You're My Treasure
Cast: Kaisoo
Support Cast: EXO member
Genre: School life, romance, drama
Warning: Genderswitch for uke, OOC, typo(s), tidak sesuai EYD, dll
.
.
.
.
.
PREVIOUS CHAPTER
Tak lama Jongin mendapatkan pesan beserta foto seseorang. Segera ia membalas pesan tersebut dan mengirimnya. Tak butuh waktu lama, apa yang ia cari akhirnya ia dapatkan.
Nama: Do Kyungsoo
Lahir: 12 Januari, Busan.
Keluarga: ayah, ibu, kakak. Tapi mereka mennggal dalam kecelakaan beruntun 4 tahun yang lalu.
Sekarang Kyungsoo tinggal di rumah sahabatnya yang bernama Minseok di jalan xxx, mendapat beasiswa di Seoul International High School di kelas 2-A, dan bekerja part time di espresso cafe sebagai waitress.
Jongin menganggukan kepalanya membaca biodata gadis yang membuat ulah dengannya. Ia menyeringai, "Do Kyungsoo kau tak akan bisa lari dariku."
.
.
.
CHAPTER 2
Kyungsoo tidak mengerti lagi kenapa makhluk batu semacam Kim Jongin berada di depan flat kecilnya. Dan yang lebih parahnya lagi dia menyeret Kyungsoo untuk menaiki ferarri merahnya. Kyungsoo benar-benar malas untuk berdebat di pagi yang indah ini jadi ia hanya diam saja.
"kemana bugatti limited edition mu itu?" tanya Kyungsoo sambil melihat sekilas kearah Jongin yang sedang fokus menyetir.
"di bengkel kalau kau lupa." Jawab Jongin datar. Kyungsoo hanya bergumam oh sebagai balasan. Kemudian keadaan menjadi hening. Tak ada yang mau memulai percakapan hingga mereka tiba di sekolah. Ketika Kyungsoo hendak pergi menuju kelasnya namun tangannya dicekal oleh Jongin.
Kyongsoo menggeram. "apa lagi?"
Jongin melempar tasnya dan langsung ditangkap oleh Kyungsoo lalu melewati Kyungsoo begitu saja. Kyungsoo mendelik, menggerutu sebentar sebelum mengejar Jongin.
"apa-apaan kau ini?"
"kau itu pembantuku, apa kurang jelas?"
Kyungsoo merengut lalu menghela napasnya. Semangat Kyungsoo, kau pasti kuat menghadapi si manusia batu itu! Ucapnya dalam hati.
"eoh Jongin, siapa?" jongin menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada di pintu kelas. Kyungsoo ikut berhenti dan menatap gadis cantik yang berada di hadapan Jongin sambil menunjuknya.
"oh, hanya pembantuku, Lu." Luhan, gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu ia memberikan beberapa tumpuk kertas, "ini adalah beberapa proposal yang terlah dibuat oleh Yixing untuk sponsornya, kau bisa memeriksanya terlebih dahulu."
Jongin mengambilnya, "baik. Katakan pada yang lain nanti setelah pulang kita akan rapat untuk menentukan peserta dan tanggal yang tepat untuk pensi mendatang." Ucap Jongin sambil berjalan kearah mejanya diikuti Kyungsoo dan Luhan.
"baiklah, apa ada lag—"
BRUK
"sudah kan? Aku akan kembali ke kelas kalau begitu, permisi." Kyungsoo melempar tas Jongin ke mejanya, membungkuk sebentar lalu melenggang keluar. Saat di pintu ia bisa mendengar suara Jongin yang begitu tajam.
"pulang sekolah. Aku menunggumu di ruang osis." Gadis bertubuh mungil itu tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan keluar tanpa melihat sang pemilik suara yang menggeram menahan emosi.
"siapa dia, Jongin?" tanya Luhan penasaran.
"bukan siapa-siapa. Sudah kau kembali saja ke tempatmu. Aku ingin tidur." Jongin mulai menaruh kepalanya di meja menghadap kearah dinding. Luhan menghela napasnya dan kembali ke tempat duduknya.
..
"KAU APA? Ka-kau... Jongin?"
"aish Baek, pelan-pelan." Kyungsoo membekap mulut Baekhyun yang langsung dipukuli oleh sang korban. Kyungsoo meringis dan mengelus tangannya.
"serius Kyung? Jongin? Kim Jongin?" Baekhyun mengguncang bahu Kyungsoo, mengulang pertanyaan dengan heboh.
Kyungsoo memutar kedua mata belonya, "serius Baek, kau berlebihan." Kyunsoo menepi tangan Baekhyun yang berada di bahunya. Baekhyun menggeleng kuat.
"kau tidak tau Kim Jongin?" kyungsoo menggeleng, "OH ASTAGA MAAFKAN ANAK POLOS INI YATUHAN~" Baekhyun memekik keras, membuat beberapa siswa siwi melirik sinis kearahnya. Baekhyun memasang wajah tidak pedulinya sedangkan Kyungsoo memasang wajah kikuknya.
Setelah ia sampai di kelas ia menceritakan kejadian tersial menurutnya, berharap Baekhyun akan membantunya. Bukan malah berteriak heboh begini. Tau begitu tak usah ia beritau saja. Gerutunya dalam hati.
"memangnya ada apa dengan Kim Jongin itu?" kyungsoo bertanya dengan wajah polos. Baekhyun yang melihat itu merasa gemas. Ingin merauk wajah Kyungsoo sampai hancur.
"dia anaknya Kim Kangin, pemilik sekolah ini. Ia baru kembali setelah 4 tahun mengasingkan diri. Dengar dengar sih ia terpuruk karena pacarnya mengalami kecelakaan disaat mereka sedang bertegkar. Ada juga yang bilang Jongin mengalami depresi setelah ditinggal oleh pacarnya, makannya ia menghilang secara tiba-tiba. Tapi entahlah. Berita itu tidak ada yang benar."
Kyungsoo mencerna perkataan Baekhyun, "pantas saja rumahnya sangat besar dan mobilnya pun banyak." Gumam Kyungsoo tanpa sadar.
Baekhyun mendekatkan wajahnya dengan wajah Kyungsoo. Pandangannya penuh selidik. Kyungsoo memundurkan kepalanya dan mengernyit, "a-ada apa Baek?"
"kau.. sebenarnya ada hubungan apa dengan Kim Jongin?"
"aku tidak ada hubungan apa-apa dengan manusia batu itu, sungguh!" dengan setengah gugup Kyungsoo mencoba meyakinkan Baekhyun. Walaupun masih kurang yakin namun Baekhyun tidak mau mengganggu privasi Kyungsoo lebih jauh, toh nanti juga Kyungsoo akan memberitahunya.
..
Kyungsoo menghela napas bosan entah sudah yang keberapa kali. Ia menumpu kepalanya dengan tangannya dan menatap kearah proyektor yang sedang menampilkan perincian untuk pensi mendatang dengan bosan. Kenapa pula ia harus ikut ikut segala rapat osis yang membosankan ini? Ia mendengus mengingat kejadian yang membuatnya geram.
Flashback
Bel berbunyi menandakan waktunya untuk pulang. Kyungsoo buru-buru merapikan mejanya dan tergesa berjalan keluar sebelum suara meelengking Baekhyun menghentikan langkahnya.
"Kyung! Kenapa kau terburu-buru?" teriak Baekhyun yang masih membereskan mejanya. Kyungsoo membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun, menggaruk kepalanya kikuk,
"ngg.. itu Baek.. a-aku harus ke kafe! Ya benar." Kyungsoo melebarkan senyumnya yang dibalas oleh tatapan curiga.
"huh? Setahuku kau bekerja jam tujuh malam kan?"
Kyungsoo gelagapan. Ia menggerakkan bola matanya gelisah. Untung jaraknya agak jauh dari Baekhyun, jadi kecil kemungkinan gadis bermata sipit itu tidak melihatnya. "anu a-aku mengambil lembur." Kyungsoo menganggukkan kepalanya yakin. Baekhyun yang melihatnya hanya mendengus.
"baiklah, semangat Soo! Sampai bertemu besok."
"ya, aku duluan Baek" kyungsoo berjalan masih menatap tanpa melihat kearah depan, "sampai bertemu besok jug—"
DUG
Kening Kyungsoo menabrak sesuatu. Uh, ia mengenali aroma maskulin ini. Ia mengernyit dan mencoba memundurkan jaraknya. Bisa ia lihat itu adalah dada seseorang. Perlahan ia mendongakkan kepalanya. Wajah datar seorang lelaki yang seharusnya ia hindari itu.
"mencoba kabur, eh?" tanyanya dengan tatapan sinis. Kyungsoo meringis. Apa dia mendengar pembicaraannya dengan Baekhyun tadi?
"tidak. A-ku hanya—"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, tangannya sudah ditarik oleh ketua osis itu. Kyungsoo mendesis. "ya ya lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!"
"tidak. Aku yakin jika aku melepaskannya kau akan kabur."
Sial sekali. Sebenarnya makhluk apa yang berada di depannya ini? Mind rider? Cenayang? Hahh kenapa tebakannya selalu sama dengan apa yang dipikirkan Kyungsoo? Gadis itu terus mendumal dalam hati sampai akhirnya ia terdampar di ruang osis ini dengan orang-orang yang tidak ia kenal.
Flashback off
Tanpa Kyungsoo sadari ternyata lampu sudah mulai menyala dan layar proyektor juga sudah tidak menyala, menandakan presentasi telah selesai. Kyungsoo kembali menegakkan kepalanya dan menatap orang-orang diruangan ini yang sedang berdiskusi. Tiba-tiba seorang lelaki dengan tubuh tinggi itu menatap kearahnya.
"hey kau." Panggilnya. Kyungsoo yang merasa ditatap mengerjapkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. "saya sunbae?"
"memangnya siapa lagi." Jawabnya sinis. Kyungsoo mendesis dalam hati. Sombong sekali. Untung senior. Batinnya.
"ya? Ada apa sunbae?" tanya Kyungsoo mencoba sopan.
"hanya kau yang belum memberi tanggapan ataupun saran." Ia menjeda kalimatnya. "ku perhatikan kau tidak menyimak presentasi tadi. Kau ini siapa? Anggota baru atau apa?" ucapnya dengan suara bassnya yang berat, membuat semua yang ada di ruangan itu menatapnya, termasuk Jongin.
Kyungsoo bingung, ia harus menjawab apa? Ia melirik Jongin yang sedang menatapnya juga dengan tatapan yang sulit diartikan. Akhirnya setelah meyakinkan dirinya, ia mulai menjawab dengan ragu, "s-saya disini sebagai—"
"asisten pribadiku." Jawab seseorang membuat pandangannya beralih. Begitupun dengan pandangan orang-orang yang tadi menatapnya, kini beralih menatap orang itu.
"dia asisten pribadiku, Chanyeol. Dan dia bukan anggota osis disini. Jadi tidak usah mempermasalhkan keberadaannya." Ucap lelaki itu sekali lagi. Entah Kyungsoo harus berterimakasih atau merutuki ucapan Jongin, karena ia merasa tersindir dengan kata katanya barusan. Apa-apaan itu 'tidak usah mempermasalhkan keberadaannya?' jika dia berada disini hanya sebagai angin lewat mending ia menunggu diluar saja. Kalau perlu dilapangan juga Kyungsoo tak masalah. Asal tidak berada di ruangan bersama orang orang asing ini.
Semua mengangguk mengerti dan kembali dengan aktifitas mereka masing-masing. Kyungsoo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Mumpung si manusia batu itu sedang sibuk, sebaiknya dia pulang saja.
"mau kemana?"
Kyungsoo menggeram tertahan mendengar suara menyebalkan itu. Ia membalikkan badannya dan menatap lelaki yang sedang berdiri menatapnya sambil bersidekap.
"jika kau hanya ingin mempermalukanku di hadapan teman-temanmu itu, lebih baik kau memberikanku pekerjaan lainnya saja." Kyungsoo menarik napasnya dan memandang kearah Jongin dengan pandangan marah. "aku tau kesalahanku. Tapi bukan bearti kau bisa menginjak harga diriku semaumu. Aku tidak mengerti kenapa aku harus berada di ruanganmu sementara aku hanya pembantumu. Harusnya aku bisa menunggumu diluar ataupun di tempat lain agar tidak ada kejadian seperti ini."
Ljongin masih terdiam, Kyungsoo mencoba mengatur napasnya yang naik turun karena emosi. Aku akan menunggumu, beritahu aku jika kau memerlukan bantuanku." Kyungsoo membalikkan tubuhnya, namun tangannya di cegat terlebih dahulu sebelum ia berjalan.
"berikan ponselmu." Ucap Jongin. Kyungsoo menatapnya tidak mengerti namun ia memberikan ponselnya. Lalu Jongin mengetikkan sesuatu sampai deringan ponsel Jongin berbunyi dan lelaki itu mengeluarkan ponselnya.
"simpan nomorku. Aku juga akan menyimpan nomormu. Sekarang pergilah. Aku akan mnghubungimu nanti." Jongin hendak pergi dan mengembalikan ponsel Kyungsoo. "dan ingat. Jangan coba-coba untuk kabur." Setelahnya Jongin meninggalkan Kyungsoo yang masih tetap pada posisimya. Tak lama Kyungsoo pergi untuk menenangkan dirinya.
Setelah menunggu si manusia batu itu selama kurang lebih satu jam, akhirnya lelaki itu menghubungi Kyungsoo, menyuruhnya kesana dan memberitahu jika ruang osis sudah kosong. Dan Kyungsoo mendesah malas saat melihat dua makhluk lainnya. Ada satu gadis yang ia ketahui namanya Luhan, wakil osis. Dan satu lelaki lainnya, yang tadi membuatnya kesal sekaligus malu. Chanyeol. Namun, tak lama Kyungsoo datang, lelaki itu pamit untuk pulang duluan. Jadi mereka hanya bertiga. Dengan Jongin yang duduk berbincang dengan Luuhan, dan Kyungsoo yang membersihkan ruang osis yang lumayan berantakan. Kyungsoo sempat bertanya kenapa Jongin tidak pulang saja, yang di jawab 'bisa saja ka mencuri barang-barang yang berada disini jika aku meninggalkanmu.' Kyungsoo rasanya ingin merobek bibir tebal si manusia batu itu saking geramnya.
Setelah selesai, Kyungsoo melihat jam tangannya. Pukul enam lewat empat puluh menit. Kyungsoo mengerang. Pastilah ia telat. Ia buru-buru membereskan dirinya sebelum pamit pulang dengan dua orang yang masih asik mengobrol, sesekali mereka terlihat tertawa. Kyungsoo mendecih melihatnya.
"permisi, Jongin-ssi, Luhan-ssi. Tugasku sudah selesai kalau begitu aku pulang dulu." Membungkukkan tubuhnya sekilas lalu ia segera berjalan menuju pintu.
Setelah tangannya menyentuh knop pintu, sebuah suara menginstrupsinya, "apa kau mau pulang bersama?" tanya Jongin yang sudah berdiri dari duduknya diikuti dengan Luhan. "kebetulan aku dan Luhan akan pergi makan malam dan sepertinya satu arah denganmu." Sambungnya.
'dan aku akan menjadi lalat diantara kalian. Oh Tuhan apa yang ada di pikiran si manusia batu ini.' Teriak Kyungsoo dalam hati. Kyungsoo menggeleng dengan cepat. "tidak. Aku tidak akan menganggu acara kalian. Kalau begitu sampai jumpa."
BLAM
Setelah mengatakan itu Kyungsoo langsung buru-buru keluar dan tanpa sadar ia membanting pintunya. Membuat kedua orang di dalam sana terjengit kaget.
.
.
.
You're My Treasure
Kyungsoo baru saja menutup sambungan telponnya dengan Minseok. Ia beralasan mengerjakan tugas dulu dan kemungkinan akan terlambat untuk beberapa menit. Dana ia meminta tolong sahabatnya untuk memberitahukannya kepada atasannya dan dibalas 'oke' oleh Minseok.
Dengan menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dengan menaiki bus akhirnya Kyungsoo sampai di tempat kerjanya. Seperti biasa, kafe itu tidak pernah sepi, dan mayoritas yang mengunjungi kafenya adalah para remaja.
Kyungsoo memasuki kafenya melalui pintu belakang, dan segera bekerja seperti biasanya. Melayani pengunjung yang datang, mencatat pesanan mereka dan mengantarnya ke meja mereka. Sampai suatu pelanggan membuatnya terdiam untuk beberapa saat.
"oh, kau bekerja disini?" ujar orang itu pura-pura kaget. Kyungsoo memejamkan matanya sejenak, lalu kembali membuka matanya dan tersenyum –paksa- kepada orang tersebut.
"silahkan apakah anda sudah memutuskan untuk memesan?" tanya Kyungsoo tanpa menjawab pertanyaan orang tadi. Orang itu hanya menatap Kyungsoo, sekilas, tatapannya seperti tatapan memuja. Namun ia segera mengatur kembali ekspresi wajahnya menjadi menyebalkan.
"choco banana satu, pancake, dan mochacino." Kyungsoo mencatatnya dengan baik lalu mengalihkan pandangannya, "pesanan anda tuan?"
Yang ditanya terlonjak kaget, dan mengalihkan pandangannya kepada buku menu dan mulai meyebutkan pesanannya. Setelah mengulang pesanannya Kyungsoo segera pamit untuk membuatkan pesanannya.
"waoh Chanyeol! Kau mengenalnya?" tanya lelaki di hadapan Chanyeol. Chanyeol –lelaki tadi yang menegur Kyungsoo- tak menggubris oertanyaan temannya. Ia malah asik menatapi punggung Kyungsoo yang berjalan menjauh dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Jongdae, lelaki yang duduk dihadapan Chanyeol segera menggeplak kepala Chanyeol.
"ada apa bodoh?" desis Chanyeol.
"kau mengacuhkanku." Ujac Jongdae santai. "aku tanya, kau kenal dengannya?"
Chanyeol mengangkat bahunya acuh. "tidak. Hanya saja tadi Jongin mengenalkannya sebagai asisten pribadinya."
Jongdae mengangguk. "dia cantik juga ya." Jongdae tersenyum aneh. Chanyeol memandangnya malas. "kau tidak bermaksud untuk menjadikannya korbanmu selanjutnya kan?"
"wow man, kau selalu tau apa yang aku pikirkan!" ucap semangat Jongdae. Chanyeol mendengus dan mendekatkan wajah mereka.
"sebelum itu terjadi, aku akan memenggal kepalamu terlebih dahulu, Jongdae-ya~" Jongdae bergidik mendengarnya. Chanyeol tersenyum –lebih tepatnya menyeringai-
"jadi, kau sudah lebih dulu mengincarnya?" tanya Jongdae tidak percaya. Oh ayolah Chanyeol itu bukan player sepertinya.
"aku tidak mengincarnya, bodoh." Giliran Chanyeol menggeplak kepala Jongdae. "aku hanya ingin mengenal gadis itu lebih dalam." Jongdae mengangguk paham. Tak lama pesanan mereka sampai. Namun Chanyeol mengernyitkan dahinya saat melihat waitress tersebut.
"kemana waitress yang tadi?"
"ahh itu, dia sedang melayani pengunjung yang lain tuan." Jawab waitress tadi setengah gugup. Siapa yang tidak gugup jika ditanya oleh lelaki setampan Chanyeol?
Chanyeol hanya mengangguk. Dan waitress tadi segera pamit dan pergi meninggalkan mejanya. Dan sepanjang makan malamnya, Chanyeol hanya memperhatikan gerak gerik si mungil yang sibuk melayani para pelanggan.
..
Sedari tadi Kyungsoo berjalan, ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Ia memang setiap hari pulang jam sebelas malam. Tapi baru kali ini ia merasa merinding. Kembali ia menolehkan kepalanya, lalu tak lama ia melihat bayangan hitam di dekat tiang lampu. Ia membelalakkan matanya lalu segera berjalan cepat. Keningnya mengeluarkan keringat saat mendengar suara langkah di belakangnya semakin mendekat.
'yatuhan selamatkan aku, janagn dulu kau mengambil nyawaku sebelum aku menamatkan sekolahku.' Batin Kyungsoo ngawur. Lalu setelahnya ia mendengar sebuah suara, yang entah ini perkiraan Kyungsoo saja atau memang suaranya yang seperti malaikat pencabut nyawa.
"YA KAU!"
Kyungsoo mengentikan langkahnya. Ia berkomat kamit berdoa, tubuhnya sudah gemetaran. Lalu tak lama ia merasakan sebuah tangan menepuk pelan pundaknya.
"AAAA"
.
.
.
TBC
Note:
Maapin yaa, bukannya gimana, ff ini udah aku ketik jauh jauh hari. Jadi kalo ada yg bingung kenapa aku update disini sedangkan di marrying mr arrogant aku bilang lagi hiatus, aku hanya publish karena ff ini udah jadi dari sebelum aku nulis chap 10 mma. Mohon dimengerti /sigh/
Sooo how? Kayaknya responnya dikit hmm. Kalo di chap ini responnya masih sedikit terpaksa ffini gak di lanjut. Ehehehe.
Review please?
