A/N: It's like forever? Yeah, I know and I'm sorry about that. This's the short chapter and I'm sorry again. Btw, Happy Christmas, everyone! Enjoy:)

All of characters belong to JK Rowling and the several unknown characters belong to me


Chapter 2

Kastil tampak begitu damai. Hampir semua murid sudah berada di asramanya. Tak ada satupun yang berkerliaran di lorong kastil. Tahun ini terlihat akan sangat berat karena tampuk jabatan Ketua Murid diduduki oleh Scorpius Malfoy yang terkenal sadis dalam memberikan detensi pada murid bila tertangkap basah berkeliaran setelah jam malam dimulai. Bila bertanya kepadaku hal itu memberatkanku atau tidak, aku akan jawab tidak. Karena sampai sekarang catatan detensiku sangat bersih. Jadi, aku tak peduli dengan siapapun yang menjadi Ketua Murid. Selama tak ada yang dilanggar, apa yang harus ditakutkan?

Aku sudah selesai melakukan ritual malam, mulai dari membersihkan wajah, menyikat gigi, menyisir rambut, dan mengganti bajuku dengan piyama. Sementara Helaine sudah terlelap setelah makan malam tadi. Helaine memang memilki banyak kesamaan denganku. Kami sama-sama dijuluki anti sosial, karena jarang sekali bergaul atau bersosialisasi dengan murid-murid lain. Tetapi, kami tak peduli. Selama tak ada yang tersakiti dengan sikap anti sosial kami, tak ada yang perlu dipermasalahkan, bukan?

Mataku menatap tumpukan jurnal kiriman Dad yang sudah tiga hari teronggok di sudut kamar kami. Rasa penasaran kini menghampiriku. Aku sudah lama ingin membacanya, tapi kesempatan itu tak kunjung datang kerena tugas yang menghantam terus secara bertubi-tubi. Kusebakkan selimut yang sudah menutupi separuh tubuh dan melangkah mengambil satu buah jurnal bersampul hitam itu. Inisial HG terpampang jelas saat aku membuka sampul jurnal ini. Aku mulai membuka lembar demi lembar jurnal itu dan mulai terhanyut ke dalamnya.


Hogwarst

Musim Semi

Awal tahun kelima merupakan titik balik dari segalanya. Segalanya benar-benar berubah. Kematian Cedric membuat penjagaan kastil semakin diperketat. Auror berkeliaran di mana-mana. Bahkan setiap gerak-gerik kami terpantau jelas. Dan hal yang paling membuatku merasa terganggu adalah intervensi Kementerian yang semakin menjadi-jadi. Entahlah, apa aku masih bisa bertahan di dunia sihir ini. Rasanya aku ingin kembali ke rumah bersama Dad dan Mum kemudian melanjutkan sekolah Muggle-ku. Tetapi, itu semua mustahil melihat apa yang akan Harry hadapi. Semoga segalanya akan semakin membaik.

Aku tersenyum dengan apa yang baru saja kubaca. Tulisan tangan Mum begitu indah. Ini bukanlah jurnal harian yang awalnya kubayangkan ini lebih mendekati buku harian Mum. Kuraih jam yang berada di nakas tempat tidur. Pukul 12.15. Aku mengedikkan bahu dan akan terus melanjutkan membaca buku harian Mum. Lagipula besok Sabtu.

Musim Semi

Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku benar-benar menyukai musim semi? Rasanya semua begitu indah saat aku memandang dedaunan cokelat yang mulai berguguran tertiup angin. Semacam relaksasi tersendiri bagiku. Dad dan Mum juga sangat menyukai musim ini. Kami biasa berkemah di berbagai hutan yang menjadi pilihan Dad. Atau aku akan menghabiskan sore musim semiku dengan bermain trampolin di halaman belakang rumah kami sementara kedua orang tuaku hanya duduk dengan secangkir teh di tangannya dan sesekali memperingatkanku untuk berhati-hati. Tetapi, itu sudah lama sekali. Aku sudah lama sekali tidak melompat di trampolin sejak Hogwarst mengirimkan surat panggilan paling yang menakjubkan kepadaku lima tahun lalu. Merlin! Aku merindukan mereka seketika saat ini.

Aku semakin merimdukan mereka karena situasi yang kacau saat ini. Intervensi Kementerian semakin terasa dengan hadirnya Umbridge sebagai pengajar di Hogwarst. Gayanya yang semena-mena membuat aku ingin mengutuknya menjadi kodok. Bahkan aku ragu kodok mau kukutuk untuk berubah menjadi dirinya. Harry menjadi sasaran empuk baginya hari ini. Aku tak tahu detensi apa yang akan diterimanya. Hal yang kuketahui dia tak ikut makan malam tadi. Hanya ada aku, Ron, dan Ginny. Aku berharap situasi ini segera berakhir. Aku tak pernah berharap terlalu berlebihan, hanya kembalikan ketentraman hidup kami seperti sedia kala. Apakah aku terkenal melodramtic? Sepertinnya begitu.

000

Musim Dingin

Semuanya terkesan semakin menjadi-jadi. Terutama kelakuan dari Umbridge si wajah kodok itu. Aku tak tahu apa yang ada di otaknya sampai membuat semua peraturan dan memajangnya di dinding lorong kastil. Itu gila. Semuanya semakin gila aku rasa. Semua kegiatan di kastil dikendalikan olehnya. Aneh rasanya dengan semua ini.

000

(Masih) Musim Dingin

Tak ada surat dari Viktor hari ini. Mungkin ia terlalu lelah sampai lupa mengirimkanku surat. Aku menertawakan diriku hari ini. Kata-kataku tadi terdengar seperti wanita yang terlalu posesif terhadap pacarnya, bukan? Bahkan ia bukan pacarku dan aku gila karena ia tak mengabariku barang sehari saja. Semua orang bertanya tentang apa sebenarnya hubunganku dengan si atlet Quidditch dari Bulgaria itu. Dan aku akan diam dan tak tahu harus menjawab apa tentang definisi dari hubungan kami. Dia sempat menyinggung tentang hubungan kami, tapi Demi Merlin aku terlalu sibuk dengan kekacauan di Hogwarst. Aku selalu merasa bila suatu saat Viktor akan sadar bahwa aku tidak cantik dan secara perlahan akan pergi meningalkanku. Dan sejujurnya aku terganggu dengan pikiran itu. Apakah ada lelaki selain dirinya yang menerimaku sebagai teman dekatnya? Semua itu terlepas dari Harry dan Ron tentunya. Terkadang aku berpikir bahwa sejauh manapun aku berusaha berkencan dengan banyak pria takdirku akan berujung bersama salah satu dari sahabatku. Mungkin Harry mungkin juga Ron. Untuk Harry, itu pasti tidak mungkin. Selain Ginny yang sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali berjumpa dan kegilaan Harry pada Cho membuatku mual membayangkan bila aku akan berakhir berasama Harry. Untuk Ron, aku akan menertawai diriku sepanjang hidup bila suatu saat nanti aku berakhir dengannya. Apa rasanya menikah dengan Ron? Aku akan makan hati mengahadapi kekonyolannya setiap hari. Bukan aku tak menyayainginya, aku sangat menyayangi Ron dan Harry. Mereka seperti kakak bagiku. Sejak aku hanyalah anak tunggal, memiliki mereka di sampingku merupakan anugerah tersendiri.

Aku akan mencoba untuk tidur dan meminum ramuan tidur tanpa mimpi. Sejenak saja aku ingin menghilangkan semua pikiran yang ada di kepalaku. Bahkan aku tak mengerti dengan apa yang aku alami. Umurku baru 16 tahun, tapi pikiranku seperti wanita berumur 30an dengan segala masalah yang menimpa. Harry menyuruhku untuk sedikit bersantai, tapi aku tidak bisa. Kepalaku seakan ingin pecah bila mengingat Viktor akan menghindariku, nilai OWL-ku akan buruk, dan bila suatu saat nanti Harry harus benar-benar menghadapi Voldemort sementara aku tak bisa melakukan apapun. Lihat, aku terlalu banyak berpikir, bukan?

Kali ini aku akan benar-benar tidur.


"Rose."

"Hey, Weasley," aku mendengar seseorang memanggil namaku.

Aku membuka sedikit kelopak mataku dan menemukan Helaine yang berkacak pinggang di hadapanku. Tanpa tedeng aling-aling lagi ia menyibak selimutku. Udara dingin langsung menyergap. Awal musim dingin sangatlah tidak bersahabat bagiku. Aku mencoba menarik kembali selimut yang sudah berhasil tersingkap oleh Helaine tadi.

"Bangun, Rose," ujaranya

"Ini masih pagi," ucapku malas namun bangkit dari tempat tidurku.

Kuraba nakas yang berada tepat di samping tempat tidurku untuk mencari ikat rambut biru gelap milikku. "Masih pagi? Demi Merlin Rose ini sudah pukul setengah 11 dan kau mengeluh ini masi pagi. Dasar manja."

Setelah berhasil mengikat rambutku aku hanya mengangguk meghadapi Helaine. "Aku tidur larut tadi malam."

Kerut menghiasi dahi sahabatku ini saat mendengar ucapanku tadi. "Apa yang kau lakukan? Rasaku kita sudah mengerjakan semua tugas. Bahkan tugas untuk dua minggu kedepan."

Kuambil buku harian Mum yang tergeletak di samping bantalku dan menunjukkannya pada Helaine. "Aku membaca ini semalaman."

"Jurnal ibumu?"

Anggukan merupakan jawabanku sementara dia hanya menghela napas. "Jadi, aku melewatkan sarapan pagi," tepat disaat aku mengatakan hal itu perutku ikut berbunyi.

Helaine tertawa dan melempar bantal kepadaku. "Mandilah, aku sudah menyisakan sarapan untukmu."

Aku tersenyum saat melihatnya menghilang di balik pintu. Helaine selalu dapat diandalkan.

000

Seharian ini aku menghabiskan hari bersama Helaine dari makan siang sampai menontonnya berlatih Quidditch. Semua kegiatan ini menyenangkan bagiku. Cukup aku dan Helaine.

"Jadi apa isi jurnal ibumu," tanya Helaine.

Aku memberikannya handuk untuk ia menyeka keringatnya yang sebesar-besar jagung. "Itu semacam buku harian. Dia menceritakan kehidupannya selama disekolah aku rasa."

Helaine tersenyum setelah meminun air yang tadi kubawakan juga. "Ibumu sangat rajin, aku tak membayangkan ibuku akan menulis buku harian, kehidupan sekolahnya pasti dipenuhi dengan berpacaran dan berbelanja," dia terkekeh saat menceritakannya.

Celotehnya membuatku itu tertawa. Helaine Nott, teman baikku yang menggemparkan Hogwarst karena merupakan penghuni asrama Gryffindor yang kedua orang tuanya murni berasa dari Slytherin. Seperti namanya, ayah Helaine adalah seorang Nott, Theodore Nott lebih tepatnya, sementara ibunya adalah Pansy Parkinson dan sekarang ia berteman baik denganku, anak dari Ron dan Hermione Weasley. Aneh sekali setiap aku berpikir hal ini terjadi dibalik semua cerita yang kudengar tentang kedua asrama itu yang memiliki catatan buruk tentang kerukunan di masa lalu.

"Nott, ayo kembali kesini," teriak Tyrone si Kapten Quiddittch asrama kami pada Helaine.

Helaine hanya mengacungkan ibu jarinya dan beranjak bangkit dari rumput ini. "Masuklah bila kau merasa bosan."

"Aku akan menunggumu di tribun penonton saja, sambil membaca ini," aku menunjukkan buku bersampul hitam itu padanya.

Dia mengangguk. "Baiklah, kalau kau bosan sebentar lagi anak-anak Slytherin akan segera berganti lapangan dengan kami, kau lihat-lihat mereka saja. Tubuh mereka yang atletis akan menjadi hiburan tersendiri bagimu."

"Mesum," aku memukulnya dengan buku harian Mum "cepat sana kau masuk lapangan sebelum Tyrone meneriakimu lagi."

Dia terkekeh dan meninggalkanku. Aku beranjak menuju tribun penonton. Aku dapat melihat Helaine mulai menaiki sapunya dan mulai berlatih sesuai dengan aba-aba Tyrone yang mulai berteriak-teriak. Kuambil cookies yang sengaja kubawa untuk menemaniku saat Helaine berlatih. Hazelnut cookies sudah berada di tanganku dan aku mulai membaca buku harian Mum lagi.


Musim Dingin

Akhirnya kejelasan hubunganku dengan Viktor terungkap juga. Ia menanyakan kesediaanku untuk menjadi kekasihnya, tapi apa yang aku lakukan? Aku mengatakan secara gamblang dalam suratku bila pertemanan lebih baik sebagai definisi hubungan kami. Bodoh? Yaa, itulah yang dikatakan Harry padaku. Aku yang merasa kesal saat ia lupa menyuratiku dan aku pula yang menolaknya.

"Jadi, kau menolaknya?" tanya Harry disela makan siang kami.

Aku mengangguk mengiyakan. "Kau yakin?"

Sekali lagi aku mengangguk. "Aku rasa aku tak benar-benar mencintainya."

"Tak harus mencintai untuk memulai suatu hubungan, kau cukup menyukainya dan melihat prospek ke depannya," ujar Harry yang bingung menghadapiku.

"Entahlah, tapi aku merasa ada yang tak benar bila aku berhubungan dengannya," jawabku menyuapkan sup asparagus ke dalam mulutku.

Dia tertawa. "Kau wanita paling rumit yang pernah aku hadapi, 'Mione."

"Asal kau tidak kapok untuk berteman denganku, aku rasa tak masalah."

"Ada-ada saja," dia semakin terkekeh "apa sebenarnya yang kau cari?"

"Apa maksudmu?"

"Pria seperti apa yang sebenarnya kau cari? Lebih pintar darimu," ucap Harry yang mengusap mulutnya dengan jubah pergelangan tangannya yang kusambut dengan tatapan jijik.

Aku menyodorkannya sau tangan. "Aku juga tidak yakin," jawabku.

"Mau sampai kapan, huh? Kau penyihir paling pintar, yaa kecuali kau mau berpacaran dengan Dumbledore," kekehnya saat menggodaku.

"Lucu sekal, Harry. Setidaknya ia harus setara denganku."

"Selalu superior," lagi-lagi ia terkekeh.

Aku ikut tertawa bersamanya. "Aku pergi dulu."

"Kemana lagi?"

"Mengerjakan tugas Ramuan di perpustakaan."

Dia kembali terkeeh. "Masih dikumpulkan minggu depan."

"Lebih cepat lebih baik."

"Terserah padamu."

Dibalik semua kesibukanku dalam menghadapi ujian dan menghadapi kegilaan Umbridge (hah! Aku tak pernah bosan mengucapkannya) kami membuat sebuah gerakan yang awalnya kupikir akan mengkhianati semua prinsipku tapi ternyata rasanya begitu menakjubkan. Kami membuat sebuah kelompok belajar kecil, baiklah lumayan besar untuk pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Sensasinya begitu ajaib, saat kami mengendap-endap untuk menghindari Umbridge serta kroni-kroninya. Adrenalinku benar-benar terpacu. Keseruan yang belum ada tandingannya (lagi-lagi aku suka melebih-lebihkan). Sampai sekarang kami sudah mempunyai tempat latihan tetap. Aku baru tahu jika kastil ini memiliki sebuah ruangan rahasia atau yang kami sebut sebagai kamar kebutuhan. Semua hal ini membuat aku semakin takjub dengan dunia ini. Dan hal seperti ini jugalah yang membuatku mengurungkan niat untuk pergi.

Kami berlatih begitu banyak mantra. Tentu saja hal ini tak lepas dari campur tangan Harry yang awalnya menolak mati-matian tentang kelompok belajar yang kami sebut sebagai Laskar Dumbledore ini. Harry menganngap bahwa ia tak pantas untuk mengajarkan teman-temannya tentang mantra pertahanan. Ia masih merasa semua kejadian yang membuatnya lolos dari maut itu hanyalah sebuah kebetulan. Aku tak tahu dia itu rendah hati atau naif atau bodoh (maafkan aku Harry). Dan pada akhirnya, dengan seluruh kemampuanku dan Ron dan dengan campur tangan Fred dan George juga dia mau mengajarkan kami secara berkala. Harry mengajarkan kami begitu banyak mantra pertahanan dan ia juga mengajarkan mantra patronus kepada kami. Hal yang menakjubkan lagi, patronusku adalah berang-berang. Menggemaskan sekali. Aku tertawa saat menuliskan kalimat tadi.

Dengan adanya Laskar Dumbledore ini tak lantas membuat hidup kami menjadi bahagia dan tentram. Setahuku Umbridge mendapuk beberapa murid untuk membantunya untuk mengawasi anak-anak yang berada di luar kendali. Siapa lagi, kalau bukan Malfoy dan semua pelanyannya. Mereka berkeliaran dengan lencana di jubahnya. Hal itu membuatku mual. Apalagi saat melihat wajah Malfoy yang teramat angkuh yang aku rasa merupakan cetakan dari Merlin untuknya sejak kecil. Dasar penjilat. Itulah yang selalu dikatakan semua murid saat melihat mereka berkeliaran seperti sedang mencari mangsa, pastinya minus anak-anak Slytherin. Baiklah, aku akan berhenti membicarakan ferret bodoh itu. Bisa-bisa aku mati muda bila terus mengingat kelakuan luar biasa menyebalkannya lagi.

Satu lagi hal yang paling menyesakkan bagiku adalah saat melihat wanita gemuk berwajah kodok itu menghukum teman-temanku, terutama Harry. Apa yang ada di pikirannya sehingga menggunakan hukuman kejam itu untuk menghukum murid. Menyuruh murid untuk menulis dan hasil dari tulisan mereka akan muncul di tangan yang otomatis akan merobek permukaan kulit mereka. Bahkan saat menuliskan hal ini aku masih merinding. Aku bingung dengan sikap Dumbledore akhir-akhir ini. Dia seakan-akan menghilang dari peradaban dan membiarkan kekacauan di kastil ini begitu saja. Tetapi, aku yakin Dumbledore memiliki alasan khusus terhadap semua ini. Semoga saja apa yang aku pikirkan benar dalam kenyataannya.

000

Musim Dingin

Kami semakin ahli dalam bergeriliya dan aku bangga dengan hal itu. Tak terhitung berapa banyak lagi kami berlari dari kejaran Umbridge serta kroni-kroninya saat Laskar Dumbledore akan berkumpul. Dan tak terhitung berapa banyak cara kami untuk mengelabui Filch. Aku tak tahu bila ternyata Mr. Filch sangat mudah ditipu terutama dengan makanan. Itu menggelikan. Kamar kebutuhan memang sangat berguna. Aku yakin bahwa Hogwarst juga berkonspirasi untuk melawan Umbridge.

Harry semakin dekat dengan Cho. Aku senang dengan hal itu, setidaknya hal itu sebagai pengalih perhatian Harry tentang semua kegilaan Kementerian dan kewaspadaannya tentang gerak-gerik Voldemort. Tetapi, hal yang mengganjal di hatiku adalah apakah Cho benar-benar sudah menerima Harry seutuhnya dan bukan sebagai pelarian dari meninggalnya Cedric. Baiklah, lagi-lagi aku berpikir berlebihan, tapi semua itu aku rasa sangat masuk akal, bukan?

Lucu sekali saat aku mengurusi hubungan asmara seseorang, sementara aku masih single. Ini ironis. Ginny kaget bukan kepalang saat aku mengatakan bahwa aku menolak Viktor. Dia bilang aku gila. Mungkin aku gila. Dan sekarang aku benar-benar gila saat aku merasa menyesal telah menolaknya. Bukan karena aku baru sadar bahwa aku menyukainya, melainkan karena rasa gengsi dalam hidupku. Aku bisa mendapatkan seluruh nilai outstanding, tapi aku tak bisa mendapatkan kekasih semudah aku mendapatkan nilai-nilai itu. Lagi-lagi Ginny mengatakan bahwa aku gila. Dia bilang masalah itu terdapat pada diriku. Akulah yang tak mau membuka diri pada pria manapun.

"Kau tahu 'Mione, ada berapa banyak gadis yang rela membunuhmu demi dapat berdansa dengan Viktor saat Yule Ball tahun lalu," ujarnya berapi-api disela makan malam kami.

"Mereka segila itu?" tanyaku tak percaya

"Yaa, mereka segila itu. Dan apa yang kau lakukan saat ini? Menolaknya dengan alasan yang bahkan dirimu saja tak tahu apa itu."

Aku mengedikkan bahu. "Aku merasa tak pantas bersamanya. Ada begitu banyak gadis cantik dan dia lebih memilihku yang semua orang di kastil ini tahu bahwa aku di panggil 'si kutu buku',"balasku.

Ginny menghela napasnya. "Kau harus membuka dirimu. Kau cantik Hermione dan semua orang di kastil ini tahu itu."

Aku rasa pembicaraan makan malam tadi terlalu berat bagiku. Setelah melirik arloji yang berada di dalam saku jubahku, kuputuskan untuk mengerjakan esai Mantra. Aku berjalan menuju perpustakaan yang sudah sangat sepi penghuni. Meja di dekat jendela merupakan tempat favoritku. Kukeluarkan perkamen, pena, dan tinta ke atas meja lalu mulai mengerjakannya dengan cermat. Tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Madam Pince sudah memperingatkanku bahwa perpustakaan akan segera ditutup. Dengan sigap aku bangkit dan berjalan menuju lorong buku untuk mengembalikan buku yang tadi kupinjam. Langkahku tersandung dan buku-buku yang tadi kupegang jatuh seketika.

"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang suara yang terlihat bangkit dari tidurnya.

"Malfoy," ujarku terejut.

Yaa, Malfoy berada di dalam perpustakaan dengan wajah lesu dan jubah yang tak berbentuk.


"Malfoy? Mr. Malfoy?"

"Rose Weasley."

Aku menengadah. "Malfoy."

000

to be continued

A/N : I hope you aren't confuse about the timeline Hermione and Rose. There's a line to bound the timeline. I hope your're like it and found your answer in this chapter. Please leave the review. Keep rock and keep awesome, guys:)