Finally, chap 2'y bisa rampung setelah sekian lama /huft...

tanpa basa-basi lagi...
Happy Read.. (jangan lupa Reviewnya ya ^^)

Disclaimer: semuanya masih milik Squar Enix


Tried to take a picture
Of love
Didn't think I'd miss her
That much
I want to fill this new frame
But its empty

Noctis POV

Sudah hampir 3 tahun sejak kecelakaan itu terjadi, tapi mengapa hingga kini aku tetap tidak dapat mengingat apapun tentang kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi. Semuanya seakan lenyap begitu saja. Dokter mengatakan bahwa amnesiaku tidaklah selamanya. Suatu saat semua ingatanku akan kembali. Tapi sampai kapan aku harus seperti ini? Mencoba meraba setiap gambaran yang kadang terlintas dibenakku. Kini aku hidup dengan memori yang tersisa, yang masih dapat kuingat. Aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku merasa ada yang tertinggal, tapi aku tidak tahu apa.

Tried to write a letter
In ink
Its been getting better
I think
I got a piece of paper
But its empty
Its empty

Normal POV

"Noctis." Panggil seorang wanita dari luar kamar.

Tanpa harus melihatnya, sebenarnya Noctis sudah bisa menebak siapa orang yang memanggilnya. Hanya saja Noctis sedang tidak ingin berurusan dengan orang itu. Orang-orang mengatakan bahwa dia adalah tunangannya, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang Noctis Lucis Caelum. Tapi mengapa Noctis merasa ada yang ganjil. 'Jika memang dia adalah wanita yang akan menjadi pendampingku. Kenapa aku tidak pernah merasa nyaman bila berada didekatnya. Bukankah seharusnya kita akan merasa nyaman dan tenang bila berada disisi orang yang kita sayangi.' Pikir Noctis.

"Noct." Masih terdengar wanita itu memanggil-manggil Noctis, kali ini dengan mengetuk-ngetuk pintu.

Beberapa saat kemudian, wanita tersebut berhenti mengetuk pintu kamar Noctis. Dia menganggap mungkin saja Noctis sudah tertidur. Akhirnya dia pun meninggalkan kamar Noctis.

"Akhirnya." Ucap Noctis sambil menghela nafas lega. Noctis bejalan menuju jendela kamarnya. Dilihatnya rembulan yang malam itu sedang purnama dan bersinar dengan terangnya. Cahayanya masuk kedalam kamar Noctis dan memberi penerengan diruang gelap itu. Noctis sengaja mematikan lampu dikamarnya agar orang-orang mengira ia sudah tertidur.

"Sebenarnya apa maksud dari mimpiku? Kau itu siapa?" Tanyanya kosong.

Belakangan ini, Noctis sering bermimpi tentang masa lalunya. Didalam mimpi itu, Noctis seperti sedang memutar video. Ia melihat segalanya dari sudut pandang orang ketiga. Dalam mimpinya, ia berada disebuah taman bersama seseorang namun Noctis tidak dapat melihat orang itu dengan jelas. Disana, Noctis dan gadis itu terlihat bersenang-senang. Noctis dapat mengetahuinya karena dalam mimpinya, ia tersenyum dan tertawa bersama gadis disampingnya itu. Hal yang tidak bisa ia lakukan didunia nyata. Kenyataannya, ia selama ini hanya memasang topeng didepan semua orang. Walau itu bukan kemauan pribadinya, tapi sepertinya ia melakukan hal itu begitu saja secara serentak. Bahkan kadang dihadapan sahabatnya, Noctis masih memakai topeng itu. sebenarnya ia benci melakukan hal itu, tapi ia sendiri tidak bisa berbuat banyak.

Rasa penasaran yang amat besar mendorong Noctis meminta tolong kepada para sahabatnya untuk mencarikan informasi tentang dirinya selum kecelakaan yang merenggut ingatannya terjadi. Noctis berharap mungkin saja dia dapat bertemu lagi dengan gadis dalam mimpinya. Yang Noctis tahu tentang gadis itu hanya senyuman indahnya yang sehangat mentari pagi dan tatapan matanya mampu membuat semua orang terhipnotis dengan keindahannya. Ya, memang tak ada kata lain yang dapat menggambarkan gadis dalam mimpinya selain "Indah", dialah keindahan yang sempurna. Memang, akan susah untuk mencari gadis dalam mimpinya tersebut. Karena Noctis tidak memiliki petunjuk apapun mengenai gadis itu selain senyuman dan mata ceruleannya.

Maybe we're trying
Trying too hard
Maybe we're torn apart
Maybe the timing
Is beating our hearts
We're empty

"Mungkin saja, kenapa tidak? Harapan itu selalu adakan?" Ujar Laris.

"Iya, tapi kemungkinannya sangat kecil. Kita tidak memiliki petunjuk lain. Noct, tidakah ada hal yang lebih spesifik mengenai gadis ini?"

"Andai saja aku dapat mengingatnya, selain dia tinggal di suatu tempat di Cocoon. Maafkan aku Brad, hanya itu yang aku ingat."

"Baiklah, aku akan datang dalam tiga sampai empat hari lagi. Iya nanti aku hubungi lagi. Thanks bro."

"Siapa Marc?" Tanya Laris.

"Salah seorang saudaraku. Karena ku pikir kita pasti akan lumayan lama berada di Cocoon, maka aku menghubunginya. Siapa tahu saja dia bisa membantu kita."

"Aku tak menyangka kau sudah berpikir sejauh itu. ini hal yang tidak biasa." Ucap Laris terkagum dengan mimik meledek.

"Maksudmu apa? Aku tidak bisa bertindak pintar seperti Brad atau Noctis?"

"Karena kau itu bukan tipe orang yang berpikir panjang, biasanya kau bertindak sebelum berpikir." Ledek Laris.

"Kau itu..!" Ngertak Marcus sambil mengejar-ngejar Laris mengelilingi apartment Bradley.

Noctis dan Bradley hanya bisa diam melihat tingkah para sahabatnya itu. "Mereka seperti anak kecil saja ya?" Ledek Bradley. Tapi orang yang dia ajak bericara hanya diam saja. Merasa tidak ditanggapi Brad melihat ke arah Noctis. Betapa terkejutnya saat Bardley melihat sahabatnya itu tengah memegangi kepalanya. Wajahnya pucat seperti orang kesakitan.

"Noct!" Teriak Bradley membuat kedua temannya yang sedang kejar-kejaran berhenti, mereka melihat Bradley tengah menghampiri Noctis yang sedang merintih kesakitan. Mereka pun bergegas menghapiri Noctis.

"Noct, kau baik-baik sajakan?" Tanya Bradley cemas.

"Noct, bertahanlah, aku akan memanggil ambulan." Saat Marcus mencoba menelpon ambulan, Noctis memegangui tangannya. Marcus hanya terheran.

"Aku tidak apa-apa, kalian tak perlu menelpon ambulan."

"Tapi kau kesakitan Noct."

"Aku baik-baik saja Laris, ini sudah biasa." Jawab Noctis dengan senyum lemah. Noctis mencoba meyakinkan kalau ia baik-baik saja. Walau para sahabat Noctis kurang yakin dengan kondisi Noctis, mereka akhirnya menuruti Noctis agar tidak menelpon ambulan.

"Sebenarnya kau itu kenapa Noct, kau bilang ini sudah biasa. Apa kau sudah memeriksakannya?" Tanya Marcus cemas.

"Iya, dokter bilang ini hal yang wajar. Mengingat adanya pendarahan dikepalaku, hal ini terjadi jika aku merasa tertekan atau aku mencoba mengingat terlalu keras. Sungguh, kalian tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."

"Apa ini karena aku memaksamu untuk mencoba mengingat akan gadis itu?"

"Tak apa Brad."

"Atau itu karena Laris yang dari tadi terus bertingkah seperti anak kecil?" Ledek Marcus yang soba mencairkan suasana.

Noctis malah tersenyum. "Tidak, harusnya aku yang berterima kasih kepada, apa lagi setelah melihat kau dan Laris saling bekejaran. Aku jadi teringat akan satu hal."

"Apa itu?" Tanya Laris heran.

"Gadis itu berada disalah satu daerah di Bodhum."

"Bagaimana kau yakin?"

"TV"

"Huh?"

"Coba kalian lihat di TV."

Lalu semua orang diruangan itu melihat kearah yang ditunjuk Noctis. Mereka menyaksikan berita yang ada di TV, berita itu sedang membahas tentang tempat menarik dan wijib dikunjungi yang ada di Cocoon.

"Aku ingat, aku pernah berada melihat pesta kembang api tahunan disana."

"Benarkah?" Tanya Laris.

"Mmm… Aku ingat kau pernah mengatakan kalau kau pernah berada disana, jadi siapa tahu saja disanalah kau bertemu dengan gadis pujaanmu." Ledek Bradley dengan senyum menggoda.

"Kalau begitu mungkin memang ini keberuntunganmu. Saudaraku yang ada di Cocoon pun tinggal di Bodhum."

"Wow man, kau memang orang yang paling beruntung yang pernah aku kenal. Sudah kau berhasil selamat dari kecelakaan maut, sekarang kau bahkan bisa menemukan gadis pujaanmu lagi." Kagum Laris.

"Kurasa tidak juga."

"Kenapa?"

"Karena, jika aku memang beruntung seperti yang kau katakan, aku pasti sudah mengingatnya dari dulu. Bukan tiga tahun setelah semuanya terjadi."

"Sudahlah kawan, itu pun bukan kemauanmu."

"Tapi tetep saja. Aku yakin dia kini membenciku karena sudah meninggalkannya selama ini tanpa kabar, atau mungkin dia sudah memiliki kekasih baru bahkan sudah menikah. Apa masih pantas aku disebut beruntung?" Jawab Noctis sambil mengacak-acak rambutnya.

"Kau tidak boleh putus asa seperti itu, siapa tau saja gadis itu masih terus menunggu kedatanganmu." Hibur Marcus.

"Namanya saja aku tidak ingat. Masih pantaskah aku untuk bertemu dengannya?" Bentak Noctis. Semuanya pun terdiam.

"Setidaknya kau bisa memintaa maaf."

Semuanya kemudian melirik kearah Bradley. "Iya, jika memang pada akhirnya gadis itu membenci dan tidak mau lagi bertemu denganmu. Setidaknya kau harus minta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Gadis itu berhak mendapatkan penjelasan atas hilangnya kau selama ini. Kau pun berhak menerima kesempatan kedua, karena pada dasarnya ini semua bukan atas kuasa-mu musibah itu terjadi." Jelas Bradley.

"Wow, ternyata kau bisa bicara tentang hal seperti ini juga. Ku kira kau tak tahu apa-apa kalau hal itu berhubungan dengan masalah seperti ini."

"Maksudmu Noct?"

"Biasany kau lebih banyak angkat tangan jika masalahnya sudah berhubungan dengan masalah asmara."

"Kalian tidak tahu ya, kalau akhir-akhir ini dia sedang dekat dengan seseorang." Ledek Marcus.

"…."

Melihat sikap Brad yang salah tingkah malah membuat semuanya tertawa. Siapa yang menyangka kalau seorang Bradley yang sangat awam dan pemalu bahkan melebihi Noctis dalam soal asmara bisa mengatakan hal semacam itu. terlebih lagi kini ia sedang dekat dengan seseorang. Noctis bertanya-tanya dalam hati, "Buku apa yang dia gunakan sebagai referensi ya?". Tapi bagaimana pun mereka turut merasa senang karena akhirnya Brad mulai membuka dirinya untuk seorang wanita. Mengingat bagaimana selama ini dia selalu bersikap acuh dengan wanita. 'Andai saja…'

Lamunan Noctis terganggu saat tiba-tiba hp-nya bordering. Saat dilihat caller-id nya, ternyata itu telpon dari rumahnya.

"Siapa Noct?" Tanya Marcus.

"Sepertinya aku sudah harus kembali." Jawab Noctis sambil memperlihatkan siapa yang menelponnya.

"Apa kau mau ku antar?" Tawar Bradley.

"Tidak terima kasih, aki bisa pulang sendiri." Tolak Noctis sopan.

"Kalau begitu nanti akan ku hubungi kau soal rencana kita tadi."

"Hmm. Aku pamit dulu."

"Hati-hati kawan." Panggil Laris.

And I've even wondered
If we
Should be getting under
These sheets
We could lie in this bed
But its empty
Its empty

Malam ini, seperti malam-malam lain. Noctis tidak dapat memejamkan matanya. Semejak dia mulai memimpikan tentang gadis itu, noctis menjadi sulit untuk tidur. pikirannya akan selalu berterbangan mencoba untuk mengenali siapa sebenarnya gadis itu. Setiap malam, bahkan disetiap waktu Noctis selalu terbanyang akan senyumnya.

Maybe we're trying
Trying too hard
Maybe we're torn apart
Maybe the timing
Is beating our hearts
We're empty

"Noctis…!" Teriaknya.

"Coba kejar kalau kau bisa." Ejekku.

"Awas ya kau! Akan kutangkap kau!" jawabnya.

"Dwuuuaarrr!" Suara petir yang sangat keras tiba-tiba terdengar dan membangunkan Noctis dari tidurnya.

"Arrgg! Kenapa hanya karena suara petir itu aku terbangun?" Kutuk Noctis.

Kenapa disaat ia dapat tertidur dan memimipikan gadis itu lagi ia malah terbangun hanya karena hal seperti itu? kenapa sepertinya untuk bertemu dengannya walau hanya dalam mimpi sangatlah sulit. Apa dia salah karena menginginkan gadis itu kembali? apa ia terlau memaksakan dirinya?

"Kenapa?" Bisik Noctis.

We're empty
We're empty