Pertengahan musim panas, 2016
Jimin menatap jengah kepada Taehyung yang sedari tadi tampak frustasi mengacak helaian ravennya. Hari ini rasanya panas sekali, pendingin udara seakan tak berfungsi di ruangan mereka. Belum lagi meja kerja Taehyung yang seperti kapal pecah. Dokumen sidang berserakan, ditambah lagi muka kusut Taehyung yang tampak berusaha keras untuk fokus pada pekerjaannya. Selama lima tahun bekerja dengan Taehyung, baru kali ini Jimin melihat Taehyung seberantakan hari ini.
"Ya, hentikan…" Jimin menutup map dokumen yang sedang ditekuni oleh Taehyung karena sudah tak tahan melihat rekannya seperti zombie. "Hentikan, sebelum kau salah memberikan pembelaan kepada klienmu dan berakhir kacau."
Taehyung meletakkan penanya di atas meja kerjanya dan menimbulkan bunyi 'tak' keras yang mengalihkan atensi Seungjae dari layar komputer.
"Hidupku kacau sekali rasanya!" Taehyung mengusap wajahnya dengan frustasi, dan Jimin dengan santainya duduk di atas meja kerja Taehyung.
"Itu karena kau sama sekali belum mengambil keputusan kan? Ck, tak ku sangka…kau hanya kompeten dalam memutuskan sebuah kasus, tapi soal kehidupan pribadi kau nol besar."
Taehyung melirik Jimin yang mendengus dengan tatapan tanpa minat. Ia sedang pusing bukan main. Segala hal tentang pekerjaan, Joohyun, Jungkook, juga ibunya seakan berputar tanpa henti dalam kepalanya dan berakhir seperti untaian benang kusut.
"Pergi minta cuti sana! Chuseok kemarin jatah cutimu belum diambil kan?" Kali ini Seungjae sudah berdiri di samping Taehyung semberi menepuk pundaknya.
"Lalu, kalau aku mengambil cuti, apa yang harus ku lakukan?" Hening sejenak, ketiganya saling menatap dalam diam, sampai Jimin menggulung sebuah buletin bekas di atas meja Taehyung dan memukul kepala rekannya itu keras-keras.
"Selesaikan masalahmu dengan Joohyun dan Jungkook sana!"
A Vkook/TaeKook Fanfiction
(Kim Taehyung x Jeon Jungkook of BTS)
.
Marry You ©peachpeach
A Love Letter's Spin Off
Taehyung's reply letter belongs to: glowrie
.
All cast belongs to God, themselves, family and management. Story line is mine. No profit taken.
.
Then you who gazed at me with your warm smile.
Was so precious.
I was not even able to meet your eyes.
[ DBSK – 時ヲ止メテ ]
Taehyung mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja restauran yang dilapisi taplak berwarna putih polos. Malam ini ia sudah membuat reservasi untuk sebuah makan malam eksklusif yang harganya tidak main-main dan mengurangi angka dalam rekeningnya. Jadi, ia berharap hasilnya akan sama baiknya dengan rangkaian bunga di atas meja yang ia tempati.
"Maaf, aku terlambat." Bibir Taehyung mengulum sebuah senyum ketika Joohyun menarik kursi di depannya. Joohyun baru pulang bekerja sepertinya. Gadis itu tidak mengenakan dress cantik seperti saat ia bertemu Taehyung untuk sebuah makan malam. Hanya kemeja formal berwarna pastel dan dilapisi kardigan yang terlihat begitu elegan membalut tubuh proporsionalnya.
"Tidak apa, bagaimana harimu?" Joohyun mengulum senyum canggung ketika Taehyung menggenggam jemarinya. Sebenarnya, ia tahu maksud Taehyung mengundangnya makan malam dadakan seperti sekarang. Tapi ia tidak ingin merusak suasananya.
"Hari yang berat, kau juga begitu kan?" Satu anggukan beserta senyum menawan dari Taehyung didapatkan Joohyun sebagai jawaban dari pertanyaannya. Mereka hanya berbicara tentang pekerjaan dan hal random sampai menu pembuka datang.
"Makanlah, kau butuh banyak energi setelah bekerja." Taehyung meraih sendoknya, sebelum menyuapkan lamat-lamat sesendok sup labu di depannya. Ia melihat jika Joohyun melakukan hal yang sama, tanpa protes tentang kalori seperti biasanya.
"Taehyung," Joohyun memanggil Taehyung ketika ia selesai dengan hidangan utama malam ini. Ia meletakkan garpunya di sebelah piring, kemudian menyelipkan helaian bruenette-nya ke belakang telinga, dan menatap netra kembar Taehyung yang menunggunya untuk bicara.
"Hmm?"
"Ini bahkan bukan malam Sabtu, kenapa tiba-tiba mengajakku makan malam?" Taehyung mengulum senyum, kemudian menumpukan dagunya di atas jalinan jemarinya. Ia sudah menduga jika Joohyun akan bertanya seperti itu.
"Setelah ini parfaitnya datang, tidak mau menunggu?" Helaan napas terdengar dari celah bibir Joohyun, gadis cantik itu kemudian menggeleng pelan.
"Kau tahu jika di dalam kepalaku berputar segala macam bentuk kemungkinan spekulasi tak berdasar?"
"Aku tahu," Taehyung menyahut dengan santai, parfait mereka juga kebetulan datang dan diikuti pandangan kesal Joohyun terhadap kudapan manis di depannya. "Kau terbiasa membuat analisis lebih dahulu terhadap suatu keadaan." Sebuah stroberi dengan krim berakhir masuk ke dalam mulut Taehyung. Ia mengunyah pelan dan masih betah mengamati perubahan emosi di wajah Joohyun.
"Ini soal pernikahan, lagi." Joohyun menatap Taehyung dengan pandangan skeptis, sementara Taehyung balas menatapnya dengan sebuah senyum di bibirnya.
"Ya, kita tidak bisa seperti ini terus. Aku perlu jawaban dari pertanyaanku beberapa minggu yang lalu."
"Apa Ibumu menetapkan sebuah deadline seperti sebuah pekerjaan? Demi Tuhan, Taehyung—" Joohyun kemudian merasakan pelipisnya berdenyut nyeri. Sehari ini ia sudah cukup lelah dengan beban pekerjaannya, dan sekarang? Taehyung bahkan belum menyerah soal permintaannya tentang pernikahan, "—jawabanku tetap sama. Aku tidak punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat. Tidak denganmu, ataupun pria lain."
"Kau mencintaiku?" Kali ini Taehyung bertanya dengan nada retoris yang terselip dalam suaranya. Kening Joohyung berkerut sebelum menjawab, "Tentu saja, kau pikir selama tiga tahun ini apa yang kita lakukan jika aku tidak mencintaimu? Tapi itu bukan berarti aku bersedia untuk menikah denganmu dalam waktu dekat, Taehyung. Ku mohon, mengertilah." Suara Joohyun terdengar putus asa.
"Kalau begitu maaf, kita tidak bisa melanjutkan ini Joohyun-ah." Tangan Taehyung kemudian menggenggam lembut tangan Joohyun yang berada di atas meja, "Karena aku tidak bisa berjuang sendiri untuk hubungan kita. Apa artinya jika hanya aku yang menginginkan sebuah ikatan pernikahan?"
"Taehyung, kita tidak harus berakhir sekarang. Seberat itukah kau menungguku siap?"
"Kau memintaku untuk mengerti keadaanmu bukan? Aku juga mimintamu untuk melakukan hal yang sama Joohyun. Mengertilah… Kali ini saja, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Aku tidak bisa menunggumu terus-menerus, sementara aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
"Taehyung—"
"Tolong hargai keputusanku seperti aku menghargai keputusanmu, Joohyun."
Nyonya Jeon tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut ketika mendapati Taehyung berdiri di depan pintu rumahnya sepagi ini dengan sebuah senyum dan sebuket bunga lili putih yang cantik dalam dekapannya.
"Taehyung? Jungkook sedang berada di Yonsei—" Kerutan di kening Nyonya Jeon semakin bertambah ketika Taehyung memeluknya sekilas dan mencium punggung tangannya dengan hormat.
"Saya tahu Nyonya. Kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan Anda." Nyonya Jeon kemudian mempersilahkan Taehyung untuk masuk dan duduk di ruang tamu meskipun ada banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya.
"Panggil Eomonim saja, Taehyung-ah…tidak perlu sekaku itu." Bunga pemberian Taehyung kemudian diletakkan di atas meja ruang tamu dan Nyonya Jeon duduk di samping Taehyung. "Ada apa ingin bertemu denganku? Sesuatu terjadi padamu dan Jungkook?"
Taehyung mengulum senyum ketika genggaman tangan Nyonya Jeon yang hangat dan familiar itu membuatnya rileks. Ia menatap sorot lembut figur wanita yang menjadi ibu Jungkook.
"Saya ingin minta maaf soal kejadian beberapa minggu yang lalu, Eomonim."
"Minta maaf? Kenapa?"
"Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu ketika kami makan siang berdua, Jungkook bertemu dengan seorang gadis. Dan gadis yang ditemu Jungkook hari itu adalah kekasih saya selama tiga tahun."
Gumam 'ah' halus terdengar dari bibir Nyonya Jeon, tapi sorot lembutnya sama sekali belum hilang meskipun Taehyung baru saja mengatakan suatu hal yang mungkin menyakiti hatinya sebagai seorang ibu.
"Lalu sekarang bagaimana? Apakah kau mau membatalkan perjodohannya?" Taehyung kemudian menggeleng pelan, kemudian balas menggenggam jemari Nyonya Jeon.
"Tidak, Eomonim…saya sudah mengembil keputusan. Lagipula, saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kekasih saya. Eomma bilang, jika seseorang akan terluka dengan keputusan yang saya ambil, tapi saya harus bisa mengambil sikap. Mungkin butuh waktu untuk mendekatkan diri dengan Jungkook, tapi saya akan mencoba."
"Apa tidak apa-apa? Maksudku, apa tidak terlalu cepat untukmu? Kau bahkan baru saja putus dengan kekasihmu. Jangan memaksakan dirimu demi keinginan kami, Taehyung-ah." Nyonya Jeon menepuk pundak tegap Taehyung, menatap pemuda yang sudah seperti anaknya sendiri itu dengan lembut. "Tidak apa-apa jika kau menolak perjodohan ini. Kau dan Jungkook pantas bahagia dengan pilihanmu jika permintaan kami terasa memberatkan. Kami, para orang tua, hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Jika perjodohan ini menekan kalian, katakan saja pada kami."
"Tidak, Eomonim… Saya benar-benar mantap dengan keputusan ini. Dan kedatangan saya hari ini juga sekaligus meminta izin."
"Izin apa?"
"Bolehkah saya mengajak Jungkook pergi liburan jika ada waktu luang? Saya rasa, saya perlu meluruskan kesalahpahaman diantara kami saat itu. Kebetulan, minggu ini saya mengambil cuti untuk rehat sejenak. Saya rasa Jungkook juga perlu refreshing sejenak."
"Liburan? Kemana?" Taehyung menggaruk sisi lehernya yang mendadak terasa gatal.
"U-uh, itu juga belum tahu. Apakah ada tempat spesifik yang ingin Jungkook kunjungi?" Nyonya Jeon terkekeh pelan, sikap canggung Taehyung menurutnya lucu sekali. Pemuda di depannya tidak seperti pemuda yang sudah mapan secara finansial, melainkan tak lebih dari seorang pemuda yang baru saja meminta izin untuk kencan pertamanya.
"Dua minggu ini Jungkook sebenarnya bebas tugas jadwal asistensi untuk persiapan sidang program spesialisasinya, tapi anak itu bersikeras untuk tinggal di Yonsei dengan alasan belajar."
Taehyung mengangguk pelan tanda mengerti. "Jungkook melewati masa kecilnya di Busan, dan sudah lama sekali ia tidak pergi ke pantai. Jungkook menyukai pantai dan pemandangannya. Ayo, Eomonim kemaskan beberapa pakaian dan kameranya."
Kesenanganmu pada kamera, yang sering mengambil potretku tanpa izin.
Hingga cintamu yang entah sejak kapan baru ku sadari.
"Muui-do? Serius?" Kening Taehyung berkerut mendengar pekikan Jungkook ketika mereka berdua sudah berada di atas kapal ferry dan ia memberikan tiketnya kepada Jungkook. Atas saran Nyonya Jeon, Taehyung memilih melakukan perjalanan singkat ke Muui-do. Mulanya, ia mengira Jungkook akan senang ia ajak liburan, tapi nyatanya jauh dari ekspetasinya. Jungkook terlihat kesal. Sepanjang jalan menuju pelabuhan ia hanya diam, bahkan tak bereaksi ketika Taehyung dengan sengaja memutar lagu-lagu BTS yang telah memenuhi playlist-nya.
"Ya, Ibumu bilang kau suka pantai dan rindu kampung halamanmu di Busan. Karena Busan terlalu jauh, dan aku paham kau juga sudah lelah…tidak ada salahnya kan pergi ke Muui-do? Lagipula aku sudah minta cuti ke kantor, hargai sedikit usahaku Dokter Jeon." Taehyung menyugar surai kelamnya yang tertiup angin, sementara Jungkook masih merajuk dengan kamera di tangannya.
"Aku tidak minta kau untuk cuti—"
"Ssh, hanya…please, ikut saja denganku oke?" Jungkook menghela napas pelan, kemudian mengangguk dan pasrah saat lengannya di tarik untuk menuju dek kapal.
Taehyung paham ketika Jungkook sengaja mengambil tempat yang agak jauh darinya. Lagipula, siapa yang tidak kesal ketika statusmu digantung begitu saja tanpa ada kepastian? Ia kemudian menghela napas pelan, mencoba untuk tak peduli. Meskipun sesekali ia melirik Jungkook yang sibuk mengambil beberapa potret, ia tetap pada kegiatannya memberi makan burung-burung camar dengan shrimp chips yang ia bawa.
CKREK—
Kepala Taehyung otomatis menoleh ketika mendengar suara shutter berulang yang terasa diarahkan kepadanya. Ia diam-diam ikut tersenyum ketika Jungkook juga tersenyum sembari mengamati hasil gambar yang berhasil tertangkap lewat lensa kameranya. Taehyung masih memperhatikan dalam diam bagaimana ekspresi Jungkook yang tiba-tiba saja menimbulkan debar asing di dadanya. Debaran yang dulu pernah ia rasakan ketika jatuh cinta untuk yang pertama kali.
"Kenapa harus diam-diam mengambil potretku jika aku bahkan tidak keberatan berpose untukmu?" Taehyung mendekati Jungkook, dan ia bisa menangkap jika figur yang lebih muda darinya itu gugup sembari menurunkan kameranya. Ia juga terkejut ketika mendapati Taehyung sudah berdiri di depannya dengan senyum menggoda.
"U-uh, aku tidak memotret dirimu kok!" Taehyung terkekeh pelan, ia selalu suka ketika menangkap rona merah muda samar yang terlihat di pipi Jungkook. Ia mengambil kamera dari tangan Jungkook, membalik layarnya supaya mereka dapat melihat ekspresi wajah mereka, dan mulai mengatur timer.
"Say kimchi—" Shutter ditekan, dan satu potret mereka berdua dengan latar luasnya lautan berhasil diabadikan dalam memori kamera Jungkook bersama beberapa potret Taehyung.
Kau mungkin tak sempurna,
namun bersama kita akan melewatinya.
Mereka sampai di pantai Hanagae saat matahari mulai beranjak ke peraduannya, meninggalkan segaris jingga yang menawan pada horizon dan tak luput dari tangkapan lensa kamera Jungkook. Taehyung hanya bisa mengulum senyum dan memperhatikan punggung Jungkook yang masih antusias menangkap cahaya jingga yang ditinggalkan oleh mentari. Sesekali Jungkook akan memekik pelan ketika ombak kecil mengejarnya dan butiran pasir menggelitik nakal di sela-sela jari kakinya.
Taehyung memejamkan matanya sejenak. Menikmati bagaimana angin laut yang membawa garam bersamanya membelai lembut tubuhnya yang lelah. Sisa bias jingga sang surya yang akan kembali ke peraduannya juga menghangatkan sanubari Taehyung.
Ia membuka matanya, bibirnya kemudian otomatis tertarik membentuk sebuah kurva. Senja dan Jeon Jungkook ternyata begitu menarik dan sayang untuk di lewatkan. Taehyung kemudian bergegas mengambil ponselnya, kemudian menangkap bayangan Jungkook yang kini menikmati garis horizon itu sendirian dengan caranya sendiri.
Senyum di bibir Taehyung belum jua hilang ketika melihat hasil potretnya. Jungkook tidak terlihat seperti calon dokter spesialis di matanya. Jungkook tak lebih dari seseorang yang harus Taehyung jaga dengan segenap hati.
"Jungkook—" Taehyung mendekat, membawa serta tas jinjing besar yang berisi pakaian mereka. Ia duduk di samping Jungkook yang masih sibuk mengejar kepiting kecil di atas pasir untuk di potret.
"Mau makan apa?"
"Hum? Apa saja boleh…" Atensi Jungkook akhirnya terpaku pada Taehyung, ia tersenyum simpul, kemudian ikut duduk di samping Taehyung.
"Mie seafood?" Tanya Taehyung lagi, dan Jungkook tampak berpikir dengan pilihan Taehyung.
"Ada tambahan octopus dan udangnya, kan Hyung?" Taehyung otomatis menderaikan sebuah tawa, ia selalu suka Jungkook yang antusias jika ditanya soal makanan. Jungkook bukanlah picky eater, dan Taehyung senang mengetahui fakta tersebut. Tangan besar Taehyung tidak tahan untuk tidak mengacak surai Jungkook yang begitu halus.
"Tentu saja ada. Kau mau tambah dengan kerang atau kepiting pun bisa, Jungkook-ah…"
Keduanya kemudian terdiam, membiarkan ujung celana mereka basah terkena ombak yang mengajak mereka bermain. Mereka juga menikmati hembusan angin laut yang sedikit lengket namun menimbulkan sensasi menyenangkan ketika membuat surai mereka berdua berantakan.
"Jungkook, mengenai Joohyun dan perjodohan kita—uhm, aku sudah mengambil keputusan." Taehyung mengamati ekspresi wajah Jungkook dari samping. Ia terlihat terkejut selama beberapa saat, namun dengan cepat menutupinya dengan ekspresi lain di wajahnya.
"Aku putus dengan Joohyun, dan memilihmu." Taehyung berbisik selirih angin yang bertiup.
"A-apa?"
Taehyung tersenyum, mengusak helaian rambut Jungkook lagi sebelum fokusnya beralih pada garis horizon yang terbentang di depannya. "Kemarin aku menemui Joohyun, mengatakan jika hubungan kami tidak bisa dilanjutkan. Joohyun gadis mandiri yang kuat, aku tahu ia pasti akan dengan mudah menemukan penggantiku."
"K-kenapa? Bukannya Hyung mencintai Joohyun-Noona?"
"Kami sudah melalui banyak hal bersama. Joohyun yang ada di sampingku ketika aku meniti karir sebagai pengacara, Joohyun juga yang ada di sampingku ketika aku menghadapi masalah besar dengan klienku. Tapi Ibu tidak pernah menyukai Joohyun dan Joohyun selalu menghindar saat aku mengajaknya bicara soal pernikahan." Jungkook diam saja, menunggu kelanjutannya dengan tenang. Meskipun Taehyung tahu, Jungkook pasti cemas dengan segala pikiran dalam kepalanya.
"Aku sudah memperkenalkan Joohyun kepada kedua orang tuaku, tapi kedua orang tuaku menjodohkanku dengan banyak orang. Yang terakhir adalah kau. Awalnya, aku ingin berjuang untuk hubunganku dengan Joohyun, tapi saat aku bertemu denganmu malam itu—mindset tentang perjodohan dalam kepalaku berubah begitu saja."
"Berubah bagaimana?"
"Kau mengatakan jika perjodohan ini adalah bentuk balas budi seorang anak kepada orang tua mereka. Sebelumnya aku selalu berteriak kepada Ibu dan Ayah ketika mereka berdua merencanakan perjodohan lainnya karena tidak suka kepada Joohyun. Aku selalu mengabaikan Ibu yang diam-diam menangis saat aku pergi meninggalkan meja makan, atau Ayah yang menghela napas berat. Kau bilang, pilihan orang tua kita tidak mungkin buruk kan? Jadi dengan bekal itu aku mencoba untuk meyakinkan diriku jika kau adalah pilihan yang terbaik…"
"Joohyun-Noona cantik, pintar, dan mandiri, pasti bisa mengurus hyung sebagai suami ketimbang aku nanti. Kenapa harus imonim tidak menyukainya?" Taehyung tertawa lagi, namun fokusnya kini tak terpaku pada garis horizon di depannya. Ia menyelami iris Jungkook yang juga sedang memandangnya.
"Insting seorang ibu. Dulu, aku menentang kedua orang tuaku untuk menjadi seorang pengacara. Kalau dipikir-pikir, aku sudah terlalu banyak menyakiti mereka. Aku hanya ingin mereka bahagia, lalu berhenti khawatir karena anak sulungnya belum kunjung menikah. Sudah cukup aku melawan kedua orang tuaku. Lagipula, kita tidak akan pernah bahagia jika menikah tanpa restu."
Jungkook terdiam, ia menunduk sembari memainkan penutup lensa kameranya. Sedangkan Taehyung masih lekat memandangi wajah yang entah sejak kapan membuatnya selalu merasa senang dengan alasan yang tidak masuk akal. Benarkah cinta secepat itu datang?
"Hei—" Taehyung memberanikan diri meraih sisi wajah Jungkook dan mengulum sebuah senyum. Ia mendekatkan dirinya dan menempelkan bibirnya di atas bibir Jungkook.
Taehyung kemudian menarik pinggang Jungkook semakin mendekat dan mengulum lembut bibirnya, ia mengulum senyum diam-diam ketika merasakan Jungkook membalasnya dengan positif. Jungkook mencengkram erat bagian depan kemeja Taehyung dan memejamkan mata.
Keduanya seakan meleleh dalam lembutnya pagutan yang membuat kupu-kupu berterbangan, menggelitiki mereka dengan ledakan menyenangkan di dada dan sesuatu yang membuat mereka merasa jika mereka memang ditakdirkan bersama.
Ini memang bukan ciuman pertama Taehyung, tapi sensasi menyenangkan yang ia rasakan seakan membuatnya terlena. Ciuman kali ini seperti cokelat hangat yang lumer menyenangkan, terasa manis, dan membuat tubuhnya terasa hangat oleh perasaan yang tak bisa ia deskripsikan. It's too beautiful too handle. Jungkook memang bukan seorang good kisser, ia hanya pemula yang pasrah saat Taehyung membimbingnya.
"Sekarang aku tahu kenapa kau memang penting bagiku dan pantas untuk ku perjuangkan—" Taehyung berbisik ketika tautan mereka terlepas, menyisakan napas keduanya yang terengah dengan dahi saling menempel dan senyum di atas bibir masing-masing, "—ku pikir aku sudah jatuh dalam pesonamu, Dokter Jeon. Anda tentu bisa menjelaskan debaran ini kan?" Jungkook tertawa, memukul pelan bahu Taehyung sebelum kembali menarik tengkuk Taehyung dan berbisik tepat di atas bibir prianya, "—berhenti memanggilku Dokter Jeon, Tuan Kim Taehyung." Lalu setelahnya Taehyung kembali mengklaim plum Jungkook yang menjadi candunya sekarang.
Awal musim semi, 2017
Taehyung berulang kali menghela napas, tangannya dingin, dan kakinya tidak bisa diam mengetuk lantai. Hari ini adalah hari pernikahannya, tamu undangan sudah mulai memenuhi tempat yang disediakan di dalam gereja, sedangkan Jungkook belum datang. Ia menghela napas sekali lagi, kemudian bibirnya mengulum sebuah senyum ketika kenangannya bersama Jungkook mulai berputar dalam memorinya.
Rasanya baru kemarin ia menghadiri acara baby shower konyol untuk menutupi label acara perjodohan bersama Jungkook. Ia juga masih ingat bagaimana hubungannya dengan Joohyun berakhir dan ia yang mencium Jungkook saat senja datang di pantai Hanagae. Menenangkan Jungkook yang menangis karena Joohyun, lamaran di bawah gerimis di depan teras rumah Jungkook, surat cinta Jungkook yang semalam ia temukan. Ah, Taehyung dengan jelas ingat semuanya. Ia bahkan sudah mempersiapkan surat balasan untuk Jungkook di saku tuxedonya.
Ia menatap cermin di depannya sekali lagi, mengamati pantulan dirinya yang nyatanya baik-baik saja hari ini. Taehyung menarik napas sekali lagi, kemudian pintu ruang gantinya terbuka dan membawa figur Jimin serta Sungjae untuk masuk. Mereka berdua kebagian tugas menjadi pendamping pengantin, ngomong-ngomong.
"Gugup, Kim?" Jimin menyikut pelan lengan Taehyung sembari terkekeh dan mereka bertiga sekarang sama-sama berdiri mengamati pantulan mereka di cermin.
"Kau juga pasti akan segugup ini jika nanti menikah dengan Dokter Min." balas Taehyung.
"Tak ku sangka, pasangan kalian bekerja di tempat yang sama dan hanya berbeda departemen." Sungjae terkekeh pelan, diikuti kedua teman dekatnya. "Nanti kami carikan dokter juga untukmu, Jae."
"Guys, pemberkatannya sebentar lagi!" Paman Taehyung kemudian muncul di ambang pintu, dan mereka bertiga mengirim sinyal dalam isyarat, kemudian tersenyum.
"Bersiap-siaplah menjadi orang yang paling bahagia hari ini Kim Taehyung!"
Saat wedding march yang dimainkan oleh Seokjin—sepupu Taehyung—mulai memenuhi tempat pemberkatan, Taehyung menghitung dalam hati berapa lama Jungkook akan tiba di depannya dan menggenggam erat tangannya untuk bersiap mengucapkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan.
"Taehyung," Tepat pada hitungan ke enam puluh tiga, suara ayah Jungkook menariknya kembali ke realita. Taehyung tersenyum ketika tangannya menggenggam tangan Jungkook yang terasa begitu hangat dan terasa pas dalam genggamannya.
"Kuserahkan adeul-ku untuk kau bahagiakan, Taehyung-ah." Taehyung mengangguk penuh hormat kepada ayah Jungkook, kemudian melempar senyum ke arah figur yang beberapa menit lagi akan resmi menjadi pendamping hidupnya.
"Siap?"
"Kapanpun, Hyung…"
Jeon Jungkook, my future soon-to-be.
Lucu ketika mengingat bagaimana takdir mempermainkan kita, dan kita dengan terpaksa mengikutinya.
Bahkan ketika aku bertemu denganmu pertama kalinya, aku tak memiliki perasaan padamu.
Aku masih menjalin hubungan selama tiga tahun dengan seorang gadis.
Namun, karena rasa baktiku pada orang tuaku, membuatku mengambil keputusan besar,
yang aku tahu akan berpengaruh terhadap seluruh masa depanku.
Menikahimu.
Lucu, ketika kita tak pernah saling mengenal sebelumnya, tiba-tiba disatukan di pelaminan.
Namun, benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.
Perlahan namun pasti, aku mulai mengenalmu.
Sosokmu yang ceria, yang selalu tersenyum meski terluka, yang bersabar menahan setiap kata-kata yang terucap dari bibir laknatku.
Hingga tanpa sadar, aku menghafal setiap kebiasaanmu,
cara makanmu dengan pipi menggembung lucu, berantakan namun imut sekaligus.
Netramu yang berbinar senang ketika melihatku seolah aku adalah orang yang penting untuk kau tunggu.
Kesenanganmu pada kamera, yang sering mengambil potretku tanpa izin,
Hingga cintamu yang entah sejak kapan baru kusadari.
Kau mungkin tak sempurna, namun aku pun tak lebih dari manusia hina.
Kau mungkin tak sempurna, namun bersma kita akan melewatinya.
Jadi, jangan pernah ragu untuk menggenggam tanganku.
Karena aku takkan pernah pergi dari sisimu.
—An answer from Kim Taehyung to Jeon Jungkook—
—EPILOG—
"Jungkook—" Pipi Jungkook otomatis bersemu ketika Taehyung memeluk dirinya yang sedang mengeringkan rambut dari belakang. Resepsi telah selesai, dan kini hanya mereka berdua di dalam kamar honeymoon suite pesanan ibunya.
"Hmm?" Jungkook berdengung pelan, kemudian Taehyung mengulurkan sesuatu ke arahnya. Kening Jungkook mengerut begitu menerima sebuah amplop sederhana dari Taehyung.
"Apa ini? Uang?" Taehyung terkekeh gemas, kemudian mengecup sisi leher Jungkook yang lembab setelah mandi dan nyaris membuatnya gila karena aromanya.
"Bukan, surat balasan untukmu." Hening sejenak. Jungkook kemudian mengerjap pelan dan mendapati senyum jenaka di bibir Taehyung lewat pantulan cermin di meja rias.
"Ah! Jadi Hyung yang mengambil suratku malam sebelum pemberkatan?" Jungkook merasakan Taehyung mengangguk di ceruk lehernya. Ia mengecup sekali lagi sisi leher Jungkook dan berkata, "Bukanya besok pagi saja, malam ini ada hal yang lebih penting dari pada membaca surat balasan dariku."
*FIN*
a/n: Selesai ya teman-teman ^^
Terima kasih untuk support yang kalian berikan di Love Letter maupun Marry You.
Dan, ah!
Sebenarnya ini sedikit mengganggu,
well, bisakah lain kali kalian memperhatikan a/n di akhir cerita sebelum menagih kapan bisa update? ^^
Apalagi bagi yang setiap aku update cuma follow/fav tanpa ada feedback.
Atau meninggalkan review dengan sekedarnya.
Lalu tiba-tiba kalian menagih?
So sorry to say, dear…but it's shameless.
Dan jujur aku merasa terganggu dengan hal-hal seperti itu.
Memang kelihatannya remeh, dan tidak penting bagi sebagian dari kalian.
Aku orangnya pasti on time kok tiap janji update, karena aku tahu nunggu itu ngga enak.
Maaf kebanyakan cuap-cuap ga jelasnya u.u
A bunch of love for:
bxjkv│Vin97│Guest [lionbun] │Guest [1] │Re. rest07│Kyunie│glowrie│lalice26│SwaggxrBang│Nochu13│audriepramesthi│NaluTachi1│imaydiianna│dianaindriani│kimraa│RainKim│jjuni│kenyosekar│christaller│Buzlague│HunhanArisa: tolong cek PM ya dear ^^│HelloItsAYP│Park RinHyun-Uchiha│Guest [94] │Aphroditesweetie
34 favorites/44 followers
