.
.
A Romantic Story About Love "HAEHYUK YAOI VER" (Remake Story)
.
Desclaimer:
Cerita ini adalah murni bukan karya saya, ini hanya bentuk Remake dari Novel luar biasa karya Santhy Agatha dengan judul asli "A Romantic Story About Serena". Dengan perubahan genre menjadi Boys Love alias YAOI, pergantian cast sesuai dengan bayangan saya serta penambahan dan pengurangan di sana sini sesuai dengan kebutuhan jalan cerita. Semua Cast yang nantinya ada di sini murni milik Tuhan, Orang Tua, dan diri mereka sendiri, karena saya hanya meminjam nama. Tapi untuk Lee Donghae, masih diharapkan hanya menjadi milik saya dan hanya dengan Lee Hyukjae saya rela berbagi ^ , ^.
Untuk penggambaran sosok Donghae dan Hyukjae dalam cerita ini, silahkan bayangkan seperti gambar cover-nya ya...
.
Bagi yang tidak suka dengan semua yang berbau Remake, jangan dibaca, Monggo silahkan langsung tutup ini halaman dengan cara klik tanda silang di pojok kanan atas. Jangan ada bash apalagi hujatan, karena itu terlalu buang-buang energi anda.
Terima Kasih
.
Selamat Membaca ^^
.
.
BAB 2
Hyukjae berjalan sembari menggerutu dalam hati.
'Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk mengembalikan payung? Dia bahkan lebih dari berkuasa menyuruh office boy atau sekretarisnya untuk mengurus payung itu'.
Hyukjae tahu benar bosnya itu sangat sibuk. Gosip yang terdengar mengatakan jika Donghae adalah seorang workaholic sejati yang menghabiskan waktu dua puluh jam sehari untuk bekerja.
Atau lebih mudahnya, kenapa tak ia buang saja payung itu? Lagipula Hyukjae tak akan berani menagihnya kan? Hyukjae merutuk dalam hati saat ia memasuki lift yang mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO. Ini kedua kalinya Hyukjae ke ruangan ini, sungguh tak disangka, dua tahun bekerja di sini Hyukjae hampir tak pernah bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi perusahaan yang begitu diagung-agungkan. Tapi sekarang, dua hari berturut-turut Hyukjae dipanggil menghadap sang Presiden Direktur.
Lift terbuka dan Hyukjae dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekretaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat begitu kaku itu menatap Hyukjae intens. Sepertinya ia juga bertanya-tanya, kenapa pegawai rendahan macam Hyukjae sampai dipanggil dua kali menghadap langsung sang CEO. Padahal setahunya, pemimpin perusahaan itu hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaan. Itupun melalui meeting resmi perusahaan dan melalui seleksi janji pertemuan yang rumit.
"Sajangnim sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu anda. Saya sudah menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan anda langsung masuk", sekretaris itu berucap dengan nada datar nan dingin.
..:: [HaeHyuk] ::..
Donghae baru saja menyelesaikan meeting peting dan dengan segera kembali ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuatnya begitu terburu-buru kembali, tanpa sadar membuatnya mengerutkan dahi. Dia sudah menelpon atasan Hyukjae tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan pemuda itu. Dan atasan Hyukjae begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah ia tak peduli lagi kenapa Hyukjae sampai terlambat.
'Yah, mungkin setidaknya dia akan berterimakasih padaku,... atau malah jengkel?' Donghae tersenyum sinis. Menilik sifat Hyukjae, sepertinya pemuda itu akan tambah jengkel dengannya.
Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Donghae termenung. Hyukjae tidak berbohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan alamat tempat tinggalnya memang hanyalah sebuah flat kecil yang begitu sederhana. Bahkan Hyukjae tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi. 'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi.
Apakah Hyukjae benar-benar sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di flat, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?
Apa dia sakit? Memikirkan itu, seketika Donghae merasa dadanya nyeri. Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak. Hyukjae itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini. Kalau begitu, dia pasti seseorang yang suka menghambur-hamburkan uang, Donghae menyimpulkan.
Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Donghae rela memberikan uang sebanyak yang Hyukjae mau asal Hyukjae mau melayaninya. Donghae sangat kaya, dan memiliki seseorang seperti Hyukjae yang benar-benar memacu hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.
Lamunan Donghae terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan Hyukjae. Donghae menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya. Dia punya penawaran bagus, dan jika Hyukjae benar seperti apa yang diduganya, dia pasti tak akan mempu menolaknya.
..:: [HaeHyuk] ::..
"Kata Tuan Jang anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal". Hyukjae berucap sopan ketika Donghae mempersilahkannya duduk. Donghae tidak menjawab hingga Hyukjae menatapnya bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu, tapi pikirannya seolah tak di situ.
"Sajangnim?"
Donghae mengerjap.
"Oh! Payung", gumamnya seolah baru teringat akan hal itu.
"Ada di meja sekretarisku, kau bisa memintanya padanya".
Hyukjae mengerutkan kening keheranan. Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku menghadapnya? Ketika Donghae sepertinya tak akan berkata apa-apa lagi, Hyukjae segera bangkit dari kursi.
"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya. Terima kasih dan maaf telah merepotkan anda. Permisi Sajangnim." Hyukjae bergumam setengah berbalik.
"Tunggu Lee Hyukjae!" Suara Donghae terdengar lembut, dan dengan enggan Hyukjae membalikkan badannya. Donghae ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri berhadap-hadapan dengan Hyukjae.
"Aku meralat ucapanku tadi pagi". Hyukjae mengerutkan kening mendengar ucapan seseorang di depannya.
"Tentang?"
"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu. Sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah." Mulut Hyukjae ternganga dan dia tak mampu berkata apa-apa, pernyataan itu begitu mengagetkannya bagaikan petir di siang bolong.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku,... mmm.., bukan kekasih. Apa ya istilahnya? Mmmm Simpanan?" Donghae tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock yang Hyukjae tunjukkan.
"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku." Suara Donghae begitu rendah dan merayu.
"Dan kau tak perlu khawatir akan rugi, kau tahu aku kekasih yang murah hati. Aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa pindah dari flat kecilmu itu. Dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam. Dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau ingnkan akan kubelikan. Mobil mewah, fasilitas mewah dan semua hal yang penuh kemewahan. Aku tahu kau menyukainya Hyuk, karena sepertinya gaya hidupmu sangat mahal sampai-sampai kau harus berhutang puluhan juta ke perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan ku lunasi. Bagaimana Lee Hyukjae? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu."
Ketika Donghae akhirnya mengakhiri pidatonya, Hyukjae sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau manusia yang tidak punya harga diri! Tapi lelaki itu menawarkan kepadanya?! Kepadanya! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!
"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu pria seperti apa kau dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas..."
PLAAAKKK!
Tamparan itu begitu keras sampai kepala Donghae terlempar ke belakang. Suara tamparan itu bahkan menggema di ruangan tempat mereka berada sekarang.
"Berani-beraninya anda!", napas Hyukjae terengah-engah.
"Berani-beraninya anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya! Anda pikir saya manusia macam apa? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan...". Suara Hyukjae terhenti saat melihat ekspresi Donghae.
"Menjijikkan katamu?"
Jika tadi Donghae tak marah karena tamparan Hyukjae, sekarang dia benar-benar marah.
"Jika menurutmu aku menjijikkan..." Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
Entah bagaimana Hyukjae mengetahui jika kendali diri lelaki itu lepas. Dengan panik dan takut Hyukjae setengah berlari menuju pintu. Tapi terlambat, Donghae bergerak secepat kilat menerjangnya. Hyukjae berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Donghae mendorongnya kembali tertutup. Lelaki itu menghimpitnya dipintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah.
"Le…. lepaskan saya S-sajangnim! Atau saya akan berteriak dan menuntut anda atas pelecehan..."
Donghae tak peduli, lagipula ruangan ini kedap suara. Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Hyukjae, bibir Donghae mencari-cari bibir Hyukjae, tubuhnya makin menekan Hyukjae ke pintu.
Hyukjae menggelengkan kepala berusaha menghindar dengan membabi buta hingga bibir Donghae hanya menempel di rahangnya. Hyukjae mencoba meronta melepaskan diri, tapi tubuh Donghae yang lebih besar darinya menghimpitnya ke pintu, dan tangannya mencengkeram kedua tangan Hyukjae di kiri dan kanan kepalanya.
Hyukjae masih meronta sekuat tenaga mencoba lepas dari kungkungan lelaki di depannya. Tetapi sepertinya Donghae tak mau menyerah akan perlawanan yang diberikan Hyukjae. Sampai kemudian ketika Hyukjae membuka bibirnya untuk berteriak, Donghae memagut bibir itu.
Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Donghae melumat bibir Hyukjae seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar. Mengecap, melumat, dan menikmati bibir Hyukjae yang terasa semanis madu baginya.
Hyukjae sesaat terlena merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Donghae untuk menciumnya semakin dalam. Seluruh tubuh Donghae menempel ditubuh Hyukjae, semakin mendorong tubuh yang lebih kecil darinya itu ke pintu. Setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Hyukjae, lidah Donghae mulai mencecap dan mencoba-coba membelai masuk ke dalam goa hangat Hyukjae.
Hyukjae mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu! Tapi perlakuan Donghae begitu lembut, dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah. Lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Hyukjae. Donghae mengerang dalam ciumannya, oh ya Tuhan! Nikmat sekali! Erangnya dalam hati. Dan hanya dengan itu gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket. Hyukjae terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan. Sekujur tubuh Donghae menginginkan sosok ini, sangat menginginkannya!
Jemari Donghae merayap naik dan menyelinap di antara jari Hyukjae sehingga Jari-jari mereka saling bertautan. Donghae mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup. Sejenak Hyukjae merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga. Rasa ciuman ini...Ya Tuhan, Siwon bahkan tak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Siwon...Ya Tuhan!
Hyukjae mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Donghae. Mulut Donghae yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi. Hyukjae mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.
Suasana Ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan. Hyukjae bahkan tak tahu itu napas siapa, Donghae masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya. Bibirnya begitu dekat dengan bibir Hyukjae, hingga deru napas keduanya saling menyatu. Mata Donghae tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Hyukjae sinarnya begitu tajam
"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu. Kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong..."
Dengan tiba-tiba Hyukjae mendorong Donghae hingga mundur beberapa langkah. Ditatapnya Donghae dengan mata marah menyala-nyala.
"Dasar bajingan!, kau bermimpi kalau aku menginginkanmu, kau tak akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi!, kau begitu menjijikkan!"
Suara Hyukjae serak karena menahan tangis...Jangan..., Jangan! Kau tak boleh menangis Hyukjae! Walau bagaimanapun kau juga laki-laki! Lagipula nanti dia akan semakin merendahkanmu! Desis Hyukjae dalam hati.
Donghae memandang Hyukjae dengan pandangan tajam merendahkan. Disusul dengan satu seringai tipis yang muncul di bibir tipisnya.
"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."
"Lebih baik aku mati!"
Hyukjae setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya. Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Hyukjae yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan. Rambutnya kusut dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Tapi Hyukjae tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu! Dengan langkah berderap, Hyukjae memasuki lift meninggalkan ruangan itu.
..:: [HaeHyuk] ::..
Donghae mengusap mulutnya yang terasa panas. Dia merasa sedikit bodoh karena bertindak begitu agresif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip. Donghae menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat. Sudah lama sekali Donghae tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sunsum.
Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar? Donghae mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali. Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.
Masih mengernyit, Donghae menghempaskan tubuhnya ke kursi. Tapi jika Hyukjae seperti yang dia tuduhkan, kenapa pemuda itu begitu marah? Seharusnya Hyukjae bahagia atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung Hyukjae?
Tidak! Dengan cepat Donghae menyingkirkan keragu-raguannya. Semua orang terutama pegawai rendahan seperti Hyukjae sama saja. Semua orang tak mungkin menolak jika berhubungan dengan materi. Mungkin tawarannya masih kurang bagi Hyukjae, atau mungkin Hyukjae hanya mencoba jual mahal. Wajah Donghae menggelap mengingat kata hinaan Hyukjae barusan, Menjijikkan katanya ?
"Lihat saja Lee Hyukjae, setelah kau menyadari betapa banyak yang bisa kuberikan padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu". Sumpah Donghae dalam hati.
..:: [HaeHyuk] ::..
Suasana hati Hyukjae benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian, bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk di hatinya. Hyukjae merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan CEO nya tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu. Ruangan yang sudah sangat familiar dengannya
Apapun yang ada dipikiran Hyukjae tadi langsung buyar begitu melihat seseorang yang sudah amat sangat ia kenal menyongsongnya dengan wajah pucat pasi.
"Kemana saja kau Hyuk? aku mencoba menghubungimu sejak dua jam yang lalu, tapi kau tak bisa dihubungi!"
Wajah Hyukjae langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Siwon dirawat. Leeteuk ikut berlari mengikuti di belakang Hyukjae.
Hyukjae terpaku di depan ruangan Siwon dengan napas terengah-engah. Dokter dan beberapa perawat lain masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Siwon. Leeteuk tiba dibelakang Hyukjae dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya.
"Dia sudah tidak apa-apa, kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat. Kenapa kau tadi tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Siwon dalam kondisi paling kritis, saat itu kau pasti ingin bersamanya",
Air mata tanpa diperintah menetes di pipi Hyukjae. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Siwon kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Hyukjae mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat. Ya Tuhan, seandainya tadi Siwon...
Hyukjae memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir semakin deras, dia tak berani membayangkan semua itu. Leeteuk memeluknya dengan penuh kasih sayang, seperti sosok ibu yang menenangkan anaknya. Hyukjae memeluknya erat, menumpahkan air matanya di bahu sosok berhati lembut itu yang sudah dianggap sebagai Hyungnya. Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Hyukjae semakin cemas.
"Bagaimana kondisinya dokter?" Suara Hyukjae gemetar ketakutan. Dokter itu menarik napas panjang.
"Siwon pria yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang. Tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya, kami harus mengoperasi ginjalnya."
"Mengoperasi ginjalnya?" Hyukjae mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris.
"Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan!" Tubuh Hyukjae menjadi lunglai, untunglah Leeteuk yang ada di sampingnya dengan sigap menahan tubuhnya. Air mata mengalir semakin deras di pipi Hyukjae.
"Apakah... Apakah tidak ada cara lain ...?" Dokter itu menarik napas prihatin.
"Siwon dalam kondisi yang tidak lazim, dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi. Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu, operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin".
Hyukjae menarik napas dalam dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.
"Baik dokter, lakukan operasi itu, apapun agar Siwon selamat". Suaranya Hyukjae mulai gemetar.
"Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut dok?" Seluruh tubuh Hyukjae menegang, tangannya terkepal seolah-olah menanti hukuman. Dokter itu menatapnya sedih, rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab.
"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki Tiga ratus Juta".
..:: [HaeHyuk] ::..
Hujan turun lagi dengan sangat deras, bahkan payung itupun tak bisa melindungi tubuh kurusnya dari percikan air hujan. Mantel hitamnya bahkan sudah setengah basah, tapi Hyukjae tak peduli. Dimana Dia?!
Hyukjae menatap sekeliling parkiran itu dengan panik. Hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu. Apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan. Kecuali dirinya sendiri tentunya. Ya Tuhan ... Dimana Dia?!
Hyukjae menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkir khusus direksi yang tak kalah mewahnya, dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.
Lelaki itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam delapan malam. Dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan. Sekarang hari jumat. Dan Hyukjae menunggu dengan cemas. Bagaimana jika lelaki itu sebenarnya sudah pulang? Jika tidak hari ini, mungkin saja akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat di kepalanya, hingga Hyukjae tidak memperhatikan derasnya hujan yang semakin membasahi tubuhnya yang tidak terlindung oleh payung yang dipegangnya. Lalu pintu lobby itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Hyukjae akhirnya melangkah keluar.
..:: [HaeHyuk] ::..
Seorang security membawa payung hitam besar dan memayunginya, ketika Donghae melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju tempat mobilnya diparkir. Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Hyukjae. Tetapi ketika jarak mereka semakin dekat, Donghae menyadari bahwa Hyukjae lah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan. Menunggunya, dan tubuhnya sedikit bergetar.
"Wah, ada apa gerangan sampai anda menyempatkan diri menunggu saya disini?"
Sebenarnya Donghae sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran security yang memayunginya.
"Ssaa...ssaya...ingin bicara dengan anda".
Donghae mengernyit menyadari suara Hyukjae yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi. Apakah dia kedinginan? Berapa lama pemuda itu menunggunya di luar sini? Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih sosok itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya.
Donghae melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan, lalu mengisyaratkan security itu untuk meninggalkan mereka. Setelah petugas keamanan itu menjauh, Donghae menatap Hyukjae dengan gusar.
"Demi Tuhan! Tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payung itu tak berguna, kau hampir basah kuyup!"
Sejenak Hyukjae ragu, tapi Donghae benar. Tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang. Dengan hati-hati, dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Donghae. Pria itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak banyak". Gumam Donghae sombong. Hyukjae menatap Donghae penuh tekad meski gemetaran.
"Sa...Saya menawarkan diri kepada anda, anda boleh memiliki saya semau anda".
Donghae menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu Hyukjae menyerahkan diri kepadanya.
"Kau pikir aku masih berminat padamu?". Gumaman itu terdengar cukup mengejek. Wajah Hyukjae pucat pasi, kata-kata Donghae bagaikan menamparnya keras. Tapi dia bertahan. Demi Siwon, tekadnya dalam hati.
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran dimuka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi"
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!"
Donghae membentak keras. Gusar karena sikap penuh tekad Hyukjae, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran lelaki itu. Tapi ketika melihat Hyukjae hampir terlonjak kaget karena bentakannya, secara spontan Donghae melembut,
"Oke, Berapa?"
Hyukjae mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. Donghae mendesah tak sabar.
"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan". Dengan sengaja Donghae melirik jam tangannya seolah tak tertarik. "Aku tak punya banyak waktu untukmu". Hyukjae menelan ludah gugup, sedikit ragu untuk berucap.
"Ti..Tiga ratus...juta.."
"Apa?" Donghae membelalakkan mata tak percaya.
"Tiga ratus juta". Kali ini Hyukjae berhasil terdengar mantap. Donghae mengernyit menatap Hyukjae seakan jijik.
"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?!".
"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?" Donghae mendesis. "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko."
"Kalau begitu anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini".
Hyukjae mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah-olah mengobrolkan penjualan barang. Donghae terdiam, tampak menimang-nimang usulan Hyukjae, lalu wajahnya mengeras.
"Tidak! Ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula...", Donghae memandang Hyukjae dengan tatapan menghina.
"Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu. Sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam". Donghae hendak membalikkan badan meninggalkan Hyukjae.
"Lupakan saja, seorang yang terlalu murahan memadamkan gairahku".
Hyukjae langsung panik melihat Donghae membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya. Tidak! Oh Tidak ! Laki-laki itu tak boleh menolaknya! Dialah satu-satunya harapan Hyukjae untuk menyelamatkan nyawa Siwon!
Dalam keputusasaannya, Hyukjae melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak. Ditariknya lengan Donghae, dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Hyukjae melingkarkan kedua lengannya di leher Donghae dan mencium bibirnya!
Tubuh Donghae kaku dengan rasa terkejut yang luar biasa. Pemuda manis di depannya, dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta. Jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Donghae langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang ramping Hyukje, menariknya agar semakin merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir menggoda itu habis-habisan. Ciuman Donghae sangat ganas dan penuh gairah, dan Hyukjae meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Donghae menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Hyukjae. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Donghae benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak seseorang dalam rengkuhannya ini. Donghae baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Hyukjae yang mulai terengah.
Mereka berdiri dengan rapat dan Donghae masih memeluk pinggang Hyukjae. Lengan Hyukjae masih bertengger di pundaknya, berpegangan seolah-olah takut terjatuh jika ia tak melakukannya. Donghae menatap Hyukjae tajam. Bibir Hyukjae agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang,
Well cium saja aku dan aku akan terbakar, geram Donghae dalam hati. Dengan kaku dilepaskannya rengkuhan tangannya pada pinggang Hyukjae, lalu ia menjauhkan tubuhnya perlahan.
"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani".
Donghae menatap Hyukjae geram, lalu membalikkan tubuhnya berjalan menuju mobil.
"Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli".
.
.
..:: [TBC] ::..
.
.
Pokoknya di cerita ini dan seterusnya, anggaplah jika BL/ YAOI, dan segala hal yang berhubungan dengan itu adalah suatu hal yang umum seumum umumnya. Ok. Terima Kasih ^-^.
