Distance

Pairing: Chanbaek / Baekyeol

Genre: Romance, Friendship

Shonen-ai / BL / AU / OOC / School-life

.

Sorry for typo(s)

.

.

.

.


Figur anak lelaki yang tingginya sepinggang Chanyeol datang ke ruang tamu dengan nampan di tangan, tidak melupakan tata krama menyambut tamu. Nampan di atas meja, anak itu meletakkan gelas berisi teh ke hadapan tamunya.

"Minum dulu, kak."

Chanyeol mengangguk tanpa suara, ia melepas tasnya di punggung, dibiarkan menjadi sandarannya. "Jadi, kau adik Baekhyun?" tanya Chanyeol mengambil kesimpulan. Pasalnya, ketika dia datang tadi, bukan Baekhyun atau orang tuanya yang membukakan pintu. Tapi sosok anak lelaki yang lebih pendek dari Baekhyun dan sedang duduk di sampingnya saat ini.

Anak lelaki dengan wajah yang selalu tersenyum itu mengangguk. "Iya. Namaku, Kim Jongdae. Kakak temannya Kak Baekhyun?"

Chanyeol sempat bingung untuk mengiyakan atau menyanggah dengan kalimat, bukan kok cuma kenalan. Tapi rasanya kurang sopan kalau mengatakan hal itu, sempat pula terlintas kalimat seperti, rekan kerja panitia, cuma membawakan tugas, titip ya, aku pulang sekarang—kedengaran semakin tidak sopan. Dengan ragu-ragu iya menjawab, "Aku temannya kakakmu, Park Chanyeol. Bukan teman sekelas, rekan kerja sebagai anggota panitia."

"Ah ya, Kak Baekhyun kelihatan sibuk akhir-akhir ini, jadi karena anggota panitia."

Chanyeol memperhatikan sekitar, tidak tahan untuk mengamati detail-detail asing seperti kebiasaanya. "Sendirian saja di rumah?"

Jongdae menggeleng, masih sambil tersenyum, "Kak Baekhyun ada di kamar."

"Cuma dengan Baekhyun?" Chanyeol mengernyit halus.

Senyum anak itu agak luntur, "Iya, cuma berdua. Orang tua bekerja di luar dan kakakku yang satu lagi sudah tidak tinggal disini. Keluarga workaholic, sudah biasa kalau mereka tidak ada di rumah."

Chanyeol menyadari ekspresi Jongdae yang sedikit suram setelah mengatakannya. Berniat dalam hati mengubah topik tapi lidahnya mengkhianati. "Kakak yang kau maksud itu Joonmyeon? Kenapa tidak tinggal disini lagi?" dia menyinggung lagi.

"Oh, semenjak kuliah, Kak Joonmyeon memilih tinggal sendiri, belajar mandiri katanya. Menyewa tempat tinggal di dekat universitas."

"Berapa umurmu?"

"Empatbelas tahun."

Chanyeol meraih gelasnya, meminum teh sambil memikirkan kenapa ada orang tua yang meninggalkan anak mereka meskipun sedang sakit dan memilih pekerjaan. Maksudnya, bisa saja kan salah satu dari mereka menetap di rumah untuk merawat Baekhyun. Bukan meninggalkannya dengan putra mereka satu lagi yang bahkan lebih muda dari Baekhyun. "Baekhyun sakit apa?"

"Kata kakak cuma kelelahan. Wajar sih, dari kemarin kurang tidur karena mengerjakan tugas sekolahnya." Jongdae meraih remote AC dan menyalakannya.

Perasaan kesal datang lagi, tahu persis jika Minra tidak malas-malasan mengerjakan tugasnya, Baekhyun tidak mungkin kena imbas.

"Aku terkejut waktu tahu seseorang datang bertamu ke rumah. Setahuku, Kak Baekhyun tidak punya teman di sekolah."

Chanyeol menatapnya serius, "Itu tidak benar. Kakakmu punya teman kok. Wakil ketua OSIS di sekolah saja menjadi temannya, kakakmu baik dan bisa diandalkan, pasti dia punya teman meskipun sedikit."

Senyuman Jongdae kelihatan ragu, "Tidak apa, aku tahu persis pribadi kakakku. Yah, bisa jadi sikapnya yang tertutup itu adalah dampak dari keluarga sendiri."

Chanyeol menatapnya bingung, kentara sekali ingin tahu sesuatu. "Apa ada masalah?" tanyanya, murni bentuk spontanitas ingin mengorek informasi lebih dalam.

Jongdae sendiri kelihatan semakin ragu untuk meneruskan kalimatnya. Tapi ia menarik napas dan melanjutkan, "Seperti yang kubilang tadi, orang tua kami sibuk bekerja di luar kota atau kadang-kadang negara. Kak Joonmyeon jarang pulang ke rumah meskipun tahun lalu masih sering berkunjung akhir pekan. Ayah dan ibu akan pulang setidaknya sebulan sekali, kalau beruntung. Tapi Ayah dan Ibu terakhir pulang tiga bulan yang lalu, sedangkan Kak Joonmyeon lima bulan yang lalu."

Jongdae memainkan jemarinya, kelihatan tidak nyaman menceritakan hal itu pada orang lain. "Tahu tentang diskriminasi saudara kandung? Dimana anak sulung menjadi prioritas dan kebanggaan keluarga, anak bungsu yang paling banyak dilimpahkan kasih sayang dan dimanjakan. Kami tiga bersaudara, Kak Joonmyeon si sulung, aku si bungsu, dan Kak Baekhyun anak kedua. Apa yang biasanya terjadi dengan anak kedua? Hanya mendapatkan sisa-sisa dari anak sulung."

Ia sedikit menunduk, "Kak Joonmyeon itu pintar, hampir bisa segala hal, sudah pasti dibanggakan. Pada akhirnya Kak Baekhyun ditunjuk sebagai cerminannya, dilimpahkan beban seperti harus menandingi Kak Joonmyeon." suaranya memelan tanpa sadar, "Harus mengejar keberhasilannya atau terpaksa mengambil sisanya saja dan tidak dipandang."

Chanyeol tetap diam, menatapnya dengan serius, masih mendengarkan dengan baik. Mengerti dengan diskriminasi saudara kandung, meskipun dirinya sendiri hanya dua bersaudara. Asupan keinginannya untuk tahu lebih tentang Baekhyun terpenuhi sedikit demi sedikit.

Jongdae mengangkat wajahnya, menatap Chanyeol lurus, "Hal itu penting bagi pandangan masyarakat dan juga orang tua. Tapi aku tidak mempermasalahkannya, Kak Baekhyun yang seperti ini saja sudah sangat kusayangi. Aku memang senang kalau kakakku menjadi kebanggaan keluarga, tapi sosok kakak yang kuinginkan hanyalah dia yang selalu memperhatikanku."

"Dan Baekhyun memenuhi keinginanmu," celetuk Chanyeol.

Jongdae mengangguk, senyum kembali di wajahnya, "Empat tahun yang lalu, aku pernah lari dari rumah karena aku benci datang kembali ke sebuah rumah kosong tanpa keluarga. Bukannya orang tuaku, malah Kak Baekhyun yang mencariku dan mengajakku kembali. Dan dia sudah pulang sebelumku sejak saat itu. Aku sangat berterimakasih padanya untuk itu. Miskomunikasi dengan anggota keluarga yang lain, tapi dengan keberadaan Kak Baekhyun di rumah aku tidak pernah merasa kesepian. Tapi aku juga khawatir kalau tekanan keluarga yang dilimpahkan pada Kak Baekhyun mempengaruhi perilaku sosialnya di sekolah."

"Aku teman kakakmu, percayakan saja kakakmu padaku. Aku akan membantunya jika ia dalam kesulitan, pasti." Chanyeol mengikrarkan janji.

"Terima kasih, Kak Chanyeol." Wajah cerah si bungsu keluarga Kim sudah kembali.

Sikut Chanyeol tak sengaja menyenggol map yang dibawanya, ia hampir lupa dengan tujuan aslinya nekat datang ke rumah Baekhyun. "Oh ya, aku datang untuk menjenguknya sekalian memberikan beberapa dokumen."

Jongdae menunjuk tangga dengan ibu jari, "Perlu kupanggilkan kakak kesini?"

"Ah," Chanyeol tidak yakin untuk bertemu dengan Baekhyun, apa yang akan dikatakannya nanti? "mungkin kutitipkan padamu saja—"

"Katanya mau menjenguk? Kok tidak bertemu orangnya?" Jongdae mengajukan pertanyaan normal. Yang entah kenapa langsung menohok. Mungkin karena situasi.

Chanyeol berdeham pelan, salah tingkah sendiri.

"Kakak ke kamar Kak Baekhyun saja," usul Jongdae sambil berdiri.

"Tidak perlu, nanti menganggu istirahatnya—"

"Perlu. Kak Baekhyun tidak mungkin tidur jam segini, ayo kuantar ke atas."

Chanyeol menghela napas, menyerah dengan argumennya sendiri. Ia menghabiskan sisa teh yang tak sampai setengah gelas. Kemudian menggenggam map dan meninggalkan tasnya di sofa ruang tamu. Mengikuti langkah Jongdae yang menuntunnya ke lantai dua.

Jongdae mengetuk pelan pintu di hadapannya, "Kak? Ada tamu, teman kakak."

Tidak ada sahutan, tapi pintu bercat putih di hadapan mereka terbuka perlahan. Baekhyun muncul di celah kecil pintu yang dibukanya, memperlihatkan wajah agak pucatnya yang kelihatan bingung. Chanyeol tersenyum kaku di belakang Jongdae yang tersenyum lebar.

Ia memiringkan tubuh, membuka pintu lebih lebar. "Oh, ternyata kau. Masuklah."

Jongdae mendorong punggung Chanyeol dengan satu tangan, memaksanya bergerak. Apa daya mau mendorong bahu tapi tinggi badannya tak mumpuni. "Kak Chanyeol mengobrol saja didalam," kepalanya dimiringkan sampai terlihat dari pinggang tamu, menatap Baekhyun, "perlu kubawakan makanan, kak?"

Baekhyun tersenyum tipis, "Sepertinya tidak. Terima kasih, Jongdae." Jongdae mengangguk dan Baekhyun menutup pintu kamarnya. "Duduk saja, Yeol. Tarik kursi belajar itu." Ucapnya sambil melangkah kembali ke ranjang dan duduk bersandar dengan kaki diluruskan. "Jadi, ada apa?"

Mata Chanyeol menangkap laptop yang menyala disisi Baekhyun dan kertas yang berserakan di atas meja belajar. Tumpukan kertas diujung ranjang Baekhyun sedikit menarik pandangannya. "Bagaimana kesehatanmu?"

"Membaik, besok bisa masuk sekolah. Kau membesarkan sesuatu hanya karena izin satu hari." Baekhyun memangku laptopnya, kembali mengerjakan aktivitasnya yang sempat tertunda. Kurang sopan memang, mengabaikan tamu seperti itu. Tapi Chanyeol tidak keberatan sama sekali.

"Apa kau benar-benar kelelahan? Maksudku, sekarang saja wajahmu masih agak pucat."

"Sedikit, tapi aku masih bisa mengatasinya."

Mata Chanyeol masih menatap tumpukan kertas—yang sudah pasti dokumen yang sedang dievaluasi oleh Baekhyun. Ia menghela napas, "Kupikir memang itu permasalahannya. Kau tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri."

Baekhyun tidak melirik sama sekali, fokus sepenuhnya pada layar laptop. "Tidak masalah. Aku hanya membuatnya jadi lebih efisien, semua dokumen ini akan selesai pada waktunya. Aku tetap mengerjakannya meskipun aku tidak masuk sekolah, jadi tidak banyak penundaan—"

"Itu jelas-jelas salah." Chanyeol memotong kalimatnya secara spontan, "Aku ini sebenarnya sedikit marah padamu, tahu." Baekhyun meliriknya, meminta penjelasan. Chanyeol melanjutkan, "Mengandalkan seseorang, saling membantu, dan saling mendukung. Pernah dengar itu? Hal itu membuat pekerjaan lebih mudah."

Baekhyun memandang ke arah lain, "Itu hanya idealistis. Faktanya seseorang selalu dijadikan andalan. Sederhana saja, ambil contoh nyata ketika ada tugas kelompok. Siapa yang mengerjakan tugasnya, siapa yang bermain-main, siapa yang tidak peduli, kenyataan lebih kejam."

Chanyeol menatapnya lurus kali ini, benar-benar serius, "Kalau kau tidak bisa semudah itu percaya pada orang lain, bagaimana dengan mengandalkanku? Bukan seseorang maupun semua orang, hanya aku." suaranya terdengar tegas, "kita teman, kan? Terserah kau sebenarnya mau menganggapku apa, rekan kerja sekalipun tidak masalah. Tapi aku benar-benar ingin berteman denganmu."

"..." Baekhyun tidak membalasnya. Pergerakan jemarinya di atas keyboard juga terhenti.

Chanyeol menghela napas, menahan dirinya sendiri. Ia menyerahkan dokumen pada Baekhyun, "Tambahan laporan untuk dievaluasi, maaf membebani. Aku akan pulang sekarang." Kalimat final sudah diucapkan, Chanyeol berdiri dan menempatkan kembali kursi yang didudukinya ke tempat semula.

Baekhyun menyingkirkan laptop di atas pangkuan, beralih mendahului Chanyeol ke pintu kamarnya. "Aku antar ke depan," katanya tanpa menoleh.

Chanyeol mengambil tasnya di atas sofa. Ia memakai sepatunya di teras rumah keluarga Kim. Baekhyun berdiri di belakangnya. Jongdae tidak kelihatan, mungkin berada di kamarnya. Kemudian Chanyeol merasakan bahunya disentuh, menjadi tumpuan telapak tangan Baekhyun. Bahunya menegang seketika.

"Chanyeol,"

Yang dipanggil menghentikan aktivitasnya mengikat tali sepatu dan menjawab dengan suara yang terdengar ragu, "Ya?"

"Mungkin aku akan mempertimbangkannya lagi, tapi aku pasti akan mengandalkanmu nanti. Jadi," tanpa sadar tangannya sedikit meremas bahu Chanyeol, "terima kasih—atas tawaran dan perhatianmu."

Chanyeol tidak bisa menahan senyum. Ia memiringkan badan, menangkap tangan Baekhyun sebelum terangkat dari bahunya, menjabatnya cukup erat. Baekhyun agak terkejut karenanya. "Terima kasih kembali karena sudah mau mempercayaiku." Chanyeol melepaskan jabatannya dan beralih mengikat tali sepatu dengan cepat. Baekhyun menyembunyikan tangannya di belakang tubuh, diam-diam meremas kedua tangan sendiri dibaliknya.

Chanyeol baru melangkah keluar gerbang dan seketika berbalik, "Satu lagi, tadi ketua OSIS memberitahu bahwa besok akan diadakan rapat penentuan slogan festival. Kau harus ada disana supaya Minra tidak kerepotan, kau jauh lebih baik ketika memimpin rapat."

Baekhyun mengangkat satu alisnya, heran, "Jadi kau sudah mulai peduli dengan Minra?"

Chanyeol tertawa, "Perhatikan kalimatnya, itu pujian untukmu, tahu." genggamannya mengerat pada tali tas, "Baiklah, sampai jumpa besok, Baekhyun."

"Sampai jumpa." Kalimat datar, tanpa lambaian tangan. Persis dengan perpisahan saat pertama kali mereka berkenalan.

Chanyeol sudah melangkah pergi sambil berkata, "Ketika mengucapkan salam perpisahan maupun pertemuan, seharusnya kau melambaikan tanganmu."

Baekhyun tidak menjawab. Secara refleks menatap telapak tangan kanannya sendiri.

.

.

.

.

Ruang panitia sudah ramai ketika bel pulang berdering. Semuanya datang tepat waktu untuk menghadiri rapat. Permasalahannya, rapat tidak juga dimulai karena mereka sibuk mengobrol dengan teman disampingnya. Chanyeol memainkan pensil, memutarnya diatas meja tanpa minat. Luhan meniup poni rambutnya dengan asal, melipat tangan, posenya ketika sedang bosan sekaligus kesal. Baekhyun membaca kertas-kertas di atas mejanya dengan kalem, normal seperti biasa. Dan Minseok melirik ketua panitia yang tak juga memulai rapat, malahan terlihat sibuk mengobrol.

Ketua OSIS agaknya menyadari bahwa rapat tidak bisa lebih terlambat lagi dari ini, ia membuka mulut, "Semuanya sudah disini, Minra." menyinggung dengan nada biasa, berusaha tidak terdengar kesal.

Minra menoleh, "Ah, ya." ia kembali ke tempat duduknya. Ia menatap Baekhyun yang masih berkutat dengan dokumen. "Baekhyun," panggilnya, memberi kode untuk memulai rapat.

Baekhyun mengalihkan fokusnya, ia melirik Minra sebentar dengan agak bingung, "Hah?" ucapan refleks sebelum menyadari kalau Minra memintanya membuka rapat. Ia memandang anggota panitia, "Mari kita mulai rapatnya. Agenda hari ini, seperti yang kalian dengar dari ketua OSIS yaitu penentuan slogan festival budaya."

Sekretaris panitia yang duduk disebelah wakil panitia berdiri, menuju papan tulis di belakangnya untuk menuliskan beberapa ide yang sudah diterimanya.

'Kerja Keras dan Kemenangan.'

Chanyeol memberi tatapan tak nyaman, serius, masa iya slogannya begitu?

'Festival budaya, Sing a Song!'

Tatapannya menjadi semakin mengejek, itu tidak bagus.

'Tak goyah :)'

Chanyeol menenggelamkan wajahnya pada tumpukan tangan di atas meja selama beberapa detik. Ayolah, serius sedikit, siapa yang mengusulkan slogan semacam itu?!

'ONE FOR ALL'

"Oh, itu lumayan." Celetuk Luhan.

Chanyeol menatapnya, memberi isyarat bahwa slogan itu kedengaran seperti orang yang tidak mau rugi. Satu untuk semua, dasar nggak modal. Luhan mengabaikan tatapannya.

Minra berdiri dari kursinya, "Selanjutnya usulan dariku dan wakil ketua panitia." Ia mengatakannya dengan percaya diri. Spidol hitam berdecit ketika bergerak menyentuh papan tulis.

'Semuanya bekerja sama.'

Chanyeol menghembuskan napas kasar, "Terdengar tidak realistis." Ucapannya terdengar ke penjuru ruangan. Karena secara tidak sengaja ia berbicara saat semuanya diam.

Minra menatapnya, "Kenapa? Seaneh itukah?"

Semua anggota menatap Chanyeol, bahkan Baekhyun juga mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertasnya. "Tidak juga." Chanyeol menjawab setengah hati.

Minra duduk kembali di kursinya, "Jika kau tidak suka, tunjukkan yang lebih bagus." Nadanya terdengar merendahkan.

Chanyeol menuliskan sederet hangul di atas kertas. Ia memperlihatkannya ke seluruh anggota. Kemudian angkat bicara, "Bagaimana kalau 'Orang: Festival budaya dimana jika kau melihatnya lebih dekat, satu sisi hanya bersantai'?"

Napas yang tercekat hampir terjadi bersamaan seketika. Minra menatapnya sambil mengerutkan alis, keterkejutan yang nampak jelas. Semua orang menatapnya tak percaya, secara tidak langsung sebagian besar dari mereka merasa tersinggung. Kecuali Baekhyun yang bertahan dengan wajah tanpa minatnya. "Berikan alasannya, Chanyeol." Kata Baekhyun.

"Yah, mereka bilang karakter manusia adalah saling mendukung, tapi satu sisi hanya bersandar pada yang lain. Itulah konsep sebenarnya, maka dari itu kupikir akan cocok menjadi slogan festival budaya yang dicerminkan dari anggota panitia sendiri." Chanyeol menunjuk dirinya sendiri, "Aku korban disini, sebagai panitia yang mengurus bagian laporan dan dokumen, aku disuruh mengerjakan pekerjaan mereka. Bukan bermaksud menimbulkan salah paham, aku hanya mengutarakan apa yang menghambatku sampai saat ini. Jadi apa yang dimaksud dengan ketua kita 'bekerja sama'?"

Perhatian semuanya teralih menatap Minra yang menatap Chanyeol tak percaya karena tersinggung berat dengan ucapannya. Antara kesal dan malu karena dirinya dipojokkan. Perhatiannya teralih ketika mendengar suara tawa yang ditahan tepat disampingnya. Baekhyun menutup seluruh wajahnya dengan kertas, bahunya bergetar naik turun. Benar-benar kelihatan sedang tertawa meskipun ditutupi. Chanyeol menatapnya, antara takjub dan terkejut melihat Baekhyun tertawa. Ini hal baru setelah berminggu-minggu hanya melihat wajah sedatar talenan.

Bahu Baekhyun berhenti bergetar, ia menarik napas dan melepaskan kertas yang digenggamnya. "Chanyeol," ia tersenyum tipis, kelihatan masih ingin tertawa, "ditolak."

Oh, yah, Chanyeol tidak keberatan. Dia sudah mengutarakan kekesalannya. Juga mendapatkan bonus Baekhyun yang tertawa dan tersenyum karena protesnya. Wajah Baekhyun kembali datar dan menatap Minra, "Sepertinya kita tidak akan mendapatkan ide yang cocok. Hentikan rapat sekarang dan lanjutkan dilain waktu, membuang hari pada hal seperti ini tidak berguna."

Minra ingin menentangnya, "Tapi kan—"

"Kita akan memikirkan dan memutuskannya besok." Tatapannya beralih pada seluruh anggota, "juga, untuk pekerjaan yang tersisa, kita dapat menutupi waktu yang terbuang jika kita semua datang setiap hari." kalimat terakhirnya terdengar jelas menyetujui protes Chanyeol tadi, "benar, kan?" ia melirik Minra.

"I-Itu benar." Minra tergagap, "baiklah, harap datang mulai besok dan seterusnya. Kerja bagus, semuanya."

Rapat diakhiri, semuanya keluar ruangan dengan sedikit terburu-buru dan menunduk. Sebagian besar dari mereka merasa malu karena sempat disinggung. Chanyeol keluar terakhir dan mendapati Baekhyun berdiri dengan punggung bersandar pada dinding lorong. "Kau tak masalah dengan itu?"

"Dengan apa?" tanya Chanyeol. Ia mengikuti Baekhyun yang berjalan di depannya.

Baekhyun menoleh, "Kupikir kau harus menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Meskipun kau sudah menegaskan tadi, tapi mayoritas anggota benar-benar tersinggung. Akan buruk jika mereka mencapmu sebagai musuh."

Chanyeol melempar pandangan keluar jendela sebelum beralih menatap lawan bicaranya lagi, "Kupikir itu tidak masalah. Mereka tidak akan berubah jika tidak disadarkan dari awal."

"Terima kasih," ucap Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol menaikkan alis, "Untuk?"

"Protesmu juga membantuku, kau tahu. Pekerjaanku besok akan lebih ringan dibandingkan hari lalu." Baekhyun tersenyum tipis lagi. Dan itu sudah cukup menyilaukan mata Chanyeol, sebenarnya.

Chanyeol membelok ke lorong yang menuju parkiran sepeda, "Kalau begitu, sampai jumpa."

Baekhyun memutar badan, sepenuhnya menghadap Chanyeol. "Hm," perhatian Chanyeol tertuju sepenuhnya pada tangan kanan Baekhyun yang terangkat sebahu dengan ragu-ragu, sempat jeda beberapa detik, ia kelihatan meyakinkan diri sendiri, "sampai jumpa, besok." diucapkan sambil melambaikan tangannya dengan perlahan.

Chanyeol tersenyum lebar, "Ya, sampai jumpa besok." Dan membalas lambaian tangannya.

.

.

.

.

Keesokan harinya, tulisan sudah meraup sebagian besar ruang di papan tulis sebelum bel masuk berdering. Minseok dan Luhan yang menuliskannya dengan sepenuh hati, Baekhyun juga menulis karena dipaksa mereka berdua, tetapi ia tetap melakukannya dengan minat. Tulisan itu menarik perhatian sampai rapat dimulai.

"Ini akan menjadi slogan kita tahun ini." jelas Baekhyun ketika rapat berlangsung.

'We Are One'

Tambahan informasi, Minseok yang menulis 'we', Luhan menulis 'are', dan Baekhyun menulis 'one'. Seluruh anggota mengangguk setuju. Meskipun slogan itu juga memiliki arti yang sama dengan usulan Minra kemarin, tapi semuanya lebih setuju dengan usulan baru. Sesuai dengan kondisi panitia, mereka yang terjebak tenggat waktu bersama, mereka yang mulai berusaha bersama, tidak ada lagi yang membuang waktu dengan bersantai dan melempar tugas.

"Minra, kita harus menempatkan slogan ini dimateri kita." Ucap Baekhyun meminta konfirmasi.

"Ya, baiklah, lakukan sekarang." Kata Minra.

"Cepat kita tempelkan poster ini," seksi periklanan sibuk menempel selebaran di mading setiap lorong.

"Kita butuh dana lebih, cari sponsor lain yang mau bekerja sama dengan kita. Berikan laporannya," manajemen sukarelawan pun sibuk mengetik ini itu sambil mengoper kertas-kertas penting.

"Kami selesai meng-upload versi uji coba website, Baekhyun." siswi dari seksi periklanan melapor pada Baekhyun.

"Dimengerti," Baekhyun menoleh pada Minra yang duduk diam disampingnya, "aku butuh konfirmasimu, ketua panitia."

Minra menoleh, "Oh, ya, silahkan lakukan."

Baekhyun menatap sekretaris panitia, "Beralih menyelesaikan susunan jadwal acara pada hari H."

"Baiklah."

Minra menatap lagi ke seluruh ruangan, memandangi anggota yang sibuk berdiskusi ataupun mengetik laporan. Kelihatan melamun seperti merenungkan sesuatu yang membuatnya merasa rendah.

"Ketua panitia, ada orang luar yang akan berpartisipasi. Ini juga menjadi tambahan sukarelawan yang kita butuhkan." Minseok membuka pintu ruangan. Kelihatan habis menjemput seseorang. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki dengan aura yang berwibawa tinggi. Perhatian semua anggota tertuju sepenuhnya pada tamu, ekspresi terkejut jelas terlihat. Tak terkecuali, bahkan Baekhyun. Chanyeol yang sedang berhenti mengetik itu justru melesetkan pandangannya dari tamu kepada ekspresi asing Baekhyun.

Genggaman Baekhyun mengerat pada laporan yang baru saja ia evaluasi. Sedikit membuat kertas itu berkerut karena terlalu erat. Matanya yang sipit kelihatan melebar terkejut. "Kakak?"

Chanyeol memandang tamu lagi dengan lebih terkejut. Tunggu sebentar, tadi Baekhyun memanggilnya apa?

"Hai, Baekhyun." senyum sopan ditampilkan oleh tamu mereka.

Lima bulan tidak bertemu dan hanya mengatakan hai?! –ini inner Chanyeol sebenarnya. Bukan Baekhyun.

"Syukurlah ingatanku masih baik, aku masih mengingat ulang tahun sekolah lamaku. Jadi aku datang kesini untuk berpartisipasi." Joonmyeon masih tersenyum, tatapan seratus persen mengarah pada adiknya. Dia dan Minseok berjalan ke depan meja Baekhyun.

"Kak Joonmyeon jadi bagian sebuah band saat dia masih kelas tiga disini." Ucap Minseok sedikit bersemangat.

Baekhyun bangkit dari kursi, menunjukkan kesopanan dengan tidak bicara sambil duduk. "Aku tahu itu. Dia kakakku, tidak mungkin hal itu tidak kuketahui." suara datarnya terdengar agak ketus.

Joonmyeon menepuk bahu Minseok. "Oh, ayolah, Minseok. Kami hanya bermain-main saja, menyalurkan hobi." Ia beralih mendaratkan kedua telapak tangannya di bahu Baekhyun, "Dan, Baekhyun, aku ingin melakukan apa yang kubisa untuk adikku yang berharga."

Baekhyun menepis tangan itu dari bahunya, begitu halus sampai tidak ada yang bisa menebak apakah itu kesengajaan atau bukan. Joonmyeon refleks melepaskannya dan mundur selangkah karena tidak menyangka akan tindakan adiknya. Baekhyun mengalihkan pandang, "Terserah kau. Aku tidak punya hak untuk memutuskan hal ini."

"Benarkah?" Joonmyeon kelihatan lebih terkejut dengan pengakuan itu, "kupikir kau ketua panitianya. Lalu siapa yang menjadi ketua panitia?" tatapannya jatuh pada siswi disebelah Baekhyun.

"Dia ketuanya," ucap Minseok.

Minra berdiri dan sedikit menundukkan kepala, "Aku Lee Minra."

Tatapan Joonmyeon mengarah pada meja ketua panitia yang bersih dari dokumen apapun. Meja Minra tidak terdapat laptop ataupun dokumen yang harus dievaluasinya. Benar-benar kosong karena tidak mengerjakan tugasnya. Ia beralih pada meja Baekhyun yang dipenuhi tumpukan kertas, map, dan laptop yang menyala. Ia menatap Minra dengan tambahan intimidasi, "Jadi ketua panitia pelaksana tidak mengerjakan tugas apapun." Sindirnya.

Minra masih menunduk, tidak menunjukkan ekspresi cemasnya karena dikomentari seperti itu.

"Kesampingkan hal itu, aku ada permintaan." Joonmyeon tersenyum penuh wibawa lagi, "aku ingin berpartisipasi dalam festival. Anggaplah sebagai tim sukarelawan tambahan. Tapi Baekhyun menolakku. Padahal aku jauh-jauh datang dari universitasku langsung kesini."

Minra mengangkat wajahnya, melihat Baekhyun yang membuang muka. Ia tersenyum, merasa kembali bisa mendapatkan perhatian lebih, "Tentu saja boleh. Kami juga masih kekurangan tim sukarelawan."

Baekhyun duduk kembali sambil melanjutkan tugasnya tanpa berkata apapun. Joonmyeon menatap adiknya sambil tersenyum, "Apa aku bisa membantumu, Baekhyun? Aku sudah menjadi orang dalam sekarang, selain menunggu jadwal urutanku untuk festival, aku bisa membantumu selagi disini."

"Kalau kakak tidak ada urusan lagi disini, kenapa tidak segera pergi saja?" ucap Baekhyun kalem.

Joonmyeon menumpukan tangannya di atas meja Baekhyun. "Jahat sekali, kesannya seperti mengusir kalau saja aku ini orang yang mudah tersinggung."

Baekhyun menatap lurus pada layar laptop. "Aku serius. Bukankah kakak sibuk mempersiapkan sidang skripsi? Jangan membuang waktu disini."

"Perhatian sekali. Aku baik-baik saja berada disini, masih ada waktu lain karena sekarang aku hanya ingin membantumu. Skripsi bisa kuselesaikan nanti dengan mudah, aku ini pintar, kan." Joonmyeon belum menyerah mengalahkan argumen adiknya.

"Kakak bisa melihat-lihat pekerjaan yang lain karena aku bisa menyelesaikan bagianku sendiri." Baekhyun menjawabnya dengan acuh.

Joonmyeon tersenyum mafhum. "Dimana bagian yang mengurus laporan dan dokumen? Aku ingin melihatnya untuk membantu mengevaluasi."

Minra mengarahkan telunjuknya pada Chanyeol, "Disana."

Joonmyeon berjalan mendekat, berdiri di samping kursi Chanyeol dengan kedua tangan dilipat. "Wah, pekerjaan berat. Dokumennya banyak sekali." Ia melirik tumpukan map di samping laptop.

Chanyeol menatapnya sebentar, "Sudah menjadi tugasku, kan." Ia melanjutkan mengetik dan kembali berhenti ketika setumpuk kertas diletakkan di atas mejanya.

Baekhyun berdiri disisi satunya, "Aku ingin kau menyelesaikan dokumen mengenai slogan serta notulennya. Beritahu setiap kelompok yang berpartisipasi dengan slogan kita lewat pesan singkat. Oh, juga kumpulkan semua aplikasi perencanaannya dan upload ke server. Aku ingin semuanya selesai hari ini."

"Kau tidak serius, kan? Harus hari ini?" Chanyeol menatapnya dengan sorot 'tega-teganya melakukan hal ini padaku'.

Baekhyun menatap jam digital di pergelangan tangannya, "Tenggat waktu yang kau miliki adalah lusa, lebih efisien diselesaikan sekarang supaya besok bisa mengumpulkan laporan yang tersisa."

"Aku tahu saranmu itu memang bagus, tapi kan—"

"Aku mengandalkanmu." Suara datar memotongnya.

Chanyeol menghentikan dirinya sendiri yang ingin melanjutkan omongan, ia hampir tak percaya dengan kalimat yang diluncurkan Baekhyun saat itu juga. Ia mengerjap berkali-kali, "Apa tadi?" tanyanya, ingin mendengar ulang pernyataan itu.

Baekhyun menghadapnya, senyum tipis terlihat meskipun Chanyeol merasakan bahwa Baekhyun ragu untuk melakukannya. "Aku mengandalkanmu, Chanyeol."

Dengan senang hati Chanyeol menyanggupi tugas itu. "Aku akan menyelesaikannya hari ini. Percayakan padaku." Ia tersenyum.

Baekhyun kembali ke tempat duduknya. Chanyeol nyaris melupakan Joonmyeon yang kini tengah memandangnya penuh hawa intimidasi.

"Tadi Baekhyun memanggilmu apa?"

"Hah?"

"Maksudku, aku menanyakan siapa namamu." Lebih seperti menitah daripada bertanya. Senyum penuh wibawanya hilang, raut wajah itu kelihatan tegas.

"Park Chanyeol."

Joonmyeon menyipitkan mata, tidak mengurangi hawa mengintimidasinya yang justru semakin kuat. "Aku menandaimu. Apa kau teman Baekhyun?"

Chanyeol mengerutkan alis, maksudnya menandai itu apa?

"Aku menganggapnya sebagai teman. Tapi terserah Baekhyun menganggapku apa." Jawaban yang seratus persen jujur.

Senyum ramah Joonmyeon kembali seketika, "Ah ya, itu terdengar seperti Baekhyun yang kukenal. Tapi aku tetap menandaimu. Baekhyun tidak pernah mengandalkan orang lain sebelumnya, aku curiga kalau kalian menyebut bukan teman."

Oh.

Chanyeol mengerti sekarang. Dasar kakak protektif. "Maaf, aku harus melanjutkan tugasku."

Joonmyeon mengangguk, "Tentu, lakukan saja tugasmu. Aku mau melihat pekerjaan yang lain." Kemudian pergi ke seksi periklanan yang sedang membahas poster. Chanyeol menatapnya lekat, bertanya-tanya seperti apa sifat asli kakaknya Baekhyun itu. Si sulung dari keluarga Kim memiliki aura yang lebih berat dibandingkan Baekhyun, menunjukkan betapa berpengaruhnya ia bagi semua orang. Chanyeol memang tidak tahu ada apa diantara Joonmyeon dengan Baekhyun, tapi kelihatannya persaudaraan mereka tidak berjalan baik. Dia memang tahu permasalahan inti, tapi sikap Baekhyun pada kakaknya kelihatan samar.

.

.

.

.

Chanyeol menenteng map di tangan kiri dan menggenggam ponsel di tangan kanan. Ponsel menempel di telinga, layar aktif dalam mode telepon.

"Sudah kubilang deadline-nya hari ini!" Chanyeol berseru, setengah frustasi. Dia harus segera melaporkan semua dokumen tetapi seksi periklanan belum menyerahkan semua laporan. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, sedikit tersapu map yang digenggamnya, "Memangnya belum diketik sama sekali? Pasti sudah kan sekalipun itu baru setengah dokumen? Pokoknya kutunggu, tidak boleh lewat dari bel pulang sekolah atau aku akan—" kalimat dramatisnya terpotong hanya untuk merunduk karena seorang siswa lewat memikul papan kayu sebesar spanduk di bahu.

Gila. Itu papan buat apaan. Ini persiapan festival atau persiapan perang Indonesia-Belanda?

"—atau aku akan dibunuh oleh Baekhyun. Dia sudah menanyakan kesiapan dokumen, tahu!" sambung Chanyeol.

Siswa yang menjadi kuli papan kayu dadakan itu menoleh kembali pada Chanyeol dan meminta maaf karena menganggu jalannya. Chanyeol mengangguk cepat, "Iya, bukan masalah. Udah jangan toleh sana-sini, nanti papannya kena orang lain—"

Bugh.

Ada korban lain yang kepalanya tersambar. Ruang kesehatan ada orang tidak ya, kasihan tuh muncul pasien dadakan. Lagian itu papan segede spanduk buat apaan coba. Nabokin orang? Chanyeol segera pergi dari tempat kejadian perkara. Di ujung lorong, ia hampir menabrak orang yang langsung memegang kedua bahunya untuk menahan jarak.

"Eits, eits, oh Chanyeol." Luhan memutar badannya dan melepas tangannya, "Ah ya, kau lihat Baekhyun, tidak? Dia diminta membantu panitia disana yang sedang menata panggung."

Chanyeol mematikan sambungan ponselnya, beralih menatap Luhan sambil memasukkan ponsel dalam saku celana. "Tidak. Sejak pagi tidak kelihatan memangnya?"

"Kalau aku melihatnya, tidak mungkin aku bertanya." Luhan melirik map yang didekap Chanyeol, "Kelihatannya kau tidak sibuk-sibuk amat. Tolong carikan dia, ya."

"Kenapa jadi aku?" Chanyeol menunjuk dirinya sendiri, "Aku juga harus mengejar waktu dengan laporan lain, tahu. Seksi periklanan sudah telat dari jadwal—"

"Itu tidak sibuk, kok." Sela Luhan cepat-cepat, "Aku cuma memintamu mencari Baekhyun, bukan jarum dalam tumpukan jerami. Sudah ya, kuserahkan padamu. Aku harus membantu anggota OSIS lain." Kemudian pergi, menghilang di antara kepala-kepala yang lebih tinggi.

Chanyeol menghela napas, pasrah. Ia nyaris tak perlu berpikir untuk segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang mulai dihapal. Tangga dekat parkiran sepeda. Biasanya Baekhyun menyendiri disana kan.

.

Pada hari H, lorong sekolah kelihatan sepi. Semua murid berada di aula khusus yang disulap menjadi auditorium dengan banyak kursi lipat dan panggung yang bisa dibilang ukurannya tidak kecil. Baekhyun mengintip dari balik panggung, berada di jalan orang-orang yang akan naik dan turun dari panggung. Ia menggunakan walkie walkie headset untuk memberi pengarahan pada anggota panitia.

"Ini Baekhyun. Aku ada pesan untuk semuanya. Kita tetap pada jadwal, jika ada masalah, tolong langsung kabari."

[Pencahayaan tak ada masalah.]

[Disini sistem PA. Tak ada masalah.]

[Para pemain di ruang ganti sedang terburu-buru, tapi mereka bisa tepat waktu.]

"Dimengerti. Bersiaga sampai aku beri isyarat." Baekhyun menatap pencahayaan panggung yang dibuat redup. "Bagian pemberi tanda, tinggal berapa detik lagi?"

[Lima detik lagi.]

Baekhyun menatap MC yaitu ketua OSIS yang berdiri di sebelahnya. Memberi isyarat untuk segera ke atas panggung. Tepat setelah Minseok berada ditempatnya, lampu menyala seluruhnya. Memberikan kata pembuka dan menyerukan slogan bersama dengan semua penonton. Opening diberikan, klub cheerleaders dan tari lainnya menyusul datang ke atas panggung sementara Minseok kembali ke belakang.

Baekhyun mengangguk menatapnya, "Ketua Minra, dimohon bersiap untuk memberikan kata sambutan."

Minra berdiri di samping Baekhyun, wajahnya kelihatan tegang.

Ketika opening berakhir, Minseok kembali ke panggung. "Selanjutnya, kata-kata dari ketua panitia festival budaya." Minseok berdiri ke sudut panggung sementara Minra berjalan ke tengah. Gadis itu menarik napas, "Aku—" kalimatnya terhenti, entah karena luapan gugup atau apa. Mic yang dipegangnya berdengung karena hembusan napas. Seperti lupa dengan dialognya, ia merogoh saku, berniat membaca kertas petunjuk. Tapi karena tangannya bergetar, kertas itu jatuh ke lantai panggung. Beberapa hadirin tertawa melihatnya. Minra membungkuk, mengambil kertasnya yang terjatuh dengan gerakan kaku.

Bagian pemberi tanda yang tersebar didekat panggung, salah satunya adalah Chanyeol, melihat jam tangannya dengan gusar. "Dia membuang waktu," gumamnya pelan meskipun suaranya terdengar masuk walkie talkie. Chanyeol memberi isyarat dengan tangan untuk Minra agar berpindah tempat atau setidaknya melakukan penyambutan dengan lebih cepat. Tapi Minra berdiam diri di tempatnya, tidak melihat tanda.

[Chanyeol. Beri dia isyarat sekarang juga.]

Suara Baekhyun terdengar memberi titah. Chanyeol menyentuh mic kecil di ujung headset-nya. "Aku sudah melakukannya dari tadi. Sepertinya dia tidak bisa melihatku."

Baekhyun mengintip lagi ke arah hadirin. Mencari keberadaan bagian pemberi tanda. "Lakukan isyarat lagi, gunakan kode untuk mempercepat penyambutannya dengan memotong beberapa kalimat yang tidak penting. Kau dimana, sih? Ditempat penonton?"

[Jangan mengejekku. Kau sebenarnya bisa melihatku dari posisimu, kan?]

Baekhyun menahan tawa, "Aku tidak mengejekmu. Jika kau yang merasa, ya jangan salahkan aku."

[Eh ya, Baekhyun. Semua orang bisa mendengarmu.]

Suara Luhan terdengar. Baekhyun sontak berdehem pelan, lupa jika ia tersambung dengan seluruh bagian. Suaranya kembali ke frekuensi datar, "Kita akan mengubah jadwal, pikirkan itu. Hanya dimundurkan beberapa menit, beritahu pemain yang ada di ruang ganti."

.

.


tbc


a/n: Ahem /tes suara/ Halo *ditenggelemin di laut oleh fandom*

Iya maaf, saya tau kesalahan saya, telat banget kan updatenya. Jadi gini, boleh curhat kan?

Jujur, saya tadinya bermasalah sama modem, trus ga ada internet buat update cerita. Saya juga males kalo ngetik lewat hape, jadi vakum dulu sampai berbulan-bulan. Giliran udah punya modem, kena internet sehat, sakit kokoro :') trus udah apdet setengah jalan kena wb, and then ditambah sibuk urusan rl. Ini aja sebuah keajaiban saya bisa buka akun ini tanpa lupa password hehe /ditabok

sekali lagi mau minta maaf, kali aja ada yg nungguin ini cerita update. Fix, dengan apdetan ini, saya mulai aktif lagi :D

btw makasih, saya terharu liat review kalian semua :""""" maaf gabisa ngetik satu2 penname kalian hehe, saya tulus ngucapin makasih :)

...

Terima kasih sudah membaca :)

review please?