kau mau pesan apa ?"
"Apa saja si-Roy…"
Mereka akhirnya makan hidangan yang dipesan, sambil sesekali bercakap-cakap. Kehampaan membuat jarak diantara mereka. Rasanya keduaya seakan berbicara dengan robot dengan topeng-topeng yang palsu.
"Sudah malam..biar kuantar kau pulang…"tawar Roy.
"Tidak perlu. Aku juga sudah terbiasa kok…." Tolaknya sopan.
"Ah..tidak..tidak.. Aku yang menyuruhmu datang, jadi aku juga bertanggung jawab mengantarmu pulang…"
Lalu Roy menggandeng Riza pulang. Hari sudah cukup gelap. Hanya lampu taman dan bulan yang menerangi mereka saat itu.
"Lisa… katakan padaku… sebenarnya…lisa bukan nama aslimu, kan?" kata Roy membuka percakapan, dengan langsung menembak tepat sasaran.
"Ke..kenapa ?" Lisa mulai gugup. Deg ! Deg ! ba…bagaimana ini….ternyata benar, ia mengundangku karena mencurigaiku…aduh…gawat….
Roy hanya tersenyum. "Tidak….aku hanya ingin tahu saja.. Lalu ayah dari kedua anak itu…benarkah dia seorang alchemist yang meninggalkan mereka ? Dalam data ku, pada 4-5 tahun lalu, tidak ada satu pun alchemist yang keluar dari Amestris. Alchemist yang meninggal pun tidak ada yang punya hubungan dengan mu…itu pun kalau benar eksistensi orang yang bernama lisa itu benar ada…"
"Ro..Roy ! Kenapa kamu berkata seperti itu ?
Roy terdiam. Langkah mereka berdua terhenti. Ia menarik nafasnya. "Lisa..lisa… tahu kah kau bahwa kehilangan orang yang kita cintai itu amat menyakitkan ?"
"Ya…aku mengerti…" ia menunduk, rasanya kalau bisa, saat itu ia ingin menghitung jumlah butir aspal yang ada di jalan itu…"tapi…saat ada sebuah pertemuan…harus juga da sebuah perpisahan..mereka tidak dapat dipecah-pecah kan…"
"Riza…kenapa selama ini kau membohongi aku ? Aku selalu menunggumu…walau itu tidak mungkin… rasanya hidup ini semakin pedih..walau aku tahu semua impian kita sudah tercapai…kenapa ? KEnapa saat itu, kau tidak jujur ?"
"Roy ? Apa yang sedang kau bicarakan ? Ri..Riza yang kau sebut sudah meninggal 5 tahun yang lalu…. Itu adalah sebuah kenyataan dan kau tidak bisa lari darinya…" katanya dengan lembut pada Roy.
Roy memejamkan matanya. Hari itu pikirannya bercampur aduk, antara kenyataan dan hayalan. Secepat mungkin ia meraih lisa dan membawanya dalam dekapanya.
"Riza….Riza…jangan tinggalkan aku…." Bisiknya. "Jangan pernah lagi…"
"Roy !" Teriak Lisa sambil berusaha lepas dari dalam pelukannya. "Hentikan ! A..Aku bukan Riza !"
Roy tidak melepaskannya, justru ia mendekapnya lebih erat lagi. "TIdak…kau adalah Riza…aku percaya.." lalu, secepatnya ia menyatukan bibirnya dengan bibir Lisa.
"Roy…." Seketika itu juga, air mata mengalir dari pipi Lisa. "Hentikan, Roy…. Sudah cukup… sudah cukup….. jangan buat aku kembali lagi… jangan…jangan…" bisiknya sambil terisak.
"Riza..kau tahu…saat menerima kematianmu…rasanya aku hampir ingin bunuh diri…tidak ada lagi yang bisa menopangku..hughes..dia sudah tiada…sedangkan kau…justru kau pergi dari sisiku… Apa artinya hidupku ? Dan sekarang…." Ia melepaksan riza dan mundur beberapa langkah. Roy mengeluarkan sarung tangannya, lalu mengenakannya di tangan kanannya, bersiap untuk menyentikan jarinya. "…lebih baik aku mati saja…."
"ROOOYYY !" teriak Riza, lalu berlari ke arahnya, lalu ia memeluknya. "Kalau kau mau mati, biarkan aku juga bersama mu…"
"Lisa…lepaskan…aku sadar…benar..kau bukan Riza..selama ini aku hanya hidup dalam anganku…mencari Riza yang sudah tiada…sekarang..hughes…Riza…aku akan menyusul mereka…" bisiknya perlahan.
"Biar ! AKu juga akan mati bersama mu…"
Roy tersenyum. "Untuk apa ? Aku ini bukan orang yang lama kau kenal. Kau masih punya Reina dan Ray di rumah…sedangkan aku sendiri…Aku sendirian…tidak punya siapa pun….kau tak ada hubungannya sama sekali denganku…tidak ada alasan untuk mati…"
"Enggak, Roy…..kamu juga enggak sendiri…ada Reina..Ray…juga….Riza yang menunggumu di rumah… Karena itu…" ia menangis. "Tolong…tolong……jangan pernah berpikir untuk mati…Jangan…kesalahan itu sudah pernah kubuat sekali…aku menyesal….dan..." ia jatuh duduk terkulai di atas aspal.
Roy lalu mendekatinya, dan mendekapnya dengan penuh kehangatan. Perasaan yang terpendam selama ini semua dikeluarkannya.
Air mata meleleh sepanjang pipi Riza. "Roy…a..aku pulang…" bisiknya perlahan, disertai isak tangisnya.
"ya…selamat datang kembali…"
Chapter 7 : The reason…
Malam itu..mungkin malam bersejarah bagi Roy, dan Riza… Perpisahan mereka selama 5 tahun ini…ternyata memang, keduannya benar-benar tersiksa.
"Roy…" panggil Riza padanya. "kita sudah sampai… Mau masuk ?" tawarnya.
Roy mengangguk tersenyum. "Mana kedua anak itu ?"
"Di kamar mereka…sepertinya sudah tertidur.." Mereka berdua membuka pintu kamar si kembar itu perlahan. Mereka berdua sudah tertidur lelap, maniss sekali.
Perlahan, Roy mengelus rambut kedua anak itu, lalu mengecupnya, dan diikuti hal serupa oleh Riza. "selamat tidur, ya anak-anak…"
Mereka keluar dari kamar kedua anak yang gelap itu, lalu duduk di ruang tamu.
"Nah..sekarang ?" Roy tersenyum nakal. "Ada yang bisa menjelaskan alasanmu ?"
Riza mendekatkan dirinya pada Roy. Ia menjatuhkan kepalanya di atas bahu roy sambil bercerita.
"Ya… saat hampir waktu kematianku..tiba-tiba aku sadarkan diri… Saat itu….Aku bingung apa yang harus aku lakukan…Aku sudah gagal menjagamu sebagai lieutenant mu… Ditambah kehadiran kedua anak ini…pasti hanya akan menjadi beban bagimu…Disaat itu, aku hampir mengambil keputusan untuk mati saja…" Riza menatap gelas yang ada di atas meja. Di permukaan gelas itu, seolah terpantul bayangan masa lalu 5 tahun itu.. "Tapi saat aku sadar…. Kedua anak ini tidak bersalah.. mereka harus hidup ! Maka itu….jalan yang terbaik ialah lari….lari meninggalkan Riza Hawkeye…Lari meninggalkan identitasku yang asli… Segala upaya bisa kulakukan, menyuap dokter memberi keterangan kematian palsu, lari mengganti nama,…namun…perasaan ini yang tidak bisa kuganti…Roy…"
Roy mengelus rambut Riza perlahan. "Kenapa….kenapa kamu harus lari, Riza…"
"Aku tidak tahu…hanya itu yang terbesit dipikiranku…dan…itu yang kulakukan…tapi aku sadar…perasaan ini…tidak bisa lari…Maafkan aku, Roy…"
Roy tidak menjawab, hanya tersenyum.
"Masalahnya tinggal satu…yaitu bagaimana kita memberitahukannya pada anak-anak…."
"Ya sudah…tunggu saja hingga besok pagi….kita lihat wajah kaget mereka…" Kata Roy lalu mengajak Riza tidur.
Epilog
"Roy Mustang, apakah kau bersedia menerima Riza Hawkeye menjadi istrimu, dan berjanji akan setia dalam suka maupun duka ?" tanya sang pendeta.
"Ya… saya Roy Mustang, bersedia menerima Riza Hawkeye sebagai istri saya dan saya akan berjanji setia padanya dalam suka maupun duka." Jawabnya tegas.
"Riza Hawkeye, apakah kau bersedia menerima Roy Mustang menjadi suamimu, dan berjanji akan setia dalam suka maupun duka ?" kembali orang itu bertanya
"Ya… saya Riza Hawkeye, bersedia menerima Roy Mustang sebagai suami saya dan saya akan berjanji setia padanya dalam suka maupun duka."
(a/n : gommen…gommen…kalo misalnya acaranya rada kurang sreg…soalnya aku enggak pernah pergi ke upacaranya (paling pestanya doang…hehe..o))
Lalu beberapa saat kemudian, mereka saling bertukar cincin. Cincin emas dengan berlian indah ditengahnya itu berkilauan. Indah sekali, amat pas di jari kedua pasangan berbahagia tersebut.
"Kalau begitu, mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita. "
Roy dan Riza, berhadap-hadapan. Lalu perlahan, Roy mendekati riza, sambil melingkarkan satu lengannya di pinggang Riza, yang satunya lagi, mengangkat dagu Riza. Akhirnya bibir mereka bersatu. Waktu seakan berhenti menunggu keduanya menyelesaikan wedding kiss mereka.
"Roy…." Bisik Riza.
"Ya, sayang ?"
"aku senang… kita akhirnya bisa bersama..."
"AKu juga kok…"
FIN
Lookie…lookie ! It's fin ! Akhirnya….selesai juga nih cerita… seneng, deh… seneng, riza ama Roy bisa bahagia… walaupun sebenarnya aku juga pengen banget sama Roy lho.. (mimpi kali ya !) tapi lihat mereka bahagia aja, rasanya udah seneeennggg banget. Kayaknya bakal dibuat sequelnya… jadi tunggu aja, deh..hehe… Ya udah…buruan R&R !
