Mestinya ia tetap meringkuk di balik selimut. Menunggu suhu naik beberapa derajat baru setelahnya bangkit dan menyingkap tirai jendela. Kemudian melanjut mimpi yang sempat tertunda setelah dering alarm–sialan–memaksanya keluar dari sana.

Tapi... tidak juga.

Luhan tak perlu repot-repot berusaha menyambung mimpinya karena setelah ini mimpi itu akan jadi kenyataan juga. Pacarnya yang irit ekspresi itu mengajaknya berkencan sebagai perayaan hari jadi mereka yang pertama.

Terbukti dari tanggal hari ini yang dilingkari dengan spidol merah beserta tulisan 'Hunhan First Anniversary'. Jangan lupakan bentuk heart yang bertebaran disekitarnya.

Kampungan. Baekhyun yang bilang begitu.

Luhan duduk menegak beserta senyum lebarnya. Menggaruk sedikit pucuk kepalanya lantas mulai menapak kaki satu per satu. Berjalan pelan sembari matanya menyipit berkat senyumannya yang tak kunjung mereda.

Baekhyun ingin menegur tadinya. Siapa yang tidak takut menyaksikan teman sekamar mendadak bangun dengan senyum cerah, lantas melangkah lambat menuju kamar mandi masih dengan senyum cerah–idiot–nya. Setelah yakin bahwa Luhan tak sekedar mengigau, Baekhyun kembali mengarah pada komiknya.

.

.

.

.

.

10.05

Luhan tersenyum seolah terpesona dengan bayangan dirinya sendiri. Wajahnya terlalu cantik–sumpah, baru kali ini ia mengakuinya. Dan ia juga sudah rapi dengan balutan sweater turtle neck, celana selutut beserta syal abu-abu (style kesukaan Sehun).

Sedang Baekhyun masih membaca komik dalam keadaan telentang.

10.27

Rusa manis itu duduk diam di tepian ranjang. Sekali-kali juga melirik ponselnya. Senyumnya sudah luntur sedikit namun masih terukir disana. Tangannya bergerak untuk meng-unlock ponselnya untuk kemudian dikuncinya lagi setelahnya.

10.50

Binar rusanya mengerjap berkali-kali sambil memandang layar hitam di depannya. Tak ada satu pun pesan maupun panggilan dari Sehun. Yang berarti tak ada alasan apapun untuk dirinya tersenyum. Oh lihat, bibirnya bahkan melengkung ke bawah sekarang.

11.17

"Baek, kau membaca apa?"

"Seru?"

"Jangan baca sambil tiduran, Baek."

"Kau gendutan ya?"

"Jangan terlalu gendut, Baek. Nanti bisa-bisa–"

"Hyung," Baekhyun memutar bola matanya sekali. Mengalihkan fokus dari manga di depannya–sebenarnya ia sudah tak fokus semenjak Luhan mengganggunya. "Bukannya kau ada kencan?"

Luhan memalingkan wajah sebentar. Sekali lagi melirik ponselnya yang kosong tanpa notif pemberitahuan. "Sepertinya dia lupa." Suaranya lalu berubah sendu.

Baekhyun bergeming sebentar. Mengulum bibirnya sendiri lantas memutuskan untuk mengacuhkan komiknya dengan menutupnya begitu saja. Ia mengambil posisi duduk di samping Luhan. Tanpa bisa diduga ternyata Baekhyun lebih menyukai senyum idiot satu jam lalu ketimbang wajah tertekuk Luhan yang sekarang.

Sementara itu Luhan menghembuskan napas resah lagi. Baekhyun disampingnya tetap bergeming sambil sedikit tak tega melihat Luhan yang berusaha menyembunyikan tangisnya. Sedikit banyaknya Baekhyun jadi merasa iba juga.

"Kita ke taman saja, bagaimana?"

Mata berair itu menatap Baekhyun dengan tertarik. Luhan usap pelupuk matanya yang sudah disesaki gumpalan airmata, lantas mengangguk setuju atas ajakan tadi.

.

.

.

.

.

Hamparan taman itu sudah penuh sesak sekarang. Sebagai destinasi utama akhir pekan, wajar saja jika keadaannya seramai sekarang. Semua nampak bahagia, terlebih para bocah yang tengah bermain dengan anak seumurannya.

Semua, terkecuali dua balita.

"Aku lapar..."

Kaki mungil Chanyeol menginjak-injak rumput dengan gemas. Perutnya yang meraung minta asupan ditangkup oleh kedua tangan kecilnya.

Entah sudah jam ke berapa semenjak mereka tersesat di taman luas ini. Sehun yang tadinya mengajak ke apartemen Luhan dan Baekhyun mendadak berkata, "Aku tak tahu, hyung. Tapi aku lupa arah jalannya."

"Kau benar. Astaga, kenapa aku juga bisa lupa?!" –Chanyeol.

... dan kemudian mereka berakhir seperti ini.

Belum lagi perut kecilnya yang bergolak lapar sejak tadi, Chanyeol jadi tak fokus dengan arah kakinya sendiri.

"Lapar sekali..." lantas ia melanjutkan gerutuannya.

Langkah kakinya tetap lurus bersama kepalanya yang menunduk. Tak kuat memandang aneka macam makanan yang dijajakan di kios-kios jalanan dan lebih memilih pemandangan rumput yang diinjak.

Tapi kemudian berhenti. Chanyeol mendongak seketika, menoleh kanan-kiri mencari sosok yang baru saja ia sadari ketidakberadaannya. Mata bulatnya bertambah bulat, rasa khawatir seketika menyergapnya.

"Sehunie? Dimana?"

Dengan perasaan was-was akhirnya Chanyeol memutar balik, coba kembali menelusuri jejak-jejak sebelumnya. Melewati kios-kios jajanan sambil berusaha fokus mencari Sehun. Kepalanya tak henti bergerak, sesekali juga ia berjinjit–meski tak terlalu banyak berpengaruh. Sementara mulutnya terus mengocehkan satu nama.

"Sehunie? Sehun?"

Chanyeol benar-benar akan menangis jika saja irisnya berhenti di satu objek yang nampak familiar. Hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Segera saja Chanyeol membawa lari kakinya ke arah Sehun yang masih membelakanginya. Rasanya ia sangat ingin memeluk Sehun setelah mencarinya kemana-mana –walau baru berpisah dua menit yang lalu.

Sampai-sampai ia lupa kalau tubuhnya mudah hilang keseimbangan,

BRUK

Ia pun jatuh merangkak.

Lututnya perih, tapi masa bodoh dengan itu. Lantas Chanyeol kembali berlari, secepat mungkin menghampiri Sehun yang masih terdiam di tempatnya berdiri.

"Hah~ hah~" mulut mungilnya membuka dan mengais napas satu-satu. Baru kali ini Chanyeol merasa kelelahan hanya dengan berlari kurang dari lima meter.

Sesampainya disana, Chanyeol jatuh terduduk begitu saja –beruntung rumputnya cukup tebal hingga bokongnya tak kesakitan. Keringat bercucuran di dahi dan satu tangan mungilnya menahan kaki Sehun agar bocah itu tak lagi berkeliaran kesana-kemari.

"Balon..."

Sesaat kemudian Chanyeol kembali mendongak, kali ini menatap ke objek fokus yang sama dengan Sehun. Dan ia baru sadar bahwa balon warna-warni yang sekarang tengah dipandangi Sehun-lah yang menjadi penyebab mereka terpisah beberapa saat lalu.

"Hyung, balon..."

Kini ditambah satu telunjuk kecil Sehun yang mengarah ke seikat balon di udara. Matanya berbinar –menunjukkan betapa besarnya hasrat Sehun untuk memilikinya.

Chanyeol bangkit berdiri, menatap wajah Sehun dan balon bergantian. Helaan napas ia loloskan satu kali. Lantas tangannya yang kecil bergerak merogoh saku bajunya sendiri, mencari sekiranya ada sedikit recehan koin untuk ia tukarkan dengan balon.

Ia hanya tak tega melihat bocah albino itu menginginkan balon sebegitunya.

"Adik kecil, mau balon ya?"

Sehun mengangguk satu kali. Tak melepas perhatian dari balon warna ungu yang sangat menarik atensinya. "Ba-lon..." dan ia bergumam lagi.

Sementara itu Chanyeol hanya bisa membelalak. Mata bulatnya nyaris melompat keluar setelah melihat sesosok lelaki manis yang tengah mengajak Sehun berbicara. Ia menelan ludah berkali-kali, dan jantungnya seolah hilang kendali saat itu juga.

Baekhyun. Disana. Menawari Sehun balon.

Tak ingin hilang kesempatan, maka di detik berikutnya Chanyeol sudah di posisi yang sama dengan Sehun–mulut menganga beserta satu telunjuk mengarah ke balon tadi.

"Ba-lon.. Lon-ba-lon.." Bahkan ia mengikuti ucapannya.

Mau tak mau Baekhyun melepas tawanya. Tingkah si balita yang lebih tinggi nampak menggemaskan di matanya. "Sebentar ya, hyung belikan dulu."

Sementara Baekhyun mulai mendekati sang penjual, bertransaksi dua buah balon, Sehun dan Chanyeol masih bergeming di tempatnya. Sehun mengusap kasar airmatanya yang sempat jatuh, sedangkan Chanyeol terus menganga menyaksikan senyum ramah Baekhyun di depan sana.

"Yang benar saja, Baek? Kau meninggalkanku hanya untuk balon?"

Saat itulah Sehun memutar kepalanya. Napasnya tertahan begitu retinanya menangkap wajah familiar yang begitu ia rindukan. Meski sedikit berbeda karena sekarang Sehun hanya menatapnya dari bawah, tapi tetap saja kecantikan itu berpendar di matanya.

Semuanya berjalan lambat sampai ketika Sehun menyadari perbedaan di mata rusa kesukaannya. Sedikit bengkak dan sembap.

Eh? Apa Luhan baru saja menangis?

Otomatis satu tangan Sehun terulur keatas setinggi mungkin, berusaha meraih pipi Luhan–yang sialnya hanya berhasil menyentuh perutnya saja. Berniat menenangkan kekasihnya yang sepertinya sedang dalam mood buruk.

"Hng?" Luhan membawa kepalanya ke arah bawah saat merasa sweaternya ditarik. Spontan tubuhnya menunduk sedikit, menyejajari telapak tangan mungil yang ia tahu tengah ingin menyentuh wajahnya.

Luhan diam saja ketika tangan kecil itu menangkup pipinya. Rasanya cukup geli, terutama ketika tangan itu bergerak-gerak seperti mengelusnya.

"Ma... ma.."

Sebenarnya Sehun mau bilang 'uljima', apa daya lidahnya kesulitan mematuhi perintah otaknya.

"Mama? Aku? Mama?"

Luhan tak bisa untuk tak terkejut terutama ketika bocah mungil itu memanggilnya mama. Maksudnya, kalau 'papa', bolehlah. Tapi ini?

"Kau mencari mama-mu ya?"

Yang pada akhirnya Luhan tersenyum lembut. Dengan masih membiarkan telapak tangan kecil mengusap-usap pipinya.

Bocah itu–Sehun, menggeleng ribut. Mata berbinarnya kemudian kembali kearah Luhan, sebisa mungkin membuat tatapan khas Sehun sembari bertelepati bahwa, 'aku berubah menjadi balita dan kau harus percaya, Lu!'

Disaat Luhan menatapnya lekat-lekat, selama waktu kurang dari satu menit, Sehun mulai berfirasat baik. Sorot mata Luhan berubah dan ia berkeyakinan penuh bahwa lelaki jangkung–percayalah, ini kali pertama Sehun menyebut Luhan tinggi–itu sudah menangkap sinyal telepati darinya.

"Baek,"

Sosok Baekhyun yang menggenggam dua ikat balon lantas menoleh kearah Luhan. Kakinya turut bergerak mendekati Luhan yang masih dalam keadaan merunduk.

"Aku sedikit ragu, tapi..."

Yeah! Yeah! Kau mengingatnya, Luhannie!

" ... juga aku tak ingin dicap pedofil. Hanya saja anak ini sangat tampan."

What the...

Haruskah Sehun berhenti tersenyum sumringah sekarang?

"Demi bulu kaki Sehun yang baru tumbuh, kau menyukai seorang balita?"

Sehun beralih ke Baekhyun seketika. Mulutnya mengerucut maju mendengar sosoknya sendiri dijadikan bahan sumpah oleh Baekhyun barusan.

Tak sengaja matanya pun menangkap subjek lain. Chanyeol tengah menggenggam tangan Baekhyun ditemani gurat merah di pipi tembamnya.

Tsk. Kesempatan.

"Omong-omong, ini balonmu, adik kecil. Kau mau yang ungu, kan?"

Tatapan mata Sehun berubah lagi. Dari datar menjadi berbinar-binar. Tersadar jika ia baru saja melupakan balon ungu yang memikat perhatiannya sejak tadi.

"Kita harus mencari ibunya. Sedikit berbahaya untuk membiarkan mereka diluar pengawasan."

Kalimat itu spontan membuat dua kepala mungil Sehun-Chanyeol melirik kearah Luhan. Mereka tak mungkin ingin berpisah setelah menemukan Luhan-Baekhyun meski melalui kejadian tak terduga. Sehun sudah lelah berusaha mengorek memori tentang alamat rumah atau minimal nomor ponsel Luhan yang sayangnya percuma. Dan sekarang, ketika Luhan berkata seolah mereka berempat akan berpisah kembali...

Tidak akan!

Sehun melepas tali balon yang tadinya ia genggam. Memeluk kaki Luhan erat-erat sekuat mungkin seolah memenjaranya.

"Tidak! Aku sudah susah payah mencarimu dan seandainya kau tahu betapa pegalnya kakiku berjalan bahkan hanya untuk sepuluh meter, Lu!"

"Jangan, Baekki! Jangan dengarkan Luhan! Kau harus disini, bersamaku. BER-SA-MA-KU!"

"Bukankah sekarang hari jadi kita? Iya kan? Kumohon ingatlah aku, aku Sehun! Kekasihmu!"

"Meski kau bukan kekasihku t-tapi aku sangat mencintaimu. Kau dengar itu, Byun? A-aku... men-mencintaimu!"

"Luhannie, kumohon~"

"Baekkie~ Baekkie-ku sayang~"

Senyap beberapa saat setelah Sehun dan Chanyeol berceloteh lebar kepada masing-masing pasangan mereka. Sehun yang bersikukuh memeluk lutut Luhan serta Chanyeol yang –ugh entahlah, Sehun tak tahu. Karena matanya sedang terpejam dan ia menekan kepalanya ke kaki Luhan.

"Pfft –AHAHAHA!"

Sehun menengadah setelahnya. Menyaksikan Luhan yang tengah terpingkal sambil memegangi perutnya. Baekhyun pun sama. Terbahak-bahak tanpa mengiraukan ekspresi Sehun maupun Chanyeol yang keheranan.

"Apakah mereka baru saja berbicara? Lucu sekali astagaaa!"

Oh iya.

Luhan Baekhyun kan tak mengerti apa yang mereka ucapkan.

Nice.

"Duh-duh, perutku sampai kram."

Sisa-sisa tawa yang tak kunjung habis itu direspon cemberut oleh Sehun. Chanyeol bahkan hampir menangis, menangisi fakta bahwa pernyataan cintanya kepada Baekhyun barusan ditanggapi main-main oleh sosok yang bersangkutan.

"Kalau begitu, kalian ikut kami saja. Setidaknya sampai mama kalian mencari."

Meski tak yakin dua sosok balita di depannya mengerti ucapannya, Baekhyun tetap berlagak seolah mereka mengerti. Memberi usakan ringan di kedua kepala mungil itu, lantas kembali menggenggam tangan kecil Chanyeol dan beranjak pergi dari sana.

Uh. Chanyeol merona lagi.

Luhan pun, menarik satu tangan Sehun ke genggamannya baru setelah itu mengikuti jejak Baekhyun yang sudah lebih dulu dari mereka.

.

.

.

.

.

Petang kian menunjukkan perannya kala langit di ufuk barat sudah bewarna jingga menyala. Di bangku ini, dua pasang pemuda-balita itu duduk tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata.

Luhan menghela napas dan Sehun dibuat menoleh dengan itu. Ditatapinya Luhan yang seperti tengah sibuk dengan ponsel lantas kembali memasukkan ponsel itu ke saku celana. Ia mendapat firasat kuat bahwa Luhan tengah menunggu dirinya (Sehun yang dewasa, bukan yang balita) mengirimi pesan.

Oh sial.

Ia bahkan baru teringat bahwa ia sudah melupakan janjinya untuk mengajak Luhan kencan hari ini!

Sialsialsialsial–

"Sehun belum juga menghubungiku, Baek."

Tuh, 'kan.

"Padahal ini hari anniversary kami."

Sehun kontan meremas sisi baju yang dikenakannya. Beriringan dengan itu, bulir airmata Luhan jatuh mengalir dari pelupuknya. Serta merta tangan Sehun tergerak menggapai pundak Luhan untuk kemudian mengusapnya dengan lembut.

"Mungkin dia sedang sibuk. Percayalah, tak mungkin dia bermain-main di belakangmu."

Untuk yang ini Sehun berterimakasih pada Baekhyun. Mana mungkin ia berselingkuh ketika ia sudah memiliki rusa manis macam Luhan?

"Kuharap begitu."

Dilihatnya lagi Luhan yang mengusap tetes airmatanya baru saja. Rasa-rasanya sudah lama sekali semenjak ia melihat Luhan menangis seperti ini. Terakhir adalah ketika ia tak mengunjungi Luhan seminggu penuh dan memilih fokus pada sepupu gadisnya yang tengah sakit. Bisa ditebak, Luhan meraung-raung sepanjang malam dan murka ketika berfirasat Sehun sudah berani menjamah gadis itu dengan alasan mengganti kompresan yang ada di dahi si gadis.

Ayolah, Suyeon memang tengah demam tinggi saat itu!

` Dan sialnya, wajah jelek rusa ketika menangis itu ia saksikan lagi untuk yang kedua kalinya. Dan untuk yang ini Sehun sadar, bahwa semua adalah salahnya dan ia bersumpah akan kembali menjadi dewasa secepat yang ia bisa.

Luhan baru membuka kelopak matanya kala sadar bahwa tangan mungil si balita tampan terus mengelusnya berkali-kali. Ia tatapi mata polos itu sekali lagi, dan sekali lagi pula ia terkesima.

Ekspresi ini...

Hanya ada satu lelaki yang menatapnya tepat ke retina disaat Luhan mengeluarkan airmata. Lelaki yang menunggunya berhenti terisak, dan setelah itu menariknya kedalam pelukan hangat.

Untuk sementara waktu Luhan bergelut dengan pikiran asingnya. Sedangkan Sehun, seperti biasa, segera mendekat untuk kemudian memeluk Luhan segapai tangan mungilnya. Kepalanya tenggelam di sisi tubuh Luhan, menghirup aroma burberry weekend yang menjadi parfum kesukaannya.

Awalnya Luhan bergeming, tetap diam hingga akhirnya satu tangannya turut merengkuh si bocah mungil. Isakan tangisnya semakin menghilang seiring itu. Begitu pun, rasa kecewanya melenyap sedikit demi sedikit, seperti yang biasa ia rasakan tatkala Sehun memeluknya.

"Luhan hyung,"

Mata Luhan membuka pelan dan langsung mengarah ke Baekhyun.

"Lihat, sudah sepi. Dan sejak tadi tak ada yang mencari mereka."

Tatapan Luhan turut mengedar ke hamparan taman yang mulai sunyi. Tak ada suara kecuali derit mainan taman yang berkarat juga suara tawa khas anak-anak dari kejauhan.

"Astaga, bagaimana ini?!"

Dan ia berubah panik.

Tanpa sengaja pelukan Sehun terlepas dan sang bocah mengerucutkan bibirnya kesal karena itu. Luhan berdiri dan mencoba menyapu pandang ke seluruh sisi taman. Dan hasilnya sama, tak ada satu pun wanita dewasa yang–kemungkinan–adalah ibu dari dua bocah ini.

"Sepertinya kita tak punya pilihan lain."

Setelah berkata demikian, Baekhyun menatap Chanyeol yang sejak tadi sudah terlelap di pangkuannya dengan tatapan iba. Bocah yang tengah terlelap itu terlihat begitu polos, dan tak mungkin ia meninggalkannya disini sendiri.

Tidur, ya.

Atau pura-pura tidur? –hanya Sehun yang menyadari ini omong-omong.

"Baiklah."

Sebelum Sehun sempat menangkap inti pembicaraan, tahu-tahu tubuhnya sudah diangkat oleh Luhan. Ia merona seketika. Terutama ketika dada mereka saling berdempetan. Dan, oh, kenapa dada Luhan bisa seempuk ini?

Chanyeol pun, menguap kecil tatkala tubuhnya mulai terangkat dari bangku. Setelahnya kepalanya tersampir ke satu bahu Baekhyun, kembali–pura-pura–terlelap meski senyum samarnya mampu ditangkap mata Sehun.

.

.

.

.

.

Tanpa berkata apapun, Baekhyun mengambil langkah menuju kamar untuk menempatkan Chanyeol disana. Ia begitu telaten menurunkan tubuh mungil itu perlahan, tak ingin membuatnya terbangun.

Begitu melihat Chanyeol yang nampak nyaman, ia membuang napas lega. Bersiap hendak keluar kamar ketika bajunya seperti ditahan sesuatu. Lalu Baekhyun berbalik lagi, melihat Chanyeol yang juga tengah menatapnya dengan sayu.

Mungkin seharusnya Baekhyun tergoda jika saja ia tak ingat bahwa mata itu hanya milik seorang bocah kecil. Lihat tatapannya yang dibuat seksi itu! Bagaimana bisa seorang balita bertingkah begitu seduktif?

Baekhyun menggeleng kasar. Tak mungkin ia kena karma setelah mengejek Luhan yang tertarik dengan si bocah putih pucat satunya.

Merasakan tarikan kecil di bajunya untuk yang kedua kali, Bekhyun rasa ia tak punya pilihan lagi. Ia bawa tubuhnya naik keatas ranjang lantas mengisi sisi luas disamping Chanyeol.

Perlahan Baekhyun atur posisinya memiring menghadap si balita. Tangannya yang seolah tergerak sendiri itu merayap naik untuk mengelus rambut halus di kepala mungil itu. Hanya beberapa elusan lembut dan Baekhyun jatuh terlelap setelahnya. Juga Chanyeol, yang kini tenggelam di dada Baekhyun seraya tersenyum begitu lebar.

.

.

.

.

.

"Tunggu disini ya."

Sehun yang awalnya keberatan itu pada akhirnya terlepas juga dari pelukan Luhan. Bibir kecilnya mengerucut ke depan dan sayangnya Luhan tak menyaksikan itu. Lelaki manis itu sudah meninggalkannya terlebih dahulu dan memilih untuk melangkah ke kamar.

"Baek, aku baru ingat kita tak punya bubur ba–"

Ucapannya terjeda tepat ketika menatap Baekhyun yang tengah memejamkan mata. Dari tempatnya berdiri saja terdengar napas Baekhyun yang begitu teratur. Kala menyaksikan balita yang ada di pelukan Baekhyun, Luhan pun mengurung niat untuk menggigit pantat Baekhyun (seperti yang biasa ia lakukan kala teman seapartemennya itu bangun kesiangan). Sambil menelan kembali kalimatnya, Luhan berjalan mundur dan menutup pintu kamar tanpa suara.

Kembali Luhan berhadapan dengan Sehun yang nampak bingung dengan ekspresinya. Matanya bergerak-gerak ragu beberapa saat, sebelum akhirnya kembali menatap Sehun yang sama-sama bingung.

"Aku akan ke minimarket membeli bubur bayi. Kau kutinggal sebentar tak apa ya?"

Sehun awalnya bergeming sesaat tapi lantas mengangguk. Ia ingin ikut dengan Luhan tadinya, namun rencana yang terlintas di kepalanya membuatnya berubah pikiran.

Senyum Luhan merekah. Ia usap ringan sebelah pipi Sehun lantas beranjak dari sana. Mengeratkan syal yang melilit di lehernya sementara kakinya melangkah menuju pintu.

Mata Sehun tetap mengawasi hingga menyaksikan sosok itu menghilang di balik daun pintu.

Dan usai itu, mulailah ia turun dari sofa. Menarik langkah menuju kamar namun terpaksa berhenti ketika melihat tingginya knop pintu. Sambil menyemangati dirinya sendiri, tubuh mungilnya jongkok perlahan, mengambil ancang-ancang untuk melompat dan...

Tidak sampai.

Mencoba lagi. Kali ini disertai emosi karena menganggap Chanyeol sudah mencuri start dengan asik berdua-duaan dengan Baekhyun. Tungkai kakinya melipat sempurna hingga bokongnya menungging, dan ia melompat lagi...

CKLEK –berhasil!

Dengan napas yang terengah-engah Sehun melangkah ke sisi ranjang Baekhyun. Ia menggeram samar, merutuki Chanyeol yang sangat pintar mempengaruhi Baekhyun agar senantiasa berada didekatnya.

Dua tangannya mencengkram sprai yang dapat ia gapai, lantas mulai ditariknya seraya kakinya berusaha naik ke atas ranjang. Susah payah sampai akhirnya ia tiba diatas, menyaksikan Chanyeol yang enak-enakan tidur di dada Baekhyun.

Sial!

"Hyung!"
Karena kesal, niatnya yang tadinya ingin menggoyang tubuh Chanyeol berubah menjadi ingin menendang bokong Chanyeol. Tak main-main, Sehun sungguhan menendang Chanyeol dengan keras.

"Apa sih?!" Chanyeol yang terusik langsung berteriak ganas.

"Jangan asik berduaan! Kita harus menyusun rencana untuk kedepannya!" namun Sehun lebih ganas.

Chanyeol nampak enggan tadinya, namun mata sipit Sehun yang melotot membuatnya terpaksa bangkit. Dengan berat hati ia mulai turun dari ranjang pelan-pelan. Disusul Sehun, dan kemudian mereka beriringan keluar kamar.

.

.

.

.

.

Niat yang tadinya hanya ingin sekedar membeli bubur sirna tatkala Luhan teringat kulkas kosong di apartemennya. Susu stroberinya sudah habis–ini alasan utamanya.

Luhan masih setia mendorong trolinya kesana-kemari di lorong yang sama. Binar rusanya memicing lucu ketika menatap dua merk bubur bayi yang berbeda dengan rasa yang berbeda pula.

"Yang ini murah, rasa beras merah."

"Yang ini mahal, tapi ini vanilla. Aku suka vanilla."

Kerutan di dahinya bertambah lagi.

"Duh, kenapa membeli bubur saja serepot ini!"

Sementara mulutnya tak berhenti mengoceh. Matanya bergerak ke kanan-kiri dengan otaknya yang berpikir cukup keras. Setelah sekian lama mengerutkan dahinya, ia berakhir di suatu keputusan.

"Ambil keduanya saja."

Lantas memasukkannya–melempar, sebenarnya–ke dalam troli dengan sedikit emosi. Poninya ia tiup sekali dan setelahnya kembali mendorong belanjaannya hendak menuju kasir.

"Luhan!"

Ekspresi cemberutnya hilang seiring tubuhnya berbalik ke sumber suara. Ia kenal baik suara ini, suara yang pernah membuatnya menahan napas saking salah tingkahnya.

"Kris?"

Teman sekampusnya.

Uh, sebenarnya yang lebih penting, Kris itu ...

... cinta pertamanya.

Sekelebat bayangan tubuh jantan Kris yang tengah menembakkan bola basket bermain begitu saja di kepala mungilnya. Bagaimana bisa Luhan melupakan first impression yang terkesan sangat manis itu.

"Sendirian? Tidak bersama Baekhyun?" ujar Kris setelah tiba tak jauh di depannya. Dari stelan pakaian serta tas olahraga yang dijinjingnya, Luhan menebak bahwa Kris baru saja pulang dari gym. Uh, kenapa bisa lelaki itu sejantan ini?

"Um, yah.. Baekhyun sedang istirahat. Dan aku tak mau kelaparan malam-malam nanti." Dilanjut dengan tawa renyah Luhan diantara mereka. Kris membalas dengan senyumannya yang selalu bisa melelehkan perasaan para penggemarnya–termasuk Luhan.

Tanpa sadar pegangan Luhan pada troli mengerat.

"Kau sendiri, bagaimana?"

Pertanyaan itu ditutup oleh tegukan ludah gugup dari si pria mungil. Wajahnya terasa makin memanas saat menangkap gerak-gerik Kris yang nampak seperti model di matanya.

"Sendiri juga. Hanya ingin membeli persediaan cemilan hingga akhirnya aku melihatmu disini."

Pipi Luhan merona malu. Entah bagaimana kalimat biasa itu menjadi terdengar rayuan di telinganya.

Uh, tidak. Ia sudah punya Sehun lagipula.

Salahkan jiwa fanboy-nya yang menguar begitu saja tatkala melihat Kris yang datang tiba-tiba.

"Kau sedang sibuk?"

Luhan yang masih linglung itu lantas mengerjapkan matanya satu-dua kali. Mencerna baik-baik untuk setelahnya menggeleng pelan. "Memangnya kenapa?"

"Aku ingin berkunjung ke apartmenmu. Sudah lama sekali semenjak aku kesana terakhir kali."

Ya. Sudah lama sekali semenjak kekasih Luhan yang posesif itu selalu menyuruh Luhan jaga jarak dengan Kris. Bukan salah Sehun kalau ia cemburu. Luhan senantiasa memandangi Kris dengan tatapan memuja di setiap pertandingan basket dan Sehun benci itu.

"Bagaimana?"

Luhan menimang sebentar. Akan sangat buruk jika kelak Sehun mendatanginya malam-malam, dan menangkap basah dirinya tengah asik mengobrol dengan Kris. Bukan hanya marah, tapi Sehun bisa menghukumnya. Menghukumnya. Dengan berat.

"Oke, bukan masalah."

Persetujuan itu terucap begitu saja bersamaan dengan ide jahil yang muncul di kepalanya.

Cepat-cepat Luhan mengeluarkan ponselnya. Mengetik satu pesan singkat sebelum terjadi kesalah-pahaman diantara ia dan kekasihnya.

Aku bertemu dengan Kris di minimarket dan Kris bilang ingin berkunjung ke apartemenku. Kau datanglah kemari kalau tak ingin membuatku berduaan dengannya.

Dari : kekasihmu yang kau diamkan seharian ini, Luhan.

Pesan terkirim. Sementara Luhan terkikik sendiri mengingat gertakan yang ia berikan pada sang kekasih untuk mengunjunginya di hari yang spesial ini. Sedikit banyaknya ia percaya diri bahwa Sehun akan langsung mendatanginya kalang kabut setelah membaca pesan tadi.

.

.

.

.

.

"Jadi apa rencananya?"

"Aku akan melakukan hal-hal yang sekiranya mampu mengingatkan Luhan dengan diriku. Sedangkan kau, bantu aku dan jangan sibuk bermanja-manja dengan Baekhyun-mu."

"Tsk. Kalau itu aku juga tahu. Lalu apa rencanamu?"

Sehun yang tengah telungkup diatas karpet bulu itu mengatur posisinya hingga duduk. Kesepuluh jarinya bertaut erat dengan senyuman sinis yang membuat firasat Chanyeol berubah tak nyaman. Oh, oh, Sehun sudah memulai seringai iblisnya bahkan.

"Akan kucumbu dia seperti yang biasa kulakukan. Dengan perlakuan yang persis sama. Dengan begitu ia akan mengingatku karena tak akan ada yang mampu menyaingi sentuhanku padanya."

Chanyeol meremas sisi bantal yang tengah ia peluk dengan gemas. Harusnya ia tahu kalau Sehun semesum ini–ingatkan Chanyeol untuk memarahi Jongin si-penoda-kepolosan setelah ini. Pelipisnya ia urut sesekali, memasang gestur khas orang dewasa dengan porsi tubuhnya yang mungil.

"Bukannya akan mengingatmu, Luhan malah akan membuangmu ke psikolog karena berpikiran kau memiliki kelainan seksual."

Membayangkan sesosok balita menggerayangi tubuh pemuda umur dua puluh dua, ugh, sangat menggelikan.

"Setidaknya gunakan cara yang lebih normal."

"Lantas apa?"

Sehun yang tadinya sudah percaya diri akan idenya mendadak ragu jadinya. Tubuhnya perlahan berbaring dengan tangan yang merentang lebar disisi kanan-kiri, pertanda bahwa ia begitu frustasi. Juga lelah.

"Lakukan hal yang biasa kau lakukan yang bisa membuatnya mengingatmu. Tapi hilangkan unsur porno didalamnya. Bagaimana?"

Sehun cemberut sesaat. Kalimat 'hilangkan unsur porno' membuat mood-nya sedikit banyaknya turun. Tapi benar juga, sih. Setidaknya ia harus mendapatkan sedikit kepercayaan Luhan baru setelahnya mulai menyentuh Luhannya.

Boleh juga.

"Setuju."

Tangan kecil Sehun terangkat ke udara, ingin ber-high five dengan Chanyeol sebelum suara derit pintu mengalihkan perhatian keduanya.

Baik Chanyeol maupun Sehun masih di posisi semula menyaksikan Luhan yang mulai memasuki apartemen sambil kepayahan membawa barang belanjaan. Sehun sudah hampir beranjak berniat membantu kekasihnya yang kesulitan–meski tak yakin bisa atau tidak–jika saja tak terdengar Luhan yang bersuara...

"Terima kasih banyak, Kris. Padahal tak perlu repot-repot membawakan belanjaanku."

"Tak apa, senang bisa membantu."

Diikuti munculnya sosok lain yang lebih tinggi, bersama beberapa ikat keresek yang lebih banyak ketimbang yang Luhan bawa. Keduanya masih bertatapan tanpa menyadari dua sosok mungil yang memerhatikan mereka tanpa berkedip.

Dan, hei! Tak boleh ada yang senyum semenawan itu terhadap Luhan selain Sehun!

Sehun mengepal tangannya spontan. Alisnya berkerut-kerut menandakan dirinya yang terpancing emosi dalam hitungan detik.

"Rencana diubah, hyung. Aku akan menghukum Luhan habis-habisan setelah ini."

.

.

.

.

.

To be continued.

.

Terima kasih untuk kesabarannya nunggu FF ini apdet kkk~

Semoga ngga mengecewakan ya /smile/

Review?

Shend

Bandung, 23 Desember 2015