At last I finished the second chapter... :D
enjoy~
Disclaimer: Still not mine... It's Masashi Kishimoto-san's
Well, except Karashi.. He is mine :P
[-_-] [-_-] [-_-]
"KARASHII! JANGAN LAKUKAN ITU!" teriak Iruka penuh amarah. Si perban yang hanya diam disampingnya menyeringai licik. "Well, toh dia tidak punya pilihan lain…" ucapnya menanggapi teriakan Iruka. Wajah Iruka memerah menahan amarah yang nyaris meledak. Ia menatap Shinobi-shinobi Iwa itu dengan wajah benci. Yah… Dia benci. Benci sekali sampai ingin menghabisi mereka semua. "Sepertinya kau marah besar manis… Kenapa? Apa rekanmu itu orang yang kau cintai?" Iruka tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia hanya menatap dengan mata berkilat. Andai saja ia lebih kuat, andai saja ia berhasil untuk meyakinkan pemuda yang berada di seberang sana untuk pergi meninggalkan dirinya, hal ini pasti tidak akan terjadi - minimal… dirinya tidak membebani partnernya di seberang sana.
"Well, aku tahu kau mengkhawatirkan teman manismu di sana, jadi kurasa… kau juga tidak mungkin meninggalkannya begitu saja kan?" ejek si klimis dengan licik. Karashi terkesiap, ia tahu para shinobi Iwa berengsek ini mempunyai niat yang tidak-tidak.
"Ahahahaha…! Lihat! Dia takut sekarang!" tawa si rambut coklat, disusul dengusan si janggut kambing dengan puas. "Tenanglah bocah… Aku bukan orang yang jahat. Karena itu, aku memberi kau dua pilihan. Pertama… aku mengijinkanmu mengorbankan dirimu, demi temanmu yang di seberang itu. Hmm… untuk pembuka… bagaimana kalau kau tusuk perutmu dengan kunai itu…?" Karashi mengerutkan dahinya - sedikit – dan menatapnya tanpa emosi. "sepertinya kau tidak berminat pada tawaranku yang murah hati ini..? baiklah… kau boleh memikirkannya dalam waktu 10 detik… karena aku akan menganggap kau memilih pilihan kedua begitu 10 detik itu lewat."
"Kido! Kau belum memberitahu pilihan keduanya..!" protes si janggut kambing dengan nada mengejek.
"Aaah..! Benar juga… aku lupaa…" sahutnya sambil tersenyum menyebalkan. Tiba-tiba saja perasaan Karashi tidak enak. Sama seperti ketika kau tahu, ada suatu hal buruk yang akan terjadi. "baiklah.. pilihan kedua! Dalam waktu 10 detik, bila kau belum juga menusuk perutmu, aku akan melakukannya kepada temanmu yang manis itu… Bagaimanaa..? cukup adil bukan?" Begitu kalimat ancaman terlontar dari bibir si klimis yang dipanggil Kido, bola mata pemuda berambut silver tersebut langsung membesar namun, dengan cepat ia menahan amarahnya, karena ia tahu, bila ia gegabah pemuda yang ia khawatirkan di seberang sana akan mendapat celaka.
"Hey.. cepat putuskan.. moodku cepat berubah, dan aku tidak tahu berapa lama aku bisa bersabar…" hardik Kido penuh kepuasan. Karashi melihatnya dengan mata menyala, nafsu membunuhnya tidak dapat ia tahan lagi. Ingin sekali ia merobek tenggorokan ninja Iwa sombong di hadapannya namun, dengan segala akal sehat yang masih tersisa dalam benaknya, ia menahan diri, demi kekasih kakaknya yang amat ia sayangi.
"KARASSSHHIII! KARAAASHHIII!" Iruka berteriak dengan sekuat tenaga dari seberang begitu mendengar semua percakapan mereka. Entah mengapa daritadi teriakan yang ia lontarkan tidak digubris oleh partnernya di seberang sana. Iruka yang sedaritadi berjuang melepaskan dirinya dari belenggu yang terpasang pada dirinya tangan dan kakinya mulai terasa sakit dan memerah.
"boleh kuberi saran?" ejek ninja disebelahnya. Si manis dengan codet memanjang di batang hidungnya itu memberi pandangan benci.
"Ada baiknya kau menyimpan suara manismu itu… karena sekeras apapun teriakanmu – bahkan sampai putus pita suaramu – suaramu tidak akan sampai kesana… sehebat itulah kekkai yang kubuat" ujarnya sombong. Iruka terbelalak, inilah alasan kenapa Karashi tidak menggubrisnya sedaritadi. Ia tahu tidak banyak yang bisa ia perbuat, jadi setidaknya dia berusaha mati-matian melepaskan belenggu tangan dan kakinya. "Kuuh…." Erangnya menahan sakit tekanan kuat dari belenggu besi teraliri chakra tersebut.
"Heey.. ada baiknya kau menyaksikan pertunjukkan temanmu… padahal ia rela berkorban sampai seperti itu…" kata si ninja-tak-jelas-kelaminnya-tersebut. Ia mengangkat dagu Iruka agar fokusnya tidak terpecah, dan segala emosi yang ada, langsung berkumpul campur aduk dalam dada Iruka. Terlalu konsentrasi untuk melepaskan diri, ia tidak sadar dalam hitungan ke-7 Karashi sudah menusuk perutnya sendiri demi dirinya.
"KARAAASSSHHHIIIIIIIIII! APA YANG KAU LAKUKAAN?! " erang Iruka dengan emosi yang kacau, disusul tawa penuh kepuasan dari para shinobi Iwa.
"Kalian partner yang menarik ya… AHAHAHAHAHAH!" tawa ejekan ninja disampingnya membuat Iruka semakin kacau. Ia tidak dapat berpikir jelas lagi.
"Khh…!" erang Karashi menahan rasa sakit di perutnya.
"Bagaimana rasanya..? aku tidak tahu kalau kau ternyata masochist juga yah…" ejek Kido dan ketiganya tertawa melihat darah Karashi yang sudah mulai membasahi bajunya.
"Kido… kurasa dia belum puas… bagaimana kalau kau bantu dia menambah kepuasaan miringnya ?" lanjut si janggut kambing diikut tawa mengejek si rambut coklat.
"Benarkah? Tidak kusangka… Daya observasimu hebat juga Toki… Haeba, sekali-sekali belajarlah dari Toki…"
"Waaah… iya nih.. kurasa kemampuanku masih kurang… akan kuingat saranmu Kido…" sahut si rambut coklat dengan nada mengejek.
Karashi tidak terlalu memperdulikan mereka. Ia mengalihkan pandangannya ke seberang, ia tahu Iruka sedang berteriak mati-matian disana namun, apa yang ia teriakan, dirinya hanya bisa menebak-nebak. Well, paling Iruka khawatir akan kebodohan yang ia lakukan demi si lumba-lumba dan ia tidak ambil pusing akan hal tersebut.
"Hey… akan kutambah kepuasanmu.. sekarang bagaimana kalau kau lakukan lagi di pundak kananmu..?" ujar Kido tanpa belas kasihan.
Karashi langsung menatapnya dengan benci namun, iatidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan demi menolong Iruka. 'Lain kali akan kusisakan sedikit chakraku kalau-kalau keadaan darurat seperti ini terjadi lagi… sialan…' batin Karashi kesal akan dirinya sendiri. Ia menggapai kunai yang tergeletak di lantai dan penuh darahnya tadi dan dengan ragu mengarahkan pada pundak kanannya, karena denyut di perutnya mengingatkan rasa sakit yang ia dapatkan sebelumnya.
"1… 2….3… 4…" Haeba mulai menghitung. Kido dan Toki tersenyum culas.
"…!" Karashi menancapkan kunai pada pundak kanannya sambil menggemeretukkan gigi menahan sakit. Ia tidak ingin para shinobi di depannya mendapatkan kepuasan yang mereka inginkan. Darah yang mengalir dari pundak, membuat dirinya tergetar kecil. Baru saja ia berniat mencabut senjata yang melesak dalam pundaknya, Toki menginjak kunai tersebut dengan kuat.
"GAAAHHH!" erang Karashi begitu kunai itu menusuk pundaknya lebih dalam, darah mengalir lebih banyak, denyut di perutnya tidak membantu, malah membuat dirinya semakin tersiksa. Walaupun ia terlatih sebagai ANBU, dengan chakra nihil seperti sekarang, rasanya ia tidak kuat harus menahan siksaan berat berkali-kali.
"Hey…! Teriakanmu tadi itu boleh juga… Bagaimana kalau kau teriak lebih sering lagi?" ujar Kido tanpa perasaan. Karashi mengerutkan wajahnya menahan rasa perih di tubuhnya dan menatapnya –dengan tatapan dingin menusuk. "Kau tahu..? Aku benci ditatap seperti itu…" lanjutnya sambil mendekat ke arah pemuda yang setengah berlutut di depannya. Ia meraih Kunai yang masih menancap dalam dipundak shinobi yang usianya hanya setengah dari dirinya, dan dengan gerakkan kasar, ia mencabut kunai tersebut.
"! ….." Karashi memenjamkan matanya dengan kuat menahan rasa sakit yang ia rasakan. Kido mendekatkan kunai penuh darah itu kemulutnya sendiri dan dengan perlahan ia menjilatnya, merasakan rasa darah yang kuat dari sana. Karashi hanya melihatnya dengan jijik.
"Kenapa? Sepertinya kau menginginkan sensasinya lagi?" dan dengan satu gerakan cepat, Kido menusuk pundak Karashi, tepat pada pundak yang terluka tadi.
"ARGH!" begitu erangan kesakitan itu keluar dari mulut Karashi, ketiga shinobi Iwa yang melihat pemandangan itu langsung tertawa keji. Kido tidak menghentikan aksinya sampai situ, dengan perlahan namun mantap, dia menarik kunai itu membuat luka gores panjang, merobek baju, menyayat kulit pucat Karashi. Dengan sekuat tenaga, Karashi menahan siksaan yang ia terima.
"Khh… …. Kkuhh…" begitu kulit pucatnya dilewati oleh kunai yang digerakkan oleh Kido, darah merah segar langsung mengucur keluar seakan tidak ingin berada di dalam tubuhnya. Rasa sakit ditubuhnya, membuat Karashi mengerang sekali-sekali. Kido membuat luka sayat memanjang mulai dari pundak kanannya –diagonal- sampai ke pinggang kiri. Penglihatan Karashi mulai buyar, konsentrasi dan fokusnya mulai terpecah. Ia mulai merasa mual, jumlah darah yang keluar dari tubuhnya sudah melewati batas normal. Entah sampai kapan ia bisa bertahan.
Begitu kunai yang sedaritadi menyiksa dirinya mencapai pinggang kirinya, ia merasa perut kirinya –sedikit diatas panggul- tanpa izin dipaksa masuk oleh sebuah besi tajam yang dingin. Kontan sebuah teriakan parau yang keras keluar dari tenggorokannya, disusul oleh suara tawa keji shinobi lainnya.
"Hentikan…. kumohon… hentikan semua ini…" ujar Iruka terbata-bata. Ia merasa tak sanggup lagi melihat penderitaan Karashi. Wajahnya memanas. Walau tahu seorang shinobi tidak boleh memperlihatkan perasaannya, ia tidak sanggup menahan semua ini. Ia ingin menangis, ia ingin membunuh semua shinobi Iwa ini, yang terpenting ia ingin menyelamatkan Karashi.
"Hentikan..? kau yakin? Ini sangat menyenangkan untuk disaksikan, kau tahu itu?" si perban tersenyum senang. ".. lagipula, bukankah ini menyatakan kau sangat dicintai oleh pemuda manis itu? Well, walau harus kuakui, kau juga manis… tapi pemuda disana lebih menarik bagiku… Apalagi ketika wajahnya berjuang menahan sakit.. itu.. sangat.. menggairahkan…." Lanjutnya penuh nafsu.
Kontan Iruka memandangnya dengan wajah jijik dan takut. Namun, sepertinya si perban tidak terlalu memperdulikannya, malah ia melanjutkan perkataannya, "tidakkah itu membuatmu bergairah?" "kau… sinting…!" hanya kalimat itulah yang keluar dari mulut Iruka menanggapi pernyataan yang ia dengar tadi.
"HAHHAHAHAA…! Sinting? Kalimat yang cukup tepat untuk menggambarkan diriku." Sahutnya tenang sambil meraih dagu Iruka dan mengancamnya dengan kalimat tegas, "walau begitu.. aku tak ingin mendengarnya dari mulutmu.. lagi!" Iruka tidak takut akan ancaman yang ia dengar tadi, malahan ia sengaja semakin memanasi shinobi berperban itu.
"Oh yaa..? mengapa tak boleh kusebut lagi? Padahal kau sendiri menyetujuinya. Dasar sinting!" Iruka berhasil memancing kestabilan emosi shinobi perban dihadapannya. Ia mengambil kunai dari kantong kecil di pinggangnya dan mengarahkan ke leher Iruka. "ada baiknya kau pikirkan posisimu saat ini. Apalagi ketika temanmu sedang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan orang menyedihkan macam kau. Kau tak ingin dia berkorban sia-sia bukan?" ancamnya lagi. Iruka malah tertawa kecil. "Kenapa harus kupikirkan dia? Bukankah dia sendiri yang mau melakukan hal itu?" timpalnya dengan sebuah senyum menyeringai terpapar di wajahnya. Sang Shinobi Iwa mulai percaya akan perkataan Iruka dan merasa tidak nyaman. Namun, baru ketika ia berniat menusuk leher si pemuda coklat manis itu, sebuah suara menghentikan dia dengan tegas.
"APA KAU GILA?! Jaga emosimu yang berkobar itu bodoh! Aku sedang menikmati permainan ini! Jangan kau kacaukan dengan kelakuan bodohmu itu!"
"Ta..-tapi Kido-san…" katanya terbata-bata. "Kau dengar aku! Turuti saja dan jangan buat aku marah!" hardik suara itu lagi. Dan shinobi berperban itupun langsung diam dan tidak membantah lagi. "CIH! Mood temanku sedang sangat baik, dan aku dilarang menyakitimu… Yaah.. anggap saja kau beruntung hari ini.." lanjutnya sambil merengut pada Iruka.
"Benarkah yang tadi itu temanmu? Bukannya dia majikanmu? Kautidak lebih dari seorang pesuruh yang bahkan tidak diperbolehkan mengeluarkan kekesalanmu."
"KKAAAUU…-" desisnya merespon perkataan Iruka. Dan baru saja shinobi penuh perban itu akan menghajar Iruka, suara teriakan parau dari Karashi menghentikannya. Kedua shinobi itu langsung memfokuskan pandangan mereka akan apa yang terjadi di seberang sana.
Betapa kagetnya Iruka mendapati –sesaat setelah teriakan mengilukan terdengar- Karashi jatuh terkulai dengan napas tersengal-sengal bersimbah darah. Suara batuk Karashi karena tersedak darahnya sendiri di kerongkongan terdengar jelas di ruangan tempat Iruka ditawan.
"Waaah… Aku tak menyangka temanmu mampu menampilkan adegan menyenangkan seperti itu. Mungkin setelah mereka puas melakukan pada temanmu, kau yang akan menggantikannya, dan aku tak sabar menantikannya."
Iruka tidak menggubris perkataan musuhnya. Ia mencurahkan seluruh fokusnya pada tubuh Karashi yang kepayahan dan bergerak naik turun tanpa daya. Tubuhnya gemetar. Emosinya tercampur aduk. Amarah, sedih, takut,kecewa, benci, semua bergumul dalam dadanya.
Beberapa saat kemudian, ketika pada akhirnya ia berhasil menguasai dirinya ia mulai berbicara pelan, pelan sekali hampir seperti berbisik. "….." "Apa yang kau gumamkan?"Tanya si perban sambil meliriknya penasaran. " …. -kan…. –kan dia….." "Haah?!" "HENTIKAN! LEPASKAN DIA! HENTIKAN SEMUA ITU!" Teriak Iruka penuh emosi. Wajahnya semakin memerah menahan air mata dan emosi yang meluap. "HAHAHA! Sayang sekali manis… seperti katamu tadi.. aku tidak bisa melakukan apa-apa… semua tergantung pada majikanku. Well, padahal aku akan akan senang sekali bergabung bersama mereka memuaskan temanmu yang menarik itu." Sahut si perban penuh kemenangan. Iruka mengatupkan giginya kuat-kuat. Ia berusaha menenangkan dirinya namun, sepertinya tidak terlalu berhasil.
"Ayolah.. jangan berpura-pura… Kau bahkan belum merasakan apa-apa." Ujar Kido sambil menendang perut pemuda malang yang berusaha mengatur napas memburunya.
"Kuuh… uhuk uhk-…"si rambut silver langsung terbatuk mengeluarkan darah begitu denyut di perutnya semakin parah. Begitu melihat respon menyedihkan dari korbannya, Kido langsung menginjak pinggang Karashi tanpa ampun.
"GAAH..!" "BANGUN! AKU TAHU KAU BELUM PUAS!" hardik Kido. Karashi menggerakkan kepalanya perlahan, menatap penyiksanya dengan tajam. Merasa tak senang diperlakukan demikian, Kido berjongkok di sampingnya dan langsung menjambak rambut silvernya yang halus. "KHH..!" "Kau tahu? AKu paling benci tatapanmu itu." Geram Kido tidak dapat menahan emosinya. Ia melepaskan cengkramannya dan langsung menampar wajah kanan Karashi dengan punggung tangannya. Karashi hanya meresponnya dengan napas tersengal-sengal kelelahan akan semua siksaan yang ia terima. "Hoo… aku tak menyangka kau keras kepala bocah…" seringai Kido yang langsung menginjak punggung Karashi beberapa kali. Karashi mati-matian berjuang menahan denyut dan rasa ngilu di seluruh tubuhnya. Beberapa kali ia terbatuk, meninggalkan jejak darah di ujung bibirnya yang kini sudah pucat.
"Hey Kido-san.. apa sebaiknya tidak kau hentikan sekarang ini..? kau masih ingin bermain-main dengannya, kan..?" ujar Haeba. Toki dan Kido langsung menatapnya dengan raut tidak senang.
"Kau mulai kasihan pada mahluk menyedihkan ini?" Tanya Toki. Haeba tersenyum licik.
"Bodoh kah kau? Pikirkan saja.. kalau memang kalian menghabisi dia sekarang, besok kalian menghabisi temannya yang disana, dalam 2 hari mainan kita akan habis bukan?"
"sejak kapan kau punya pikiran brilian macam ini?!" seru Kido nyaris berteriak karena 'bawahannya' yang selalu membuat dia sakit kepala, tiba-tiba saja punya saran cemerlang.
Mendadak kaki kiri Kido dicengkram dengan kuat, membuatnya langsung terlonjak kaget. Kontan ia menengok ke bawah dan mendapati tangan Karashi mencengkramnya dengan kuat. 'Seharusnya bocah ini sudah kehabisan tenaga. Darimana kekuatannya ini?' batin Kido sedikit ngeri. Ia berusaha melepaskan kakinya dari tangan Karashi namun, sepertinya tidak terlalu berhasil.
"K-Kau… berjanji ti-… dak akan… menya-khiti dia…-khh…" ujar Karashi terpatah-patah karena ia harus menstabilkan napasnya.
"…" Iruka hanya bisa termangu mendengar semua percakapan dari seberang sana. Ia tahu, kekuatannya sekarang ini tidak akan cukup untuk melepaskan diri dari belenggu besi yang mengikat dirinya – seberapapun keras usahanya. Walau begitu ia masih tetap berjuang. Kulit di pergelangan tangannya mulai mengelupas karena paksaan yang ia lakukan untuk melepaskan diri. Perih, perih sekali. Tetapi semua itu tidak ia hiraukan, karena dirinya tahu, di seberang sana Karashi mati-matian bertahan demi dirinya. Tanpa disadari, air mata Iruka menetes, jatuh mengaliri wajahnya yang kini semakin memerah.
[-_-] [-_-] [-_-]
It will still be another chapter...
I plan to make this story around 5/6 chaps..
Well, it still a plan though...
and dont forget the Review...
Ur Review will be my pleasure..~ [^o^]/
untill next time... [/^o^]/oo\[^o^\]
