Chapter 2...

Akhirnya update juga setelah sekian bulan fic ini saya anggurin haha...

maaf sebelumnya karena fic ini nggak sepanjang yang sebelumnya :( dan juga kalau ceritanya kurang menarik atau kurang yang lainnya itu memang murni dari otak saya. Karna kita tahu yang maha sempurna itu hanyalah Allah dan manusia hanyalah maha menduga-duga :3

oke saya nggak bakal memperpanjang kata-kata muqodimah*udah kayak ustadzah :'v*, langsung aja baca fic gaje dan kurang ide buatan saya ini :v


Pair : masih bingung, bagusnya Tenten sama siapa?

Warning : agak OOC

Disclaimer : masih papa gue Masashi Kishimoto

Sebelumnya...

"kenapa kau ada disini?! dan dan kenapa kau bisa jadi ceweknya Hidan?" tanya Deidara masih tidak percaya akan keberadaan Tenten.

"ceritanya panjang, tapi bisa tidak kau bukakan tali ini ? sakit sekali rasanya," pinta Tenten dengan suara memelas.

"tidak bisa,un!" jawab Deidara tegas.

"Ayolah tuan Seniman," bujuk Tenten menggunakan puppy eyes no jutsu.

Deidara sejenak berpikir. akhirnya ,Deidara memutuskan untuk membuka tali ikatan itu.

"Baiklah, un. Kalau bukan ceweknya Hidan, tidak akan ku bukakan un!"

Lalu Deidara berjalan mendekati Tenten. Di keluarkannya sebuah kunai.

"mana tanganmu."

Tenten lalu menyodorkan tangannya yang terikat. Sementara Deidara siap-siap untuk memotong tali itu.

"hoi Deidara-chan brengsek, apa yang kau lakukan dikamarku?!"...

Tiba-tiba terdengar suara Hidan dari ambang pintu yang mengintruksi Deidara. Seketika Deidara menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Hidan. "Tidak ada. Aku hanya ingin menolong cewekmu ini, un," sahut Deidara dengan menunjukkan ekspresi mana-ku-tahu.

"oi ,kau bilang apa?! cewekku? hahaha yang benar saja Deidara-chan," Hidan tertawa terpingkal-

pingkal sambil memegangi perutnya berusaha untuk mengendalikan tawanya. "bukan ceweknya? lalu yang di bilang bocah itu barusan apa?" batin Deidara sweatdrop. "tapi dia sendiri yang mengatakan padaku, un."

"hmm, benarkah? apa benar yang di katakan si blonde itu, bitch?"

"umm-eto-umm-ano..." wajah Tenten tampak pucat karena merasa di pojokkan dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Hidan. "kami-sama bagaimana ini? kenapa aku jadi merasa gugup. Tapi itu kan wajar, aku sendiri yang awalnya membuat masalah ini jadi rumit. Aku harus jawab apa?!" teriak Tenten dalam hati.

"hoi, ayo jawab!" bentak Hidan yang sudah tidak sabar mendengar jawaban Tenten.

"i-iya, tapi itu kulakukan karena..."

"hahahahaha, ternyata benar. Jadi kau ingin jadi cewekku, begitu?" Hidan berkata dengan di iringi tawa terbahak-bahak.

"...karena aku ingin keluar dari tempat nista ini!" sambung Tenten yang hanya berani melanjutkan kalimatnya di dalam hati.

Deidara melirik ke arah Tenten. Dari lirikan matanya terlihat ia sedang berpikir apakah yang sedang terjadi dengan kedua orang itu. "kalau dilihat dari raut wajah gadis ini, kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu tapi terlalu takut untuk berterus terang. Mungkinkan tadi dia hanya berbohong? Masa bodoh! bukan urusanku. Lagian juga aku tidak terlalu pintar dalam hal menganalisis," batin Deidara mencoba menerka-nerka. "Sepertinya aku harus keluar, tidak ada hal penting yang harus aku dengarkan sekarang, un," kata Deidara bermaksud untuk tidak ingin terlibat dan terbawa-bawa pada urusan kedua orang yang ada di hadapannya sekarang. Lalu Deidara berbalik arah menuju pintu untuk keluar dari kamar rekan satu organisasinya itu.

Dan kini, hanya tinggal Hidan dan Tenten yang ada didalam kamar tersebut. Hidan kemudian mendekat ke arah Tenten. Melihat gelagat Hidan yang aneh, membuat Tenten hanya bisa menelan air ludah ketakutan."kono baka! apa yang akan dilakukannya kepadaku?!" batin Tenten.

Jarak Tenten dengan Hidan semakin dekat. Lalu Hidan mendekatkan wajahnya pada wajah Tenten. Karena saking dekatnya, Tenten jadi bisa merasakan hembusan nafas Hidan. Sejenak Hidan memperhatikan wajah Tenten dengan seksama. Tenten yang sudah risih sedari tadi dengan cepat langsung memalingkan wajahnya karena tidak mau di tatap lama-lama oleh orang yang tidak di kenalnya itu dan sekaligus seorang musuh. Hidan menangkap dagu Tenten, dan membetulkan posisinya seperti tadi yaitu saling berhadapan.

"ternyata kau benar-benar wanita, fufufu."

"na-nani? dia hanya mengatakan hal konyol itu dengan cara yang aneh ini?" batin Tenten sweatdrop.

"hoi hoi, kenapa kau tegang sekali?" tanya Hidan.

"b-baka! jarakmu itu terlalu dekat denganku! menjauhlah!" hardik Tenten dengan wajah yang memerah karena marah sekaligus malu.

"Baiklah," Hidan akhirnya menjauhkan wajahnya dari wajah Tenten.

"fuuh, akhirnya," batin Tenten lega. "sekarang apa lagi?!" belum lama Tenten merasa lega, sekarang Hidan malah membalikkan badannya dengan kasar, hingga posisi Tenten menjadi terkelungkup.

"kau ingin bebas, kan Tenten?" tanya Hidan seraya membuka tali yang mengunci pergerakan tangan Tenten.

"k-kenapa dengannya? apa dia sudah sadar? tidak, tidak mungkin. Pasti dia punya niat jahat, karena firasatku mengatakan sesuatu yg buruk akan terjadi," batin Tenten cemas. "apa kau sudah menyadari kesalahanmu?" tanya Tenten.

"kesalahan apa? aku tidak pernah merasa bersalah," jawab Hidan enteng.

Mendengar jawaban Hidan yang ambigu membuat alis Tenten bertaut dan matanya menyipit. "tidak merasa bersalah kau bilang?"

"talinya sudah kubuka, sekarang kau sudah bebas bergerak. Tapi kau tidak boleh meninggalkan kamar ini tanpa se izinku," kata Hidan mengacuhkan pertanyaan Tenten barusan.

"jawab dulu pertanyaan ku tadi baka!" teriak Tenten penuh emosi, karena Tenten paling tidak suka di acuhkan.

"tak kusangka, ternyata wanita sungguh cerewet," gumam Hidan. "baiklah akan ku jawab. Aku tidak pernah bersalah ataupun punya kesalahan. Kau tahu kenapa? itu karena dewa Jashin memberkatiku!" jawab Hidan dengan bangganya. Tenten menatap Hidan bingung. "n- nani? Dewa jashin lagi?" batin Tenten sweatdrop.

"apa?" tanya Hidan dengan wajah polosnya.

"tidak ada," jawab Tenten. "ngomong-ngomong, dewa macam apa Jashin itu?" batin Tenten bertanya-tanya bingung.

"apa kau lapar?" tanya Hidan yang sontak membuat Tenten kembali dari lamunannya.

"aku tidak lapar, lagi pula nafsu makanku sudah hilang gara-gara kau sudah menyekapku di kamar kotor ini huh," jawab Tenten sebal.

"cih, sombong sekali kau bakpau. Kalau lapar bilang saja."

"iie, lebih baik aku mati kelaparan dari pada harus makan disini."

Hidan manggut-manggut mendengar perkataan Tenten. "hmm souka. Yosh, kalau kau berubah pikiran bilang saja ya bitch~" kata Hidan lalu menuju tempat tidurnya, dan merebahkan diri untuk istirahat. Sedangkan Tenten berada di atas tempat tidur milik Kakuzu.

Malam semakin larut, hawa dingin semakin terasa menusuk sampai ketulang. Di tambah dengan suara tetesan air yang sangat mendukung ke suraman pada gua tersebut. Tenten yang harus merasakan aura suram di gua itu hanya bisa berharap, apakah teman-temannya akan menyelamatkannya.

"aku harus keluar dari tempat ini," gumam Tenten. "tapi bagaimana caranya?" Tenten lalu berdiri dan beranjak dari futon. Ia menuju ke arah Hidan yang tengah terlelap. "nyenyak sekali tidurmu psikopat. Tapi aku belum yakin," kata Tenten yang sedang mengamati wajah Hidan. "untuk mengujinya, aku akan..." Tenten mencabut sehelai benang perak yang ada di kepala Hidan dengan satu sentakan keras, "...mencabut rambutnya, fufufu." Tidak ada respon apapun dari Hidan yang rambutnya sudah di cabut oleh Tenten. "mungkin belum terasa, coba kutambah lagi." Tenten kembali mencabut rambut Hidan, namun dengan jumlah yang sedikit banyak. "lima helai sudah cukup. sekarang, ichi...ni...san, cabut!" kata Tenten bersemangat. Tenten menyentak dengan cepat helaian perak Hidan.

"heum, heum, hey hey jangan kencang-kencang."

"n-nani? Dia belum tidur? B- bagaimana ini?" batin Tenten panik.

"kakuzu! Itu bukan uban brengsek, jangan kau cabut!"

"kakuzu? Jangan-jangan dia menggigau?" batin Tenten. "ah, aku punya ide!" "ehem, hoy Hidan! Sebenarnya aku suka padamu! Jadi sekarang tolong kau bukakan pintu itu untukku sekarang!"

"kau sudah gila? Kita itu sesama pria damn! Heum heum, nyam nyam nyam" kata Hidan masih dalam mode 'ngorok'.

"ya sudah, aku tadi bercanda! Aku mau minta kau buka kan pintu itu sekarang!"

"...," Hidan tidak menjawab.

"kuso, kau tidak dengar ya?!" teriak Tenten sambil mengguncang-guncang tubuh Hidan.

Tring...

Sesuatu dari dalam saku celana Hidan jatuh ke lantai. Membuat Tenten menghentikan kegiatannya. Lalu ia mengarahkan matanya untuk melihat benda yang terjatuh itu.

"apa itu?" dan kemudian Tenten memungut benda tersebut. "kunci?" untuk sesaat Tenten cengo melihat apa yang ia dapati di lantai. "ternyata benar, ini sebuah kunci. Kami-sama arigatou karena sudah mendengar doa ku," kata Tenten sambil menautkan kedua telapak tangan tangannya tanda bersyukur. "aku harus segera keluar dari sini," Tenten langsung bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju pintu keluar.

Setelah sampai di depan pintu, Tenten membuka kuncian pintu tersebut. Sekarang Tenten benar-benar telah keluar dari kamar Hidan, lalu Tenten melangkahkan kaki dengan was-was menyusuri lorong-lorong yang terdapat pada goa markas akatsuki itu untuk mencari jalan keluar.

" goa ini benar-benar luas, aku harus lewat jalan yang mana?" kata Tenten yang sedang kebingungan, karena di hadapannya sekarang terdapat tiga jalan yang tidak ia ketahui ujungnya menuju ruangan apa." sebaiknya aku pilih yang arah ke kanan, mungkin saja itu arah menuju jalan keluar." Tenten lalu menyusuri lorong yang telah ia pilih tadi dengan perasaan yang kacau. "bagaimana pun aku harus keluar dari tempat ini, mudah mudahan ini jalan yang...-"

"kau?" Dari jarak yang tak cukup jauh tampak seorang lelaki bersurai kuning menunjuk ke arah Tenten yang membuat langkahnya terhenti.

"dia lagi! Dasar pengganggu!" gerutu batin Tenten.

Deidara, orang yang di anggapnya pengganggu lalu menghampirinya untuk memastikan apakah dirinya benar-benar Tenten atau bukan.

"kau mau makan ya? Atau mau minum, un?" kata Deidara menanyai.

"makan? Minum? Memangnya ini ruangan apa?" tanya Tenten yang tidak menggubris pertanyaan Deidara.

"baka! Ya jelas dapur, un. Apa kau tidak lihat di ruangan ini banyak peralatan untuk memasak?!" tanya Deidara kesal.

"hmm..," Tenten lalu mengedarkan pandangannya untuk membuktikan apakah yang di katakan Deidara itu benar. Betapa terkejutnya Tenten mendapati seisi ruangan berisi peralatan yang biasanya ada pada dapur.

"sial, kau benar," kata Tenten yang langsung tertunduk lesu.

"jadi kau kesini mau ngapain, un?" tanya Deidara sekali lagi.

Tenten berjalan mendekati meja untuk mengambil segelas air. "aku ingin minum," jawab Tenten yang mendudukkan badannya pada kursi dengan gerakan lesu. "malang sekali nasibku," batin Tenten merutuki ke sialannya.

Deidara kemudian juga berjalan mendekati meja, dan ikut duduk dengan posisi berhadap-hadapan dengan Tenten. Tenten melirik Deidara sekilas. "Biar kutebak, pasti kau ingin kabur dari tempat ini, un," kata Deidara dengan senyum miringnya.

"semua orang juga akan berpikir seperti itu kalau melihat seorang tawanan mengendap-ngendap pada malam hari saat semuanya sudah tidur, baka," jawab Tenten sarkastik.

"tapi caramu untuk kabur sungguh tidak berseni, un."

"Apa katamu? t-tidak berseni? Tenten sweatdrop mendengar perkataan Deidara.

"ya, un." Lalu Deidara memasukkan satu tangannya kedalam tas berisi tanah liat yang berada di sisi samping jubahnya. "kau tahu, setiap hal yang kita lakukan itu mempunyai nilai seni tersendiri. Contohnya saat kita ingin melarikan diri kau harus punya seni, un," Deidara tersenyum dengan bangganya. "dan kau harus mempunyai ini, un," lanjut Deidara memperlihatkan sebuah tanah liat yang telah dibentuknya menyerupai burung. "bentuknya sungguh artistik bukan, un" kata Deidara dengan bangganya memperlihatkan hasil karyanya pada Tenten.

Tenten terdiam keheranan dengan wajah yang masih terlihat sweatdrop. "orang dihadapanku ini sepertinya sedang mabuk karena seninya," batin Tenten yang juga ikut-ikutan sweatdrop.

"lalu apa hubungannya? aku tidak mengerti dengan tujuan ucapanmu itu."

"kau ini memang bodoh,un," hardik Deidara dengan mata yang menyipit. "dengan seniku ini aku bisa kabur dan...-,"

"langsung saja! tidak usah berbelit-belit, kau ini cerewet sekali," bentak Tenten yang memotong ucapan Deidara.

"un, baiklah. SENI ADALAH LEDAKAN," teriak Deidara dengan sangat lantang. Tenten yang panik reflek membekap mulut Deidara dengan tangannya.

"ssst, jangan keras-keras. Nanti yang lainnya jadi terbangun baka!" Deidara mengerjapkan matanya beberapa kali. Dapat ia rasakan tangan hangat Tenten menyentuh bibirnya. Seketika wajahnya menjadi sedikit memerah. Lalu disingkirkannya tangan Tenten secara perlahan. " apa-apaan ini! kenapa aku jadi gugup begini," batin Deidara.

"dasar bocah."

Tiba-tiba terdengar suara berat seseorang yang sangat Deidara kenali. Dari nadanya yang ketus, bisa di tebak itu adalah siapa.

"D- Danna? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Deidara agak kaget.

"baru saja," jawabnya singkat.

Sasori, ya Sasori lalu melirik ke arah dua orang manusia yang tengah duduk dengan tidak santainya itu. Dapat di tangkap tangkap oleh otak Sasori, (ehem, Sasori masih punya otak gak ya?) kalau wanita yang ada di hadapan Deidara tampak begitu tegang karena ketakutan. Kemudian Ia berjalan mendekati kedua orang tersebut.

"dia siapa, Deidara?" tanya Sasori dengan wjah datarnya.

"dia pacar Hidan, un," jawab Deidara agak ragu.

Lalu Sasori memandang Tenten dengan mata sayunya. Tampak menimbang-nimbang, apakah benar banita di hadapannya ini adalah pacar orang sinting pemuja aliran sesat itu.

"pria ini imut dan tampan sekali, kyaaa. Aku tidak percaya ternyata ada pria tampan di Akatsuki," batin Tenten menjerit histeris karena melihat wajah babyface Sasori.

"Deidara, sebaiknya kau bawa gadis kecil ini keluar dari markas, atau dia akan ku jadikan salah satu koleksiku."

"oi oi, kau ini sadis sekali Danna, un!" kata Deidara dengan suara yang sedikit di tinggikan.

"cih," Sasori lalu berjalan keluar meninggalkan mereka berdua di dapur.

Tenten sedikit takut melihat sifat Sasori yang sangat dingin dengan aura yang sangat kelam.

"hey, dia itu rekanmu?"

Deidara menolehkan kepalanya ke arah Tenten. "iya, dia partnerku dalam menjalankan misi, un."

TBC AGAIN...


Kependekan ya? :/

yosh selesai juga chapter 2 :3 , btw reader tau gak interaksi Deidara sama Tenten itu saya terinspirasi dari Naruto SD episode 30. Kalau yang udah nonton pasti tau deh... kalau yang belom mending buruan nonton, kocak banget soalnya. Deidara ampe OOC abis di sana :v

Untuk chapter 3 saya gak tau mo ngupdate kapan. Maybe pas libur semester ini bakal saya lanjutin o:)

and don't forget to REVIEW my fic okay? :*