Holaa...minna-san. Na wa Azura. G Nyangka bisa publish ni fic.

i did it. i did it. (lonjak lonjak ala Dora)

sebenarnya chapter 1 kemarin itu cuma buat percobaan aja. makanya, saya tulis 'Fin' di akhir cerita, yar g ada yang baca.

he..he...-geplacked-

Fic ini tercipta karna kestressan saya yang jadi PENGACARA (PEngangguran bAnyak aCARA). (curhat mode on)

huh...

tapi senangnya hatiku. ada yang review fanficku. kini aku menulis dengan riang...(nyanyi-nyanyi gaje ala model iklan In*ana)

arigatou gozaimasu senpai-tachi (bungkuk-bungkuk)..udh ngereview fic abal bin aneh bin gaje bin...(disumpel kertas)...

jawaban atas pertanyaan2 senpai sekalian, salah satunya ada di sini.

selamat menikmati...

rate : T

pair: sasu femnaru

disclaimer : Hmm... MASA' SHI, MASA' SHI...(ditimpuk sendal Mas Kishi )

Chapter 2 :

Kami sudah tiba di depan UKS, Nii-san menendang pintu ruang UKS tsb. Sehingga menimbulkan suara BRAKK!! yang cukup keras. Mengakibatkan terlepasnya daun pintu dari sang engsel. Shizune-neechan yang sedang bertugas menjaga ruang UKS itu hanya mengelus-elus dada melihat perbuatan Nii-san yang cukup 'lembut' dengan pintu ruangannya.

"Yare yare, Sasuke-kun. Cobalah untuk bersikap perike-pintu-an sedikit saja. Kasihan kan, dia tidak punya salah sama kamu." Memandang kasihan pada pintu yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.

"Hn."

OMG, sampai kapan kebiasaannya berbicara ringkas, singkat, dan padat itu hilang dari kosakatanya.

Nii-san menurunkanku di ranjang UKS. Aku pun duduk di tepi ranjang.

"Emang ada apa dengan Naru-chan?" Tanya Shizune-neechan.

"Tolong ambilkan air hangat dan handuk bersih." Perintah Nii-san tanpa menjawab pertanyaan Shizune-neechan.

Shizune-neechan hanya menghela napas dan langsung meninggalkan ruangan UKS. Sedangkan Nii-san mulai mengambil kotak P3K yang ada di meja dan menaruhnya di sisi kiri dudukku. Tak lama Shizune-neechan datang membawa sebaskom air hangat beserta handuk.

"Ini Sasuke-kun. Perlu bantuan?" seraya menyerahkan air hangat dan handuk.

"Tidak perlu." Ucap Nii-san singkat.

"Owh, ya sudah. Saya tinggal dulu ya. Saya mau menghubungi tukang kayu terdekat untuk dimintai bantuan."

"Terima kasih, Shizune-neechan." Kataku sebelum Shizune-neechan menghilang ke luar ruangan.

"Dou ittashimashite."

Nii-san mencelupkan handuk tersebut ke air hangat dan mulai membersihkan darah di siku kananku. Aku hanya meringis menahan perih.

"Nii-san, pelan-pelan dong."

"Kau itu tidak bisa diam ya, Dobe."

"Nii-san, tapi ini perih banget." Rengekku ketika kurasakan Nii-san meneteskan obat merah ke lukaku.

"Kau itu manja sekali. Baru luka kecil kayak gini aja, udah ngeluh terus." Bentaknya

'Heee??? Emang siapa yang dari tadi heboh banget.' Pikirku sweatdrop.

Dasar Nii-san, walaupun dia sering memasang wajah stoic tapi dia memang tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya di hadapanku. Aku tersenyum memandang wajah seriusnya yang sedang merawat lukaku.

Dia memasang plester di lukaku.

"Nah, sudah. Sekarang istirahatlah. Nii-san akan mintakan ijin kepada Kakashi-sensei. Hari ini, jam pertama dia kan yang ngajar?"

"Tapi Nii-san, Naru kan baik-baik aja." Bantahku.

"Hn."

"Nii-san please, Naru g pa pa kok?" pasang puppy eyes no jutsu.

Nii-san hanya mendengus.

"Terserah."

Aku memasang cengiran lima jariku.

'I did it. I did it.'

"Arigatou Nii-san udah ngerawat Naru." Aku berhambur memeluknya.

"Hn."

'Hee!! Nii-san ngeblush. Kawaii ne…!!'

*****

Kami keluar ruangan UKS. Nii-san ke kelas XI-A, sedangkan aku ke kelas X-A. Bel sekolah sudah berdering 5 menit yang lalu. Aku sudah berada di depan pintu kelasku. Perlahan aku membuka pintu. Ternyata Kakashi-sensei sudah berada di mejanya.

'Tumben sekali, seorang Kakashi-sensei bisa on time.'

Sepertinya dia sedang mengenalkan seorang murid baru. Perkenalan pun terhenti karena adanya gangguan keterlambatanku masuk ke kelas. Semuanya langsung menatapku.

"Okurete, sumimasen Kakashi-sensei."

"Daijoobu desu, Naruto-san. Silahkan duduk."

"Arigatou gozaimasu." Jawabku sambil membungkuk.

Aku segera menuju bangkuku yang ada di pojok kanan paling belakang. Seketika mataku terpaku pada sosok yang sedang berdiri di depan kelas. Rambut pirang dan mata yang merah sewarna darah itu. Sosok itu kan yang aku tabrak tadi pagi. Jadi, dia teman sekelasku.

"Nah, Naruto-san. Dia ini Uzumaki Kyuubi. Murid pindahan dari Kota Ame. Karena bangku yang kosong hanya ada di sebelahmu, jadi dia yang akan jadi teman sebangkumu." Jelas Kakashi-sensei.

Kyuubi hanya tersenyum melihatku. Tak satupun kata yang terucap dari bibirnya. Dia segera mengambil tempat di sebelahku.

"Doumo, namaku Uchiha Naruto. Panggil saja aku Naru-chan." Aku mengulurkan tanganku sebagai tanda perkenalan, tapi lagi-lagi dia hanya tersenyum kepadaku tanpa menjabat uluran tanganku. Perlahan-lahan ku tarik kembali tanganku.

'Uh, apa dia ini lagi sariawan ya. Orang yang aneh. Kayaknya bakal tambah ni anggota baru KOKK(Kumpulan Orang Kurang Kosakata).' Pikirku

Sementara di ruang yang lain.

Huatchi!!

"Hei, Sasuke kau tak apa?"

"Ah, tidak."

'Sepertinya ada yang ngomongin aku.' Pikir Sasuke.

*****

Dering tanda istirahat berbunyi, murid-murid berlarian keluar ruangan. Sedangkan aku masih asyik-asyiknya menatap heran teman sebangkuku.

'Anak ini aneh sekali. Dia serius sekali memperhatikan pelajaran sejarah yang diajarkan Kakashi-sensei tadi. Padahal semua teman udah pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing, saking teramat sangat banget sekali membosankannya . Ada yang sibuk dandan (Ino dan Sakura), ada yang makan keripik (Chouji), ada yang tidur dan berkali-kali menguap dan mengucap 'mendoukusai na' (siapa lagi kalau bukan si jenius Shikamaru), ada yang punya semangat membara -apa aja yang diucapin sama Kakashi-sensei pasti ditulisnya- (pasti si alis tebal Rock Lee lah orangnya), ada yang sibuk mainin jari sambil melirik malu-malu ke Kiba (Hinata), ada juga yang mesam mesem gak jelas (si penebar senyum alias Sai), ada yang ngupil -(he..kalau yang ini Authornya ha..ha..)-.'

"Ne, Uzumak.."

"Panggil aja, Kyuubi." Sahutnya cepat. Ternyata dia sadar, kalau sedari tadi diperhatikan.

"Oh ya, Kyuubi-san. Kau tidak pergi ke kantin."

"Tidak. Masih ada yang harus ku kerjakan."

Dia buru-buru memasukkan bukunya dan melesat ke luar ruangan.

'Henna hito..'

"Naru-chan, ayo ke kantin." Suara Sakura membuyarkan lamunanku.

"Gomen na,hari ini aku tidak ke kantin. Kaa-san sudah membuatkan bento untukku."

"Sou desuka? Ya udah, ayo Ino-chan." Sakura menggeret lengan Ino.

"Hei, hei, hei. Jangan tarik-tarik dong."

Ku bawa kotak bentouku dan berlari menuju atap sekolah. Tempat favoritku dengan Nii-san. Aku yakin Nii-san ada di sana. Benar saja dia sudah ada di sana dan sedang memakan isi bentou-nya.

"Nii-sannn…" aku berlari menghampiri dan duduk di sebelahnya.

"Hn." Masih sibuk mengunyah bentou-nya.

"Ne, Nii-san. Apa g ada kata selain 'Hn' apa, di kamus Nii-san?" Aku memanyunkan bibirku.

"Hn."

"Hhh,.."

'Memang susah ya, kalau ngomong sama orang yang kurang kosakata.' Pikirku kesal.

Aku membuka kotak bentou-ku dan langsung menyantap isinya.

"Hmm, oishii ne. Masakan Kaa-san emang paling enak." Seruku memuji.

"Hn."

'Sedikit-sedikit ku bisa mengerti apa arti 'Hn'-nya itu. Mungkin maksudnya 'Ya'.'

"Hn, Dobe, gimana lukamu?"

"Oh, udah g apa-apa kok. Ini semua berkat Nii-san juga. Thank's ya."

"Hn."

'Mulai kumat lagi deh.'

Setelah memakan habis bentou-ku, aku meraba sekitar leherku. Mencari sesuatu. Aku mulai panic ketika tak ku temukan apa yang ku cari. Aku berdiri dan mengibaskan-ngibaskan rokku. Tapi nihil. Benda itu tidak ada.

"Ada apa, Dobe?" tanyanya ketika melihat gelagatku.

"Nii-san, cincinku hilang." Nadaku mulai panic.

"Mungkin kau lupa meletakkannya."

"Tidak. Naru ingat, tadi pagi udah memakainya."

"Mendoukusai na... " suara seseorang menyahut dan kalian pasti tau siapa dia.

"Ehh? Shikamaru sejak kapan ada di sini?" tanyaku heran karena sejak tadi aku tak melihat sosoknya.

"Sejak tadi."

"Eh?"

"Emang benda apa yang hilang?" tanyanya menyelidik.

"Cincin."

"Hmm.. cirinya?"

"Ada kristal berbentuk hati tepat di tengahnya. Di sisi kiri kristal itu terukir huruf N dan K di sisi kanannya. "

"Mungkin jatuh." Kata Nii-san.

Aku mengingat-ingat di mana kemungkinan jatuhnya.

"Ah ya, di UKS."

Aku buru-buru berlari menuruni tangga. Sepertinya Nii-san juga mengikutiku.

Shikamaru berfikir sejenak. Alis bertaut. Pose ala Conan Edogawa yang sedang memikirkan teka teki sebuah kasus.

"Hmm,.. White Ring ya. Jadi Naruto itu.… " gumamnya.

"Aku tahu.."

"Hhhh,.. mendoukusai na." sambil menguap dan berjalan menuju pojok atap, meneruskan tidur.

******

Kyuubi sedang berjalan menuju kantor TU(Tata Usaha) bagian arsip kesiswaan. Dia melirik ke kanan kiri.

"Tidak ada orang. Saat yang tepat untuk menjalankan misi." Gumamnya.

Perlahan-lahan dia membuka pintu ruangan tersebut. Di ruangan itu ada dua meja yang saling berhadapan, dan masing-masing terdapat sebuah computer. Di seberang ruangan ada sebuah rak berisi arsip-arsip yang cukup besar. Kyuubi menelusuri setiap arsip-arsip itu.

"2009..2009.. di mana?"

Seketika matanya tertumbuk pada sebuah arsip.

"Nah, ini dia."

Kyuubi membuka halaman arsip tersebut, di halaman pertama tertulis huruf besar dan bercetak tebal 'X-A'. Halaman demi halaman dibukanya. Membaca nama-nama yang tertera di sana. Haruno Sakura, Hyuuga Hinata,….sampailah dia pada nama depan yang dimulai dengan huruf 'U', tapi nama yang dia cari tidak ada di sana.

'Apa ada yang terlewat?' tanyanya dalam hati.

Dia membolak-balik halaman yang berisi nama siswa yang berinisial 'U'.

'Tidak ada. Apa maksudnya ini?'

"Kalau tidak ada di sini pasti ada di…" dia melirik ke computer. Segera dia mengembalikan arsip tsb ke tempat semula dan menuju ke meja.

Kyuubi langsung menggeser tempat duduknya dan mulai mengotak atik keyboard dan mengklik mouse.

"Kusoo, mereka memasang password. Tapi bukan Kyuubi namanya kalau tidak bisa membobolnya." senyum devil mode on.

Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mengetikan huruf dan angka satu persatu.

'Password accepted.'

Password itu bisa dipecahkannya. Langsung dia ketikan nama 'Uchiha Naruto' di bagian 'Search'-nya.

"Uchiha Naruto,.. " gumamnya.

Flashback on

"Agen Fox, anda diminta datang ke ruangan Inspektur Namikaze, sekarang. "

"Baik." Jawab seseorang yang memakai seragam hitam-hitam dan topeng bergambar rubah berwarna orange keemasan.

Tok tok tok

"Masuk."

Sesosok pria bertopeng rubah memasuki ruangan.

"Tugas apa yang akan saya kerjakan Namikaze-sama?" tanyanya pada seorang pria berambut pirang dan bermata biru,yang ada di hadapannya.

"Bukalah topengmu, Kyuubi!! Tidak enak rasanya bila berbicara dengan seseorang tanpa memandang wajahnya."

"Baik, Namikaze-sama." Seseorang yang dipanggil namanya tersebut membuka topengnya. Sosoknya identik dengan atasannya, tapi cuma matanya yang berbeda. Mata Kyuubi berwarna merah sewarna darah.

"Begini Kyuubi, aku ingin kau menemukan seseorang yang juga memiliki benda ini." Seraya menyerahkan sebuah benda yang ternyata adalah cincin.

Kyuubi mengambil cincin itu dan mengamatinya dengan seksama. Tatapannya seolah berkata 'Ini apa?'. Menyadari arti tatapan itu sang atasan berkata.

"Itu White Ring. Cincin itu mempunyai pasangan dan hanya Sang Pewaris yang memilikinya."

"Kau tidak perlu mengetahui bagaimana detailnya. Cukup temukan siapa pemiliknya. Kabar terakhir yang ku terima dia bersekolah di SMAN 1 Konoha. Kau bisa menyusup menjadi salah satu siswa di sekolah tsb. Aku punya anak buah di sana. Dia yang akan membantumu dan merahasiakan identitas aslimu." tambahnya ketika Kyuubi hendak bertanya.

"Lalu apa yang harus saya lakukan jika saya menemukannya?"

Inspektur Namikaze memejamkan mata lalu membuka matanya, dan terlihatlah sorot mata tajam dan penuh ketegasan.

"Lindungi dia dengan taruhan nyawa. Dan ingat failed is not tolerated."

"Baik, Namikaze-sama."

Kyuubi menuju pintu dan keluar ruangan.

Namikaze-sama mengambil figura foto yang ada di sudut meja, dan mulai mengamatinya. Dia membelai permukaan kaca dengan ibu jarinya. Dipandanginya satu-satu sosok yang ada di foto itu. Seorang pria dewasa sedang berjongkok memeluk dua orang anak kecil. Di sisi kanannya sesosok bocah laki-laki berusia sekitar 4 tahun sedang memeluk si pria dewasa. Dan di sisi kirinya ada bocah perempuan berusia 3 tahun sedang memeluk boneka teddy bear di pangkuan si pria dewasa. Mereka semua berambut pirang dan bermata biru cerah.

Matanya terpaku pada bocah laki-laki di foto tsb.

"Kyuu-chan, kamu sudah besar sekarang. Kamu tampan, mirip sekali dengan Tou-san. Tou-san ingin sekali memelukmu seperti dulu walaupun cuma sekali."

Matanya beralih pada si bocah perempuan.

"Naru-chan, kamu ada di mana? Tou-san sangat rindu ingin bertemu. Tou-san yakin, sekarang pasti kamu cantik sekali mirip dengan Kaa-san."

Dia memeluk figura itu di dadanya, dan memejamkan mata. Setetes cairan bening meluncur bebas dari pelupuk matanya. Membentuk sebuah aliran tipis di pipinya.

"Maafkan Tou-san. Tapi ini demi kebaikan kalian. Tou-san sayang kalian." Gumamnya

"Kushina,...andai kita semua masih bersama."

Flashback off

"Mission cleared." Kyuubi langsung mencetak profil berisi identitas pribadi tersebut.

Kyuubi meraih kenop pintu, tapi tiba-tiba pintu dibuka dari luar, seorang guru yang bertugas menjaga ruangan itu, masuk dan menatap heran pada seorang murid yang berani memasuki ruangannya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

'Yabai na.. Aku ketahuan.' Buru-buru dia selipkan kertas berisi data ke saku celananya.

"Maaf sensei, tadi sebenarnya saya mau pergi ke toilet. Karena saya murid baru, jadi saya tersesat ke ruangan ini." Jawabnya santai.

"Ohh, begitu. Toiletnya kan ada di belakang kelas XII-D. Dari sini kamu lurus saja terus belok ke kanan."

"Arigatou, sensei. Shitsurei shimasu." Pamit Kyuubi

'Dari nada bicaranya, sepertinya dia tidak percaya padaku. Tapi tak apa, yang penting aku dapatkan yang aku cari. ' Kyuubi tersenyum.

Bel tanda masuk berdering. Kyuubi berjalan menuju ruang kelasnya.

Note:

Senpai, saya mau tanya nih soal fanfic..

banyak kan yang suka nulis OC, AU, dsb. itu maksudnya apa?

mohon pencerahannya..

eh ya bagi yang mau ngeflame juga g pp ko. Azura trima dngan tangan terbuka. Biar Azura ngerti caranya ngeflame dengan baik n benar.

-sibuk nyebarin angket-

jaa.. sampai ketemu di chapter selanjutnya.