Lelaki bersurai coklat kemerahan itu mendudukkan dirinya seraya mengaduh kesakitan. Sementara Hyungseob yang belum pulih dari shocknya kembali mengalami heart attack untuk kedua kalinya setelah melihat sepasang telinga yang berwarna hampir senada dengan rambut lelaki itu mencuat di sela-sela helai rambutnya. Disusul dengan benda panjang mirip ekor yang bergerak-gerak di belakang tubuh lelaki itu.

'T– Telinga?'

Pupil matanya kembali melebar.

'E– Ekor?!'

"S– SIAPA KAU SEBENARNYA?! D– DAN A– APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU?!"

.

.

.

Lost and Found

Chapter 2

.

.

Produce 101/Wanna One Fanfiction

Romance, Humor, Fantasy, Catboy!AU, Yaoi

Main!Jinseob couple

Rating: T++ to M

.

.

Happy Reading! –Buttermints-

.

.

.

Suasana kamar bernuansa putih itu tampak kembali tenang pasca kejadian penuh teriakan dan sumpah serapah yang tadi terjadi. Tampak dua lelaki yang duduk diam di posisi mereka masing-masing. Lelaki bersurai hitam tengah duduk di atas ranjangnya dengan mata yang memperhatikan gerak-gerik lelaki bersurai cokelat kemerahan yang terduduk di atas karpet.

Lelaki bersurai cokelat kemerahan itu tampak sedang memeriksa tubuhnya sendiri, mulai dari menyentuh helai rambutnya, menggerakkan jari-jari tangannya, sampai menggoyang-goyangkan kakinya. Raut wajah bingung bercampur senang terlihat di wajah tampannya. Sesekali benda panjang yang diyakini sebagai ekor tampak bergerak mengibas-ngibas di belakang tubuhnya.

Pandangan mata Hyungseob terpaku pada ekor yang sedang bergerak-gerak itu. Sesekali ia mencubit kecil pipinya kemudian memekik karena merasakan sakit. 'Aku tidak sedang bermimpi. Pipiku terasa sakit.' Pikirnya seraya mengusap-ngusap pipinya yang memerah karena dicubit. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dulu karena tampaknya lelaki lain yang terduduk di lantai masih asik dengan kegiatannya sendiri.

"Ekhm!"

Suara deheman Hyungseob membuat lelaki bersurai cokelat kemerahan itu menghentikan aktivitas –mari memeriksa tubuh– yang sedang ia lakukan. Sepasang telinganya berdiri tegak ketika lelaki itu mendongakkan kepalanya. Matanya mengerjap pelan, mencoba mengenali lelaki yang duduk di atas ranjang.

"Pertanyaan pertama, kau siapa?"

Mata Hyungseob menatap lelaki yang kini juga tengah memandangnya, kedua tangannya ia lipat di depan dada.

Lelaki itu diam sejenak, dahinya tampak berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Hening selama beberapa detik sebelum akhirnya lelaki itu mengucapkan kata pertamanya hari ini.

"Park Woojin."

"Pertanyaan kedua, kenapa kau bisa ada di kamarku, ah atau lebihi tepatnya di ranjangku."

Kali itu Hyungseob sengaja menekankan kata 'ranjangku', kemudian menunggu jawaban dari lelaki yang mengaku bernama Woojin itu.

"Semalam kau bilang padaku jika aku boleh tidur dimanapun aku suka, setelah kau memberiku susu."

Seketika sebuah senyuman lebar nampak di wajahnya. Ekornya kembali bergerak-gerak aktif, seperti seekor kucing yang baru saja menemukan seekor ikan segar.

Pernyataan Woojin seketika membuat Hyungseob terdiam dengan sebelah tangan menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya menampakkan bahwa ia sedang bingung ditambah dengan garis-garis tipis yang muncul di dahinya.

Hyungseob sedang berpikir keras. Memangnya semalam dia memberi susu pada manusia? Ia menggelengkan kepalanya, kemudian kembali melihat ke arah Woojin yang masih tidak beranjak dari tempatnya.

"Baiklah, pertanyaan ketiga. Kau ini sebenarnya apa? Setan? Siluman? Alien? Makhluk langka?"

"Aku menyebut diriku ini Hybrid. Jadi, tolong jangan sebut aku seekor siluman, itu menggelikan." Matanya menatap tajam manik hitam milik Hyungseob.

Tatapan mata lelaki bersurai cokelat kemerahan itu membuat Hyungseob terpaku, seakan-akan ia telah menjadi batu. Entah mantra apa yang telah dilepaskan oleh lelaki itu, dirinya merasa terdominasi oleh aura yang menguar dari lelaki di depannya.

"H– Hybrid?" Suaranya tercekat di tenggorokannya ketika bicara.

Woojin kembali menganggukkan kepalanya. "Aku kucing yang semalam kau beri susu."

Kepala Hyungseob seketika terasa pening, informasi yang sejak tadi didapatkannya dari Woojin membuat otaknya berpikir terlalu keras. Jujur saja semua informasi itu tidak bisa diterima oleh akal sehatnya, bagaimana bisa seekor kucing berubah menjadi manusia dalam semalam.

'Tidak mungkin... orang ini bohong padaku. Jangan-jangan dia laki-laki yang suka melakukan pelecehan seksual dan saat ini sedang menyamar.'

'Tapi... Aku masih berpakaian lengkap saat bangun tadi meskipun dia telanjang. Lagipula bagaimana caranya dia masuk ke rumah ini. Rumah ini dikelilingi pagar yang tinggi dan mustahil untuk dipanjat.'

Ruangan itu kembali hening. Hyungseob masih sibuk dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepalanya, sedangkan Woojin masih tetap dengan posisi awal duduknya, tidak bergeser sedikitpun.

Hyungseob kembali memperhatikan Woojin dari ujung kepala sampai ujung kaki, minus benda yang berada di tengah-tengah pahanya. Untuk bagian yang satu itu, Hyungseob sengaja melewatinya. 'Aku benar-benar harus menginterogasinya.' Pikirnya seraya melihat angka pada jam dinding. 'Masih jam 6 pagi, masih ada dua jam tersisa sebelum aku berangkat kerja.'

Suara deheman Hyungseob kembali menarik atensi Woojin yang sedang melihat-lihat sekeliling kamar itu.

"Ehm, jadi... bisa jelaskan padaku tentang 'Hybrid' dan 'Kucing yang bisa berubah menjadi manusia'. Lalu jelaskan juga kenapa kau bisa mengikutiku sampai ke rumah."

Garis-garis tipis di dahi Woojin kembali terlihat, kali ini dia berpikir dengan tangan yang ia tumpukan di dagunya. Tak lama kemudian ia menurunkan tangannya dan kembali bicara.

"Dulunya aku manusia, sama sepertimu. Aku dibesarkan di sebuah panti asuhan yang sangat jauh dari sini. Ketika umurku 16 tahun, aku dan teman-temanku pergi ke sebuah rumah yang menurut orang-orang ditinggali oleh seorang nenek penyihir. Katanya nenek itu sering melakukan praktek-praktek ilmu hitam seperti voodo dan sejenisnya."

Hyungseob mencoba mencerna informasi yang baru saja masuk ke otaknya, kemudian kembali mendengarkan Woojin yang melanjutkan ceritanya.

"Aku masih ingat saat itu si nenek melihat kami yang sedang mengintipnya ketika melakukan praktek voodo di dalam rumahnya. Sontak saja aku dan teman-temanku segera melarikan diri dari situ, sayangnya aku sedang tidak beruntung karena kakiku tersandung lantai kayu yang tidak rata hingga membuatku terjatuh dan akhirnya nenek itu menangkapku."

Hela nafas terdengar di ruangan itu, Hyungseob bisa melihat kedua telinga Woojin yang tadinya berdiri tegak menjadi terkulai.

"Karena takut aku membocorkan rahasianya ke seluruh penduduk, dia memaksaku meminum sebotol cairan yang rasanya aneh, kemudian tulang-tulangku terasa seperti diremukkan ketika tubuhku mulai menyusut dan akhirnya berubah menjadi kucing. Setelah itu si nenek membungkusku dengan karung dan tiba-tiba aku sudah ada di kota ini."

Woojin menjeda sejenak ceritanya.

"Saat itu tubuhku memang seekor kucing, tapi aku masih bisa berpikir layaknya manusia normal. Beberapa kali aku dipungut oleh beberapa orang, tapi aku memutuskan untuk tinggal terlalu lama dengan mereka, karena aku ingin menjadi manusia kembali."

"Jadi selama ini kau tidak pernah berubah menjadi seperti sekarang?" Hyungseob memotong kalimat lelaki itu.

"Tidak pernah, sampai aku lupa bagaimana caranya berjalan dengan dua kaki." Woojin menunjukkan cengirannya. "Entah sudah berapa tahun sejak kejadian itu terjadi. Ah, memangnya saat ini kita berada di tahun berapa?"

"2017."

"Berarti.. sudah sekitar tujuh tahun aku tidak berjalan–" Woojin kembali menggerak-gerakkan ekornya. "– dan tidak mandi."

"Oke.. baik.. lalu kenapa kau bisa mengikutiku sampai rumah dan kenapa kau bisa berubah kembali jadi manusia?" Sungguh, rasa penasaran Hyungseob menjadi semakin besar setelah mendengarkan cerita Woojin.

"Aa... sebenarnya aku sudah memperhatikanmu selama dua minggu terakhir. Aku bersembunyi dibalik pot besar di depan cafe tempatmu bekerja." Cengiran lebar itu kembali muncul di wajah Woojin. "Entahlah, saat pertama kali aku berpapasan denganmu, aroma tubuhmu yang terasa seperti campuran cherry dan vanilla seakan-akan menyuruhku untuk mengikutimu. Jadi sejak saat itu aku mulai menungguimu di depan cafe setiap hari sampai kau selesai bekerja."

Jemari ramping Hyungseob memijat pelan keningnya yang terasa pusing. "Lanjutkan..."

"Lalu tentang perubahanku ini... aku tidak tau kenapa." Woojin kembali terdiam seraya menggerakkan ekornya kesana-kemari. "Ah! Aku ingat!" Hyungseob terlonjak mendengar seruan tiba-tiba Woojin.

"Nenek itu bilang aku akan berubah menjadi manusia seutuhnya jika aku berhasil menemukan Mateku."

Mata Woojin kembali menatap manik hitam milik Hyungseob, kemudian ia mulai merangkak mendekati Hyungseob di atas ranjang. Mata Hyungseob membulat melihat pergerakan Woojin yang semakin mendekat padanya, seketika ia beringsut mundur hingga dirinya berada di tengah-tengah ranjang.

Lelaki bersurai cokelat kemerahan itu berhenti ketika pergerakannya terhalang oleh ranjang tempat Hyungseob duduk. Geraman kesal meluncur dari bibirnya. Ia ingin menghampiri lelaki yang saat ini tengah menatapnya dari atas ranjang, namun apa daya, kakinya terasa lemas saat ia mencoba berdiri.

Akhirnya ia menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan agar tubuhnya bisa berada lebih tinggi daripada ranjang di depannya. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Hyungseob yang semakin menjauh darinya.

"Mendekatlah sedikit, aku tidak bisa menjangkaumu."

"M– Menjauh dariku!"

"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Woojin mencoba membujuk Hyungseob dengan suara lembutnya.

Hyungseob masih memeluk erat-erat selimutnya. "Aku tidak mau!"

Suara geraman rendah kembali meluncur dari bibir Woojin. "Aku janji tidak akan melakukan hal aneh, mendekatlah sebentar. Aku hanya ingin memegang tanganmu."

Lelaki yang masih duduk diam di atas ranjang itu nampak berpikir seraya melihat ke arah jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 6 lebih 45 menit. 'Baiklah, Hyungseob kau hanya harus memberikan sebelah tanganmu, kemudian bersiap untuk pergi kerja. Jangan sampai kau terlambat hanya karena orang ini'.

"Baiklah. Tapi! J– Jika kau melakukan macam-macam, aku akan melemparmu lewat jendela."

"Ya ya... aku janji." Woojin kembali menyunggingkan senyum lebarnya, hingga menampakkan gigi gingsulnya.

Suara kain yang saling menggesek mengiringi gerakan Hyungseob yang perlahan mendekati Woojin. Setelah dirasa cukup dekat, ia mengulurkan tangannya pada Woojin. Uluran tangan itu segera disambut Woojin dengan antusias, ia mengusap punggung tangan Hyungseob perlahan.

Hyungseob terkejut ketika lelaki di depannya itu tiba-tiba mengendusi tangannya, sontak ia menarik tangannya agar menjauhi hidung Woojin, namun sia-sia karena pergelangan tangannya sudah lebih dulu di tahan oleh Woojin.

'Aromanya terasa sangat manis di hidungku. Aku belum pernah mencium yang seperti ini.'

Hidungnya terus mengendusi setiap inchi jari-jemari milik Hyungseob seakan-akan hidupnya bergantung pada lima benda panjang dan ramping itu.

Aroma manis yang terus menguar memasuki indra penciumannya itu seketika membangkitkan perasaan posesif yang tidak pernah muncul sebelumnya. Perasaan ingin memiliki serta ingin mengklaim orang ini sebagai miliknya seorang.

'Dia milikku.'

'Milikku, dia Mateku.'

Hyungseob merasakan deru nafas yang tidak teratur mengenai tangannya, ia kembali menaruh atensinya pada Woojin setelah sebelumnya ia berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sekali lagi matanya bertemu dengan bola mata Woojin yang kini tengah menatapnya.

'K– Kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku?' Lelaki bersurai hitam itu merasa tubuhnya bergetar saat melihat tatapan tajam Woojin yang terasa mengintimidasinya.

Sedetik kemudian tubuhnya terlonjak ketika merasakan sebuah benda basah menyentuh punggung tangannya.

'L– Lidah?!'

"YA! DASAR CABUL!" Tangan kirinya yang semula meremat bantal, kini telah berpindah tepat ke dahi Woojin.

"Ahk! Kenapa kau memukulku?!" Seketika Woojin melepas tangan kanan Hyungseob yang tadi ia pegang. Kemudian mengusap-ngusap dahinya yang baru saja dipukul keras oleh telapak tangan Hyungseob.

Bukannya mendapatkan jawaban, Woojin malah mendapatkan hadiah injakan yang lumayan pada ekornya yang berada di lantai. Suara jeritan pilu terdengar menggema di kamar itu, si pemilik ekor terlihat berguling-guling di atas karpet kemudian duduk dan meniup-niup ekornya yang terasa ngilu.

Pelaku penginjakan ekor itu sudah menghilang dari kamar ketika Woojin sibuk berguling-guling tadi. Saat ini si pelaku sudah berada di dalam kamar mandi, sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja.

"Apa benar orang seperti dia itu mateku?! Aish!"

.

.

TBC

.

.

Terimakasih buat yang udah ngereview, favorite, dan follow ff ini. Nggak nyangka bakalan banyak yang ngikutin dan baca, aku senang sekali readernimm.
Terimakasih banyakk.
Buat yang tanya kenapa si Woojin bisa berubah jadi manusia, di atas udah ada jawabannya yaa, tapi dia baru berubah jadi setengah manusia dan setengah kucing, belum sepenuhnya.
Oke, akhir kata, aku tunggu saran dan komentar readernim sekalian.
See you in next chapter~

Love

~Buttermints~