Disclaimer : Kateikyoushi Hitman Reborn! milik Amano Akira seorang—love you sensei :" /whut/
AU, OOC, kalimat diulang-ulang, typo-is-everywhere, yaoi, semi-pedo, awal-lawalnya ngebosenin akhirnya abal dan sebagainya saya serahkan pada reader—nggak suka jangan baca, oke?
Ah, sebentar. Saya mau bales review boleh 'kan ya 8D /engga /lalumojok/ #hoi
Sky's Tears : Halo, makasih udah bilang benda ini jauh dari kata abal :"" itu berarti banget buat saya 8'D Dramatis? Saya korban ke-dramatis-an film, nak :"" #anaksiapa #eluyanganaksiapa Ini udah update, btw 8D Enjoy, dear~
Kamu tahu saya : tahu nggak ya uwu #WHAT iya saya tau kamu kok :3 HAAAIII~ 8DDD sori lupa bilang ini publish, saya nggak inget siapa-siapa lagi saking malunya—/apa/ kurang puas ya? Maap D8 /dilempar sendal/ well then~ enjoy? :'3 enjoy dong ya 8D /todong/ #maksa #woi
Hisawa Kana : BOLEH DONG D8 /apa/ bukan pairing yang terlalu kamu suka? KENAPAA? DDD8 /siapaelu/ /ditendang menjauh/ yah~ penasaran ya? Kasian deh 8D /salah/ yah pokoknya diusahain nggak bikin orang penasaran—palingan cuma kepo /trollface #WOI
Suara gebrakan meja terdengar ke seluruh ruangan—yang hanya berisi dua orang itu. Seorang pria berambut biru kehijauan membanting ponselnya ke meja sampai dengan keras, membuat suara retakan yang cukup keras. Pria yang lain, yang berambut pirang platinum, menghela nafas mendengar suara bising dari yang berambut kehijauan itu dan mengembalika tatapannya ke buku yang sedang dibacanya, pura-pura bahwa suara itu tak pernah ada. Pria yang pertama menatap ke arah pria yang tampak santai saja—agak tak percaya.
"Oya oya, kenapa kau santai saja eh, Alaude? Apa kau tahu masalahnya?" Tanyanya, agak kesal.
"Biar kutebak; Rokudou Mukuro tidak mau bekerjasama denganmu, Daemon?" Jawab Alaude kalem, tapi dengan nada menindas di dalam suaranya.
Daemon berjalan mendekati Alaude yang masih duduk dengan tenang di sana, duduk di sofa sebelahnya dengan agak membanting diri, "Kalau kau tahu kenapa masih santai?"
"Karena bukan urusanku."
"Alaude—180 juta yen." Daemon menatap Alaude yang masih tak memperhatikannya, "Kita bisa mulai kehidupan yang baru dengan uang segitu—"
"Kenapa kita harus mulai kehidupan yang baru, hm?" Tanya Alaude, menutup bukunya agak keras dan menatap dingin Daemon.
Yang ditanya mendekatkan wajahnya pada wajah Alaude, menatap kedua iris milik yang berambut pirang dengan tatapan yang lebih lembut, "Karena aku cinta padamu."
Alaude terdiam, tampak berpikir sebelum berucap, "Aku tidak," dan menempelkan bibirnya pada milik Daemon lembut—membuktikan kebohongan kata-katanya dalam dua detik.
Balasan yang lebih kasar didapat Alaude—tapi keduanya tampak menikmati.
"Kyouya,"
"..."
"Kyouya mau jalan-jalan?"
"..."
Empat hari terlewat dan akhirnya Mukuro mengerti sifat pemuda berambut raven yang saat ini sedang menatap kosong televisi. Kalau kalian tanya apa alasan Mukuro tahu bahwa Hibari hanya menatap kosong televisi jawabannya adalah karena jelas televisi itu tidak menyala. Mukuro mencoba segalanya agar Hibari memperhatikannya, mulai dari usaha mengecup pipi Hibari yang berakhir dengan pipinya sendiri biru karena terkena hantaman tinju—yang tak ia sangka sekuat itu—sampai percobaan mengintip sang skylark mandi—lagi, berakhir dengan mimisan bukan karena dia berhasil melihat pemuda itu tapi karena Hibari melemparinya dengan apapun yang ada di dekatnya dan entah kenapa—entah kenapa—selalu telak mengenai wajahnya. Semuanya dia lakukan untuk mencuri perhatian darinya—dan sepertinya cukup berhasil.
Atau tidak, karena sepanjang hari ini Hibari Kyouya mengabaikannya setengah mati.
"Kyouya?"
"..."
"Jalan-jalan, Kyouya?"
"..."
"Oya oya, Kyouya-kun, mengabaikanku lagi kucium kau—"
"—dan kugigit kau sampai mati."
"Akhirnya kau bicara padaku. Kufufufu~"
"...diam."
Hibari beranjak dari tempatnya, niatnya sih ingin ke kamar lalu menghabiskan waktu menjauh dari Mukuro yang makin lama makin membuatnya jengkel. Tapi begitu merasa pergelangan tangannya diraih oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah pemilik mata berbeda warna itu. Dengan sekali hentakkan, Mukuro menarik Hibari kembali duduk di sebelahnya. Pemilik helaian raven itu agak mengerang saat punggungnya menabrak sofa—dan dia menyalahkan Mukuro sepenuhnya karena membuatnya begitu.
Mukuro menyandarkan kepalanya pada bahu kecil Hibari sambil setengah memeluknya agar Hibari tak bangkit dari tempatnya. Hibari merutuk dalam hatinya, bersumpah akan menggigit nanas itu sampai mati—setelah dia bisa bangkit. Kecuali dia sadar bahwa tak mungkin Mukuro membiarkannya bangkit dalam waktu dekat dan dia sadar akan hal itu.
"Herbivora, lepas." Ujar Hibari, nada bicaranya jelas memerintah.
"Oya oya, mau jalan-jalan denganku sebentar, Kyouya?" Tanya Mukuro, sama sekali tak ada hubungannya dengan yang dikatakan Hibari.
"Tidak."
"Ya?"
"Tidak."
"Jalan-jalan~"
"...tidak mau."
"Ayo."
"Tsk, kemana?"
Entah kenapa rasa girang seolah menggelora di hati Mukuro karena berhasil membuat pemuda yang keras kepala ini sulit mengatakan hal lain selain menolak ajakannya. Mukuro terkekeh pelan, mengeratkan pelukannya pada Hibari yang membuat lehernya geli tergelitik rambut biru Mukuro.
"Taman? Kufufufu~"
"Banyak orang, terlalu herbivora." Balas Hibari singkat, berusaha menyingkirkan Mukuro.
"Kalau begitu kau mau kemana?"
"Tidak kemana-mana."
"Ayolah?"
"Tempat lain yang tidak banyak orang."
"Taman tidak banyak orang kok. Memang siapa yang mau ke taman sore-sore begini?"
"...kau."
Berikan facepalm untuk mendeskripsikan respon Mukuro terhadap perkataan Hibari—tapi jelas hanya beberapa saat karena setelahnya dia menyeringai dan mengecup pipi Hibari singkat. Seolah memang sudah di set begitu, Hibari refleks membalas yang dilakukan Mukuro dengan meninju pipi pria itu dengan keras dan membuat pelukannya agak longgar. Hibari mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dan menendang Mukuro keras-keras sebelum membalikkan tubuh ke arah kamar.
"Ukh—Kyouya~ kita jadi jalan-jalan 'kan?"
"Aku mau ganti baju. Masuk kamar, kugigit kau sampai mati."
Mukuro terdiam, cengiran puas di wajahnya. Dia menegakkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran sofa dan bergumam, "Aku orang paling beruntung di dunia." Dengan suara kecil.
Mukuro itu tidak tahu kalau Hibari benar-benar sedang menghindari dunia luar karena selembar robekan surat kabar yang dia lihat menempel begitu saja di depan jendelanya. Dirinya menutup pintu rapat-rapat, berharap jantungnya mulai berdetak normal setelah tadi berdetak terlalu cepat karena agak takut saat Mukuro mengajaknya jalan-jalan. Kalau dia saja tak bisa percaya pada Mukuro yang sudah empat hari dia kenal dan bersedia mengurusnya di sini, apalagi pada orang lain kalau mereka pergi ke luar. Maksudnya—"Hei, lihat pria berambut biru itu. Di sebelahnya ada pemuda yang berharga 180 juta." "Eh? Itu Hibari Kyouya 'kan? Yang di sebelah pria dengan mata aneh itu."—yah, semacam itulah. Bahkan dia curiga ajakan 'jalan-jalan' Mukuro ini hanya umpan agar pria itu bisa membawanya ke markas Estraneo dan menukarnya dengan uang 180 juta yen.
Jelas dia khawatir—dia tidak mau kembali ke sana tapi dia juga tidak diterima di sini. Kedua onyxnya melirik jendela yang terbuka, membiarkan matahari sore masuk ke dalam kamar. Apa dia harusnya kabur saja, eh? Dia tidak mau lama-lama di sini dan terlalu terlena dengan kata-kata Mukuro yang meyakinkan dan akhirnya dia terjebak—ujung-ujungnya kembali ke markas Estraneo yang markas utamanya nya berada nun jauh di dalam hutan sana. Ogah—tidak mau—pokoknya tidak mau. Lebih baik mati daripada kembali ke sana. Sang Skylark baru saja mendapatkan kebebasannya, dia tidak mau kembali tertangkap.
Selain hatinya yang tak ingin tertangkap, tubuh dan pikirannya juga sudah lelah dicekcoki obat-obatan tidak jelas.
Hibari menggelengkan kepalanya keras, berusaha menyingkirkan yang barusan dia pikirkan itu. Suara ketukan terdengar di pintunya, menyadarkannya bahwa dia sudah cukup lama berada di dalam kamar dan dia belum ganti baju sama sekali. Mengabaikan Mukuro yang mengetuk makin keras—menanyakan apa dia sudah selesai atau belum dan mengancam akan membuka pintu paksa kalau dia tak menjawab juga—Hibari membuka lemari dan mulai mengganti bajunya. Kaus lengan panjang berwarna hitam yang ditimpa dengan kemeja putih dengan kotak-kotak biru dan celana jeans hitam.
"Oya oya~ rupanya kau sudah selesai, Kyou-kun. Aku sampai kesemutan berdiri di sini menunggumu, kufufufu."
...berlebihan, Mukuro.
"Tsk, siapa suruh menunggu sambil berdiri di sini." Balas Hibari tajam, berjalan melewati Mukuro begitu saja dan berjalan kembali ke ruang tamu.
Mukuro mengikuti di sebelahnya, seolah Hibari akan menghilang kalau dia tidak berada di sebelahnya. Atau memang begitu, batin Hibari miris—mencoba menjauhkan diri dari Mukuro yang selalu menempel padanya. Begitu sampai di ruang tamu, Mukuro berjalan lebih dulu dari Hibari untuk membukakan pintu depan. Begitu kenop diturunkan dan pintu terbuka—Hibari agak terkejut melihat ada orang di balik pintu. Dia bergerak cepat ke belakang Mukuro, mencpba menyembunyikan diri dari orang yang datang itu.
Tampaknya pria berambut biru itu sendiri agak terkejut melihat ada orang di balik pintu yang baru saja dia buka. Tapi ekspresinya langsung datar begitu tahu siapa yang datang—atau lebih tepatnya dibuat sedatar mungkin.
"Oya oya~ kukira kau takkan tahu aku datang, Muku-chan. Padahal aku merencanakan kejutan, nufufufufu~"
Hibari bergidik mendengar suara tawa yang begitu mirip dengan suara tawa Mukuro—hanya saja lebih absurd. Begini, tawa Mukuro saja sudah membuatnya merinding bagai mimpi buruk—meski agak berkurang karena dia sudah cukup terbiasa dengan tawa itu—bagaimana dengan tawa ini? Membuatnya ngeri sendiri, dia meremas baju belakang Mukuro tanpa sadar—membuat pemilik iris dwiwarna itu mengerti apa yang dirasakan Hibari entah bagaimana.
"Kufufufu, aku merasakan aura tak enak dibalik pintu, jadi kubuka saja." Balas Mukuro, menyeringai tipis.
Pintu terbuka lebih lebar dan Hibari—meski menyembunyikan diri di balik Mukuro—dapat melihat wajah orang yang datang itu. Rambutnya biru kehijauan dengan model yang sama seperti Mukuro—nanas—namun agak sedikit lebih bulat. Matanya, seringai di bibirnya, lekukan wajahnya benar-benar membuat Hibari merinding di sela-sela keterkejutannya. Bukan karena orang itu memang mengerikan, tapi karena orang itu mirip.
Mirip sekali—
—dengan Rokudou Mukuro.
"Jadi~ dimana anak itu, Muku-chan? Aku mau lihat."
"Oya~ mana sudi aku memperlihatkan anak itu padamu, Daemon."
"Kenapa tidak? Nufufufu~"
Entah sadar atau tidak, tangan Mukuro bergerak ke belakang, menggenggam tangan Hibari yang membalas genggamannya dengan agak terlalu erat.
"Karena aku tidak mau, tentu saja. Kufufufu~"
"Kejamnya~ nufufufu~"
"Terserah, kufufufu."
"Nufufufu~"
"Kufufufu~"
"Nufu—"
"Bisa simpan 'fufufu' kalian untuk nanti? Berisik." Ujar suara yang dingin agak membentak—asalnya dari belakang Daemon. Mungkin saja dia tidak datang sendiri.
Keduanya menoleh ke asal suara dan di sana berdiri pria berambut pirang platinum dengan tatapan yang tajam—seperti karnivora yang siap memangsa kapan saja. Senyuman tipis berkembang di wajah Mukuro melihatnya, "Oya oya~ Alaude? Tak kusangka kau mau ikut orang ini ke sini, kufufufu~"
Alaude? Tak mungkin... dia— Hibari mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkan dirinya begitu mendengar nama itu.
"Tsk, itu karena dia berisik. Jadi lebih baik cepat perlihatkan anak itu, Rokudou Mukuro." Tatapan Alaude menajam pada Mukuro—dan kalau tatapan bisa menusuk Mukuro mungkin sudah hampir mati kehabisan darah sekarang.
"Kubilang tidak mau. Omong-omong, anak itu mirip sekali denganmu Alaude. Kau tahu?"
"...surat kabar beredar dimana-mana tentangnya, tentu aku tahu."
"Maksudku bukan hanya fisik, sikapnya juga sama denganmu. Kufufufu, aku ragu kau ingin melihatnya, sebenarnya."
"Aku ingin dia," Alaude menunjuk Daemon dengan ibu jarinya, "melihatnya dan cepat pulang."
"Nufufufu~ baiknya, Alaude~"
Mukuro menyeringai sebisa mungkin untuk menutupi rasa khawatirnya. Dia pasti kalah kalau berdebat dengan dua orang ini—dan sekarang dia harus cepat pergi dari sini, atau setidaknya menyingkirkan mereka dari sini, tanpa ketahuan bahwa Hibari Kyouya sekarang tepat berada di belakangnya. Haruskah dia menggunakan ilusinya? Tapi yang ada di depannya ini adalah Daemon Spade dan Alaude—mereka pasti sangat mengenal ilusinya dan mustahil tertipu.
"Rokudou Mukuro, anak itu." Kata Alaude, setengah memaksa.
"Tsk, baik." Mukuro melenyapkan semua topeng yang dia pasang, menggantinya dengan ekspresi datar, "tapi takkan kuizinkan kalian menyentuhnya—apalagi membawanya pergi."
"Oya oya~ jadi Muku-chan ingin memberikan anak itu langsung pada Estraneo dan mengambil sendiri uangnya eh? Nufufufu~ liciknya,"
"Aku tak berminat dengan uang itu, kau tahu. Bahkan aku tak ada niat untuk mencari anak itu begitu berita tentangnya beredar,"
"Tapi kau mendapatkannya, Muku-chan."
"Ya, dan karena itu aku tak tertarik menukarnya dengan 180 juta yen. Aku lebih tertarik padanya,"
Entah kenapa ada gelora aneh dalam hati Hibari. Dia merasa senang mendengar Mukuro mengatakan 'tak tertarik menukarnya dengan 180 juta yen'—entah kenapa. Apa ini berarti dia percaya pada Mukuro bahwa pria berambut biru itu takkan menjualnya? Tapi—apa dia bisa semudah ini percaya? Semua orang bisa bicara begitu 'kan tapi entah kenapa Hibari yakin dengan apa yang dikatakan Mukuro itu benar. Mukuro tak tertarik dengan uang, tapi lebih tertarik padanya—dan apa itu berarti Mukuro menerimanya di sini?
"Tapi—"
"Oke, terserah kalian berdua. Aku ingin ini cepat selesai," Alaude menyela, agak tak sabar.
Terdiam sejenak, Mukuro menggenggam tangan Hibari di belakangnya lebih erat, "Mau keluar, Kyouya?" Tanyanya—dengan suara yang terbilang lembut.
Hibari meremas tangan Mukuro kuat-kuat sebelum akhirnya melepaskannya dan berjalan menyamping, menunjukkan dirinya dari balik Mukuro pada kedua orang yang mencarinya ini. Yang jelas-jelas mencarinya untuk uang 180 juta—sial. Dia menundukkan wajah, berusaha menutupi wajahnya dengan helaian ravennya yang acak-acakan. Sialnya lagi, Daemon menyentuh dagu Hibari dan mengangkat wajahnya paksa—membuat pemuda itu menatap tajam pria yang seolah duplikat Mukuro itu kesal. Tidak terima dipaksa begitu.
"Oya oya. Muku-chan benar, kau manis—" deathglare dari Hibari makin mematikan mendengarnya, "—seperti Alaude. Jangan tatap aku seperti itu juga, Alaude. Kalian seram."
Mukuro menarik bahu Hibari menjauh dari Daemon dengan paksa, seolah tak ingin dia disentuh lagi oleh pria berambut semangka-nanas itu. Hibari sendiri sudah mengharapkan Mukuro menariknya sejak beberapa detik yang lalu—jadi artinya dia memang tak ingin disentuh oleh Daemon. Oke, lupakan Daemon untuk saat ini. Tatapan Hibari mengarah ke Alaude yang balas menatapnya tanpa minat, tapi kedua iris biru milik Alaude menunjukkan seolah dia tertarik melihatnya—membuat Hibari agak risih tapi tak bisa mengalihkan tatapannya dari pria berambut pirang itu. Dan sekarang Hibari menyesal karena memutuskan untuk keluar.
Iris biru tajam itu, dia mengenalnya. Amat sangat mengenalnya lebih dari apapun di dunia ini. Kejadian sebelum Estraneo itu membawanya pergi berkelibat di benaknya.
"Hibari Kyouya," senyuman tipis di wajah Alaude, "sudah delapan tahun ya?"
"Eh?" Daemon dan Mukuro bersamaan berucap, "kalian saling kenal?" Tanya Daemon, agak bingung dengan perkataan—uhukkekasihnyauhuk—dan respon yang diberikan Hibari; matanya melebar, kakinya bergerak tak nyaman.
Kedua skylark mengabaikan yang lain. Hibari memejamkan matanya, menarik nafas untuk menenangkan dirinya. Tangannya bergerak cepat menacari tangan Mukuro untuk menenangkan dirinya sendiri, begitupun nafasnya yang mulai tak teratur.
"...Alaude? Ini hanya dugaanku atau kau memang membuatnya takut—" ujar Mukuro, membalas genggaman Hibari dan mencoba bicara, tapi disela oleh yang berambut raven, "Delapan tahun, dan kau membiarkanku begitu saja selama delapan tahun."
"Membiarkanmu? Siapa?" Senyuman tipis di wajahnya berubah menjadi seringai yang terasa berbahaya, "Tidak juga. Mana mungkin aku membiarkanmu—
—adikku yang manis."
