Hari ini begitu cerah, hari yang tepat untuk pergi ke Sekolah. Disalah satu pagar rumah terlihat dua bocah identik mengendap-endap disana, kalau dilihat-lihat umur mereka sekitar sepuluh tahun. Salah satu bocah dengan jaket oranye menatap antusias pada rumah tersebut sedangkan bacah satunya memekai jaket merah hanya bersandar kesal dipagar. Dia benar-benar heran bagaimana bisa ia mengikuti kelakuan saudara kembarnya.

"Ayo kita pergi, Baka! Kita bisa terlambat," ucap bocah berjaket merah, ia menatap kesal pada kelakuan saudara kembarnya. Sudah seminggu lamanya si jaket oranye selalu melakukan hal yang sama. Diam menatap rumah seseorang yang bahkan tidak mereka kenal dengan antusias, apa dia berniat menjadi penjahat atau penguntit. Deml Kami-sama kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkannya jadi penjahat apalagi penguntit.

"Urusai! Kalau mau pergi, pergi saja duluan!" ucap si jaket oranye juga tidak kalah kesal karena acara mengintainya (?) terganggu.

"Baik! Kau jangan menangis kalau tersesat, Naruto!" ucap si merah sambil berjalan meninggalkan sang adik yang hanya menjulurkan lidahnya.

"Aku tidak akan tersesat!" ucapnya sambil mengembungkan pipinya, kesal.

Dia tidak akan tersesat, dia sudah sering melalui jalan ini, bolak-balik dari rumah ke sekolah atau sebaliknya, dia sudah hafal rutenya. Terlambat katanya? Huh, dia tidak akan peduli mau terlambat atau pun dihukum nantinya, paling hukuman yang diberikan hanya berdiri di lorong sekolah. Kalau dia dihukum, artinya dia tidak akan mengikuti pelajaran, bukannya itu bagus? Otaknya tidak akan pusing dengan ceramah yang diberikan oleh gurunya.

Saat ini yang dia inginkan adalah melihat sosok cantik yang ada dirumah ini. Sosok yang membuat si bocah jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatnya. "Kenapa dia belum keluar?" guram bocah dengan nama Naruto itu kembali melihat kedalam rumah. Biasanya sosok cantik itu akan keluar rumahnya jam segini. Lalu mana dia?

.

.

Sebuah mobil melintasi Naruto, mobil silver itu memasuki pekarangan rumah tersebut. Seorang laki-laki yang lebih tua darinya keluar dari mobil tersebut, mungkin seumuran kakak tertuanya atau mungkin lebih muda. Tak berapa lama setelah itu, pintu rumah itu terbuka dan menampilkan sosok cantik bocah onyx yang sejak tadi ia tunggu. Naruto hampir berteriak senang, namun adegan selanjutnya membuat pemuda Uzumaki itu bungkam.

"Neji-niisan," teriak senang bocah onyx itu sambil berlari kearah laki-laki tersebut, memeluk laki-laki dengan surai coklat itu erat. Entah kenapa hal itu malah membuat Naruto sedih, tangannya memegang dadanya sendiri. 'Kenapa sakit?' pikirnya. Dia tidak pernah punya penyakit, lalu kenapa dadanya tiba-tiba terasa sakit begini? Apa ada hubungannya dengan bocah yang kini memeluk manja pemuda lain itu.

Dia tidak mengenal sosok bocah yang ia sebut cantik itu, dia juga tidak pernah bertemu dengan sosok itu secara langsung, hanya kebetulan saja ia melihat sosok itu dan ia jadi terhipnotis untuk melihat sosok itu lagi dan lagi. Lalu kenapa hatinya terasa begitu sakit melihat hal itu. dia bahkan yakin sosok onyx itu tidak pernah sadar akan keberadaannya karena ia selalu bersembunyi dibalik tembok pagar.

Sebuah tangan menarik tudung jaket Naruto kasar membuat bocah itu jadi berjalan mundur mengikuti orang yang menariknya. "Hey, apa-apaan ini!?" ucapnya kesal berusaha melepaskan cengkraman itu, ketika ia terlepas ia langsung melihat si pelaku penyeretan, "Menma!?"

"Kau pikir aku bisa meninggalkanmu!? Ayo kita pergi."

.

.

"TERIMA KASIH"

Chapter 2 Sosok Cantik Itu

Naruto by Masashi Kishimoto

Story by Yuki Jaeger

.

.

Warning: Sekuel Maafkan Aku, Death Chare again, OOC. Yaoi, BL, gaje, typo(s), EyD yang kacau, alur yang cepat, cerita rada senetron. Gak masuk akal. Aneh.

Main Pairing : NaruSasu / MenSasu, NejiSasu, ItaKyuu

Summary: "Terima Kasih…" / "Kenapa kau berterima kasih?" / "Terima kasih telah jatuh cinta padaku…" / "Terima kasih telah hidup untukku…"

Review Chapter 1:

Kawaii Aozora, Fany Myoko, Temeki Ryu, Naminamifrid, Tomoyo to Kudo, Guest, Aicinta, Xilu, CrowCakes, EhtanXel, Sakurants11, Kawaii Aozora, , gakpunyaakun, Cosmo, Kyuu

Minnacchi, arigatou gozaimassu ^o^/

.

***** Don't Like Don't Read *****

.

Ini hanya sebuah permainan

Sebuah permainan yang dibuat oleh takdir

Berhentilah berpikir sesuatu yang semu

Karena kau dihadapanmu saat ini

.

Taksi yang dinaiki oleh Menma memasuki sebuah pekarangan rumah mewah. Jalan setapak yang cukup dilalui oleh mobil itu dihiasi oleh tanaman-tamanan hijau segar membuat taman tersebut begituindah untuk dipandang. Taksi itu berhenti di depan sebuah rumah mewah itu, tepat bersamaan dengan seorang pria dewasa keluar dari rumah tersebut.

"Paman Hisashi, lama tidak berjumpa," ucap Menma ketika sudah diluar mobil. Supir taksi juga ikut turun untuk mengeluarkan koper yang pemuda onyx itu bawa.

"Kau sudah besar, Menma," ucap pria dewasa dengan surai coklat panjang itu sambil menghampiri Menma, "Penampilanmu berubah drastis."

"Hahaha," Menma menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, dia merasa sedikit canggung, "Aku…" raut wajahnya terlihat murung saat ini. Tiba-tiba saja dia teringat akan saudaranya, wajah mereka yang identik, seolah kalau ia melihat dirinya sendiri ia jadi teringat tentang saudaranya. Membuatnya sedih dan juga marah pada saat yang bersamaan.

"Maaf sudah mengingatkanmu pada Saudaramu," ucap kepala klan Hyuga itu menyesal. Seharusnya ia tidak mengungkitnya, baik sengaja maupun tidak. Dulu ia merasa bersalah pada keluarga Namikaze karena tidak dapat menghadiri pemakaman salah satu anggota keluarga itu. ia tidak dapat meniggalkan anaknya yang saat itu melaksanakan pernikahan bertepatan dengan pemakaman sang Namikaze.

"Tidak apa."

"Kalau begitu, ayo kita masuk."

.

Menma dan Hisahi memasuki rumah mewah tersebut. Ruangan pertama yang ada disitu dicat dengan warna coklat muda, berbeda dengan luar rumah yang dicat dengan warna lavender muda, khas klan Hyuga. Benda-benda ditata dengan apik, meningkatkan suasana elegan dan mewah dari rumah tersebut.

Mereka berdua terus berjalan diiringi oleh pelayan yang membawakan koper Menma. "Ku harap kau betah tinggal disini," ucap Hisashi, mereka saat ini menaiki tangga untuk mencapai tingkat dua.

"Rumah ini sangat mewah, Paman" ucap Menma kagum.

Rumah ini berbeda dengan rumahnya, begitu mewah dan modern, berbeda dengan rumahnya yang ditata secara sederhana meski klan-nya termasuk tiga klan terkaya di Jepang. Berbeda juga dengan rumah klan Uchiha yang ditata secara tradisional.

Namikaze, Uchiha dan Hyuga merupakan tiga klan terbesar dan terkaya yang ada di Jepang. Hampir semua pusat ekonomi melalui jalur tiga klan ini. Klan Namikaze menjalin hubungan yang baik dengan Uchiha dan Hyuga dari generasi ke generasi. Sekarang pun Namikaze dan Uchiha menjalin ikatan keluarga karena anak tunggal penerus Uchiha menikah dengan anak sulung dari klan Namikaze.

Namun tidak dengan klan Uchiha dan Hyuga, kedua klan ini jauh dari kata rukun, kedua klan ini selalu bertentangan sehingga klan Namikaze harus menjadi penengah diantara mereka. Padahal dulu dua klan ini memiliki hubungan yang baik. Usut punya usut, hubungan keduanya pecah karena masalah cinta.

Kedua pemimpin Uchiha dan Hyuga dulu pernah terlibat cinta segitiga dengan salah satu wanita dari kalangan bawah. Namun perebutan cinta tersebut dimenangkan oleh sang Uchiha. Sejak saat itu hubungan kedua klan tersebut mulai menjadi rival.

"Kamarmu ada di sini," ucap Hisahi berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna coklat tua.

"Terima kasih telah mengijinkanku tinggal disini, Paman," ucap Menma.

Bukan keinginan Menma untuk menumpang disalah satu rumah teman baik Ayahnya, sebenarnya Menma lebih memilih tinggal di Aparteman atau Hotel saja, biaya kan bukan masalah dari keluarganya. Namun kedua orang tuanya menentang hal itu, mereka sama sekali tidak mengijinkan Menma untuk tinggal sendiri. Meminta bantuan Kurama untuk membujuk orang tuanya pun percuma. Kurama saat ini tinggal di Ame bersama suaminya, ketika ia menelpon sang kakak, kakaknya malah memarahinya. Kesimpulannya Kurama tidak mengijinkan Menma tinggal sendiri, sama seperti Orang tuanya.

Mungkin mereka semua trauma pada kejadian yang sudah silam, dimana salah satu anaknya yang merupakan adik Menma mati dibunuh dengan sadis. Pembunuhnya pun masih belum ditemukan, jejaknya benar-benar menghilang, setidaknya itu yang dikatakan kepolisian. Hingga pada akhirnya, kasus pembunuhan itu ditutup satu tahun yang lalu. Sebuah kenyataan pahit yang mereka harus hadapi.

.

***** Yuki Jaeger *****

.

FlashBack On

Naruto dan Sasuke berjalan berdampingan, mereka sedang menuju ke rumah Sasuke setelah semalaman pemuda Kidou itu menginap di Apartemen pemuda pirang tersebut.

Sasuke berjalan lebih pelan dari biasanya dan sedikit tertatih. Awalnya sang Uzumaki menawarkan untuk menggendong sang Kidou, namun ditolak mentah-mentah. Malu tahu, jadi yang bisa Naruto lakukan adalah menyelaraskan langkahnya dan Sasuke, kemudian membantu jika pemuda cantik itu ingin terjatuh.

"Aku akan mengenalkanmu pada Menma," ucap pemuda pirang itu mulai berbicara karena dari tadi hanya dipenuhi keheningan. Naruto menghentikan langkahnya, diikuti oleh Sasuke, kemudian pemuda pirang itu menatap pemuda darkblue serius. "Tapi kau harus janji satu hal!"

"Janji?" Sasuke sedikit menaikan alisnya, bingung.

"Kau harus bisa membedakanku dengan Menma!" ucapnya lagi serius. Dia tidak mau Sasuke malah salah mengira kalau Menma adalah kekasihnya, mereka kembar identik tahu. Kecuali Ayah, Ibu dan Kakaknya, tidak ada yang bisa membedakan dua orang kembar ini bahkan Nenek dan Kakeknya sendiri.

"Aku bisa!" ucapnya, matanya memancarkan keseriusan.

"Kau yakin sekali, Sasuke?"

FlashBack Off

.

Menma membuka matanya perlahan, "Jam berapa sekarang?" guramnya sambil mengambil ponsel yang ia taruh dimeja kecil dekat kasurnya. '05.13 PM.' Tertulis padanya. "Sudah sore?" guramnya sambil duduk dikasur. Rupanya ia tertidur pulas karena lelah akibat penerbangan yang ia tempuh. Pemuda tampan itu turun dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi, ingin mencuci muka untuk menghilangkan kantuknya.

Kamar ini difasilitasi dengan lengkap, terdapat kamar mandi, televisi yang ditaruh didepan kasur king size, lemari dengan ukuran besar yang diletakan di sisi kiri kasur, disamping pintu kamar mandi, dan sebuah meja belajar pada sisi kanan serta dua lemari kecil dikedua sisi kasur yang diatasnya terdapat lampu tidur.

.

Menma berjalan keluar dari kamarnya, menghirup angin sore tidak ada salahnyakan. Jaket oranye hitam terpasang pada tubuh kekarnya, celana panjang hitam juga membalut kaki jenjangnya. Menma berjalan menuju balkon rumah tersebut, yang berada tidak jauh dari pintu kamarnya.

Didepan pintu balkon, pemuda Namikaze itu terdiam, ia terpana akan apa yang ia lihat, bukan pada balkon luas yang disekelilingi oleh tanaman bunga levender yang disusun didalam pot atau ayunan yang putih yang cukup untuk dua orang duduk santai disana, tapi pada sosok seorang laki-laki cantik yang duduk diatas kursi roda. Duduk diam sambil melihat langit.

"Sa…suke," guramnya.

Menma berjalan mendekati pemuda pucat itu, dia memang tahu kalau Sasuke ada dirumah ini, dia hanya tidak menyangka mereka akan bertemu secapat ini, tidak, cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu.

Menma berdiri disamping pemuda cantik itu. 'Benar-benar cantik,' pikirnya.

Naruto selalu mengatakan kalau Sasuke itu cantik dihadapan Menma, bahkan dirumah sakit pun, pemuda matahari itu mengatakan kekasihnya itu sangat cantik, lebih cantik daripada gadis-gadis yang pernah ia temui dan hebat diranjang tentunya *tolong lupakan bagian ini*. Sampai sekarang pun tetap cantik, meski sosok ini lebih kurus dan lebih pucat dari sebelumnya.

"Hay, namaku Menma," ucap Menma mencoba berbicara pada sosok itu, meski ia diabaikan, rupanya langit biru berawan dengan bias kekuningan itu lebih menarik dilihat oleh sosok cantik itu. "Namamu Hyuga Sasuke kan?" ucapnya lagi, namun kembali tidak ada jawaban. Apa sekarang pemuda itu tuli? Atau bisu?

Menma berjongkok dihadapan Sasuke, menumpukan beratnya pada lutut demi mensejajarkan tubuhnya. "Hey, apa kau tidak kedinginan?" tanya lagi, tubuh Sasuke hanya dilindungi kemeja putih tipis, sedangkan sore ini cukup berangin. Pemuda Namikaze itu diabaikan lagi. "Huf," sang Namikaze menghela nafas pelan, Ia lepaskan jaket yang ia pakai dan letakannya ditubuh Sasuke, "Kau harus tetap hangat."

Perlakuan itu berhasil menarik perhatian Sasuke, pemuda cantik itu menatap mata onyx itu dalam, berbeda dengan matanya yang terkesan kosong, mata itu begitu lembut dan penuh samangat. Onyx bertemu onyx. Keduanya terdiam satu sama lain, merasakan rindu yang tidak terucap dengan kata hngga sebuah pertanyaan mengintrupsi kegiatan tersebut.

"Siapa kau?" bukan, itu bukan Sasuke yang berbicara, tapi seseorang dari belakang Sasuke yang bertanya, nada kesal sangat kentara pada ucapan orang tersebut.

Menma pun berdiri dari jongkoknya, sosok seorang pemuda tegap menghampiri indra penglihatannya. Pemuda itu mirip dengan Paman Hisashi, hanya saja lebih muda. Rambut coklat panjangnya diikat rendah, lalu sepasang lavender yang menatapnya tajam.

"Namikaze Menma," ucapan itu keluar dengan santai dari mulut pemuda dengan iris onyx itu, "Mulai saat ini aku akan tinggal disini, jadi salam kenal," ucapnya lagi sopan, namun jika diperhatikan nada tajam kentara dalam kalimatnya, seakan ia menegaskan bahwa ia tidak takut pada sang Hyuga.

"Aku tidak peduli, menjauh dari ISTRIKU," ucap Neji dengan penekanan pada kalimatnya. Sang Hyuga benar-benar tidak suka ada orang lain yang berada disamping Sasuke tanpa sepengetahuannya. Apa lagi sampai sedekat itu, ditambah lagi aura dari mata onyx itu menatap lembut dan pemuh kasih sayang pada Sasuke, sama seperti mata laki-laki yang sudah mati beberapa tahun lalu, laki-laki yang dicintai Sasuke, istrinya.

"Maafkan aku, aku hanya menyapanya," ucap Menma santai sambil berjalan melewati Neji.

Pemuda Hyuga itu berjalan mendekati Sasuke, setelah berada dihadapan pemuda raven itu Neji berjongkok, mensejajarkan tubuh mereka. Tangannya menyentuh lembut pipi pucat itu, kemudian sebuah kecupan mendarat dibibir Sasuke. Pemuda cantik itu hanya diam tidak merespon, matanya hanya fokus melihat langit yang terbentang diluar sana, menganggap keberadaan sang lavender tidak pernah ada disana. Ia hanya sendirian disini.

Sasuke diam manatap langit senja itu sambil mengeratkan tubuhnya pada jaket oranye yang menghangatkan tubuhnya. Bau yang menguar dari jaket itu begitu familiar, bau jeruk segar, bau yang sering ia cium saat bersama Naruto. Bau dari tubuh Naruto.

.

Dari balik tembok, sang Namikaze melihat semua itu, "Huh, Istri katanya," dengusnya. Mata onyxnya menatap tajam pada dua orang yang ada disitu. "Nikmati saja waktumu..."

.

***** Yuki Jaeger *****

.

Amegakure, Uchiha Comp.

Di dalam sebuah gedung pencakar langit, disalah satu ruangan dapat dilihat dua pemuda yang kira-kira seumuran, saling berhadapan. Pemuda yang satu duduk di kursi dan yang satunya berdiri.

Ruangan itu tidak terlalu kecil dengan beberapa perabotan didalamnya. Sebuah sofa merah marun disudut ruangan, kulkas kecil di sampingnya. Disudut berlainan ada rak lemari besar yang didalamnya tersusun rapi buku-buku yang tidak bisa dibilang tipis.

Di tengah ruangan terdapat meja dan kursi, meja yang cukup besar itu diisi oleh computer, beberapa berkas dan map juga beberapa foto yang diletakan didalam fugura berukuran sedang. Lalu juga ada tulisan Direktur diatas meja tersebut. Di belakang kursi yang bisa berputar itu terdapat kaca besar yang langsung yang menampilkan suasana diluar gedung itu.

"Saya sudah menemukan keberadaan Nyonya Mikoto," ucap seorang pemuda dengan surai merah dan dua iris mata abu-abu pada pemuda lain yang duduk dibalik meja Direktur tersebut. Pemuda surai merah itu memegang sebuah map coklat tua, kemudian membuka map tersebut.

"Tidak perlu berbicara seformal itu, Sasori," ucap pemuda lainnya dengan iris onyx dan juga surai hitam, pemuda yang duduk dibalik meja tersebut tersenyum rama penuh aura persahabatan.

Mau bagaimana lagi, mereka memang sudah bersahabat sejak kecil, ditambah lagi mereka juga sudah menjadi keluarga sejak Itachi menikah dengan Namikaze Kurama yang memiliki hubungan dengan keluarga Uzumaki. Tepatnya Uzumaki Sasori ini adalah sepupu dari Kurama. Kemudian mereka juga berada dalam Organisasi yang sama.

"Bibi Mikoto saat ini berada di Rumah Sakit Konoha, memang sedikit sulit menemukannya karena Bibi mengubah namanya, ah, tepatnya kembali menggunakan marga keluarganya," ucap Sasori tidak seformal tadi.

"Rumah Sakit?" beo Itachi, pemuda dengan rambut hitam itu, "Apa yang terjadi padanya?" tanyanya khawatir. Bagaimana tidak, ia sudah mencari keberadaan Ibunya sejak dulu, mendengar kata Rumah Sakit tentu hal yang mengejutkan baginya.

"Kau tahu kan Rumah Sakit tidak memberikan data kesembarang orang, jadi aku meminta Deidara untuk meretas sisem Rumah Sakit itu, Ibumu sudah koma sejak dua tahun, mungkin lebih. Terjadi kesalahan pada sistem kerja jantungnya," Sosori terdiam sebentar, "Semua biaya pengobatannya ditanggung oleh klan Hyuga."

"Apa hubungan semua ini dengan Hyuga?" tanya Itachi bingung.

Setahunya hubungan Hyuga dan Uchiha sangat jauh dari kata rukun, bagaimana bisa seorang Hyuga membantu seorang Uchiha? Persahabatan dua klan ini hilang sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak Uchiha Fugaku mengambil alih kepemimpinan dari keluarganya.

"Entahlah, aku akan mencari tahu lebih dalam lagi," Ucap Sasori, "Oh ya, ada sesuatu yang harus kau tahu, delapan belas tahun yang lalu, Ibumu juga pernah masuk Rumah Sakit Konoha, saat itu dia-"

'Brak!' pintu ruang tempat kerja Itachi ditendang dengan tidak elitnya hingga engsel pintu itu terlepas, membuat sang pintu yang malang terjatuh kebawah. Si pelaku penendangan hanya menyeringai tipis atas perbuatan yang tidak berkepri-pintuan itu. Pemuda dengan surai oranye dan dua iris mata kucing atau rubah dengan warna merah darah itu hanya melenggang masuk tanpa dosa sama sekali.

"Yare, yare," Itachi memijit kepalanya pelan, "Tidak bisakah kau membuka pintu dengan cara yang normal?" lirik Itachi pada si rubah, kemudian mata itu berpindah pada Sasori yang masih ada diruangan itu "Kau boleh pergi sekarang, nanti aku akan menghubungimu lagi."

Sasori mengangguk pelan kemudian memberi hormat pada kedua atasannya. Lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Tidak," seringai tipis menawan itu masih terpampang diwajah pemuda tampan dengan garis wajah feminim itu.

"Kyuu-chan, " ucapnya lirih.

Itachi bukan orang yang pelit untuk mengeluarkan biaya perbaikan pintu atau malah penggantian pintu, tapi masalahnya Kyuubi, atau nama aslinya Namikaze Kurama yang sekarang sudah menjadi Uchiha Kurama, sudah lima kali dalam seminggu menghancurkan pintu ruang kerja kantornya. Dua kali perbaikan dan tiga kali penggantian.

"Ayo kita pergi ke Konoha," ajak Kyuubi tanpa pikir panjang. Pemuda tampan itu mendekati Itachi, mendudukan tubuhnya dipangkuan pemuda yang berstatus Suaminya sejak satu tahun lalu, kemudian mengalungkan tangannya dileher sang Uchiha.

"Alasannya?" tanya Itachi tangannya memeluk pinggang ramping itu, semakin mendekatkan kedua tubuh mereka. Itachi bahkan tidak peduli dengan pintu yang sudah mencium lantai itu membuat kapan saja orang akan bisa melihat kelakuan dua pemuda itu.

"Aku merindukan Menma," ucapnya Kyuubi membenamkan wajahnya dicekukan leher Itachi, menghirup dalam-dalam aroma mints yang menguar dari tubuh sang Suami.

"Dia baru pergi pagi tadi, Kyuu," Itachi balik mencium leher Kyuubi, sesekali mengigit daerah leher pasangannya yang sensitive itu. "Alasan lain?" tanyanya dengan nada yang rendah.

Kyuubi menjauhkan tubuhnya sedikit, menghindari sentuhan lebih dari Itachi, menatap kedua iris onyx itu dalam, "Aku ingin bertemu Ibumu," ucapnya pada akhirnya.

"Kau menguping?" pemuda Uchiha itu memegang dagu Kyuubi, mengiringnya menuju bibirnya sendiri dan sebuah kecupan mendarat disana. kecupan yang secara perlahan berubah menjadi ganas, melumat, bertukar saliva, bermain lidah satu sama lain. "Puaskan aku malam ini, maka kita akan pergi ke Konoha," ucap Itachi mengakhiri ciumannya.

.

***** Yuki Jaeger *****

.

Konohagakure, Kediaman Hyuga.

Hari sudah berganti malam, saat ini penghuni rumah mewah tersebut berkumpul di ruang makan. Sebuah meja panjang terdapat disana, dimana makanan dan minuman sudah tertata rapi diatasnya. Hisashi duduk ditengah, sedangkan Menma dan Neji duduk disisi kanan dan kiri lalu Sasuke duduk disamping Neji.

"Menma, kapan kau masuk kuliah?" tanya Hisashi.

"Lusa, tapi mungkin besok aku juga akan kekampus, melihat keadaan disana," ucap Menma, pemuda Namikaze ini melirik Sasuke yang diam, tanpa menyentuh makanannya, "Sekalian aku ingin menjenguk Kakakku."

Hisashi menaikan alisnya bingung, "Kakak? Ku pikir kau yang menjadi Kakak?"

"Dia lahir lebih dulu daripada aku," jawab Menma. "Sasuke!" panggil pemuda Namiakze itu, namun tidak dijawab. Sasuke hanya diam, matanya menatap kosong apa yang ada didepannya, bahkan ia ragu pemuda itu mendengarkanya apa tidak. "Kau tidak makan?" tanyanya lagi.

Menma sadar betul ada sepasang mata lavender yang menatapnya tajam. Memangnya dia takut apa? Tatapan saja tidak akan membunuhnya. Tiba-tiba saja suhu ruangan ini menjadi dingin. Apa suhu AC terlalu tinggi?

"Sasuke tidak bisa makan sendiri," ucap Hisashi memecahkan suasana mencengkam itu. dia tahu betul, Neji tidak pernah suka ada orang lain yang bicara pada Sasuke, entah ia dapat sifat posesif itu dari siapa. Yang jelas, jangan harap bisa selamat dari Neji.

Pemuda Namikaze itu terlihat bingung, bukannya tangan Sasuke tidak cacat? Lalu kenapa dia tidak bisa makan sendiri. Atau sebenarnya dia tidak pernah mau makan?

.

.

Waktu sudah menunjukan jam 10.15 PM, sebagian penghuni rumah ini mungkin sudah tertidur, tapi masih ada yang terjaga, salah satunya Menma. Pemuda onyx tampan ini hanya mondar-mandir tidak jelas di balkon rumah tersebut, dia belum bisa tidur saat ini. Dia terbiasa tidur diatas jam dua belas malam.

Menma berhenti diujung balkon, menegadah ke langit tanpa bintang. "Tidak ada bintang kah?" guramnya, biasanya ia menghabiskan waktu melihat bintang bersama saudara kembarnya, namun itu tidak pernah bisa dilakukan lagi. Menma melihat kebawah, disana ia melihat Hisashi yang sedang duduk sendirian ditepi kolam. Mungkin melihat bulan, satu-satunya yang ada dilangit saat ini.

Pemuda Namikaze itu beranjak dari tempatnya, menuju sebuah kamar. 'Tuk tuk,' Menma mengetuk pintu coklat dihadapannya, sebuah kamar yang berada disamping kamarnya, kamar Neji dan Sasuke. Tak berapa lama, pintu tersebut terbuka, menampilkan laki-laki bersurai coklat dibaliknya, "Ada apa?" ucap laki-laki itu dingin.

"Paman Hisashi memanggilmu," ucap Menma dengan cengiran lebar.

Neji mengangkat alisnya bingung, tidak biasanya Ayahnya memenggilnya, "Memangnya ada apa?" tanyanya.

"Mana ku tahu," ucapnya sambil menaikan kedua bahunya, acuh.

"Dimana dia?"

"Taman belakang, disamping kolam renang."

Menma melihat kepergian Neji dalam diam, setelah pemuda Hyuga itu menghilang, Menma melihat kearah pintu coklat itu. membuka pintu itu secara perlahan agar orang yang mungkin sedang tidur didalam tidak terbangun.

.

Pemuda onyx itu masuk kedalam kamar tersebut, kamar itu begitu gelap hanya ada penerangan dari lampu tidur, kamar tersebut juga berbau anyir darah dan bau khas sperma yang bercampur menjadi satu memenuhi udara pengap ruangan tersebut.

Ia berjalan kesisi kasur, melihat seseorang yang tidur sambil memiringkan tubuhnya, meringkuk. Tubuhnya hanya dilindungi selimut sebatas pinggang sedangkan bagian atasnya terbuka, menampilkan tubuh yang penuh dengan luka sayatan dan memar yang Menma yakin bekas cambukan. Begitu kejamnya kelakuan Neji pada orang yang katanya ia cintai itu. Tunggu! Apa benar Neji mencintai Sasuke? Kalau itu Menma, pemuda ini tidak akan pernah sanggup melukai orang yang ia cintai.

"Sasuke," guramnya pelan.

Sasuke membuka matanya pelan, melihat kearah orang yang berdiri dihadapanya, "Naruto?" guramnya lemah.

"Menma," ucap Menma membetulkan namaya, ia berjongkok dihadapan Sasuke.

"Tidak, kau Naruto," ucap Sasuke lagi, sedikit genangan menumpuk disisi pelupuk matanya, secara perlahan genangan tersebut jatuh pipinya. Isakan kecil terdengar dari bibir pucat itu.

Menma tersenyum tipis, tangannya menentuh pipi Sasuke menghilangkan jejak air mata yang mengalir disana. Pemuda onyx itu menepis tangan tan itu lemah, "Jangan menyentuhku, aku kotor," ucapnya bergetar. Dia benar-benar laki-laki yang kotor, bisa-bisanya ia melayani nafsu orang lain, orang yang telah membunuh kekasih hatinya.

"Bertahanlah sebentar lagi…"

.

.

'Clik,' pintu kamar itu terbuka, di dalam ruangan tersebut hanya ada Sasuke yang tertidur dikasurnya, selimut hampir mengubur semua tubuhnya, hanya bagian kepala yang tersisa.

'Tap tap,' suara langkah kaki terdengar dari samping Neji, pemuda Hyuga itu melirik orang yang ternyata Menma itu, kelihatannya dia berjalan dari balkon rumah. "Menma, kau mengerjaiku?" ucap sang Hyuga kesal. Bolehkah ia membunuh sang Namikaze saat ini juga?

Menma melihat kearah Neji, ia tersenyum lebar,"Te he," ucapnya manja, khas anak perempuan biasanya kemudian berlari ke kamarnya sendiri, membuka pintu kamar tersebut dan menguncinya.

Ia menyandarkan tubuhnya dibelakang pintu, menatap kosong kamar tersebut, tak lama kemudian iris onyx itu menatap tajam. Kebencian begitu tampak dikedua iris Menma. 'Aku akan menghancurkanmu.'

.

Menma meregangkan sedikit ototnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Membaringkan tubuhnya sambil menerawang keatas. "Huf," ia menghela nafas pelan, mengulingkan tubuhnya ketepi kasur kemudian duduk.

Ia mengambil ponsel yang ada dikantong calananya kemudian menekan beberapa nomer dan menghubungi seseorang.

/"Halo,"/ dari seberang sana terdengar suara sahutan lemah seseorang, khas bangun tidur. Memeng adanya, orang yang ditelpon masih setengah mengigau. /"Ada apa Menma? Tidak bisakah kau membiarkanku tidur dengan tenang,/ ucap dari seberang sana lagi.

Saat ini Menma menghubungi Deidara, sepupunya dari pihak Ayah. Dia ingin meminta bantuan pada pemuda cantik diseberang sana. Deidara memiliki kemampuan hacker yang sangat handal, belum lagi jika ia bekerja sama dengan Sasori, sepupunya dari pihak Ibu. Kedua sepupunya mempunyai kemampuan yang hebat dalam mengumpulkan informasi. Kedua orang ini juga bagian dari Organisasi Akatsuki.

"Selidiki tentang Hyuga?" ucap Menma, "Semua tentang mereka, jangan ada yang terlewat!"

/"Heh, sebenarnya ada apa dengan kalian? Sejak tadi kalian selalu merecokiku dengan Hyuga!?/ bentak orang diseberang sana. Emosinya sedikit tidak stabil saat ada yang mengangu tidurnya.

"Kalian?" Menma menaikan alisnya bingung, bukankah dia sendiri. Apakah ada orang lain yang mengincar Hyuga selain dirinya?

/"Ya, kau dan Kakak Iparmu!"/

"Itachi-nii?" tanya Menma bingung. Belum sempat Menma bertanya lebih lanjut, sambungan telpon diputus. Deidara pasti benar-benar kesal sekarang, tapi sekesal apapun pemuda pirang itu, ia pasti akan mencari informasinya dalam waktu kurang dari satu minggu. Semakin cepat dapat, maka semakin cepat ia akan mengakhiri semua ini.

Ngomong-ngomong, apa itu Akatsuki?

Akatsuki adalah Organisasi bawah tanah yang dibawahi oleh Namikaze dan Uchiha. Akatsuki bertugas menyelidiki perusahaan atau menyelidiki orang yang mungkin melakukan korupsi, lebih dalam lagi mereka mencari informasi bahkan menjatuhkan sebuah perusahaan yang kiranya merugikan masyarakat Jepang. Selain itu Oerganisasi ini juga membantu Kepolisian Jepang dalam menyelidiki kasus-kasus yang mungkin sulit dipecahkan oleh mereka.

Meski Namikaze dan Uchiha membawahi Akatsuki, namun mereka bergerak sendiri tanpa perintah dari dua klan tersebut. Yang dua klan itu lakukan hanya menyiapkan semua modal yang mungkin diperlukan oleh Organisasi itu.

Untuk personal, anggota Akatsuki kurang dari tiga puluh anggota yang hampir semuanya masih berusia muda. Untuk saat ini, Akatsuki dipimpin oleh Uchiha Obito, sepupu Itachi, dibantu oleh Yahiko dan Uzumaki Nagato. Menma juga bergabung didalamnya meski ia baru pemula, tapi pengaruhnya juga diperhitungkan.

.

***** Tsuzuku *****

Minnacchi, mohon RnR nya ya :3 kasih saran juga apa yang masih kurang dari fanfic ini.