Yo!

Atashi kembali lagi~ XD

Tapi atashi sempet mikir, apa atashi ga kecepetan yah update fic ini? o.O

Perasaan baru kemarin-kemarin deh atashi update-nya.

Yo sudahlah, yang penting cepet update~

Selamat membaca! ^^


Warning: OOC dan shounen-ai! Cerita gaje dan alurnya maksa! Kalau tidak suka shounen-ai, silahkan anda klik tanda panah ke sebelah kiri di ujung kiri page anda, segera. :D

Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn, Hibari-sama, dan Dino-san ntuh punya Amano Akira. Kalau cerita gaje berjudul "Ti amo, Sensei" ini punya atashi. X3


Bel sekolah tanda akhir dari pelajaran hari itu telah berbunyi.

Dengan cepat, Kyoya membereskan buku-buku tulisnya dan mengepaknya ke dalam tas.

"Hi-Hibari-san, ingin pulang bersama dengan kami tidak?" tawar Tsuna yang berada di depan Kyoya, diikuti dengan Yamamoto dan Gokudera di belakangnya.

"Jyuudaime, buat apa jyuudaime susah-susah mengundang murid baru itu? Biarkan saja dia pulang sendiri!" kata Gokudera kasar.

"Ma, ma, sudahlah! Tidak apa-apa bukan sekali-sekali pulang dengan Hibari?" kata Yamamoto yang tetap positive thinking.

"Kau ngomong apa, yakyuu baka? Bagaimana kalau nanti murid baru itu menyerang jyuudaime?" kata Gokudera yang berprasangka buruk.

"Tidak akan. Haha. Ngomong-ngomong, kenapa kau selalu panggil Tsuna dengan sebutan jyuudaime?" tanya Yamamoto polos.

"Dasar yakyuu baka! Kau lupa yah? Waktu itu 'kan aku pernah kasih tau bahwa jyuudaime merupakan orang ke-10 yang paling kupercaya dalam hidupku! Makanya aku memanggilnya jyuudaime dan berjanji akan setia kepadanya seumur hidupku," jelas Gokudera panjang lebar.

"Ti-tidak usah sampai segitunya kok, Gokudera-kun," kata Tsuna sweatdropped.

"Tidak apa-apa, jyuudaime! Pokoknya aku akan setia kepadamu seumur hidupku!" jawab Gokudera yang sukses membuat Tsuna tambah sweatdropped dan menyalakan sedikit rasa cemburu Yamamoto, walaupun ia tetap tersenyum. (Positive thinking mode! XD)

"Ngomong-ngomong, ke mana Hibari?" tanya Yamamoto ke Gokudera dan Tsuna.

Yang ditanya hanya clingak-clinguk mencari sosok yang ditanya Yamamoto.

Sosok tersebut kini sedang berjalan sendiri ke rumah barunya karena ketiga orang yang menurutnya sangat mengganggu pemandangan.

Kini ia berdiri di depan pagar rumah barunya dan memandangi rumah barunya dengan pandangan asing.

Perlahan tapi pasti, ia membuka pintu pagar tersebut dan memasuki rumah barunya.

Setelah masuk ke dalam rumahnya, terlihat beberapa kardus berisi perabotan rumah yang masih berantakan di lantai.

Kyoya pun menghela nafas sedikit dan langsung menuju kamarnya.

'Sepertinya otou-san tidak akan pulang hari ini,' batin Kyoya yang mengingat ayahnya sibuk akan pekerjaan.

Tak lama, cacing-cacing di dalam perut Kyoya mulai menangis minta makanan.

Akhirnya, Kyoya memutuskan untuk memasak dengan peralatan dan makanan seadanya.

Bahan-bahan makanan sudah dikumpulkan oleh Kyoya, kecuali alat memasaknya.

Ia mulai menjelajah berbagai kardus yang terletak di ruang tamu.

1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit telah berlalu, tetapi usaha Kyoya masih belum membuahkan hasil juga.

Akhirnya ia menyerah dan duduk untuk istirahat di lantai.

'Alat masak ga ketemu, perut sudah lapar lagi. Di mana sih otou-san menyimpan alat masaknya?' batin Kyoya sedikit kesal.

Sempat terpikir oleh Kyoya untuk meminjam alat memasak dari tetangganya.

Segeralah ia menepis ide tersebut.

Tetapi, ternyata rasa lapar Kyoya mengalahkan rasa jaim(jaga image)-nya untuk meminjam alat memasak.

Dengan berat hati, ia melangkah keluar rumah dan pergi ke sebelah rumahnya.

Tanpa membunyikan bel rumah tetangganya tersebut, Kyoya langsung menerobos masuk pagar rumah tetangganya dan mengetuk pintu luar tetangganya.

"Tok, tok, tok," bunyi pintu yang diketuk Kyoya.

"Iya, tunggu sebentar," kata suara di balik pintu itu.

Betapa kagetnya Kyoya ketika melihat orang yang muncul dari balik pintu tersebut.

"Baka sensei?" sebut Kyoya kaget.

"Kyoya-kun! Ada apa ke rumahku?" tanya Dino kaget ketika melihat Kyoya di depannya.

"Tapi, kok aku dikatai baka sensei?" tambah Dino sweatdropped.

Kyoya terdiam memandangi gurunya itu.

'Jadi pinjam alat memasak tidak, ya?' batin Kyoya bingung.

Dino hanya diam dan tidak berbicara apapun ketika Kyoya masih berpikir untuk meminjam alat memasak atau tidak.

"Err, jadi Kyoya, ada apa ke rumahku?" tanya Dino memecah keheningan.

Kyoya memandangi Dino dengan seksama, sedangkan Dino sweatdropped.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Kyoya dengan polosnya.

"Aku di sini karena aku tinggal di sini!" jawab Dino yang benar-benar sweatdropped karena kelemotan Kyoya. (Author siap-siap di kamikorosu)

"Lalu sedang apa kau di sini?" tanya Dino lagi.

Kyoya terdiam.

"Tidak jadi, permisi," kata Kyoya mundur beberapa langkah.

"Hoi, kenapa?" tanya Dino sembari menangkap tangan kanan Kyoya.

"Lepaskan tanganku!" kata Kyoya dengan death glare-nya.

"Tidak akan kulepaskan sebelum kau memberitahuku tujuanmu datang kemari," jawab Dino.

Kyoya tetap men-death glare Dino, sedangkan Dino tetap tidak melepaskan genggamannya dari Kyoya.

"Atau jangan-jangan kau kangen denganku dan mencari alamat rumahku, ya?" tanya Dino kepd-an.

Kyoya yang mendengar pertanyaan Dino tersebut pun langsung emosi.

"Siapa yang kangen denganmu? Aku ke sini hanya karena ingin meminjam alat memasak karena aku baru pindah ke daerah sini," jawab Kyoya dingin.

"Oh, kalau begitu biar kupinjamkan. Tunggu sebentar, ya," kata Dino yang langsung melepas tangan Kyoya dan melesat ke dalam rumahnya.

Tadinya Kyoya ingin menolak tawaran Dino, tetapi Dino masuk ke rumahnya terlebih dahulu sebelum Kyoya sempat menolak.

Tak lama, Dino keluar dengan sebuah panci dan sendok sup di kedua tangannya.

Kedua benda tersebut pun ia berikan kepada Kyoya.

Dengan segan, Kyoya mengambil panci dan sendok sup Dino itu.

"Siapa yang akan memasak makanan untukmu?" tanya Dino.

"Aku sendiri," jawab Kyoya singkat.

"Kau bisa memasak?" tanya Dino lagi.

Kali ini Kyoya hanya diam tidak menjawab.

"Sudah kuduga, kau tidak bisa memasak, 'kan?" tanya Dino kembali.

Kyoya tetap diam menunduk.

"Ya sudah, biar kumasakkan sesuatu untukmu," kata Dino sembari menutup dan mengunci pintu rumahnya untuk pergi ke rumah Kyoya.

Kyoya yang sedang kepalaran akhirnya dengan terpaksa menuntun Dino ke rumahnya, daripada ia mati kelaparan.

Setelah sampai ke dalam rumah Kyoya yang hanya bersebelahan dengan rumah Dino, Kyoya langsung menujukkan dapurnya ke Dino.

Dengan peralatan dan bahan makanan seadanya, Dino langsung membuatkan makanan untuk Kyoya. Sedangkan Kyoya hanya diam mengamati Dino yang daritadi sibuk memasak.

"Kenapa piringnya ada 2?" tanya Kyoya yang kebingungan melihat Dino mengambil 2 piring.

"Satu untukmu dan satu untukku!" katanya sembari memasukkan sebuah telur ke dalam panci.

"Untukmu? Aku tidak mengundangmu untuk makan di sini," desis Kyoya.

"Kau berhutang budi denganku lho, Kyoya. Anggap saja kalau aku makan di sini bersamamu, kau tidak ada hutang lagi denganku," jawab Dino cerdik.

"Cih," Kyoya hanya bisa diam dan tidak dapat menepis kata-kata Dino karena ada benarnya juga menurutnya.

Beberapa saat kemudian, makanan sudah disajikan oleh Dino di atas meja.

Mereka berdua duduk berhadapan.

"Itadakimasu!" kata Dino ceria, sedangkan Kyoya sudah mulai menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

"Bagaimana? Bagaimana rasanya?" tanya Dino penasaran.

"Biasa saja," jawab Kyoya datar yang sebenarnya dalam hati, ia memuji rasa masakan tersebut.

"Kalau begitu, lain kali aku akan membuatkan masakan yang lebih enak untukmu!" kata Dino semangat.

"Lain kali? Tidak ada lain kali, herbivore," jawab Kyoya dingin kata-kata Dinon tersebut.

"Kenapa?" tanya Dino kecewa.

"Kalau aku makan masakanmu lagi, bisa-bisa aku mati," jawab Kyoya.

"Apa masakanku sebegitu enaknya sampai akan membuatmu mati?" tanya Dino pd (kembali).

"Tidak mungkin, baka sensei," jawab Kyoya dingin.

"Ahahaha. Ngomong-ngomong, apa itu herbivore?" tanya Dino penasaran.

"Herbivore itu sebutan untuk orang yang lemah," jawab Kyoya datar.

"Heeh? Memangnya aku lemah?" tanya Dino sweatdropped.

"Tentu saja, baka sensei," jawab Kyoya.

"Begini-begini, aku cukup kuat lho! Lagipula aku gurumu, Kyoya-kun," kata Dino meyakinkan Kyoya.

"Tak percaya," jawab Kyoya sembari membuang mukanya.

"Jahatnya. Ngomong-ngomong, kenapa rumahmu sepi sekali?" tanya Dino dengan polosnya.

"Otou-san dan okaa-san ku sudah bercerai. Sekarang aku tinggal dengan otou-san dan sepertinya dia tidak akan pulang untuk beberapa hari," jawab Kyoya setelah sebentar terdiam.

"Ah, maaf," kata Dino tertunduk.

Suasana pun berubah menjadi hening dan canggung.

Yang terdengar hanyalah suara sumpit bertending ketika menyentuh piring.

"Kau tinggal dengan istrimu?" tanya Kyoya memecah keheningan.

"Is-istri? Ahaha, aku belum punya sayangnya. Aku tinggal sendiri, karena seluruh keluargaku ada di Itali," jawab Dino.

'Pantas saja rambutnya pirang,' batin Kyoya.

"Lalu kenapa kau menjadi guru? Orang seperti kau tidak cocok menjadi guru," singgung Kyoya.

"Ahahaha, begitu yah? Kata orang tuaku, aku juga tidak cocok menjadi guru. Tetapi, waktu aku masih sekolah, aku sempat stress berat karena pergaulan, masalah sekolah, dan masalah keluarga. Maka, kuputuskanlah kalau aku akan menjadi guru BK sejak saat itu untuk mengurangi sedikit rasa stress murid-muridku nanti," jawab Dino ceria.

"Kenapa harus di Jepang?" tanya Kyoya sedikit penasaran.

"Karena aku tertarik dengan Jepang. Berkat itu juga, aku telah menemukan seseorang yang ingin kulindungi," jawab Dino dengan sedikit semburat merah di kedua pipinya.

Saat Dino berkata seperti itu, tiba-tiba muncul sebuah nama dari benak Kyoya.

Nama orang yang selalu Kyoya sebut ketika ia sedih, senang, dan takut.

Nama orang yang selalu membuat ia tersenyum dan tertawa dengan ceria.

"...ro..."

"Eh? Kau bilang apa, Kyoya-kun?" tanya Dino.

"Tidak, bukan apa-apa," jawab Kyoya buru-buru.

Setelah selesai makan, Dino mencuci piring dan bergegas pulang untuk mengerjakan tugas sekolahnya sebagai guru.

"Kyoya-kun, aku pulang dulu yah. Masih banyak yang harus kukerjakan," kata Dino sembari memakaikan kaki kirinya sepatu.

"Cepat pulang, jangan kembali lagi," kata Kyoya yang membuat Dino sweatdropped.

"Oh iya, kalau ada masalah apa-apa, ceritakan saja padaku, ya!" kata Dino yang kini memakaikan kaki kanannya sepatu.

"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Kyoya sedikit bingung.

"Tentu saja, karena aku 'kan guru BK-mu. Sampai besok ya di sekolah!" kata Dino sembari memegang kenop pintu rumah Kyoya.

"Ya, ya," jawab Kyoya asal-asalan.

"Ah, tunggu sebentar," kata Dino.

Dino mendekati Kyoya dan memegang kepala Kyoya dengan tangan kanannya.

"Apa-apaan i-"

Sebelum Kyoya sempat protes, Dino lebih dahulu mencium kening Kyoya dengan lembut.

Setelah selesai mencium kening Kyoya, Dino tersenyum lebar.

Sedangkan Kyoya?

Kyoya langsung menggapai tonfanya dan langsung menyerang Dino.

Dengan sigap, Dino menghindar dari serangan tonfa tersebut.

"Kamikorosu!" kata Kyoya sembari menyerang Dino kembali.

"Oops! Ampun!" kata Dino yang terus-terusan menghindari serangan Kyoya.

Akhirnya, Dino pun berlari keluar menuju pagar dan berhenti di sana.

"Jangan pernah masuk rumahku lagi atau kamikorosu!" ancam Kyoya.

"Ahaha, baik, bye!" kata Dino sembari melambaikan tangannya.

BRAK!

Pintu rumah Kyoya dibanting keras oleh Kyoya sehingga membuat beberapa tetangga menengok keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Setelah itu, Kyoya kembali ke dalam kamarnya lagi.

Di kamarnya, ia merebahkan dirinya di atas ranjangnya yang empuk dan meringkuk di dalam selimut.

Ia pun menyentuh keningnya sehabis dicium lembut oleh Dino.

Dapat terlihat, semburat merah muncul di pipi Kyoya.

Tetapi, ia kembali teringat akan orang itu.

Orang yang telah berani menyelingkuhinya.

Berani menduakannya.

"Mukuro..." katanya lagi sembari merapatkan selimut ke tubuhnya.


Uoh, kasihan dirimu, Kyoya-kun.

Mukuro juga tukang selingkuh sih.

Mukuro: "Ada apa ini? Kenapa aku jadi tukang selingkuh?" -sweatdropped-

Author gaje: "Ahaha, maafkan atashi, karena atashi tidak tahu siapa yang mesti atashi jadiin mantan Kyoya selain Mukuro-san. Tehee! XD"

Mukuro: "Tehee ja nai! Image-ku 'kan jadi buruk! Tanggung jawab, dasar author bodoh!"

Author gaje: "Aih, jangan galak-galak dong, Mukuro-san. T^T"

Mukuro: "Jangan bilang kalau di fic ini, aku cuman jadi figuran."

Author gaje: "Err, itu..."

Mukuro: "Jadi aku hanya jadi figuran? Kalau begitu..." -sambil ngeluarin ilusi-

Author gaje: "Maap, Mukuro-sama!" -sembah sujud Mukuro-

Mukuro: "Pokoknya aku mesti muncul!"

Author gaje: "Diusahakan. Sekarang, tolong dong Mukuro-san kata-kata penutupnya."

Mukuro: "Ya udah. Pokoknya semuanya mesti baca nih fic sampai aku benar-benar muncul. Kalau aku udah ga muncul lagi, kalian boleh kok drop fic ini. -dihajar Author gaje- Sangat mengharapkan saran, ide, dan kritik. Kalau mau flame juga boleh kok. (Tapi tak menerima flame tentang shounen-ai, karena dari pertama udah dikasih warning) Please review!"