Desire
Pair:
Kim Namjoon x Kim Seokjin
Rate: M
Status: Part 2 of 2
Summary:
"Aku akan membuatmu tampil luar biasa sehingga si pria pemimpin perusahaan seksi itu akan tertarik padamu." – Jungkook. / "Oh dengan segala hormat, Nona. Kurasa itu tidak akan terjadi." –Seokjin / NamJin, GS!Seokjin, AU.
Warning:
Fiction, AU, GS!Seokjin, Jungkook.
Notes:
All Seokjin's POV
.
.
.
.
.
Part. 2 : Our Desire.
Aku tidak akan tahu apa yang kiranya akan terjadi pada jantungku kalau saja Christian tidak datang menghampiri kami dan mengatakan kalau kami akan berangkat lima puluh menit lagi dan Namjoon perlu menandatangani beberapa berkas yang sudah menumpuk di wajahnya.
Dewi batinku menjerit penuh syukur karena Christian adalah seseorang dengan wajah datar luar biasa, dia tidak bereaksi apapun saat melihat Namjoon yang berlutut di hadapanku dan menjilat jemariku. Apalagi di belakang kami masih terdengar suara desahan Barbara (Sumpah, aku saja merona habis-habisan, tapi Christian tetap berekspresi datar walaupun suara itu benar-benar menjadi latar belakang percakapan kami).
Aku berjalan mengikuti dua pria besar yang berjalan di hadapanku dengan langkah ragu, ini adalah kali pertamaku memasuki hotel mewah sekelas Renaissance. Logikaku berusaha keras memperingatkan sisi agak memalukan dalam diriku yang ingin sekali berdecak kagum melihat interior hotel yang berkelas. Untungnya semua karyawan hotel terlihat tidak memperhatikan kami, mereka menyapa kami dengan hormat dan mengantar Namjoon dan Christian menuju ruang rapat yang sudah dipesan di hotel ini.
Aku refleks membungkuk ringan saat kami memasuki ruang rapat karena yang berhadapan denganku saat itu adalah enam orang pria yang tengah membungkuk 90 derajat pada Namjoon dan Christian. Christian mengangguk dan menarik kursi untuk Namjoon sementara Namjoon hanya berdiri diam tanpa ekspresi.
Wow, sehebat itukah seorang Kim Namjoon di sini?
Mataku bergerak mengitari isi ruangan dengan gugup, astaga, aku amat sangat yakin semua orang akan melihat pupil mataku yang bergetar. Aku benar-benar terlihat seperti anak kucing tersesat di ruangan ini.
Aku mengulum bibirku sendiri dan agak tersentak saat sebuah tarikan lembut menyapa tangan kiriku dan ternyata itu Christian yang sudah menarik kursi untukku dan memintaku duduk di sebelahnya. Dia menggeser sebuah MacBook padaku sementara aku hanya terdiam dengan pandangan kosong dan bingung luar biasa.
"Perhatikan apa yang mereka bicarakan, catat apabila ada yang penting." Christian berbisik padaku dan aku benar-benar ingin memeluknya sekarang.
Aku melemparkan senyum penuh terima kasih padanya sebelum kemudian menyalakan MacBook yang kelihatannya masih 100% baru. Jemariku bergerak lincah mencatat apa yang kiranya penting dalam rapat kali ini, tapi setelah menutup dan menyimpan berkas itu aku baru sadar kalau aku benar-benar menyalin tiap kata yang diucapkan oleh orang-orang di ruang rapat ini.
Tanganku melayang dan menepuk dahiku pelan seraya merutuki betapa bodohnya diriku. Aku menghela napas kasar dan menutup MacBook itu dengan agak keras dan dua detik berikutnya mataku membulat.
MacBook itu berwarna pink! Astaga!
MacBook terbaru yang luar biasa itu berwarna pink pastel kesukaanku!
Pandangan mataku terus meneliti MacBook itu dengan teliti selama lima detik berikutnya sampai aku tidak tahan untuk tidak melirik kedua pria yang duduk di sebelahku. Siapa yang memberi ide untuk memberi warna ini pada MacBook ini?
Apa Namjoon?
Kepalaku langsung menggeleng, seorang berkarisma dan sangat manly seperti dia tidak mungkin memberikan warna seperti ini. Warna pink pastel ini sangat jarang disukai oleh orang lain kecuali dia maniak boneka Barbie dan juga princess sepertiku. Aku mengangguk dengan senyum puas di wajahku kemudian jemariku yang baru dimanikur kemarin itu bergerak mengelus permukaan MacBook.
Aah, aku suka sekali warnanya~
"Ms. Seokjin, kita harus pergi sekarang."
Senyuman aneh di wajahku luntur seketika saat mendengar suara Christian, aku tersadar dari masa disorientasiku karena kecantikan benda tipis di hadapanku dan mataku segera berputar ke arah Christian. Aku mengangguk dengan gerakan kaku dan membereskan barang-barangku kemudian ikut berdiri bersamanya.
Setelah kami melangkah keluar dari ruang rapat aku menahan diriku untuk tidak menjerit malu karena tingkah memalukanku di dalam tadi. Astaga, aku ingat tadi keenam pria yang berada di sana tersenyum geli saat melihatku terburu-buru membereskan barang-barangku dan nyaris melompat berdiri untuk segera pergi dari sana.
Huhuhu, aku ingin tenggelam ke dasar bumi karena malu. Rasanya aku bisa melihat dewi batinku tengah bersembunyi di balik sofa dan tidak akan mau keluar selama 365 hari ke depan karena malu. Astaga, kenapa aku harus seperti ini?!
"Ms. Seokjin,"
Aku mengangkat pandanganku dan aku melihat Namjoon sedang menatapku dengan tajam, aku berkedip dua kali dan berdehem sebelum akhirnya aku menemukan suaraku kembali. "Ya, Sir?"
Matilah aku, dia pasti akan mengomeliku karena tingkah memalukanku tadi. Tamat sudah karir magangku di perusahaannya.
"Bersiaplah untuk keluar nanti malam jam 7, Christian akan menjemputmu."
Mataku membulat dengan sendirinya dan aku bisa merasakan telapak tanganku lembab karena keringat. Apa? Apa ada sesuatu yang kulewatkan? Aku memang sangat tidak fokus dan tidak mendengarkan apapun yang Namjoon dan Christian bicarakan saat kami keluar dari ruang rapat.
"M-maafkan saya, Sir. Tapi.. apa nanti malam ada rapat lainnya?" cicitku pelan, peganganku pada benda elektronik tipis berwarna pink di tanganku menguat. Sumpah, aku benar-benar terintimidasi oleh aura Namjoon.
Namjoon menghela napas pelan, "Kau tidak mendengarkanku?"
Astaga, matilah aku. Ucapkan selamat tinggal pada karir magangmu, Seokjin.
"Ti-tidak.." cicitku semakin pelan, bahkan suara tikus pun lebih keras dari suaraku.
Namjoon mengerutkan dahinya dan berjalan satu langkah ke arahku, "Aku tidak mendengarmu."
Aku bisa mendengar suara saat kukuku mencengkram MacBook semakin keras, aku meneguk salivaku gugup dan menarik napas dalam sebelum mengeluarkan suaraku lagi. "S-saya tidak mendengarkan anda. Maaf.."
Namjoon melangkah mundur sementara aku menarik napas lega, benar-benar lega, karena dia tidak berada dalam jarak berbahaya denganku.
"Aku akan mengajakmu makan malam hari ini. Jadi bersiaplah karena jam 7 nanti Christian akan menjemputmu."
"Ya?" ujarku kaget dengan mata membulat dan rahang yang jatuh.
Aku benar-benar jauh dari kata mempesona.
Namjoon tersenyum geli, "Kau mendengarku kali ini, Seokjin.."
Aku mengedip dengan bodoh sebelum kemudian aku mengangguk seperti robot.
Pandangan Namjoon turun ke MacBook yang sedang kupeluk dengan begitu erat di dadaku. "Dan bawa pulang itu bersamamu."
"Ya?"
Namjoon menatap mataku, "Benda itu milikmu. Aku meminta Christian membelikannya untukmu tadi pagi."
Astaga, apa ada hal lainnya yang bisa membuatku lebih terkejut dari ini?
.
.
.
.
.
.
.
Ajakan makan malam dari seseorang seperti Kim Namjoon itu jauh lebih hebat daripada saat aku diterima kuliah di Seattle. Sungguh.
Dan karena itulah aku benar-benar mempersiapkan diriku. Tapi entah memang aku yang bodoh dan ceroboh atau aku yang sedang dalam masa tidak waras tadi siang,
Aku lupa sama sekali untuk menanyakan dimana kiranya Namjoon akan mengajakku makan malam.
Jadi sekarang aku terjebak bersama semua pakaianku yang sudah dikeluarkan dari lemari dan aku sendiri pusing memikirkan apa yang sebaiknya kupakai. Aku bukanlah seorang yang memperhatikan fashion, aku membeli dan memakai apa yang menurutku nyaman dan memang pantas dipakai.
"Wow, apa kau akan pindah?"
Kepalaku terangkat dan aku langsung melihat Jungkook di ambang pintu dengan celana jeans super pendek dan tube top ketat dari kulit. Apa roommateku ini lupa kalau saat ini sudah memasuki musim gugur dan hawa di luar mulai menggigit? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpakaiannya yang selalu bertentangan dengan musim.
"Tidak, aku tidak akan pindah. Aku hanya sedang menentukan apa yang sebaiknya kukenakan malam ini."
Jungkook menjerit. Dan dia benar-benar menjerit dalam artian kata 'jerit' yang sesungguhnya.
Aku mengumpat dan menutup telingaku yang berdenging. "Kau jalang kurang ajar, kau baru saja merusak telingaku, sialan!"
Jungkook mengacuhkan umpatanku padanya dan melompat ke tempat tidurku yang penuh pakaian, "Kau akan berkencan?!" pekiknya dengan nada antusias yang mengalahkan anak TK di hari pertama masuk sekolah.
"Aku tidak akan berkencan, Jeon Jungkook."
"Lalu apa artinya semua ini? Kau tidak pernah mengacak lemarimu seperti ini. bahkan saat kau akan berkencan dengan pria aneh yang kau temui di fitur kencan online."
Aku memekik, "Kau sudah bersumpah tidak akan membahas dia lagi!"
Jungkook mengangkat bahunya dan dengan acuh memperbaiki posisi tube topnya yang turun. "Jadi siapa yang akan kau kencani kali ini? Apa aku akan mendapat kabar bagus seperti kau yang tidak akan menjadi perawan besok pagi?"
Aku melempar Jungkook dengan braku sementara dia hanya tertawa terbahak-bahak di atas ranjangku.
"Aku akan pergi makan malam dengan Namjoon Kim." Aku menarik sebuah gaun musim panas dan melemparkannya dalam lemari pakaianku, aku lupa kenapa aku mengeluarkan itu dari sana.
Jungkook menjerit. Lagi.
"Aku bersumpah kalau kau menjerit lagi, aku akan menjahit mulutmu dengan dental flossku!"
"Kau akan pergi makan malam dengan seorang pria paling seksi dan bujangan paling diminati?! Jalang sialan, apa yang kau makan sampai kau seberuntung itu?!"
Aku meringis, "Aku makan sandwich tunamu yang anehnya luar biasa. Aku bersyukur aku masih hidup setelah menelan onggokan aneh itu." Lidahku keriting saat mengingat rasa luar biasa yang ada dalam sandwich tuna buatan Jungkook.
"Hei, ini benar-benar diluar dugaan dan kau harus tampil luar biasa! Aku yakin ini tidak akan berujung pada makan malam biasa. Kau pasti akan berakhir di tempat tidurnya malam ini! Oh, atau kalau kau mau, aku tidak keberatan kau mengajaknya ke sini. Mungkin saja aku bisa menyaksikan seks panas kalian kan?"
"Kau maniak seks mesum sialan! Itu tidak akan terjadi."
"Kenapa tidak?"
"Aku asistennya, Kook. Asisten."
"Mana ada asisten yang diajak makan malam keluar?" Jungkook tertegun, "Tunggu, kau asistennya? Kau magang sebagai asistennya?"
Aku mengangguk, "Aku belum cerita ya?"
Jungkook melompat dan menampar pantatku dengan keras hingga aku meringis, "You're so fucking lucky, bitch!"
"Bahasamu, Jeon. Aku lebih tua darimu."
"Oh, persetan, aku jauh lebih berpengalaman dalam banyak hal daripada dirimu." Jungkook melompat turun dari kasurku dan menatap kekacauan yang aku buat di kamar. "Nah, sekarang mana cocktail dress yang kuberikan padamu natal dua tahun lalu?"
Mataku membulat, "Maksudmu gaun super pendek berwarna biru itu? Tidak, tidak, aku tidak akan memakainya."
"Hei, kenapa tidak? Itu akan memudahkan kalian saat akan melakukan itu. Dia tidak perlu melucutimu, hanya perlu menurunkan bagian atas dress dan sedikit mengangkat bagian bawahnya dan kau sudah terbuka seluruhnya."
Kali ini aku melempar Jungkook dengan slipper berwarna pink milikku, "Kau dan mulutmu itu memang perlu dijahit atau minimal dicuci dengan deterjen agar berhenti mengucapkan hal kotor."
"Jangan lakukan itu, mulutku ini kesayangannya V tahu."
"Dan kenapa itu bisa menjadi kesayangannya?"
"Tentu saja karena 'pekerjaan menghisap'ku yang luar biasa." Jungkook menepuk dadanya bangga.
Aku membulatkan mataku, "Astaga, keluarlah dari sini sebelum aku terseret masuk neraka karena berteman denganmu."
.
.
.
.
.
.
Christian menjemputku tepat pada waktunya dan aku benar-benar tersenyum menahan malu melihat betapa mewahnya mobil yang dibawa Christian ke tempat sesederhana flatku.
"Kita akan pergi ke mana?" tanyaku setelah menyamankan diri di kursi belakang mobil yang dikendarai Christian.
"Kita akan pergi ke kediaman Mr. Namjoon, Ms. Seokjin."
"Apa?" pekikku.
"Mr. Namjoon akan memasak makan malam untuk anda."
"Dia akan memasak?!" pekikku lagi.
Oh Tuhan, aku tidak percaya ini. Seorang Kim Namjoon memasak untukku dan aku akan makan malam di rumahnya? Apa di masa lalu aku ini pahlawan perang atau semacamnya? Bagaimana mungkin aku bisa seberuntung ini?
Dalam hatiku aku bersyukur aku hanya mengenakan pakaian normal, mini dress manis yang panjangnya sedikit diatas lutut dan juga mantel tipis milikku. Untung saja aku berhasil menahan Jungkook menjejalkan gaun-gaunnya yang seksi dan pendek padaku.
.
.
Perjalanan menuju rumah dari seorang Kim Namjoon jauh lebih singkat dari yang aku duga. Christian mengantarku hingga ke depan pintu sebuah penthouse paling mewah di Seattle. Wow, aku yakin gajiku selama dua puluh lima tahun tidak akan cukup untuk membeli tempat semacam ini.
Aku berdiri dengan gugup di depan pintu penthouse itu sementara Christian sudah pergi meninggalkanku. Dia bilang dia hanya berkewajiban untuk mengantarku sampai di sini dan aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, makanya aku hanya menekan bell dengan kaku dan berusaha keras untuk menenangkan debar jantungku.
Cklek
"Hei,"
Dan mungkin aku harus mempertimbangkan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit demi kesehatan jantungku karena Kim Namjoon baru saja membuka pintu depan penthousenya dalam kondisi bertelanjang dada.
Dia bertelanjang dada, for god's sake!
Astaga, pemandangan indah tubuh penuh otot dan kekar serta perut dengan enam kotak di sana dan juga kulit tan yang lezat benar-benar terpampang nyata di depan wajahku.
"Hai," ujarku gugup dan berusaha setengah mati untuk tidak memperhatikan tubuh atasnya yang lezat.
Dia membuka pintu lebih lebar, "Masuklah,"
Oh, apa aku boleh masuk ke pelukanmu? Kelihatannya lenganmu yang penuh otot itu akan pas sekali jika memelukku.
Aku melemparkan senyum gugup dan berusaha mengacuhkan dewi batinku yang sudah keluar dari bawah sofa dan tengah mengipasi wajahnya yang memerah.
"Pastanya hampir siap, duduklah dulu. Atau kau lebih memilih untuk melihatku memasak?"
"Aku bisa memperhatikanmu semalaman." ujarku tanpa sadar.
Namjoon tersenyum geli, "Ya, itu terdengar menyenangkan."
Kesadaranku kembali ke dalam tubuhku dan aku menampar pipiku karena sudah mengatakan hal memalukan seperti itu.
Namjoon berjalan ke dapurnya dan mulai memasak kembali sementara aku berdiri kaku di ambang pintu dapur dan memperhatikannya memasak dengan cekatan. Uuh, otot punggungnya membuatku ingin melompat dan memeluknya tapi untungnya aku masih memiliki kontrol diri yang baik sehingga aku lebih memilih untuk mencengkram gaunku daripada melompat memeluk Namjoon.
"Aku tidak tahu kau bisa memasak."
Namjoon tertawa, "Aku bisa melakukan apapun, Nona."
"Aku tidak sering menemukan pria yang bisa memasak."
Namjoon melirikku, "Dan apakah kau bisa memasak?"
Aku terkekeh pelan, "Oh ya, karena aku yakin aku bisa mati kalau membiarkan Jungkook memasak. Dia dan dapur adalah musuh besar."
Namjoon berbalik dan menuangkan pasta dengan aroma gurih dan menggugah selera makan ke dua buah piring. "Semoga kau suka."
"Aku pasti suka," ujarku cepat.
Namjoon tersenyum dan duduk di meja makan, aku refleks menarik kursi di hadapan Namjoon. "Apa kau selalu tidak mengenakan pakaian saat memasak?" tanyaku.
Namjoon tersenyum geli padaku, "Aku memakai pakaian, Nona. Ini namanya celana, dan aku memang tidak memakai apapun lagi di baliknya, tapi memakai ini bisa disebut memakai pakaian, kan?"
Oh Tuhanku, Kim Namjoon berada di hadapanku hanya dengan celana bahan katun yang membungkus kaki panjangnya!
Kurasa dewi batinku sudah pingsan di dalam sana.
Aku menggigit bibirku dan menunduk, "Ya, kau benar."
Namjoon menjalin jemarinya di bawah dagu dan menatapku, "Aku justru penasaran dengan apa yang kau pakai di balik gaunmu itu."
Aku tersentak, astaga, apakah percakapan semacam ini dilegalkan?
"Kenapa diam? Apa kau tidak memakai apapun di baliknya? Karena jika iya, itu akan menjadi suatu kejutan yang menyenangkan untukku."
Aku mengedip dengan cepat, tenggorokanku kering dan bibirku terasa menempel satu dengan yang lainnya sehingga aku berdehem dan menjilat bibirku pelan sebelum menjawab. "Aku memakai.."
"Aku suka melihatmu menjilat bibirmu, membuatku ingin menjilatnya juga."
Aku kehabisan kata-kata, aku terpaku menatap Namjoon sementara dia menatap mataku dalam-dalam dengan pandangan mata yang membakar jiwaku.
Kami bertatapan selama tiga detik sebelum Namjoon berdiri dan dengan cepat memutari meja untuk menghampiriku, menarikku berdiri, dan menciumku.
Oh Tuhan, isi kepalaku terasa meledak saat aku merasakan bibirnya yang panas menekan bibirku yang melunak dengan sendirinya untuk menerima tekanan mendesak darinya. Dia melepaskan ciuman kami dan aku terengah-engah karena gairah dan suatu kelaparan yang amat sangat akan pria yang sedang memelukku saat ini.
"Astaga, aku begitu menginginkanmu, Seokjin.." ujar Namjoon parau seraya mengelus bibir bawahku.
Aku membuka mataku dan menatapnya dan aku merona saat melihat betapa dia terlihat bernafsu untukku. Wow, aku tidak pernah tahu aku bisa membuat pria terlihat seperti itu.
"A-aku.."
"Apa kau memiliki kekasih?" tanyanya cepat.
Aku menggeleng, "Tidak, bukan itu, aku.."
"Kau sedang menstruasi?"
Aku menggeleng lagi, "Bukan, aku.."
"Oh, kau tidak perlu khawatir, sayang. Aku sehat dan aku memiliki stok kondom lebih dari cukup untuk kita. Aku tidak akan membuatmu hamil sebelum waktunya." Namjoon mengecupi rahangku dan aku mencengkram bisepnya untuk mempertahankan diri.
Tuhan, dia dan sentuhannya benar-benar melelehkanku hingga ke dasar.
"Aku.. aku masih perawan."
Gerakan Namjoon terhenti seketika, dia menatapku dan bergeming.
Aku tercekat, aku baru saja sadar bahwa aku melakukan sesuatu yang salah. Tidak seharusnya aku mengatakan itu. Harusnya aku diam saja dan memberikan segalanya padanya, seharusnya aku diam saja. Seharusnya aku diam dan semuanya akan berakhir malam ini, aku tidak akan menjadi gadis perawan lagi.
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi melihat pandangan gamang di mata Namjoon membuatku sadar bahwa Namjoon menginginkanku untuk semacam one night stand biasa sedangkan aku benar-benar menunggu seseorang untuk mengklaimku seutuhnya.
Sialan, sisi melankolis di dalam diriku mengambil alih dan mataku mulai berkaca-kaca.
"Maaf, kurasa aku harus pergi." ujarku sebelum melepaskan pelukan Namjoon dan berlari meninggalkan penthousenya yang mewah.
.
.
.
.
.
.
.
Entah aku beruntung atau bagaimana, yang jelas aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena keesokkan harinya adalah hari Sabtu dan itu berarti aku tidak perlu pergi ke kantor untuk menemui Kim Namjoon. Sungguh, rasanya aku tidak sanggup menatap wajahnya setelah kejadian yang terjadi di rumahnya yang mewah.
Aku menghabiskan sisa hari itu untuk bermalas-malasan di rumah, menonton TV seharian dan juga menghabiskan stok es krim di flat kami. Jungkook yang tahu suasana hatiku hanya diam memperhatikan dan sesekali mencegahku untuk makan es krim lainnya karena menurut penglihatannya aku sudah menghabiskan tiga ember es krim dalam satu siang.
"Aku khawatir kau akan menenggak cairan pembersih, Seokjin. Kau mau cerita apa yang terjadi?"
Aku menggeleng dan menenggelamkan wajahku di antara lipatan lututku dan mulai menangis. Aku tidak tahu apa yang membuatku semelankolis ini. Apa ini karena aku baru saja menolak pria sempurna seperti Namjoon hanya karena keperawananku atau bagaimana? Tapi aku ini warga Korea dengan tradisi yang kuat di tubuhku. Aku tidak peduli budaya bebas di sini, tapi aku selalu mengingat ucapan nenekku untuk melakukan itu hanya dengan suamiku kelak.
Dan aku tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan sekarang. Aku jelas tidak akan dan tidak akan pernah mau menemui Namjoon setelah kejadian semalam. Gila, rasanya aku lebih memilih menceburkan diri di kolam piranha daripada pergi ke sana.
"Oh sudahlah, aku muak melihatmu seperti ini. Sekarang cuci mukamu dan ikut aku."
"Kemana?" ujarku seraya menatap Jungkook yang duduk di sebelahku.
"Ke bar, V dan bandnya akan tampil malam ini. Jadi daripada aku pergi tapi terus mengkhawatirkanmu yang dalam kondisi mental tidak stabil, sebaiknya kau ikut denganku."
"Aku tidak mau ke bar."
"Ikut saja."
"Jungkook, aku tidak mau."
Jungkook mendesis geram, "Ikut aku atau aku akan membunuhmu!"
Aku tersentak dan mengangguk pelan, Jungkook yang berada di hadapanku benar-benar menyeramkan.
"B-baiklah.."
.
.
.
.
Sebelumnya kupikir V adalah pria berandalan biasa mengingat statusnya yang seorang vokalis band rock. Tapi setelah bertemu dengannya, aku sadar kalau dia sama hiperaktifnya dengan Jungkook dan dia memiliki senyum yang lucu.
Rambut berwarna oranye pudarnya bergerak lembut setiap kali dia tertawa dan dia suka sekali mengacaknya. Aku suka melihat interaksi diantara V dan Jungkook, rasanya kedua orang itu memang sangat cocok bersama-sama.
Member band V yang lainnya ada dua orang lagi, satu bernama J-Hope, drummer dan rapper mereka, sementara satu lagi bernama JM, keyboardist sekaligus vokal kedua setelah V. J-Hope memiliki rambut seperti jamur dengan warna coklat gelap dan dia selalu tersenyum. Aku tidak tahu apa yang dia miliki di senyumnya, tapi aku selalu ikut tersenyum tiap kali dia tersenyum.
Sedangkan JM adalah sosok penggoda ulung lainnya seperti V. Dia memiliki rambut berwarna coklat terang dan aku benci mengakuinya, tapi dia memiliki tubuh yang seksi dan otot-otot yang menyembul di tempat yang tepat.
V sendiri memegang posisi bass dan juga vokal utama di bandnya. Mungkin karena suaranya yang terlampau berat dan tidak sesuai dengan senyumnya yang secerah matahari. Dan JM juga memiliki senyum yang bagus.
Intinya mereka bertiga benar-benar tidak cocok menyandang title sebagai member band rock. Mereka lebih cocok bergabung dalam grup acapella jika melihat wajah mereka.
"Yo, kau Seokjin, kan? Kau mau pesan apa?" JM bertanya padaku yang sejak tadi hanya diam bersama mereka di meja yang dipesan V malam ini.
Aku menggeleng, "Aku kurang suka alkohol."
Well, sebenarnya aku tidak bisa minum alkohol. Aku sangat payah dalam urusan alkohol dan mungkin toleransi alkholku lebih rendah daripada anak remaja.
"Eeyy, jangan begitu. Akan kupesankan cocktail manis yang pasti disukai oleh gadis manis sepertimu. Tunggu ya." JM berdiri dari sofa dan setengah berlari ke arah meja bartender sebelum aku sempat mencegahnya.
Tak lama kemudian pria itu kembali dengan sebuah gelas dan dia meletakkannya di hadapanku. "Minumlah, kau pasti suka."
Aku tersenyum padanya dan meraih gelas di hadapanku dan mulai menyesapnya sedikit. Well, JM benar soal rasa minuman ini, rasanya manis. Aku meletakkan gelasku dan menatapnya, "Ini enak."
"Sudah kuduga kau akan suka. Ayo, minum lagi."
.
.
.
.
Aku tidak sadar sudah berapa lama waktu berlalu, yang jelas aku sudah menenggak gelas cocktail keempatku dan kali ini kepalaku mulai pusing. "Uuh, kurasa aku butuh mencari udara segar."
Aku mengacuhkan panggilan JM dan memutuskan untuk berjalan keluar, aku berdiri dengan tangan yang kumasukkan ke dalam saku celana jeansku. Aku menghela napas dan bersyukur karena hawa dingin berhasil mengembalikan sedikit kesadaranku.
Kakiku bergerak-gerak karena hawa dingin dan aku mengangkat kepalaku.
Dan aku melihat dia disana.
Dia.
Kim Namjoon.
Sedang berdiri di hadapanku dengan pakaian santainya yang seksi, sebuah celana jeans dan juga sweater abu-abu, serta rambut pirang platinanya yang berantakan.
"Seokjin?" ujarnya seraya berjalan menghampiriku.
Aku tersentak dan tidak tahu bagaimana harus bersikap saat dia sudah berada di hadapanku.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"A-aku.."
"Yo, Seokjin! Jangan menghilang tiba-tiba seperti itu!"
Kami berdua menoleh ke arah asal suara dan aku melihat JM tengah berlari kecil ke arah kami dan dia merangkul bahuku.
"Aku sudah memesankan minuman lagi untukmu. Ayo,"
Aku melirik Namjoon dan aku bersumpah kalau pandangan bisa membunuh, JM pasti sudah mati.
"Sorry, dude. But she's with me." Namjoon menarikku dengan posesif dan aku meringis pelan karena rasa pusing di kepalaku semakin menjadi.
JM mengangkat kedua tangannya, "Uh, okay. Sorry." Dia melemparkan senyuman kecilnya padaku dan Namjoon kemudian berlalu dari hadapan kami.
Aku mengerang pelan dan memijat pelipisku.
"Kau baik-baik saja?" tanya Namjoon khawatir.
Aku menggeleng, "Tidak, aku tidak kuat minum alkohol."
Namjoon memperhatikanku, "Ya, aku bisa lihat itu."
Aku meringis lagi dan berusaha keras mengerahkan tenagaku untuk membuka mataku dan aku melihat bayangan Namjoon yang kabur di depan mataku dan secara perlahan rasanya dia berubah menjadi banyak.
"Oh, kau ada tiga." ujarku melantur dan kemudian aku tidak ingat apapun lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kepalaku terasa begitu sakit hingga rasanya aku ingin membenturkannya ke dinding terdekat. Aku mengeluarkan suara erangan tertahan dan perlahan membuka mataku yang melekat kuat seperti direkatkan oleh lem super. Dan akhirnya ketika mataku terbuka, yang aku lihat adalah sebuah kursi malas di dekat pintu kaca. Aku mengerutkan dahiku dan mengusak wajahku di bantal dan aku tertegun.
Sejak kapan bantalku beraroma maskulin seperti ini? Seingatku aku memakai shampoo aroma strawberry dan masker wajah cokelat. Jadi seharusnya bantalku didominasi oleh aroma manis dan menenangkan. Mataku terbuka seutuhnya dan aku bergerak bangun perlahan untuk mencoba mengenali ruangan tempatku berada.
Uuh, kepala pusing karena hangover dan tempat asing merupakan kombinasi yang buruk. Apalagi jika saat ini aku tidak berbusana, itu pasti seperti mimpi buruk.
Aku terkekeh pelan dan menggaruk rambutku, helaian cokelat lembut itu jatuh ke tubuhku yang terbalut sweater tipis yang berukuran besar.
Tunggu, sweater?
Semalam aku pergi dengan crop tee ketat kesukaanku!
Aku menyilangkan tanganku di depan dada dan mencoba menggali ingatanku mengenai kejadian semalam. Aku ingat aku pergi ke bar bersama Jungkook kemudian dia mengenalkan member band V yang lain. Aku ingat semalam JM begitu clingy dan dia membelikanku bergelas-gelas cocktail manis yang enak.
Oh my God,
Apakah aku dan JM?
Cklek
Seolah menjawab semua pertanyaanku, pintu kamar itu terbuka dan aku yakin aku akan melihat rambut coklat terang JM. Tapi yang kulihat adalah seseorang berambut pirang platina yang sedang mengeringkan wajahnya.
Astaga,
Pirang platina?!
Handuk itu turun dengan gerakan perlahan dan napasku berhenti saat melihat Kim Namjoon di sana.
Tuhanku, apa yang sudah terjadi?!
"Hei, sudah bangun? Sudah minum aspirinnya?" sapa Namjoon ringan.
Aspirin?
"Uh, ya. Nanti." aspirin bisa menunggu tapi rasa penasaranku tidak bisa menunggu.
Aku memperhatikan Namjoon yang sekarang bergerak mengusak rambutnya, "Apa yang terjadi semalam?"
Namjoon melepaskan handuknya dan berbalik menatapku, "Well, tidak banyak. Kau melepaskan pakaianmu kemudian melepaskan pakaianku."
"Astaga," ujarku seraya meremas rambutku kuat.
Namjoon tertawa, "Tapi hanya itu. Kurasa itu efek mabukmu, jadi aku memakaikanmu pakaian dan tidur."
Kepalaku terangkat dengan begitu cepat hingga aku mengerang sakit karena rasa pusingnya.
"Slow down, baby. Kau akan melukai kepala cantikmu itu. Minumlah aspirinnya." ujar Namjoon khawatir dengan dahi berkerut.
Aku berdehem pelan, "Jadi tidak terjadi apapun semalam?"
"Tidak. Dan itu adalah pertama kalinya aku membawa gadis ke rumahku untuk tidur."
Wait, what?!
Namjoon tersenyum miring, "Aku tidak pernah melalukan one night stand di sini."
Uh, wow. Ini baru berita.
Dahiku berkerut samar. Kalau dia bilang dia tidak pernah melakukan one night stand di sini, kenapa waktu itu dia begitu bernafsu padaku saat kami di rumahnya?
"Kalau yang kau pikirkan adalah kejadian di malam itu, maka jawabannya adalah karena aku tidak pernah menganggapmu sebagai kencan semalamku."
A-apa?
Namjoon bergerak menghampiriku yang masih terduduk di ranjang dan mengurungku diantara pengannya. "Aku begitu tertarik padamu. Kau terlihat begitu adiktif dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku berhasil mencicipimu."
Aku mengerjap dengan cepat, aku tidak boleh jatuh ke kesedihan yang sama. Tapi ada sudut hatiku yang mengatakan ini terlalu cepat. Kami hanya atasan dan asistennya dan kami baru bertemu beberapa hari belakangan.
Jadi ini jelas tidak benar.
"Maaf, kurasa aku harus pergi." aku mendorong tubuhnya menjauh dan beringsut turun. Aku melihat gaunku di kursi dan segera mengambilnya, tanpa mengatakan apapun aku masuk ke dalam kamar mandi di ruangannya dan mengunci pintunya.
.
.
.
.
.
.
.
Aku memutar kunci flatku dan melangkah masuk ke dalam flat mungilku. Kakiku melangkah dengan begitu lesu dan mendung menggelayuti wajahku. Ketika aku menginjak lantai ruang depan, hal yang aku lihat adalah Jungkook, dengan kedua kaki terentang, duduk di sofa, dan kepala oranye pudar berada di antara pahanya.
Biasanya aku akan menjerit dan melempar Jungkook dan teman kencannya dengan bantal. Tapi kali ini yang kulakukan hanya berdiri dengan pandangan kosong.
"Fuck, Seokjin!" pekik Jungkook seraya mendorong kepala yang tadinya berada di antara pahanya.
Sosok pria itu terjatuh dan ternyata dia adalah V, dia mengusap bibirnya dan menatapku.
"Uh, hai?" ujarnya canggung.
Jungkook merapikan penampilannya dan memakai celana dalamnya kembali. "Seokjin, hai. Kau mau ke kamarmu?"
Aku menatap Jungkook dan entah kenapa tiba-tiba saja airmataku mengalir.
"God, apa yang terjadi?" ujar Jungkook panik seraya menghampiriku.
"Kurasa sebaiknya aku pergi." ujar V kemudian dia merapikan penampilannya dan berjalan menghampiri Jungkook, "I'll call you, Babe."
Jungkook mengangguk kemudian dia menarikku ke sofa. "Kau ingin menceritakan sesuatu?"
"Jungkook,"
"Ya?"
"Bunuh aku, please.."
Ada jeda selama tiga detik yang penuh kesunyian hingga aku merasakan kedua tangan Jungkook menangkup kepalaku.
"Astaga, apa kepalamu terbentur?"
Aku menggeleng pelan.
"Apa yang terjadi padamu? Kau membuatku cemas."
Aku menatap Jungkook dan menghambur memeluknya dan mengeluarkan tangisanku di sana. Sungguh kami berdua terlihat seperti pemeran utama dalam opera sabun.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku." isakku keras, "Aku selalu menginginkan dia tapi aku takut. Apa yang harus kulakukan?"
"Dia? Maksudmu Kim Namjoon?"
Aku mengangguk dan mengusap wajahku yang basah, "Apa yang harus aku lakukan?"
Jungkook mengusap daguku, "Sayang, apa kau mencintainya?"
Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, aku hanya.. menginginkannya."
"Apakah menurutmu dia orang yang tepat?"
Aku meremas rambutku, "Aku tidak tahu. Apa menurutmu orang yang selalu membuatku terangsang setiap waktu adalah orang yang tepat?"
Jungkook menggigit bibir bawahnya dan menatapku. Disaat seperti ini dia benar-benar terlihat seperti kelinci kecil yang baik, sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang selalu seperti kelinci binal yang nakal.
"Menurutku,"
Ting Tong
"Orang bodoh macam apa yang bertamu sepagi ini dan merusak momen kita?" gerutu Jungkook.
Aku mengangkat bahu, "Mungkin itu V?" ujarku acuh.
Jungkook berdiri dari posisinya, "Entahlah, biar aku saja yang membukanya. Kau tunggu di sini saja."
Aku mengangguk dan saat Jungkook meninggalkan sofa, aku menghela napas pelan. Kepalaku masih berdenyut karena hangover dan isi kepalaku benar-benar kusut seperti earphone yang dijejalkan ke dalam saku skinny jeans yang ketat.
"Uh, Seokjin.."
Aku mengangkat kepalaku dan melihat Jungkook berdiri dengan gugup di dekat sofa. "Ya? Siapa yang datang?"
Jungkook menggigit sudut bibirnya, "Kurasa sebaiknya kau melihatnya sendiri."
Dahiku mengerut dengan sendirinya, "Apa itu kurir? Tandatangani saja, kita selalu melakukan itu, kan?"
Jungkook menggerakkan kakinya dengan gelisah, "Astaga, cepat keluar dan temui dia."
Aku terdiam kemudian menggangguk pasrah. "Baiklah."
Kakiku bergerak menuju pintu depan flat yang tidak ditutup rapat oleh Jungkook dan saat aku menarik pintu itu membuka, aku melihat sosok seorang pria dengan tubuh tinggi dan rambut pirang platina berdiri di depan pintuku.
Apa yang seorang Kim Namjoon lakukan di depan rumahku?
Namjoon menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan, "Seokjin, ayo kita menikah."
Hah? Apa?
Apa ini kejutan lainnya dari Tuhan untukku?
The End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Coming Soon
The next series..
.
.
"Passion"
.
.
.
Released as soon as possible
.
.
P.S:
Passion ini sequelnya Desire. Hehehe
Bisa release sekarang, bisa setelah ramadhan. Hahaha
.
.
Review? XD
.
.
Thanks
